Sabtu, 31 Desember 2011

Makan Malam di Pantai Jimbaran

Untuk mengetahui kondisi perikanan di Bali dan khususnya kehidupan para nelayan, aku menyempatkan diri ke Kedonganan, sentra nelayan di selatan Denpasar yang menjadi pusat transaksi bisnis perikanan rakyat yang masih tradisional. Pada siang itu TPI (Tempat Pelelangan Ikan) hiruk pikuk dengan jual beli ikan yang baru saja diperoleh nelayan dari laut. Belakangan Kedonganan yang merupakan desa adat nelayan menjadi penting posisinya sebagai pemasok ikan laut segar bagi bisnis kuliner seafood di sepanjang pantai Jimbaran.

Nama Jimbaran mulai berkibar saat Presiden Soeharto melakukan temu wicara dengan para pengusaha dari suku Cina yang biasa disebut dengan istilah konglomerat. Soeharto meminta mereka untuk memberikan perhatian pada perekonomian rakyat. Pertemuan itu dilakukan di Jimbaran, tepatnya di belakang hotel Four Season dengan empat atau lima bintang dan dikemas dengan paket acara makan malam dengan menu makanan laut segar di tepi pantai.

Temu wicara itu tentu saja tidak menghasilkan apa-apa. Karena itu tidaklah penting untuk dibahas. Untungnya menu makanan laut segar dari pantai yang dikemas dalam acara makan malam di pantai di bawah langit terbuka yang diterangi obor disertai deburan ombak memberikan sensasi yang luar biasa. Sejak itu Jimbaran menjadi pusat keramaian baru di desa Kedonganan yang sunyi. Restoran yang semuanya menyajikan menu seafood bertebaran sepanjang pantai. Jika malam tiba maka suasana begitu ramai dengan para wisatawan nusantara maupun manca yang khusus datang ke Jimbaran untuk makan malam. Pemerintah desa adat (banjar) mengatur dengan baik lahan untuk restoran maupun parkir sehingga perekonomian desa pun ikut terangkat pelan-pelan.

Sejak saat pertama kali aku ke Kedonganan, setiap ke Bali hampir dapat dipastikan aku pergi ke Jimbaran, biasanya diundang oleh teman-teman atau diatur oleh pemandu. Upacara makan malam di Jimbaran dimulai dengan sambutan ala Bali, kemudian tamu disilakan duduk di kursi yang disediakan. Kursi dan meja diatur di pasir pantai memanjang dari arah pintu masuk restoran ke arah laut. Pelayan segera menyediakan makanan pembuka : kacang tanah digoreng. Setelah itu hidangan utama disajikan : masing-masing diberi satu piring makanan laut mulai dari ikan, kerang, cumi-cumi, udang atau bahkan kepiting plus sambal yang diberi minyak kelapa dan potongan bawang merah. Sementara kita menikmati makanan, para pengamen akan bernyanyi diringi musik akustik : gitar, biola, bas mapun alat perkusi seperti gendang. Sambil makan dan menikmati musik, kita bisa bebas memandang ke laut gelap yang memantulkan cahaya dari lampu-lampu kapal nelayan atau melihat langit yang bertaburan bintang. Sungguh mengesankan. Subhanallah.

Pernah suatu saat I Gusti Alit Kelakan yang ketika itu menjadi Wakil Gubernur Bali mengundang kawan-kawannya ke sana. Momentumnya adalah kongres PDI Perjuangan. Akupun ikut diundang karena sempat berteman beberapa hari dengannya dalam suatu diklat politik di Ciawi Bogor. Beberapa kawan-kawan itu adalah teman2 Alit sewaktu aktif di gerakan mahasiswa nasional dan kini beberapa dari mereka berkiprah di kepolitikan nasional dan daerah : Arif dan Ahmad Basarah menjadi anggota DPR RI, Ayi Vivananda menjadi wakil walikota Bandung, Frans Lebu Raya menjadi Gubernur NTT. Sayang belakangan kudengar Alit tidak “nyambung” dengan TK sehingga nampaknya dia harus keluar dari arus utama partai. Beberapa saat kemudian ketika aku berkunjung lagi ke Bali, kulihat Alit menjadi pimpinan sebuah organisasi bisnis pariwisata di Bali.

Jimbaran sampai saat ini masih memiliki daya tarik yang kuat bagi pariwisata di Bali. Pemerintah harus menjaga agar desa adat tetap memiliki otonomi dalam mengelola tempat tersebut sehingga rakyat menikmati hasil dari kemajuan Jimbaran sebagai ikon wisata di Kedonganan. Jika tidak maka pariwisata hanya akan menciptakan kantong-kantong kemewahan dan kantong-kantong kemiskinan di Bali. Hal lain yang harus diupayakan adalah peningkatan keamanan dan ketertiban di Bali, karena para teroris sudah pula masuk ke Jimbaran dan meledakkan bom di sana, tepat di restoran di mana Alit mengundang kami, hanya selang beberapa hari saja.

Sabtu, 24 Desember 2011

Mewakili Pantura



Kasepuhan, Cirebon







Menjelang masa jabatanku sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Barat 1999-2004 berakhir, Sekretaris DPD PDI Perjuangan Ucok Haris Maulana yang juga menjabat sebagai Wakil Bupati Kabupaten Sukabumi mengundangku ke ruang kerjanya di Jalan Pelajar Pejuang No. 1 Bandung. Dia menunjukkan padaku draft nama-nama anggota Partai yang kemungkinan akan dicalonkan dari Jawa Barat untuk menjadi anggota legislative di Provinsi Jawa Barat (DPRD) maupun di pusat (DPR RI). Ucok mengatakan bahwa namaku tercantum dalam nominasi sebagai calon anggota legislative di tingkat Provinsi Jawa Barat sambil menunjukkan lembaran draft daftar nama-nama . aku melihat memang ada namaku di situ. Drs H Harjoko Sangganagara.

Menjelang masa pencalonan, DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat mengadakan Musyawarah Daerah (Musda) di Lembang Bandung, untuk menyusun nominasi yang akan dimasukkan ke dalam Daftar Calon Sementara . Musda diikuti oleh Dewan Pimpinan Daerah dan Dewan Pimpinan Cabang Partai se Jawa Barat. Sebagai anggota Fraksi akupun diundang untuk mengikuti pembukaan Musda. Selepas itu DPC dan DPD lah yang akan melakukan musyawarah. DPC-DPC mengajukan nama-nama calon legislative untuk DPRD Kota dan Kabupaten, DPRD Provinsi dan DPR RI. Nama-nama itu berasal dari musyawarah di tingkat Ranting (Musran) yaitu musyawarah Partai di tingkat Desa/Kelurahan kemudian dibawa ke musyawarah tingkat Anak Cabang (Musancab) yang merupakan musyawarah Partai di tingkat Kecamatan dan selanjutnya di bawa ke dalam musyawarah tingkat Cabang (Muscab) sebagai musyawarah Partai tertinggi di tingkat Kota dan Kabupaten. Keputusan yang dihasilkan dari Muscab itulah yang dibawa ke dalam Musda. Nama-nama calon legislative (Caleg) untuk DPRD Kota /Kabupaten bisa diputuskan di tingkat Cabang (DPC) dan hanya dilaporkan ke DPD dan DPP (Dewan Pimpinan Pusat). Nama-nama caleg untuk DPRD Provinsi Jawa Barat diputuskan di Musda dan dilaporkan ke DPP. Nama-nama caleg untuk DPR RI diusulkan oleh DPD dan diputuskan di Munas (Musyawarah Nasional) yang diselenggarakan oleh DPP dan diikuti oleh DPD dan DPC seluruh Indonesia. Hasil Muscab dan Musda itu tidaklah bersifat final, Dalam praktiknya DPP dan DPD bisa melakukan intervensi untuk menentukan nama-nama caleg.

Dari Budiono yang biasa dipanggil Romo –mungkin karena dia Katolik—aku mendapat informasi bahwa aku masuk dalam nomor jadi (biasa disebut sebagai nomor kopiah). Dalam pembicaraan empat mata Budiono memintaku untuk menyiapkan seharga 5000 buah kaos, yang harus kuberikan pada Ucok. Itu berarti sekitar Rp 25 juta.

Belakangan hari namaku memang muncul dalam Daftar Calon Sementera (DCS) yang dikirimkan ke KPUD (Komisi Pemilihan Umum Daerah). Namaku berada pada daerah pemilihan Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon dan Kabupaten Indramayu dengan nomur urut 2 (dua). Di nomor urut pertama adalah dr H. Ikhwan Fauzi dan di nomor urut tiga Sely Andriana Gantina. Nama pada DCS tersebut bertahan hingga DCT (Daftar Calon Tetap) yang diumumkan sebulan kemudian. Nama dalam DCT adalah nama yang nantinya tercantum pada Kartu Suara di TPS (Tempat Pemilihan Suara).

Sebagai caleg maka aku harus masuk ke gelanggang kampanye baik terbuka maupun tertutup. Masa kampanye berlangsung beberapa minggu tapi tidak lebih dari sebulan. Langkah pertama adalah mencari dana kampanye. Dalam rapat Partai di Grand Hotel Lembang Taufik Kiemas (TK) langsung memanggil para caleg DPR RI, DPRD Provinsi para pejabat eksekutif yang berasal dari Partai untuk menyampaikan komitmen menyumbang sejumlah uang untuk dana kampanye di Jawa Barat (TK dicalonkan dari Kabupaten Bandung). Tiba namaku dipanggil. Aku berdiri dan entah bagaimana aku menyatakan komitmen menyumbang Rp 80 juta.

langkah kedua para caleg (DPR RI dan DPRD) melakukan koordinasi dengan para ketua dan pengurus DPC lainnya di daerah pemilihan. Dibuatlah semacam kepanitiaan local dan Ikhwan ditunjuk sebagai coordinator. Di dalam kepanitiaan itu ada Sidharto Danusubroto, Yosep Umarhadi, Suryana, Eriko Sotarduga dan nama-nama lain. Ikhwan, Sely dan aku segera berangkat ke Cirebon bertemu dengan para ketua Partai : Suryana, dan Tasiya Sumardi. Kami mencari sebuah rumah kontrakan, menyiapkan tenaga dan peralatannya. Di tempat itulah kami mengatur segala sesuatunya agar kampanye bisa berjalan efektif.

Apabila dalam Pemilu 1999 PDI Perjuangan memperoleh nomor urut 11 maka pada Pemilu 2004 PDI Perjuangan memperoleh nomor 18. Maka langkah ketiga kami adalah melakukan sosialisasi nomor ini ke seluruh daerah pemilihan. Kami mencari kayu dan bamboo dalam jumlah sangat banyak dan kami kirim ke tiga kota/kabupaten. Kami memesan bendera, umbul-umbul, spanduk, baliho, poster, dan lain sebagainya. Pada malam di mana keesokan harinya kampanye alat peraga dimulai kami melakukan doa bersama di kantor DPC PDI Perjuangan Kabupaten Cirebon dan langsung turun ke lapangan untuk memastikan bahwa bendera-bendera partai sudah terpasang sepanjang jalan protocol kota dan kabupaten Cirebon serta Indramayu. Kamipun memesan beberapa buah balon udara berlogo partai untuk kami pasang selama masa kampanye. Sebuah pesawat terbang kecil kami carter untuk menyebarkan tanda gambar di udara Indramayu dan Cirebon. Bertruk-truk kaos (T-shirt) kami siapkan di sebuah gudang dan dari situ kami distribusikan ke seluruh kota/kabupaten, kecamatan sampai desa-desa.

Langkah keempat adalah melakukan kampanye terbuka dan tertutup di pelbagai tempat. Di setiap kota dan kabupaten kami adakan kampanye setingkat nasional di mana kami para caleg menyampaikan orasi berisi program partai. Hiburan rakyat seperti dangdut tentu saja tidak kami lewatkan. Guruh Sukarnoputra pun datang dengan menggunakan helicopter. Semua itu membuat Cirebon dan Indramayu marak.

Semua usaha kami tidak sia-sia. Daerah pemilihan Cirebon-Indramayu merupakan salah satu daerah pemilihan (dapil) yang dapat dimenangkan oleh PDI Perjuangan di Jawa Barat bahkan di Indonesia, karena secara umum Partai dipecundangi Partai Golkar baik di tingkat nasional maupun Provinsi. Aku bersyukur kepada Allah meskipun ada yang mengatakan bahwa sudah selayaknya kami menang karena Cirebon-Indramayu adalah kandang banteng. Padahal di awal musim kampanye banyak yang menyangsikan dan mengganggap remeh kerja kami.

Senin, 19 Desember 2011

Elang Coklat Merah













Dari Sebrang Perai aku bermaksud melihat pembangunan infrastruktur Malaysia, dengan bus memasuki North-South Expressway (Lebuhraya Utara-Selatan), sebuah jalan tol sepanjang 966-km yang menghubungkan semua kota-kota besar di Malaysia bagian barat. Bus melalui Alor Star, ibukota negara bagian Kedah, kota di mana PMTuanku Abdul Rahman dan Mahathir Mohammad berasal. Terletak 93 km dari Butterworth Penang dan 45 km perbatasan Thailand. Alor Star menjadi kota pada 21 Desember 2003.

Sekedar catatan, Tun Dr Mahathir bin Mohamad ( lahir 10 Juli 1925) adalah politisi Malaysia yang menjadi PM keempat, berkuasa selama 22 tahun (1981-2003). Lahir dan besar di Alor Star, Mahathir menjadi seorang dokter, aktif di United Malays National Organisation (UMNO), mulai masuk ke Parlemen tahun 1964 dan kemudian tersingkir dari UMNO. Setelah Tunku Abdul Rahman tidak menjadi PM, Mahathir kembali ke UMNO dan parlemen dan dipromosikan ke Kabinet hingga menjadi Deputy PM pada tahun 1976, dan pada tahun 1981 menjadi PM menggantikan Huseein On.

Bus sampai di Kuala Perlis (atau Kedah?) dan dengan menggunakan ferry aku menyebrang ke Pulau Langkawi. Dalam waktu kurang lebih satu jam aku ferry tiba di The Langkawi Jetty Point. Hari telah petang di Langkawi dan malam itu aku menginap di sana sambil menikmati suasana malam di Langkawi yang tertata rapih dan bersih meski tidak seramai Kuta di Bali.

Langkawi, mendapat julukan resmi the Jewel of Kedah ( Langkawi Permata Kedah) adalah sebuah kepulauan dengan 104 pulau di Laut Andaman berjarak 30 km lepas pantai semenanjung Malaysia. Kepulauan ini adalah bagian dari Kesultanan kedah dan berbatasan dengan Thailand. Pulau terbesar bernama PulauLangkawi yang berpendudu sekitar 65.000 orang. Langkawi juga merupakan bagian administratif dari Kuah sebagai kota terbesar. Untuk tujuan pengembangan pariwisata Langkawi dijadikan daerah bebas cukai barang2 impor (a duty-free island).

Nama Langkawi berarti elang coklat merah. Kata lang berasal dari helang. Kawi berarti coklat kemerahan. Nama Langkawai permata Kedah diberikan pada tahun 2008 oleh Sultan Abdul Halim Mu’adzam Shah sebagai bagian pesta emasnya (golden jubilee) untuk memberi kesan pada para turis bahwa Langkawi merupakan bagian dari Kedah. Mahathir Mohamad lah yang mengubah Langkawi menjadi daerah wisata pada tahun 1986, dan itu membantu pembangunan pulau menjadi seperti sekarang, sehingga menjadi seperti Sentosa Island di Singapura, Dunia Fantasy di Jakarta atau bahkan seperti Pulau Bali.

Pada tahun 2007 pulau Langkawi ditetapkan statusnya sebagai World Geopark oleh UNESCO terdiri atas Machinchang Cambrian Geoforest Park, Kilim Karst Geoforest Park dan Dayang Bunting Marble Geoforest Park. Tempat-tempat ini merupakan area wisata yang populer.

Perekonomian Langkawi yang semula berbasis pertanian padi dan perkebunan karet serta perikanan dengan cepat digantikan oleh pariwisata yang memperhatikan pelestarian alam, dan kecantikan ekologis.

Program pembangunan The Northern Corridor Economic Region (NCER) merupakan prakarsa pemerintah Malaysia untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi di utara semenanjung Malaysia yang meliputi negara bagian Perlis, Kedah, Penang, dan Perak. Untuk memperkuat posisi Langkawi sebagai tujuan wisata bertaraf internasional, NCER bekerja mengundang hotel dan resor kelas dunia ke pulau itu. Target NCER adalah meningkatkan pengeluaran wisatawan dari 1.890 ringgit di tahun 2005 menjadi 3.034 ringit di tahun 2012.

Hari berikutnya aku meninggalkan Langkawi kembali menuju George Town untuk kembali ke Medan. Dalam perjalanan dengan bus sepanjang lebuh raya, pemandu yang pensiunan tentara menyetel lagu-lagu Indonesia menggunakan tape recorder. Lagu-lagu lama Tety Kadi. Pak pemandu memiliki banyak koleksi kaset dari penyanyi legendaris Indonesia tersebut karena di memang seorang pengagum berat Tety Kadi.

Selasa, 13 Desember 2011

Menyebrangi Selat Malaka



Mesjid Besar Medan









Di sekitar tahun 2002-2003 aku bertandang ke Medan bersama beberapa orang teman. Tujuanku ku kekantor Gubernur Sumatra Utara, kalau aku tak salah, untuk berdiskusi mengenai pembentukan KPID (Komite Penyiaran Indonesia Daerah). Seingatku Sekda atau Asisten lah yang menerima kami . diskusi berlangsung beberapa jam di petang hari. Lepas dari pembicaraan teknis, aku menikmati indahnya lukisan2 mengenai danau Toba dan berpikir untuk berkunjung ke sana. Sayangnya itu tidak terjadi karena satu dan lain hal.

Alih-alih ke danau Toba aku berkeliling kota Medan, mengunjungi istana Maimoon yang masih dipelihara kemegahannya, melihat masjid peninggalan kerajaan, menelusuri jalan dengan bangunan-bangunan tua peninggalan kolonial dan Cina dan tentu saja menikmati durian dari penjaja di kaki lima di malam hari. Staf kami mengajak santai di pub melihat pertunjukan live music dari sebuah band tak terkenal kota Bandung. Seperti biasa aku tak bisa berlama-lama karena tak kuat dengan pengapnya ruangan oleh asap rokok.

Nama Medan berasal dari Medinah (kota suci di Arab Saudi) atau Maidan yang dalam bahasa India berarti tanah atau ladang dan dalam bahasa Karo artinya menemukan atau lebih baik. Medan identik dengan Batak meskipun dulunya adalah wilayah dari kerajaan Aceh atau Melayu dan adat istiadat Melayu masih kuat berakar. Boleh dikatakan bahwa Medan adalah tempat di mana pluralitas budaya begitu nampak bahkan cenderung kosmopolit. Populasi orang Jawa mencapai 33% dan Cina 11% diikuti Melayu, Batak, dan suku-suku lainnya. orang Cina yang menguasai perekonomian dan dengan sendirinya juga mempunyai akses yang kuat dalam mempengaruhi pengambilan keputusan di pemerintahan. Orang India dan Arab juga menjadi bagian dari penduduk medan di samping etnis lainnya. Sebagai kota terbesar di Sumatra atau ketiga di Indonesia, Medan seperti gula yang mengundang semut. Jalan-jalan di kota dikavling-kavling oleh pelbagai ormas yang nampaknya berbagi kue ekonomi dengan menguasai lahan-lahan parkir maupun kaki lima. Daging babi dijual dan nampak tergantung di rumah makan atau warung-warung kecil dan sejauh ini tidak pernah menimbulkan masalah dalam pergaulan penduduk kota sehari-hari.

Pengaruh Malaysia di Medan terasa dengan adanya rumah sakit swasta Malaysia, atau kebiasaan orang kaya atau pejabat Medan maupun Sumut yang berobat ke Malaysia jika mereka sakit atau melakukan general check up. Ternyata memang ada penerbangan tiap hari Medan-Penang pp. Karena penasaran akupun menyempatkan diri ke Penang menyebrangi Selat Malaka dengan penerbangan domestik berbiaya murah (Low cost carrier). Berangkat dari bandara Polonia tengah hari dan dalam sekitar satu jam kemudian tiba di Penang. Penang International Airport (PEN) terletak di Bayan Lepas di bagian selatan pulau Penang.

Penang










Penang selain nama sebuah pulau juga nama sebuah negara bagian di Malaysia yang berlokasi di barat daya semenanjung Malaysia, terdiri dari dua bagian yaitu Pulau Penang di mana pemerintahan berada dan Seberang Perai di daratan Malaysia. Tinginya urbanisasi dan industrialisasi membuat Penang adalah satu negara bagian dengan pembangunan dan perekonomian yang penting di Malaysia sekaligus menjadi tempat tujuan wisata. Populasinya yang heterogen nampak dari banyaknya etnisitas, budaya, bahasa dan keyakinan dan dikenal sebagai yang paling progresif secara sosial. Penduduk Penang dikenal sebagai Penangite.

Di penang aku singgah satu dua hari di George Town, ibukota Penang yang berada di Pulau Penang. Aku menginap di sebuah hotel murah di lokasi wisata yang hidup 24 jam terutama di malam hari. Semacam jalan Jaksa di Jakarta atau Kuta di Bali. Kafe-kafe penuh sesak wisatawan manca, dan aneka kuliner bertebaran hingga ke kaki lima sehingga aku tidak sulit mencari makanan atau sekedar minum kopi dengan teman. Wajar jika kemudian Penang dikenal sebagai the food capital of Malaysia bahkan dinobatkan sebagai the Best Street Food in Asia oleh majalah Time tahun 2004, yang menulis "nowhere else can such great tasting food be so cheap.” Kuliner Penang menggambarkan perpaduan etnik Cina, Eropa, Melayu dan India dan Thailand.

Suasana Eropa berpadu dengan Cina dan India memang terasa sekali di sini karena sejarah panjang Penang yang pernah menjadi jajahan Inggris. Adapun orang Cina merupakan penduduk terbesar di Penang meskipun sekarang orang Melayu jauh lebih banyak. Banyak imigran datang ke sini dari negara-negara tetangga termasuk dari Indonesia.

Pusat pemerintahan berada di KOMTAR Building yang merupakan menara tertinggi di George Town dengan 65 lantai. Di bagian bawah ada pusat pertokoan modern dan di atas kesibukan bisnis itu, para pegawai pemerintah bekerja. Terminal bus terpadu persis berada di bagian bawah pusat bisnis dan pemerintahan tersebut.

Untuk mencapai Seberang Perai (Penang daratan), Pulau Penang dihubungkan dengan Penang Bridge sepanjang 13,5 kilometer yang terdiri dari tiga jalur yang selesai dibangun tahun 1985 dan merupakan salah satu jembatan terpanjang di Asia. Tahun 2006 mereka membangun sebuah jembatan lagi dan direncanakan selesai tahun 2013.
Penang Daratan terhubung dengan apa yang dinamakan North-South Expressway (Lebuhraya Utara-Selatan), sebuah jalan tol sepanjang 966-km yang menghubungkan semua kota-kota besar di Malaysia bagian barat.

Penang juga merupakan negara bagian tiga terbesar secara ekonomi setelah Selangor dan Johor, dengan industri manufaktur yang merupakan penunjang perekonomian terpenting. Di bagian selatan pulau terletak Bayan Lepas Free Industrial Zone dan merupakan Silicon Island dan sejak 2005 Penang menyandang status sebagai Multimedia Super Corridor Cyber City di luar Cyberjaya dengan tujuan menjadi sebuah pusat industri teknologi tinggi yang menjalankan cutting-edge research. Sayangnya investasi langsung ke Penang memudar karena pengaruh dari murahnya upah buruh di Cina dan India.

Selasa, 06 Desember 2011

NAIK BUS MALAM PONTIANAK -KUCHING



Tugu Khatulistiwa















Pontianak

Pada saat aku di Komisi A DPRD Provinsi Jawa Barat periode 1999-2004, aku terkesan pada sebuah pengalaman berkunjung ke Kalimantan Barat. Pontianak adalah kota pertama yang kami kunjungi karena bandara Supadio tempat kami mendarat setelah terbang dari Tangerang terletak di ibukota provinsi tersebut. Kami bertemu dengan Gubernur untuk mengetahui kondisi daerah setelah terjadinya konflik antara orang-orang dari suku Daya dengan suku Madura. Kebetulan gubernur yang berasal dari militer pernah bertugas di Jawa Barat, tepatnya di Yon Zipur Dayeuhkolot Bandung, sehingga kami dapat berdialog dengan terbuka dan leluasa.Kami diajak melihat upaya pemerintah provinsi menangani pengungsi. Mereka di tampung di tempat-tempat pengungsian di tengah kota dan tiap keluarga tinggal pada bangunan kecil tidak permanen (gubug). Gubug-gubug itu mengingatkanku pada kobong-kobong yang ada pada pondok pesantren di Jawa. Dalam gubug-gubug itulah para pengungsi ditampung. Gubug-gubug itu di bangun di halaman bangunan pemerintah seperti GOR dan lain-lain. Suasana di tempat pengungsian sungguh menyedihkan dan kondisi itu mengingatkanku pada suasana peperangan. Alhamdulillah konflik pelan-pelan dapat dikendalikan dan situasi menjadi tenang kembali meskipun memerlukan waktu yang lama. Pelajaran yang dapat dipetik dari peristiwa itu adalah bahwa masalah persatuan dan kesatuan bangsa tidak muncul dengan sendirinya melainkan memerlukan kemauan keras untuk mewujudkannya. Hal itu juga memperkuat akan perlunya kita kembali pada idelogi Pancasila yang menjadi dasar kehidupan berbangsa dan bernegara.

Secara umum kota Pontianak ketika itu dalam keadaan normal, karena konflik tidak terjadi di ibukota melainkan di wilayah pinggiran. Karena itu kami masih bisa menikmati indahnya sungai Kapuas karena sungai merupakan urat nadi kehidupan kota itu dan bahkan urat nadi pulau Kalimantan secara keseluruhan. Kamipun sempat menikmati kuliner Melayu yang banyak dijumpai pada rumah makan di Pontianak. Tak lupa kamipun mengunjungi museum khatulistiwa, yaitu tempat di mana dibangun tugu untuk menandai titik 0 derajat garis equator.

Etnis Cina nampak sangat menonjol dalam kehidupan di Pontianak dan Kalimantan Barat pada umumnya terutama di sektor perdagangan, dan mereka hidup damai di tengah-tengah penduduk. Sehingga menjadi agak aneh jika saudara-saudara kita dari suku Daya bisa terlibat konflik dengan Suku Madura. Tapi itulah yang terjadi.

Senyampang di Kalimantan Barat kami tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat kondisi tenaga kerja kita yang mencari nafkah di Malaysia khususnya di negara bagian Sarawak (Serawak). Kami menggunakan bus malam dari Pontianak dan menjelang fajar kami tiba di perbatasan RI-Malaysia di Entikong. Di check point itu kami beriring-iringan dengan banyak tenaga kerja yang akan menyebrang ke Serawak. Masih diperlukan beberapa jam lagi untuk mencapai Kuching yang merupakan ibukota negara bagian Serawak. Perjalanan dengan bus pun dilanjutkan melalui hutan-hutan dan perkampungan wilayah Malaysia. Harus kuakui bahwa mereka menata wilayah perbatasan dengan lebih baik. Jalan mulus, hutan terjaga, pemukiman teratur rapi dan nampak makmur, jalan-jalan ke perkampungan diberi nama, dan sepanjang jalan rumput-ruput dicukur rapi.

Serawak

Sekitar pukul 10.00 kami tiba di Kuching , ibukota negara bagian Serawak. Kuching kota yang nyaman karena penduduknya hanya sekitar setengah juta orang.
orang Malaysia menyebutnya Serawak dengan Sarawak. Sarawak merupakan satu dari dua negara bagian Malaysia yang ada di Kalimantan di samping Sabah. Pada abad ke-16 Serawak dikuasai Portugis, pada abad ke-17 berpemerintahan sendiri di bawah kekuasaan Sultan Tengah. Pada awal abad ke-19 berada dibawah kontrol kesultanan Brunei. Pada masa kekuasaan Pangeran Indera Mahkota, Serawak mengalami kekacauan. Sultan Omar Ali Saifuddin II (1827–1852), Sultan of Brunei, memerintahkan agar Pangeran Muda Hashim di tahun 1839 menangani keadaan. Saat itulah James Brooke tiba di Serawak. Pangeran Muda Hashim berprakarsa meminta bantuannya tapi Brooke menolak tapi tahun 1841 dia kemudian bersedia membantu dan Pangeran Muda Hashim menandatangai perjanjian menyerahkan Serawak dan memberi jabatan Gubernur pada Brooke yang kemudian menjadi Raja Serawak dan mendirikan Dinasti yang merdeka dari Brunei. Pada tahun 1888 Serawak berada di bawah proteksi Inggris.

Serawak merdeka pada 22 Juli 1963. Bersama dengan Malaya, Sabah dan Singapura menjadi federasi Malaysia pada 16 September 1963 meskipun ditentang sebagian penduduknya. Serawak merupakan wilayah konflik pada saat konfrontasi dengan Indonesia antara tahun 1962-1966.



Gadis Daya Iban


















Serawak memiliki 40 sub etnik seperti Melayu,Cina, India, Daya. Ada pula yang suku Jawa dan Bugis. orang Jawa berasal dari Jawa Tengah yang dikirim ke Serawak oleh Belanda pada tahun 1800 hingga 1940-an untuk dijadikan kuli kontrak di perkebunan karet Inggris. Mereka kemudian menetap dan diberi tanah yang luas. Jumlah mereka sekitar 50.000 orang dan hingga kin masih kuat menjaga adat istiadat mereka. Mereka kawin mawin dengan penduduk setempat dan sehari-hari berbahasa Melayu atau Inggris. Orang Bugi menyebar di beberapa tempat di wilayah pantai dan terkenal dengan keahlian mereka membuat perahu nelayan, di samping bertani, berdagang, menjadi nelayan atau bekerja sebagai tukang.

Selama di Serawak, kami mengelilingi kota Kuching yang indah dan nyaman. Kami menikmati pemandangan kota dari menara, berjalan-jalan di tepi sungai Sarawak , melihat tempat pelelangan ikan yang rapi dan bersih, mengunjungi museum Daya dan tentu saja ke balai kota yang menyatu dengan museum Kuching. Museum itu menjadi unik karena mengaitkan sejarah kota dengan kucing, sehingga semua benda ataupun cerita tentang kucing ada di museum itu.

Senin, 24 Oktober 2011

Ground Zero

hari ketiga atau keempat di Bali kami berkeliling ke luar Kuta dan Sanur. Untuk itu kami menyewa mobil yang biasa mangkal di depan museum Bali. Harga sewa per hari Rp 200.000,00 bersih, sudah termasuk BBM dan panduan perjalanan yang dilakukan oleh pengemudi. Pengemudinya asli orang Bali sehingga paham benar kondisi dan situasi setempat. Kami ikut saja rute yang ditawarkannya : Sukawati, Tampaksiring, Gua Gajah, Sangeh, Taman Ayun, Uluwati lalu kembali ke Kuta.

Sukawati adalah nama pasar suvenir yang menyediakan segala macam pernak-pernik cinderamata khas Bali : lukisan, ukir-ukiran, pakaian, bedcover dan perlengkapan interior lainnya, layang-layang, perhiasan, serta makanan dengan harga yang terjangkau semua kalangan. Murah meriah.

Tampak siring terkenal dengan keberadaan Istana Presiden dan pura Tampaksiring. Pura Tampaksiring ramai dikunjungi orang yang melakukan ritual mandi di mata airnya. Mata air di Tampaksiring sangat deras mengalirkan air jernih dari pegunungan. Dari mata air itu air dialirkan ke kolam pemandian umum di mana orang-orang melakukan upacara mandi dari satu pancuran ke pancuran lainnya setelah bersembahyang dan menyajikan bebungaan. Para wisatawan pun biasanya ikut memasuki kolam setidaknya untuk membasuhmuka atau berwudhu karena tidak mampu menahan godaan kejernihan air yang melimpah dan menyegarkan. Di atas pura ada dua buah bukit kecil di mana Istana Kepresidenan berada. Istana di dua bukit itu dihubungkan oleh sebuah jembatan layang. Dari Istana itu presiden Sukarno dan mungkin juga presiden berikutnya bisa melihat pemandangan indah di bawahnyanya, Pura Tampaksiring dengan mata air serta kolamnya serta pemandian umum di tepi sungai.

Dari Tampaksiring kami singgah di Gua Gajah, sebuah peninggalan arkheologis pra Hindu yang meninggalkan jejak sejarah manusia Bali sebelum kedatangan Raja Erlangga dan orang-orang dari pulau Jawa.

Melalui jalan-jalan desa yang indah permai kami meninggalkan Gua Gajah menuju Sangeh, hutan yang menjadi habitat kera. Kera di sini sehat-sehat dan besar serta bersahabat dengan pengunjung bahkan kadang dia bertengger di bahu kita seperti kera yang kita lihat pada film “Si Buta dari Gua Hantu”. Kami membawa beberapa bungkus kacang tanah yang berkulit dan memberikanya pada kawanan kera tersebut. Jika ada kera yang nakal maka para pecalang yang berpakaian adat akan mengusir mereka. Para pecalang adalah para penduduk desa setempat. Pada orang-orang yang takut kera, para pecalang menyarankan agar kita membawa tongkat. Kera-kera memang takut pada tongkat. Mungkin mereka khawatir kita akan memukul mereka dengan tongkat itu.
Kami kemudian pergi ke Taman Ayun yaitu kompleks pura yang dikelilingi air sehingga pura nampak mengapung di atas danau, itulah sebabnya dinamakan Taman Ayun. Pura ini indah sekali. Halamannya luas. Balai bengong (menara tempat bersantai) nya nyaman untuk digunakan bersantai. Di bagian depan terdapat semacam pendopo yang luas tempat mengadu ayam pada saat upacara. Komplek pura ini adalah milik keluarga Kerajaan Badung, salah satu kerajaan dari beberapa kerajaan lain yang ada di Bali. Tercatat setidaknya ada lima kerajaan di Bali. Antara lain Badung, Singaraja, Pamecutan, Karangasem.

Destinasi terakhir kami hari itu adalah Tanah Lot. Jaraknya cukup jauh dari Taman Ayun. Perjalanan melalui desa-desa adat dan banjar yang masih kental dengan nuansa Balinya. Rumah-rumah di Bali memiliki arsitektur khas yaitu merupakan sebuah kompleks bangunan yang dipagari dinding tembok dengan gapura di depannya. Di bagian depan ada pura kecil tempat sembahyang keluarga. Mereka berdoa di sana setidaknya tiga kali dalam sehari : pagi siang dan sore. Setiap berdoa mereka meletakkan sesaji yang terdiri dari bermacam-macam bunga yang diwadahi tempat khusus terbuat dari daun kelapa atau daun pisang. Seperti diketahui sesaji adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat Bali sehingga bisa ditemukan di setiap tempat : rumah, kendaraan, persimpangan jalan, pasar, kantor, pura, sawah bahkan di pohon-pohon besar. Sesaji dipersembahkan buat para Dewa yang memberi kehidupan serta pada para roh jahat agar tidak mengganggu hidup mereka.

Dalam perjalanan kami sering sekali berjumpa dengan iring-iringan prosesi upacara keagamaan yang hendak menuju ke atau kembali dari pura. Prosesi itu indah dipandang mata seperti sebuah karnaval layaknya. Mereka menggunakan busana khas. Pria menggunakan sarung dan baju putih serta ikat kepala. Wanita menggunakan kain dan kebaya yang diikat selendang pada pinggangnya sambil mengusung sesaji buah-buahan yang disusun indah pada wadah seperti baskom di atas kepala mereka. Di telinga mereka tersungging sekuntum bunga kamboja putih. Kadangkala perjalanan mereka diiringi musik dan barong.

Menjelang senja kami tiba di Tanah Lot yang terkenal dengan Puri Tanah Lot. Puri Tanah Lot terletak di sebuah pulau karang kecil di pantai. Jika laut pasang maka pulau itu terpisah oleh laut dari daratan. Tapi pada siang hari, air laut surut dan kita bisa ke puri tersebut menyebrangi dasar laut. Pemandangan di sini memang indah. Orang-orang duduk di tepi pantai menunggu matahari tenggelam. Ada yang bermain air laut, karang atau pasir. Ada pula yang duduk di kafe-kafe di bibir tebing, sehingga mereka bisa leluasa melihat pemandangan ke arah puri maupun matahari tenggelam. Minum teh atau kopi, atau air kelapa langsung dari buahnya, di senja hari di Tanah Lot, menyaksikan matahari merah tomat tenggelam ke dalam laut sungguh merupakan peristiwa yang tidak dapat terlupakan. Subhanallah.

Saat matahari benar-benar tenggelam di ufuk barat, orang-orang mulai beranjak pergi dari tepi pantai . Kebanyakan orang segera bergegas pergi sambil menyempatkan diri membeli cinderamata yang dijual di sepanjang jalan ke luar. Ada pula yang merasa malas pulang sambil menyesali betapa cepat momen itu berlalu. Kami masih terkesima dengan apa yang kami lihat. Tapi kegelapan akan segera menyelimuti Tanah Lot, maka kamipun kembali ke Kuta.

Malam hari kami ke luar hotel sambil berjalan kaki menyusuri jalan-jalan. Melihat Ground Zero, yaitu monumen yang dibangun untuk memperingati tewasnya ratusan orang dalam dan luar negeri karena diledakkannya dua kelab malam oleh para pelaku jihad yang dicap sebagai teroris. Peristiwa itu dikenal dengan peristiwa Bom Bali, yang melukai rasa kemanusiaan, kebangsaan, keadilan bahkan religiusitas masyarakat Bali atau bangsa Indonesia umumnya.

Minggu, 23 Oktober 2011

Dari Sanur ke Kuta




Museum Le Mayeur (wikipedia)





Setelah subuh kami menggunakan taksi ke Sanur. Jarak Denpasar-Sanur tidak begitu jauh, mungkin sekitar 10 km saja. Ketika kami tiba di sana fajar mulai merekah. Kami bergabung dengan orang-orang yang menunggu matahari terbit di tepi pantai. Ini ritual wajib bagi wisatawan yang datang ke Sanur. Dari ufuk timur pelahan sang surya muncul dari horison, sedikit demi sedikit sehingga terbit dengan sempurna.

Orang-orang berdecak kagum dan bertepuk tangan. Kamipun mengucap “ subhanallah”. Kegelapan pun sirna. Terang pun serentak datang dari seluruh penjuru. Laut mulai nampak jelas. Ombaknya yang berdeburan ke pantai berpasir putih sungguh membangkitkan nafas kehidupan. Perahu-perahun nampak berjajar rapi dengan cat warna-warni menggugah hati. Bali Beach Hotel mulai nampak di balik rimbuh pepohonan. Pohon kelapa melambai diembus angin.

Kami berjalan sepanjang pantai menikmati pasir putih dengan bertelanjang kaki. Jika lelah kami duduk di atas pasir putih atau bermain air laut yang berderai ke pantai. Para petugas penjaga pantai menggali pasir dan mengubur sampah. Nelayan menawarkan sampan untuk ditumpangi. Kamipun menyewa sebuah sampan untuk melayari pantai. Laut biru jernih menyejukkan hati. Langit biru dengan awan putih berarak. Dari kejauhan kami melihat pantai dan menikmati embusan angin yang kencang menerpa tubuh. Batu-batu karang dan ikan-ikan dapat dilihat dengan mata telanjang.

Setelah lelah bersampan kami istirahat di sebuah kedai di tepi pantai. Sarapan pagi sambil melihat laut luas. Kami duduk santai memuaskan diri dengan panorama elok pantai Sanur. Betapa indah hari itu. Kamipun mengabadikan kenangan dalam foto-foto indah.

Menjelang siang kami berkunjung ke museum Le Mayeur. Lokasinya tepat di samping kiri Bali Beach Hotel. Bangunan museum sebelumnya adalah rumah tinggal Le Majeur bersama istrinya Ni Polok. Keduanya telah tiada. Ada bagian bangunan yang dijadikan tempat penginapan. Rumah Le Mayeur memiliki arsitektur yang penuh nilai-nilai keindahan. Perabotan (interior) nya dirancang sendiri oleh sang pemilik rumah menggabungkan antara seni tradisi dengan pendekatan fungsional misalnya tempat duduk atau meja berukir dan diberi warna merah menyala yang berfungi sebagai tempat penyimpanan barang-barang. Secara umum bangunannya terbuat dari kayu air untuk manci atau minum diperoleh dari sumur gali yang hingga kini masih dipertahankan keberadaannya.





Ni Pollok dan Le Mayeur









Rumah itu kini menjadi museum Le Mayeur yang dipelihara oleh pemerintah daerah. Museum menyimpan banyak koleksi lukisan Le Mayeur yang kebanyakan berobyek Ni Polok. Ni Polok adalah perempuan Bali yang cantik yang juga menarik perhatian Bung Karno. Alkisah, ketika Bung Karno datang ke rumah itu, Le Majeur tidak begitu suka lantaran cemburu. Nama lengkap Le Mayeur adalah Adrien-Jean Le Mayeur de Merpres (lahir di Brusel, 9 Februari 1880 – meninggal di Ixelles, 31 Mei 1958 pada umur 78 tahun) . dia adalah seorang pelukis dari Belgia. Ia tiba di Singaraja, Bali dengan perahu pada tahun 1932. Lalu ia menetap di Denpasar.

Dari Museum Le Mayeur kami kembali ke Denpasar dan mengunjungi Museum Bali yang koleksinya mengambarakan perkembangan kebudayaan Bali sejak masa purba hingga saat ini. Koleksi lukisan dan patungnya cukup lengkap. Karya dari pematung dan pelukis Bali maupun luar Bali yang kemudian bermukim di Bali memenuhi museum. Lukisan mereka bukan saja mempengaruhi bentuk lukisan Bali tradisional tetapi juga lukisan atau pelukis Indonesia saat ini.

Puas menikmati koleksi Museum Bali kamipun kembali ke hotel untuk mandi dan berkemas mencari tempat menginap di Kuta. Kami memperoleh hotel berbentuk cottage tidak jauh dari pantai. Sore dan malam itu kami menikmati suasana Kuta. Pantainya begitu ramai di sore hari saat orang-orang menikmati keindahan pantai sambil menunggu matahari terbenam. Pada Malam hari suasana sungguh meriah, hingar bingar. Hotel, restoran, kafe dipenuhi turis mancanegara. Lampu-lampu berkelap kelip aneka warna. Musik meledak-ledak. Lalu lintas ramai dan padat. Hidup seperti akan berlangsung 1000 tahun lagi...

Jumat, 21 Oktober 2011

Menyebrangi Selat Bali



Pantai Sanur








Bus PJKA tiba di pelabuhan Ketapang, di ujung timur pulau Jawa. Para penumpang diturunkan dan menunggu beberapa saat sebelum memasuki fery roro. Lautbiru yang luas langsung memberi suasana lapang. pasir terhampar sepanjang pantai nampak sampai kejauhan. Pohon nyiur di sela-sela pemukiman melambai ditiup angin. Nampak Ada beberapa dermaga tempat fery bersandar. Berjalan di dermaga menuju fery kami bisa melihat anak-anak telanjang berenang-renang di air laut yang jernih.

Orang-orang melemparkan uang koin Rp 500 atau Rp 1000 ke dalam laut dan dengan sigap anak-anak tersebut menyelam mengejarnya sebelum kemudian muncul ke permukaan air sambil menunjukkan uang tersebut yang kemudian menjadi milik mereka. Ternyata B ukan hanya anak kecil. Beberapa orang dewasa juga berenang-renang di antara mereka melakukan aktivitas yang sama yang nampaknya menjadi mata pencarian mereka.

Penumpang langsung naik ke dek. Mobil-mobil diparkir sedemikian rupa di dasar kapal sehingga tidak saling menabrak ketika fery bergerak. Setelah penuh, fery pun diberangkatkan. Ketika pelan-pelan fery bergerak meninggalkan pelabuhan, pulau Jawapun nampak menjauh. Biasanya aku melihat ujung pulau hanya dari peta, kini ujung pulau Jawa itu nyata dan pelan-pelan kami tinggalkan. Fery bergerak pelan menyebrangi Selat Bali. Kata seorang petugas jika arus selat Bali sedang deras fery harusbergerak sedemikian rupa agar tidak terbawa arus ke selatan, ke Samudra Indonesia.

Kami berjalan-jalan ke luar meninggalkan tempat duduk dan Berdiri di luar merasakan angin yang berhembus keras sambil melihat luasnya laut biru. Tidak lupa mengabadikannya dalam foto. Jika lelah di luar kamipun masuk kembali ke ruangan. Sambil duduk kami menonton video musik atau film yang diputar di layar televisi. Atau tertidur...

Samar-samar bayangan pulau nampak di kejauhan. Pulau Bali. Fery pun bermanuver mendekat ke dermaga pelabuhan Gilimanuk. Oh... sungguh indah. Laut yang bening. Karang nampak di antara pasir. Ya kami telah tiba di pulau dewata. Kamipun keluar dari fery berjalan di dermaga menuju daratan. Kami beristirahat sejenak di pelabuhan. Membersihkan diri, melaksanakan shalat zuhur dan ashar sekaligus.

Bebeberapa waktu kemudian kami semua sudah duduk di dalam bus yang segera berangkat menuju Denpasar. Perjalanan di pulau dewata pun dimulai. Bus melalui hutan yang masih lebat di taman nasional Bali Barat. Pemandangan yang mengasyikkan. Keluar hutan kami melewati kabupaten Jembrana. Suasana Bali pun menyergap. Pesawahan luas, samudra Indonesia, desa-desa yang permai, rumah-rumah penduduk yang dengan pagar berukir, pura, umbul-umbul, sesajen, dan iring-iringan prosesi upacara. Kota yang kami lewati bernama Negara, yang merupakan ibukota kabupaten Jembrana. Ini adalah kota pertama yang kami lewati. Sayangnya kami telah lelah dan kemudian tertidur .



Pulau Bali






Menjelang malam kami tiba di Denpasar, di kantor PJKA di jalan Diponegoro. Kami pun mencari taksi yang mengantarkan kami pada sebuah hotel melati. Setelah makan malam kami bersiap-siap istirahat karena kami berrencana esok pagi ke pantai Sanur. Kami pun tidur di satu kamar. Berlima bersama istri dan ketiga anakku.
Alhamdulillah, akhirnya kami tiba di Pulu Bali.

Selasa, 18 Oktober 2011

Bandung-Banyuwangi





Lokomotif Diesel













Bung Karno akan marah besar jika ada orang Indonesia lebih membanggakan negara lain di banding degan negaranya sendiri, karena menurutnya Indonesia adalah negara terindah di dunia. Meskipun aku belum melihat secara keseluruhan negri, aku pun meyakini Indonesia adalah negara yang paling indah di dunia. Gunung, lembah, sungai, danau, laut, hutan, kota-kota, desa-desa, penduduknya bahkan flora dan faunanya tak ada bandingnya di dunia. Maka akupun ingin agar anak-anakku mengenal tanah airnya terlebih dulu sebelum mengenal negara-negara lain.

Sesungguhnya sangat sulit menemukan waktu yang tepat di mana kami sekeluarga bisa pergi bersama-sama dalam waktu beberapa hari. Aku dan istri bekerja, sedang anak-anak sibuk dengan sekolah atau kuliah mereka. Namun waktu itu entah bagaimana kami punya waktu kurang lebih seminggu, sehingga kami memutuskan pergi ke Bali dengan berkereta api pergi-pulang.

Seingatku di tahun 2002 atau 2003 itu kami berlima berangkat sore hari dari Stasiun Hall Bandung menggunakan KA Mutiara jurusan Surabaya. Sekitar pukul 17.00 kereta bergerak ke timur melalui Kiaracondong melewati pesawahan menuju Rancaekek. Kereta melaju melewati sta Rancaekek sehingga kami hanya bisa melihat kereta melintas di Bumi Rancaekek Kencana di mana kami tinggal. Rumah kami hanya terselang satu rumah dari rel kereta. Kereta melaju melalui Cicalengka, Nagrek, lalu merayap di tas perbukitan menuju Cibatu. Kereta baru berhenti di sta Tasikmalaya untuk memuat penumpang. Setelah melewati Ciamis kereta menuju Banjar untuk berhenti beberapa saat menurunkan dan menaikkan penumpang. Sidareja, Kroya, Gombong, Kutoarjo, kemudian tiba di Yogyakarta tengah malam. Kereta berhenti agak lama. Penumpang turun dan naik. Kereta kemudian melaju dan berhenti sejenak di Klaten, Solo, Madiun, Kertosono, dan Mojokerto.

Pagi hari kami tiba di stasiun Gubeng. Kami shalat subuh, mandi dan sarapan pagi di stasiun. Pukul 08.00 kami menaiki kereta eksekutif ke Banyuwangi melalui Sidoharjo dan Jember. Kami menikmati perjalanan dengan kereta yang bagus dan nyaman karena tempat duduknya berupa reclyning seat yang berukuran besar disertai air condition yang mendinginkan gerbong. Segera setelah kereta berangkat Petugas restorasi dengan pramugarinya berkeliling dari gerbong ke gerbong menawarkan penganan : nasi goreng, steak, sandwich, mie goreng, disertai kopi dan teh panas. Kamipun memesan penganan kesukaan masing-masing. Makan pagi di kereta menjadi ritual menyenangkan yang ditunggu-tunggu oleh anak-anakku.

Kereta berhenti beberapa menit di Sta Jember . sebagian penumpang turun. Ada juga yang sekedar mencari toilet atau ke toko oleh-oleh membeli makanan khas Jember seperti tape singkong dan dodol tape singkong yang manis masam.



Kawah Ijen














Perjalanan dari Jember ke Banyuwangi sungguh menarik hati. Kereta berjalan cepat melalui area pertanian yang subur berupa sawah, ladang dan perkebunan kopi yang hijau sejauh mata memandang. Kereta melalui rel di dataran tinggi yang menanjak dan kadang menurun serta berkelok-kelok. Suara mesin serta putaran roda yang melindas rel ditingkahi suara peluit menghasilkan suara yang khas berirama seperti alunan musik. Getaran yang dihasilkannya membuat kereta bergerak dinamis ke kiri dan ke kanan membuat penumpang bergoyang-goyang di atas kursinya sehingga pelan-pelan dirayapi rasa kantuk untuk kemudian tertidur. Adapun yang masih tetap terjaga bisa memelototi indahnya pemandangan sambil membebaskan lamunan terbang ke mana saja.






Sta KA Banyuwangi











Kereta melewati stasiun-stasiun kecil. Rambipuji. Rogojampi. Glenmore. Menjelang siang kereta tiba di stasiun Banyuwangi . di stasiun kecil terakhir kereta berhenti untuk menurunkan seluruh penumpang dan bersiap kembali ke Surabaya. Kami turun dan beristirahat di peron. Aku bahkan masih sempat berjalan-jalan ke kota dengan menggunakan becak mencari satu dua cakram padat (CD) atau pita kaset musik tradisional. Tak lama kemudian Bus PJKA membawa kami ke Pelabuhan Ketapang. Buspun masuk ke dalam ferry roro yang akan menyebrangkan kami ke Pulau Dewata.

Minggu, 16 Oktober 2011

Kendaraan Roda Empat

















Bapak dan Ibu Mertua

Menjadi mahasiswa S2 membuatku merasa muda kembali kendati Usiaku ketika itu –di tahun 2000 tidaklah muda lagi. Aku berangkat dari rumah pukul 05.15 agar dapat ikut kereta api patas pertama yang berangkat dari stasiun Rancaekek pukul 05.30. berdesak-desakan dalam kereta sepagi itu menyenangkan karena bisa mengusir hawa dingin yang menusuk. Biasanya aku tiba di stasiun Hall pukul 06.00 kemudian melanjutkan perjalanan ke kampus UPI di Jalan Setiabudi dengan kendaraan angkutan kota jurusan Ledeng. Biasanya ketika aku Tiba di kampus, hari masih pagi dan suasana masih lengang. Tujuan pertamaku adalah kantin di kampus Program Pascasarjana yang menyediakan meja dengan bangku panjang di samping kampus di bawah pohon lengkeng. Secangkir kopi dan sepotong dua potong kue menjadi sarapan pagiku. Satu dua orang mahasiswa yang sama-sama sarapan pagi di situ menjadi teman berbincang.

Ketika aku mulai menjalankan tugas sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Barat—pengganti antar waktu (PAW)—maka kebiasaan naik kereta api masih tetap kujalani, apalagi gedung DPRD lebih dekat dari stasiun Hall dibanding kampus UPI. Masalah muncul karena kegiatan sebagai anggota Dewan begitu padatnya sehingga pelan-pelan kuliahku terbengkelai. Masalah lainnya adalah bahwa jadwal kerja Dewan tidak beraturan waktunya. Kadang aku harus sudah berada di Dewan pada pukul 05.00 pagi dan pulang larut malam, sedangkan kereta terakhir adalah pukul 20.00. Taksi menjadi pilihanku, sayangnya ongkos taksi dari Gedung Sate ke rumah bisa mencapai Rp 100.000,00 (seratus ribu rupiah). Mas Tikto (Sunitiyoso Pratikto) yang menjadi Direktur PDAM Kota Bandung berinisiatif meminjamiku mobil untuk menjemput dan mengantarku pulang. Hal itu dilakukannya karena tidak tega melihatku naik kereta api setiap hari.

Rupanya kebiasaanku naik kereta api diketahui Tatang teman sekomisi dari fraksi PG. Dia adalah PNS di Polda Jabar yang bertugas di bagian humas sehingga dekat dengan wartawan. Entah bagaimana mulanya, beberapa hari kemudian di harian Pikiran Rakyat ada berita mengenai anggota Dewan yang menggunakan kereta api pergi pulang dari rumah ke gedung Dewan. Tentulah aku yang dimaksudkannya, karena setahuku semua anggota Dewan selainku menggunakan mobil pribadi ke tempat tugas. aku merasa tidak nyaman dan mulai berpikir untuk membeli kendaraan roda empat.

Ada beberapa Pertimbanganku mengapa harus membeli kendaraan. Pertama adalah jadwal kerja yang tidak teratur dan di luar jadwal kereta api. Kedua ongkos taksi begitu mahalnya sehingga jika dikumpulkan dalam sebulan bisa untuk menyicil kendaraan. Ketiga aku tidak mau merepotkan mas Tikto. Dan keempat aku tidak ingin menjadi bahan berita di koran.

Aku mulai mencari-cari informasi mengenai kendaraan yang paling sederhana dan paling murah yang bisa kuperoleh disesuaikan dengan honor yang kuterima sebagai anggota Dewan. Setelah bertanya ke sana ke mari dan berdiskusi dengan teman-teman – antara lain dengan Bastian— tahun 2002 aku memutuskan membeli sebuah mobil jenis minibus merk D jenis T standar dengan cara leasing dan diangsur selama tiga tahun. Uang mukanya Rp 50 juta. Separuhnya kuperoleh dari bantuan Dewan dan separuhnya lagi uang tabungan. Angsuran perbulannya sekitar Rp 2,5 juta.

Mobil baruku belum diberi perlindungan dari karat dan belum ber-AC. Untuk perlindungan dari karat aku harus membawanya ke bengkel dengan biaya sendiri. AC kubeli beberapa bulan kemudian karena harganya lumayan mahal menurutku, Sekitar Rp 7 juta. Kini mobil itu telah berumur sembilan tahun namun masih setia menemaniku dan keluarga.

Selasa, 11 Oktober 2011

Kembali ke Tanah Air







Jeddah Seafront





Alhamdulillah seluruh rangkaian ibadah haji di tanah suci Mekah telah terlaksana dengan baik. Maka kami para jamaah Kelompok Terbang (Kloter) I dari Kabupaten Bandung pun meninggalkan kota Mekah menuju Jedah, sebuah kota di tepi laut merah. Di Jedah kami tinggal di asrama haji Indonesia selama beberapa hari menunggu jadwal penerbangan menuju kembali ke tanah air.

Untuk mengisi waktu selama berada di Jedah kami mengadakan city tour ke beberapa tempat. Berbeda dengan Mekah yang merupakan tanah suci dengan suasana religious yang kental, Jedah adalah sebuah kota besar layaknya kota besar lain di dunia dengan symbol-simbol kehidupan industrial yang kapitalistik, tidak berbeda dengan kota modern kosmopolitan seperti Jakarta, Singapura, atau Bangkok misalnya. Orang-orang bernampilan modis, pergi ke tempat-tempat keramaian bernuansa kebarat-baratan untuk berbelanja atau ke restoran-restoran yang menjual makanan cepat saji maupun junk food. Jedah menyediakan segala yang dibutuhkan manusia modern. Kotanya indah, bersih dan rapi. Mobil-mobil mewah lalu lalang di jalan raya. tidak terasa bahwa kami baru saja menyelesaikan ibadah haji.

Kami mengunjungi tempat-tempat yang menarik seperti instalasi penyulingan air laut yang dijadikan air tawar untuk konsumsi penduduk kota, istana raja di tengah laut yang bisa dicapai dengan menggunakan jalan di dasar laut, dan tentu saja Laut Merah yang legendaris itu. Laut Merah merupakan tempat wisata yang banyak dikunjungi orang-orang dari pelbagai Negara. Warna merahnya berasal dari warna karang dan pasir di dasar laut. Di tempat ini banyak pedagang dari Indonesia yang menjajakan penganan seperti di Pantai Kuta—minuman ringan dan makanan khas Indonesia seperti pecel. Selain pecel juga ada sate ayam. Jamaah haji yang sudah sebulan lebih berada di Saudi Arabia tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Pecel itu pun segera menjadi santapan para jamaah di siang yang terik itu. Dalam soal kuliner kami ini memang benar-benar nasi-onalis.

Sebuah masjid yang indah dibangun kerajaan di pantai Laut Merah. Dari kejauhan Masjid itu Nampak seperti mengapung di laut. Pilar-pilar yang kokoh menyangga masjid, jumlahnya bisa mencapai ratusan. Untuk sampai ke masjid itu tersedia jembatan sepanjang lebih dari seratus meter. Kami melaksanakan shalat di sana dan setelahnya berkeliling masjid mengagumi keindahannya.

Tentu saja aku dan istriku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berjalan-jalan sepanjang pantai sambil sesekali menceburkan diri ke dalam air laut yang menyegarkan sambil membayangkan kisah Nabi Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir ke tanah yang dijanjikan agar terbebas dari penindasan Firaun. Allah menolong mereka dengan membelah Laut Merah sehingga bangsa Israel dapat menyebrang dengan selamat. Ketika Firaun dan bala tentaranya mengejar mereka, laut itupun menutup kembali. Firaun pun mati. Jasadnya dapat dilihat di museum nasional Mesir dalam bentuk mummy.
Setelah puas berwisata di Laut Merah kami pun pulang ke asrama haji Indonesia yang berupa bangunan apartemen beberapa lantai yang nampaknya sudah berusia puluhan tahun. Tidak ada lift di sana sehingga kami harus naik turun tangga.

suatu malam Dari asrama haji kami menuju bandara King Abdul Aziz . Kami harus menunggu berjam-jam di sana menunggu pesawat. Kesempatan itu kami gunakan untuk berjalan-jalan di lorong-lorong bandara yang luas dan berarsitektur indah. Bandara dibuat seperti kumpulan tenda di tengah oasis yang dikelilingi pohon-pohon kurma dan rerumputan hijau. Tenda-tenda tersebut berwarna putih disangga oleh tiang besi dan satu sama lain dihubungkan dengan tali temali dari metal. Nampak bahwa komplek bandara itu dirancang oleh arsitek yang berbakat dan bercitarasa tinggi.

Sekitar pukul 00.00 waktu Jeddah kami boarding ke pesawat Saudi Arabian Airlines. Beberapa kemudian pesawat lepas landas meninggalkan jazirah Arabia menuju Jakarta. Selamat tinggal Jeddah. Ketika pesawat mulai naik ke ketinggian, aku tertegun, setengah tidak percaya bahwa aku baru saja usai menunaikan rukun Islam yang kelima. Alhamdulillah.

Selasa, 04 Oktober 2011

IBADAH HAJI











Haji

Haji (Bahasa Arab: حج‎; transliterasi: Hajj) adalah rukun (tiang agama) Islam yang kelima setelah syahadat, salat, zakat dan puasa. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu (material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji (bulan Zulhijah). Hal ini berbeda dengan ibadah umrah yang bisa dilaksanakan sewaktu-waktu. (Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Zulhijah ketika umat Islam bermalam di Mina, wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah pada tanggal 9 Zulhijah, dan berakhir setelah melempar jumrah (melempar batu simbolisasi setan) pada tanggal 10 Zulhijah. Masyarakat Indonesia lazim juga menyebut hari raya Idul Adha sebagai Hari Raya Haji karena bersamaan dengan perayaan ibadah haji ini.

Secara lughawi, haji berarti menyengaja atau menuju dan mengunjungi. [1] Menurut etimologi bahasa Arab, kata haji mempunyai arti qashd, yakni tujuan, maksud, dan menyengaja. Menurut istilah syara', haji ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah tertentu pula. Yang dimaksud dengan temat-tempat tertentu dalam definisi diatas, selain Ka'bah dan Mas'a(tempat sa'i), juga Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Yang dimaksud dengan waktu tertentu ialah bulan-bulan haji yang dimulai dari Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Adapun amal ibadah tertentu ialah thawaf, sa'i, wukuf, mazbit di Muzdalifah, melontar jumrah, mabit di Mina, dan lain-lain.

Latar belakang ibadah haji

Orang-orang Arab pada zaman jahiliah telah mengenal ibadah haji ini yang mereka warisi dari nenek moyang terdahulu dengan melakukan perubahan disana-sini. Akan tetapi, bentuk umum pelaksanaannya masih tetap ada, seperti thawaf, sa'i, wukuf, dan melontar jumrah. Hanya saja pelaksanaannya banyak yang tidak sesuai lagi dengan syariat yang sebenarnya. Untuk itu, Islam datang dan memperbaiki segi-segi yang salah dan tetap menjalankan apa-apa yang telah sesuai dengan petunjuk syara' (syariat), sebagaimana yang diatur dalam al-Qur'an dan sunnah rasul. [2] Latar belakang ibadah haji ini juga didasarkan pada ibadah serupa yang dilaksanakan oleh nabi-nabi dalam agama Islam, terutama nabi Ibrahim (nabinya agama Tauhid). Ritual thawaf didasarkan pada ibadah serupa yang dilaksanakan oleh umat-umat sebelum nabi Ibarahim. Ritual sa'i, yakni berlari antara bukit Shafa dan Marwah (daerah agak tinggi di sekitar Ka'bah yang sudah menjadi satu kesatuan Masjid Al Haram, Makkah), juga didasarkan untuk mengenang ritual istri kedua nabi Ibrahim ketika mencari susu untuk anaknya nabi Ismail. Sementara wukuf di Arafah adalah ritual untuk mengenang tempat bertemunya nabi Adam dan Siti Hawa di muka bumi, yaitu asal mula dari kelahiran seluruh umat manusia.

Kegiatan ibadah haji

Tanggal 7 Zulhijah, kami bersama-sama umat Islam dari seluruh dunia mulai berbondong melaksanakan Tawaf Haji di Masjid Al Haram, Makkah. Di kota inilah berdiri pusat ibadah umat Islam sedunia, Ka'bah, yang berada di pusat Masjidil Haram. Dalam ritual haji, Makkah menjadi tempat pembuka dan penutup ibadah ini ketika jamaah diwajibkan melaksanakan niat dan thawaf haji.

Pada pagi 8 Zulhijah, kami bersama semua umat Islam memakai pakaian Ihram (dua lembar kain tanpa jahitan sebagai pakaian haji), kemudian berniat haji, dan membaca bacaan Talbiyah. Jamaah kemudian berangkat menuju Mina, sehingga malam harinya semua jamaah haji harus bermalam di Mina.

9 Zulhijah, pagi harinya semua jamaah haji pergi ke Arafah. Kemudian jamaah melaksanakan ibadah Wukuf, yaitu berdiam diri dan berdoa di padang luas ini hingga Maghrib datang. Kota di sebelah timur Makkah ini juga dikenal sebagai tempat pusatnya haji, yiatu tempat wukuf dilaksanakan, yakni pada tanggal 9 Zulhijah tiap tahunnya. Daerah berbentuk padang luas ini adalah tempat berkumpulnya sekitar dua juta jamaah haji dari seluruh dunia. Di luar musim haji, daerah ini tidak dipakai.Ketika malam datang, jamaah segera menuju dan bermalam Muzdalifah. Tempat di dekat Mina dan Arafah ini, dikenal sebagai tempat jamaah haji melakukan Mabit (Bermalam) dan mengumpulkan bebatuan untuk melaksanakan ibadah jumrah di Mina.

10 Zulhijah, setelah pagi di Muzdalifah, jamaah segera menuju Mina. Tempat berdirinya tugu jumrah, yaitu tempat pelaksanaan kegiatan melontarkan batu ke tugu jumrah sebagai simbolisasi tindakan nabi Ibrahim ketika mengusir setan. Dimasing-maising tempat itu berdiri tugu yang digunakan untuk pelaksanaan: Jumrah Aqabah, Jumrah Ula, dan Jumrah Wustha. Di tempat ini jamaah juga diwajibkan untuk menginap satu malam untuk melaksanakan ibadah Jumrah Aqabah, yaitu melempar batu sebanyak tujuh kali ke tugu pertama sebagai simbolisasi mengusir setan. Setelah mencukur rambut atau sebagian rambut, kami menuju Masjidil Haram di Mekah untuk ikut melaksanakan shalat Iedul Adha bersama para penduduk Mekah dan sekitarnya. Malamnya kami bermalam di Mina dan melaksanakan jumrah sambungan (Ula dan Wustha).

11 Zulhijah, melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.

12 Zulhijah, melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.

Perpisahan

Sebelum pulang ke negara masing-masing, kami bersama-sama jamaah lainnya melaksanakan Thawaf Wada' (thawaf perpisahan). Ketika meninggalkan halaman masjid dan memberikan salam perpisahan, air matapun menetes. Kami dengan perasaan haru biru memasuki bus untuk kembali ke pemondokan.

Senin, 03 Oktober 2011

UMRAH

Meninggalkan Madinah

Setelah melaksanakan shalat fardhu berturut-turut selama empat puluh kali yang memakan waktu sekitar delapan hari – biasa dinamakan shalat arbain – meskipun sebagian jamaah tidak melakukannya karena perbedaan pandangan, kamipun besiap meninggalkan Madinah.

Haji Arbain (bahasa Arab: اربعين arba'in, artinya "empat puluh") adalah ibadah haji yang disertai dengan salat fardhu sebanyak 40 kali di Masjid An-Nabawi Madinah tanpa terputus. Ibadah ini seringkali dikerjakan oleh jamaah haji dari Indonesia. Dalam pelaksanaannya, setidak-tidaknya tinggal di Madinah saat haji selama 8 atau 9 hari, dan dengan perhitungan sehari akan salat wajib sebanyak 5 kali dan selama 8 atau 9 hari maka akan tercukupi jumlah 40 kali salat wajib tanpa terputus.

Rasanya berat meninggalkan kota itu, seperti meninggalkan Nabi SAW. Makam nabi memang terletak di dalam masjid Nabawi. Mengapa demikian, karena ketika nabi wafat beliau dimakamkan di kamar di dalam rumah nabi yang dulu bersebelahan dengan masjid. ketika masjid diperluas dari masa ke masa, rumah nabi pun terkurung oleh kompleks masjid. Makam itu menjadi tujuan jamaah setelah melaksanakan shalat. Jamaah hanya bisa memberi salam dan berdoa dari luar pagar bahkan dari kejauhan karena banyaknya askar yang menjaga dan melarang orang-orang mendekat. Entah mengapa, tiba-tiba saja keharuan menyergap setiap aku melewati makam itu, kadangkala disertai tetesan air mata. Nabi seperti masih hidup dan hadir bersama kami para jamaah haji dari seluruh penjuru dunia.

Suatu malam yang telah ditentukan kami berkemas dan bergegas meninggalkan pemondokan dengan berpakaian ihram, dua lembar kain putih seperti handuk yang diikatkan di pinggang dan dililitkan di bahu. Ihram melambangkan pakaian kematian. Pakaian ini memang menjadi ujian tersendiri karena begitu sederhananya, jika ikatan dan lilitan itu terlepas maka kami akan telanjang karena kami tidak diperbolehkan mengenakan pakaian lain termasuk pakaian dalam. Pakaian ini kami kenakan dalam perjalanan menggunakan bus dari Madinah ke Mekah melalui gurun pasir sepanjang 500 km. sepanjang perjalanan kami menyerukan “labaik Allahuma labaik” …ya Allah kami datang. Ya kami datang memenuhi panggilanMu. Sementara di luar bulan dan bintang menerangi kegelapan malam.

Melaksanakan Umrah

Menjelang subuh kami tiba di Miqat Bir Ali, di perbatasan kota Mekah. dari sini kami berniat untuk melakukan umrah. Karena kami melakukan umrah terlebih dahulu maka haji yang kami lakukana dinamakan haji tamattu’. Memang Setiap jamaah bebas untuk memilih jenis ibadah haji yang ingin dilaksanakannya. Rasulullah SAW memberi kebebasan dalam hal itu, sebagaimana terlihat dalam hadis berikut.

Aisyah RA berkata: Kami berangkat beribadah bersama Rasulullah SAW dalam tahun hajjatul wada. Di antara kami ada yang berihram, untuk haji dan umrah dan ada pula yang berihram untuk haji. Orang yang berihram untuk umrah ber-tahallul ketika telah berada di Baitullah. Sedang orang yang berihram untuk haji jika ia mengumpulkan haji dan umrah. Maka ia tidak melakukan tahallul sampai dengan selesai dari nahar.
Berikut adalah jenis dan pengertian haji yang dimaksud.

Haji ifrad, berarti menyendiri. Pelaksanaan ibadah haji disebut ifrad bila sesorang bermaksud menyendirikan, baik menyendirikan haji maupun menyendirikan umrah. Dalam hal ini, yang didahulukan adalah ibadah haji. Artinya, ketika mengenakan pakaian ihram di miqat-nya, orang tersebut berniat melaksanakan ibadah haji dahulu. Apabila ibadah haji sudah selesai, maka orang tersebut mengenakan ihram kembali untuk melaksanakan umrah.

Haji tamattu', mempunyai arti bersenang-senang atau bersantai-santai dengan melakukan umrah terlebih dahulu di bulan-bulah haji, lain bertahallul. Kemudian mengenakan pakaian ihram lagi untuk melaksanakan ibadah haji, ditahun yang sama. Tamattu' dapat juga berarti melaksanakan ibadah di dalam bulan-bulan serta di dalam tahun yang sama, tanpa terlebih dahulu pulang ke negeri asal.

Haji qiran, mengandung arti menggabungkan, menyatukan atau menyekaliguskan. Yang dimaksud disini adalah menyatukan atau menyekaliguskan berihram untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Haji qiran dilakukan dengan tetap berpakaian ihram sejak miqat makani dan melaksanakan semua rukun dan wajib haji sampai selesai, meskipun mungkin akan memakan waktu lama. Menurut Abu Hanifah, melaksanakan haji qiran, berarti melakukan dua thawaf dan dua sa'i.

Umrah dinamakan juga haji kecil, ibadahnya terdiri dari thawaf dan sa’i. Thawaf yaitu mengelilingi Ka’bah dengan pola berlawanan dengan arah jarum jam sambil berdoa dan menyentuh hajar aswad atau sekedar beristilam (memberi salam dengan melambaikan tangan dari kejauhan. Ritual sa'i, yakni berlari antara bukit Shafa dan Marwah (daerah agak tinggi di sekitar Ka'bah yang sudah menjadi satu kesatuan Masjid Al Haram, Makkah), juga didasarkan untuk mengenang ritual istri kedua nabi Ibrahim ketika mencari susu untuk anaknya nabi Ismail.

Tahalul

Setelah melaksanakan umrah kami pergi ke sumur zamzam untu meminum airnya sambil berdoa agar diberi kesehatan dan keluasan ilmu. Ritual terakhir adalah tahalul yaitu memotong rambut, beberapa jamaah termasuk aku, Ikhwan, Iswara, Pupu Danglar menggunduli kepala kami. Umrah pun usai, kami boleh melepas ihram.

Selasa, 27 September 2011

CITY TOUR



Masjid Quba










Rombongan haji dari KBIH Al Falah pun mengadakan city tour antara lain ke Masjid Kuba, masjid Kiblatain dan Gunung Uhud. Sambil mengunjungi tempat-tempat itu kamipun singgah di kebuh-kebun kurma. Para pedagang menjual kurma segar berwarna hijau kekuningan, yang terasa segar di tengah padang pasir yang gersang.

Masjid Pertama di Dunia
Masjid Quba ( مسجد قباء) adalah masjid tertua di dunia. Batu pertama diletakkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika berhijrah dari Mekah ke Madinah, dan kemudian diselesaikan pembangunannya oleh para sahabat. Nabi menghabiskan waktu 20 malam di masjid ini melaksanakan shalat qashar sambil menunggu Ali RA yang rumahnya terletak di belakang masjid ini. Melaksanakan shalat dua rakaat di masjid Quba sama dengan melaksanakan Umrah.

Nabi Muhammad datang ke masjid Quba berjalan kaki atau mengendari onta setiap hari Sabtu dan melaksanakan shalat sunat dua rakaat. Beliau menyuruh umatnya melaksanakan hal yang sama dan bersabda “ barangsiapa berwudhu di rumah dan pergi kemudian melaksanakan shalat di Masjid Quba, dia akan memperoleh pahala seperti melaksanakan ibadah Umrah. (hadits riwayat Ahmad ibn Hanbal, Al-Nasa'i, Ibn Majah dan Hakim al-Nishaburi)

Kamipun melaksanakan shalat sunat, berzikir dan menerawang ke lima belas abad yang silam ketika Rasulullah SAW berhijrah dari Mekah ke Madinah di bawah pengejaran tentara Quraisy. Shalawat serta salam kami sampaikan bagimu ya Nabi…

Masjid al-Qiblatain














Masjid al-Qiblatain (المسجد القبلتین) (Masjid dua Kiblat) adalah sebuah masjid di Madinah. Dinamakan Qiblatain karena ketika nabi Muhammad SAW mengimami shalat mendapat perintah dari Allah SWT untuk mengubah arah shalat (qiblat) dari Yerusalem ke Mekah. Sehingga keunikan masjid ini adalah adanya dua mihrab. Setelah direnovasi kiblat yang ke Yerusalem dihilangkan. Masjid Qiblatain adalah satu dari tiga masjid awal dalam sejarah Islam bersama dengan masjid Quba dan Masjid Nabawi.
Masjid ini berlokasi di barat daya kota Madinah, tepatnya di jalan Khalid bin Walid. Masjid ini pertama kali dipugar oleh Kalifah Umar bin Khattab. Pada kekuasaan kekalifahan Ottoman masjid ini diperbaiki oleh Sultan Sulaiman.

The name of the mosque goes back to the beginning of Islam when the companions of Muhammad named it after an event that took place. Muhammad was leading the prayer when he received a revelation from Allah instructing him to take the Kaaba as the Qiblah. According to traditional accounts, Muhammad, who had been facing Jerusalem during the prayer, upon receiving this revelation, immediately turned around to face Mecca, and those praying behind him also did so. After this, the mosque in which this incident occurred came to be known as Masjid al-Qiblatain (i.e. 'Mosque of the Two Qiblas'). Many pilgrims who go to Mecca for hajj often visit Medina where some end up visiting the notable Qiblatain because of its historic significance. (Wikipedia).

Gunung Uhud

Uhud adalah salah satu tempat pertempuran antara kaum muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah SAW melawan kaum kafir Quraisy. Dalam pertempuran itu kaum muslimin awalnya memperoleh kemenangan tapi kemudian mengalami kekalahan karena tidak menjalankan disiplin yang telah ditetapkan hanya karena tergiur oleh pampas an perang. Banyak prajurit kemudian gugur di gunung itu. Ketempat itulah kami datang.

Gunung Uhud mencintai Rasulullah SAW dan begitu juga sebaliknya. Dari Anas bin Malik r.a, Rasulullah bersabda :
"Sesungguhnya Uhud adalah satu gunung yang mencintai kami dan kami juga mencintainya.""
(Disetujui oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Gunung Uhud berguncang ketika Rasulullah SAW beserta para sahabat beliau ketika berdiri di atasnya
Dari Anas bin Malik r.a, Rasulullah mendaki gunung Uhud bersama dengan Abu Bakar r.a, Umar r.a dan Ustman r.a. Ketika itu gunung Uhud berguncang. Kemudian Rasulullah SAW menghentakkan kakinya dan bersabda :
"Diamlah kamu wahai Uhud, karena sesungguhnya berada di atas kamu adalah seorang Nabi, seorang Siddiq dan dua orang syahid"
(Diriwayatkan oleh Bukhari)

Senin, 26 September 2011

KOTA MADINAH

Masjid Nabawi














Di Madinah pusat aktivitas kami tentu saja ada di Masjid Nabawi. Masjid ini jaraknya hanya dua blok dari hotel tempat kami menginap. Biasanya menjelang subuh kami sudah berangkat ke masjid melewati suhu dingin dan angin yang menampar pipi. Kami menyelimuti tubuh dengan pelbagai pakaian tebal melewati pertokoan yang lampu-lampunya menerangi kegelapan malam. kadang ada satu dua pengemis mencegat kami di tengah jalan, rasanya seperti ujian yang datang dari Allah mengenai seberapa besar keikhlasan kami dalam berderma. Seorang kawanku bukannya dimintai malah diberi oleh pengemis yant tiba-tiba muncul dari balik kegelapan malam.

Ketika kami datang di masjid nabawi adzan berkumandang. Kami bergerombol di didepan pintu gerbang tinggi dari besi yang masih terkunci. Ketika gerbang dibuka kami berduyun-duyun masuk ke halaman masjid yang sangat luas. Yang sudah berwudhu langsung memasuki pintu gerbang masjid berukuran raksasa yang terbuat dari kayu berlapis emas pada engsel-engselnya, sedangkan yang belum berwudhu bisa turun ke basement di pelataran masjid. Basement sangat luas dan bertingkat-tingkat menggunakan escalator. Tempat wudlhu maupun toilet sangat nyaman dengan teknologi Jerman. Air hangat tersedia dalam jumlah tak terbatas, sehingga kita bisa mandi atau berwudhu sepuas hati.

Masjid nawabi memang sungguh megah mewah dan indah. Tiang-tiangnya berlapiskan ornament emas. Atap-atapnya bisa terbuka secara otomatis, sehingga langit malam bertaburan cahaya bulan dan bintang kami bisa menikmati sepuas hati. Jika panas terik datang, atap-atap itu menutup, demikian juga payung-payung raksasa yang ada di dalam masjid. Tapi keistimewaannya bukan hanya terletak pada keindahan dan kecanggihan arsitekturnya melainkan karena pelbagai faktor yang menyertai masjid tersebut.

Keistimewaan masjid terletak pada keutamaan masjid Nabawi sebagai berikut :
 Dianjurkan datang ke masjid Nabawi terlebih dahulu bagi musafir yang pulang bepergian
 Masjidnya diasaskan atas dasar taqwa
 Pahala salat dilipatgandakan
 Pahala bagi orang yang salat 40 raka'at di masjid Nabawi
 Tidak boleh meninggikan suara
 Keutamaan siapapun yang datang ke masjid Nabawi baik sebagai pengajar maupun pelajar
 Raudhah termasuk tempat yang mulia
 Mimbar berada di atas telaga Rasulullah SAW.
 Mimbar tempat Rasulullah SAW berkhutbah berada di bawah pintu surga
 Tangisan dan rajukan batang tamar
 Tiang-tiang mimbar masjid menjadi tiang-tiang di dalam surga
 Hukuman bagi siapa saja yang bersumpah palsu di mimbar


Makam Baqi

Sesusai shalat subuh biasanya kami menyempatkan diri berjalan-jalan mengelilingi halaman masjid yang sangat luas, dan di antaranya mengunjungi makam Baqi.

Area pemakaman Al-Baqi' adalah suatu area pemakaman para sahabat Nabi, Tabi'in, Tabi'ut tabi'in, dan para ulama serta orang saleh sesudahnya. Sering Nabi mengunjunginya pada waktu malam dan berdoa dan memohon ampunan untuk mereka yang dikebumikan di pemakaman ini

 Di antara doa beliau yang diajarkan kepada kita untuk Ahli al-Baqi' :
"Kesejahteraan atas kamu wahai penghuni-penghuni Makam dari kalangan mukminin dan muslimin. Allah merahmati mereka yang terdahulu dan kemudian dari kalangan kami dan sesungguhnya kami dengan izin Allah akan mengikuti kamu"
"Kesejahteraan atas kamu tempat tinggal orang-orang yang beriman, dan telah datang pada kamu barang apa yang telah dijanjikan untukmu, kamu ditangguhkan hingga hari esok dan dengan izin Allah kami akan mengikuti kamu, wahai Allah, ampunilah penghuni-penghuni Baqi' Al-Gharqod"
 Jenazah yang dimakamkan di Baqi' akan dibangkitkan pertama di Padang Mahsyar
 70.000 dari penghuni Baqi' dibangkitkan dan masuk Surga tanpa hisab

Kota Madinah
المدينة المنورة

Madinah atau Madinah Al Munawwarah: مدينة رسول الله atau المدينه, (juga Madinat Rasul Allah, Madīnah an-Nabī) adalah kota utama di Arab Saudi. Merupakan kota yang ramai diziarahi atau dikunjungi oleh kaum Muslimin. Di sana terdapat Masjid Nabawi yang memiliki pahala dan keutamaan bagi kaum Muslimin. Dewasa ini, penduduknya sekitar 600.000 jiwa. Bagi umat Muslim kota ini dianggap sebagai kota suci kedua. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, kota ini menjadi pusat dakwah, pengajaran dan pemerintahan Islam. Dari kota ini Islam menyebar ke seluruh jazirah Arabia lalu ke seluruh dunia.
Wikipedia menyebutkan bahwa : Pada masa sebelum Islam berkembang, kota Madinah bernama Yatsrib, dikenal sebagai pusat perdagangan. Kemudian ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dariMekkah, kota ini diganti namanya menjadi Madinah sebagai pusat perkembangan Islam sampai beliau wafat dan dimakamkan di sana. Selanjutnya kota ini menjadi pusat kekhalifahan sebagai penerus Nabi Muhammad. Terdapat tiga khalifah yang memerintah dari kota ini yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Pada masa Ali bin Abi Thalib pemerintahan dipindahkan ke Kufah di Irak karena terjadi gejolak politik akibat terbunuhnya khalifah Utsman oleh kaum pemberontak. Selanjutnya ketika kekuasaan beralih kepada bani Umayyah, maka pemerintahan dipindahkan ke Damaskus dan ketika pemerintahan berpindah kepada bani Abassiyah, pemerintahan dipindahkan ke kota Baghdad. Pada masa Nabi Muhammad SAW, penduduk kota Madinah adalah orang yang beragama Islam dan orang Yahudi yang dilindungi keberadaannya. Namun karena pengkhianatan yang dilakukan terhadap penduduk Madinah ketika perang Ahzab, maka kaum Yahudi diusir ke luar Madinah.Kini Madinah bersama kota suci Mekkah berada di bawah pelayanan pemerintah kerajaan Arab Saudi.

Secara geografis, kota ini datar yang dikelilingi gunung dan bukit bukit serta beriklim gurun. Suhu tertinggi berkisar antara 30 °C sampai 45 °C pada waktu musim panas, dan suhu rata-rata berkisar antara 10 °C sampai 25 °C.

Dari sektor ekonomi, terdapat sektor pertanian dan perkebunan terlebih perkebunan kurma yang sudah dikenal sejak masa lampau, peternakan selayaknya penduduk Arab serta perdagangan ditambah dengan sektor jasa terutama jasa pelayanan para peziarah di antaranya adalah usaha perhotelan dan penginapan.

Selain dikenal sebagai kota pusat perkembangan Islam. Madinah juga merupakan pusat dari pendidikan Islam sejak masa Nabi Muhammad SAW. Juga banyak ulama-ulama dan Cendekiawan Islam yang muncul dari Madinah di antaranya adalah Imam Malik. Saat ini di Madinah terdapat berbagai Jami'ah (Universitas) dan perguruan perguruan tinggi Islam lainnya.

Sebagai salah satu kota suci umat Islam, Madinah memiliki sejumlah keutamaan, yaitu :
 Tempat yang diprioritaskan penyebutan namanya dalam Al-qur'an.
 Yang menjadikan Madinah sebagai tanah haram (suci) adalah Allah SWT.
 Pengharaman pemburuan dan buruan di Madinah.
 Larangan memotong pohon-pohon, mencabutnya dan memungut barang yang tercecer.
 Pengharaman mengangkat senjata dan berperang di dalamnya.
 Mengharamkan bid'ah
 Allah SWT memilih Madinah sebagai tempat hijrah Rasulullah SAW.
 Allah SWT memilih Madinah sebagai tempat disemayamkannya jasad Rasulullah SAW.
 Madinah dibersihkan dari Syirik.
 Iman akan kembali ke Madinah.
 Keberkahan di Madinah dilipatgandakan.
 Dajjal tidak boleh memasuki Madinah.
 Madinah tidak akan dimasuki oleh rasa gentar terhadap Dajjal.
 Madinah tidak akan dimasuki oleh wabah Ta'un.
 Perpindahan penyakit dari Madinah ke Juhfah.
 Larangan membunuh ular sebelum diberi peringatan selama 3 hari karena para jin di sana banyak yang memeluk Islam dan mereka suka berubah bentuk menjadi binatang di antaranya ular.
 Anjuran untuk tinggal di Madinah.
 Anjuran agar meninggal di Madinah.
 Orang-orang kafir tidak boleh memasuki Madinah.
 Alim ulamanya lebih alim dari ulama selainnya.
 Tanahnya sebagai penyembuh (Syifa')
 Syafaat bagi siapa saja yang sabar atas cobaan di Madinah.
 Syetan putus asa untuk disembah di Madinah.
 Doa untuk Madinah sebagaimana doa Nabi Ibrahim untuk Mekkah.
 Para Malaikat menjaganya hingga Hari Kiamat.
 Madinah bermandikan cahaya di hari kedatangan Rasulullah SAW.
 Hukuman bagi orang yang mendzalimi penduduk Madinah.
 Beribadah di Masjid Nabawi dilipatgandakan pahalanya.

Rabu, 21 September 2011

Ke Tanah Suci










Jamaah Haji (Koleksi Topenmuseum, Belanda)






Keinginanku untuk melaksanakan ibadah haji sudah muncul sejak lama. Pada tahun 1995 aku pernah ditawari mengikuti ibadah haji dari instansi tempatku berkhidmat pada masyarakat. Namun karena ketika itu ada teman yang lebih senior ingin pula berangkat maka aku pun mengalah. Hal ini terulang untuk tahun berikutnya. Maka akupun melupakan keinginan itu karena situasi di era menjelang reformasi memaksaku berkonsentrasi pada urusan-urusan politik. Allah telah memanggilku tapi belum mengizinkanku menginjakkan kaki di tanah suci.

Jalan menuju tanah suci terbuka kembali di tahun 2002. Ketika itu panitia musyawarah DPRD Provinsi Jawa Barat memutuskan memberi izin bagi beberapa anggota DPRD untuk melaksanakan ibadah haji. Kuota untuk setiap fraksi berbeda-beda berkorelasi positif dengan jumlah anggotanya. Fraksi PDI Perjuangan sebagai fraksi terbesar memperoleh kuota lima orang, yaitu Rahadi, Sutardi, Tarmudji, Iwan Fauzi, Pupu Danglar dan Dedi Hermansyah. Namun menjelang batas akhir pendaftaran ke Kandepag, Dedi Hermansyah mengundurkan diri karena tidak punya biaya untuk mengajak istrinya. Rudiharsa sebagai ketua fraksi menawarkan padaku untuk mengganti posisi Dedi tersebut, dan aku spontan menerimanya karena ketika itu aku punya uang di tabungan sejumlah Rp 50 juta, cukup untuk biaya ONH berdua dengan istriku. Maka akupun memperoleh izin dari lembaga untuk meninggalkan tugas selama kurang lebih satu setengah bulan.

Langkah pertama adalah mendaftarkan diri yang berjalan lancar karena dibantu Erna staf bagian umum. Proses ini antara lain adalah membayar ONH, menyiapkan paspor, cek kesehatan dan vaksinasi meningitis ke Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung serta mendaftarkan diri ke KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji).
Langkah kedua adalah mengikuti manasik haji bersama seluruh anggota dari fraksi-fraksi lain. Yang masih kuingat adalah Iswara, Tatang(FPG), Rahmat (FPPP), Dardiri (FPAN), …. (FAPBRI). Latihan manasik haji dilaksanakan di pondok pesantren Al Falah, Nagrek. Pembimbingnya KH Ahmad Syahid yang merupakan anggota DPRD dari FPG. Latihan manasik setiap hari sabtu dan berlangsung kurang lebih satu bulan bersama-sama jamaah haji lainnya yang berasal dari Bandung dan Garut. Dalam latihan itu kami melakukan simulasi manasik haji seperti thowaf, sai, dan melempar jumrah sambil membaca doa-doa yang bukunya disiapkan Depag dan kami gantungkan di leher dengan seutas tali terbuat dari benang yang dipintal.
Langkah ketiga adalah menyiapkan keberangkatan. Pimpinan DPRD membuat sebuah acara pelepasan di lobby gedung DPRD dengan mengundang seratus anggota DPRD. Seorang ustadz memberikan tausiyah (ceramah) berkenaan dengan hikmah ibadah haji kemudian kami para jamaah haji berjajar di depan untuk memperoleh salam, doa restu dan ciuman dari para anggota Dewan. Usai acara pelepasan di Dewan, kami bersiap-siap untuk diberangkatkan dari ponpes Al Falah. Kami masing-masing memperoleh pelbagai macam perlengkapan seperti koper, tas tangan, kain ihram, jaket, paspor, gelang pengenal, jas, dll.
Sebelum hari H, kami mengadakan pengajian yang diikuti ibu-ibu majlis ta’lim masjid An Nuur Rancaekek di mana kami berdomisili sambil memohon maaf dan memohon doa restu dari para tentangga.
Godaan muncul ketika kami hendak meninggalkan rumah menuju ponpes Al Falah. Anak kami yang bungsu, Praja tiba-tiba jatuh sakit dan badannya panas. Kami menjadi gamang dan nyaris membatalkan kepergian istriku. Dengan memohon kemurahan Allah SWT dan meminta dukungan dari sanak keluarga, kami pun berketetapan hati berangkat berdua. Alhamdulillah Praja mau ditinggalkan.

Dari rumah kami menuju ponpes Al Falah. Keluarga dan tetangga seperti pak Nana, pak Said, pak Mulyono dan pak Indri ikut mengantar. Di Al Falah dilakukan zikir dan doa bersama. Kami para jamaah haji berangkat ke Jakarta dengan menggunakan bus malam itu. Keluarga pun kami tinggalkan dengan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Saudara-saudara dan para tetangga berbaik hati menjaga ketiga anakku.
Malam itu juga kami tiba di asrama haji Jawa Barat di Bekasi untuk bermalam. Di sana dilakukan pula pelepasan oleh Gubernur Jawa Barat, Nuriana, yang didampingi para bupati dan walikota. Yani, adik perempuanku sempat berkunjung ke sana sebelum kami dan rombongan berangkat ke Asrama Haji Pondok Gede di Jakarta. Dari sana kami ke bandara Halim Perdanakusumah untuk selanjutnya diterbangkan ke Saudi Arabia dengan menggunakan Saudi Arabian Airlines.

Kami lepas landas malam hari. Penerbangan pun dimulai. Kami bersyukur memperoleh kenyamanan dan pelayanan yang baik selama dalam perjalanan. Pesawat yang kami tumpangi cukup mewah dan berteknologi tinggi. Kami bisa mengetahui posisi kami selama perjalanan dan bisa melihat pemandangan lautan maupun daratan yang ada di bawah kami. Pramugari yang melayani kami adalah wanita-wanita cantik Indonesia. Makanan dan minuman yang disajikan membuat kami merasa seperti melakukan liburan saja layaknya. Ibadah di era modern ini memang sangat nyaman, dengan tingkat kesulitan yang nyaris nol.

Menjelang pagi hari pesawat sudah memasuki jazirah Arabia seperti nampak pada layar monitor. Sepanjang perjalanan hanya padang pasir gersang berwarna coklat tua, hitam dan kemerahan. Subhanallah. Tak terbayangkan bagaimana manusia bisa hidup di tanah gersang dang tandus itu. Tapi maha besar Allah, dari jazirah kering itu lahir para nabi dan rasul yang membuat sejarah dan peradaban.

Sekitar jam tujuh atau delapan pagi kami mendarat di bandara King Abdul Azis (?) di Madinah yang terletak di tengah-tengah gurun pasir. Udara panas pun menyergap, menggantikan udara sejuk ber AC di dalam pesawat. Perjuangan pun dimulai. Kamipun berbaris mengantri di depan petugas imigrasi dan custom (bea cukai). Paspor dan barang bawaan diperiksa. Metal detector pun harus kami lewati. Sampai di halaman parkir hiruk pikuk pun mulai. Kami masuk ke dalam bus-bus tua yang telah disediakan. Koper-koper kami ditumpuk di atas atap bus. Perjalanan ke kota Madinatul Nabi dimulai dengan tujuan pertama adalah hotel tempat menginap selama beberapa hari. Menjelang siang kami tiba di tempat penginapan. Aku memperoleh satu kamar bersama lima orang jamaah lainnya. Ada fasilitas ac, teve, bath up dengan pemanas air, kulkas serta kompor listrik.

Setelah beristirahat sebentar dan membersihkan diri kami langsung ke Masjid Nabawi . ternyata Hotel tempat kami menginap hanya sepelemparan batu jaraknya dari masjid nabawi jadi kami cukup berjalan kaki saja untuk mencapainya. Alhamdulillah kami telah sampai di masjid nabi.

Madinah berudara dingin dan kering ketika kami tiba di sana. Di malam hari udara membuat kami menggigil. Di siang haripun demikian. Kendati matahari bersinar terik, udara tetap dingin, sehingga banyak jamaah shalat di pelataran masjid sambil menghangatkan diri. Kombinasi udara dingin dan tiupan angin yang keras membuat kulit mongering dan bibir pecah-pecah. Kami harus menggunakan lotion untuk kulit dan lip glos untuk bibir. Di luar masalah udara, Madinah adalah kota yang menyenangkan.
Sepulang dari shalat Zuhur biasanya kami berjalan-jalan ke pusat kota yang dipenuhi jamaah dari seluruh dunia, yang menonjol adalah jamaah dari Turki karena menggunakan seragam warna kakhi dan selalu berjalan dalam rombongan besar. Kulit mereka bersih, campuran asia dan eropa, dengan tinggi badan s eperti layaknya orang Indonesia.

Madinah atau Madinah Al Munawwarah: مدينة رسول الله atau المدينه, (juga Madinat Rasul Allah, Madīnah an-Nabī) adalah kota utama di Arab Saudi. Merupakan kota yang ramai diziarahi atau dikunjungi oleh kaum Muslimin. Di sana terdapat Masjid Nabawi yang memiliki pahala dan keutamaan bagi kaum Muslimin. Dewasa ini, penduduknya sekitar 600.000 jiwa. Bagi umat Muslim kota ini dianggap sebagai kota suci kedua. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, kota ini menjadi pusat dakwah, pengajaran dan pemerintahan Islam. Dari kota ini Islam menyebar ke seluruh jazirah Arabia lalu ke seluruh dunia.

Wikipedia menyebutkan bahwa : Pada masa sebelum Islam berkembang, kota Madinah bernama Yatsrib, dikenal sebagai pusat perdagangan. Kemudian ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dariMekkah, kota ini diganti namanya menjadi Madinah sebagai pusat perkembangan Islam sampai beliau wafat dan dimakamkan di sana. Selanjutnya kota ini menjadi pusat kekhalifahan sebagai penerus Nabi Muhammad. Terdapat tiga khalifah yang memerintah dari kota ini yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Pada masa Ali bin Abi Thalib pemerintahan dipindahkan ke Kufah di Irak karena terjadi gejolak politik akibat terbunuhnya khalifah Utsman oleh kaum pemberontak. Selanjutnya ketika kekuasaan beralih kepada bani Umayyah, maka pemerintahan dipindahkan ke Damaskus dan ketika pemerintahan berpindah kepada bani Abassiyah, pemerintahan dipindahkan ke kota Baghdad. Pada masa Nabi Muhammad SAW, penduduk kota Madinah adalah orang yang beragama Islam dan orang Yahudi yang dilindungi keberadaannya. Namun karena pengkhianatan yang dilakukan terhadap penduduk Madinah ketika perang Ahzab, maka kaum Yahudi diusir ke luar Madinah.Kini Madinah bersama kota suci Mekkah berada di bawah pelayanan pemerintah kerajaan Arab Saudi.

Kami memperoleh living cost yang diambil dari ONH yang kami bayarkan ke pemerintah selaku penyelenggara haji. Living cost tersebut cukup untuk membeli makan minum serta perlengakapan mandi seperti sabun, pasta gigi dan samphoo. Karena itu aku dan istriku biasanya makan berpindah-pindah dari satu restoran ke restoran yang lain dari satu menu ke menu yang lain. Ini adalah seperti wisata kuliner jadinya. Kami makan makanan Pakistan, Arab, Turki dll yang intinya terdiri dari roti atau nasi serta daging entah itu daging ayam kambing atau sapi. Meski sedikit, Adapula restoran Indonesia dan ada pula yang menyediakan bakso.

Senin, 19 September 2011

Inggit Garnasih













Sebuah pesan pendek datang sebagai undangan untuk menghadiri syukuran pembuatan film tentang kisah hidup Ibu Inggit Garnasih bertempat di Gedung Indonesia Menggugat. Ini adalah sebuah upaya untuk menggalang dukungan bagi istri pertama presiden pertama Republik Indonesia yang lebih dikenal dengan nama Ibu Inggit yang diusulkan masyarakat Jawa Barat menjadi pahlawan nasional. Sebelumnya sebuah seminar nasional menyimpulkan bahwa Ibu Inggit besar jasanya bagi Negara ini mengingat pengabdiannya mendampingi Bung Karno dalam perjuangan merebut kemerdekaan sehingga layak dijadikan sebagai pahlawan nasional.

Jauh-jauh hari sebelumnya Ramadhan K.H. membuat sebuah autobiografi Ibu Inggit berjudul Kuantar ke Gerbang Kisah Cinta Inggit dengan Sukarno, yang ditulis dalam bentuk roman. Poeradisastra dalam sekapur sirih roman tersebut menulis amat provokatif : “separuh daripada semua prestasi Sukarno dapat didepositokan atas rekening Inggit Garnasih dalam ‘Bank Jasa Nasional Indonesia’. Pernyataan Poeradisastra tersebut mungkin ada benarnya karena Ibu Inggit berperan mendampingi Bung Karno sejak masih berstatus mahasiswa di THS (sekarang menjadi ITB), hingga dipenjara di Sukamiskin dan Banceuy yang berlanjut ke pembuangan di Ende dan Bengkulu. Ketika saat Indonesia merdeka tiba dan Bung Karno menjadi presiden pertama, Ibu Inggit tidak lagi berada di samping orang yang dicintai dan dikaguminya. Perempuan perkasa itu memilih berpisah karena tidak bisa menerima kenyataan cintanya harus dibagi dengan Fatmawati, teman sekolah anak angkatnya.

Ibu Inggit adalah manusia yang mengesampingkan kepentingan pribadinya untuk kepentingan bersama yang lebih besar. Ia tidak ditakdirkan untuk memasuki Istana Merdeka bersama Bung Karno. Ia membela Bung Karno yang dituduh menulis surat bernada minta ampun pada Jendral Verheyen dan mengatakan “itu mah pamali, itu mah mustahil”. Ia memaafkan Fatmawati yang dianggapnya sebagai anak. Ia setia menjalani hari tuanya dengan berjualan bedak buatan sendiri. Ia memaafkan Bung Karno yang ketika masih sebagai mahasiswa disapanya dengan panggilan Kusno.

pada tahun 1997 aku berziarah ke makam bu Inggit di Babakan Ciparay. Pada saat itu aku mengajak teman-teman se partai napak tilas perjuangan Bung Karno. Dimulai dari rumah tinggal bu Inggit di jalan Ciateul yang kemudian berganti nama menjadi jalan Inggit Garnasih, kemudian ke makam ibu Inggit. Ketika itu makam bu Inggit terletak dalam sebuah bangunan sederhana dari kayu beratap genting. Kami berdoa sambil mengenangkan perjuangan Inggit dalam megupayakan kemerdekaan bagi negri. Seorang pengurus partai mengajak kami ke rumah cucu kemenakan Inggit, bernama Tito. Tito adalah anak Ratna Juami yang merupakan anak angkat Bung Karno. Dalam perkawinannya dengan Bung Karno, Inggit tidak dikaruniai anak sehingga ia mengangkat Ratna Juami sebagai anak angkatnya. Ratna adalah kemenakan Inggit. Ratna dan ibu kandung Inggit ikut dalam pembuangan ke Ende bersama Bung Karno. Ibu kandung Inggit (mertua Bung Karno) wafat dalam pembuangan di Ende dan dimakamkan di sana. Ratna Juami kemudian menikah dengan Asmara Hadi, wartawan di era revolusi sekaligus pengikut Bung Karno.

Di rumah Tito banyak teman-teman perjuangan Ratna Juami berkumpul. Yang kukenal adalah Ny Sidik Danubrata. Anak perempuannya ,Levana menikah dengan Bayu, anak Sukarno dari Hartini. Bayu meninggal ketika sedang melanjutkan studi di AS. Levana kemudian menyepi ke Bali. Tito dan Kemal Asmarahadi, dua anak Ratna Juami kemudian mencoba menbangun kembali Partindo (Partai Indonesia) dengan ideology marhaenisme namun tidak mampu mengikuti Pemilu.

Masyarakat Jawa Barat mencoba mengangkat Ibu Inggit agar dapat diterima sebagai pahlawan nasional. Endang Karman salah seorang yang gigih memperjuangkan hal itu. Akupun pernah dilibatkannya menjadi panitia seminar pengusulan Inggit sebagai pahlawan nasional dari Jawa Barat itu. Nina Lubis adalah salah seorang sejarahwan yang mendukung usulan itu, tetapi sayang usulan itu kandas di tingkat nasional.
Belakangan Endang Karman, Sucipto, Permadi, Peringeten, Stanis, Tri Wartono membentuk panitia pemugaran makam Inggit Garnasih. Menurut informasi dari Stanis, pemugaran itu telah usai dilaksanakan dengan biaya gotong royong dari pelbagai pihak.

Indonesia harus memberikan penghargaan yang sepantasnya. Sebuah gelar bernama pahlawan nasional bahkan belum mampu membayar dedikasi dan pengorganan yang diberikan Ibu Inggit bagi Bung Karno dan republik ini. Dedikasi dan pengorbanan Ibu Inggit merupakan nilai-nilai kepahlawanan yang semakin terasa bermakna di tengah kekacauan nilai hidup berbangsa dewasa ini di tengah pusaran arus globalisasi.