Rabu, 30 Maret 2011

MELAYARKAN BAHTERA 2

Bali


Tanah Lot







SMP Santa Angela membuat acara berwisata ke Pulau Bali bagi para guru. Aku pun pergi ke sana bersama Isworo – tidak bersama rombongan-- dengan menggunakan kereta api ekonomi. Seingatku tiket kereta api terusan Bandung Banyuwangi Denpasar waktu itu hanya Rp 22 ribu saja. Selama di Bali kami menginap di Balindo Cottage di Jalan Tuban, beberapa meter dari pantai Kuta. Inilah kesempatan kami pergi ke Bali yang menjadi impian sejak lama. Kami berkeliling ke beberapa tempat dengan menggunakan angkutan umum, terutama ke pantai Sanur, pantai Kuta, pasar cendera mata Sukowati dan Tanah Lot. Karena kami menggunakan kereta api ekonomi pergi pulang, maka kami dapat menghemat ongkos perjalanan. Hasil dari efisiensi kubelikan tape recorder atau televisi hitam putih (aku agak lupa). Itulah tape recorder atau televisi hitam putih milik kami yang pertama, yang kubeli di Tegallega. Itu sebagai permintaan maafku pada keluarga karena tidak mengajak mereka pergi bersamaku ke Bali. Tape recorder itu sudah tak bagus lagi tapi masih berfungsi dan dapat menangkap frekuensi radio. Benda kenangan itu kusimpan di loteng rumah bersama begitu banyak berkas-berkas pelbagai tulisan dan benda-benda lain yang tak tega aku membuangnya.

Sejak saat itu entah sudah berapa kali aku pergi ke pulau Dewata entah karena alasan dinas, seminar atau pun kongres. Setidaknya sudah tujuh kali atau lebih, sehingga aku hafal seluk beluk pulau itu bahkan jalan-jalan sempit di Kuta. Harus kuakui pulau itu selalu menarik untuk dikunjungi. Anugrah Allah SWT pada bangsa Indonesia yang terpermanai nilainya.

Titik Menikah

Setelah selesai bersekolah di tingkat SLTA semua adikku menyusul ke Bandung. Sementara Wiwin sudah lulus dari SPG ketika itu dan bekerja di toko buku di Bogor. Titik mencoba mencari sekolah dengan ikatan dinas tapi tak berhasil dan memutuskan bekerja di pabrik tekstil, demikian juga Retno dan Yuni. Aku tidak punya kemampuan untuk menyekolahkan mereka ke jenjang pendidikan tinggi.

Pada saat-saat itu Yus (nama lengkapnya Ahmad Firdaus) anak tetangga di Babakan Tarogong seringkali bermain di teras rumahku bersama kedua anakku : Dea dan Dimas. Ternyata dia juga dekat dengan adik-adikku terutama Wiwin. Yang mengejutkan kami ternyata dia suatu saat melamar Titik. Ibu menyerahkannya padaku, aku memutuskan untuk bertunangan saja dulu sambil bertanya pada bapak yang ketika itu tinggal di Jakarta.

Pertunangan Titik dan Yus dilakukan di Depok, tempat om Slamet (paman angkat dari Yanik), dengan harapan bapak bisa hadir. Ternyata sampai acara berakhir bapak belum datang, lamaran secara resmi sudah kami terima dan pernikahan tinggal menunggu waktu.

Untuk pernikahan adikku itu, istriku memutuskan dilakukan di rumahnya di Banjaran, karena di rumah kontrakan kami selain sempit juga sulit mencari tenaga bantuan ini itu. Maka di Banjaranlah pernikahan itu dilangsungkan dengan cara sederhana namun hikmat. Istriku tetap menyiapkan resepsi kecil dengan mendekorasi rumah, mendandani pengantin dan menyediakan santapan istimewa. Hanya satu yang mengganjal di hati kami adalah bahwa pernikahan Titik itu melangkahi dua orang kakak perempuannya yang belum menikah : Retno dan Yuni. Itu yang menjadi beban bagi bapakku sebagai orang tua, tapi apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur. Semoga Allah meridhai pernikahan mereka. (Keluarga Ahmad Firdaus kini sudah dikarunai enam orang anak : empat perempuan dan dua laki-laki : Nisa, Lulu, Aisyah, …, Habib dan Adnan. Nisa sudah kuliah dan yang terkecil masih bersekolah di SD).

PNS

Saat tinggal di Babakan Tarogong itulah istriku mencoba berkarir menjadi Pegawai Negeri Sipil dan diterima menjadi bidan desa. Sebagai PNS Provinsi Jawa Barat ia diperbantukan di Kabupaten Cianjur dan ditempatkan di sebuah desa di Kecamatan Cidaun. Dengan demikian ia pun keluar dari RS Immanuel yang telah menjadi tempat sekolah maupun bekerja selama lebih 13 tahun.

Ketika tahu bahwa dia ditugaskan di daerah terpencil yang bernama Cidaun istriku menangis dan menjadi bimbang. Tapi aku memberi semangat agar dia menjalani tugasnya itu karena sudah menjadi pilihannya. Maka aku dan bapak (mertua) mengantarnya ke sana. Tempat itu memang begitu jauhnya sehingga dari kota Cianjur kami harus mengendarai minibus selama kurang lebih tujuh jam sampai di Sindang Barang. Dari Sindang Barang kami menggunakan ojeg sejauh kurang lebih 20 km dengan menyebrangi tujuh sungai tanpa jembatan sehingga sepeda motor harus dinaikkan rakit atau perahu.

Kira-kira pukul dua siang kami tiba di kota kecamatan Cidaun. Pintu masuk kota kecamatan itu adalah sebuah jembatan gantung berwarna kuning sepanjang 50 m. ketika itu belum ada sambungan listrik atupun telpon di sana sehingga kota itu benar-benar terisolasi dari dunia luar. Bapak kembali ke Bandung petang itu juga. Aku menginap di rumah dinas dokter. Esok paginya aku berjalan-jalan ke pelabuhan Jayanti, dan siangnya aku pulang. Sejak saat itu istriku pulang balik ke Cidaun sendirian karena aku harus tetap bekerja di Bandung. Ia tinggal di rumah pak Lurah untuk sementara waktu.

Beli Rumah

Monumen Peringatan Bandung Lautan Api di Tegallega



















Suatu petang aku mengajak Dea berjalan-jalan ke Pameran Hari Kesaktian Pancasila di lapangan Tegallega. Tatkala melihat-lihat stand dari Perum Perumnas ada promosi penjualan rumah dengan menggunakan kredit dari BTN di Rancaekek. Aku melihat denah lokasinya dan yang menarik perhatianku adalah perumahan itu menyatu dengan stasiun kereta api, sehingga untuk mencapai Bandung bisa ditempun dengan kereta api dengan waktu 30 menit. Akupun mencari tahu cara memperoleh rumah tersebut. Ternyata karena sedang promosi maka hanya dengan uang Rp 35 ribu kami dapat memesan rumah termasuk memilih lokasinya. Tanpa pikir panjang aku memesan sebuah rumah di Jalan Melati Nomor 54. Hatiku berbunga-bunga menerima kwitansi tanda jadi pembelian rumah (DP = down payment). Sisa uang muka sebesar Rp 750 ribu harus kusiapkan selama dua mingu ke depan. Akupun menyatakan siap meski aku tak tahu darimana mendapatkan uang sebesar itu.

Setengah tidak percaya aku pulang ke rumah dan kusampaikan pada istriku apa yang terjadi. Tentu saja istriku pun seperti bermimpi saat kuberitahu bahwa aku sudah membeli sebuah rumah. Harapan baru pun mekar. Rumah tangga kami nyaris sempurna karena sebentar lagi kami akan punya rumah sendiri, tidak mengontrak ke sana ke mari.

Bapak mertuaku meminjami kami uang Rp 750 ribu untuk uang muka rumah. Sisanya sekitar Rp 7 juta dibayar oleh BTN (Bank Tabungan Negara), dengan demikian aku memiliki pinjaman ke BTN dan harus kuangsur selama 10 tahun @ Rp 135.000 per bulan. Perjanjinan antara Perum Perumnas, aku dan BTN ditandatangani di depan Notaris. Sahlah sudah jual beli rumah antara Perum Perumnas dan aku. Kini aku mempunyai sebuah rumah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar