Jumat, 29 April 2011

WONOSOBO



Gunung Sumbing





SEINGATKU sudah tiga kali atau lebih aku ke kota Wonosobo. Kota di dataran tinggi yang berada di antara Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro ini merupakan kota yang berudara sejuk bahkan cenderung dingin. Kota yang bersih dengan alun-alun yang luas dan pasar yang ramai.



Gunung Sindoro








Pertama kali aku ke Wonosobo sekitar tahun 1979. Aku ke sana bersama Ribut teman sekelasku di SMEA PPS. Kami hiking dari Ngrambe (Ngawi) melalui Solo, Yogya dan Magelang, menginap di sebuah mesjid tua di Yogya lalu berjalan ke Sleman dan berziarah di makam dr Wahidin Sudirohusodo. Dari Sleman kami ke Magelang melalui kota kecil Muntilan yang ramai dan ramah. Magelang di pagi hari merupakan tempat yang nyaman untuk berjalan kaki. Gedung-gedung tua dengan pepohonan yang rindang sungguh pemandangan yang mengasyikkan untuk dinikmati. Dari Magelang kami melalui Secang, Parakan dan Temanggung yang berada di lereng pegunungan. Pohon tembakau seluas mata memandang. Kota begitu indah bersih sejuk dan nyaman. Gunung Sumbing dan Sindoro nampak biru dan megah. Subhanallah. Menjelang sore kami sampai di Wonosobo dan berkunjung ke rumah pakpuh Ariesman di daerah Sapen.Udara gunung menyergap kami. Air dari pegunungan yang begitu dingin mengalir deras dan menyegarkan. Mandi menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Inilah pertama kali kami merasakan mandi di Wonosobo. Begitu dinginnya ketika itu sehingga orang menjual minyak klentik (minyak yang dibuat dari santan kelapa) dengan cara memotong-motongnya karena minyak yang cair telah menjadi bekuan.

Keesokan harinya kami pergi ke dataran tinggi Dieng yang merupakan sebuah plateau. Dieng plateau merupakan perbatasan dari tiga kabupaten selain Wonosobo. Perjalanan menuju Dieng menanjak dengan kebun sayur di kiri kanan jalan. Para petani bekerja dengan masih menutupi bagian tubuhnya dengan sarung. Menjelang tengah hari kami pun sampai. Dataran tinggi Dieng seperti sebuah kerajaan tua di pegunungan. Candi-candi berserakan di antara padang rumput, kawah gunung berapai yang mengepulkan asap serta telaga warna. Warna air telaga ada yang merah, biru, hijau, putih susu dan coklat. Kami terperangkap dalam ketakjuban. Allah menciptakan alam demikian indah dan nenek moyang kami menghargainya dengan membuat cand-candi yang megah tempat mereka bersembahnyang memuja Nya.

Sekitar tahun 1993 aku berkunjung lagi ke Wonosobo. Kali ini dengan keluargaku (anak ketiga kami belum lahir) dan keluarga mas Tarno. Kami menggunakan mobil pinjaman dari kantor karena mendadak ada berita pakpuh Ariesman sakit. Bersama kami ikut pula mang Eman adik pakpuh Ariesman. Kami tiba di Wonosobo tengah malam dan langsung tidur. Itu adalah pertemuanku yang terakhir dengan pakpuh Ariesman, karena tidak lama kemudian pakpuh meninggal dunia.

Pakpuh Aries, demikian kami memanggilnya adalah orang Cipatik Soreang yang pada masa revolusi melakukan long march ke Yogya karena Jawa Barat harus dikosongkan dari tentara Siliwangi. Singkat cerita pakpuh sampai ke Ngawi dan bertemu dengan bupuh kemudian menikah dan pindah ke Wonosobo untuk berbisnis pencelupan. Ketika industry tekstil berkembang, pencelupan tidak diperlukan lagi maka usaha pakpuh pun gulung tikar. Di akhir hayatnya dia mengandalkan penghasilan dari uang pension sebagai Veteran Kemerdekaan RI. Aku cukup dekat dengannya dan dia pernah menyarankan aku menjadi seorang polisi, tapi ayahku tidak mendukung. Ayahku ingin aku menjadi seorang dosen atau mentri. Kini aku telah menjadi seorang dosen tapi belum menjadi seorang mentri karena belum ada seorang pun presiden yang menelponku ketika mereka menyusun cabinet.

Sekali lagi aku ke Wonosobo di sekitar tahun 1998. Ketika itu aku diajak pak Mul tetanggaku mengunjungi rumahnya di Banjarnegara. Ia menunjukkan kolam-kolam budi daya ikan air tawar yang dikelola keluarganya dan mengajakku berbisnis perikanan. Ketika itu aku mengajak pak Mul mengunjungi keluarga bupuh Ariesman di Wonosobo. Kamipun berkunjung ke keluarga mbak Ninik (anak bupuh) yang bersama suaminya (Wasis) membuat toko di depan terminal bus Sapen. Mas Wasis orang yang pandai berbisnis. Ada saja usahanya mulai dari berkebun kelapa sawit, jual beli kayu, membuat toko, mengontrakkan rumah dll. di samping bekerja sebagai pelaut internasional. Terminal Sapen kemudian ditutup karena pemda membuat terminal di tempat lain. Toko dan rumah mas Wasis pun dijual, mereka sekeluarga kemudian tinggal di Yogya. Sekarang di Wonosobo tinggal ada mas Har (anak tertua bupuh).

Pada kunjunganku ke Wonosobo itu aku menyempatkan diri menjumpai pakpuh Sukar (no). pakpuh Sukar adalah kakak bupuh Ariesman yang selama ini kutahu berprofesi sebagai supir bus antar kota. Belakangan ia tidak begitu kuat lagi sehingga beralih menjadi supir pribadi seseorang. Ia menikah di usia tua dan tidak memiliki anak kandung sampai sekarang. Belakangan ia tinggal di sebuah desa di Salam yang masuk wilayah Magelang.

Inilah selayang pandang tentang Wonosobo dan Dieng

Kabupaten Wonosobo
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas



Lambang Kabupaten Wonosobo




Kabupaten Wonosobo, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Wonosobo. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Magelang di timur, Kabupaten Purworejo di selatan, Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Banjarnegara di barat, serta Kabupaten Batang dan Kabupaten Kendal di utara.
Kabupaten Wonosobo berdiri 24 Juli 1825 sebagai kabupaten di bawah Kesultanan Yogyakarta seusai pertempuran dalam Perang Diponegoro. Kyai Moh. Ngampah, yang membantu Diponegoro, diangkat sebagai bupati pertama dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.) Setjonegoro.

Geografi

Sebagian besar wilayah Kabupaten Wonosobo adalah daerah pegunungan. Bagian timur (perbatasan dengan Kabupaten Temanggung) terdapat dua gunung berapi: Gunung Sindoro (3.136 meter) dan Gunung Sumbing (3.371 meter). Daerah utara merupakan bagian dari Dataran Tinggi Dieng, dengan puncaknya Gunung Prahu (2.565 meter). Di sebelah selatan, terdapat Waduk Wadaslintang.



Peta Wonosobo






Ibukota Kabupaten Wonosobo berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten, yang merupakan daerah hulu Kali Serayu. Wonosobo dilintasi jalan provinsi yang menghubungkan Semarang-

Pembagian administratif
Kabupaten Wonosobo terdiri atas 15 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Wonosobo.

Etimologi

Kata Wonosobo berasal dari bahasa Jawa: Wanasaba, yang secara harafiah berarti: "tempat berkumpul di hutan". Bahasa Jawa sendiri mengambilnya dari Bahasa Sansekerta: vanasabhā yang artinya kurang lebih sama. Kedua kata ini juga dikenal sebagai dua buku dari Mahabharata: "Sabhaparwa" dan "Wanaparwa".
Kawasan Wisata Dieng: terletak di kecamatan kejajar.Berjarak 26 km dari kota Wonosobo,Dieng adalah pegunungan yang sangat menarik dan menawan.banyak turis-turis yg singgah disana.suhu udaranya amat dingin mencapai 18 'C pada siang hari dan 13 'C Pada malam hari.

Dieng

Dieng adalah dataran tinggi di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Dieng adalah wilayah vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa. Kawah-kawah kepundan banyak dijumpai di sana. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000m di atas permukaan laut. Suhu di Dieng sejuk mendekati dingin, berkisar 15—20 °C di siang hari dan 10 °C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara kadang-kadang dapat mencapai 0 °C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.

Secara administrasi, Dieng mencakup Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Hingga tahun 1990-an wilayah ini tidak terjangkau listrik dan merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah.



Candi Arjuna, Dieng






Nama Dieng berasal dari gabungan dua kata Bahasa Kawi: "di" yang berarti "tempat" atau "gunung" dan "Hyang" yang bermakna (Dewa). Dengan demikian, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam. Nama Dieng berasal dari bahasa Sunda karena diperkirakan pada masa pra-Medang sekitar tahun 600 Masehi daerah itu berada dalam
Dataran tinggi Dieng (DTD) adalah dataran dengan aktivitas vulkanik di bawah permukaannya, seperti Yellowstone ataupun Dataran Tinggi Tengger. Sesungguhnya ia adalah kaldera dengan gunung-gunung di sekitarnya sebagai tepinya. Terdapat banyak kawah sebagai tempat keluarnya gas, uap air dan berbagai material vulkanik lainnya. Keadaan ini sangat berbahaya bagi penduduk yang menghuni wilayah itu, terbukti dengan adanya bencana letusan gas Kawah Sinila 1979. Tidak hanya gas beracun, tetapi juga dapat dimungkinkan terjadi gempa bumi, letusan lumpur, tanah longsor dan banjir.
Selain kawah, terdapat pula danau-danau vulkanik yang berisi air bercampur belerang sehingga memiliki warna khas kuning kehijauan.

Secara biologi, aktivitas vulkanik di Dieng menarik karena ditemukan di air-air panas di dekat kawah beberapa spesies bakteri termofilik ("suka panas") yang dapat dipakai untuk menyingkap kehidupan awal di bumi.

Tokoh-tokoh
• Letjend. S. Parman adalah salah satu dari pahlawan revolusi.

Organisasi Pecinta Alam
Banyak sekali Organisasi Pecinta Alam di Wonosobo, salah satunya ENW (Expediton Natural Wonosobo) yang berdiri pada tahun 2001, ENW sering melakukan kegiatan aksi sosial di bidang pelestarian lingkungan alam seperti kegiatan Penghijauan dll. Pada mulanya berdirinya ENW dilatar belakangi atas keprihatinan keadaan alam di Wonosobo yang mulai memburuk.

Kamis, 28 April 2011

Selamat Tinggal Soreang

LIMA tahun sudah aku menjalankan amanat sebagai wakil rakyat di DPRD Kabupaten Bandung. Pemilu 1997 telah menghasilkan komposisi anggota DPRD yang baru. Golkar menguasai mayoritas kursi di DPRD, kursi terbanyak yang mereka peroleh sejak Orde Baru. PPP memperoleh tambahan kursi lebih dari 100% akibat PDI yang dikerdilkan pemerintah. PDI di bawah kepemimpinan Megawati tidak diakui pemerintah, suara mereka banyak tidak digunakan, kalau pun ada yang memberikan suara ke TPS mereka tidak memilih PDI, mereka memberikan suaranya ke PPP. PDI yang dipimpin Soerjadi hanya menempatkan seorang wakilnya di DPRD II Kabupaten Bandung, Syuting Pranajaya, ketua DPC PDI Soerjadi. Tiba saatnya para anggota DPRD yang baru terpilih itu untuk dilantik, dan menggantikan posisi kami yang segera meninggalkan DPRD.

Pelantikan anggota DPRD II Kabupaten Bandung yang baru dan pemberhentian anggota DPRD II yang lama berlangsung di Gedung Mohammad Toha, di pusat pemerintahan Kabupaten Tingkat II Bandung di Soreang. Aku datang bersama istriku. Sebagai kenang-kenangan akupun berfoto di depan gedung dengan latar belakang para anggota ormas pemuda berseragam paramiliter loreng. Fotografernya tentu saja para juru foto yang biasa mangkal di setiap ada upacara kenegaraan di pusat pemerintahan. Keberadaan mereka sungguh membantuku untuk mendokumentasikan pelbagai peristiwa penting dalam kehidupanku di pemerintahan.

Pertemuan bersama teman-teman sesama anggota DPRD yang akan melepaskan jabatan sungguh mengharukan. Meskipun kami berbeda partai dan sering berbeda pendapat tapi waktu lima tahun cukuplah untuk membuat kami saling kenal satu sama lain hingga sudah seperti saudara saja layaknya.kami yang duduk di deretan kursi depan dari kiri ke kanan adalah Aa Surachman Ketua Fraksi Golkar, aku Ketua Fraksi PDI, Asep Suhaya Muchtar Ketua Fraksi PPP, Irom Nuroli Ketua Fraksi ABRI, Suprapto Ketua Komisi A, Kuswara ketua Komisi B, Oon Sudarna Ketua Komisi C, Sjamsoedin Ketua Komisi D dan Ahmad Saodih Masriatmadja Ketua Komisi E, sementara Holil Sukardi, Machmud Djamil, Mastur dan Amin Suparmin duduk di depan kami memimpin sidang paripurna karena mereka adalah para ketua dan wakil ketua Dewan yang selama lima tahun memimpin DPRD. Sebelum sidang di mulai kami sempat bercanda dan berfoto bersama.

Bupati Bandung, Uha Hatta Djatipermana menyampaikan pidato perpisahan dan Residen Priangan Timur yang berkedudukan di Garut mewakili Gubernur melantik anggota DPRD yang baru. Para anggota yang baru menempati kursi kami dan kamipun mundur ke belakang ke tempat undangan. Beberapa teman kami ada yang melanjutkan jabatannya menjadi anggota DPRD, sementara dari PDI tak satupun yang melanjutkan jabatannya.
Kami yang tidak melanjutkan masa jabatan diberhentikan dengan resmi dengan sebuah SK Gubernur. Pada kami diberi sebuah cincin kenang-kenangan berlogo DPRD Kabupaten Bandung, serta uang Rp 10 juta tunai serta uang Rp 100 ribu tiap bulannya selama lima tahun yang bisa diambil di Bank Jabar dari Yanarti (Yayasan Purna Bhakti) yang berasal dari potongan honor kami setiap bulannya. Dengan uang itu aku bisa melunasi cicilan rumahku di Perumnas. Sedangkan cincinnya kujual di sebuah toko emas di pasar Dangdeur karena aku tidak mengenakan cincin.

Soreang Selayang Pandang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Soreang adalah ibukota dari Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Di Soreang terletak pusat pemerintahan Kabupaten Bandung, setelah pemindahan dari Kota Bandung dan Baleendah.

Soreang merupakan salah satu titik sentral transportasi di Bandung Selatan. Terletak 18 km di sebelah selatan Kota Bandung, daerah ini merupakan penghubung antara Kota Bandung dan Ciwidey. Meski jarak dari Kota Bandung cukup dekat, anda yang berkendara dengan menggunakan mobil butuh waktu lebih dari satu jam untuk mencapai Soreang. Hal ini dikarenakan kemacetan yang parah di sepanjang ruas jalan menuju Soreang, terutama di daerah Kopo Sayati dan Kawasan industri di Katapang. Kemacetan inilah yang menyebabkan Soreang kurang berkembang sebagai Kota Kabupaten. Pada zaman penjajahan Belanda, dibangun rel kereta api yang melintasi kota ini untuk mengangkut hasil perkebunan teh dari Ciwidey. Jalur rel ini tersambung dengan jalur rel kereta api di Kota Bandung. Namun, sekarang jalur ini sudah tidak dipakai lagi. Soreang juga merupakan sentra konveksi terbesar di Kabupaten Bandung.

Di Soreang terdapat Stadion Si Jalak Harupat yang merupakan salah satu stadion terbesar di Indonesia dan bertaraf internasional. Stadion ini merupakan homebase dari Persikab Bandung, yang berlaga di Divisi Utama Liga Indonesia, dan tim sekotanya Persib Bandung yang bermain di Liga Super Indonesia.

Pusat kegiatan penduduk di Soreang lebih terpusat di Kota Soreang dan sekitarnya. Pada akhir pekan, biasanya terdapat pasar tumpah di kawasan Jalan Terusan Al-Fathu di sebelah selatan kompleks Pemkab Bandung yang selalu dipadati warga kota. Setiap tahun, di Soreang juga sering diadakan pameran kesenian dan kreativitas yang diselenggarakan oleh Pemkab Bandung dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Bandung. Biasanya pameran ini bertempat di Lapangan Terminal Cingcin di Jalan Gading Tutuka.

Seiring dengan perkembangan zaman, Soreang mulai berbenah diri. Meski perkembangannya dirasa sangat lambat dibanding kota-kota kabupaten lain di Jawa Barat, perlahan-lahan Soreang mulai berubah. Pembuatan ruas-ruas jalan baru, penataan PKL, pembangunan rumah sakit yang representatif, sarana olahraga yang memadai, dan fasilitas-fasilitas umum terus dibangun untuk meningkatkan kualitas pelayanan terhadap masyarakat Soreang dan sekitarnya. Dengan segera dibangunnya Jalan Tol Soreang-Pasirkoja (Soroja) yang menghubungkan Kota Bandung langsung ke Soreang, diharapkan kawasan Soreang dan sekitarnya dapat berkembang lebih cepat dan pembangunan kota dapat berjalan lebih baik.

Candi Prambanan

Candi Prambanan (Warisan UNESCO)
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas













Candi Rara Jonggrang atau Lara Jonggrang yang terletak di Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi ini terletak di pulau Jawa, kurang lebih 20 km timur Yogyakarta, 40 km barat Surakarta dan 120 km selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Rara Jonggrang terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten.
Candi ini dibangun pada sekitar tahun 850 Masehi oleh salah seorang dari kedua orang ini, yakni: Rakai Pikatan, raja kedua wangsa Mataram I atau Balitung Maha Sambu, semasa wangsa Sanjaya. Tidak lama setelah dibangun, candi ini ditinggalkan dan mulai rusak.

Pada tahun 1733, candi ini ditemukan oleh CA. Lons seorang berkebangsaan Belanda, kemudian pada tahun 1855 Jan Willem IJzerman mulai membersihkan dan memindahkan beberapa batu dan tanah dari bilik candi. beberapa saat kemudian Isaäc Groneman melakukan pembongkaran besar-besaran dan batu-batu candi tersebut ditumpuk secara sembarangan di sepanjang Sungai Opak. Pada tahun 1902-1903, Theodoor van Erp memelihara bagian yang rawan runtuh. Pada tahun 1918-1926, dilanjutkan oleh Jawatan Purbakala (Oudheidkundige Dienst) di bawah P.J. Perquin dengan cara yang lebih metodis dan sistematis, sebagaimana diketahui para pendahulunya melakukan pemindahan dan pembongkaran beribu-ribu batu tanpa memikirkan adanya usaha pemugaran kembali.Pada tahun 1926 dilanjutkan De Haan hingga akhir hayatnya pada tahun 1930. Pada tahun 1931 digantikan oleh Ir. V.R. van Romondt hingga pada tahun 1942 dan kemudian diserahkan kepemimpinan renovasi itu kepada putra Indonesia dan itu berlanjut hingga tahun 1993 [1].

Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Asia Tenggara, tinggi bangunan utama adalah 47m.
Kompleks candi ini terdiri dari 8 kuil atau candi utama dan lebih daripada 250 candi kecil.
Tiga candi utama disebut Trisakti dan dipersembahkan kepada sang hyang Trimurti: Batara Siwa sang Penghancur, Batara Wisnu sang Pemelihara dan Batara Brahma sang Pencipta.
Candi Siwa di tengah-tengah, memuat empat ruangan, satu ruangan di setiap arah mata angin. Sementara yang pertama memuat sebuah arca Batara Siwa setinggi tiga meter, tiga lainnya mengandung arca-arca yang ukuran lebih kecil, yaitu arca Durga, sakti atau istri Batara Siwa, Agastya, gurunya, dan Ganesa, putranya.
Arca Durga juga disebut sebagai Rara atau Lara/Loro Jongrang (dara langsing) oleh penduduk setempat. Untuk lengkapnya bisa melihat di artikel Loro Jonggrang.
Dua candi lainnya dipersembahkan kepada Batara Wisnu, yang menghadap ke arah utara dan satunya dipersembahkan kepada Batara Brahma, yang menghadap ke arah selatan. Selain itu ada beberapa candi kecil lainnya yang dipersembahkan kepada sang lembu Nandini, wahana Batara Siwa, sang Angsa, wahana Batara Brahma, dan sang Garuda, wahana Batara Wisnu.
Lalu relief di sekeliling dua puluh tepi candi menggambarkan wiracarita Ramayana. Versi yang digambarkan di sini berbeda dengan Kakawin Ramayana Jawa Kuna, tetapi mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan melalui tradisi lisan. Selain itu kompleks candi ini dikelilingi oleh lebih dari 250 candi yang ukurannya berbeda-beda dan disebut perwara. Di dalam kompleks candi Prambanan terdapat juga museum yang menyimpan benda sejarah, termasuk batu Lingga batara Siwa, sebagai lambang kesuburun.

Banyak bagian candi yang direnovasi, menggunakan batu baru, karena batu-batu asli banyak yang dicuri atau dipakai ulang di tempat lain. Sebuah candi hanya akan direnovasi apabila minimal 75% batu asli masih ada. Oleh karena itu, banyak candi-candi kecil yang tak dibangun ulang dan hanya tampak fondasinya saja.
Sekarang, candi ini adalah sebuah situs yang dilindungi oleh UNESCO mulai tahun 1991. Antara lain hal ini berarti bahwa kompleks ini terlindung dan memiliki status istimewa, misalkan juga dalam situasi peperangan.


Pada 27 Mei 2006 gempa bumi dengan kekuatan 5,9 pada skala Richter (sementara United States Geological Survey melaporkan kekuatan gempa 6,2 pada skala Richter) menghantam daerah Bantul dan sekitarnya. Gempa ini menyebabkan kerusakan hebat terhadap banyak bangunan dan kematian pada penduduk di sana. Salah satu bangunan yang rusak parah adalah kompleks Candi Prambanan, khususnya Candi Brahma

Pulang Kampung Nih

SAMPAI memilik tiga orang anak dari perkawinan kami, seorang putri dan dua orang putra, kami belum pernah pulang ke kampung halamanku, tempat orang tuaku berasal. Biasanya Kami pulang ke Banjaran, Bandung, rumah orang tua istriku, terutama pada hari raya idul fitri atau pada saat libur sekolah. Kami tidak pulang ke Ngawi karena keluargaku sudah tinggal lagi di Ngawi, ibu bapak dan adik-adikku tinggal di Bandung, Bogor dan Jakarta. Untuk mengenalkan anak-anakku pada kampung halamanku, pada tahun 1997, kami memutuskan membawa anak-anak ke Ngawi. Saat itu Dea putriku sudah berumur 10 tahun, Dimas anak kedua sudah berumur delapan tahun dan Praja berumur tiga tahun.

Pada pagi hari kami sekeluarga berangkat meninggalkan Rancaekek, Bandung menuju Ngawi. Bersama kami ikut pula ibuku serta pak Tri dan kang Nandang, dua orang teman dekatku, dengan demikian aku tidak harus membawa sendiri kendaraan sejauh 700 kilometer. Nyatanya, selama perjalanan kang Nandanglah yang mengemudikan kendaraan pergi pulang. Kami melalui Ciamis, Banjar, Kebumen, Purworejo, Yogya, Klaten, Solo, Sragen dan tiba di Gendingan, Ngawi malam hari. Kami pun menginap di rumah bupuh Karsohutomo.



Stasiun Walikukun





Keesokan harinya istri dan anak-anak, ditemani kang Nandang dan pak Tri pergi ke pasar Walikukun. Mereka senang sekali karena suasana pasar sangat bersahaja tapi nyaman, barang-barangnya terbatas dan kebanyakan berasal dari desa-desa sekitar. Ikan sungai (disebut wader) dijual dengan cara dirangkai pada bilah bamboo dan dibakar, rasanya enak dan harganya murah. Teman-temanku bergurau, kata mereka jika tinggal di Ngawi bisa punya istri dua karena harga-harga makanan murah meriah. Ha ha ha. Ikan sungai itu oleh bupuh dibuat menjadi garang asem, yaitu dimasak dalam bentuk pepesan dibumbui belimbing wuluh sehingga rasanya menjadi segar. Kamipun makan nikmat sekali di beranda belakang rumah beralaskan tikar.

Di Ngawi kami sempat berjalan-jalan ke museum fosil di Trinil (Trinil is a palaeoanthropological site on the banks of the Bengawan Solo River in Ngawi Regency, East Java Province, Indonesia. It was at this site in 1891 that the Dutch anatomist Eugène Dubois discovered the first early hominid remains to be found outside of Europe: the famous "Java Man" specimen) yang terletak di pinggiran Bengawan Solo, kemudian melihat reco Banteng, dan menikmati sate di daerah Banaran. Sate kambing Banaran sangat terkenal kelezatannya. Pedagang sate dan soto berderet-deret sepanjang jalan nasional antara Banaran dan Mantingan. Banaran adalah sebuah tempat di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur yang masuk ke wilayah kabupaten Sragen, sedangkan Mantingan adalah pintu gerbang memasuki Jawa Timur yang masuk wilayah kabupaten Ngawi. Malam itu kami mengajak bupuh dan keluarganya menikmati sate Banaran. Anak-anakku pun senang karena rumah makannya adalah sebuah rumah limasan berkayu jati dengan arsitektur khas Jawa Tengah dan Timur. Suasananya tidak dapat ditemukan di tempat lain. Suasana Jawa yang membuat kita merasa seperti di rumah sendiri.

Aku mengajak keluargaku ke Tulakan, desa dari mana keluarga ayahku berasal. Di desa inilah asal-usul keluarga Rono. Mbah buyut Rono memiliki beberapa anak, dan salah satunya adalah Prawirorejo, ayah dari ayahku. Kami berziarah ke makam mbah kakung dan mbah putri. Tidak lupa mengunjungi bude-budeku dan mbah-mbahku yang masih ada. Anak-anakku terkesan dengan kunjungan ini karena hampir satu kampung adalah saudara-saudara mereka semua, jika bertemu mbah-mbah atau bude-bude selalu menciumi anak-anakku. Memang sungguh menyentuh hati.

Akupun mengajak keluargaku berkeliling gunung Lawu. Kami berangkat dari Gendingan menuju Magetan, singgah di rumah bupuh Mulyono. Dari sana kami terus menuju Sarangan. Di Sarangan aku mengajak anak-anakku naik kuda berkeliling telaga, kemudian mengajak ibu, istri, bupuh dan teman-temanku berkeliling telaga dengan menggunakan dua buah speedboat. Udara gunung Lawu yang segar membuat kegiatan ber-speedboat sangat mengasyikkan. Air telaga Sarangan yang jernih dan biru, gunung yang biru, langit biru, semuanya mendekatkan kami pada alam yang indah dan mengingatkan kami pada kemahabesaran Allah Swt. Subhanallah. Setelah puas berperahu, kami melepas lelah sambil menikmati sate kelinci. Sate kelinci adalah makanan khas yang dijual para pedagang di Sarangan. Rasanya seperti sate ayam.



Telaga Sarangan











Setelah zuhur kami melanjutkan perjalanan ke Cemorosewu, yang merupakan perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah, sekaligus pintu masuk ke puncak Gunung Lawu. Perjalanan sangat mengasyikkan karena melalui hutan yang lebat dan jalan yang menanjak berkelok-kelok diselingi kabut. Kang Nandang harus mengerahkan seluruh kemampuannya mengemudi karena kendaraan yang kami kendarai adalah mobil Kijang tua buatan tahun 1988. Alhamdulillah kami akhirnya bisa sampai juga di Tawangmangu.



Grojogan Sewu







Tawangmangu adalah tempat wisata terkenal di gunung Lawu, yang masuk wilayah kabupaten Karanganyar provinsi Jawa Tengah. Jikalau kita menggemari lagu-lagu kroncong maka kita akan menemukan sebuah lagu yang berjudul Tawangmangu, juga Telaga Sarangan. Tempat-tempat itu memang sudah terkenal sejak zaman colonial. Hingga kini Tawangmangu masih memiliki pesonanya, dan yang terkenal adalah air terjun Grojogan Sewu. Kita harus menuruni ratusan anak tangga untuk mencapainya. Kami semua pun menuruni anak tangga itu. Bupuh dan ibuku pun ingin melihat Gorojogan Sewu, sehingga mereka pun harus berjuang untuk menuruni ratusan anak tangga.Gorojogan Sewu adalah air terjun yang terkenal keindahannya. Dea dan Dimas pun menceburkan diri di sungai merasakan sejuknya air terjun. Agak lama kami di sana, baru menjelang sore kami meninggalkan Tawangmangu.



Candi Sukuh







Tujuan kami berikutnya adalah Candi Sukuh. Situs candi Sukuh dilaporkan pertama kali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta. Johnson kala itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data guna menulis bukunya The History of Java. Setelah masa pemerintahan Britania Raya berlalu, pada tahun 1842, Van der Vlis, arkeolog Belanda, melakukan penelitian. Pemugaran pertama dimulai pada tahun 1928. Sama halnya dengan Telaga Sarangan dan Gorojogan Sewu, Candi Sukuh pun terletak di lereng Gunung Lawu. Candi Sukuh merupakan peninggalan Hindu dari kerajaan Majapahit. Bentuk bangunannya unik, tidak seperti candi-candi lain, candi Sukuh berbentuk trapesium seperti bangunan peninggalan orang-orang Indian di benua Amerika. Sayang sekali ketika kami tiba, hari sudah mulai gelap.

Malam hari kami tiba di Solo, melihat gerebek di Keraton Kasunanan. Setelah berkeliling dengan menggunakan kereta-keretaan kami pun pulang. Sehari itu kami berkeliling Gunung Lawu. Dulu di tahun 1977 aku mengelilinginya dengan berjalan kaki. Kini aku mengajak anak-anakku berkeliling dengan mengendarai kendaraan roda empat.

Esok harinya kami meninggalkan Ngawi kembali ke Bandung. Sambil lewat, kami mengunjungi museum fosil di Sangiran yang seperti Trinil juga terletak di sekitar Bengawan Solo. Kondisi Museum Sangiran yang masuk wilayah Sragen jauh lebih baik dari museum fosil Trinil di Ngawi. Keduanya museum itu menjadi bukti ditemukannya fosil manusia Jawa yang hidup dan berevolusi di sekitar Bengawan Solo. Selain fosil-fosil manusia, ditemukan pula fosil binatang-binatang di zaman purba dengan ukuran yang jauh lebih besar dari yang biasa kita lihat sekarang ini. Sayang sekali masyarakat sekitar museum masih hidup dalam kemiskinan sehingga fosi-fosil yang memiliki nilai historis dan ilmiah banyak dijual ke para pedagang internasional.



Phitecanthropus Erectus







(Sangiran is an archaeological excavation site on the island of Java in Indonesia. The area comprises about 48 km² and is located in Central Java, about 15 kilometers north of Surakarta in the Solo River valley. In 1996 it was accepted as World Heritage by the UNESCO.In 1934 the anthropologist Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald started to examine the area. During excavations in the next years fossils of some of the first known human ancestors, Pithecanthropus erectus ("Java Man", now reclassified as part of the species Homo erectus), were found here. About 60 more human fossils, among them the enigmatic "Meganthropus", have since been found here. In addition, there are considerable numbers of remains of the animals that these primitive humans hunted, and of others that merely shared the habitat)

Di Solo kami makan siang di rumah makan tradisional yang menyajikan makanan daerah seperti pecel, soto dan lain-lain. Tidak lupa dengan segelas teh manis sebagai penutupnya sebagaimana tradisi yang ada di sana. Kami semua meminta porsi kedua karena nikmatnya dan karena porsi makan di rumah makan itu memang kecil bagi ukuran perut kami.

Dalam perjalanan ke Yogyakarta melalui Klaten, kami menyempatkan singgah di Candi Prambanan. Ketika itu saat ashar. Matahari sudah mendekati ufuk barat langit. Udara mulai beranjak sejuk membuat berjalan-jalan di antara bangunan candi menjadi sangat menyenangkan dan menimbulkan sensasi yang luar biasa. Bayang-bayang candi menambah suasana demikian mengesankan. Satu persatu bangunan candi kami datangi. Kami benar-benar takjub pada arsitekturnya, pada detil relief dan penataan batu-batu yang begitu mempesona. Anak-anakku pun berpose di antara bangunan candi, tak lupa kami pun berfoto sekeluarga. Sampai sekarang aku masih saja terkesan jika melihat foto itu di album, candi prambanan di latar belakang serta bayang-bayang di latar depan, dengan cahaya yang terang damai, sungguh sebuah kenangan yang sulit dilupakan.
Cukup lama kami di Prambanan, memberi kesempatan buat anak-anakku bermain, berlari di halaman yang luas, bermain kursi gantung dan permainan lainnya yang tersedia. Setelah puas bermain barulah kami melanjutkan perjalanan.

Menjelang isya kami tiba di Yogyakarta. Inilah acara penutup perjalanan kami, yaitu berjalan-jalan sepanjang Malioboro, membeli cinderamata ala kadarnya dan makan di lesehan, nasi gudeg dan burung dara goreng. Gudeg adalah sayur yang terbuat dari nangka muda yang diolah dalam kuali dari tanah dan didiamkan selama beberapa hari. Biasanya disajikan dengan sepotong ayam, kerecek, tempe bacem dan telur ayam rebus.

Nasi Gudeg










Malam itu kami langsung pulang ke Bandung. Kang Nandang melarikan mobil dengan kecepatan maksimal. Harus kuakui dia memang pengemudi yang handal dan idola keluarga kami. Lepas tengah malam kami istirahat sebentar di Sidareja untuk sekedar minum kopi. Menjelang subuh kami sampai di rumah. Alhamdulillah.

Candi Penataran

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas













Candi Panataran adalah sebuah candi berlatar belakang Hindu (Siwaitis) yang terletak di Jawa Timur, tepatnya di lereng barat daya Gunung Kelud, di sebelah utara Blitar. Lokasinya di Wikimapia [1]. Kompleks candi ini merupakan yang terbesar di Jawa Timur. Candi ini mulai dibangun dari Kerajaan Kadiri dan dipergunakan sampai dengan Kerajaan Majapahit. Candi Penataran ini melambangkan penataan pemerintahan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa Timur.

Nama asli candi Penataran dipercaya adalah Candi Palah yang disebut dalam prasasti Palah, dibangun pada tahun 1194 oleh Raja Çrnga (Syrenggra) yang bergelar Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita Çrengalancana Digwijayottungadewa yang memerintah kerajaan Kediri antara tahun 1190 – 1200, sebagai candi gunung untuk tempat upacara pemujaan agar dapat menetralisasi atau menghindar dari mara bahaya yang disebabkan oleh gunung Kelud yang sering meletus. Kitab Negarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca menceritakan perjalanan Raja Hayam Wuruk, yang memerintah kerajaan Majapahit antara tahun 1350 – 1389, ke Candi Palah untuk melakukan pemujaan kepada Hyang Acalapati yang berwujud Girindra (raja penguasa gunung).

Kesamaan nama Girindra yang disebut pada kitab Negarakretagama dengan nama Ken Arok yang bergelar Girindra atau Girinatha menimbulkan dugaan bahwa Candi Penataran adalah tempat pendharmaan (perabuan) Ken Arok, Girindra juga adalah nama salah satu wangsa yang diturunkan oleh Ken Arok selain wangsa Rajasa dan wangsa Wardhana. Sedangkan Hyang Acalapati adalah salah satu perwujudan dari Dewa Siwa, serupa dengan peneladanan (khodam) sifat-sifat Bathara Siwa yang konon dijalankan Ken Arok.
Seperti pada umumnya relief candi di Jawa Timur yang dipahat berdasarkan analogi romantika hidup tokoh yang didharmakan di tempat tersebut, relief Ramayana dengan tokoh Rama dan Shinta, dan relief Krisnayana dengan tokoh Krisna dan Rukmini, yang dipahatkan pada dinding candi Penataran dapat dikatakan mirip dengan kisah Ken Arok dan Ken Dedes. Ketokohan Ken Arok sendiri masih menjadi kontroversi antara karakter seorang bandit yang berambisi memperbaiki keturunan setelah mengerti arti cahaya yang terpancar dari gua garbha milik Ken Dedes yang dilihatnya dan kemudian membunuh Tunggul Ametung yang menjadi suami sang nareswari, dengan karakter seorang bangsawan yang mengemban amanat dari Mpu Purwa yang merupakan ayahanda Ken Dedes sekaligus keturunan Mpu Sindok untuk mengembalikan kejayaan kerajaan Kanjuruhan yang ditaklukkan oleh kerajaan Kediri, dengan dukungan kalangan brahmana dari kedua kerajaan. Alkisah seluruh mpu dari kerajaan Kediri berpindah ke wilayah Tumapel sebelum Ken Arok membunuh Tunggul Ametung dan menjadi penyebab kekalahan Kediri dalam peperangan melawan Tumapel di wilayah Ganter pada tahun 1222. Dibunuhnya Mpu Gandring yang tidak menyelesaikan keris pesanan Ken Arok pada waktunya konon juga berkaitan dengan para mpu yang mulai meninggalkan kerajaan Kediri sehingga menimbulkan kecurigaan Ken Arok bahwa Mpu Gandring berpihak pada Kediri. Keris tersebut kemudian diselesaikan oleh mpu yang lain dengan demikian indah sehingga menarik perhatian dan mudah dikenali ketika Kebo Ijo memamerkannya kepada semua orang, sebelum akhirnya keris tersebut digunakan Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung.

Kitab Negarakretagama menyebutkan bahwa Ken Arok dicandikan di daerah Kagenengan, yang dewasa ini masih tersisa sebagai nama desa di wilayah selatan Kabupaten Malang, tepatnya di Kecamatan Pakisaji. Belum dapat dipastikan apakah Desa Kagenengan ini merupakan tempat yang sama yang disebut dalam kitab Negarakertagama, dan apakah luas daerah ini pada zaman

Relief rendah pada bangunan induk Komplek Percandian Penataran. Perhatikan penggambaran figur manusia yang mirip wayang.
Selain sebagai komplek percandian terluas, Candi Penataran juga memiliki kekhasan dalam ikonografi reliefnya. Gaya reliefnya menunjukkan bentuk yang jelas berbeda dari candi-candi Jawa Tengah dari sebelum abad ke-11 seperti Candi Prambanan. Wujud relief manusia digambarkan mirip wayang

Rabu, 27 April 2011

Berziarah Ke Blitar


Ir Sukarno



Logo Kota Blitar










BLITAR adalah sebuah tempat yang istimewa bagi bangsa Indonesia, terlebih bagi para pengagum dan pengikut Bung Karno, karena di kota inilah terletak makam Bung Karno. Pada bulan Juni dan Juli kota ini menjadi ramai oleh para peziarah. kota ini juga disebut sebagai Kota PETA (Pembela Tanah Air) karena di bawah kepimpinanan Suprijadi, Laskar PETA melakukan perlawanan terhadap Jepang untuk pertama kalinya pada tanggal 14 Februari 1945 yang menginspirasi timbulnya perlawanan di daerah lain. Wakil Presiden Republik Indonesia, Boediono; Panglima TNI, Laksamana Agus Suhartono; dan Wakil Ketua KPK, Mochammad Jasin, lahir dan dibesarkan di kota ini. Ketiganya merupakan alumni SMP Negeri 1 Blitar dan SMA Negeri 1 Blitar. Puteri Indonesia 2007, Putri Raemawasti, lahir dan dibesarkan di kota ini. Produsen pesawat berkebangsaan Belanda-Amerika Serikat, Anthony Fokker, lahir di Blitar.



Supriyadi









Pada tahun 1997-an aku bersama-sama kawan-kawan seperjuangan berangkat dari Bandung menuju Blitar dengan menggunaan bus sewaan. Biaya sewa kami peroleh secaran patungan. Bus yang kami gunakan adalah Primajasa, tarif sewanya lebih murah karena aku memperoleh potongan harga melalui haji Eman tetangga belakangan rumahku. (Almarhum adalah seorang pengagum Bung Karno yang kemudian bergiat di PAN meskipun belakangan menjadi anggota PDI Perjuangan).

Boediono




Putri Raemaswati













M Jasin











Agus Suhartono


















Rombongan kami sekitar 50 orang terdiri dari para pengurus partai tingkat kabupaten, kecamatan, desa juga para anggota dan simpatisan. Kami berangkat dari Solokan Jeruk (Bandung) malam hari melalui Yogyakarta, Solo, Madiun, Kediri dan tiba di Blitar kurang lebih pukul 10 siang keesokan harinya. Di sana kami bertemu dengan teman-teman dari Jawa
Barat, Jakarta dan provinsi-provinsi lain.



Istana Gebang (Kediaman Keluarga Sukarno)






Siang itu kota Blitar ramai oleh para pendatang dari seluruh penjuru Indonesia. Pengamanan kota pun tidak seperti biasanya. Tentara dan polisi berjaga-jaga di mana-mana dengan senjata lengkap. Panser disiapkan di tengan-tengah kota. Pusat dari keramaian adalah sebuah rumah di kota Blitar, rumah keluarga Sukarno. Rumah itu dikenal dengan Istana Gebang atau lebih dikenal dengan sebutan Ndalem Gebang, merupakan rumah tempat tinggal orang tua Bung Karno. Istana ini bertempat di Jl. Sultan Agung 69. Rumah itu besar dengan arsitektur yang menarik. Halamannya adalah padang rumput luas. Gambar Bung Karno dalam ukuran besar sudah di pasang di halaman tersebut. Orang-orang lalu lalang. Mereka penasaran untuk memasuki rumah Sukarno yang berfungsi seperti museum meskipun masih dihuni oleh Ibu Wardoyo, kakak perempuan Bung Karno. Kami pun berkunjung ke rumah itu, berkeliling mulai dari ruang depan, melihat kamar-kamar dan peninggalan-peninggalan Bung Karno. Tidak lupa berfoto-foto tentunya. Di rumah itulah Bung Karno dibesarkan oleh kedua orang tuanya Sukemi dan I Gusti Nyoman Rai yang keturunan bangsawan dari Puri Singaraja Bali.

Pada malam harinya haul untuk Bung Karno digelar di halaman. Haul adalah acara memperingati wafatnya Bung Karno yang diisi dengan pengajian, tahlilan dan doa. Manusia tumpah ruah memenuhi tempat tersebut. Kiai-kiai NU (Nahdhatul Ulama) memberikan tausiyah (orasi) mengenang jasa-jasa Bung Karno dan sekaligus berdoa untuk sang proklamator. Seingatku yang memberikan tausiyah adalah Ketua NU Jawa Timur. Keluarga Sukarno memberikan sambutan dimulai dari Rachmawati dan kemudian Megawati. Ketika Megawati berpidato, suasana menjadi riun rendah, maklum ketika itu Megawati sudah menjadi symbol perlawanan terhadap Orde Baru sekaligus pemimpin wong cilik.



Makam Bung Karno





Keesokan harinya kami berziarah ke makam Bung Karno di Bendo Gerit. Dengan dispensasi khusus kami bisa memasuki joglo yang berdinding kaca. Kami berdoa untuk Bung Karno agar arwahnya diberi tempat yang mulia di sisi Allah SWT sesuai dengan pengorbanan yang telah beliau berikan untuk nusa dan bangsa.

Bung Karno dimakamkan di Bendo Gerit atas keinginan Suharto, Bung Karno sendiri nampaknya lebih ingin dimakamkan di tanah Pasundan seperti wasiatnya yang bisa kita ketahui di dalam autobiografi Bung Karno “Penyambung Lidah Rakyat” yang ditulis Cindy Adam. Ratna Sari Dewi berpendapat bahwa Bung Karno ingin dimakamkan di Batutulis Bogor, tapi ada pula yang berpendapat Bung Karno ingin dimakamkan di Taman Pahlawan Cikutra Bandung. Di sana sudah disediakan lahan untuk makam Bung Karno ditandai dengan pohon beringin yang rindang. Belakangan memang muncul wacana dari Guruh Sukarnoputra yang ingin memindahkan makam Bung Karno dari Blitar ke Bogor atau Jakarta, tetapi warga Blitar dengan keras menolak keinginan keluarga Bung Karno tersebut.

Warga Blitar memang bangga kotanya menjadi tempat tinggal dan sekaligus makam Bung Karno. Kota yang sepi itu pun mendapat berkah dari nama besar Bung Karno. Banyak orang mendapatkan rejeki dari keberadaan sang proklamator, terutama para pedagang kecil pedagang cindera mata, losmen dan warung-warung.

Setelah berziarah kami menyempatkan diri melihat Candi Penataran, sebuah candi peninggalan Majapahit, di luar kota Blitar. Setelah puas berkeliling melihat-lihat kemegahan dan keindahan candi kamipun meninggalkan Blitar melalui Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Wonogiri dan akhirnya tiba di Solo sekitar pukul tujuh malam. kami beristirahat sejenak di kota itu. Aku menyempatkan diri berkeliling keraton Mangkunegaran dengan menggunakan becak.



Malioboro



Parang Tritis


Pukul 21.00 kami tiba di Yogyakarta. Rombongan sempat berjalan-jalan di Malioboro menikmati keramaian Yogya di waktu malam. dari Malioboro kami ke Parangtritis. Teman-teman sempat bermain sepakbola di tepi pantai dalam kegelapan. Kami semua tertawa-tawa bahagia melepaskan diri dari segala beban kehidupan, sebelum akhirnya meningalkan tempat itu menuju Bandung.
Alhamdulillah kami tiba dengan selamat di Bandung keesokan harinya.

Sabtu, 23 April 2011

DALAM PUSARAN GELOMBANG POLITIK



Kwik Kian Gie






Mendirikan Litbang

Kwik Kian Gie membuat iklan di Kompas yang intinya menyatakan Balibang PDI menerima pendaftaran anggota Balitbang (Badang Penelitian dan Pengembangan). Tentu saja respon public sangat ramai ketika itu karena hal itu merupakan fenomena yang baru sekali itu terjadi di dalam dunia politik di Indonesia. Begitu banyaknya orang yang mendaftarkan diri sehingga Kwik membuat kebijakan untuk membuat Litbang di tingkap Provinsi.

Ferdi, Eka Santosa, Lamintang, Endang Karman, Idris Lubis, aku dan beberapaka kawan lain ikut membidani berdirinya Balitbang PDI Provinsi Jawa Barat yang diketuai Lamintang, seorang colonel polisi purnawirawan mantan kapolres Sukabumi. Kami pun secara rutin membuat diskusi-diskusi mengenai pelbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan politik.

Guru Kader
Menjelang konfercab partai Pak Abbas memintaku mendukung pencalonannya kembali sebagai ketu DPC. Aku dan Yadi Srimulyadi memfasilitasi pertemuan para Komcam/Korcam di RM Sukahati Cileunyi. Namun ketika konfercab berlangsung Pak Abbas tersingkir, Idih Sujana sekretaris DPC terpilih menjadi ketua. Yadi dimasukkan ke dalam komposisi pengurus DPC, sedangkan aku tidak.

Meskipun aku bukan pimpinan partai tapi Idih selalu memintaku membantunya dalam mengelola organisasi. Akupun diminta menyiapkan kaderisasi untuk para pengurus Komcam/Korcam. Maka akupun dan seorang guru di SMP Santa Maria Cimahi diminta membuat semacam kurikulum pengkaderan. Aku merancang suatu pola pengkaderan dengan pendekatan andragogi, dengan memberikan unsur-unsur permainan yang menyenangkan. Di samping itu akupun mengajar masalah ideology dan retorika.
Kaderisasi yang dilakukan DPC Kabupaten Bandung itu merupakan kaderisasi tingkat kabupaten satu-satunya di era Megawati, sebelumnya ada kaderisasi tingkat provinsi di Maluku. Mangara Siahaan nampaknya tidak begitu suka dengan kaderisasi yang kami selenggarakan.





Mangara Siahaan















Bertemu Megawati
Di awal kepemimpinannya Megawati mengunjungi Jawa Barat. Ketika musim penghujan, Bandung Selatan terutama daerah pesawahannya sering mengalami banjir. Aku dan Ferdi mencarikan tempat yang akan didatangi Megawati hingga ke Solokan Jeruk, Majalaya. Beberapa hari kemudian Megawati datang dan mengunjungi daerah banjir di Sapan untuk member bantuan beras. Dia didampingi Laksamana Sukardi, Mangara, Tarto Sudiro, Manggabararani, Noviantika dan kalau aku tidak salah ada pula Sophan Sopiaan.

Rombongan Megawati berupa iring-iringan kendaraan roda empat dan roda dua yang sangat panjang, berangkat dari kantor DPD PDI Jawa Barat di Jalan Soekarno Hatta melewati Dayeuhkolot, Ciparay, Majalaya dan tiba di Sapan menjelang tengah hari. Sepanjang jalan rakyat mengelu-elukan Megawati. Pada saat itu pula kami secara spontan mengkampanyekan Megawati sebagai calon presiden RI yang akan datang. Gayung bersamput. Dari Sapan rombongan berkonvoi ke Banjaran, Soreang, Cimahi, Parongpong dan berakhir di rumah Edi Junaedi di Lembang.



Stasiun KA Haurgeulis Indramayu










Sejak saat itu megawati mengunjungi tempat-tempat lain di Jawa Barat. Aku pernah mendampinginya ke Indramayu dan menjadi master of ceremony ketika Megawati bertemu masyarakat di Gelanggang Olah Raga Indramayu. Seluruh tempat duduk penuh bahkan banyak yang berdiri. Ruangan pun penuh asap rokok. Mangara memintaku agar hadirin tidak merokok, maka akupun meminta mereka untuk tidak merokok. Alhamdulillah mereka mau mengikuti imbauanku itu. Megawati pun berpidato dengan berapi-api disambut oleh tepuk tangan riuh rendah dari hadirin. Selesai berorasi Megawati mengunjungi kantor partai dan diterima di pendopo kabupaten oleh Bupati Indramayu Ope Mustopa yang ternyata teman sekolahnya di Perguruan Cikini. Partai pun kemudian memintaku untuk menjadi kordinator acara Konferda (Konferensi Daerah) partai tingkat Provinsi Jawa Barat.

Suatu ketika ada berita bahwa aku diminta untuk datang ke Kebagusan bertemu Megawati. Aku tidak tahu apakah atas prakarsa DPD atau Megawati, yang pasti aku memang berkunjung ke kediaman Megawati. Dari Bandung aku berangkat menuju Jakarta dengan menggunakan mobil dinas Tb Soewondo yang ketika itu adalah Wakil Ketua DPRD Kota Bandung, diapun ikut mengantarku. Rudi Harsa menunggu kami di pertokolah dekat terminal bus Baranang Siang Bogor. Dialah yang memandu perjalanan ke Kebagusan, kediaman Megawati. Itu pertama kali aku berkunjung ke rumah Megawati.

Ketika kami tiba di Kebagusan, Taufik Kiemas menerima kami di halamannya yang luas dan asri. Dia sedang berjalan-jalan di atas kerikil, mungkin untuk merangsang syaraf-syaraf pada kakinya. Ia tidak ikut bersama kami menemui Megawati di ruang tamu. Megawati sendirian saja, aku bersama Tb Suwondo dan Rudiharsa. Yang kuingat waktu itu Megawati menanyakan beberapa hal mengenai acara Konferda dan akupun memberikan penjelasan apa saja acara yang akan diselenggarakan. Aku terkesan dengan pertemuan itu karena menurutku Megawati seorang yang luwes yang dapat menerima pandangan dan saran dari orang lain. Pengalaman ini agak berbeda ketika aku dulu mendampingi Rachmawati dalam suatu kunjungannya ke Parung Sukabumi. Ketika itu aku memberi sambutan dan ketika kemudian Rachma berbicara dia langsung mengatakan bahwa pandanganku keliru. Pengalaman mendampingi Rachmawati dan bertemu Megawati memberiku pengalaman berharga mengenai kepribadian dua anak Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia yang sangat kuhormati.

Sejak saat itu aku sering sekali berkunjung ke kediaman Megawati bersama rombongan dari Jawa Barat. Megawati mulai menunjukkan kharismanya sebagai pemimpin partai politik, pemimpin perlawanan terhadap penguasa dan pemimpin rakyat sekaligus. Kehidupan seperti berputar lebih cepat dari biasanya. Megawati yang luwes dan kemayu berubah menjadi nampak garang di depan massa.

Turun Ke Jalan
Ketika legitimasi kepemimpinan partai yang dimiliki Megawati dinafikan pemerintah dengan pelbagai maneuver seperti membuat DPP tandingan dan menyelenggarakan Kongres untuk mengganti Megawati dengan orang pemerintah, kami sering berkumpul di Jalan Diponegoro untuk menunjukkan dukungan. Di sana diselenggarakan mimbar bebas yang diisi orasi dari orang-orang partai dan para aktivis maupun tokoh-tokoh nasional. Megawati sudah menjadi symbol penindasan dan symbol perlawanan terhadap Orde Baru. Dari jalan Diponegoro kami turun ke jalan menuju Depdagri atau monument nasional, lalu menyusuri Jalan Thamrin. Kadangkala aku menyimpan kendaraan di samping YLBHI dan ikut berkonvoi hingga Matraman. Awalnya demonstrasi berjalan damai, lama kelamaan aparatur pertahanan dan keamanan mulai bertindak represif hingga terjadi pemukulan seperti yang terjadi di Gambir.

Ketika itu pelbagai kekuatan partai dan gerakan yang melawan pemerintah bersatu padu, sehingga terbentuk aliansi yang dinamakan MARI (Majelis Rakyat Indonesia) dengan pelbagai tuntutan-tuntutannya.



Monumen Nasional














Kegiatan turun ke jalan berlanjut setelah peristiwa 27 Juli, Ketika beberapa anak muda yang bertahan di kantor partai justru diadili di Pengadilan Negeri. Biasanya kami berkumpul di depan Pengadilan dan berkonvoi ke Kebon Waru mengantar Yadi, Iwan dan Eman, Cece dan seorang kawan lagi yang aku lupa namanya ke rumah tahanan.

Peristiwa 27 Juli, Golput dan Mega Bintang











POLITIK Orde Baru sampai pada tahap pertahanan terakhirnya. PDI sudah berhasil dipecahbelah ke dalam beberapa kelompok. Yusuf Merukh membuat DPP Reshuffle menentang Megawati karena alasan keterlibatan pengurus partai dalam G30S/PKI. Puncak penentangan terhadap Megawati adalah ketika Fatimah Achmad dan konco-konconya menyelenggarakan Kongres PDI di Medan 20-23 Juni 1996. Soerjadi didudukkan kembali pada posisi sebagai Ketua Umum dan Butu Hutapea sebagai Sekretatis Jendral yang diakui legitimasinya oleh pemerintah tapi tidak oleh rakyat. Megawati mendapat dukungan yang semakin kuat dari arus bawah. Pada saat itu muncullah istilah PDI Megawati. Ini adalah masa yang tersulit dalam kehidupan politikku tapi juga yang paling menggairahkan.

Upaya Suharto menggulingkan Megawati berujung pada penyerbuan para “pendukung Kongres Medan” terhadap kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro. Peristiwa penyerbuan oleh aparat pemerintah itu berubah menjadi tragedi yang disebut Insiden Sabtu Kelabu atau Peristiwa 27 Juli 1966 yang merenggut ratusan nyawa para pendukung Megawati dari seluruh Indonesia, belum lagi ditambah yang hilang dan luka-luka. Penyerbuan tersebut diikuti oleh adanya kerusuhan dan huru-hara yang meluas di Jakarta, dalam bentuk pembakaran dan perusakan pertokoan, kantor dan mobil oleh massa yang anonym. Pemerintah menuding PRD yang diketuai Budiman Sudjatmiko berada di belakang kerusuhan tersebut, dan mencapnya sebagai gerakan kaum komunis.

Megawati mengadakan perlawanan terhadap pemerintah melalui jalur hukum. Tidak kurang dari 230 gugatan disampaikan ke pengadilan-pengadilan di seluruh Indonesia. Meskipun pada umumnya kalah di pengadilan, tapi Megawai berhasil memenangkan peperangan karena dukungan rakyat semakin meluas dan menguat. Megawati berhasil menarik konstituen baru yang tidak berafiliasi pada ideology tertentu, melainkan pada solidaritas hati nurani: kasihan, simpati dan budaya protes (Sumarno, 2002: 26).

Aku bersama teman-teman setiap hari berkeliling kabupaten Bandung, memelihara semangat perjuangan para kader dan anggota partai, dari satu kecamatan ke kecamatan lain, dari satu desa ke desa yang lain. Sebagai pengurus PDI Megawati modal kami hanya dukungan rakyat. Kami mengadakan pertemuan-pertemuan kecil di kampung-kampung di tengah alam pedesaan yang indah. Kadang di tengah persawahan, di pegunungan atau di tepi sungai. Seringkali kami bertemu selepas maghrib karena pada saat itulah para petani berada di rumah. Pertemuan bisa berlangsung sampai menjelang pagi, adakalanya didatangi aparatur pemerintah atau keamanan.

Pada umumnya pembicaraan dengan rakyat berkisar pada masalah organisasi, politik dan ekonomi. Masalah organisasi adalah bagaimana caranya mempertahankan jalannya perjuangan dengan organisasi yang tidak diakui pemerintah. Masalah politik adalah bagaimana mengakhiri rezim Orde Baru dan menggantinya dengan rezim yang demokratis dan berkeadilan sosial serta bagaimana memposisikan partai menghadapi Pemilu 1987, apakah harus memberikan suara pada partai lain, karena memberikan suara pada PDI Soerjadi sudah tidak mungkin. Masalah ekonomi adalah bagaimana mengatasi kesulitan kehidupan yang dirasakan semakin mencekik.

Keputusan ke mana suara rakyat menghadapi Pemilu 1987 nampaknya semakin jelas. Dari rumahnya di Kebagusan Jakarta Selatan, pada hari Kamis 22 Mei 1997 Megawati menyampaikan pidato yang menyatakah bahwa “hak politik saya sebagai warga negara tidak akan saya gunakan dalam Pemilu tanggal 29 Mei 1997”. Selanjutnya dia berkata “saya akan memegang dan menyimpan kartu kuning yang saya miliki dengan baik sebagai kesaksian kondisi demokrasi kita saat ini”.

Akibat pernyataan tersebut, para pendukung Megawati banyak yang memberikan suaranya ke PPP yang berlambang bintang, fenomena ini dikenal dengan Mega-Bintang, meski lebih banyak lagi yang tidak memilih atau golput (golongan putih). Akibatnya PDI Soerjadi hanya memperoleh suara 3,05% dan hanya memperoleh 11 kursi di DPR padahal pada pemilu 1987 PDI memperoleh suara 10,87% dan pemilu 1992 memperoleh suara 14,89%. Berkah dari fenomena Mega-Bintang PPP mendapat 22,6% suara.

Sabtu, 02 April 2011

Vespa








PERKENALANKU yang pertama dengan Vespa adalah di tahun 80 ketika di Semarang. Mas Mur suami mbak Wiwik memiliki sebuah sepeda motor skuter Vespa. Mas Yanto sering mengajakku berkeliling kota dan mengajariku menggunakannya. Ketika aku sudah bisa menggunakannya sendiri akupun sering berjalan-jalan di sore hari. Tempat JJS favoritku adalah daerah Candi yang terletak di Semarang atas. Bervespa ria di tempat itu benar-benar menyegarkan jiwa.Ketika di Bandung, akupun bertemu kembali dengan vespa milik Isworo. Aku sering sekali dibonceng dari Bandung ke Cimahi atau sebaliknya.










Menjelang akhir aku di St. Angela kesempatan untuk memiliki vespa sendiri. Ketika itu aku memperoleh vespa melalui sebuah iklan di koran. Vespa super tahun 78 dengan surat-surat lengkap seharga Rp 750 ribu. Uangnya kudapat dari pinjaman di CU Tunas Merdeka. Ketika itu aku masih tinggal di Babakan Tarogong. Perjalanan terjauhku dengan vespa itu adalah ke Banjaran.

Selama di Rancaekek, vespa itulah yang menjadi alat transportasi utamaku untuk bergerak ke pelbagai titik penting seperti pasar, stasiun kereta api, puskesmas, sekolah anakku dan kantor partai. Di sore hari aku biasa mengajak anak-anakku berkeliling komplek perumahan dengan vespa itu. Ketika itu Bumi Rancaekek Kencana adalah tempat yang nyaman dan indah. Kami berkeliling dari satu blok ke blok yang lain, bahkan seusai hujan turun pun kami menikmati jalan-jalan.

Selain untuk digunakan sebagai sarana transportasi, vespa itupun pernah juga menjadi sarana ekonomi sebagai barang yang digadaikan di pegadaian. Biasanya kugadaikan di perum pegadaian Ciparay.













Pada masa reformasi, vespaku menjadi sahabat setia untuk berjuang. Ketika itu aku harus memiliki mobilitas yang tinggi untuk mengorganisir para pengurus dan anggota partai, dengan vespa itulah aku ke secretariat, mengunjungi teman-teman seperjuangan dan para simpatisan. Ketika itu kehidupan pada pengurus partai begitu terpuruknya sehingga mereka harus menggunakan angkutan umum atau bahkan berjalan kaki menembus hujan berpayung daun pisang. Alhamdulillah aku masih bisa bergerak lebih cepat karena vespa itu.

Seingatku vespa itu baru dua kali ngadat ketika kuajak berjuang. Pertama ia mogok di rumah pak Sujana Sobari di Rancakusumba. Di belakang rumah pak Sujana ada gudang tempat mengumpulkan hasil panen sekaligus kandang ayam. Di situlah secretariat partai kami. Megawati pun pernah menggelorakan perjuangan di tempat itu. Suatu saat hujan deras turun, Vespaku kehujanan sehingga tak bisa kugunakan saat pulang. Kedua ia pernah mogok di tengah jalan Majalaya saat hujan turun. Aku bersama pak Tri ketika itu minta tolong kang Mamat Dorim untuk mengangkut vespaku ke rumah dengan mobil bak terbuka.

Sayang sekali aku tak bisa mempertahankan keberadaan vespaku itu. Karena masalah keuangan, tahun 2000 vespa itu kujual seharga Rp 2 juta.

Berikut ini hal-ihwal mengenai Vespa.




















Vespa
From Wikipedia, the free encyclopedia

Type Subsidiary

Industry Scooter

Founded 23 April 1946 in Florence

Headquarters Pontedera, Italy

Parent
Piaggio & Co. SpA

Website vespa.com

Vespa is an Italian brand of scooter manufactured by Piaggio. The name means wasp in Italian.

The Vespa has evolved from a single model motor scooter manufactured in 1946 by Piaggio & Co. S.p.A. of Pontedera, Italy—to a full line of scooters and one of seven companies today owned by Piaggio—now Europe's largest manufacturer of two-wheeled vehicles and the world's fourth largest motorcycle manufacturer by unit sales.[1]
From their inception, Vespa scooters have been known for their painted, pressed steel unibody which combines a complete cowling for the engine (enclosing the engine mechanism and concealing dirt or grease), a flat floorboard (providing foot protection), and a prominent front fairing (providing wind protection) into a structural unit.

History

Post World War II Italy, in light of its agreement to cessation of war activities with the Allies, had its aircraft industry severely restricted in both capability and capacity.

Piaggio emerged from the conflict with its Pontedera fighter plane plant demolished by bombing. Italy's crippled economy and the disastrous state of the roads did not assist in the re-development of the automobile markets. Enrico Piaggio, the son of Piaggio's founder Rinaldo Piaggio, decided to leave the aeronautical field in order to address Italy's urgent need for a modern and affordable mode of transportation for the masses.

Concept

The inspiration for the design of the Vespa dates back to Pre-WWII Cushman scooters made in Nebraska, USA. These olive green scooters were in Italy in large numbers, ordered originally by Washington as field transport for the Paratroops and Marines. The US military had used them to get around Nazi defense tactics of destroying roads and bridges in the Dolomites (a section of the

Design

In 1944, Piaggio engineers Renzo Spolti and Vittorio Casini designed a motorcycle with bodywork fully enclosing the drivetrain and forming a tall splash guard at the front. In addition to the bodywork, the design included handlebar-mounted controls, forced air cooling, wheels of small diameter, and a tall central section that had to be straddled. Officially known as the MP5 ("Moto Piaggio no. 5"), the prototype was nicknamed "Paperino".[2]

Enrico Piaggio was displeased with the MP5, especially the tall central section. He contracted aeronautical engineer Corradino D'Ascanio, to redesign the scooter.[2] D'Ascanio, who had earlier been consulted by Ferdinando Innocenti about scooter design and manufacture, made it immediately known that he hated motorcycles, believing them to be bulky, dirty, and unreliable.[3]

D'Ascanio's MP6 prototype had its engine mounted beside the rear wheel. The wheel was driven directly from the transmission, eliminating the drive chain and the oil and dirt associated with it. The prototype had a unit spar frame with stress-bearing steel outer panels.[3] These changes allowed the MP6 to have a step-through design without a centre section like that of the MP5 Paperino. The MP6 design also included a single sided front suspension, interchangeable front and rear wheels mounted on stub axles, and a spare wheel. Other features of the MP6 were similar to those on the Paperino, including the handlebar-mounted controls and the enclosed bodywork with the tall front splash guard.[2]

Upon seeing the MP6 for the first time Enrico Piaggio exclaimed: "Sembra una vespa!" ("It resembles a wasp!") Piaggio effectively named his new scooter on the spot.[3][4] Vespa is both Latin and Italian for wasp—derived from the vehicle's body shape: the thicker rear part connected to the front part by a narrow waist, and the steering rod resembled antennae. The name also refers to the high-pitched noise of the two-stroke engine.[citation needed]

Product



modified by the French military, that incorporated an anti tank weapon















On 23 April 1946, at 12 o'clock in the central office for inventions, models and makes of the Ministry of Industry and Commerce in Florence, Piaggio e C. S.p.A. took out a patent for a "motorcycle of a rational complexity of organs and elements combined with a frame with mudguards and a casing covering the whole mechanical part".[5]

The basic patented design allowed a series of features to be deployed on the spar-frame which would later allow quick development of new models. The original Vespa featured a rear pillion seat for a passenger, or optionally a storage compartment. The original front protection "shield" was a flat piece of aero metal; later this developed in to a twin skin to allow additional storage behind the front shield, similar to the glove compartment in a car. The fuel cap was located underneath the (hinged) seat, which saved the cost of an additional lock on the fuel cap or need for additional metal work on the smooth skin.

The scooter had rigid rear suspension and small 8-inch (200 mm) wheels that allowed a compact design and plenty of room for the rider's legs. The Vespa's enclosed, horizontally-mounted two-stroke 98 cc engine acted directly on the rear drive wheel through a three-speed transmission. The twistgrip-controlled gear change involved a system of rods. The early engine had no cooling, but fan blades were soon attached to the flywheel (otherwise known as the magneto, which houses the points and generates electricity for the bike and for the engine's spark) to push air over the cylinder's cooling fins. The modern Vespa engine is still cooled this way. The mixture of two-stroke oil in the fuel produced high amounts of smoke, and the engine made a high buzzing sound like a wasp.[citation needed]

The MP6 prototype had large grilles on the front and rear of the rear fender covering the engine. This was done to allow air in to cool the engine, as the prototype did not have fan cooling. A cooling fan similar to that used on the MP5 "Paperino" prototype was included in the design of the production Vespa, and the grilles were removed from the fender.[2]

Launch

Piaggio filed a patent for the Vespa scooter design in April 1946. The application documents referred to a "model of a practical nature" for a "motorcycle with rationally placed parts and elements with a frame combining with mudguards and engine-cowling covering all working parts", of which "the whole constitutes a rational, comfortable motorcycle offering protection from mud and dust without jeopardizing requirements of appearance and elegance". The patent was approved the following December.

The first 13 examples appeared in spring 1946, and reveal their aeronautical background. In the first examples, one can recognize the typical aircraft technology. Attention to aerodynamics is evident in all the design, in particular on the tail. It was also one of the first vehicles to use monocoque construction (where the body is an integral part of the chassis).

The company was aiming to manufacture the new Vespa in large numbers, and their longstanding industrial experience led to an efficient Ford-style volume production line. The scooter was presented to the press at Rome Golf Club, where journalists were apparently mystified by the strange, pastel coloured, toy-like object on display. But the road tests were encouraging, and even with no rear suspension the machine was more manoeuvrable and comfortable to ride than a traditional motorcycle.
Following its public debut at the 1946 Milan Fair, the first fifty sold slowly—then with the introduction of payment by installments, sales took off.

Sales and development

Piaggio sold some 2,500 Vespas in 1947, over 10,000 in 1948, 20,000 in 1949, and over 60,000 in 1950.[6]

The biggest sales promo ever was Hollywood. In 1952, Audrey Hepburn side-saddled Gregory Peck's Vespa in the feature film Roman Holiday for a ride through Rome, resulting in over 100,000 sales. In 1956, John Wayne dismounted his horse in favor of the two-wheeler to originally get between takes on sets.[7] By the end of the fifties, Lucia Bosé and her husband, the matador Luis Miguel Dominguín,[8] as well as Marlon Brando, Dean Martin, and the entertainer Abbe Lane had become Vespa owners. William Wyler filmed Ben Hur in Rome in 1959, allowing Charlton Heston to abandon horse and chariot between takes to take a spin on the Vespa.[9][10]

Vespa clubs popped up throughout Europe, and by 1952, worldwide Vespa Club membership had surpassed 50,000. By the mid-1950s, Vespas were being manufactured under licence in Germany, the United Kingdom, France, Belgium and Spain; in the 1960s, production was started in India, Brazil and Indonesia. By 1956, one million had been sold, then two million by 1960. By the 1960s, the Vespa—originally conceived as a utility vehicle—had come to symbolize freedom and imagination, and resulted in further sales boosts: four million by 1970, and ten million by the late 1980s. Between 1957 and 1961 a reverse-engineered and partially redesigned version of the Vespa was made in USSR under the name Vjatka-VP150.[11]

Improvements were made to the original design and new models were introduced. The 1948 Vespa 125 had rear suspension and a bigger engine. The headlamp was moved up to the handlebars in 1953, and had more engine power and a restyled rear fairing. A cheaper spartan version was also available. One of the best-loved models was the Vespa 150 GS introduced in 1955 with a 150 cc engine, a long saddle, and the faired handlebar-headlamp unit. Then came the 50 cc of 1963, and in 1968 Vespa 125 Primavera became one of the most durable of all.

Vespas came in two sizes, referred to as "largeframe" and "smallframe". The smallframe scooters came in 50 cc, 90 cc, 100 cc, and 125 cc versions, all using an engine derived from the 50 cc model of 1963, and the largeframe scooters in 125 cc, 150 cc, 160 cc, 180 cc, and 200 cc displacements using engines derived from the redesigned 125 cc engine from the late 1950s.



Vespa sidecar








The largeframe Vespa evolved into the PX range in the late 1970s and was produced in 125 and 150 cc versions until July 2007. The smallframe evolved into the PK range in the early 1980s, although some vintage-styled smallframes were produced for the Japanese market as late as the mid 1990s.


1990s and beyond

The ET model range stuck true to the wasp/aero design principles. It was lighter, more aerodynamic, had an automatic gearbox and could take a series of engines from a 50 cc in either two-stroke or four-stroke, up to a 150 cc four stroke.[12]
When Vespa celebrated its 50th anniversary in 1996, more than 15 million of the scooters had been sold worldwide.[citation needed] Other companies vied with Piaggio for market share, but none came close to emulating the success—or romance—of Vespa.

Under new ownership

In 1959 Piaggio came under the control of the Agnelli family, the owners of car maker Fiat SpA. Vespa thrived until 1992 when Giovanni Alberto Agnelli became CEO, but Agnelli was already suffering from cancer and died in 1997. In 1999 Morgan Grenfell Private Equity acquired Piaggio, but a quickly hoped-for sale was dashed by a failed joint venture in China.

In 2003, the company found itself close to bankruptcy. Continual management changes and millions spent on many different plans and products had saddled Piaggio with crushing debt and left it vulnerable to competition from cheaper Asian rivals.
Then came Roberto Colaninno: A lot of people told me I was crazy. Piaggio wasn't dying. It just needed to be treated better. Piaggio's finances were in a bad shape, but its brand was still well-known and its products were featuring in more Hollywood films thanks to the Vespa ET4. In October 2003 Colaninno made an initial investment of 100 million euros through his holding company Immsi SpA in exchange for just under a third of Piaggio and the mandate to run it. Chief executive Rocco Sabelli redesigned the factory to Japanese principles so that every Piaggio scooter could be made on any assembly line.

Colaninno laid down some rules and made quick changes; all bonuses for blue-collar workers and management were based on the same criteria: profit margins and customer satisfaction. He didn't fire a single worker—a move which helped seduce the company's skeptical unions. Air conditioning was installed in the factory and he gave the company's engineers, who had been idled by the company's financial crisis, deadlines for projects. They rolled out two world firsts in 2004: a gas-electric hybrid scooter and a scooter with two wheels in front and one in back which grips the road better.

One of Piaggio's problems Mr. Colaninno couldn't fix from the inside was its scale. Even though Piaggio was the European market leader, it was dwarfed by rivals Honda and Yamaha. A year after rescuing Piaggio, Colaninno decided to salvage another Italian brand: scooter and motorcycle maker Aprilia. On July 11, 2006, shares of Piaggio & Co., became available to the general public through listing on the Milan [Italy] Stock Exchange or Borsa Italiana. Piaggio share prices, converted to US Dollars, may be found under the trading symbol: PIAGF.

Re-entry to North America

Piaggio first came back into the market in 2001 with the ET2 (two stroke 50 cc) and ET4 (four stroke 150 cc). In 2004, the PX (model year 2005) was re-introduced to North America to meet market demand for the classic Vespa design. Growth in the US market and worldwide environmental concerns meant a need for larger and cleaner engines, so Vespa developed the LEADER (Low Emissions ADvanced Engine Range) series of four-stroke engines. The larger Granturismo frame, with larger 12-inch (300 mm) wheels, was introduced to handle the additional power. The bike in 2006 spawned the iconic GTS-250ie version, with an upgraded suspension and the new QUASAR (QUArter-liter Smooth Augmented Range) 250 cc fuel-injected engine, capable of 80+ mph. As of the end of 2010 the GTS 250 has been replaced by the GTS 300 which has a 278cc fuel - injected engine. In 2005, the ET was withdrawn from Europe and North America and replaced by a new small-frame scooter, the LX range. These were available in the USA in 50 cc and 150 cc versions, while Europeans could choose a 50 cc or 125 cc.

Design icon

In recent years, many urban commuters have purchased new or restored Vespas. A shortage of available parking for automobiles in large urban areas and the Vespa's low running costs are two reasons for the increase in Vespa (and other scooter) popularity. The cultural use of the scooter as a recreational vehicle with a sub-cultural following in the USA/Canada and parts of Europe & Japan has also contributed to the rise in Vespa ownership. In contrast, the Vespa is considered a utilitarian vehicle for hauling products and sometimes up to 5 family members in much of Asia and Mexico

There is a Piaggio Museum & Gift Shop adjacent to the plant in central Pontedera, near Pisa, Tuscany. The permanent exhibition includes those items which toured venues such as the Guggenheim in New York and the Centre Pompidou in Paris. Also on display is a model personally customised by Salvador Dalí in 1962.
The 1959 Vespa N was also the styling inspiration for the Neco Italia.[13]

Global markets

Europe

Vespa's largest market by all measures globally is still Italy, but as a result of the mod subculture that developed in the 1960s, the United Kingdom is still Vespa's second largest global market—and at one point in the 1960s, its largest. The appeal of the Vespa to the style-conscious mods was the weather protection. Their counterparts, the rockers rode classic British motorcycles such as Triumph Bonneville and BSAs, and needed to wear leathers against the elements. Mods would modify their Vespas, adding lights, mascots, accessories, various racks and crash bars. A new lifestyle evolved in the UK, with thousands attending scooter rallies.
The dominance of the Vespa declined through the 1970s, as small car ownership increased and cheap and reliable commuter bikes like the Honda Super Cub hit sales. Despite the introduction of the more modern 'P' range in the 1970s, the lack of development cost Vespa, and like other markets, the sales fell off drastically in the economic boom of the 1980s. Then Vespa introduced the trendy automatic ET2, London introduced the congestion charge and—partly with celebrity chef Jamie Oliver's indirect help from his BBC2 series—sales suddenly leapt.[14]

North America

Much as Vespa had used the Cushman Army scooter as inspiration for its original design, Vespa in turn made scooters for Sears and Cushman after World War II.[15]
Imported by Morton Colby of Colby General Tire Company, 662 E. Fordham Road, Bronx, New York, the Sears models were 3- and 4-speed 125 cc Vespas rebadged as Sears Allstate Cruiseaires. Innocenti also distributed their Lambretta brand via Montgomery Ward's catalogue during this post-WWII period. These were the premier brands of scooters, bringing premium pricing to many, including farmers, whose link to the outside world was via purchases made in these catalogues. Cushman sold rebadged Vespa scooters as Cushmans, but many Cushman dealers refused to market a "foreign" machine. However, collectors prize the Cushman Vespa because it is relatively rare.

Bankruptcy of Vespa's American importer due to two expensive product-liability lawsuits, increased competition from Japanese manufacturers, and certain states' passing so-called "green laws" caused a withdrawal from the US market in late 1981.
During 1981-2001, despite an absence of United States domestic sales, Vespas continued to have a core group of enthusiasts who kept vintage scooters on the road by rebuilding, restoring, and adding performance-enhancing engine parts as the stock parts would wear out.

Vespa returned to the US market in 2001 with a new, more modern style ET series, in 50 cc two and four stroke, and 150 cc four-stroke. According to the Motorcycle Industry Council, U.S. scooter sales increased fivefold over six years, swelling from 12,000 units in 1997 to 69,000 units in 2002. Vespa sales in the U.S. increased 27 percent between 2001 and 2002. The 65 "Vespa Boutiques" scattered throughout the U.S. gave scooterists a place to buy, service, and customize Vespa scooters, and outfit themselves in everything from Vespa watches and helmets to Vespa jackets, T-shirts, and sunglasses. Vespa restarted its American sales effort, opening its first boutique on Ventura Boulevard in Sherman Oaks, Calif.

In light of vastly-increasing US sales, Vespa developed the GT, offered as a 200 cc four-stroke and a 125 cc variant in Europe. In 2004 Vespa reintroduced a modernized PX 150 to the US. In the fall of 2005, Piaggio offered their largest-selling Vespa scooter ever, the 250 cc-engined GTS250, available in Europe with ABS.
Rest of the world
Vespa acquired popularity beyond Europe and North America. When looking to expand into markets outside of Europe and North America, it was common for Vespa to partner with, or license certain models to already existing manufacturers. Though the motorcycle industry has been and still is dominated by Japanese companies, Vespa still has a small but significant markets. While details are sometimes hard to come by, especially in some markets, some information is known.

India

Piaggio first licensed the production of Vespa scooters in India to Bajaj Auto in the 1960s. In 1971, Piaggio's license was not renewed as a part of Indira Gandhi's privatization programs. After the collaboration ended, Bajaj continued to produce scooters of its own design, namely the Chetak, using design and engineering cues it had gleaned from the earlier affiliation.

Another Vespa partner in India was that of LML Motors. Beginning as a joint-venture with Piaggio in 1983, LML, in addition to being a large parts supplier for Piaggio, produced the P-Series scooters for the Indian market. In 1999, after protracted dispute with Piaggio, LML bought back Piaggio's stake in the company and the partnership ceased. LML continues to produce (and also exports) the P-Series variant known as the Stella in the U.S. market and by other names in different markets.
Piaggio, in 2007, announced plans to reenter the Indian market. This time, however, Piaggio plans to do so with a wholly owned subsidiary.

Taiwan

Vespa has had various partnerships and presence in Taiwan. In 1965 Taiwan Vespa Co. Ltd was licensed for Vespa scooter production. From 1972 to 1982 Vespa entered into a collaboration with manufacturer PGO. In 1978 Vespa entered into a collaboration with TGB, which to some extent, continues to this day (namely with CVT transmission production).

Indonesia

A company known as Dan Motors Vespa produced Vespas under license for the Indonesian market.

Export of restored classics

The resurgence in interest in vintage motor scooters has also spawned the scooter restoration industry, with many restored Vespas being exported from Thailand, Vietnam and Indonesia to the rest of the world.[16][17][18]

Racing

In the 1950s and early 1960s, Vespa and Lambretta scooters were raced competitively against motorcycles, often winning the races. In the mid 1960s, motorcycle engines became larger and faster, and a gap was created—along with varying cc classifications. Since the 1980s, Vespa and Lambretta racing has grown into a serious sport in the United States. There are various classes in the United States, depending on the racing association. They are generally:
• Small Frame Class: Open class up to 152 cc's
• Automatics Class
• Specials Class
• Stock Class: Large-frame Vespa and Lambretta 180 & 200 cc scooters.

Vespa models

There have been 138 different versions of the Vespa. Today five series are in production: the classic manual transmission PX and the modern CVT transmission S, LX, GT, and GTS

Jumat, 01 April 2011

Anak Ketiga





Praja












Dea sudah mulai bersekolah di TK Sandy Putra di Jalan Radio. Dimas pun segera akan menyusul. Istriku ingin memiliki momongan lagi. Aku tentu senang mendengarnya. Allah pun mengabulkan keinginan kami, istriku mengandung anak ketiga.

17 Agustus 1994. Saat orang-orang ramai merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 49, istriku merasa ingin melahirkan anak ketiga. Ia pun segera ke bidan Nonong dekat rumah kami. Usai waktu ashar, saat orang ramai berkumpul di lapangan volley untuk menyaksikan pertandingan, lahirlah anakku yang ketiga. Seorang laki-laki. Tubuhnya besar. Akupun menyuarakan adzan dan iqomat di telinganya. Hatiku merasa bahagia dan bersorak sorai, seperti para tetangga di lapangan.



Biaya persalinan di bidan Nonong tidaklah mahal, hanya sekitar Rp 100 ribu, tapi kami benar-benar tidak punya uang ketika itu, meskipun aku adalah seorang anggota DPRD II. Untunglah ada dik Yuni yang merelakan giwang miliknya untuk dijual di pasar Dangdeur dan dengan uang hasil penjualan itulah kami membayar biaya persalinan. (Dik Yuni pun merelakan keluar dari pekerjaannya di pabrik untuk mengasuh anak bungsuku itu, sambil ikut kursus menjahit dua kali dalam seminggu.)

Pada umur seminggu rambut anakku kami cukur dan kami timbang. Berat timbangan rambut anakku itulah sebagai pengukur membeli emas yang kami sedekahkan. Anak ketiga kami beri nama Muhammad Agustus Prajakusuma. Kami ingin ia berakhlaqul karimah seperti Rasulullah SAW, menjadi manusia mulia dan bunga dari nusa-bangsanya. Sehari-hari kami memanggilnya ade (adik), tapi ia tidak mau dipanggil ade, jadi kami semua memanggilnya Praja.

Kami semua tertawa jika melihat tubuh anak ketiga kami itu, hampir semua bagian tubuhnya menonjolkan dagingnya yang gemuk. Pipinya, perutnya, paha, kaki dan tangannya seperti roti tawar. Hingga kini, setiap kami melihat foto-fotonya sewaktu kecil kami tertawa.

Khitanan



Praja baru berusia satu atau dua tahun ketika dokter di RS Immanuel menyarankan agar dilakukan circumcision (khitan) padanya. Kamipun mengikuti saran tersebut, maka dikhitanlah Ade tanpa perencanaan atau persiapan terlebih dahulu.

Karena Ade sudah dikhitan, Dimas pun ingin dikhitan pula, karena itu kami membawanya ke RS Al Islam di Jalan Soekarno-Hatta. Sayang sekali tenaga medis di sana nampaknya belum begitu trampil mengkhitan sehingga Dimas meraung-raung kesakitan. Berbeda dengan Ade yang menginap satu atau dua hari di rumah sakit, Dimas pulang hari itu juga.



RS Al Islam












Sampai di rumah tetangga kiri kanan rumah berdatangan untuk nyecep (memberi angpau). Dimas senang sekali dan uang itu dibelikannya sepatu roda serta untuk berjalan-jalan ke Jogja bersama Dea diantar dik Wiwin. Ia senang sekali dapat memerah susu sapi setiap pagi, karena mbak Wiji yang dikunjunginya memelihara sapi perah beberapa ekor.





Istriku berinisiatif untuk membalas kebaikan mereka itu dengan memberi makanan ala kadarnya. Kamipun membuat duaratus kotak nasi dan laukpauk untuk dibagikan ke para tetangga. Seraya mengharapkan doa agar anak-anak kami yang telah dikhitan itu menjadi anak yang salih, berguna bagi nusa bangsa dan agama.