Senin, 07 Mei 2012

Menyebrang ke Sabang


Meski belum pukul 13.00 aku check out dari hotel Cakradonya setelah makan siang. Pemanduku sudah menunggu di lobby dan sejurus kemudian kamipun meninggalkan halaman hotel menuju pelabuhan laut Malahayati (?).  sebelum sampai di pelabuhan kami singgah di sebuah pemakaman korban tsunami  yang lebih menyerupai taman berwujud sebuah bukit kecil  dengan lapisan hamparan rumput hijau segar.  Ratusan jenazah dimakamkan di situ. Berdiri di depannya aku merasakan kepedihan yang amat sangat dan bulu kuduk pun serta merta meremang. Aku terhenyak namun kemudian berdoa, juga buat sahabatku Aliudin yang tewas bersama seluruh—kecuali seorang putrinya yang menjadi santriwati di
sebuah ponpes di subang—keluarganya . 

Menjelang petang di tanggal 24 Maret 2006 itu aku tiba di dermaga pelabuhan darurat yang menghubungkan Banda Aceh di Pulau Sumatra dan Sabang di Pulau Weh.  Setelah membeli sebuah tiket aku menunggu ferry yang akan menyebrangkanku bersama penumpang-penumpang lain.  Satu atau dua jam kemudian ferry tiba dan para penumpang bergegas memasukinya.  Masih diperlukan beberapa waktu lagi sampai ferry benar-benar penuh dan kemudian lepas sauh meninggalkan dermaga untuk bertolak ke Sabang. 

Ketika ferry bertolak meninggalkan Banda Aceh, aku agak bimbang apakah aku lega atau cemas ketika itu. Tak sempat berpikir panjang laut biru yang bergelombang tinggi pun menyergap.  Kota Banca Aceh di ujung  paling utara Pulau Suvarnadwipa itupun pelan-pelang hilang dari pandangan. Ferry melalui satu dua pulau berupa bukit yang menghijau. Di dalam ferry beberapa prajurit TNI –nampaknya dari AD—hilir  mudik sambil membawa senapan. Meskipun perjanjian perdamaian antara Pemerintah RI dengan GAM telah ditandadatangani kedua belah pihak tapi nampaknya keamanan belum sepenuhnya pulih.

Sambil merasakan hati atau pikiran yang berkecamuk, aku mendengar suara ribute-ribut orang bertengkar di dalam kapal, entah antar awak kapal atau antara awak kapal dengan penumpang. Tentu saja insiden itu menambah perasaanku menjadi galau. Tapi aku harus ke Sabang karena tidak mungkin aku turun di tengah jalan. Nasib menuntunku menuju Indonesia nol derajat.

Senja menyapa ketika fery tiba di pelabuhan di Pulau Weh.  Dengan setengah sok tahu aku keluar dari pelabuhan dan  menyelinap di antara penumpang angkutan kota yang menuju Sabang sambil tak dapat memastikan tujuanku di sana.  Kurang lebih setengah jam perjalanan mobil pun tiba di kota Sabang. Akupun turun begitu saja  ketika ada orang lain turun. Di trotoar aku termangu sejenak  kemudian berjalan ke arah kerumunan orang-orang menanyakan tempat penginapan. Seorang pengemudi becak bermotor mengatakan penginapan ada di Pantai Gabang sekitar sepuluh kilometer dari kota. Tanpa pikir panjang Akupun minta dia mengantarkanku kesana. 

Perjalanan ke Pantai Gapang membuatku terpana. Keindahan kota Sabang menyergapku tanpa ampun. Kontur kota yang berbukit memudahkan mata menatap keindahan teluk dan pantai di kejauhan dengan kapal-kapal , ada yang bersauh di samping ada yang hilir mudik.  Lautnya begitu biru dan tenang. Hutan atau gerombolan pepohonan yang rimbun dan hijau memberikan pemandangan yang permai. Kotapun Nampak santai . semua itu menebus kegalauan dalam penyebaranganku.

Pengemudi becak bermotor yang kutumpangi ternyata seorang mantan marinir yang masih bertugas sebagai informan bagi negara. Ia menceritakan Aceh seperti apa adanya, tentang GAM dll. Menurutnya pulau Sabang menjadi tempat pelarian aktivis GAM yang dikejar di Banda Aceh. Akupun dikenalkan pada satu dua orang mantan kombatan GAM yang ditemuinya sepanjang perjalanan.  Ada satu dua alat-alat berat yang rusak dan terbakar yang menurutnya terjadi karena persaingan mencari rejeki di antara para mantan anggota GAM. Rasa ngeriku sepanjang perjalanan berbanding lurus dengan keindahan yang kutemui sepanjang perjalanan . 

Menjelang Isya kami sampai di Pantai Gapang. Tempat menginapku mala mini adalah Leguna Resort sebuah resor di tengah hutan  di tepi pantai. Bangunan yang akan kutempati untuk menginap malam ini  adalah  cottage berupa rumah panggung terbuat dari kayu.  Ada beberapa cottage yang nampaknya hanya satu dua saja yang terisi. 

Malam itu menjadi malam yang panjang bagiku karena aku merasakan suasana mencekam. Sesekali lenguhan sapi di kebun mengusik kesunyian malam. Sekitar jam 21.00, dengan menggunakan sepeda motor, seorang petugas dari kepolisian sektor datang ke front office.  terlibat pembicaraan pendek dengan  resepsionis lalu kemudian pergi.  Aku mematikan lampu kamar, berdoa dan berusaha tidur di Room 18 bertarif Rp 175.000,00 per malam.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar