Rabu, 06 Agustus 2014

Bengkulu antara Rafflesia Arnoldi dan Jejak Bung Karno







Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Indonesia. investasi baik berupa PMA (penanaman modal asing) dan PMDN (penanaman modal dalam negri) masuk setiap tahunnya. Sentra-sentra industri dan perdagangan baru muncul di mana-mana. Sayangnya infrastruktur selalu tertinggal di belakang. Baik legislatif maupun eksekutif selalu mencari jalan agar ketertinggalan itu bisa diatasi antara lain dengan membuat jalan baru. Cara mendanainya dengan pelbagai skema. Misalnya dengan road fund yaitu menyediakan dana khusus bagi pembangunan jalan maupun   pendanaan pembangunan multi years, cara mendanai suatu proyek dalam beberapa tahun anggaran.  Persoalannya adalah, pemerintahan daerah belum memiliki pengalaman mengenai skema pembiayaan semacam ini sehingga perlu melihat pengalaman daerah lain, kerena itu kami ke Bengkulu--yang menurut info dari staf—memiliki pengalaman soal itu. Pemerintah provinsi Bengkulu memang sedang membangun jalan di sepanjang pantai barat yang berhadapan dengan Samudra Indonesia.  jalan ini memang akan sangat bermanfaat untuk menghidupkan perekonomian sekaligus pariwisata.
Bengkulu memiliki alam yang khas karena  berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia dan dilewati Bukit Barisan. Bengkulu memiliki bunga sekedai yang diberi nama Rafflesia Arnoldi, bunga khas Bengkulu yang merupakan bunga dengan kelopak terbesar dan paling spektakuler  di dunia—nama  Raflesia diambil dari nama Thomas Stamford Raffles, Gubernur Inggris yang pernah bertugas di Bengkulu tahun 1818.
Jejak Raffles di Bengkulu bukan hanya diabadikan dalam Rafflesia Arnoldi, tapi juga nampak jelas pada peninggalannya yaitu Benteng Fort Marlborough, benteng Inggris terbesar kedua di Asia Pasifik, setelah benteng di India. Selain membangun benteng untuk kepentingan pejajahan Inggris, Raffles melakukan penelitian flora dan fauna dengan menyusuri hutan di pedalaman Sumatra.  Sebagai catatan, sebelum diajajah Inggris tahun 1685-1824, Bengkulu merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Banten.
Jejak sejarah di Bengkulu tidak melulu berkaitan dengan Raffles, tapi juga berkaitan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajahan Belanda. Salah seorang pengikutnya bernama Sentot Alibasya Prawirodirjo dibuang ke Bengkulu hingga wafat dan dimakamkan di sana. Bukan hanya Kiai Sentot,  belakangan Ir Sukarno  juga diasingkan Belanda ke Bengkulu pada tahun 1938-1942 setelah sebelumnya diasingkan di Ende.
Ketika berada dalam pembuangan di Bengkulu Ir Sukarno yang lebih dikenal dengan Bung Karno melakukan pelbagai kegiatan yang masih bisa ditelusuri hingga kini. Di rumah pengasingan Bung Karno masih tersimpan banyak buku naskah drama yang ditulisnya untuk bahan pentas kelompok sandiwara yang disutradarainya, di mana Bung Karno sendiri juga berperan sebagai aktor. Selain itu Bung Karno juga merancang sebuah masjid yang hingga kini masih berdiri megah di pusat kota Bengkulu. Bung Karno juga tercatat sebagai salah seorang ketua Muhammadiyah Bengkulu. Di Bengkulu pula Bung Karno menikah dengan Fatmawati, setelah sebelumnya menikah dengan Utari anak Cokroaminoto dan Inggit Garnasih. Rumah Bung Karno dan Rumah Fatmawati kini dijadikan museum










1 komentar:

  1. jika anda ingin merasakan kemenangan di dalam
    bermain togel hbg mbah WOWO di nmr
    (_0853_2888_0180_) jika ingin mengubah nasib
    seperti kami sudah 3 x terbukti trim’s roo,mx
    sobat










    jika anda ingin merasakan kemenangan di dalam
    bermain togel hbg mbah WOWO di nmr
    (_0853_2888_0180_) jika ingin mengubah nasib
    seperti kami sudah 3 x terbukti trim’s roo,mx
    sobat

    BalasHapus