Rabu, 24 Februari 2016

Beijing dan Tembok Besar




Pada suatu hari di bulan Mei 2007 staf di kantor menelponku dan memberi informasi bahwa aku diminta berangkat bersama Adi Gunawan ke Tiongkok untuk mendampingi pemerintah provinsi Jawa Barat yang akan mengikuti China International Exhibition 2007. Rombongan dipimpin Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Lex Laksamana dan Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat. Rombongan terdiri dari Kepala Dinas Pertambangan dan jajarannya disertai dengan eksekutif, legislatif  dan perguruan tinggi di kabupaten Garut dan Tasikmalaya. Dari kalangan pengusaha ada beberapa pengusaha Bandung  dan Gatot Tjahjono dari KADIN.  Sayangnya karena sesuatu hal aku tidak bisa berangkat bersama rombongan melainkan menyusul sendiri belakangan.  

Seingatku aku akhirnya berangkat malam hari dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Di pesawat aku duduk di samping Wakil Gubernur Sulawesi Barat yang ternyata juga berangkat ke China. Rupanya pengatur perjalanan telah mengaturnya. Dalam perjalanan  Pak Wagub bercerita bahwa dulu pernah berdinas di Telkom di Bandung bahkan pernah mendaftar menjadi anggota PDI Perjuangan dan memiliki KTA (Kartu Tanda Anggota).  Aku pun merasa memiliki teman dekat sehingga perjalanan terasa menyenangkan.

Perjalanan ke Beijing berlangsung sekitar enam  jam. Saat malam berakhir pesawat sudah berada di atas kota  Beijing yang merupakan kota ketiga terbesar di dunia. Cahaya matahari tidak begitu terang karena kota diselimuti kabut. Samar-samar bandara yang luas dan modern nampak di kejauhan. Hari masih pagi saat kami tiba di bandara.   Keriuhan bandara segera terasa. Para penumpang yang antri di bagian imigrasi dan bea cukai nampak mengular dan panjang. Kebanyakan adalah penumpang berkulit putih. Kebetulan saat itu Beijing sedang bersiap menghadapi Olympiade. Stadion Sarang Burung yang menjadi venue  utama olympiade bisa kulihat selintas saat pesawat hendak mendarat. 

Saat keluar bandara seorang pemandu sudah menjemput kami. Dengan menggunakan minibus dia membawa kami meluncur memasuki kota Beijing. Kami pun langsung masuk ke keramaian lalu lintas di jalan raya yang memiliki banyak jalur sehingga nampak lebih luas dari jalan tol di Indonesia .  Bagiku Beijing nampak serba berskala besar. Akupun menikmati pemandangan pagi hari di kota yang memiliki penduduk lebih dari sepuluh juta  ini.

Di Beijing pengendara sepeda motor dilarang memasuki kota. Di jalan hanya ada kendaraan roda empat dan sepeda (kereta angin). Sepeda bersliweran di kawasan perdagangan maupun kawasan perumahan.  Menurut cerita kehilangan sepeda  merupakan hal yang sudah biasa. Penggunaan sepeda diharapkan mengurangi polusi udara. Pemerintah Cina nampaknya kewalahan mengatasi polusi udara  yang berasal dari emisi gas buangan kendaraan serta asap dari pabrik maupun debu dari pembangunan gedung-gedung. Tadinya kupikir kabut di Beijing berasal dari udara yang dingin tapi ternyata  dari debu maupun asap yang memenuhi udara.  Dengan sendirinya jarak pandang pun menjadi terbatas.

Meski pemerintah kota Beijing belum mampu mengatasi  polusi udara tapi di sisi lain keliahatannya mereka sudah mampu mengatasi pencemaran air sungai. Sungai -sungai di Beijing nampak bersih dan jernih dengan tanggul dan tepian sungai yang ditata dengan baik dengan taman-taman yang nyaman sehingga menjadi tempat pertemuan dan tempat bersantai warga kota. Saat aku melintas dari bandara menuju hotel, aku melihat banyak orang berusia lanjut yang berjalan-jalan atau duduk di tepian sungai. Aku pun  melihat ada yang sedang memancing. Saat ikan didapat mereka melepas kembali ke sungai. Ada pula yang melepas pakaian dan berenang di sungai  yang mengalir jernih.

Di Beijing masih tersisa bangunan-bangunan perumahan untuk penduduk yang dibangun oleh pemerintah. Bentuknya lebih menyerupai asrama . Ukurannya  lebih kecil dari rumah T 21 yang dibuat oleh Perumnas.  Kamar  mandi dan WC dibuat kolektif. Kini pemerintah Cina sudah membangun perumahan bagi warga berbentuk rumah susun atau apartemen yang disediakan bagi penduduk berdasarkan strata sosialnya.
Di Beijing kami berkesempatan jalan-jalan ke Lapangan Tian An Men (Lapangan Merah) dengan foto Mao Ze Dong berukuran besar di gerbang Istana. Di dekat situ ada musoleum Mao dan kantor pemerintatahan. Pada malam hari lampu-lampu  di sekitar Lapangan Merah sangat indah. Di  Beijing kami mampir ke sebuah pusat pengobatan herbal di sebrang Lapangan Merah yang mempromosikan pengobatan  dengan tujuk jarum, pijat dan ramuan alamiah.

Bukan hanya mengunjungi Lapangan Tian Anmen (Pintu Surga Yang Damai) kamipun pergi ke luar kota Beijing menuju Tembok Besar (Great Wall) yang mulai dibangun  tahun  210 sebelum Masehi oleh Kaisar Dinasti Chin , Shih Huang Ti untuk menahan serangan bangsa Mongol dari Utara. Panjang Tembok Besar  dari barat ke timur sekitar 2.414 km  mungkin hampir sama dengan jarak penerbangan dari Jakarta ke Beijing. Aku mencoba mendaki tangga dari batu untuk mencapai bagian atas tembok yang  didirikan di atas bukit dan merasa takjub akan karya mereka itu. Sebagai kenang-kenangan ada piagam dari terbuat dari kuningan yang ditulisi namaku, menunjukkan bahwa aku pernah berkunjung ke sana pada tanggal 12 Mei 2007. Tentu saja aku harus membayar beberapa yuan (renmimbi) untuk mendapatkannya.
,

Berikutnya insya Allah akan kuceritakan kunjunganku ke Hangzhou, Huangshan, Shanghai.