Jumat, 20 Juli 2018

Pakpuh Sukarno Agen Muda Yang Membelot Pada Republik






Pada suatu kesempatan kami ke Semarang dan berkunjung ke Ngawi. Karena sudah malam akhirnya kami (saya, ibu, anakku Sidiq dan kang Permadi) menginap di sebuah hotel di Sragen. Pada pagi hari mas Yono sepupuku yang tinggal di Bengkulu menelpon dan kami pun bertemu di lobby hotel kemudian bersama-sama ke Ngawi.  Kami menyempatkan berkunjung ke bupuh Karsohutomo di Gendingan sebelum mengunjungi kerabat di Desa Tulakan, Sine. Keesokan harinya kami singgah di rumah mbak Warni di Brambang, Sragen mendoakan kemenakan kami Ary Atnoko yang akan menikah,  sebelum bertolak ke Bandung melalui Solo dan Yogyakarta. 

Di Yogyakarta kami singgah di rumah mbak Ninik sambil menjemput bupuh Arisman yang akan ke Magelang mengunjungi cucunya. Bupuh mengajak kami singgah ke Salam sebuah desa yang sudah masuk wilayah Magelang. Di sana kami berkunjung ke rumah pakpuh Sukar.  Pakpuh Sukar adalah kakak bupuh Aris,   sepupu ibuku. Di Salam pakpuh Sukar tinggal bersama istrinya yang sudah sakit-sakitan. Saat itulah aku sempat ngobrol berdua dengan pakpuh Sukar dan mendengar cerita yang mengejutkan. 

Pakpuh Sukar nama lengkapnya Sukarno, bernama asli Oscar, ayahnya seorang indo Belanda bernama Charles Wendyk.  Ia satu satunya anak laki laki, ketiga saudara kandung seibunya semua perempuan : bupuh Karsohutomo, bupuh Arisman dan bupuh Mulyono. Saudara tirinya – dari istri Charles Wendyk yang lain – yaitu   pakpuh Otto dan tante Charlotte yang dikenal dengan Nyah Lot. Pakpuh Otto meninggal di Tilburg Belanda dan Nyah Lot meninggal di Gendingan dan dimakamkan di Walikukun.

Setahuku pakpuh Sukar pernah bekerja  menjadi supir pribadi orang Tionghwa di Solo dan Wonosobo. Ia pun pernah menjadi supir bus antar kota antara Wonosobo dan Purwokerto. Sampai usia tua ia masih melajang sampai akhirnya ia menikahi seorang janda yang sudah beranak dan kemudian tinggal di Salam. Aku bertemu dengannya beberapa kali saja. Satu dua kali bertemu di rumah bupuh Karsohutomo di Gendingan dan satu dua kali bertemu di rumahnya di Wonosobo dan terakhir ya di Salam itu. Itulah pertemuan kami yang terakhir. Tidak lama kemudian beliau jatuh sakit dan wafat untuk kemudian dimakamkan di Wonosobo di dekat makam pakpuh Arisman.

Pada pertemuan terakhir sebelum wafatnya itu seolah pakpuh Sukar ingin menyampaikan sebuah rahasia yang selama ini dipendamnya. Tiba tiba saja ia berkata bahwa saat masih remaja ia sudah direkrut sebagai agen rahasia tentara Belanda. Menahan rasa terkejutku aku berusaha tidak menampakkan ekpresi apa pun. Seolah ingin meyakinkanku pakpuh menunjukkan semacam tatto di pahanya yang putih, bukan tatto, lebih tepatnya adalah cap yang dihasilkan dari besi panas yang ditempelkan di paha sehingga menyebabkan bekas luka yang abadi. Akupun serta merta mempercayainya karena pakpuh Sukar adalah orang yang setahuku tidak pernah berkata tidak jujur. 

Sebagai agen rahasia Belanda pakpuh yang memiliki ibu orang Jawa ditugasi mencari informasi di kalangan tentara Republik. Tetapi pada suatu ketika pakpuh berbalik menjadi agen rahasia tentara Republik, karena kecintaannya pada tanah airnya atau dibina oleh tentara Republik. Tugas barusebagai agen rahasis tentara Republik di umur semuda tentu   bukan tanpa risiko. Jika diketahui tentara Belanda entah apa yang akan terjadi.Bukan suatu kebetulan jika kedua adik iparnya yaitu pakpuh Arisman dan pakpuh Mulyono adalah veteran. Pakpuh Arisman tentara Siliwangi dan pakpuh Mulyono Tentara Pelajar. Boleh dikatakan keluarga kami adalah keluarga nasionalis. Jika tidak menjadi tentara atau pegawai pemerintah ya menjadi aktivis PNI atau PDI.

Saat bercerita mengenai perannya sebagai agen rahasia di masa remajanya itu pakpuh Sukar tidak menunjukkan ekspresi yang berubah. Biasa saja seperti saat ia bercakap cakap denganku saat aku kecil.  Ia kukenal sebagai orang baik. Ibu dan Titik adikku pernah beberapa bulan tinggal bersamanya di Jl Karangnangka Solo.  Rupanya itu adalah rahasia yang disimpannya selama ini terhadapku dan baru diceritakannya pada saat yang dianggapnya tepat.  Ibu saat itu duduk di sebrang kami, entah mendengar entah tidak, mengenai percakapan kami. 

Karena hari mulai senja kamipun berpamitan meninggalkan pakpuh dan bupuh Sukar. Kami melanjutkan perjalanan ke Magelang ke rumah mas Bowo di Perumahan KORPRI. Saat itu mas Bowo sedang berlayar jadi kami tidak berjumpa dengannya . Setelah beristirahat dan makan malam kamipun berpamitan pada bupuh Arisman dan mbak Nunung untuk melanjutkan perjalanan ke Bandung.  Kami mengambil jalan melalui Purworejo kemudian ke Kebumen, Banjar dan Ciamis. Menjelang pagi kami tiba di Bandung. 

Terus terang kisah pakpuh Sukar ini adalah kisah yang paling dramatis yang kudapat selama mengenal keluarga ibuku.