Bulan Mei 2025 kami ke Nganjuk (Jawa Timur). Malam itu kami berangkat dari Stasiun Kiaracondong dengan menggunakan kereta api Kahuripan. Nyonya, Jeng Wiwin dan saya. Karena pesan ticket mendadak maka kursi kami terpisah.
Nganjuk
Sekitar pukul 11.00 kami tiba di Stasiun Nganjuk. Kami mandi di toilet Stasiun, berganti baju dan menunggu jemputan dari dalam peron. Karena hari Jumat saya menyempatkan salat Jumat di masjid sebuah SMK Muhammadiyah yang terletak di seberang stasiun.
Usai salat Jumat kami berpindah dari stasiun ke depot makanan. Kami pesan mie bakso dan pecel.
Sekitar pukul 13.00 jemputan datang. Jeng Yani diantar oleh supir. Dari Stasiun KA Nganjuk kami menuju ke rumah Mas Dwi sekitar lima kilometer dari stasiun. Mas Dwi menikahkan anaknya yang kedua. Di sana kami bertemu keluarga Mas Samidi dari Surabaya dan Mas Nurul dari Bandung.
Sekitar pukul 14.00 hajatan berlangsung. Setelah memberi ucapan selamat dan doa kepada pengantin, makan minum, dan beramah tamah, kami meninggalkan tempat hajatan menuju Madiun, Ponorogo dan Jogja.
Madiun
Saat meninggalkan kota Nganjuk kami melewati hutan jati sepanjang perjalanan. Matahari perlahan-lahan mulai tenggelam di antara pepohonan jati yang tinggi saat kami tiba di Saradan. Hari mulai malam ketika kami tiba di Caruban, ibukota Kabupaten Madiun. Sekitar pukul 19.00 kami tiba di rumah Mas Fitriyanto. Selain Mas Yanto di sana ada Bupuh Ariesman dan Mbak Warsi bersama seorang cucunya. Mas Yanto membuka usaha laundry sekaligus home industry pembuatan sabun detergent di rumahnya. Setelah melepas rindu kami (saya, nyonya, Jeng Yani dan Jeng Wiwin) berpamitan hendak melanjutkan perjalanan menuju Ponorogo.
Ponorogo
Sekitar pukul 21.00 kami tiba di kota Ponorogo. Kami memarkir mobil di halaman Masjid Agung sambil melaksanakan salat magrib dan isya. Setelah itu kami menikmati pemandangan pusat kota Ponorogo dan berkunjung ke kantor bupati. Dari sana kami menuju pondok pesantren Gontor untuk melihat kegiatan para santri di waktu malam. Setelah itu kami menuju makam Kiyai Ahmad Besari untuk berziarah dan sekaligus ngopi sambil lesehan di halaman an bersama para peziarah lainnya. Setelah itu kami menuju ke kediaman Mas Dony. Setelah mandi dan makan malam kami segera tidur.
Keesokan harinya Mas Dony mengajakku ke tempat gerilya Jenderal Sudirman yang tersembunyi di sebuah dusun di dekat sungai. Setelah melihat-lihat petilasan dan berbincang dengan empunya rumah kami menuju ke sebuah bendungan.
Tiba di rumah kami berpamitan tapi Mas Dony dan Mbak Tika mengajak kami berwisata ke telaga Ngebel di Gunung Wilis. Tempatnya indah seperti telaga Sarangan. Usai salat zuhur kami meninggalkan telaga menuju kota. Aku dan istriku hendak melanjutkan perjalanan ke Jogja.
Sekitar pukul 16.00 kami meninggalkan kota Ponorogo dengan menggunakan minibus. Kami melewati Wonogiri dan istirahat untuk salat magrib dan makan.
Selanjutnya kami melewati Sukoharjo, Klaten dan tiba di Prambanan sekitar pukul 20.00.
Jogja
Dari Prambanan kami langsung menuju Jogja. Mobil yang kami tumpangi mengantar penumpang yang lain kemudian mengantar kami ke Jl. Kubus di Condongcatur yang masuk wilayah Sleman. Mbak Dea dan Kanaya sudah menunggu.
Keesokan harinya kami menuju kampus UIN Sunan Kalijaga untuk menghadiri wisuda TK. Kanaya telah menyelesaikan masa TK nya. Ia tampil dalam beberapa pertunjukan seperti paduan suara dan opera.
Setelah acara wisuda selesai Mas Sandy mengajak kami ke sebuah resto.
Usai acara di Jogja kami berpamitan untuk kembali ke Bandung. Kami naik KA Lodaya.