24 Desember 2025. Pagi itu saya naik KA Pasundan dari Stasiun KA Kiaracondong Bandung. Sendirian. Dalam kereta saya berjumpa Mas Supardi. Sekitar pukul 04.00 saya tiba di Stasiun Lempuyangan. Mas Sandi bersama Kanaya menjemputku. Dari Lempuyangan kami langsung ke Jalan Kaliurang. Ke kedai gudeg Bu Ahmad. Lalu pulang ke rumah di Condongcatur. Saya mandi dan tidur.
Usai melaksanakan salat magrib saya makan nasi gudeg. Gudeg adalah sayur nangka muda yang dikeringkan sampai berwarna kecoklatan. Gudeg diberi varian sayur kerecek dan tempe, santan kental, pindang telur ayam, tempe dan tahu bacem. Sungguh menggugah selera.
Pada sekitar pukul 21.00 kami meninggalkan Jogja menuju Solo dan masuk ke jalan tol untuk keluar di Sragen. Dari Sragen kami memasuki jalan arteri menuju Mantingan dan berhenti di Gendingan. Kami berjumpa Bupuh Ngatirah dan Mbak Yati. Mas Sandi dan Kanaya melanjutkan perjalanan ke Malang. Waktu sekitar pukul 01.00. Saya menginap.
Paginya adalah Hari Natal. 25 Desember 2025. Mbak Yati pergi ke gereja. Setelah sarapan nasi kuning, saya menunggu jemputan.
Sekitar pukul 08.00 Mas Warto datang. Kami mengobrol sebentar di pendopo, lalu saya berpamitan dan ikut membonceng Mas Warto meninggalkan Gendingan, Walikukun sampai tiba di Gedoro.
Setelah mampir sebentar di rumah Mas Warto, kami melanjutkan perjalanan menuju Nglencong, Jagir, Pungkuk, Bantengan, mBulak, Kepanjen dan mampir di rumah Mbak Sunarsi. Mbak Sunarsi sedang ke gereja di Mojorejo. Kami melanjutkan perjalanan mendaki Gunung Warak dan turun di jalan raya Sine-Ngrambe dan tibalah di sebuah kafe di kaki gunung.
Di kafe kawan-kawan alumni SMEA Panti Pamardi Siwi Ngrambe Angkatan 1977 sudah menunggu. Ada Mas Iskandar, Mas Suparman, Mas Saptono, Mas Sugiyono, Mas Suparno, Mas Tri Hartadi , Mas Supardi, Mbak Supari, Mbak Supartini. Setelah lulus tahun 1980 baru kali ini kami reuni kelas.
Selesai kangen-kangenan kami meninggalkan kafe dengan mengendarai mobil Mas Iskandar dan Mas Suparman. Dari Gunung Warak kami menuju Sine di wilayah Jawa Timur lalu menuju Jambean di wilayah Jawa Tengah. Kami berkunjung ke rumah Pak Sunarto, guru kami.
Dari rumah Pak Sunarto kami berkendara melewati bendungan menuju arah Winong dan menyeberang ke Tanggung di wilayah Jawa Timur. Kami melewati Tulakan kembali menuju Sine.
Dari Sine kami menuju Ngrambe berkunjung ke rumah Ibu Mari, guru pendidikan jasmani.
Terakhir kami menuju ke sekolah kami SMEA Panti Pamardi Siwi yang sekarang bernama SMK II PPS. Di sini kami mengambil gambar untuk kenang-kenangan. Dari sekolah kami singgah ke rumah Mas Sutar.
Kami pun berpisah. Saya, Mas Pardi , Mas Parno dan Mas Giyono ikut Mas Parman ke Sine. Dari Sine saya ikut Mas Pardi ke Tulakan dengan mengendarai sepeda motor. Malam itu kami menginap di rumah Mbak Wagiyah.
Keesokan harinya, setelah sarapan kami meninggalkan Tulakan menuju Walikukun dengan mengendarai dua sepeda motor ojeg online. Di Gedoro kami mampir ke Mas Warto untuk berpamitan.
Setelah mengantar Mas Pardi ke Stasiun Walikukun saya melanjutkan perjalanan ke Gendingan. Sebelum itu saya minta diantar ke TPU Kedungprau untuk berziarah ke makam keluarga: nenek dan kakak sepupu, Mas Margono, Mas Sutejo dan Mas Mintarjo.
Selanjutnya driver ojeg mengantarku ke rumah Bupuh Karsohutomo.
Karena hari itu hari Jumat, aku menuju masjid di seberang jalan nasional Solo-Madiun, untuk melaksanakan salat Jumat.