Rabu, 05 Agustus 2026

Berjumpa Pak Rektor Universitas Mandira subang

Pagi itu aku berkendara ke kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Jalan Dr Setiabudi. Di sana sudah ada Kang Lukman, Kang Dadang, Kang Atang, Mas Zainal dan Teh Mimin. Setelah Kang Nurdin datang kami masuki mobil Kang Dadang dan keluar menuju Lembang. Lalu lintas cukup lancar. 

Dari Lembang mobil menuju Subang melalui Tangkuban Perahu dan Ciater melewati perkebunan teh yang asri. 

Sekitar pukul 11.00 kami tiba di kota Subang dan menuju Universitas Mandira di Jalan Sukarno Hatta. Para mahasiswa sibuk dengan kegiatan akademik mereka.

Saat kami tiba, para mahasiswa sibuk dengan kegiatan akademik mereka. Pak Rektor Universitas Mandira bersama Mas Marjito, Ketua STIMIK Bandung sudah menunggu. Kami bersama-sama menaiki tangga ke lantai dua, ke ruang Pak Rektor. Kami biasa memanggilnya Kang Asep. Kami semua melepas rindu. Maklum sejak kami semua menyelesaikan pendidikan di S3 Administrasi Pendidikan UPI, baru kali ini kami bertemu. 

Setelah salat zuhur kami menuju sebuah rumah makan Sunda dengan pemandangan danau buatan. Kami makan siang sambil bercerita mengenai kegiatan masing-masing. Nyaris semuanya masih mengajar di kampus masing-masing. Hanya saya dan Kang Atang yang sudah purna tugas karena usia melewati 65 tahun.

Setelah makan siang kami kembali ke kampus mengantar Pak Rektor, sedangkan kami kembali ke Bandung. 

Hari sudah malam ketika kami tiba di kampus UPI. Dari kampus UPI saya turun ke kota Bandung menikmati pemandangan kota di waktu malam sebelum kembali ke rumah dengan membawa buah tangan berupa buku-buku tulisan Pak Rektor dan bermacam makanan berbahan dasar nanas.

Selasa, 04 Agustus 2026

Jalan-jalan ke Sumedang

Untuk kedua kalinya Jeng Titik mengajak kami jalan-jalan ke Sumedang. Yang pertama untuk menikmati tahu Sumedang. Kali ini ke tempat wisata di pedesaan.

Dari Cileunyi kami memasuki Jalan Tol Cisumdawu dan keluar di kota Sumedang. Setelah melewati alun-alun kami ke luar kota  menyusuri sungai di kiri jalan dan perbukitan di kanan jalan. Setelah berjalan sejauh 7 kilometer tibalah kami di sebuah destinasi wisata berupa aliran sungai yang diapit oleh pesawahan, hutan dan gunung. Airnya sangat jernih mengalir di antara bebatuan. Azkia, Safa, Shasmaka dan Bebeb langsung menceburkan diri dan bermain air hingga waktu magrib tiba. Sementara aku mengambil gambar pemandangan sebanyak-banyaknya.

Setelah mandi dan salat, kami kembali ke kota Sumedang lalu berbelok kiri melewati makam Cut Nya Dien dan berhenti di Restaurant Perahu untuk makan malam.

Usai makan malam kami ke alun-alun dan menikmati pemandangan di kompleks Museum Sumedang. 

Setelah anak-anak puas bermain di pasar malam, kami meninggalkan kota Sumedang kembali ke Bandung.

Selasa, 28 Juli 2026

Kumpul Keluarga Puluhwatu

Ketika itu di tahun 2025, Mas Wasis dan Mbak Ninik sedang tur di Jawa bersama kawan kawannya dari Pekanbaru. Mereka memulai perjalanan dari Riau ke Jawa Timur, Jawa Tengah, Jogja dan Jawa Barat. Setelah itu ke Jakarta dan kemudian kembali ke Riau. 

Senyampang rombongan berada di Bandung, aku dan nyonya menjemput Mas Wasis dan Mbak Ninik di Kampung Daun, Lembang, lebih tepatnya di Parongpong. Menjelang tengah hari dari Kampung Daun kami menuju ke rumah Mas Tarno di Cimahi melewati Cisarua.

Saat tiba di Cimahi hujan deras. Setelah hujan reda kami menuju pemakaman umat Katolik di Cibeber untuk berziarah ke makam Mbak Tatik dan Mas Panji. 

Malamnya kami ke RM Ampera di Jalan Terusan Pasteur, Bandung. Di sana sudah menunggu Anita, Edi dan Bertha. Tidak lama kemudian Jeng Wiwin bergabung bersama Azkia. Kami melepas rindu sambil makan malam dengan pilihan menu makanan Sunda,  sea food dan western. Jadilah ini reuni keluarga Puluhwatu, Klaten.

Sekitar pukul 21.00 kami berpisah. Mas Tarno pulang bersama anak anak, menantu dan cucunya ke Cimahi. Mas Wasis dan Mbak Ninik kembali ke penginapannya di Kampung Daun. Jeng Wiwin pulang bersama Azkia ke Riungbandung. Kami berdua pulang melalui jalan tol Pasteur dan Cipularang. Menjelang tengah malam kami tiba di Cileunyi.

Rabu, 22 Juli 2026

Nganjuk Madiun Ponorogo Jogja

Bulan Mei 2025 kami ke Nganjuk (Jawa Timur). Malam itu kami berangkat dari Stasiun Kiaracondong Bandung dengan menggunakan kereta api Kahuripan. Nyonya, Jeng Wiwin dan saya. Karena pesan ticket mendadak maka kursi kami terpisah.

Nganjuk 

Sekitar pukul 11.00 kami tiba di Stasiun Nganjuk. Kami mandi di toilet Stasiun, berganti baju dan menunggu jemputan dari dalam peron. Karena hari Jumat saya menyempatkan salat Jumat di masjid sebuah SMK Muhammadiyah yang terletak di seberang stasiun.

Usai salat Jumat kami berpindah dari stasiun ke depot makanan. Kami pesan mie bakso dan pecel. 

Sekitar pukul 13.00 jemputan datang. Jeng Yani diantar oleh supir. Dari Stasiun KA Nganjuk kami menuju ke rumah Mas Dwi sekitar lima kilometer dari stasiun. Mas Dwi menikahkan anaknya yang kedua. Di sana kami bertemu keluarga Mas Samidi dari Surabaya dan Mas Nurul dari Bandung. 

Sekitar pukul 14.00 hajatan berlangsung. Setelah memberi ucapan selamat dan doa kepada pengantin, makan minum, dan beramah tamah, kami meninggalkan tempat hajatan menuju Madiun, Ponorogo dan Jogja. 

Madiun

Saat meninggalkan kota Nganjuk kami melewati hutan jati sepanjang perjalanan. Matahari perlahan-lahan mulai tenggelam di antara pepohonan jati yang tinggi saat kami tiba di Saradan. Hari mulai malam ketika kami tiba di Caruban, ibukota Kabupaten Madiun. Sekitar pukul 19.00 kami tiba di rumah Mas Fitriyanto. Selain Mas Yanto di sana  ada Bupuh Ariesman dan Mbak Warsi bersama seorang cucunya. Mas Yanto membuka usaha laundry sekaligus home industry pembuatan sabun detergent di rumahnya. Setelah melepas rindu kami  (saya, nyonya, Jeng Yani dan Jeng Wiwin) berpamitan hendak melanjutkan perjalanan menuju Ponorogo. 

Ponorogo 

Sekitar pukul 21.00 kami tiba di kota Ponorogo. Kami memarkir mobil di halaman Masjid Agung sambil melaksanakan salat magrib dan isya. Setelah itu kami menikmati pemandangan pusat kota Ponorogo dan berkunjung ke kantor bupati. Dari sana kami menuju pondok pesantren Gontor untuk melihat kegiatan para santri di waktu malam. Setelah itu kami menuju makam Kiyai Ahmad Besari untuk berziarah dan sekaligus ngopi sambil lesehan di halaman an bersama para peziarah lainnya. Setelah itu kami menuju ke kediaman Mas Dony. Setelah mandi dan makan malam kami segera tidur.

Keesokan harinya Mas Dony mengajakku ke tempat gerilya Jenderal Sudirman yang tersembunyi di sebuah dusun di dekat sungai. Setelah melihat-lihat petilasan dan berbincang dengan empunya rumah kami menuju ke sebuah bendungan. 

Tiba di rumah kami berpamitan tapi Mas Dony dan Mbak Tika mengajak kami berwisata ke telaga Ngebel di Gunung Wilis. Tempatnya indah seperti telaga Sarangan. Usai salat zuhur kami meninggalkan telaga menuju kota. Aku dan istriku hendak melanjutkan perjalanan ke Jogja. 

Sekitar pukul 16.00 kami meninggalkan kota Ponorogo dengan menggunakan minibus. Kami melewati Wonogiri dan istirahat untuk salat magrib dan makan. 

Selanjutnya kami melewati Sukoharjo, Klaten dan tiba di Prambanan sekitar pukul 20.00. 

Jogja

Dari Prambanan kami langsung menuju Jogja. Mobil yang kami tumpangi mengantar penumpang yang lain kemudian mengantar kami ke Jl. Kubus di Condongcatur yang masuk wilayah Sleman. Mbak Dea dan Kanaya sudah menunggu.

Keesokan harinya kami menuju kampus UIN Sunan Kalijaga untuk menghadiri wisuda TK. Kanaya telah menyelesaikan masa TK nya. Ia tampil dalam beberapa pertunjukan seperti paduan suara dan opera. 

Setelah acara wisuda selesai Mas Sandy mengajak kami ke sebuah resto.

Mungkin karena lelah setelah tampil di acara wisuda, tubuh Kanaya panas. Keesokan harinya kami ke Jogja International Hospital di Jl. Lingkar Luar Utara. Masih di kawasan Condongcatur. 

Usai acara di Jogja kami berpamitan untuk kembali ke Bandung. Kami naik KA Lodaya yang berangkat malam hari dari Stasiun Tugu. Kami tiba di Bandung pagi hari.



Minggu, 26 April 2026

Kuliah Umum di Program Pascasarjana UM Metro

Bulan November 2024. Ketua Prodi menyampaikan undangan dari Direktur agar aku memberi kuliah umum. 

Pagi itu kami berangkat ke Jakarta dari Bandung. Kebetulan Mbak Dea hendak kembali ke Yogyakarta dan Mas Sidiq mengantar Shasmaka ke Jakarta dengan meeting point di Bandara Sukarno Hatta. Sementara itu aku terbang ke Bandar Lampung. 

Saat tiba di bandara aku dijemput staf dari kampus dan dengan menggunakan mobil dinas kampus aku tiba di Metro. Sambil menunggu waktu untuk memberikan kuliah umum aku diantar ke kediaman Pak Achyani, Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Metro. Baru setelah itu aku diantar ke kampus.

Ketika tiba di kampus, ada sedikit acara pelepasanku sebagai dosen, maklum usiaku memasuki 65 tahun. Ada sambutan dari Ibu Kaprodi Program Magister Administrasi Pendidikan, dari Bapak Direktur Pascasarjana dan Bapak Rektor Universitas Muhammadiyah Metro. Terakhir penyerahan SK dari Yayasan. Setelah itu kami makan siang bersama. 

Setelah acara pelepasan selesai, kami beranjak menuju gedung Fakultas Kedokteran. Sebelum itu Pak Direktur mengajak melihat-lihat usaha agribisnis dari program studi magister pendidikan biologi berupa pembuatan pupuk organik dan penyediaan benih unggul tanaman holtikultura.

Akhirnya tibalah saatnya aku memberikan kuliah kepada para mahasiswa program studi magister Administrasi Pendidikan. Ini adalah kuliah terakhir atau kuliah perpisahan yang kuberikan di program Pascasarjana UM Metro. Kuliah yang kusampaikan adalah tentang sejarah pendidikan di Indonesia sejak masa kolonial hingga saat ini. Setelah kuliah ada waktu untuk diskusi sampai waktu salat asar tiba.

Setelah salat asar aku meninggalkan kampus diantar oleh Pak Achyani menuju sebuah restoran. Kami makan berempat : Pak Achyani, Pak Ichsan, Ibu Kaprodi dan aku. 

Setelah salat magrib aku diantar Pak Achyani dan Pak Ichsan ke pol bus Damri. Malam itu aku meninggalkan Metro menuju Bandar Lampung. Dari Bandar Lampung menuju Pelabuhan Bakaheuni. Bus memasuki kapal roro untuk menyeberangi Selat Sunda menuju Merak. Dari Merak bus menuju Jakarta lalu menuju Bandung. Saat subuh bus tiba di Bandung.

Jumat, 27 Maret 2026

Serah Terima Jabatan Ketua

Bulan Agustus 2024 menjadi bulan terakhir saya menjadi Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung. Saya masih sempat memimpin upacara peringatan hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-79 di halaman sekretariat DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung di Jalan Jaksa Naranata No. 10 Baleendah. 

Suatu hari masih di bulan Agustus 2024 DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung bertemu DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat di Jalan Pelajar Pejuang 45. Pertemuan ini menandai penyerahan jabatan Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung dari saya kepada Teh Nia Purnakania. Dengan demikian berakhirlah kepemimpinan saya selama lima tahun sejak tahun 2019.

Ada satu amanat dari DPP PDI Perjuangan yang belum bisa kami tunaikan yaitu serah terima kepemilikan sekretariat partai kepada DPP PDI Perjuangan.

Setelah serah terima jabatan saya pulang ke rumah melewati Jalan Pelajar Pejuang, Jalan Martanegara, Jalan Sukarno Hatta dan Jalan A.H. Nasution.

Serah Terima Otorisasi Keuangan

Seminggu kemudian Kang Dentarsa dan Kang Yayan mengajak bertemu di RM Ampera di Jalan Raya Cinunuk untuk makan siang sambil menyelesaikan urusan administrasi keuangan. Saya menandatangani beberapa lembar pernyataan serah terima kuasa keuangan kepada Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung yang baru.

Rabu, 18 Maret 2026

Kembali ke Cirebon

Hari Rabu 26 Juni 2024. Siang itu Kang Luthfi menjemputku. Dari Cileunyi kami memasuki jalan tol Cisumdawu dan keluar di Sumedang untuk makan siang. Di sana sudah berkumpul kawan kawan Fraksi PDI Perjuangan dan dua calon anggota DPRD Kabupaten Bandung, Teh Angie dan Kang Pironi. Ini boleh dibilang the last supper, karena anggota DPRD Kabupaten Bandung dari Fraksi PDI Perjuangan akan berakhir masa kerjanya di bulan Agustus. Setelah makan, kami kembali memasuki jalan tol Cisumdawu menuju Cirebon. 

Sekitar pukul 16.00 kami tiba di Hotel Aston di Jalan Brigjen Dharsono Cirebon. Saya segera memasuki hotel untuk check in. Kawan kawan Fraksi mengikuti bimtek dan sedangkan saya akan mengikuti Rakerda V PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat keesokan harinya. 

Kamis 27 Juni 2024. Saya bangun di pagi hari, mandi dan sarapan. Dari jendela kamar hotel di lantai sekian saya melihat pemandangan kota Cirebon di pagi hari. Gunung Ciremai nampak anggun di kejauhan.

Rakerda berjalan setengah hari. Keputusannya salah satunya adalah menetapkan Ono Surono sebagai balon Gubernur Jawa Barat. 

Setelah check out, Kang Hen Hen, Kang Pironi, Teh Anggie, Kang Yayan dan saya menyempatkan diri makan siang di Nasi Jamblang Pelabuhan. Dari sini kami berpisah. Saya dan Kang Henhen ikut mobil Kang Pironi kembali ke Bandung. Sebelum itu kami menyempatkan diri mencari oleh oleh makanan khas kota Cirebon seperti sirup Campolay dan tahu gejrot di sekitar keraton Kanoman.