Sabtu, 07 Mei 2011

Duta Batik




Batik



















SEKELOMPOK mahasiswa Bandung tanpa menyadari telah mempromosikan batik ke pelbagai negara jauh sebelum orang-orang mengalami euphoria dengan batik, sebelum ramai berita mengenai masuknya batik Cina, sebelum batik dijadikan warisan budaya tak benda oleh Unesco. Tanpa disadari mereka itu telah menjadi duta batik di kedutaan-kedutaan besar negara asing di Jakarta.

Ketika itu medio tahun 1980-an. Beberapa mahasiswa FISIP Unpas berangkat ke Jakarta dengan maksud mendatangi kedutaan-kedutaan besar negara asing dan perwakilan PBB agar mereka berpartisipasi dalam Pameran Perdamaian Dunia yang mereka selenggarakan. Mereka itu : Bono, Wahyu, Rizal, Bob, Abu, Tedi dan aku.

Base camp kami adalah sebuah rumah di Pamulang milik kakaknya Bono. Di situlah kami menyiapkan segala sesuatunya. Modal kami dari Bandung hanya mesin ketik manual, kertas dan amplop surat berlogo Senat Mahasiswa FISIP Unpas. Kami akan menjumpai para diplomat dari pelbagai kedutaan. Maka kamipun merancang segala sesuatu sebagai strategi, termasuk dress code. Kami memutuskan menggunakan baju batik, yang memang sudah kami siapkan dari Bandung.

Keesokan harinya dengan berbusana batik, kamipun berangkat meninggalkan Pamulang dengan menggunakan mobil impala tua pinjaman. Tujuan pertama kami ke kantor Menpora. Berhasil. Baru sampai di Jalan Thamrin mobil pun mogok. Ramai-ramai kami dorong masuk ke halaman Astra, dealer mobil Jepang. Bono mengutak-atik mesin, jreng… mobilpun bisa berjalan kembali. Berturut-turut kami ke UNIC : United Nation Information Centre; Kedubes-kedubes : AS, US, Jepang, Perancis, Jerman dan bertemu Dirjen ….Deparlu. Everything is running well.



Perserikatan Bangsa-Bangsa





The network of United Nations information centres (UNICs), services (UNIS) and offices (UNOs) links the Headquarters with people around the world. Located in over 60 countries, these field offices of the Department of Public Information help local communities obtain up-to-date information on the Organization and its activities. Children in remote villages of Myanmar, for example, were able to learn about the United Nations because UNIC Yangon distributed United Nations educational kits for use in community schools. Journalists from Mexico City and the Caribbean were able to add their voice to the call of the international community to do more to help solve the world drug problem because UNIC Mexico City linked them by teleconference to the head of the United Nations International Drug Control Programme based in Vienna. In such ways, UNICs help people everywhere to be heard and to understand better what the United Nations is doing to make a difference in their lives.


Setiap kedutaan memiliki kekhasan masing-masing. Kedutaan Jepang kental dengan nuansa teknologinya. Begitu kami culang-cileung di pintu gerbang tinggi dari besi yang tak ada penjaganya, pintupun bergeser dan membuka secara otomotis. Kamipun masuk. Jepang memberikan komitmennya. Sesudah itu kami ke kedubes AS di Jalan Merdeka Selatan. ketika itu belum diberi pagar kawat berduri seperti sekarang, tapi arogansinya memang terasa. Seorang marinir tinggi besar berkulit hitam dengan tatapan dingin menegur kami. Kami dan surat-surat pun harus dideteksi dengan detector logam. Setelah clear, kamipun diterima diajak ke USIS (United States Information Service). Segala macam bahan pameran disiapkan. Dari sana kami ke Kedutaan Besar Uni Sovyet tapi disarankan supaya kami ke Pusat Kebudayaan US di daerah Menteng. Orang-orang di sana sederhana, ramah, melayani secara personal dan uniknya merekapun memakai batik seperti kami. Informasi mengenai perkembangan Islam di Uni Sovyet banyak kami dapatkan dan cukup mengejutkan kami. Yang membuat kami terperangah, mereka itu fasih berbahasa Indonesia dan paham betul kondisi kota Bandung. (sayang Uni Sovyet harus bubar jalan). Kedutaan Perancis juga menerima kami dengan ramah serta memberi pelbagai buku mengenai kebudayaan dan seni dengan kualitas yang terbaik yang pernah kami lihat. Maka bagasi mobil kamipun penuh dengan pelbagai bahan untuk pameran.

Dengan perasaan lega kamipun menuju Tebet tepatnya ke Jalan Minangkabau, ke rumah Rizal untuk sholat dan makan siang gratis. Sebagai orang Padang keluarga Rizal punya menu andalan special : rendang. Kamipun dikenalkan dengan saudara-saudaranya. Hmm cantik-cantik…. Bapaknya Datuk bla-bla-bla adalah kepala suku yang dihormati oleh komunitasnya. Ia pun seorang mubaligh meski sehari-hari sibuk berbisnis tekstil di Pasar Rumput.

Setelah segala sesuatu urusan di Jakarta selesai, para duta batik kembali ke Bandung dengan menggunakan bus. Baju batik pun dilipat dalam tas. Dua puluh tahun kemudian batik diakui dunia sebagai warisan budaya.

Indonesian batik (From Wikipedia, the free encyclopedia)

Batik (Javanese pronunciation: [ˈbateʔ]; Indonesian: [ˈbatɪʔ]; English: /ˈbætɪk/ or /bəˈtiːk/) is a cloth that traditionally uses a manual wax-resist dyeing technique. Batik or fabrics with the traditional batik patterns are found in Indonesia, Malaysia, Japan, China, Azerbaijan, India, Sri Lanka, Egypt, Nigeria, Senegal, andSingapore.
Javanese traditional batik, especially from Yogyakarta and Surakarta, has notable meanings rooted to the Javanese conceptualization of the universe. Traditional colours include indigo, dark brown, and white, which represent the three major Hindu Gods (Brahmā, Visnu, and Śiva). This is related to the fact that natural dyes are most commonly available in indigo and brown. Certain patterns can only be worn by nobility; traditionally, wider stripes or wavy lines of greater width indicated higher rank. Consequently, during Javanese ceremonies, one could determine the royal lineage of a person by the cloth he or she was wearing.

Other regions of Indonesia have their own unique patterns that normally take themes from everyday lives, incorporating patterns such as flowers, nature, animals, folklore or people. The colours of pesisir batik, from the coastal cities of northern Java, is especially vibrant, and it absorbs influence from the Javanese, Arab, Chinese and Dutch cultures. In the colonial times pesisir batik was a favourite of the Peranakan Chinese, Dutch andEurasians.[citation needed]
UNESCO designated Indonesian batik as a Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity on October 2, 2009. As part of the acknowledgment, UNESCO insisted that Indonesia preserve their heritage.[1]

Kamis, 05 Mei 2011

Pak Cecep



Gedung Merdeka















PERKENALANKU dengan Pak Cecep secara intens dimulai sejak berdiskusi dalam suatu seminar yang diselenggarakan di Gedung Merdeka. Ketika itu aku – seperti halnya mahasiswa lain yang kritis—melakukan kritik terhadap budaya politik Orde Baru dalam melakukan pembinaan pemuda dengan cara mengkooptasi KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia). Point nya adalah bahwa KNPI telah menjadi alat bagi kekuasaan antara lain dengan menempatkan orang-orangnya sebagai pengurus dari tingkat nasional hingga daerah. Pemuda tidak lagi mencerminkan semangat kepemudaan atau pembaharuan karena lebih mengutamakan kelanggengan kekuasaan yang mengakibatkan para pengurus KNPI pada umumnya adalah bagian dari kekuasaan. Usia mereka pun tidak lagi muda karena umur empatpuluh tahun pun bisa menjadi pengurus KNPI. Itulah yang kukritik dari KNPI yang kebetulan salah seorang pengurusnya adalah Pak Cecep. Akibat kritik ini maka seorang intel mengajakku ngobrol ketika rehat. Cukuplah bagiku untuk mengetahui bahwa rejim tidak berkenan dengan kritik yang kusampaikan.

Nama lengkap Pak Cecep adalah Cecep Syarifudin, lulusan jurusan hubungan internasional fakultas sosial politik UGM, yang mengajar dan menduduki jabatan penting di Universitas Pasundan serta Paguyuban Pasundan. Dia adalah seorang anak kiai di Bogor yang kemudian menjadi menantu KH Prof Dr Musadad—ulama kharismatis dari Garut, karena Pak Cecep menikahi putrinya yang bernama Ummu Salamah. Aku tidak pernah membayangkan bahwa orang yang pernah kukritik itu pada suatu saat menjadi orang yang mendukung aktifitasku di kampus.

Pada saat PBB menyelenggarakan pawai obor perdamaian keliling dunia, aku dan kawan-kawan menyelenggarakan Pameran Perdamaian Dunia di Lengkong Besar 68. Ketika itu Dekan dan para dosen di FISIP Unpas tidak memberikan dukungan bagi terselenggaranya kegiatan. Pak Cecep setelah membaca berita rencana acara tersebut di koran Pikiran Rakyat dan Prioritas kemudian mengatakan padaku bahwa dia mendukung kegiatan itu. Diapun menyalahkan Dekan dan para pengajar FISIP. Sejak saat itu dia memantau perkembangan dan setelah tahu bahwa Departemen Luar Negri dan Menpora memberikan dukungan padaku maka dia sendiri yang mengantarku ke Jakarta dengan menggunakan Garuda dari Bandung. Aku dipertemukan dengan seorang diplomat Deparlu di Kebayoran, Dr Johan Syahperi . Dr Johan adalah diplomat yang aktif di dunia kepemudaan dan menjadi Ketua Asian Youth Council. Dia ternyata lulusan Universitas Parahyangan Bandung. Dalam pertemuan itu dia menyatakan bersedia untuk datang dalam seminar yang kami selenggarakan dan akan berbagi pengalaman mengenai peran pemuda dalam perdamaian internasional.

Pameran Perdamaian Dunia itupun terselenggara dengan segala keterbatasannya. Prof Muchtar Affandi yang menjadi rector saat itu pun hadir. Pak Cecep hanya memantau dari jauh dan mengatakan padaku agar aku mengerahkan pendukung-pendukungku untuk mensukseskan acara tersebut, karena dia tahu sebagian mahasiswa dan dosen memboikot acara tersebut. Alhamdulillah pameran yang terselenggara beberapa hari itu berjalan lancar dan sukses. Beberapa negara –termasuk negara super power ketika itu seperti AS dan US—memberikan dukungan berupa material pameran seperti buku-buku, poster dan film.

Pak Cecep kemudian tidak lagi aktif di kampus karena sibuk dengan kegiatan politiknya menjadi anggota DPR/MPR, dan menjadi pengurus PBNU. Ummu Salamah istrinya menjadi Ketua Jurusan Kesejahteraan Sosial sehingga akupun sering berinteraksi dalam kegiatan akademis. Pada saat kongres pendidikan pekerjaan sosial se-Asia dan Pasifik, ibu Ummu dan pak Fachrurozi sebagai pengajar serta dua orang mahasiswa yaitu aku dan Abu Hurairah ditugaskan kampus untuk mengikuti kegiatan tersebut. Setelah itu lama aku tidak bertemu dengan Pak Cecep. Belakangan aku mendengar berita tak sedap mengenai gelar Doktor Pak Cecep tapi hal itu tidak menghilangkan penghargaanku padanya karena dia adalah orang yang membantuku di saat-saat sulit, dan bukankah seorang sahabat ada untuk itu ?



Gedung DPR/MPR







Suatu saat aku bertemu Pak Cecep dalam sebuah resepsi pernikahan seorang dosen. MC di acara tersebut mengucapkan selamat datang padaku sebagai “calon bupati Bandung”. Pak Cecep tersenyum saat kami berpisah sebelum meninggalkan tempat resepsi dan mengatakan “semoga sukses”.

Seingatku aku bertemu Pak Cecep terakhir kali di RSHS, saat kami sama-sama melakukan general check-up sebagai salah satu syarat menjadi Caleg. Untuk kesekian kali Pak Cecep masuk Senayan, kali ini dari PKB. Ketika PKB terbelah ke dalam faksi Gus Dur dan faksi Muhaimin, Pak Cecep memilih bergabung dengan Muhaimin Iskandar.
Kini Pak Cecep telah berpulang ke rahmat Allah. Meskipun demikian Pak Cecep—nama panggilan KH Prof Dr Cecep Syarifudin –tetap hidup dalam kenanganku. Orang Jawa mengatakan “mikul duwur mendem jero”. Hanya yang baik-baik lah yang perlu dikenang.

Selasa, 03 Mei 2011

Seminar Pekerjaan Sosial Internasional













SEKITAR tahun 1987, Ibu Ummu Salamah Ketua Jurusan Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pasundan (Unpas) menugaskanku dan adik kelasku Abu Hurairah untuk mengikuti seminar dan kongres Asia and Pacific Social Work Education di Jakarta. Kamipun berangkat ke sana berempat : Ibu Ummu, pak Fahrurozi, Abu dan aku, dengan Surat Perintah Jalan dari Pembantu Dekan Bidang Akademik , pak Soleh Suryadi. Dengan SPJ itu aku dan abu diberi biaya perjalanan sekitar Rp 75.000,00.

The Asian and Pacific Association for Social Work Education(APASWE), is a non-profit and non-sectarian organization for schools of social work in the Asia-Pacific region. With a membership exceeding 200 (mostly drawn from educational institutions), APASWE promotes academic and professional standards of social work education and facilitates inter-school cooperation and collaboration in the region.


Seminar diadakan di Hotel Kemang Jakarta, diikuti lembaga kesejateraan sosial, perguruan tinggi maupun perorangan dari negara-negara Asia Pasifik seperti Jepang, AS, Australia, Hongkong, Singapura, Malaysia, Thailand, Selandia Baru, Filipina, Fiji bahkan India dan negara-negara teluk. Itu adalah pengalamanku mengikuti seminar internasional yang pertama. Kongres dibuka oleh Menteri Sosial, Sudarsono dengan keynote speaker ketua dari Emil Salim, Alamsyar Ratu Perwiranegara dan beberapa pejabat lainnya. Siti Hardianti Rukmana ketika itu bertindak sebagai tuan rumah dalam acara welcoming dan farewell party karena posisinya sebagai ketua umum Pekerja Sosial Seluruh Indonesia.




Emil Salim





Dr Emil Salim, is a graduate in engineering and economics. Received Ph D degree from University of California, Berkley. After became Minister of State for Administrative Reform in 1971 at the age of 41, Dr Emil Salim served four terms in ministerial positions in Indonesia for 22 years, including the first minister of the Environment. Dr Emil Salim from early on addressed the environmental problems in the developing nations region in Asia, and as the chairman of the ASEAN Environment Ministerial Congress set the target, the scope, the programme and the action plan for the ASEAN nations to cooperate in the environment area. He also contributed in establishing the concept of sustainable development and furthering global environmental policies through various United Nations’ committees. He currently serves as President’s Council of Advisors, Indonesia.



Beberapa hal yang dibahas pada kongres dan seminar Apaswe adalah mengenai teori-teori dan praktik pekerjaan sosial serta kebijakan pemerintah berkaitan masalah-masalah kesejahteraan sosial di samping memformulasikan peran perguruan tinggi menghadapi kecenderungan global masalah-masalah kesejahteraan sosial. Para peserta kongres juga diberi kesempatan untuk mengikuti kegiatan kelompok dalam bentuk field trip ke obyek-obyek pelayanan sosial di sekitar Jakarta. Aku ikut field trip ke Yayasan Sayap Ibu yang menyantuni anak-anak yang kurang beruntung karena tidak memperoleh perawatan orangtuanya disebabkan karena kemiskinan atau masalah-masalah lainnya. Adapula acara promosi pariwisata kota Jakarta dalam bentuk sightseeing ke obyek-obyek wisata seperti Taman Impian Jakarta dan Monumen Nasional yang mendekatkanku pada seorang pekerja sosial dari Sidney, Australia yang nama bernama belakang Jones. Seorang professor dari Universitas Nagoya, Mitsuko Kojima nampaknya terkesan dengan kemampuanku menenangkan seorang anak penyandang cerebral palsy (radang otak) ketika melakukan field trip ke Yayasan Sayap Ibu. Kedua orang itu kemudian menjadi teman berkorenspondensi untuk beberapa lama.



Pantai Ancol












Panitia memberi kesempatan pula untuk para mahasiswa jurusan kesejahteraan sosial dari pelbagai perguruaan tinggi Indonesia melakukan “kongres” . hasil dari kongres itu adalah rekomendari agar kami membuat sebuah organisasi tingkat nasional . Beberapa waktu kemudian kami membentuk organisasi mahasiswa bernama Ikatan Mahasiswa Profesi Pekerjaan Sosial Indonesia (IMPPSI) di Bandung, dengan Ketua Umum Syafri dari STKS, Sekretaris Jendralnya adalah Marike dari Universitas Padjadjaran dan aku sebagai Ketua I Bidang Organisasi. Aku sempat mengikuti pertemuan tingkat nasional di Yogyakarta sebelum lulus kuliah. Selanjutnya Abu Hurairah dan teman-temannya yang melanjutkan organisasi tersebut.

Professor Mitsuko Kojima, memberi kesempatan padaku untuk mengikuti pendidikan pascasarjana di Jepang. Karena itu setiap bulan dia mengirimiku yen untuk biaya kursus bahasa Jepang. Dia menyiapkan cottage di rumahnya untuk tempat tinggalku kelak. Selain itu dia pun berbaik hati mengenalkanku dengan seorang mahasiswa pascarjana yang akan membantuk di sana. Aku sempat mengikuti kursus di Pusat Kebudayaan Jepang di jalan Purnawarman untuk sekitar setahun lamanya. Pusat Kebudayaan Jepang tersebut kini telah rata dengan tanah dan di atasnya dijadikan pusat penjualan alat-alat elektronik seperti computer, mobile phone dan peralatan audiovisual. Aku sempat menyiapkan paspor untuk berangkat ke Jepang, tapi kemudian keberangkatanku itu batal karena profesor pension dini karena kematian ibunya. Bahasa Jepang yang kupelajari pun pelan-pelan menghilang dari ingatan kecuali ucapan “arigato gozaimasu” yang artinya terima kasih.

Senin, 02 Mei 2011

Samarinda



Mesjid di Tepi Sungai Mahakam










PENGALAMAN menyebrang ke Pulau Kalimantan terjadi tahun 1986. Ketika itu GMNI mengadakan kongres di Samarinda. Aku diajak oleh Yayat Sumitra yang menjadi ketua GMNI Kota Bandung untuk ikut ke kongres sebagai peninjau.

Seingatku kami dari Bandung menginap terlebih dahulu di Jakarta. Aku lupa apakah di rumah Sudirman Kadir atau Kristiya Kartika. Keesokan harinya kami berangkat dari Jakarta menuju Balikpapan dengan menggunakan pesawat Bouraq dengan transit terlebih dahulu di bandara Syamsudin Noor Banjarmasin sekitar 15 atau 30 menit. Dengan demikian kota Banjarmasin adalah kota pertama yang kuinjak di Kalimantan. Sebenarnya tidak tepat benar dikatakan sebagai Banjarmasin, karena belakangan aku tahu bahwa bandara berada di kota Banjarbaru, setengah jam perjalanan dari Banjarmasin, ibukota Kalimantan Selatan . Dari bandara Syamsudin Noor kami melanjutkan perjalanan ke Balikpapan. Untuk mencapai Samarinda yang merupakan ibukota Kalimantan Timur, ada dua cara, menggunakan pesawat terbang atau menggunakan bus. Ketika itu kami menggunakan pesawat Twin Otter yang lebih mirip seperti perahu terbang karena ukurannya kecil sehingga di dalam pesawat tidak ada sela-sela di tengah pesawat tempat orang lewat. Pesawatpun tidak bisa terlalu tinggi naik ke udara, sehingga nampak seperti di atas ketinggian pohon kelapa. Perbedaan tekanan udara sekecil apapun terasa oleh penumpang, turbulensi menyebabkanku seperti naik komidi putar ombak banyu. Menjelang tengah hari kami sampai di Samarinda. Suasananya lebih mirip di terminal bus ketimbang bandara. Di sinilah aku benar-benar merasakan adanya ketimpangan pembangunan antara Jawa dan luar Jawa.

Sungai adalah jantung kota Samarinda. Kehidupan berputar di sungai Mahakam. Ketika itu belum ada jembatan yang menghubungan bagian kota yang satu dengan bagian yang lain sehingga perahu bermotor merupakan sarana satu-satunya bagi penduduk kota untuk bergerak dari satu tepian ke tepian lainnya. Aku senang berada di tepian sungai yang begitu besar dan deras arusnya itu, menyaksikan hiruk pikuk kehidupan di sungai. Kapal-kapal besar menarik tongkang berisi kayu gelondongan atau batubara. Di sebrang sana orang-orang Bugis menenun sarung yang dikenal dengan sebutan sarung Samarinda.
Samarinda memiliki budaya yang sangat kaya, karena terbentuk dari perpaduan budaya pelbagai suku seperti Daya, Melayu, Bugis, Jawa, Cina dan suku-suku lain. Daya pun memiliki pelbagai sub budaya yang masing-masing memiliki kekhasan. Sayangnya suku Daya memang mengalami masalah dengan kebudayaan mereka karena habitat tempat mereka hidup terganggu oleh eksploitasi dari para pengusaha yang tidak memiliki wawasan luas mengenai kehidupan.

Kongres GMNI dibuka di Lamin Etam, yaitu kantor Gubernur Kaltim. Lamin Etam adalah bahasa Daya yang berarti Rumah Kita. Setelah pembukaan kami kembali ke sebuah Rumah Panti Asuhan tempat Kongres diselenggarakan. Panti Asuhan itu juga sekaligus tempat kami menginap selama kami di Samarinda. Di panti asuhan yang hampir 90% bangunannya terbuat dari kayu itu kami berkumpul dengan para mahasiswa dari seluruh kampus dari seluruh Indonesia. Kongres berjalan beberapa hari dari pagi hingga tengah malam, yang selain membicarakan masalah organisasi juga membicarakan masalah politik dan ideology. Ideology yang dibahas tentunya adalah ideology Pancasila karena sejak tahun 1985 semua organisasi kemasyarakatan dan organisasi politik di Indonesia diharuskan menggunakan asas tunggal yaitu Pancasila. Pembicara mengenai Pancasila datang dari Depdagri. Kongres berakhir dengan memilih ketua formatur untuk presidium yaitu Kristiya Kartika, tapi nama-nama presidium ditentukan kemudian di Jakarta.

Di sela-sela kongres kami melihat industry di Samarinda. Pabrik-pabrik pengelohan kayu yang memproses kayu menjadi plywood bertebaran di sepanjang sungai. Sebuah kayu berdiamater satu atau dua meter bisa habis dikupas dalam beberapa menit saja. Tidak heran jika kayu di hutan Kalimantan bekurang dengan deret ukur. Pembangunan ketika itu belum menyadari arti penting menjaga ekosistem, sehingga hutan dibabat dengan cepat untuk alasan ekonomi semata-mata. Itulah dosa-dosa Orde Baru di bidang lingkunga hidup yang tak mungkin bisa dimaafkan.

Kamipun menyempatkan waktu pergi menyusuri sungai Mahakam kearah hulu, ke kerajaan Kutai Kertanegara yang berada di Tenggarong. Istananya berada di tepi sungai Mahakam. Ini bukanlah Kutai Hindu yang berdiri di abad ke-empat, tapi Kutai modern yang Islam. Istananya bergaya Eropa, masih nampak megah hingga saat itu. Di belakang keraton terdapat pemakaman raja-raja Kutai lengkap dengan silsilahnya. Koleksi istana masih cukup lengkap sehingga dijadikan museum. Belakangan raja Kutai dinobatkan kembali sebagai upaya memelihara warisan sejarah dan budaya Kutai.

Peristiwa yang tak dapat kulupakan adalah adanya kebakaran besar di Samarinda ketika itu. Kebakaran terjadi di malam hari dan melumatkan rumah-rumah kayu dengan lahapnya. Sebagai daerah produsen kayu hutan maka rumah-rumah di Samarinda pada umumnya memang terbuat dari kayu kualitas terbaik. Kayu-kayu itu dipancangkan di tepi-tepi sungai karena penduduk di sana hidup di pinggiran sungai. Kayu besi namanya, semakin lama berada di air sungai semakin kuat saja. Tapi api adalah lawan yang tangguh. Kebakaranpun membumihanguskan bangunan-bangunan indah kota Samarinda.

Ketika itu ada karya arsitektur di kota Samarinda yang memperoleh Agha Khan Award yaitu Citra Niaga yang merupakan pasar modern di Samarinda. Arsiteknya orang Indonesia. Sayang Citra Niaga pun mengalami kebakaran. Itu menunjukkan bahwa kota Samarinda, seperti halnya kota-kota lain di Indonesia belum memperhatikan unsur keselamatan. Sarana pemadam kebakaran sangat terbatas. Hidran di tepi jalan kadangkala tidak berfungsi.

Kini Samarinda telah memiliki dua buah jembatan di atas sungai Mahakam. Selain itu juga memiliki kompleks gelanggang olah raga yang luas dan megah dengan stadion utama yang cukup modern. GOR tersebut terletak di luar kota, dibangun di antara bukit-bukit batubara muda. Ketika GOR dibangun aku sempat kesana, ketika itu Samarinda menyiapkan diri untuk melaksanakan PON.

Aku sempat bertanya mengenai arti Samarinda. Seorang pemandu mengatakan Samarinda berasal dari kata samar dan indah. Ya memang keindahan kota nampak samar-samar indah jika kita lihat dari sebrang sungai Mahakam. namun ada pula yang mengatakan samarinda adalah berkaitan dengan rumah kediaman orang Bugis yang sama rendah, seperti termuat pada tulisan di wikipedia the free encyclopedia berikut ini :

Samarinda
From Wikipedia, the free encyclopedia

Samarinda is the capital of the Indonesian province of East Kalimantan (Kalimantan Timur) on the island of Borneo. The city lies on the banks of the Mahakam River. As well as being the capital, Samarinda is also the most populous city in East Kalimantan with a population of 726.223. Although it has status as the capital of East Kalimantan Province, some government institutions are located in Balikpapan, such as Police, Indonesian Army District VI of Tanjung Pura, and Pelabuhan Indonesia (Port Transportation). Samarinda is known for its traditional food amplang, as well as the cloth sarung samarinda. The city also has a bridge connecting its river banks, Mahakam Bridge. The city center is on one side and the other side is named Samarinda Seberang.

The name Samarinda originates from the description of the way in which the Bugis houses were constructed. At that time houses were customarily built on a raft and generally had the same height. This provided important social symbolism of equality between residents; no person's house, and thus no person, was seen as higher or lower than another. They named the settlement 'Samarenda', meaning 'equal in height'. After hundreds of years of use the pronunciation of the name changed slightly and the city became known as Samarinda.

History
When the Gowa War began, the Dutch under Admiral Speelman's command attacked Makassar from the sea. Meanwhile, the Netherlands' local ally Arung Palaka led a ground attack. The Kingdom of Gowa was forced to surrender and Sultan Hassanudin made to sign the Bongaya Treaty on November 19, 1667.

The treaty did not quell all trouble for the Dutch however, since the Bugis from Gowa continued their struggle using guerilla tactics. Some Buginese moved to other islands close by such as Kalimantan. A few thousand people led by Lamohang Daeng Mangkona or Pua Ado I, moved to East Kalimantan, known then as Kutai, where they were welcomed by the local Sultan.

The Sultan of Kutai gave the migrants land in Kampung Melantai around the Karang Mumus River, now known as Kampung Selili, where established farms and fisheries. In payment, the Bugis people promised to help the Sultan defend Kutai whenever needed.
The arrival of the first Bugis on 21 January 1668 was chosen to mark the city's anniversary.

In 1955, the Apostolic Vicariate of Samarinda was established in the city. In 1961, it was promoted as the Diocese of Samarinda. In 2003, the diocese was promoted as the Metropolitan Archdiocese of Samarinda.

The name Samarinda originates from the description of the way in which the Bugis houses were constructed. At that time houses were customarily built on a raft and generally had the same height. This provided important social symbolism of equality between residents; no person's house, and thus no person, was seen as higher or lower than another. They named the settlement 'Samarenda', meaning 'equal in height'. After hundreds of years of use the pronunciation of the name changed slightly and the city became known as Samarinda.