Sabtu, 08 Agustus 2026

Setelah 45 Tahun

24 Desember 2025. Pagi itu saya naik KA Pasundan dari Stasiun KA Kiaracondong Bandung. Sendirian. Dalam kereta saya berjumpa Mas Supardi. Sekitar pukul 04.00 saya tiba di Stasiun Lempuyangan. Mas Sandi bersama Kanaya menjemputku. Dari Lempuyangan kami langsung ke Jalan Kaliurang. Ke kedai gudeg Bu Ahmad. Lalu pulang ke rumah di Condongcatur. Saya mandi dan tidur. 

Usai melaksanakan salat magrib saya makan nasi gudeg. Gudeg adalah sayur nangka muda yang dikeringkan sampai berwarna kecoklatan. Gudeg diberi varian sayur kerecek dan tempe, santan kental, pindang telur ayam, tempe dan tahu bacem. Sungguh menggugah selera.

Pada sekitar pukul 21.00 kami meninggalkan Jogja menuju Solo dan masuk ke jalan tol untuk keluar di Sragen. Dari Sragen kami memasuki jalan arteri menuju Mantingan dan berhenti di Gendingan. Kami berjumpa Bupuh Ngatirah dan Mbak Yati. Mas Sandi dan Kanaya melanjutkan perjalanan ke Malang. Waktu sekitar pukul 01.00. Saya menginap.

Paginya adalah Hari Natal. 25 Desember 2025. Mbak Yati pergi ke gereja. Setelah sarapan nasi kuning, saya menunggu jemputan. 

Sekitar pukul 08.00 Mas Warto datang. Kami mengobrol sebentar di pendopo, lalu saya berpamitan dan ikut membonceng Mas Warto meninggalkan Gendingan, Walikukun sampai tiba di Gedoro. 

Setelah mampir sebentar di rumah Mas Warto, kami melanjutkan perjalanan menuju Nglencong, Jagir, Pungkuk, Bantengan, mBulak, Kepanjen dan mampir di rumah Mbak Sunarsi. Mbak Sunarsi sedang ke gereja di Mojorejo. Kami melanjutkan perjalanan mendaki Gunung Warak dan turun di jalan raya Sine-Ngrambe dan tibalah di sebuah kafe di kaki gunung. 

Di kafe kawan-kawan alumni SMEA Panti Pamardi Siwi Ngrambe Angkatan 1977 sudah menunggu. Ada Mas Iskandar, Mas Suparman, Mas Saptono, Mas Sugiyono, Mas Suparno, Mas Tri Hartadi , Mas Supardi, Mbak Supari, Mbak Supartini. Setelah lulus tahun 1980 baru kali ini kami reuni kelas. 

Selesai kangen-kangenan kami meninggalkan kafe dengan mengendarai mobil Mas Iskandar dan Mas Suparman. Dari Gunung Warak kami menuju Sine di wilayah Jawa Timur lalu menuju Jambean di wilayah Jawa Tengah. Kami berkunjung ke rumah Pak Sunarto, guru kami. 

Dari rumah Pak Sunarto kami berkendara melewati bendungan menuju arah Winong dan menyeberang ke Tanggung di wilayah Jawa Timur. Kami melewati Tulakan kembali menuju Sine. 

Dari Sine kami menuju Ngrambe berkunjung ke rumah Ibu Mari, guru pendidikan jasmani. 

Terakhir kami menuju ke sekolah kami SMEA Panti Pamardi Siwi yang sekarang bernama SMK II PPS. Di sini kami mengambil gambar untuk kenang-kenangan. Dari sekolah kami singgah ke rumah Mas Sutar.

Kami pun berpisah. Saya, Mas Pardi , Mas Parno dan Mas Giyono ikut Mas Parman ke Sine. Dari Sine saya ikut Mas Pardi ke Tulakan dengan mengendarai sepeda motor. Malam itu kami menginap di rumah Mbak Wagiyah.

Keesokan harinya, setelah sarapan kami meninggalkan Tulakan menuju Walikukun dengan mengendarai dua sepeda motor ojeg online. Di Gedoro kami mampir ke Mas Warto untuk berpamitan. 

Setelah mengantar Mas Pardi ke Stasiun Walikukun saya melanjutkan perjalanan ke Gendingan. Sebelum itu saya minta diantar ke TPU Kedungprau untuk berziarah ke makam keluarga: nenek dan kakak sepupu, Mas Margono, Mas Sutejo dan Mas Mintarjo.

Selanjutnya driver ojeg mengantarku ke rumah Bupuh Karsohutomo. 

Karena hari itu hari Jumat, aku menuju masjid di seberang jalan nasional Solo-Madiun, untuk melaksanakan salat Jumat.



Rabu, 05 Agustus 2026

Berjumpa Pak Rektor Universitas Mandira subang

Pagi itu aku berkendara ke kampus Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) di Jalan Dr Setiabudi. Di sana sudah ada Kang Lukman, Kang Dadang, Kang Atang, Mas Zainal dan Teh Mimin. Setelah Kang Nurdin datang kami masuki mobil Kang Dadang dan keluar menuju Lembang. Lalu lintas cukup lancar. 

Dari Lembang mobil menuju Subang melalui Tangkuban Perahu dan Ciater melewati perkebunan teh yang asri. 

Sekitar pukul 11.00 kami tiba di kota Subang dan menuju Universitas Mandira di Jalan Sukarno Hatta. Para mahasiswa sibuk dengan kegiatan akademik mereka.

Saat kami tiba, para mahasiswa sibuk dengan kegiatan akademik mereka. Pak Rektor Universitas Mandira bersama Mas Marjito, Ketua STIMIK Bandung sudah menunggu. Kami bersama-sama menaiki tangga ke lantai dua, ke ruang Pak Rektor. Dr. H. Asep Priyatna. Kami biasa memanggilnya Kang Asep. Kami semua melepas rindu. Maklum sejak kami semua menyelesaikan pendidikan di S3 Administrasi Pendidikan UPI, baru kali ini kami bertemu. 

Setelah salat zuhur kami menuju sebuah rumah makan Sunda dengan pemandangan danau buatan. Kami makan siang sambil bercerita mengenai kegiatan masing-masing. Nyaris semuanya masih mengajar di kampus masing-masing. Hanya saya dan Kang Atang yang sudah purna tugas karena usia melewati 65 tahun.

Setelah makan siang kami kembali ke kampus mengantar Pak Rektor, sedangkan kami kembali ke Bandung. 

Hari sudah malam ketika kami tiba di kampus UPI. Dari kampus UPI saya turun ke kota Bandung menikmati pemandangan kota di waktu malam sebelum kembali ke rumah dengan membawa buah tangan berupa buku-buku tulisan Pak Rektor dan bermacam makanan berbahan dasar nanas.

Selasa, 04 Agustus 2026

Jalan-jalan ke Sumedang

Untuk kedua kalinya Jeng Titik mengajak kami jalan-jalan ke Sumedang. Yang pertama untuk menikmati tahu Sumedang. Kali ini ke tempat wisata di pedesaan.

Dari Cileunyi kami memasuki Jalan Tol Cisumdawu dan keluar di kota Sumedang. Setelah melewati alun-alun kami ke luar kota  menyusuri sungai di kiri jalan dan perbukitan di kanan jalan. Setelah berjalan sejauh 7 kilometer tibalah kami di sebuah destinasi wisata berupa aliran sungai yang diapit oleh pesawahan, hutan dan gunung. Airnya sangat jernih mengalir di antara bebatuan. Azkia, Safa, Shasmaka dan Bebeb langsung menceburkan diri dan bermain air hingga waktu magrib tiba. Sementara aku mengambil gambar pemandangan sebanyak-banyaknya.

Setelah mandi dan salat, kami kembali ke kota Sumedang lalu berbelok kiri melewati makam Cut Nya Dien dan berhenti di Restaurant Perahu untuk makan malam.

Usai makan malam kami ke alun-alun dan menikmati pemandangan di kompleks Museum Sumedang. 

Setelah anak-anak puas bermain di pasar malam, kami meninggalkan kota Sumedang kembali ke Bandung.