Senin, 02 Maret 2020

Selamat Tinggal Gedung Sate

Dalam tahun awal berdirinya Republik Indonesia, istilah DPRD Provinsi Jawa Barat belum digunakan. Meski demikian, hal ini tidak berarti bahwa tidak terdapat lembaga legislatif semacam DPRD. Pada tahun awal kemerdekaan lembaga semacam DPRD ini sesungguhnya telah juga hadir dengan nama Badan Perwakilan Rakyat Daerah (BPRD) Jawa Barat. Karena itu asal-usul dari kehadiran DPRD Provinsi Jawa Barat tidak dapat dipisahkan dari kehadiran BPRD Jawa Barat tersebut. Pada masa itu, BPRD dipimpin oleh R. Otto Iskandardinata dengan wakilnya Dr. Soeratman Erwin dan Mr. Samsudin.
Selanjutnya, pada masa transisi setelah kembalinya status Republik Indonesia Serikat ke dalam NKRI, di Jawa Barat dibentuk DPRD Sementara yang terdiri dari 60 orang anggota yang berasal dari 22 Parpol dan dipimpin oleh Djaja Rahmat (1950-1955).
Istilah DPRD Provinsi Jawa Barat baru dikenal pada tahun 1955 yaitu setelah Pemilihan Umum Pertama yang dilakukan pada 29 September 1955. Sebagai tindaklanjut dari upaya untuk mewujudkan DPRD atas dasar pemilihan itu, pemerintah mengeluarkan UU No. 19/1956 yang merupakan ketentuan hukum pemilihan daerah. Setahun kemudian, untuk pertama kali dalam sejarah perkembangannya, diadakan pemilihan terhadap anggota DPRD Jawa Barat. Pada kurun waktu 1957-1960 jumlah anggota DPRD Jawa Barat sebanyak 75 orang yang berasal dari 14 Parpol dan diketuai oleh Oja Somantri.
Pada masa yang dikenal dengan Orde Lama sampai dengan 1974, Undang-undang yang menjadi landasan bagi kehadiran DPRD Jawa Barat adalah UU No. 18/1965, dan salah satu pasalnya memasung eksistensi DPRD yakni DPRD dalam menjalankan tugasnya bertanggungjawab kepada Kepala Daerah. Selain itu, dalam UU ini juga disebutkan, bahwa keputusan-keputusan yang dikeluarkan oleh DPRD harus mendapatkan tandatangan dari Kepala Daerah. Ini berarti kedudukan DPRD di bawah Kepala Daerah. Ketentuan hukum yang terdapat dalam UU No. 18/1965 mengakibatkan kekuasaan DPRD terhadap Kepala Daerah terasa sangat lemah yang pada gilirannya mempengaruhi pelaksanaan fungsi dan peran legislatifnya. Pada periode 1960-1967 , DPRD Jawa Barat dikomandoi oleh Letjen. TNI.H. Mashudi dan selanjutnya pada periode 1967-1971 DPRD Jawa Barat diketuai oleh Rachmat Sulaeman dengan jumlah anggota DPRD 70 orang yang berasal dari 8 Parpol.
Seiring dengan dikeluarkannya UU No. 5/1974, terjadi juga perubahan dalam kedudukan DPRD. Ketentuan hukum yang terdapat dalam UU ini menyatakan, bahwa Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah dan DPRD. Penafsiran terhadap statement ini adalah DPRD dan Kepala Daerah dalam kedudukan yang sama tinggi. Yang membedakannya adalah bahwa Kepala Daerah merupakan pelaksana dari peraturan perundangan di daerah sedangkan DPRD melaksanakan tugas di bidang legislatif. Periode 1971-1977 DPRD Tingkat I Provinsi Jawa Barat , kembali dipimpin oleh Rahmat Sulaeman dengan anggota berjumlah 74 orang dari 4 Fraksi.
Selanjutnya, berturut-turut dalam era kepemimpinan Presiden Soeharto, pada tahun 1977-1982 DPRD Jawa Barat diketuai oleh Brigjen TNI (Purn) H. Adjat Sudradjat, Mayjen TNI (Purn) Suratman (1982-1992), Brigjen TNI (Purn) H. Agus Muhyidin (1992-1997). Pada masa ini seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk Jawa Barat, maka jumlah anggota legislative pun mengalami peningkatan menjadi 100 orang anggota.
Pada tahun 1997 terjadi gerakan reformasi yang pada akhirnya meruntuhkan kepemimpinan Orde Baru. Hal ini berpengaruh terhadap masa kerja DPRD provinsi Jawa Barat yang hanya berlangsung selama tiga tahun, karena pada tahun 1998 sebagaimana tuntutan reformasi dilaksanakan Pemilu, dipimpin oleh Mayjen TNI (Purn) H. Abdul Nurhaman, S.Ip, S.Sos.
Lahirnya UU No. 22/1999 dan UU No. 25/1999 sebagai reaksi dari gerakan reformasi, merangkum dua pikiran utama yakni penyerahan sebanyak mungkin kewenangan pemerintahan dalam hubungan dosmetik kepada daerah (kecuali keuangan dan moneter, politik luar negeri, peradilan dan keagamaan) serta penguatan peran DPRD dalam pemilihan dan penetapan Kepala Daerah. Pemberdayaan fungsi-fungsi DPRD dalam bidang legislasi, representasi, dan penyalur aspirasi masyarakat harus dilakukan. Kebijakan desentralisasi merupakan bagian dari kebijakan demokratisasi pemerintahan. Karena itu penguatan peran DPRD baik dalam proses legislasi maupun pengawasan atas jalannya pemerintahan daerah perlu dilakukan. Dalam UU 22/1999 ditentukan posisi DPRD sejajar dengan pemerintah daerah, bukan sebagai bagian dari pemerintah daerah.
Pada periode 1999-2004 , DPRD Provinsi Jawa Barat sesuai kewenangannya memlih Kepala Daerah, memilih anggota MPR dari utusan daerah, mengusulkan pengangkatan dan pemberhentian Kepala daerah dan hak DPRD meminta pertanggungjawaban Kepala daerah. Kepemimpinan DPRD pada periode ini dipimpin oleh Ir. H. Idin Rafiudin (dalam perjalanan kepemimpinannya beliau wafat) yang selanjunya digantikan oleh Drs.H. Eka Santosa.
Sejalan dengan perkembangan demokrasi, dan perbaikan kehidupan ketatanegaraan, Pemerintah mengeluarkan UU No. 32 tahun 2004. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah didefinisikan sebagai lembaga perwakilan rakyat daerah dan berkedudukan sebagai unsur penyelenggaraan pemerintahan daerah. Selanjutnya, dalam hubungannya dengan eksekutif, pasal 3 menyebutkan bahwa pemerintah daerah terdiri atas pemerintah dan DPRD. Hal itu berarti DPRD berkedudukan sejajar dan menjadi mitra dari pemerintah daerah.
Pemilu tahun 2004 diikuti oleh 24 Partai Politik, dan yang berhasil meraih kursi di DPRD Provinsi Jawa Barat 10 Parpol yakni Golkar, PDI-P, PKS,PPP, Demokrat, PKB, PAN, PBB, PKPB, PDS, yang selanjutnya menjadi 7 fraksi. DPRD Provinsi Jawa Barat Periode 2004 - 2009 diketuai oleh Drs.H.A.M. Ruslan (Golkar), dengan para wakil ketua H. Rudi Harsatanaya (PDI-P), drh. Achmad Ru’yat, M.Sc. (PKS, setelah diambil sumpahnya menjadi wakil walikota Bogor, digantikan oleh H. Husin M. Albanjari, Dipl.Ing. dan H. Amin Suparmin,S.Hi. dari PPP.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Barat periode 2009-2014 keanggotaannya diresmikan berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 161.32 - 556 Tahun 2009, pada tanggal 31 Agustus 2009 dalam Rapat Paripurna Istimewa Pengambilan Sumpah/Janji Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat Hasil Pemilu 2009 bertempat di Gedung Merdeka Bandung. Mereka berasal dari 9 partai dengan jumlah 100 anggota yakni : Partai Demokrat 28 orang, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan 17 orang, Partai Golongan Karya 16 orang, Partai Keadilan Sejahtera 13 orang, Partai Gerakan Indonesia Raya 8 orang, Partai Persatuan Pembangunan 8 orang, Partai Amanat Nasional 5 orang, Partai Hati Nurani Rakyat 3 orang dan Partai Kebangkitan Bangsa 2 orang. Tergabung dalam 8 Fraksi yakni F. Demokrat, F.PDI-P, F. Golkar, F. PKS, F. Gerindra, F. PPP, F. PAN, F.Hanura- PKB. Dalam Rapat Paripurna Istimewa tersebut, ditetapkan Pimpinan Sementara DPRD Propinsi Jawa Barat, yang berasal dari dua partai peraih kursi terbesar, masing-masing H. Awing Asmawi, SE (Partai Demokrat) sebagai Ketua Sementara dan Drs. H. Syarif Bastaman (PDIP) sebagai Wakil Ketua Sementara.
Selanjutnya pada tanggal 16 Oktober 2009, berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor : 161.32-712 Tahun 2009 Pimpinan DPRD Provinsi Jawa Barat mengucapkan sumpah/janji dalam Rapat Paripurna Istimewa dengan susunan sebagai berikut : Ketua DPRD Ir.H. Irfan Suryanagara (F. Partai Demokrat), Wakil Ketua : H.M Rudi Harsa Tanaya (F. PDIP), Drs.H.Uu Rukmana M.Si. (F. Partai Golkar), Drs.H. Nur Suprianto, MM (FPKS) dan H. Komarudin Taher, S.Ag. (FPPP). (Sejarah DPRD Provinsi Jawa Barat).
Saya menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Barat pada dua periode setelah berakhirnya era Orde Baru, yaitu periode 1999-2004 dan 2004-2009. Pada periode pertama saya mewakili daerah pemilihan Kabupaten Bandung (meliputi Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi sekarang). Pada periode kedua saya mewakili Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu dan Kota Cirebon.
Kantor saya ada di sayap kiri Gedung Sate. Kami tidak memiliki tempat parkir tersendiri sehingga saya biasa memarkir mobil di halaman parkir Gedung Sate baik di sayap kanan maupun kiri. Jika hari masih pagi saya kadang berolahraga mengelilingi Gedung Sate hingga Museum Pos dan bahkan ke Taman Lansia. Saya pun sering sarapan atau makan siang di kantin basement Gedung Sate bersama para karyawan Pemprov. Salat Jumat pun di hall Gedung Sate.
Pada awal menjadi anggota DPRD Jawa Barat saya ditempatkan di Komisi F (Energi)lalu di Komisi A (Pemerintahan). Pada periode kedua saya pernah di Komisi B lalu pundah ke Komisi D. Di Komisi D saya menjadi Wakil Ketua bersama kang Adi Gunawan (Ketua) dan Dadang Naser (Sekretaris). Saya juga sempat menjadi Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan dan pumpinan Badan Legislasi dan BURT. Selain itu saya sempat di Panitia Anggaran. Di luar itu saya kerapkali menjadi Ketua ataupun pimpinan Pansus (Pansus).
Menjelang akhir masa jabatan kami, Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan dan wakilnya, Dede Yusuf mengadakan jamuan makan malam di hotel Preanger untuk para anggota DPRD Jawa Barat yang akan berakhir masa baktinya. Gubernur juga memberi piagam dan plakat sebagai kenang-kenangan. Pimpinan DPRD, kang Ruslan memberi cindera mata berupa sebuah cincin bergambar DPRD. Demikian juga dengan pimpinan Fraksi PDI Perjuangan.
Tanggal 16 Oktober 2009 menjadi hari terakhir saya menjadi anggota DPRD Jawa Barat. Pagi itu saya berjalan berdua bersama kesayangan dari Hotel Preanger dengan berpakaian resmi (PSL). Saya berjas dasi dan kopiah sementara istri berkebaya. Kami menelusuri trotoar Jl. Asia Afrika melewati kantor Dinas Pekerjaan Umum Jawa Barat dengan monumen mobil antik di depannya dan penanda 0 km kota Bandung, hotel Savoy Homan di seberang jalan, kantor redasi Pikiran Rakyat dan apotek Kimia Farma. Setelah menyeberangi Jl. Braga kami pun tiba di Gedung Merdeka. Suasana hiruk pikuk terasa di depan gedung penuh dengan undangan, aparat keamanan, panitia, wartawan dan anggota ormas dengan seragam mereka masing-masing.
Di dalam gedung saya menduduki tempat yang telah disediakan sementara nyonya duduk bersama rombongan IKIAD (Ikatan Istri Anggota Dewan).
Upacara pelantikan berlangsung khidmat. SK pemberhentian anggota lama dan penetapan anggota baru dibacakan oleh Sekretaris DPRD. Kemudian Gubernur melantik para anggota baru. Usai dilantik mereka menduduki kursi kami. Kami pindah ke kursi undangan. Setelah menyalami mereka yang baru dilantik, kami keluar gedung kembali ke hotel menyusuri jalan yang sama.
Setelah tiba di hotel kami makan siang sekeluarga di restoran lalu berfoto bersama beberapa kawan seperti kang Amin Suparmin, mas Rahadi Zakaria dan teh Tety Kadi. Setelah check out dari hotel kami kembali ke rumah kami di Rancaekek.
Kesibukan saya setelah tidak menjadi wakil rakyat adalah mengajar dan melanjutkan studi S3 yang sudah setengah jalan.

Pemilu 2009


Pemilu Legislatif (Pileg) 2009 atau pemilihan umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah 2009 diselenggarakan untuk memilih 560 anggota Dewan Perwakilan Rakyat(DPR), 132 anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD), serta anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota) se-Indonesia periode 2009-2014.
Proses Pemilu 2009 sudah berlangsung sejak tahun 2008. Karena sudah dua periode menjadi anggota DPRD, saat itu saya memutuskan mencalonkan diri menjadi anggota DPR RI. Untuk itu ada begitu banyak persyaratan administratif yang harus dipenuhi termasuk melampirkan keterangan kelakuan baik dari polres dan keterangan tidak sedang bermasalah dengan hukum dari pengadilan negri. Ada tes kesehatan fisik maupun psikis dari RS pemerintah. Saya bersama para caleg lainnya harus seharian penuh mengikuti rangkaian tes kesehatan di RS Hasan Sadikin termasuk tes urine, darah, jantung, pernafasan dll. Tes psikologis dilakukan dengan mengisi ratusan soal MMPI. Hasilnya saya memperoleh keterangan sehat jasmani, keterangan sehat psikis dan keterangan tidak menggunakan obat-obatan terlarang serta tidak mengidap HIV Aids.
Semua persyaratan administratif yang diminta oleh KPU tersebut dikirim ke DPP PDI Perjuangan di Jl Lenteng Agung Jakarta dan kemudian dikirim ke KPU secara kolektif disertai nomor urut dari setiap calon. Saya tercatat sebagai calon dengan nomor urut 10 dari daerah pemilihan Jabar 2 (Kabupaten Bandung) pada DCT (Daftar Calon Tetap)yang diumumkan pada media massa seperti RRI, TVRI serta koran koran baik nasional maupun daerah. Yang saya ingat pada dapil saya ada nama nama besar seperti Taufik Kiemas dan Rieke Diah Pitaloka.
Masa kampanye berkisar satu bulan. Saya berkunjung ke beberapa kecamatan dan desa bertemu dengan struktur partai dan juga masyarakat umum baik secara pribadi maupun kelompok. Biasanya saya berkeliling dengan kang Permadi, kang Happy dan pak Toto. Kang Apriyanto juga membantu. Tetangga saya sekitar rumah (Bumi Rancaekek Kencana) juga ikut menjadi tim sukses. Rumah saya di Buparken, Soreang dijadikan Posko oleh kang Ayi. Setiap malam Jumat ada pengajian di masjid. Saya pun mengikuti konvensi yang diselenggarakan oleh Forum Aktifis Mahasiswa Bandung dan bertemu para pemilih pemula serta diuji oleh para ilmuwan dalam forum terbuka. Saya juga membuat bermacam macam peraga seperti spanduk, baligo, t-shirt, tas pinggang, layang-layang, penutup becak, stiker dll. Barang barang itu saya pesan dari kawan kawan saya yang berbisnis kecil-kecilan. Namun demikian saya tidak menyediakan dana khusus untuk itu. Dana saya peroleh dari honor yang saya peroleh sebagai anggota DPRD Jawa Barat.
Pemungutan suara diselenggarakan secara serentak di hampir seluruh wilayah Indonesia pada tanggal 9 April 2009. Sebanyak 38 partai memenuhi kriteria untuk ikut serta dalam pemilu 2009. Partai Demokrat memenangkan suara terbanyak, diikuti dengan Golkar dan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan(PDI-Perjuangan)pada nomor urut 28 mendapat 109 kursi dengan mendapat 18,53% suara. Di dapil saya Taufik Kiemas dan Rieke Diah Pitaloka lolos ke Senayan. Saya mendapat suara lebih dari 3.000. Ini adalah pengalaman saya yang pertama menjadi caleg DPR RI setelah sebelumnya menjadi caleg DPRD Kabupaten Kabupaten Bandung (1992) dan caleg DPRD Jawa Barat (1999 & 2004). Saya merasakan perubahan perilaku pemilih khususnya di Kabupaten Bandung.

Jumat, 14 Februari 2020

Kongres Internasional Aids di Asia Pasifik

Semasa menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Barat pada periode yang kedua (2004-2009) saya tergabung dalam Forum Parlemen Indonesia Untuk Kependudukan dan Pembangunan atau IFPPD (Indonesian Forum of Parliamentarians on Population and Dvelopment) DPRD Jawa Barat yang diketuai kang MQ Iswara dari Fraksi Partai Golkar. Yang saya ingat di situ ada kang Syafrudin dari Fraksi PPP, kang Imam Wahyudi dari Fraksi PAN  dan kang Agung dari Fraksi PKB. Pembentukan kaukus ini tidak terlepas dari upaya kawan kawan di DPR RI yang melakukan lobby kepada pimpinan DPRD Provinsi Jawa Barat agar membentuk Forum Parlemen yang peduli pada masalah masalah kependudukan dan pembangunan.

Setelah forum terbentuk di Jawa Barat, langkah pertama yang kami lakukan adalah mencari sekretaris eksekutif untuk menjalankan kegiatan kesekretariatan sehari hari. Posisi itu diisi oleh kang Ihsan wartawan Gatra biro Bandung, setelah melalui fit and proper test. Berikutnya kami menerbitkan buku buku tentang HIV /  AIDS dan bahaya Narkoba. Selanjutnya kami melakukan komunikasi dengan komunitas ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS) seperti Rumah Cemara dan juga dengan komunitas peduli  ODHA dan korban narkotika. Saya pun ditugasi untuk memberikan penyuluhan kepada generasi muda mengenai cara hidup sehat terhindar dari Narkoba dan HIV AIDS di Gunung Manglayang.

Saya  dari Fraksi PDI Perjuangan dan kang Agung Nurhaim dari Fraksi PKB ditugasi untuk mengikuti Seminar dan Kongres HIV AIDS se-Asia Pasifik di Bali, tepatnya di sebuah convention hall di Nusa Dua. Nama resminya 9th International Congress on Aids in Asia and the Pacific (9th ICAAP), yang berlangsung pada 9-13 Augustus 2009.  Kami berangkat dari Bandung langsung ke Denpasar dengan transit  terlebih dahulu di Surabaya. Saat tiba di lokasi peserta sudah nampak membludak. Ada dua kategori peserta : harian atau penuh. Mengingat biaya seminar yang mahal, kami hanya ikut mendaftar untuk satu hari saja dan tidak memperoleh sertifikat. Penginapan tersebar di sekitar Sanur Kuta dan Nusa Dua dan disediakan sarana transportasi untuk peserta.

Pembukaan Seminar dilakukan di teater terbuka Taman Garuda Wisnu Kencana masih di sekitar Nusa Dua. Acara dilakukan malam hari dengan suasana khas Bali dan dibuka oleh Presiden RI saat itu, SBY. Acara diisi dengan pidato pidato dari dalam dan luar negeri dan diisi acara tari-tarian Bali. Teater terbuka penuh dengan pengunjung dari seantero Asia Pasifik dan wilayah lainnya. Menjelang tengah malam acara usai dan kami diantar ke hotel di kawasan Kuta.

Keesokan paginya kami kembali ke Nusa Dua. Suasana hiruk pikuk mewarnai tempat seminar. Ada pameran berkenaan dengan HIV AIDS dan lain lain dari berbagai organisasi dalam dan luar negri termasuk pameran dari berbagai produsen alat alat kontrasepsi yang membagi bagikan produknya kepada para pengunjung. Saya dan kang Agung mencari tempat diskusi kelompok yang sesuai dengan minat kami masing masing. Ada banyak topik yang dibahas secara bersamaan. Saya mengikuti satu dua sidang komisi atau focus group discussion. Di dua sesi yang saya ikuti saya bertemu dengan Marina Mahathir (putri PM Malaysia) yang menjadi salah seorang bintang dalam seminar. Saya juga mendengar testimoni dari perempuan India mengenai peran gender di negara mereka. Selain itu saya juga mendengar deklarasi dari para pemimpin muda berbagai negara yang menyuarakan aspirasi mereka mengenai kehidupan yang lebih berkualitas dan bermakna.

Uniknya di seminar ini para harus membeli sendiri makan siangnya. Jika beruntung mengikuti sesi seminar tertentu, ada lunch box yang disediakan dari industri kesehatan dan farmasi. Meski demikian saya mengikuti kegiatan hingga malam hari sebelum diantar ke hotel.

Karena tidak mengikuti seminar secara penuh selama tiga hari maka keesokan harinya kami meninggalkan hotel dan berangkat ke bandara I Gusti Ngurah Rai untuk kembali ke Bandung. Sekitar pukul 10.00 kami tiba di bandara Husein Sastranegara dan langsung menuju ruang tunggu utama. Di sana staf protokol sudah menunggu dan kami kemudian berangkat ke tempat lain untuk urusan yang berbeda.

*) HIV (Human Immunodeficiency Virus), virus yang menyerang sel darah putih sehingga rusak. Sel darah putih adalah sistem pertahanan pada tubuh manusia. Bila sel darah putih banyak yang rusak, akibatnya sistem pertahanan tubuh jadi rendah. Ketika sistem kekebalan tubuh menurun, semua penyakit dapat dengan mudah menyerang tubuh manusia.

**) AIDS (Acquired Immune Deficiency Syndrom), kondisi kekebalan tubuh yang rendah pada diri seseorang yang sudah tertular HIV antara 5-15 tahun yang ditandai dengan gejala-gejala penyakit.

Kamis, 02 Januari 2020

Agum - Nu'man

Pemilihan gubernur periode 2008-2013 sudah di ambang pintu. PDI Perjuangan dengan PKS sudah mulai saling mendekat. Ahmad Heryawan, pimpinan DPRD Jakarta nampaknya bersedia dipasangkan dengan Rudi Harsa Tanaya, wakil ketua DPRD Jawa Barat. Karena itu muncullah istilah Koalisi Merah Putih. Sayang isu ini kempes di tengah jalan. Kelihatannya para petinggi partai di Jakarta belum siap dengan kerjasama PDI Perjuangan - PKS.

Selanjutnya PDI Perjuangan melakukan pdkt ke Gubernur petahana, Dani Setiawan. Tim lobby dipimpin Rahadi Zakaria (anggota DPRD Jabar dari Fraksi PDI Perjuangan). Anggota : Memo Hermawan (Wakil Bupati Garut), Ayi Vivananda (Ketua Fraksi PDI Perjuangan) dan saya (Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan). Suatu petang kami bertemu Gubernur di Gedung Sate. Sambil minum teh, kami menawarkan RHT  (Rudi Harsa Tanaya) untuk mendampingi Gubernur dalam pilgub mendatang. Tanggapan gubernur kurang memuaskan. Hasil pembicaraan kami bawa ke Partai. (Pada periode sebelumnya kami sudah memajukan kang Rudi berpasangan dengan pak Tayo. Hasilnya selisih sepuluh suara dari pasangan Dani-Nu'man).

Entah bagaimana, belakangan muncul nama Agum Gumelar menggantikan RHT. Maka dideklarasikanlah nama Agum-Nu'man oleh gabungan partai-partai. Tidak terkecuali PDI Perjuangan. Dengan demikian terdapat tiga pasangan yang berkompetisi dalam pemilihan ini, yaitu Danny Setiawan dan Iwan Sulandjana(DA'I) yang diusung oleh Partai Golkar, dan Partai Demokrat; Agum Gumelar dan Nu'man Abdul Hakim (AMAN) yang diusung oleh PDI-P, PPP, PKB, PKPB,PBB, PBR dan PDS; dan terakhir Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf (HADE) yang diusung oleh PKS dan PAN.

Sejenak muncul optimisme yang kuat di kalangan partai karena figur Agum Gumelar adalah figur yang kuat, lagipula berpasangan dengan Nu'man Abdul Hakim, wakil gubernur dan berasal dari keluarga besar NU. Apalagi didukung oleh tujuh partai. Praktiknya tidaklah mudah, karena tim sukses harus melibatkan ketujuh partai tersebut. Saya termasuk salah satu anggotanya.

Masa kampanye tiba. Ketika itu model kampanye blusukan a la Jokowi belum populer. Kampanye biasanya dilakukan secara terbuka di lapangan sepakbola dengan membuat panggung yang diisi orasi calon dan hiburan musik dangdut. Saya sempat hadir setidaknya di dua tempat yaitu di Kuningan dan Majalengka.

Pemungutan suara dilaksanakan pada tanggal 13 April 2008, untuk memilih Gubernur Jawa Barat periode 2008-2013. Saya dan keluarga memilih di sebuah TPS di Perumnas Bumi Rancaekek Kencana.

Hasilnya Ahmad Heryawan (Aher) dan Dede Yusufdengan perolehan suara sekitar 7,2 juta atau 40,50%, disusul pasangan Agum Gumelar dan Nu'man Abdul Hakim dengan perolehan suara sekitar 6,2 juta atau 34,55%, dan terakhir pasangan Danny Setiawan dan Iwan Sulandjana dengan perolehan suara sekirar 4,5 juta atau 24,95%. Jumlah suara yang masuk sebanyak 18.802.665 dari 26 kabupaten kota. Suara yang sah 17.996.105 dan yang tidak sah 806.560. Dengan demikian Aher dan Dede Yusuf dilantik sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat 2008-2013. Pelantikan dilakukan di Gedung Merdeka, Bandung.

Saya sempat beberapa kali berjumpa dengan Aher dan Dede dalam sidang paripurna DPRD Jawa Barat juga di Gedung Pakuan, rumah dinas Gubernur Provinsi Jawa Barat. Ketika itu saya masih menjabat sebagai pimpinan Komisi D DPRD Provinsi Jawa Barat yang mengurus masalah pembangunan dan infrastruktur.

Agum kembali ke Jakarta. Nu'man kemudian mencalonkan diri menjadi anggota DPD (Dewan Perwakilan Daerah). Demikian pula dengan RHT. Namun keduanya tidak terpilih.

Senin, 16 Desember 2019

Flores Pulau Bunga

Muhibah Ke Ende.
DECEMBER 4 · PUBLIC
3 Reads
Saat bertugas ke Bali sekitar tahun 2009, saya membulatkan tekad terbang ke Ende di Pulau Flores. Sementara kawan-kawan pulang ke Bandung saya terbang dari bandara internasional I Gusti Ngurah Rai dengan pesawat lokal selama kurang lebih dua jam melintasi pulau Lombok, Sumbawa dan Sumba. Cuaca cerah. Langit biru berawan. Saat itu musim kemarau. Dari ketinggian sesekali nampak laut biru, pulau pulau dan perahu. Sekitar pukul 14.00 WIT pesawat mendekati Pulau Ende yang berbentuk bukit, yang terletak di bagian selatan Pulau Flores. Pilot mengambil ancang-ancang untuk mendarat dengan terbang rendah di atas selat. Pramugari meminta penumpang menegakkan sandaran kursi, memasang sabuk pengaman. Aku terkejut, di depan nampak landasan pendek untuk pendaratan yang berujung pada dinding bukit yang berdiri tegak. Ternyata pilot dengan mahir menurunkan pesawat dan saat roda menyentuh landasan terasa getaran di seluruh badan pesawat sebelum melintasi taxi way dan mendarat dengan sempurna di Bandara El Tari. (El Tari adalah nama salah seorang Gubernur NTT).Dari pesawat saya berjalan kaki melintasi apron menuju pintu masuk bandara. Setelah mengambil koper saya pun menuju pintu keluar dan tiba di halaman parkir bandara. Untuk pertama kalinya saya telah tiba di kota Ende dengan selamat.
Setelah tawar menawar dengan supir taksi saya keluar dari halaman bandara. Taksi memasuki bulevar, melintasi pusat pemerintahan dan tidak berapa lama tiba di sebuah hotel. Hotel ini satu dari dua atau tiga hotel di kota Ende. Saya melakukan check in dan menyimpan tas, lalu ke luar. Tujuan saya adalah ke rumah pengasingan Bung Karno. Dari hotel saya berjalan kaki di jalan yang lengang sekitar beberapa ratus meter dan tibalah saya pada tempat yang saya tuju. Rumah Bung Karno. Sebuah bangunan sederhana bersegi empat yang didominasi unsur kayu dengan atap seng. Halamannya tidak seberapa luas. Saat saya datang tidak ada siapapun di situ. Saya lalu berjalan ke bagian belakang ke sebuah sumur di halaman belakang. Saya bertegur sapa dengan beberapa orang yang tinggal di pemukiman di belakang rumah Bung Karno. Mereka adalah para pedagang batik dari Jawa yang kost di situ. Dari mereka saya memperoleh beberapa informasi. Mereka kadang menginap di rumah Bung Karno pada malam Jumat untuk melakukan tirakat atau meditasi di salah satu ruangan yang diyakini sebagai ruangan ibadah (mushola) yang dulu digunakan Bung Karno. Atas bantuan mereka juga akhirnya penjaga rumah Bung Karno bisa didatangkan dari kota dan saya pun bisa mengeksplorasi rumah Bung Karno tersebut. Yang menarik perhatian saya adalah dua buah lukisan buatan Bung Karno. Sebuah lukisan menggambarkan sosok perempuan berambut panjang mengenakan kebaya. Satunya lagi sebuah kukisan bersuasana Bali, menggambarkan cita-cita Bung Karno akan sebuah negara Indonesia yang merdeka. Setelah banyak bertanya dan mengisi buku tamu, sayapun meninggalkan Rumah Bung Karno yang dihuni oleh Bung Karno, Ibu Inggit dan Ratna Juami saat Bung Karno dibuang Belanda ke Flores pada akhir tahun 1930-an.

Senja di Ende

Dari rumah pengasingan Bung Karno, saya berjalan kaki menelusuri jalan lengang ke masjid yang dulu digunakan Bung Karno. Saya shalat Dzuhur dan Ashar dengan cara disatukan masing masing dua rakaat. Dari sana saya ke tempat perenungan Bung Karno. Sebuah taman yang kini  dihiasi patung Bung Karno. Di situ ada sebatang pohon sukun. Pohon ini ditanam belakangan. Dulu sekali memang ada pohon sukun di situ, di mana Bung Karno sering duduk di bawahnya, memandang ke laut sambil merenung. Hasil renungan Bung Karno ini saya duga yang kemudian dinamakan Pancasila.
Dari taman Pancasila saya berjalan kaki ke arah pantai, mengunjungi sebuah tempat pesiar di situ. Saya lalu melanjutkan perjalanan ke pelabuhan dan pergi ke dermaga. Ada satu dua kapal menurunkan penumpang dan barang. Di seberang nampak pulau Ende berdiri tegak menjaga kota dan menahan gelombang laut selatan.
Puas menikmati pemandangan laut, saya pergi ke alun alun menyaksikan anak-anak bermain bola. Ini merupakan permainan bola termahal yang pernah kusaksikan, jauh di bagian timur Indonesia.
Masih di senja itu, saya berkeliling kota. Mulanya saya berjalan kaki ke arah pasar mencari satu dua cassette recorder lagu-lagu daerah. Lalu saya menaiki sebuah angkutan kota dan tamasya keliling kota. Supirnya anak muda. Sambil mengemudi dia menggerakkan badannya mengikuti irama lagu yang menghentak. Lampu-lampu kecil di dalam mobil berkelip. Sementara mobil terus melaju mengelilingi kota. Penumpang naik dan turun. Tidak banyak. Hanya satu atau dua saja. Tapi hiburan dalam mobil tetap full. Telinga saya harus bertoleransi dengan suasana hingar bingar angkutan kota di kota Ende. Mata saya mengawasi pemandangan sepanjang perjalanan. Di kota ini ibunda dari Inggit Garnasih-istri Bung Karno-meninggal dan dimakamkan. Orang-orang menyebutnya Ibu Ratu. Di kota ini pula Bung Karno mengembangkan bakatnya menjadi produser sandiwara, menulis naskah, menjadi sutradara sekaligus aktor. Tapi di sini pulalah Bung Karno mendalami agama Islam lewat korespondensinya dengan A. Hasan di Bandung.
Menjelang malam saya kembali ke dekat pantai, memasuki sebuah restoran di tepi laut, memesan makanan sambil mendengarkan musik. Itulah makan malam saya yang pertama di Ende. Setelah itu saya pulang berjalan kaki menuju hotel untuk beristirahat. Besok saya harus bangun pagi pagi benar.

Danau Kelimutu

Seusai solat subuh mobil yang kupesan sudah siap di depan hotel. Pagi ini saya berniat menjelajahi Flores dari selatan ke utara dengan tujuan utama mengunjungi Danau Kelimutu. Saat tiba pak supir -sebut saja Frans- yang merangkap menjadi pemandu bercerita bahwa Danau Kelimutu menyimpan misteri. Kadang saat tiba di puncak gunung kabut turun menyelimuti tiga danau di sana.
Kami pun memulai perjalanan melewati pedesaan  dengan rumah-rumah yang kebanyakan terbuat dari  bambu yang dipipihkan menjadi papan, pesawahan dan sungai yang penuh bebatuan. Setelah sekitar dua jam perjalanan menanjak dan berliku-liku tibalah kami di kaki gunung. Mengambil arah ke kanan, mobil angkutan AKDP yang saya tumpangi berdua dengan Frans terus berjalan mendaki. Frans terus bercerita bahwa Kelimutu merupakan tempat Bung Karno bermeditasi. Bung Karno juga bersahabat dengan pastur ...
Akhirnya kami tiba di pintu masuk Kelimutu. Di pintu gerbang petugas penjaga hutan menghampiri dan membuka perintang jalan. Saya dan Frans turun, berbincang dengan polisi hutan bernama Anton. Ia mendampingi kami berjalan kaki menaiki jalan berundak terbuat dari batu melintasi hutan sambil menceritakan secara detil keadaan alam di sana.
Setelah mendaki undakan demi undakan sekitar setengah jam kami tiba di titik triangulasi. Dari sana kami bisa melihat tiga danau di puncak gunung yang berbeda warna. Ada danau berwarna biru, ada yang berwarna hijau dan ada yang berwarna hitam. Setiap danau memiliki cerita dan kisah tersendiri. Ketiga danau Kelimutu merupakan tempat persemayaman roh-roh. Setiap roh yang keluar dari tubuh akan bersemayam di salah satu danau tergantung pada perilakunya selama hidup di dunia. Ada danau untuk orang-orang baik, dan ada yang untuk orang jahat.
Lepas dari soal kisah dari setiap danau Kelimutu, yang bisa dipastikan adalah bahwa udara di puncak gunung sangat dingin namun pemandangan sangat indah. Fenomenal dan spektakuler. Ketika saya tiba matahari sudah mulai bersinar di ufuk timur. Cahaya cerlang cemerlang. Beruntung langit begitu jernih, tak ada kabut turun seperti yang dikhawatirkan. Menurut Frans, itu pertanda baik. Roh roh yang bersemayam menerima baik kehadiran kami.
Di puncak gunung saya sempat berfoto dengan Anton polisi hutan yang bertugas di Kelimutu dengan lantar belakang danau danau berwarna warni.

Maumere

Saat matahari mulai bersinar dari balik hutan yang mengelilingi danau , saya menuruni gunung lalu meninggalkan Taman Nasional Kelimutu. Tak lupa berbagi nomor ponsel lalu berpamitan dengan pak Anton Molikmenua, polisi hutan yang mengantar saya ke puncak gunung di mana ketiga danau berada. Pak Frans pelan pelan mengemudikan mobilnya menuruni pebukitan hingga bertemu jalan utama. Tujuan saya selanjutnya adalah Maumere.
Setelah bertemu jalan nasional, kami berbelok ke kanan. Mulailah jalan panjang membelah Flores sejauh kurang lebih 150 km menelusuri jalan sempit dengan pebukitan berbatu, hutan, kebun,jurang dan ngarai dialiri sungai di kiri kanan. Meski begitu para supir memacu kendaraan dengan kencang. Kadang saling mengambil jalur dari arah berlawanan. Mobil saling berhadapan, mereka saling berteriak lalu jalan kembali seolah tak terjadi apa-apa.
Sepanjang perjalanan nampak kebun kebun  di kiri kanan ditanami tanaman coklat. Buah coklat banyak dijemur di tepi jalan. Makam makam keluarga yang dilapisi keramik dibangun di depan rumah. Sepanjang perjalanan ada satu dua penumpang lain yang ikut.
Selain pemandangan pegunungan, hutan, kebun dan pesawahan, Flores memiliki pemandangan pantai yang indah. Sepanjang puluhan kilometer saya melihat lautan Indonesia di sebelah kanan jalan berselang seling dengan pemukiman, kebun, resor, dan restoran. Lautan nampak tenang dan damai. Tidak heran jika seorang dubes dari negara sahabat berkeinginan untuk tinggal di pulau bunga ini setelah pensiun.
Dari Paga perjalanan mengarah ke ... di mana kami beristirahat sekitar setengah jam untuk  makan siang. Dari sini perjalanan berlanjut menuju Sikka yang merupakan pusat kegiatan agama Katolik. Frans Seda, salah seorang menteri di era Suharto berasal dari sini. Dari Sikka perjalanan mengarah ke kiri ke arah utara menembus perkebunan dan kampung-kampung yang rimbun dengan pepohonan. Lewat tengah hari kami memasuki Maumere. Suasana gerejawi sangat terasa. Di mana mana terdapat biara gereja kapel dan seminari. Jika Ende terletak di ujung selatan Flores maka Maumere berada di ujung utara Flores.
Menurut info yang saya peroleh dari internet, Maumere adalah sebuah kecamatan dikabupaten Sikka, sekaligus ibu kota Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur. Sejak tahun 2007, Kecamatan Maumere berubah namanya menjadi Kecamatan Nelle, sesuai dengan Peraturan Daerah Kabupaten Sikka Nomor 1 Tahun 2007. Kota ini memiliki jumlah penduduk sebanyak 50.000 jiwa (2005). Kota ini pernah diguncang tsunami pada1992 menewaskan lebih dari 900 orang. Maumere menjadi kota terkecil di dunia yang pernah dikunjungi Sri Paus Yohanes Paulus II yakni pada tahun 1989.
Tujuan saya ke Maumere salah satunya adalah berkunjung ke rumah ex Bupati Larantuka. Istrinya adalah sepupu saya sekaligus teman sepermainan saat kami masih remaja. Sudah berpuluh tahun kami tidak bertemu. Sekitar satu atau dua jam saya berada di sana melepas rindu, berbincang soal keluarga dan soal politik. Sayapun kemudian bermohon diri. Sebelum kembali ke Ende saya berkunjung ke pelabuhan menikmati pemandangan laut yang indah dan menyaksikan kegiatan orang naik turun kapal di dermaga. Tidak lupa saya melintasi jalan tempat tinggal keluarga Pareira, karena mereka masih terkait   keluarga.
Jalan yang yang saya lewati saat pulang ke Ende adalah jalan yang sama yang saya lalui tadi. Hanya saja kali ini saya sengaja singgah di sebuah restoran yang tersembunyi di tepi pantai. Tentu saja saya menikmati suasana menjelang senja di tepi pantai sambil tidak lupa mengambil gambar. Sayang gambar-gambar itu tersimpan pada ponsel yang kini hilang.
Hari telah malam ketika saya memasuki kota Ende. Setidaknya saya bisa menikmati suasana malam sebelum beristirahat di hotel. Keesokan pagi saya harus terbang ke Bali sebelum mencari pesawat ke Bandung melalui Surabaya.

Minggu, 28 Juli 2019

Istana Karangasem



Beberapa waktu yang lalu saya bercerita mengenai perjalanan saya ke Nusa Penida untuk meninjau demplot energi terbarukan pada konferensi mengenai perubahan iklim dan lingkungan hidup PBB di Nusa Dua. Saat ferry yang membawa kami dari Nusa Penida mendarat di pelabuhan Padangbai, terbersit pikiran untuk tidak langsung kembali ke Denpasar atau Kuta, melainkan mencari obyek-obyek wisata di sekitar Karangasem. Alih-alih berjalan ke barat kami melanjutkan perjalanan ke arah timur. Inilah cerita mengenai perjalanan itu – yang telah berlalu sekitar lebih dari sepuluh tahun yang lalu – yang  sebagian masih saya ingat.

Dengan mengendarai kendaraan roda empat SUV, rombongan sebanyak enam orang , bergerak pelahan menanjak meninggalkan pelabuhan Pandangbai, berbelok ke kanan lalu melaju ke arah timur melalui alam pedesaan yang lengang. Meski sudah sekitar sepuluh kali ke Bali, tapi perjalanan ke timur ini baru sekali kali ini kualami. Seperti jalan-jalan di pulau dewata pada umumnya, jalan ke timur tidak kalah eloknya, kalau tidak mau dikatakan lebih indah. Tidak berapa lama perjalanan mengarah ke bibir pantai.

Candidasa

Inilah Candidasa. Kala itu hari telah menjelang atau melewati tengah hari, namun waktu di pantai Candidasa seperti mengapung dalam senja. Waktu sungguh seperti terhenti dan terlupakan. Seluruh perhatian tercurah pada pemandangan alam yang seperti tercitra dalam mimpi. Di sebelah kanan adalah pantai seluas mata memandang, ada pasir dan batu karang serta deburan ombak ke bibir pantai dengan langit terang dan matahari yang bersinar cemerlang namun tak terasa panas. Di sebelah kiri berjajar deretan kafe-kafe dan restoran seperti terabadikan dalam sebuah foto dalam kartu pos yang biasa kita lihat di toko buku atau halaman kantor pos. Kami berhenti sejenak, menikmati bentang alam, mengambil gambar dan segera berlalu, tak mau berlama-lama, khawatir tersedot ke dalam lipatan waktu dan tidak bisa keluar lagi. Dengan keharuan tanpa meneteskan air mata, kamipun meninggalkan kawasan Candisasa, melaju menuju tujuan yang telah kami tetapkan, istana Karangasem di Amlapura.

Setelah berkendara sekitar setengah jam dari Candidasa, melewati kawasan hijau, jalan yang mendaki dan kebun-kebun yang rimbun, kamipun tiba di Amlapura, dan dari sana kami langsung menuju Istana Karangasem.

Istana Karangasem

Istana Karangasem berjarak sekitar lima km dari kota Amlapura, ibukota Kabupaten Karangasem. Bangunan istana bergaya arsitektur Belanda, sedangkan seni ukir yang menghiasi tempat ini merupakan pengaruh dari budaya Bali. Disamping itu, arsitektur Cina dapat terlihat pada bentuk gerbang, gazebo, dan kolam segi delapan. Istana Karangasem dibangun di atas kolam yang luas, sehingga orang harus melalui jembatan panjang untuk mencapainya. Istana ini milik raja Karangasem, namun kini tidak dihuni, tapi dijadikan semacam museum dan obyek wisata. Waktu kami berkunjung, pengunjung yang datang tidak terlalu ramai, sehingga kami bisa leluasa menikmati keindahan istana yang indah dan megah ini. Di dalamnya masih tersimpan banyak foto-foto keluarga kerajaan dan furnitur antik dan indah milik kerajaan. Karena istana ini memang terletak di tengah-tengah kolam, dan kolamnya itu sendiri terletak di tengah-tengah taman yang luas, maka bisa dikatakan kita berada di istana, istana air, atau taman air. Bisa juga dikatakan kita berada di taman luas dengan kolam air besar di tengahnya di mana ada istana di atasnya. Karena itu kokasi Istana Air Karangasem lebih dikenal dengan nama Taman Ujung.

Taman Ujung

Menurut informasi dari biro perjalanan , Taman Ujung—dinamakan  juga Taman Sukasada—didirikan   oleh raja Karangasem yang bernama I Gusti Bagus Jelantik, beliau bergelar Anak Agung Agung Anglurah Ketut Karangasem. Pembangunan taman ini dimulai pada tahun 1909 dan selesai pada tahun 1921, berfungsi sebagai tempat peristirahatan raja Karangasem dan juga sebagai tempat perjamuan tamu-tamu istimewa kerajaan. Sebenarnya Taman Ujung merupakan pengembangan dari Kolam Dirah yang telah dibangun pada tahun 1901. Ada 3 orang arsitek yang terlibat dalam pembangunan taman ini yaitu Van Den Hentz seorang arsitek dari Belanda, Loto Ang seorang arsitek dari Cina, dan seorang arsitek adat Bali (undagi). Luas taman pada saat itu sekitar 400 hektar, namun sekarang luas Taman Ujung kurang lebih 10 hektar.

Berdasarkan sebuah prasasti yang ditulis di atas batu marmer dalam bahasa Bali dan bahasa Melayu, peresmian Taman Ujung dilakukan pada tahun 1937. Pada tahun 1963 terjadi letusan Gunung Agung, dan pada tahun 1976 terjadi gempa hebat di Pulau Bali. Kejadian ini menyebabkan kondisi Taman Ujung rusak parah. Pada tahun 2001-2003, pemerintah kabupaten Karangasem berusaha untuk merekonstruksi kembali Taman Ujung sesuai dengan bentuk aslinya. Dana untuk rekonstruksi obyek wisata ini didapatkan dari bantuan Bank Dunia.

Setelah puas menikmati dan mengagumi kemegahan bangunan istana, kami menyempatkan berkeliling taman. Mengingat begitu luasnya taman ini, maka mengelilinginya juga menjadi aktivitas olah raga yang sehat dan menyenangkan. Landscape  Taman Ujung setidaknya terdiri dari lima bagian. Pertama tempat parkir, kedua taman kebun yang luas yang mengelilingi kolam air dengan tanaman-tanaman yang tertata rapi, ketiga kolam air luas yang mengelilingi istana, keempat adalah istana air yang menjadi fokus taman ini, dan  kelima adalah sebuah bangunan di lahan tinggi menyerupai benteng dengan sebuah menara.

Begitulah kisah perjalanan kami ke ujung timur Pulau Bali. Entah kapan lagi kami bisa bekunjung ke situ.






Jumat, 26 Juli 2019

Nusa Penida

Nusa Penida Pulau Eksotik Di Tenggara Bali

Pagi itu sekitar tahun 2008, setelah sarapan, dari sebuah hotel kami berangkat menggunakan mobil sewaan meninggalkan keriuhan kawasan Kuta menelusuri jalan by pass menuju arah Gianyar. Selepas Denpasar, pemandangan perkampungan dan pemukiman dan pesawahan terasa menyejukkan mata. Di sepanjang jalan rumah rumah penduduk dengan arsitektur yang khas dan unik yang dipagari tembok berukir dengan pintu gerbang khas Bali.Dari Gianyar perjalanan berlanjut ke Bangli dan Semarapura, dan setelah beberapa jam sampailah kami di pelabuhan Padang Bai.
Siang itu pelabuhan padat oleh mobil bus dan truk yang hendak menyebrang ke Lombok. Kami pun berjalan menuju dermaga, menanti kapal ke Nusa Penida. Sebuah kapal pesiar (cruish) merapat. Para penumpang yang terdiri dari wisatawan berkulit putih turun satu persatu. Di dermaga ada sedikit upacara pengalungan bunga dan sambutan disertai tarian setempat. Banyak juga wisatawan yang ikut menari.
Di pelabuhan, kami singgah di warung untuk minum kopi dan menikmati kudapan, kemudian berjalan jalan untuk mengisi waktu menunggu datangnya kapal. Menginjakkan kaki di pasir putih yang lembut di antara perahu nelayan yang sedang bersandar sungguh mengasikkan. Sementara deburan ombak menerpa pantai. Setelah matahari tergelincir ke barat, kapal yang dinanti pun tiba. Satu per satu kami naik ke dalam dan mencari posisi di dekat jendela. Kapalpun bertolak meninggalkan pelabuhan Padangbai menuju pelabuhan Nusa Penida. Ombaknya lumayan besar. Matahari bersinar terik. Langit biru berawan putih. Laut terbentang sejauh mata memandang sebelum berakhir di horison, bertemu dengan lengkungan langit. Sungguh pesiar yang menyenangkan hati.
Setelah sekitar satu jam mengarungi laut bergelombang besar, menjelang ashar kapal merapat di dermaga pelabuhan utama Nusa Penida. Keluar pelabuhan kami berjalan beberapa ratus meter mencari restoran untuk makan siang. Tidak seperti di Kuta, Nusa Penida tidaklah terlalu ramai. Sehingga kami bisa menikmati makan siang dengan nyaman.Sambil berjalan menuju hotel yang sudah kami pesan sejak dari Kuta, kami mencuci mata di pasar dan membeli satu dua barang seperti baju santai yang nyaman di pakai di udara pantai yang panas.
Hotel yang kami tempati seperti rumah penduduk setempat sehingga suasana Bali atau Nusa Penida benar benar kami rasakan. Rumah penduduk di Bali pada umumnya merupakan suatu kumpulan rumah-rumah tersendiri dengan berbagai fungsi yang dilingkari pagar batu bata merah dengan sebuah pintu gerbang untuk masuk dan keluar. Setiap rumah biasanya dibangun di atas ketinggian tertentu, biasanya sekitar 50 cm dari permukaan tanah. Di bagian depan ada beranda beralas ubin tempat duduk-duduk menikmati udara segar.
Tujuan kami ke Nusa Penida salah satunya dan yang utama ingin melihat lokasi percontohan pengadaan tenaga listrik dengan menggunakan energi terbarukan (renewable energy) baik yang berasal dari tenaga surya (PLTS, pembangkit listrik tenaga surya, solar power), tenaga angin (PLTB, pusat listrik tenaga bayu, wind power) maupun biodiesel (PLTB, pembangkit listrik biodiesel) yang dipusatkan di Kutampi. Letaknya di wilayah perbukitan yang lapang. Di sana kami meninjau panel-panel surya dan kincir angin serta luasan lahan tanaman jarak. Selain dalam bentuk pembangkit listrik juga terdapat penerangan jalan yang menggunakan tenaga surya. Sayangnya semuanya tidak beroperasi secara maksimal bahkan cenderung terbengkelai. Menurut laporan Core dari Universitas Udayana, Denpasar, PLTS yang berada di Nusa Penida memiliki 2 unit, daya maksimum yang seharusnya dapat diperoleh sekitar 30 kWP. “Mengingat kondisi cuaca yang berubah-ubah, PLTS tersebut hanya dapat menghasilkan daya sekitar 15 kWP di kondisi cerah, sedangkan apabila kondisi mendung hanya 5 kWP. Sistem PLTS di pulau ini yaitu sistem On-Grid. Selain PLTS, Nusa Penida memiliki pembangkit listrik tenaga Bayu (PLTB/ wind power). Ada 9 unit PLTB yang dibangun di pulau ini, tetapi sayangnya hanya 1 unit saja yang bekerja maksimal. Hal ini mungkin disebabkan oleh kondisi angin yang tidak tetap atau berubah-ubah sehingga 9 unit PLTB tersebut tidak bisa bekerja secara maksimal. Sistem pembangkitan listrik yang ada di wilayah tersebut dipantau oleh PT. PLN Distribusi Bali Area Bali Timur Rayon Klungkung Nusa Penida.”
Sejauh yang kuketahui proyek pembangkit listrik dengan menggunakan energi terbarukan ini oleh pemerintahan SBY saat itu dijadikan pilot project dan dipamerkan kepada delegasi Konferensi Perubahan Iklim PBB yang diselenggarakan di Bali tahun 2007. Konferensi ini digelar sebagai upaya lanjutan untuk menemukan solusi pengurangan efek gas rumah kaca yang menyebabkan pemanasan global dan membahas mengenai cara membantu negara-negara miskin dalam mengatasi pemanasan dunia. Konferensi kali ini mendapat tekanan untuk segera dapat mencari persetujuan global baru untuk memotong tingkat gas rumah kaca yang terus bertambah. Saat ini dari negara-negara maju emiten karbon utama dunia yang menolak menjadi bagian dari Protokol Kyoto adalah Australia dan AS. Kali ini delegasi Australia di bawah kepemimpinan Kevin Ruud berjanji untuk meratifikasi Protokol Kyoto.
Berdasarkan laporan yang dapat kutelusuri, dalam diskusi konferensi ada dua pihak yang menentukan yakni penghasil emisi dan penyerap emisi. Konferensi berusaha menengahi untuk memberi nilai pada karbon yang dihasilkan penyerap emisi. Selama ini pembangkit listrik yang menggunakan batubara dinilai lebih murah dinilai lebih murah dibanding pembangkit listrik tenaga geothermal (panas bumi) karena karbon yang dihasilkan oleh pembangkit listrik tenaga batu bara tidak dihitung sebagai biaya yang harus ditanggung. Di sisi lain, akibatnya para pemilik lahan (hutan) yang menjadi penyerap karbon harus bertanggung jawab terhadap keberlangsungan lahannya. Atas dasar kenyataan itu maka diperlukan pendapatan bagi pemilik lahan untuk memelihara lahannya. Pemilik lahan biasanya adalah negara-negara berkembang, sedangkan penghasil karbon adalah negara-negara industri maju. Dengan adanya pendapatan sebagai kompensasi dari negara-negara maju maka negara-negara berkembang bisa memelihara hutannya. Dengan demikian semua pihak bertanggung jawab untuk pengelolaan karbon di bumi. Inilah logika berpikir di belakang kebijakan REDD, reforestation dan CDM.
Setelah puas meninjau lapangan, kami menyempatkan berkeliling pulau melihat-lihat bentang alam Nusa Penida. Nusa Penida adalah sebuah pulau dengan kondisi tanah yang kering berbatu kapur tadah hujan. Penduduk yang tidak begitu banyak populasinya pada umumnya berkebun pada lahan yang berkontur pebukitan. Setelah melewati perkampungan kami menuju tepi pantai Samudra Indonesia. Nusa Penida yang dikelilingi tebing-tebing tinggi yang terjal di sebelah selatan mempertontonkan pemandangan alam yang sangat indah. Dari tebing terjal itu kami bisa melihat lautan biru di bawahnya. Pada dinding terjal itulah terdapat sumber air bersih bagi penduduk setempat yang dikelola perusahaan daerah. Kami pun mencoba menuruni ratusan anak tangga yang menempel di dinding tebing beberapa ratus meter ke bawah untuk menikmati indahnya pemandangan.
Pantai pantai Nusa Penida yang menghadap ke Pulau Bali pada umumnya landai. Beberapa di antaranya dijadikan destinasi wisata khususnya bagi turis manca. Kamipun sempat berkunjung untuk menikmati keindahan pasir putihnya. Beberapa kapal datang berlabuh menurunkan penumpang untuk berwisata. Kapal pesiar ini khusus datang dari Pelabuhan Benoa di Denpasar. Tidak seperti pantai Kuta, Seminyak, Sanur atau Lovina di Pulau Bali, pantai-pantai di Nusa Penida cukup tenang dan tidak riuh dengan keramaian sehingga kita bisa benar-benar menikmati keindahannya.
Malam itu kami menginap semalam di Nusa Penida karena ingin mengetahui apakah lampu-lampu penerangan jalan di Nusa Penida menyala seperti yang diharapkan. Karena itu malam itu kami berkendara ke jalan-jalan yang lengang dan melihat memang lampu-lampu yang menggunakan panel tenaga surya masih menyala.
Keesokan harinya setelah menikmati sarapan pagi kami berkemas dan bergegas ke pelabuhan. Mengenakan baju pantai dan sepasang sendal jepit yang kubeli di pasar kemarin, aku merasakan suasana piknik yang sesungguhnya. Sampai di pelabuhan kami masih menunggu keberangkatan kapal lebih dari satu jam. Mengisi waktu lebih dari 60 menit, aku dan kawan-kawan berjalan-jalan di sekitar dermaga. Kami menyusuri pasir putih, duduk di antara perahu nelayan yang berwarna-warni, menikmati udara pantai di pagi hari yang segar. Tidak lupa tentunya kami mengambil foto suasana pelabuhan dan pantai dengan laut yang berombak tenang dan langit yang biru. Kawanku, Beni, seorang apoteker, selalu membawa tustel dan memotret dengan kesungguhan seperti layaknya fotografer sejati. Sesi foto selesai saat waktu kapal menjelang berangkat ke Pulau Bali.
Ketika peluit berbunyi, perlahan-lahan kapal mulai meninggalkan dermaga. Nusa Penida kami tinggalkan. Rasanya seperti mimpi. Nusa Penida memang tidak seseronok Pulau Bali tetapi memberi kesan tersendiri pada diriku. Dalam waktu beberapa puluh menit, Nusa Penida hilang dari pandangan. Gelombang laut makin lama makin tinggi. Udara pun makin terasa panas. Para penumpang banyak yang pindah mencari tempat yang menurut mereka lebih nyaman untuk menikmati pemandangan maupun udara yang lebih segar. Kapal yang kami tumpangi terdiri dari tiga lantai. Lantai pertama untuk kendaraan roda dua dan roda empat. Lantai kedua untuk kursi para penumpang. Lantai ketiga terletak di bagian atap yang lebih terbuka. Setelah berlayar kurang lebih satu jam, perahu merapat ke dermaga pelabuhan Padang Bai. Kami pun kembali ke Pulau Bali.
---
Beberapa Catatan :
1. REDD
Reducing emissions from deforestation and forest degradation (REDD+) is a mechanism developed by Parties to the United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC). It creates a financial value for the carbon stored in forests by offering incentives for developing countries to reduce emissions from forested lands and invest in low-carbon paths to sustainable development. Developing countries would receive results-based payments for results-based actions. REDD+ goes beyond simply deforestation and forest degradation and includes the role of conservation, sustainable management of forests and enhancement of forest carbon stocks.belakang kebijakan REDD, reforestation dan CDM.
2. CDM
The Clean Development Mechanism (CDM), defined in Article 12 of the Protocol, allows a country with an emission-reduction or emission-limitation commitment under the Kyoto Protocol (Annex B Party) to implement an emission-reduction project in developing countries. Such projects can earn saleable certified emission reduction (CER) credits, each equivalent to one tonne of CO2, which can be counted towards meeting Kyoto targets.
The mechanism is seen by many as a trailblazer. It is the first global, environmental investment and credit scheme of its kind, providing a standardized emissions offset instrument, CERs.
A CDM project activity might involve, for example, a rural electrification project using solar panels or the installation of more energy-efficient boilers.
The mechanism stimulates sustainable development and emission reductions, while giving industrialized countries some flexibility in how they meet their emission reduction or limitation targets.
3. Reforestation
Reforestation is the natural or intentional restocking of existing forests and woodlands (forestatiton) that have been depleted, usually through deforestation. Reforestation can be used to rectify or improve the quality of human life by soaking up pollution and dust from the air, rebuild natural habitats and ecosystems, mitigate global warming since forests facilitate biosequestration of atmospheric carbon dioxide and harvest for resources, particularly timber, but also non-timber forest products.