Senin, 15 Mei 2023

Bulan Bung Karno 2021

 


A. Peringatan Hari Lahir Pancasila

Lulu Lukiyani dari kompas.com pada Selasa, 1 Juni 2021 menulis artikel berjudul

"Sejarah Hari Lahir Pancasila: Wasiat Bung Hatta untuk Putra Soekarno." Isi artikel itu secara lengkap sebagai berikut :

”Tanggal 1 Juni 1945 ditetapkan oleh pemerintah sebagai Hari Lahir Pancasila melalui Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 24 Tahun 2016

Pancasila yang memiliki arti lima dasar atau lima sendi merupakan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia.

Mohammad Hatta, negarawan sekaligus Wakil Presiden Indonesia pertama, mengungkap sejarah Hari Lahir Pancasila dalam wasiatnya yang ditujukan kepada Guntur Soekarnoputra, putra pertama Soekarno dan Fatmawati

Dalam wasiat yang ditandatangani pada 16 Juni 1978 tersebut, Bung Hatta memulai dengan cerita ketika dr. Radjiman Wedyodiningrat, Ketua Badan Penyelidikan Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), mempertanyakan dasar negara Indonesia.

“Dekat pada akhir bulan Mei 1945, dr. Radjiman, ketua Panitia Penyelidikan Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia, membuka sidang Panitia itu dengan mengemukakan pertanyaan kepada rapat: “Negara Indonesia merdeka yang akan kita bangun itu, apa dasarnya?” tulis Bung Hatta dalam dokumen yang dikirim ke Guntur yang dipublikasikan di Kompas, 15 Maret 1980.

Saat itu, kebanyakan anggota rapat tidak mau menjawab pertanyaan dr. Radjiman karena takut menimbulkan persoalan filosofi yang berkepanjangan.

Namun, Soekarno menjawab pertanyaan tersebut dengan menyampaikan pidatonya pada tanggal 1 Juni 1945

Pidato Bung Karno ini mengemukakan Pancasila yang memuat lima sila sebagai dasar negara Indonesia yang merdeka

Bung Hatta mengatakan, pidato Bung Karno menarik perhatian para anggota panitia dan disambut dengan tepuk tangan yang riuh

“Sesudah itu sidang mengangkat suatu Panitia Kecil untuk merumuskan kembali Pancasila yang diucapkan Bung Karno,” tulis Bung Hatta.

Adapun Panitia Kecil tersebut terdiri dari 9 orang, yakni Ir. Soekarno, Mohammad Hatta, A.A. Maramis, Abikusno Tjokrosoejoso, Abdulkahar Muzakir, H.A. Salim, Ahmad Soebardjo, Wahid Hasjim, dan Muhammad Yamin

Kemudian, 9 panitia ini mengubah susunan Pancasila dan menempatkan Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama

Sila kedua, yang dalam rumusan Bung Karno disebut Internasionalisme atau perikemanusiaan diganti dengan sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab.

Sila ketiga, sila Kebangsaan Indonesia diganti dengan Persatuan Indonesia. Sila keempat, Mufakat atau Demokrasi diganti dengan sila Kerakyatan.

Terakhir, sila kelima yang oleh rumusan Bung Karno disebut Keadilan Sosial diganti dengan sila Kesejahteraan Sosial.

Perubahan rumusan Pancasila oleh Panitia 9 ini diserahkan kepada Panitia Penyelidik Usaha-usaha Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 22 Juni 1945 dan diberi nama “Piagam Jakarta”.

Kemudian, “Piagam Jakarta” dijadikan Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 sehingga Pancasila dan UUD menjadi dokumen negara pokok.

“Pancasila dan Undang-Undang Dasar yang sudah menjadi satu Dokumen Negara itu diterima oleh Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 18 Agustus 1945 dengan sedikit perubahan”.

Sedikit perubahan yang dimaksud Bung Hatta adalah menghilangkan kalimat “dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi penduduknya” pada sila pertama Pancasila.

“Sungguhpun 7 perkataan itu hanya mengenai penduduk yang beragama Islam saja. Pemimpin-pemimpin umat Kristen di Indonesia Timur berkeberatan kalau 7 kata itu dibiarkan saja, sebab tertulis dalam pokok daripada pokok dasar Negara kita sehingga menimbulkan kesan, seolah-olah dibedakan warga negara yang beragama Islam dan bukan Islam”.

Berdasarkan kesaksian Bung Hatta yang dituangkan dalam wasiat ini, tanggal 1 Juni ditetapkan sebagai Hari Lahir Pancasila karena pada tanggal tersebut Bung Karno pertama kali mencetuskan Pancasila dalam pidatonya.

Dengan demikian, tepat 76 tahun yang lalu, dalam sebuah gedung, yang kini dikenal sebagai Gedung Pancasila, Bung Karno melontarkan gagasannya mengenai dasar negara Indonesia (Lulu Lukiyani, 1 Juni 2021)

Untuk memperingati peristiwa sakral dan agung sebagaimana tersurat dalam Wasiat Bung Hatta kepada Guntur Sukarnoputra tersebut, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung, kemarin mengadakan resepsi kecil di Baleendah dengan memotong tumpeng sambil berdoa dan mendengarkan pidato Ketua Umum DPP PDI Perjuangan melalui video yang diproyeksikan ke layar lebar. Inti pidato Ketua Umum adalah bahwa Pancasila 1 Juni 1945, 22 Juni 1945 dan 18 Agustus 1945 adalah satu, bukan dua dan bukan ketiga.

Setelah selamatan kami secara bergiliran membaca teks Pidato Bung Karno yang berjudul Lahirnya Pancasila dari pukul 14.00 hingga pukul 15.00 dan diakhiri dengan Sarasehan hingga pukul 16.30.

Pidato Bung Karno tersebut secara lengkap dapat dibaca pada link berikut ini

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1132401736884752&id=986894694768791

 

B.  120 Tahun Bung Karno


 

120 Tahun Bung Karno kami peringati secara hibrida pada tanggal 6 Juni 2021. Beberapa orang pengurus DPC berada di Sekretariat dan yang lain mengikuti secara virtual. Penanggungjawab acara Kang Nanang Parhan, pemandu Kang A. Dwi Kuswantoro, operator peralatan Kang Samuel.

Acara dimulai selepas ashar dan berakhir menjelang maghrib dimulai dengan sambutan Ketua Dewan Pengarah BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila), dilanjutkan dengan pemutaran siaran ulang talk show mengenai masa kecil Bung Karno. Talk show dipandu host dari BKN (Badan Kebudayaan Nasional) PDI Perjuangan dengan Nara sumber Bpk Roso Daras. Materi talk show berkisar masa kecil Bung Karno sejak dilahirkan di Surabaya, bersekolah dasar di Tulungagung, bersekolah menengah pertama di Mojokerto dan bersekolah menengah atas (HBS) di Surabaya. Saat di Tulungagung Bung Karno tinggal dengan kakeknya. Di Mojokerto tinggal dengan ayahnya dan di Surabaya kost di Rumah Pak H.O.S. Tjokroaminoto.

Usai pemutaran video talk show masa kecil Bung Karno, saya diminta memberi ulasan. Saya sedikit memberi komentar, bahwa kehidupan Bung Karno (terlahir dengan nama Kusno) yang hidup pas pasan sebagai anak seorang guru membuat nya mengembara ke dalam dunia idealisme dan pengetahuan. Bung Karno banyak membaca dan tiap malamnya di kamar kost, beliau berlatih pidato disaksikan oleh kawan kost nya. Proses ini masih berlanjut hingga beliau diasingkan di Bengkulu. Di pantai Bengkulu, Bung Karno berpidato dengan suara mengalahkan suara deburan ombak Samudra Indonesia.

Pada putaran kedua, diputarkan film pendek masa masa akhir kekuasaan Bung Karno yang tragis di bawah kekuasaan yang tidak bersahabat. Banyak cerita cerita kecil yang mengharukan yang tidak urung menyebabkan kami semua menitikkan air mata.

Menjelang maghrib acara ditutup dengan doa untuk Bung Karno dan memotong tumpeng. Potongan tumpeng pertama saya berikan ke Kang Alo Sahripudin, Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Bojongsoang, mewakili 31 PAC dan 270 PR serta Badan badan dan Sayap PDI Perjuangan se Kabupaten Bandung.

 

C. Haul Bung Karno

 


Sejak sebelum reformasi, haul Bung Karno dilakukan setiap tanggal 21 Juni. Biasanya dilaksanakan di kota Blitar, di Rumah keluarga Bung Karno. Haul yang saya ikuti di Blitar tahun 1997, penyelenggaranya adalah gabungan kaum Marhaenis dan kaum Nahdiyin JawaTimur. Saat itu kami datang ke sana dengan menyewa bus berisi 50 orang. Berangkat dari Bandung melalui Solo, Ngawi, Nganjuk dan Kediri, kembali melalui Trenggalek, Ponorogo, Solo, Yogya, Bandung. Kota Blitar sangat ramai. Para peziarah datang ke makam Bung Karno dan ada pula yang mengikuti haul di halaman rumah Bung Karno. Ibu Mega turut menyampaikan pidato atas nama keluarga.

Meski pandemi, tahun kemarin kami menyelenggarakan haul ke 50 Bung Karno di sekretariat DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung dengan tahlilan dan membaca Yaasin dipimpin Ustadz Nanang Parhan. Buku tahlil kami cetak dengan foto Bung Karno di sampulnya.

Tahun ini haul dipusatkan di masjid at Taufiq di depan Kantor DPP PDI Perjuangan di Jalan Lenteng Agung. Kami semua dari 34 DPD dan 540 DPC mengikuti secara daring. Haul diselenggarakan oleh DPP Bamusi (Baitul Muslimin Indonesia) dibuka oleh Prof. Dr. Hamka Haq, dilanjutkan dengan tahlilan yang dipimpin oleh salah seorang pengurus pusat NU, Dr Marsudi Syuhud.

Haul Bung Karno yang ke-51 yang dilaksanakan tanggal 21 Juni 2021 sangat istimewa karena dihadiri oleh Presiden RI ke-5 dan ada sambutan dari Ketua DPR RI, Ketua NU dan Ketua Muhammadiyah. Terakhir ada ceramah dari Ketua BPIP.

 

 

 

 

Rakercab I PDI Perjuangan Kabupaten Bandung

 

Penyelenggaraan Rapat Kerja Cabang (Rakercab) 1 PDI Perjuangan Kabupaten Bandung secara hybrid yang menggabungkan cara on site dan virtual berjalan lancar dan sukses pada hari Minggu, 30 Mei 2021. Rakercab dipusatkan di Sekretariat DPC di Jl. Jaksa Naranata No. 10 Baleendah dan diikuti secara virtual oleh peserta dari tujuh wilayah. Wilayah 1 di Ciwidey, wilayah 2 di Katapang, wilayah 3 di Cimenyan, wilayah 4 di Cicalengka, wilayah 5 di Ibun, wilayah 6 di Ciparay dan wilayah 7 di Banjaran.



Tema Rakercab 1 DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung Tahun 2021 adalah  Desa Kuat Indonesia Maju dan Berdaulat.

Pembukaan Rakercab 1 DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung Tahun 2021 dilakukan secara bersama sama dengan Rakercab DPC PDI Perjuangan Pangandaran, DPC PDI Perjuangan Kota Tasikmalaya, dan DPC PDI Perjuangan Kota Sukabumi. Acara pembukaan langsung dipandu oleh Adwil 2 dan dibuka oleh Bapak Sukur Nababan, Ketua Bidang Organisasi dan Keanggotaan DPP PDI Perjuangan. Bertindak sebagai key note speaker adalah Bapak Bambang Wuryanto, Ketua Bidang Pemenangan Pemilu DPP PDI Perjuangan. Pada kesempatan itu saya pun memberikan laporan mengenai penyelenggaraan Rakercab 1 PDI Perjuangan Kabupaten Bandung Tahun 2021 yang diselenggarakan secara hybrid tersebut.

Rakercab dipandu oleh Bapak  Ono Surono, Bapak Yunandar dan Ibu Ineu Purwadewi secara virtual dari Sekretariat DPD di Jl. Pelajar Pejuang 45 No. 1 Bandung. Persidangan dipimpin secara on site  oleh Ibu Nia Purnakania didampingi oleh saya selaku Ketua, Bapak Henhen Asep Suhendar selaku Sekretaris dan Bapak Dentara Denni selaku Bendahara DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung.

Acara Rakercab I DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung 2021  diisi dengan penyampaian laporan organisasi oleh Wakabid Bidang Organisasi Bapak Achmad Mulyana, laporan Sinergi dua Pilar oleh Sekretaris (Wakil Ketua III DPRD Kabupaten Bandung) Bapak Henhen Asep Suhendar , laporan pilkada dan Pemetaan Daerah oleh Wakabid Pemenangan Pemilu Bapak Rudita Hartono. Laporan perkembangan organisasi juga disampaikan oleh 31 Ketua PAC PDI Perjuangan se-Kabupaten Bandung dan oleh lima  Ketua Badan.

Berdasarkan laporan organisasi tersebut, Rakercab menyusun rekomendasi untuk dibawa ke dalam Rakerda dan Rakernas.Salah satu butir rekomendasi adalah menargetkan kenaikan kursi di setiap Dapil dari satu menjadi dua, kursi DPRD Jabar menjadi dua dan DPR RI menjadi dua, serta mencalonkan kandidat Bupati berdasarkan aspirasi dari bawah.

Ketua Panitia  Rakercab I PDI Perjuangan Kabupaten Bandung ini adalah kang Achmad Mulyana (Aam). Kang Aam menyiapkan acara dengan serius. Ruang aula DPC ditata sebaik mungkin. Panggung dilapisi dengan kain merah dan hitam dan dipasangi backdrop ukuran besar dengan relief burung Garuda di atas serta foto Presiden dan Wakil Presiden di kiri kanan. Bendera Merah Putih dan bendera PDI Perjuangan dipasang berderet di kiri kanan panggung. Di latar depan dihiasi bunga-bunga yang kami sewa dari flower rental. Karena acara ini bersifat daring dan melibatkan setidaknya empat pihak yakni DPP PDI Perjuangan, DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung dan Korwil di tujuh wilayah maka persiapan yang terkait dengan penyediaan sarana dan prasarana komunikasi benar benar harus disiapkan secara matang menyangkut ketersedian perangkat komputer dan proyektor, kamera, sound system dan tentu saja jaringan yang stabil.

Gladi kotor dilakukan sehari sebelumnya sementara  bersih dimulai pukul 10.00 WIB. Acara  Rakercab dimulai pukul 11.00 dan berakhir sekitar pukul 17.00 dengan dua kali jeda untuk perubahan tata ruang dan rehat.

Tiga wartawati dan satu wartawan hadir meliput dan melakukan wawancara. Baik dari media cetak maupun online.

Baguna (Badan Penanggulangan Bencana) bersiap dengan ambulan dan petugas ber APD lengkap mengingat Rakercab dilakukan di masa pandemi Covid-19 yang mulai menunjukkan peningkatan. 

 

 

Sabtu, 18 Maret 2023

Pilkada Kabupaten Bandung 2020

 

Bakti Sosial

Sabtu, 16 Februari 2020, pagi, sebagai penasihat Pospera, saya menghadiri bakti sosial pengobatan untuk masyarakat di Balai Musyawarah Desa Cileunyi Wetan. Setelah bertemu dengan para pengurus Pospera dan Yayasan Sekar Galih serta menyaksikan kegiatan pengobatan, saya berangkat ke kampus untuk mengajar hingga tengah hari. Usai salat zuhur, hujan turun dengan derasnya. Meski begitu saya berangkat ke kantor DPD PDI Perjuangan di Jl. Pelajar Pejuang 45/1 memenuhi undangan mereka. Satgas menyambut dengan membawa payung. Acara yang dijadwalkan untuk kami pukul 14.00 setelah Depok. Jadwal berubah, Cianjur danTasikmalaya lebih dulu. Kami mendapat giliran ketiga. Sambil menunggu giliran kami (kang Henhen, kang Rudita dan saya) menunggu di ruang SR dan mengabadikannya dengan berfoto bersama DPC PDI Perjuangan Cianjur dan calon yang mereka usung, Bupati Cianjur petahana.

Dalam pertemuan dengan DPD disimpulkan bahwa teh Yena akan berpasangan dengan Sahrul Gunawan dan akan diusulkan ke DPP. Sementara saya diberi waktu satu minggu untuk mencari pasangan serta mitra partai untuk mengusung.

Usai pertemuan kami bertiga ngopi di Ngopdul tak jauh dari DPD. Tak berapa lama hadir kang Ade, bupati Tasikmalaya dan rombongannya. Ada kang Dedi, kang Rohman, kang Marcel dan para anggota DPRD yth juga DPC PDI Tasikmalaya. Dari pembicaraan kang Ade, saya menangkap pesan penting. Kalau hendak maju ke Pilkada Kabupaten Bandung, ada tiga alternatif pasangan: Sahrul, Nia dan Gungun. Jika di luar itu lebih baik tidak maju. Saya perhatikan betul pesan beliau

Qurban

Saat kami, KSB DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung, melakukan rakor konor dengan KSB DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat, Selasa, 28 Juli 2020 di Jl. Pelajar Pejuang 45 No. 1 Bandung, Ibu Yena Iskandar Ma'soem, balonbup Bandung, hadir, dan menyampaikan niatnya untuk memberi 31 domba kepada para Ketua PAC PDI Perjuangan di 31 Kecamatan yang ada di Kabupaten Bandung, untuk disembelih sebagai kurban di Hari Idul Adha. Bu Yena berharap niat ini bisa mendekatkannya dengan PAC, PR dan para anggota partai. Kami menyambut dan menghargai niat tersebut dan segera akan mempertemukan Bu Yena dengan para Ketua PAC.

Keesokan harinya kami rakor dengan DPC dan Fraksi melalui rapat daring. Kami menugaskan Pak Andri Kusnandar selaku Wakabidagper yang menangani masalah keagamaan dan kepercayaan untuk mengurus pendistribusian domba.

Alhamdulillah pada hari Kamis, sehari sebelum Hari Idul Adha, 99% Ketua PAC hadir di Aula DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung di Jl. Jaksa Naranata No. 10, Baleendah.

Kiriman domba datang menjelang isya dan langsung dibagikan ke semua Ketua PAC tanpa terkeculi berdasarkan nomor yang sudah kami siapkan sebelumnya.

Kemarin, di hari raya, domba-domba itu disembelih di tiap-tiap kecamatan. Dagingnya diberikan kepada para penerima yang berhak meski diprioritaskan pada para pengurus PAC dan PR, karena memang masih banyak pengurus partai yang berhak.

Selain 31 domba untuk PAC dari Bu Yena, ada juga tiga domba untuk dikurbankan di DPC. Satu domba hibah dari Bu Yena dan dua domba dari Bu Nia Purwakania, anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Dapil Kabupaten Bandung. Tiga domba itu dikurbankan atas nama masing-masing KSB DPC. Karena memang demikianlah ketentuannya.

Seperti firman Allah SWT yang kurang lebih terjemahannya adalah “bukan daging darah maupun bulu binatang kurban yang sampai kepada Allah melainkan ketakwaan”, semoga demikianlah kiranya.

Deklarasi Pilkada Damai

 



Kemarin Kang Ryan, Kepala Sekretariat DPC PDI Perjuangan Kabupatan Bandung mengirim undangan dari Kapolresta Bandung via WA. Karena saya sedang rapat surat tersebut hanya kubaca perihal dan waktunya. 

Pagi tadi setelah subuh kusetel alarm pukul 08.00. Ada telepon masuk dari penelpon tak bernama. Yayang membangunkanku dengan taktis "pa itu kopinya ." Akupun berjingkat duduk di sofa. Ngopi. Sepotong pizza hangat yang disediakan belum kucolek. Telpon masuk. Dari Polri sahabat kita bergambar Krisna. Kuangkat, " Pak Ketua datang ?." "Insya Allah," kataku. "Acaranya jam sembilan." "Ok saya berangkat." Aku bergegas menyalakan mesin mobil dan berangkat ke kamar mandi.

Seusai mandi berpakaian merah hitam dan berdandan, aku meluncur ke jalan tol dari Cileunyi ke Pasirkoja. Dari Pasirkoja menuju Soreang. Sampailah di Balai Budaya Sabilulungan. Pak Rahmat menyambut dan mengarahkanku mendaftar hingga mengantar sampai tempat duduk yang sudah ditulisi "Ketua PDI Perjuangan."

Beberapa ketua parpol sudah di tempat. Kang Raka Hidayat, Gerindra dan Kang Endang, Demokrat. Kamipun berfoto. "Pilkada Damai". Gerindra bersama Golkar mengusung Nia-US, Demokrat bersama PKB PKS dan Nasdem mengusung DS-Syahrul dan PDI Perjuangan mengusung Yena-Atep bersama PAN dan PSI.

Kami berdiri, menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ketua KPU, Menteri BUMN :Erick Thohir, Wakapolri, Gubernur DKI : Anis Baswedan, Imam Besar Istiqlal : Nazaruddin Umar dan Ketum PBNU Said Agil Siradj satu persatu muncul di layar dan berpidato. Aku celingak-celinguk mencari hingga menengok ke balkon ," mereka di duduk di sebelah mana", ternyata ini vicon dari Jakarta. Hostnya Polda Metro Jaya.

Acara Jakarta selesai. Acara diambil alih Polda Jabar. Nampaknya dari Situation Room. Ketua KPU Kabupaten Bandung, Agus Baroya muncul di panggung dilanjutkan dengan Wakapolda, Brigjenpol ... dan terakhir Wagub Jabar, Uu Ruzanul Ulum. Benang merahnya : Pilkada Damai dikemas dengan Pilkada yang mematuhi Protokol Kesehatan di masa pandemi C-19 kreasi KPU, Menteri BUMN selaku Ketua Komite ... dan Polri. Jadilah Pilkada Damai dan Sehat.

Kang Yayat, saya, kang Endang dan ketua parpol lainnya dipanggil polwan cantik agar naik kepanggung. Ketua KPU dan Ketua Bawaslu Bandung membacakan Deklarasi Pilkada Damai bersama kami. Pak Wagub, Wakapolda, Ketua DPRD Jabar, Pangdam Siliwangi, Kajati, dan Bupati Bandung naik ke panggung. Kami menandatangani Deklarasi Pilkada Damai. Setelah itu Wagub, Kapolda dan pejabat lainnya menyerahkan satu kotak masker kepada kami para ketua Parpol. Acara pun selesai. Saya segera meninggalkan tempat, tak ikut ngopi dengan Bupati. Tidak berapa lama setelah memasuki jalan tol Soroja terdengar sirine meraung. Rombongan Wagub. Paling belakang mobil Panglima Santri Nasional yang dibranding dengan foto Kang Uu.

Saya meluncur ke pintu tol Pasteur dan berbelok ke Holiday Inn bertemu kang Henhen dan Abah Deka sekitar lima belas menit. Dari sana saya menyusuri Pasupati dan berbelok kanan di Gasibu melewati Gedung Sate, Stadion Siliwangi menuju Jl. Pelajar Pejuang 45 No. 1. Janjian dengan Mas Ketut untuk makan siang.

Pengesahan Pasangan

Rapat pleno KPU Kabupaten Bandung pagi ini mengesahkan Yena - Atep sebagai pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati dari PDI Perjuangan - PAN dan PSI. Berita acara pengesahan diterima oleh kang Ryan  selaku LO dari PDI Perjuangan dan ceu Elin dari PAN. Acara sidang pleno KPU yang dipimpin Ketua KPU Kabupaten Bandung, Agus Baroya, disiarkan secara langsung melalui akun facebook KPU Kabupaten Bandung. Terima kasih kepada KPU, Bawaslu, Polresta, Kodim, Kejari, Kesbangpol dan semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan sidang pleno penetapan pasangan calon. Alhamdulillah.

Tim Kampanye Yena Atep (TKYA)



Para pemimpin TKYA (Tim Kampanye Yena Atep) berkumpul di Yena Center di Rancaekek. Ketua Sekretaris Bendahara Wakabid dan LO dari PDI Perjuangan dan PAN serta ketua PSI bertemu dengan paslon: Yena-Atep serta bendum TKYA dan BP Pemilu Jabar juga relawan. Rapat pimpinan membahas teknis keberangkatan ke Hotel Sultan di Soreang, tempat sidang pleno pengundian nomor paslon yang diselenggarakan KPU Kabupaten Badung. Paslon bersama suami/istri akan diampingi pimpinan parpol pengusung plus LO. Jumlahnya total 15 orang sesuai ID Card yang diterima. Mobil yang digunakan tidak lebih dari enam sesuai stiker yang diberikan.

Sekitar pukul 08.30 kami berkumpul di sekitar pintu tol. Setelah berkordinasi dengan patwal dari Polresta serta berdoa, kamipun meluncur ke Jalan Kopo memasuki lokasi. Di depan hotel kami turun dan mengantar paslon Yena-Atep. Kami berhenti di depan pintu masuk. Sekitar 35 wartawan mengambil gambar. Kami menyampaikan salam dan berteriak Yena-Atep Dahsyat ! Yena-Atep Menang !

Kami mengantar paslon hingga memasuki pintu ballroom. Seorang anggota Bawaslu menyampaikan info tentang perubahan PKPU. Intinya hanya paslon dan LO yang boleh mengikuti sidang pleno KPU. Kamipun mundur teratur dan ke luar hotel.

"Berdasarkan PKPU 13/2020 yang keluar tgl 23 September 2020 Pasal 55 bahwa pleno terbuka pengundian nomor urut hanya dihadiri oleh:

a. Cabup cawabup tiap paslon

b. 2 orang Bawaslu

c. 1 orang LO tiap paslon

d. 5 komisioner ."

Begitu pemberitahuan Ketua KPU Kabupaten Bandung melalui pesan WAG Ketua Parpol yang sampai pada kami.

Kami kemudian menunggu di lobby hotel dan menyaksikan proses pengundian nomor dari akun KPU. Tahap pertama kang Atep mendapat nomor 7. Tahap kedua teh Yena mendapat nomor 2.

Kawan kawan meminta kami berfoto bersama di pintu hotel dengan membawa nomor 2. Itulah nomor bagi Yena-Atep saat berkampanye nantinya dan nomor itu pula yang akan tertera pada kertas suara. Insya Allah.

 Mengenal Yena dan Atep

Pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati No. 2 Yena-Atep ini diusung oleh PDI Perjuangan yang memiliki 7 kursi dan PAN (Partai Amanat Nasional) yang miliki 4 kursi di DPRD Kabupaten Bandung. 11 kursi adalah syarat minimal untuk bisa mendaftarkan paslon ke KPU Kabupaten Bandung. Dilihat dari jumlah kursi, di antara paslon lain, Yena-Atep ini tergolong paslon minimalis. Meskipun demikian pendukungnya cukup meluas di berbagai kalangan khususnya kaum milenial atau pemilih pemula. Belakangan PSI (Partai Solidaritas Indonesia) ikut mendukung secara resmi.

Yena seorang apoteker. Berasal dari keluarga terpandang khususnya di bidang bisnis, ia aktif di berbagai kegiatan profesi, sosial maupun politik. Sedangkan Atep adalah kapten Persib Bandung yang sempat membawa tim kebanggaan rakyat Jawa Barat itu menjadi juara dalam kompetisi sepakbola nasional. Karena itu ia punya panggilan Lord Atep. Ia lahir di Jangari, di tepi danau Cirata. Paslon Yena-Atep mengusung tagline Dahsyat, Dinamis Agamis Harmonis Sejahterakan Rakyat. Belakangan saat kami menyiapkan keberangkatan paslon ini untuk mengikuti pengundian nomor, muncul gagasan agar dalam tagline Dahsyat tersirat juga kata Sehat mengingat Pilkada ini dilaksanakan dalam suasana wabah C-9. Dengan ada kata sehat, Yena-Atep hendak menegaskan komitmennya pada aspek keselamatan dalam penyelenggaraan pilkada baik bagi pemilih, yang dipilih, penyelenggara dan pengawas pilkada. Semoga Yena-Atep menang dengan selamat, sehat lahir batin.

 

Kunjungan Ketua KPU Kabupaten

Dua atau tiga hari yang lalu, Pak Agus Baroya, Ketua KPU Kabupaten Bandung mengirim pesan japri bahwa Forkompimda ( Forum Komunikasi Pimpinan Daerah) akan berkunjung ke posko paslon bupati dan wakil bupati Bandung No. 2 , Hj. Yena Iskandar Ma'soem Aptk- Atep. Tak lama kemudian disusul dengan surat resmi lengkap dengan jadwal. Kang Deden, bendahara umum TKYA juga mengirim pesan japri menanyakan perihal kehadiranku. Tentu saja saya katakan "insya Allah."

Pagi tadi hujan. Meski begitu saya bersiap. Memanaskan mesin mobil. Mandi. Berbaju merah. Sarapan dengan menu mie goreng spesial (pakai telor) buatan yayang. Plus kopi Bandung dari Ciwidey dengan pemanis gula merah. Baru pukul 09.00. Saya sudah berseragam dan sarapan. Acara dijadwalkan pukul 11.00. Masih ada waktu. Kuputuskan untuk menulis. Kuambil dan kunyalakan laptop. Kemarin saya menulis soal KNIP. Hari ini saya ingin menulis tentang Ketua KNIP yang pertama. Langkah selanjutnya, saya mencari beberapa buku dari perputakaan sebagai referensi dan mencari tulisan tulisanku sebelumnya. Dalam beberapa menit jadilah tulisan satu halaman kurang.

Waktu menunjukkan pukul 10.15. Saya segera berpamitan pada yayang, anak dan cucu. Berangkat. Lalu lintas di jalan nasional padat. Maklum hari Sabtu tanggal muda pula. Jarum indikator bbm pada dashboard di bawah strip. Bensin kosong nih. Anakku pakai mobil ke Jakarta pp kemarin. Mobil kubelokkan ke SPBU Al Ma'soem. "Kang, pertalite lima puluh rebu." Belum selesai mengisi Kang Erik menelpon. "Pak Ketua di mana. Rombongan sudah datang." Wah, padahal baru 10.30. "Menuju Rancaekek" kataku.

Sampai di depan Yena Center beberapa mobil patwal sudah siap di persimpangan jalan ke Majalaya. Saat saya hendak belok ke kiri, sudah ditutup. Saya pun berbelok ke kanan. Parkir di depan Bank Syariah Al Ma'soem. Paadu omong dengan polisi. Kunci kuserahkan kang Ryan dan saya bergegas ke tempat acara. Suhu badan diukur dengan thermo gun. 36 derajat. Petugas memencet hand sanitizer ke tanganku. "Wah, Tim Kopit sudah jalan nih."

Saat tiba di lantai dua, acara sudah dimulai. Pak Agus sudah berbicara menggunakan pelantang. Saya ambil posisi di samping teh Yena. Pak Irman, ketua PAN sudah ada. Usai pak Agus berbicara, dilanjutkan oleh pak Ari dari Bawaslu. Kemudian pak Kapolresta. Pak Dandim. Pak Kajari. Terakhir Pak Plt Sekda yang juga Satgas Penanggulangan C-19 dan Satgas Desk Pilkada. Intinya : ini Pilkada bersyarat. Kampanye harus sesuai UU dan PKPU. Protokol kesehatan 3 M (masker, mencuci tangan, menjaga jarak) harus dijalankan. Kegiatan harus diberitahukan ke Polresta dengan tembusan ke KPU dan Bawaslu. Siap.

Acara dilanjutkan dengan penandatanganan specimen surat suara. Karena kang Atep belum hadir, saya selaku Ketua Tim Kampanye memberi paraf. Sebelum rombongan berpamitan, saya diberi waktu untuk bicara.

Kami mengantar rombongan hingga mobil mereka satu persatu meninggalkan halaman parkir. Setelah itu paslon Yena-Atep menghampiri khalayak. Mereka pun tidak lupa berfoto ria.

Senyampang bertemu dan ada kesempatan kamipun ngariung. Saya minta pandangan kang Ayi kang Irman kang Ruslan kang Denni kang Dwi kang Erik dan teh Yena serta kang Atep. Dengan demikian semakin banyak alternatif tindakan yang bisa jadi pilihan untuk dilakukan.

Kampanye



Kamis Jumat Sabtu kemarin saya bergerak ke Rancabali Ciwidey dan Pasirjambu - melewati Soreang tentunya - untuk bertemu dengan para pengurus partai. Bertempat di kediaman H. Entis dan Henhen Center. Jumlah peserta maksimum hanya 50 orang per pertemuan, itupun dengan mengikuti protokol kesehatan 4 M : maskeran, mengukur suhu badan, mencuci tangan, menjaga jarak. Tujuan anjangsana ini untuk melihat kehidupan sehari hari masyarakat, merapatkan barisan dan mengakrabkan hubungan mengahadapi pilkada 2020. Ibu Yena hadir mengenalkan diri menyampaikan gagasan dan menerima masukan dari masyarakat di pedesaan yang kebanyakan adalah petani, pekebun, pedagang dan buruh.

Berbeda dengan keriuhan di sekitar gedung Sate, di pegunungan, di perbatasan Bandung dengan Cianjur dan Garut ini susana terasa nyaman. Wisatawan yang datang memang berkurang. Hotel juga relatif sepi. Tapi strawbery masih ditanam dan berbuah merah seperti biasa.

Masyarakat di tiga kecamatan yang kami datangi penuh harapan akan adanya perubahan di kabupaten Bandung.

Meski dalam keadaan siap bermalam, toh setiap malam saya pulang turun ke Soreang melalui jalan gelap sempit dan berliku. Di kelokan kelokan menurun curam dan berbatu saya bersalam. Pada alam yang terbentang.

Saat tiba di Soreang, saya saksikan kehidupan malam yang semarak. Di siang hari memang saya pernah lihat kumpulan pengunjukrasa di gerbang kantor pemkab. Tapi di malam hari kendaraan roda empat dan dua memadati kafe resto dan warkop di pinggir jalan masuk tol Soroja. Kadang saya tergoda untuk singgah. Tapi laju kendaraan membuat saya lebih menikmati perjalanan. Di kejauhan lampu lampu kota Bandung menjadi hiburan yang tidak pernah membosankan. Hembusan angin malam menambah romansa perjalananan pp berjarak sekitar 150 km.

 Gotong Royong

KPU Kabupaten dianggap kurang gencar melakukan sosialisasi pilkada kabupaten Bandung 2020, khususnya mengenai pasangan calon. Di tengah ketidak tahuan rakyat tentang siapa saja paslon yang maju, sebuah berita daring RRI memastikan nama Atep lah yang paling banyak dikenal. Pencarian lewat mesin pencari membuktikan nama Atep mencapai lebih dari satu juta.

Tentu saja kami tidak berpuas diri. Karena itu selama hampir dua bulan ini kami berkeliling ke seluruh kabupaten Bandung. Atep bergerak bersama PAN dan tim pendukungnya. Dalam sehari ia bisa blusukan di puluhan titik dengan berjalan kaki. Para pendampingnya yang kewalahan.

Kami dari DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung fokus mendampingi Yena di 31 kecamatan dengan mendatangi rumah atau sekretariat PAC. Rancabali, Pasirjambu, Ciwidey, Soreang, Kutawaringin (Wilayah I); Margaasih, Katapang, Margahayu, Dayeuhkolot (Wilayah II); Bojongsoang, Cileunyi, Cilengkrang, Cimenyan (Wilayah III); Rancaekek, Cicalengka, Nagreg, Cikancung (Wilayah IV); Solokan Jeruk, Majalaya, Paseh, Ibun (Wilayah V); Ciparay, Kertasari, Pacet, Baleendah (Wilayah VI); Cangkuang, Arjasari, Cimaung, Pangalengan, Banjaran dan Pameungpeuk (Wilayah VII).

Di setiap kecamatan, selain mendatangi para pengurus PAC dan PR serta tokoh masyarakat, Yena mendatangi komunitas di wilayah tersebut, dari pagi kadang hingga malam.

Untuk memastikan turba ini memenuhi aturan kami membuat pemberitahuan ke Polresta, KPU dan Bawaslu Bandung. Agar kegiatan sesuai dengan protokol kesehatan, kami membentuk tim yang memastikan kegiatan diikuti maksimum 50 orang. Peserta diperiksa suhu tubuhnya, diminta mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak.

Sambil turba kami memperingati Maulid Nabi di Solokan Jeruk, Sumpah Pemuda di Ciparay dan Hari Pahlawan di Cangkuang. Bahkan hari kelahiranku dirayakan dengan memotong taart di Margahayu sebagai kejutan dari kawan kawan.

Demikian juga hari kelahiran Yena dirayakan dengan memotong tumpeng di Banjaran.

Saat datang ke pengurus anak cabang kami melaksanakan prosesi upacara partai lengkap meski misalnya harus bertempat di jalan yang dipasangi tenda. Acara dimulai dengan menyanyikan Indonesia Raya, menheningkan cipta, membacakan teks Pancasila dan Dedication of Life. Tak hanya itu kami menyanyikan Mars dan Hymne PDI Perjuangan dan ditutup doa dari ustad setempat. Saya memberi sambutan organisatorial, kang Henhen dan kang Deni bergantian memimpin mengheningkan cipta. Teh Yena, kang Yadi dan kang Ayi berkampanye. Kang Rudi menyampaikan statistik demografi politik, kang Aam bicara soal ideologi. Teh Wewen teh Yuli dan kang Dwi bergantian menjadi MC. Kawan kawan yang lain melaksanakan pengawasan pelaksanaan protokol kesehatan. Sam menjadi operator sistem suara, IT serta fotografi. Rilis media sesekali dibuat kang Rudi.

Di setiap tempat yang kami datangi biasanya ada petugas dari Panwaslu, Polsek, Koramil bahkan Satpol PP. Pada umumnya kegiatan berjalan lancar bahkan kadang pak polisi ikut membantu mengatur tempat agar tak melanggar aturan.

Setelah acara selesai biasanya kami ngopi atau makan bersama di rumah kawan yang biasa disebut botram dengan menu nasi liwet dengan lauk pauk ayam goreng ,ikan asin, tahu dan tempe, dilengkapi sambal, lalapan bahkan pete dan jengkol.

Gotong royong memenangkan Yena Atep sangat terasa. Selain dari pengurus partai (PDI Perjuangan, PAN dan PSI) dan relawan (Yena Center, Atep Center, organ pendukung Jokowi-Amin dll) juga ada pengampu dari para anggota eksekutif dan legislatif Bandung Raya turut membantu. "Sasieuereun sabenjeureun."