Bakti Sosial
Sabtu, 16 Februari 2020, pagi, sebagai penasihat Pospera,
saya menghadiri bakti sosial pengobatan untuk masyarakat di Balai Musyawarah
Desa Cileunyi Wetan. Setelah bertemu dengan para pengurus Pospera dan Yayasan
Sekar Galih serta menyaksikan kegiatan pengobatan, saya berangkat ke kampus
untuk mengajar hingga tengah hari. Usai salat zuhur, hujan turun dengan
derasnya. Meski begitu saya berangkat ke kantor DPD PDI Perjuangan di Jl.
Pelajar Pejuang 45/1 memenuhi undangan mereka. Satgas menyambut dengan membawa
payung. Acara yang dijadwalkan untuk kami pukul 14.00 setelah Depok. Jadwal
berubah, Cianjur danTasikmalaya lebih dulu. Kami mendapat giliran ketiga.
Sambil menunggu giliran kami (kang Henhen, kang Rudita dan saya) menunggu di ruang
SR dan mengabadikannya dengan berfoto bersama DPC PDI Perjuangan Cianjur dan
calon yang mereka usung, Bupati Cianjur petahana.
Dalam pertemuan dengan DPD disimpulkan bahwa teh Yena
akan berpasangan dengan Sahrul Gunawan dan akan diusulkan ke DPP. Sementara
saya diberi waktu satu minggu untuk mencari pasangan serta mitra partai untuk
mengusung.
Usai pertemuan kami bertiga ngopi di Ngopdul tak jauh
dari DPD. Tak berapa lama hadir kang Ade, bupati Tasikmalaya dan rombongannya.
Ada kang Dedi, kang Rohman, kang Marcel dan para anggota DPRD yth juga DPC PDI
Tasikmalaya. Dari pembicaraan kang Ade, saya menangkap pesan penting. Kalau
hendak maju ke Pilkada Kabupaten Bandung, ada tiga alternatif pasangan: Sahrul,
Nia dan Gungun. Jika di luar itu lebih baik tidak maju. Saya perhatikan betul
pesan beliau
Qurban
Saat kami,
KSB DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung, melakukan rakor konor dengan KSB DPD
PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat, Selasa, 28 Juli 2020 di Jl. Pelajar Pejuang
45 No. 1 Bandung, Ibu Yena Iskandar Ma'soem, balonbup Bandung, hadir, dan
menyampaikan niatnya untuk memberi 31 domba kepada para Ketua PAC PDI
Perjuangan di 31 Kecamatan yang ada di Kabupaten Bandung, untuk disembelih
sebagai kurban di Hari Idul Adha. Bu Yena berharap niat ini bisa mendekatkannya
dengan PAC, PR dan para anggota partai. Kami menyambut dan menghargai niat
tersebut dan segera akan mempertemukan Bu Yena dengan para Ketua PAC.
Keesokan
harinya kami rakor dengan DPC dan Fraksi melalui rapat daring. Kami menugaskan
Pak Andri Kusnandar selaku Wakabidagper yang menangani masalah keagamaan dan
kepercayaan untuk mengurus pendistribusian domba.
Alhamdulillah
pada hari Kamis, sehari sebelum Hari Idul Adha, 99% Ketua PAC hadir di Aula DPC
PDI Perjuangan Kabupaten Bandung di Jl. Jaksa Naranata No. 10, Baleendah.
Kiriman
domba datang menjelang isya dan langsung dibagikan ke semua Ketua PAC tanpa
terkeculi berdasarkan nomor yang sudah kami siapkan sebelumnya.
Kemarin, di
hari raya, domba-domba itu disembelih di tiap-tiap kecamatan. Dagingnya
diberikan kepada para penerima yang berhak meski diprioritaskan pada para
pengurus PAC dan PR, karena memang masih banyak pengurus partai yang berhak.
Selain 31
domba untuk PAC dari Bu Yena, ada juga tiga domba untuk dikurbankan di DPC.
Satu domba hibah dari Bu Yena dan dua domba dari Bu Nia Purwakania, anggota
DPRD Provinsi Jawa Barat dari Dapil Kabupaten Bandung. Tiga domba itu
dikurbankan atas nama masing-masing KSB DPC. Karena memang demikianlah
ketentuannya.
Seperti
firman Allah SWT yang kurang lebih terjemahannya adalah “bukan daging darah
maupun bulu binatang kurban yang sampai kepada Allah melainkan ketakwaan”,
semoga demikianlah kiranya.
Deklarasi Pilkada Damai
Kemarin Kang Ryan, Kepala Sekretariat DPC PDI Perjuangan Kabupatan Bandung mengirim undangan dari Kapolresta Bandung
via WA. Karena saya sedang rapat surat tersebut hanya kubaca perihal dan
waktunya.
Pagi tadi setelah subuh kusetel alarm pukul 08.00. Ada
telepon masuk dari penelpon tak bernama. Yayang membangunkanku dengan taktis
"pa itu kopinya ." Akupun berjingkat duduk di sofa. Ngopi. Sepotong
pizza hangat yang disediakan belum kucolek. Telpon masuk. Dari Polri sahabat
kita bergambar Krisna. Kuangkat, " Pak Ketua datang ?." "Insya
Allah," kataku. "Acaranya jam sembilan." "Ok saya berangkat."
Aku bergegas menyalakan mesin mobil dan berangkat ke kamar mandi.
Seusai mandi berpakaian merah hitam dan berdandan, aku
meluncur ke jalan tol dari Cileunyi ke Pasirkoja. Dari Pasirkoja menuju
Soreang. Sampailah di Balai Budaya Sabilulungan. Pak Rahmat menyambut dan
mengarahkanku mendaftar hingga mengantar sampai tempat duduk yang sudah
ditulisi "Ketua PDI Perjuangan."
Beberapa ketua parpol sudah di tempat. Kang Raka Hidayat,
Gerindra dan Kang Endang, Demokrat. Kamipun berfoto. "Pilkada Damai".
Gerindra bersama Golkar mengusung Nia-US, Demokrat bersama PKB PKS dan Nasdem
mengusung DS-Syahrul dan PDI Perjuangan mengusung Yena-Atep bersama PAN dan
PSI.
Kami berdiri, menyanyikan lagu Indonesia Raya. Ketua KPU,
Menteri BUMN :Erick Thohir, Wakapolri, Gubernur DKI : Anis Baswedan, Imam Besar
Istiqlal : Nazaruddin Umar dan Ketum PBNU Said Agil Siradj satu persatu muncul
di layar dan berpidato. Aku celingak-celinguk mencari hingga menengok ke balkon
," mereka di duduk di sebelah mana", ternyata ini vicon dari Jakarta.
Hostnya Polda Metro Jaya.
Acara Jakarta selesai. Acara diambil alih Polda Jabar.
Nampaknya dari Situation Room. Ketua KPU Kabupaten Bandung, Agus Baroya muncul
di panggung dilanjutkan dengan Wakapolda, Brigjenpol ... dan terakhir Wagub
Jabar, Uu Ruzanul Ulum. Benang merahnya : Pilkada Damai dikemas dengan Pilkada
yang mematuhi Protokol Kesehatan di masa pandemi C-19 kreasi KPU, Menteri BUMN
selaku Ketua Komite ... dan Polri. Jadilah Pilkada Damai dan Sehat.
Kang Yayat, saya, kang Endang dan ketua parpol lainnya
dipanggil polwan cantik agar naik kepanggung. Ketua KPU dan Ketua Bawaslu
Bandung membacakan Deklarasi Pilkada Damai bersama kami. Pak Wagub, Wakapolda,
Ketua DPRD Jabar, Pangdam Siliwangi, Kajati, dan Bupati Bandung naik ke
panggung. Kami menandatangani Deklarasi Pilkada Damai. Setelah itu Wagub,
Kapolda dan pejabat lainnya menyerahkan satu kotak masker kepada kami para
ketua Parpol. Acara pun selesai. Saya segera meninggalkan tempat, tak ikut
ngopi dengan Bupati. Tidak berapa lama setelah memasuki jalan tol Soroja
terdengar sirine meraung. Rombongan Wagub. Paling belakang mobil Panglima
Santri Nasional yang dibranding dengan foto Kang Uu.
Saya meluncur ke pintu tol Pasteur dan berbelok ke Holiday
Inn bertemu kang Henhen dan Abah Deka sekitar lima belas menit. Dari sana
saya menyusuri Pasupati dan berbelok kanan di Gasibu melewati Gedung Sate,
Stadion Siliwangi menuju Jl. Pelajar Pejuang 45 No. 1. Janjian dengan Mas Ketut
untuk makan siang.
Pengesahan Pasangan
Rapat pleno KPU Kabupaten Bandung pagi
ini mengesahkan Yena - Atep sebagai pasangan calon Bupati dan Wakil Bupati dari
PDI Perjuangan - PAN dan PSI. Berita acara pengesahan diterima oleh kang Ryan selaku LO dari PDI Perjuangan dan ceu
Elin dari PAN. Acara sidang pleno KPU yang dipimpin Ketua KPU Kabupaten
Bandung, Agus Baroya, disiarkan secara langsung melalui akun facebook KPU
Kabupaten Bandung. Terima kasih kepada KPU, Bawaslu, Polresta, Kodim, Kejari,
Kesbangpol dan semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan sidang pleno
penetapan pasangan calon. Alhamdulillah.
Tim Kampanye Yena Atep (TKYA)
Para pemimpin TKYA (Tim Kampanye Yena Atep) berkumpul di Yena Center di
Rancaekek. Ketua Sekretaris Bendahara Wakabid dan LO dari PDI Perjuangan dan
PAN serta ketua PSI bertemu dengan paslon: Yena-Atep serta bendum TKYA dan BP
Pemilu Jabar juga relawan. Rapat pimpinan membahas teknis keberangkatan ke
Hotel Sultan di Soreang, tempat sidang pleno pengundian nomor paslon yang
diselenggarakan KPU Kabupaten Badung. Paslon bersama suami/istri akan diampingi
pimpinan parpol pengusung plus LO. Jumlahnya total 15 orang sesuai ID Card yang
diterima. Mobil yang digunakan tidak lebih dari enam sesuai stiker yang
diberikan.
Sekitar
pukul 08.30 kami berkumpul di sekitar pintu tol. Setelah berkordinasi dengan
patwal dari Polresta serta berdoa, kamipun meluncur ke Jalan Kopo memasuki
lokasi. Di depan hotel kami turun dan mengantar paslon Yena-Atep. Kami berhenti
di depan pintu masuk. Sekitar 35 wartawan mengambil gambar. Kami menyampaikan
salam dan berteriak Yena-Atep Dahsyat ! Yena-Atep Menang !
Kami
mengantar paslon hingga memasuki pintu ballroom. Seorang anggota Bawaslu
menyampaikan info tentang perubahan PKPU. Intinya hanya paslon dan LO yang
boleh mengikuti sidang pleno KPU. Kamipun mundur teratur dan ke luar hotel.
"Berdasarkan
PKPU 13/2020 yang keluar tgl 23 September 2020 Pasal 55 bahwa pleno terbuka
pengundian nomor urut hanya dihadiri oleh:
a. Cabup
cawabup tiap paslon
b. 2 orang
Bawaslu
c. 1 orang
LO tiap paslon
d. 5
komisioner ."
Begitu
pemberitahuan Ketua KPU Kabupaten Bandung melalui pesan WAG Ketua Parpol yang
sampai pada kami.
Kami
kemudian menunggu di lobby hotel dan menyaksikan proses pengundian nomor dari
akun KPU. Tahap pertama kang Atep mendapat nomor 7. Tahap kedua teh Yena
mendapat nomor 2.
Kawan kawan
meminta kami berfoto bersama di pintu hotel dengan membawa nomor 2. Itulah
nomor bagi Yena-Atep saat berkampanye nantinya dan nomor itu pula yang akan
tertera pada kertas suara. Insya Allah.
Mengenal Yena dan Atep
Pasangan
calon Bupati dan Wakil Bupati No. 2 Yena-Atep ini diusung oleh PDI Perjuangan
yang memiliki 7 kursi dan PAN (Partai Amanat Nasional) yang miliki 4 kursi di
DPRD Kabupaten Bandung. 11 kursi adalah syarat minimal untuk bisa mendaftarkan
paslon ke KPU Kabupaten Bandung. Dilihat dari jumlah kursi, di antara paslon
lain, Yena-Atep ini tergolong paslon minimalis. Meskipun demikian pendukungnya
cukup meluas di berbagai kalangan khususnya kaum milenial atau pemilih pemula.
Belakangan PSI (Partai Solidaritas Indonesia) ikut mendukung secara resmi.
Yena seorang
apoteker. Berasal dari keluarga terpandang khususnya di bidang bisnis, ia aktif
di berbagai kegiatan profesi, sosial maupun politik. Sedangkan Atep adalah
kapten Persib Bandung yang sempat membawa tim kebanggaan rakyat Jawa Barat itu
menjadi juara dalam kompetisi sepakbola nasional. Karena itu ia punya panggilan
Lord Atep. Ia lahir di Jangari, di tepi danau Cirata. Paslon Yena-Atep
mengusung tagline Dahsyat, Dinamis Agamis Harmonis Sejahterakan Rakyat.
Belakangan saat kami menyiapkan keberangkatan paslon ini untuk mengikuti
pengundian nomor, muncul gagasan agar dalam tagline Dahsyat tersirat juga kata
Sehat mengingat Pilkada ini dilaksanakan dalam suasana wabah C-9. Dengan ada
kata sehat, Yena-Atep hendak menegaskan komitmennya pada aspek keselamatan
dalam penyelenggaraan pilkada baik bagi pemilih, yang dipilih, penyelenggara
dan pengawas pilkada. Semoga Yena-Atep menang dengan selamat, sehat lahir
batin.
Kunjungan Ketua KPU Kabupaten
Dua atau tiga hari yang lalu, Pak Agus Baroya, Ketua KPU
Kabupaten Bandung mengirim pesan japri bahwa Forkompimda ( Forum Komunikasi
Pimpinan Daerah) akan berkunjung ke posko paslon bupati dan wakil bupati
Bandung No. 2 , Hj. Yena Iskandar Ma'soem Aptk- Atep. Tak lama kemudian disusul
dengan surat resmi lengkap dengan jadwal. Kang Deden, bendahara umum TKYA juga
mengirim pesan japri menanyakan perihal kehadiranku. Tentu saja saya katakan
"insya Allah."
Pagi tadi hujan. Meski begitu saya bersiap. Memanaskan mesin
mobil. Mandi. Berbaju merah. Sarapan dengan menu mie goreng spesial (pakai telor)
buatan yayang. Plus kopi Bandung dari Ciwidey dengan pemanis gula merah. Baru
pukul 09.00. Saya sudah berseragam dan sarapan. Acara dijadwalkan pukul 11.00.
Masih ada waktu. Kuputuskan untuk menulis. Kuambil dan kunyalakan laptop.
Kemarin saya menulis soal KNIP. Hari ini saya ingin menulis tentang Ketua KNIP
yang pertama. Langkah selanjutnya, saya mencari beberapa buku dari perputakaan
sebagai referensi dan mencari tulisan tulisanku sebelumnya. Dalam beberapa
menit jadilah tulisan satu halaman kurang.
Waktu menunjukkan pukul 10.15. Saya segera berpamitan pada
yayang, anak dan cucu. Berangkat. Lalu lintas di jalan nasional padat. Maklum
hari Sabtu tanggal muda pula. Jarum indikator bbm pada dashboard di bawah
strip. Bensin kosong nih. Anakku pakai mobil ke Jakarta pp kemarin. Mobil
kubelokkan ke SPBU Al Ma'soem. "Kang, pertalite lima puluh rebu."
Belum selesai mengisi Kang Erik menelpon. "Pak Ketua di mana. Rombongan
sudah datang." Wah, padahal baru 10.30. "Menuju Rancaekek"
kataku.
Sampai di depan Yena Center beberapa mobil patwal sudah siap
di persimpangan jalan ke Majalaya. Saat saya hendak belok ke kiri, sudah
ditutup. Saya pun berbelok ke kanan. Parkir di depan Bank Syariah Al Ma'soem.
Paadu omong dengan polisi. Kunci kuserahkan kang Ryan dan saya bergegas ke
tempat acara. Suhu badan diukur dengan thermo gun. 36 derajat. Petugas memencet
hand sanitizer ke tanganku. "Wah, Tim Kopit sudah jalan nih."
Saat tiba di lantai dua, acara sudah dimulai. Pak Agus sudah
berbicara menggunakan pelantang. Saya ambil posisi di samping teh Yena. Pak
Irman, ketua PAN sudah ada. Usai pak Agus berbicara, dilanjutkan oleh pak Ari
dari Bawaslu. Kemudian pak Kapolresta. Pak Dandim. Pak Kajari. Terakhir Pak Plt
Sekda yang juga Satgas Penanggulangan C-19 dan Satgas Desk Pilkada. Intinya :
ini Pilkada bersyarat. Kampanye harus sesuai UU dan PKPU. Protokol kesehatan 3
M (masker, mencuci tangan, menjaga jarak) harus dijalankan. Kegiatan harus
diberitahukan ke Polresta dengan tembusan ke KPU dan Bawaslu. Siap.
Acara dilanjutkan dengan penandatanganan specimen surat
suara. Karena kang Atep belum hadir, saya selaku Ketua Tim Kampanye memberi
paraf. Sebelum rombongan berpamitan, saya diberi waktu untuk bicara.
Kami mengantar rombongan hingga mobil mereka satu persatu
meninggalkan halaman parkir. Setelah itu paslon Yena-Atep menghampiri khalayak.
Mereka pun tidak lupa berfoto ria.
Senyampang bertemu dan ada kesempatan kamipun ngariung. Saya
minta pandangan kang Ayi kang Irman kang Ruslan kang Denni kang Dwi kang Erik
dan teh Yena serta kang Atep. Dengan demikian semakin banyak alternatif
tindakan yang bisa jadi pilihan untuk dilakukan.
Kampanye
Kamis Jumat
Sabtu kemarin saya bergerak ke Rancabali Ciwidey dan Pasirjambu - melewati
Soreang tentunya - untuk bertemu dengan para pengurus partai. Bertempat di
kediaman H. Entis dan Henhen Center. Jumlah peserta maksimum hanya 50 orang per
pertemuan, itupun dengan mengikuti protokol kesehatan 4 M : maskeran, mengukur
suhu badan, mencuci tangan, menjaga jarak. Tujuan anjangsana ini untuk melihat
kehidupan sehari hari masyarakat, merapatkan barisan dan mengakrabkan hubungan
mengahadapi pilkada 2020. Ibu Yena hadir mengenalkan diri menyampaikan gagasan
dan menerima masukan dari masyarakat di pedesaan yang kebanyakan adalah petani,
pekebun, pedagang dan buruh.
Berbeda
dengan keriuhan di sekitar gedung Sate, di pegunungan, di perbatasan Bandung
dengan Cianjur dan Garut ini susana terasa nyaman. Wisatawan yang datang memang
berkurang. Hotel juga relatif sepi. Tapi strawbery masih ditanam dan berbuah
merah seperti biasa.
Masyarakat
di tiga kecamatan yang kami datangi penuh harapan akan adanya perubahan di
kabupaten Bandung.
Meski dalam
keadaan siap bermalam, toh setiap malam saya pulang turun ke Soreang melalui
jalan gelap sempit dan berliku. Di kelokan kelokan menurun curam dan berbatu
saya bersalam. Pada alam yang terbentang.
Saat tiba di
Soreang, saya saksikan kehidupan malam yang semarak. Di siang hari memang saya
pernah lihat kumpulan pengunjukrasa di gerbang kantor pemkab. Tapi di malam
hari kendaraan roda empat dan dua memadati kafe resto dan warkop di pinggir
jalan masuk tol Soroja. Kadang saya tergoda untuk singgah. Tapi laju kendaraan
membuat saya lebih menikmati perjalanan. Di kejauhan lampu lampu kota Bandung
menjadi hiburan yang tidak pernah membosankan. Hembusan angin malam menambah
romansa perjalananan pp berjarak sekitar 150 km.
Gotong Royong
KPU
Kabupaten dianggap kurang gencar melakukan sosialisasi pilkada kabupaten
Bandung 2020, khususnya mengenai pasangan calon. Di tengah ketidak tahuan
rakyat tentang siapa saja paslon yang maju, sebuah berita daring RRI memastikan
nama Atep lah yang paling banyak dikenal. Pencarian lewat mesin pencari
membuktikan nama Atep mencapai lebih dari satu juta.
Tentu saja
kami tidak berpuas diri. Karena itu selama hampir dua bulan ini kami
berkeliling ke seluruh kabupaten Bandung. Atep bergerak bersama PAN dan tim
pendukungnya. Dalam sehari ia bisa blusukan di puluhan titik dengan berjalan
kaki. Para pendampingnya yang kewalahan.
Kami dari
DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung fokus mendampingi Yena di 31 kecamatan
dengan mendatangi rumah atau sekretariat PAC. Rancabali, Pasirjambu, Ciwidey,
Soreang, Kutawaringin (Wilayah I); Margaasih, Katapang, Margahayu, Dayeuhkolot
(Wilayah II); Bojongsoang, Cileunyi, Cilengkrang, Cimenyan (Wilayah III);
Rancaekek, Cicalengka, Nagreg, Cikancung (Wilayah IV); Solokan Jeruk, Majalaya,
Paseh, Ibun (Wilayah V); Ciparay, Kertasari, Pacet, Baleendah (Wilayah VI);
Cangkuang, Arjasari, Cimaung, Pangalengan, Banjaran dan Pameungpeuk (Wilayah
VII).
Di setiap
kecamatan, selain mendatangi para pengurus PAC dan PR serta tokoh masyarakat,
Yena mendatangi komunitas di wilayah tersebut, dari pagi kadang hingga malam.
Untuk
memastikan turba ini memenuhi aturan kami membuat pemberitahuan ke Polresta,
KPU dan Bawaslu Bandung. Agar kegiatan sesuai dengan protokol kesehatan, kami
membentuk tim yang memastikan kegiatan diikuti maksimum 50 orang. Peserta
diperiksa suhu tubuhnya, diminta mencuci tangan, memakai masker dan menjaga
jarak.
Sambil turba
kami memperingati Maulid Nabi di Solokan Jeruk, Sumpah Pemuda di Ciparay dan
Hari Pahlawan di Cangkuang. Bahkan hari kelahiranku dirayakan dengan memotong
taart di Margahayu sebagai kejutan dari kawan kawan.
Demikian
juga hari kelahiran Yena dirayakan dengan memotong tumpeng di Banjaran.
Saat datang
ke pengurus anak cabang kami melaksanakan prosesi upacara partai lengkap meski
misalnya harus bertempat di jalan yang dipasangi tenda. Acara dimulai dengan
menyanyikan Indonesia Raya, menheningkan cipta, membacakan teks Pancasila dan
Dedication of Life. Tak hanya itu kami menyanyikan Mars dan Hymne PDI
Perjuangan dan ditutup doa dari ustad setempat. Saya memberi sambutan
organisatorial, kang Henhen dan kang Deni bergantian memimpin mengheningkan
cipta. Teh Yena, kang Yadi dan kang Ayi berkampanye. Kang Rudi menyampaikan
statistik demografi politik, kang Aam bicara soal ideologi. Teh Wewen teh Yuli
dan kang Dwi bergantian menjadi MC. Kawan kawan yang lain melaksanakan
pengawasan pelaksanaan protokol kesehatan. Sam menjadi operator sistem suara,
IT serta fotografi. Rilis media sesekali dibuat kang Rudi.
Di setiap
tempat yang kami datangi biasanya ada petugas dari Panwaslu, Polsek, Koramil
bahkan Satpol PP. Pada umumnya kegiatan berjalan lancar bahkan kadang pak
polisi ikut membantu mengatur tempat agar tak melanggar aturan.
Setelah
acara selesai biasanya kami ngopi atau makan bersama di rumah kawan yang biasa
disebut botram dengan menu nasi liwet dengan lauk pauk ayam goreng ,ikan asin,
tahu dan tempe, dilengkapi sambal, lalapan bahkan pete dan jengkol.
Gotong
royong memenangkan Yena Atep sangat terasa. Selain dari pengurus partai (PDI
Perjuangan, PAN dan PSI) dan relawan (Yena Center, Atep Center, organ pendukung
Jokowi-Amin dll) juga ada pengampu dari para anggota eksekutif dan legislatif
Bandung Raya turut membantu. "Sasieuereun sabenjeureun."