Jumat, 28 Januari 2022

Pernikahan Kemenakan


Sejak memasuki tahun 2000-an, banyak sekali pernikahan  kemenakanku. Banyak yang bisa kuhadiri baik sendirian maupun bersama nyonya dan kadang bersama keluarga, namun ada juga yang tidak bisa kuhadiri karena alasan kesibukanku maupun belakangan karena alasan adanya pandemi. Kemenakanku setidaknya berasal dari  beberapa asal usul. Pertama berasal adik adikku (Keluarga Harso), kedua berasal dari keluarga ayah (Keluarga Rono),  ketiga berasal  dari keluarga ibu (Keluarga Puluhwatu), dan keempat berasal dari keluarga istriku (Keluarga Banjaran).

A.      Kemenakan dari Keluarga Harso.

1.       Pernikahan  kemenakan pertama yang kuhadiri adalah pernikahan Mohammad Iman Damara, anak laki-laki pertama adikku, jeng Yani , yang tinggal di Cibinong, Bogor. Iman lulusan IPB dan bekerja di Baznas. Mempelai perempuan berprofesi sebagai guru, berasal dari Bogor juga. Pernikahan berlangsung di ballroom Vila Billabong. Dalam pernikahan ini aku mendampingi  jeng Yani di sisi pelaminan, karena suami jeng Yani-dik Karmawan- sudah lama meninggal dunia. Pernikahan ini dilaksanakan dengan menggabungkan adat Palembang dan Jawa. Ketua Baznas, Dr. Didin, hadir memberi kutbah nikah.

Istriku lebih dulu ke Cibinong, sedang aku berangkat pada Hari-H. Dari  Jalan Tol Padaleunyi kami memasuki jalan tol Jakarta Bogor. Sampai di Bogor kami mengambil jalan nasional ke arah Jakarta. Resepsi selesai pada pukul 14.00.  Seusai resepsi, aku beristirahat sejenak di sebuah rumah singgah di dekat rumah jeng Yani. Menjelang malam kami kembali ke Bandung. 


 

2.       Pernikahan berikut  yang bisa kuhadiri adalah pernikahan Aulia Rachmat Wibowo, anak laki-laki kedua jeng Yani (Budi Wajiati) di Jakarta. Rachmat seorang jurnalis teve menikah dengan Yuvienda sesama jurnalis di stasiun televisi yang sama. Mereka menikah di sebuah gedung pertemuan di komplek Lanud Halim Perdanakusuma di Jakarta. Kali ini saya pun menjadi saksi dan sekaligus mendampingi jeng Yani . Pernikahan menggunakan adat Jawa dan Palembang, karena ayah nak Rachmat berasal dari Padamaran, OKI. Karena lokasi akad nikah dan resepsinya di Halim yang dekat dengan jalan tol Jakarta-Cikampek, maka aku tidak perlu menginap di Jakarta. Pagi itu aku, istri dan anak-anak berangkat dari Bandung bersama-sama dan pulang pada hari itu juga.


 

3.       Pernikahan selanjutnya adalah pernikahan Haniefah, putri pertama dari jeng Haryani dan dik Achmad Firdaus. Haniefah menikah dengan Evan, anak seorang pasangan dokter dari Cirebon. Akad nikah pernikahan  dilaksanakan di masjid Al Irsyad di kota baru Parahyangan, Padalarang, dan resepsinya diselenggarakan secara outdoor (garden party) di halaman samping masjid. Dalam pernikahan ini aku pun bertindak mewakili keluarga jeng Haryani dan juga menjadi saksi pernikahan. Mbak Dea dan mas Sandy juga hadir dari Yogyakarta. Ibu dan adik-adikku juga bisa berkumpul secara lengkap. 


 

4.       Pernikahan berikutnya adalah pernikahan Maryam Qaramatullah  yang biasa dipanggil Lulu dengan Irfan. Mereka sama sama kuliah dan bekerja di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia).  Lulu anak dik Yus dan jeng Titik. Sedangkan Irfan anak seorang pejabat di Depag. Mereka tinggal di Sukabumi.

Akad nikah dan resepsi pernikahan Lulu dan Irfan diselenggarakan di gedung pertemuan Ahmad Sanusi UPI yang terletak di samping Sekolah Pascasarjana dan dibelakang masjid kampus. Antara masjid dan gedung pertemuan dihalangi sungai kecil. Adik-adik dan keluarganya datang dari berbagai kota, demikian juga anak-anakku. Mbak Dea dan mas Sandy  dan Kanaya datang dari Yogyakarta dengan menggunakan pesawat. mereka menginap di sebuah hotel di Jalan Cihampelas. Mas Sidiq dan Shasmaka datang dari Jakarta dengan menggunakan kereta api.

Pada pernikahan Lulu aku mendapat tugas menjadi saksi. Usai akad nikah aku segera meninggalkan tempat dan dengan menggunakan taksi daring segera menuju sekretariat DPD PDI Perjuangan Jawa Barat untuk mengikuti fit dan proper test calon bupati Bandung. Dari PDI Perjuangan ada empat bakal calon : Kang Dimyati, Teh Yena, Kang Irman dan saya. 


 

5.       Pernikahan berikutnya adalah  pernikahan Maulida Kartika Azzahara (Tika) dengan Dony. Tika anak bungsu jeng Yani  yang tinggal di Cibinong dan Dony berasal dari Ponorogo. Tika dan Dony saling bertemu di program Indonesia Mengajar. Pernikahan diselenggarakan di sebuah gedung pertemuan di daerah Cibinong dan diselenggarakan dengan adat Palembang dan Jawa. Aku mewakili tuan rumah menerima rombongan pengantin pria, menjadi saksi pernikahan dan mendampingi jeng Yani selama rerepsi berlangsung.

Pada pernikahan Tika dan Dony ini, keluarga mas Sidiq hadir bersama besanku, Ibu Sri Andini, hakim tinggi DKI Jakarta. Keluarga nyonya juga hadir dari Bandung. Demikian juga keluarga mas Ignas dan mbak Tutik dari Bogor. Kami masih sempat saling bertemu di akhir acara. Setelah itu kami kembali ke tempat masing-masing.

Ini adalah pernikahan di keluarga Harso yang bisa dihadiri ibu.

6.       Pernikahan berikutnya adalah pernikahan Aisyah dan Encep. Aisyah anak jeng Titik dan dik Yus. Sementara orang tua Encep orang Bandung. Kali ini akad nikah dan resepsi pernikahan diselenggarakan di sebuah kolam renang di Cipatat, dekat rumah jeng Titik. Pada pernikahan Aisyah-Encep ini pun  aku menjadi saksi pernikahan.

Usai resepsi pernikahan , aku mengantar mas Yono dan keluarga berjalan-jalan ke Waduk Saguling. Mas Yono dan nyonya menyempatkan  datang dari Bengkulu untuk  menghadiri  pernikahan ini, sementara Ipang, anak mereka, datang bersama kawan-kawannya dari Jakarta. Rute yang  kami lalui adalah mengeliling Waduk Saguling melalui  Cipatat, Saguling, Cipongkor, Cililin, Batujajar, Cimaremeh, Padalarang dan Cileunyi. Dari Padalarang kami melewati jalan tol Padaleunyi. Ipang dan kawan-kawannya pulang malam itu, sedangkan mas Yono dan nyonya pulang keesokan harinya. Aku mengantar mereka sampai ke komplek Batununggal. Mereka kemudian menggunakan shutle bus ke Bandara Sukarno-Hatta.

 

 

B.      Kemenakan dari Keluarga Rono 

 


 

 

1.        Pernikahan Maryono ( anak jeng Sumini dan dik Salekan) dengan Nonon  diadakan di Batujajar, dekat dengan Waduk Saguling. Jeng Sumini adalah anak sulung bulik Giyem (adik ayahku yang bungsu). Jeng Sumini satu-satunya anak bulik yang tinggal di Ngawi.  Akad nikah dan resepsi diadakan di kediaman mempelai perempuan.

 Pernikahan Siswanto (anak jeng Suminem dan dik Untung) dengan Wati. Akad nikah diadakan di sebuah masjid di Subang dan resepsi diadakan di rumah mempelai perempuan. Aku dan  nyonya berangkat dari Bandung melalui jalan tol Padaleunyi dan ke luar di pintu tol Sadang. Pulangnya aku keluar di pintu tol Kopo dan singgah di Perumnas Bumi Parahyangan Kencana mengantar Ibuku. Ikut bersama kami, beberapa saudara yang datang dari Ngawi.

3.      Pernikahan kemenakan berikutnya  yang kuhadiri adalah pernikahan Aulia Rohayati  (biasa dipanggil Uli), anak perempuan Mas Nurul Supardi di Bandung. Uli yang lulusan UII Yogyakarta menikah di rumahnya di Gedebage dengan orang Jakarta, Herwandi. Mas Nurul adalah anak dari bupuhku, kakak perempuan bapak. Sehingga mas Nurul adalah kakak sepupu. Dia juga teman sekolahku di SMEA Panti Pamardi Sisi, Ngrambe, Ngawi. Dalam pernikahan ini aku juga menjadi saksi nikah

4.       Pernikahan Wulandari.  Wulan adalah anak jeng Suminah dan kang Ece yang kedua. Wulan, lulusan sastra Jepang UPI dan bekerja di perusahaan Jepang menikah dengan Ismail, seorang pemuda dari  Kebumen, yang pernah aktif menjadi Satgas PDI Perjuangan. Akad nikah dan resepsi diselenggarakan di sebuah GOR di Cicalengka, Bandung. Keluarga dari berbagai kota hadir, juga yang dari Sumatra. Keluarga jeng Suminah banyak tinggal di Sumatra, karena orang tua mereka bertransmigrasi ke sana sejak tahun 70-an. Ibu mereka, bulik Giyem adalah adik bungsu ayah. Bulik dan suaminya meninggal di Lampung, Sumatra dan dimakamkan di sana.  Sehari setelah pernikahan, keluarga besar  jeng Suminah dari Ngawi dan Lampung datang berkunjung ke rumahku.

5.       Pernikahan Eva. Eva adalah putri sulung mbak Kasmiyati dan mas Gunari. Mbak Kasmiyati anak perempuan bupuh Sinem, kakak perempuan ayah yang tertua. Ketika itu Eva bekerja di Tangerang, di mana ia bertemu dengan laki-laki yang menjadi jodohnya.  Akad nikah dan resepsi pernikahan diselenggarakan di rumah mbak Kasmiyati di Ujung Berung, Bandung. Ada hiburan dangdutan dari penyayi dan grup musik setempat.

6.      Pernikahan Ujang Suherman. Ujang anak ketiga jeng Suminah dengan dik Cece. Ujang bekerja di sebuah BPR (Bank Perkreditan Rakyat) di Cileunyi, Bandung dan melanjutkan kuliah di sebuah PTS di Bandung. Ujang menikah dengan seorang pegawai bank juga. Akad nikah dan resepsi pernikahan mereka diadakan di sebuah komplek perumahan di Parakan Muncang, Kabupaten Sumedang.

7.       Pernikahan berikutnya  adalah pernikahan Bagus Rengga di Surabaya.  Rengga anak laki-laki mas H. Samidi. Rengga, sarjana teknik lulusan ITS  menikah dengan seorang dokter gigi. Pernikahan berlangsung pagi hari dan resepsinya diselenggarakan malam hari di gedung pertemuan Universitas Bhayangkara. Saat itu aku dan rombongan menggunakan kereta api dari stasiun KA Kiaracondong seusai waktu subuh dan tiba di Stasiun KA Wonokromo pada malam hari. Kami dijemput para kemenakan. Di rumah mas Samidi sudah ada mas Suyono dari Bengkulu. Kamipun menginap di masjid dekat rumah. Mas Yono bertugas menjadi saksi dan saya memberikan sambutan mewakili keluarga mempelai pria. Pernikahan berlangsung dalam adat Jawa. Sehari setelah pernikahan, kami kembali ke Bandung dengan kereta api siang dan tiba di Stasiun Kiaracondong pada malam hari.

8.       Pernikahan berikutnya adalah pernikahan Dony Setya,  putranya mbak Mar dan mas Dwi di Nganjuk. Dony lulusan S2 dari Universitas Negri Surabaya. Nah kali kami berangkat dari Yogyakarta bersama-sama dengan anak perempuanku, mbak Idea dan menantu, mas Sandy. Kami berangkat pada waktu subuh dengan membawa kendaraan pribadi melalui kota Klaten dan Solo lalu masuk ke jalan tol Trans Jawa menuju kota Nganjuk. Menjelang waktu dzuhur kami tiba di tempat hajat. Dony mendapat istri warga setempat. Pernikahan diselenggarakan di rumah. Di tempat hajat kami bisa bertemu dengan keluarga besar dari Ngawi dan kota-kota lain baik di Jawa dan luar Jawa. Sekitar pukul 14.00 kami kembali ke Yogyakarta. Mas Sandy melanjutkan perjalanan ke Malang dengan menggunakan bus dari terminal bus Nganjuk untuk menengok orang tuanya. Aku mengemudi mobil pulang ke Yogyakarta. Setelah beberapa hari di Yogyakarta,  kami pulang ke Bandung dengan menggunakan kereta api ekspres malam.

9.      Pernikahan selanjutnya yang bisa kuhadiri adalah pernikahan Bagus Anton  di Surabaya. Anton lulusan ITS dan saat itu sudah bekerja di luar Jawa. Ini anak laki-laki kedua mas H. Samidi.  Bagus menikah dengan anak seorang haji yang merupakan  pengusaha tambak ikan dari Sidoharjo, Jawa Timur. Kali ini aku berangkat dari Bandung bersama istri. Kami menuju Yogyakarta dan menginap semalam. Malamnya kami naik bus dari depan bandara Adisucipto dan sampai di Stasiun Sidoarjo pada pagi hari. Dari sana kami naik taksi ke Universitas Bhayangkara, Surabaya. Pernikahan berlangsung pagi hari dan resepsinya juga diselenggarakan pada pagi dan siang hari di gedung pertemuan Universitas Bhayangkara. Acara berlangsung hingga pukul 14.00. Mas Yono bertugas menjadi saksi dan saya memberikan sambutan mewakili keluarga mempelai pria. Pernikahan berlangsung dalam adat Jawa. Sore harinya kami kembali ke Yogyakarta dengan menggunakan bus.Tiba di Yogyakarta pada tengah malam dan menginap di rumah anak kami.

10.  Pernikahan Selly Ulfiyani. Selly adalah anak perempuan dari jeng Sri Wahyuni dengan dik Mukarom. Jeng Sri adalah adalah anak ke sepuluh (bungsu) Oom Wiro dan bulik Giyem. Pernikahan diselenggarakan di kediaman mereka di Desa Gandasoli, kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung. Kebetulan pada hari yang sama ada acara partai, menanam pohon di Pangalengan. Jadi dari sana aku dan istriku langsung ke tempat pernikahan.

 

C.      Kemenakan dari keluarga  Puluhwatu.

1.       Pernikahan drg. Siska, anak perempuan dari mbak Ninik dan mas Wasis Kusni. Dokter Gigi Siska menikah dengan Reza,  orang Kalimantan yang berdarah Madura—anak seorang anggota DPRD di Pangkalan Bun—yang  merupakan kemenakan bupati Sleman saat itu, Idham Samawi, dari pihak istri. Pernikahan diselenggarakan dengan megah dalam budaya Jawa yang agung di sebuah gedung pertemuan di depan komplek UGM di Yogyakarta.  Ada ensamble musik gamelan selama acara resepsi berlangsung. Aku datang ke Yogyakarta bersama mbak Tatik dan mas Tarno. Kamipun menginap di sebuah wisma milik keluarga Dian Sastrowardojo. Di sana aku bertemua anakku Sidiq yang datang dari Semarang dan Praja yang lebih dulu berangkat dari Bandung bersama Ibu dan jeng Wiwin. Ibu dan rombongan bahkan sempat mengunjungi keluarga besar kami di Ngawi terlebih dahulu. Saat pulang ke Bandung kami melalui jalur pantai selatan sampai Cilacap dan berkunjung ke keluarga besar mas Tarno di Jatilawang. Menjelang tengah malam aku sampai di rumah. Mas Tarno dan keluarga melanjutkan perjalanan ke Cimahi.

2.       Pernikahan  Bertha Widiantari, anak perempuan kedua mbak Tatik Ariyani dan mas Alexius Sutarno. Pernikahan Bertha dengan Panji diselenggarakan di katedral Cimahi dan pesta pernikahan diselenggarakan di aula Gereja di pusat kota. Bertha menikah dengan seorang pemuda berdarah Menado dan Jawa. Keluarga  bupuh Arisman dan bupuh Mulyono juga hadir dari berbagai kota dan mereka menginap di sebuah mess TNI AD di dekat katedral.

Keesokan harinya keluarga mbak Ninik berkunjung ke rumah  diantar mas Bowo, sebelum pulang ke Yogyarta. 



 

3.       Pernikahan  Citra,  anak perempuan kedua mbak Ninik dan mas Wasis. Citra lulusan sebuah universitas di Singapura menikah  dengan seorang pemuda  Melayu dari Singapura. Akad nikah di Singapura, tetapi pesta pernikahan diselenggarakan di tiga tempat, Singapura, Medan dan Pekanbaru. Nah  aku menghadiri acara di Pekanbaru ini. Berangkat sendirian dari bandara Husen Sastranegara di Bandung, aku sampai di bandara internasional Sultan Syarif Kasim II menjelang ashar dan menggunakan bus kota menuju kediaman mas Wasis. Saat turun dari halte bus dan menyebrang jalan dengan menarik koper,  ada seorang mahasiswa berbaik hati mengantarku dengan menggunakan motornya hingga ke halaman rumah mas Wasis. Tiba di sana sudah ada bupuh Aris, Mas Yanto dan Rendi. Malam itu Prof Caska dari Unri datang mengunjungiku. Mas Wasis menjamu kami dengan gulai kepala kambing yang lezat. Kambing yang disembelih merupakan kambing yang diternakkan mas Wasis di perkebunan sawitnya. Mas Caska kemudian mengajakku jalan jalan menikmati pemandangan malam hari kota Pekanbaru sambil berkeliling kampus dan bercerita mengenai beberapa bangunan eks PON yang mangkrak.

4.       Pernikahan  dr. Fahmi  anak laki-laki pertama mas Haji Bowo Restiyono dan mbak Hj. Nunung. Fahmi dokter lulusan Universitas Sultan Agung, Semarang, mendapatkan jodoh orang Tegal, anak seorang PNS yang berbisnis busana dengan mendirikan butik. 


 

Sehari sebelum pernikahan aku dan nyonya berangkat dengan mobil melalui Sumedang, Jatiwangi, Palimanan, Cirebon, Losari dan Brebes melalui jalan nasional. Saat salat Jumat tiba aku menyempatkan diri salat di sebuah masjid di kota Cirebon. Usai salat kami melanjutkan perjalanan dan tiba di Tegal saat waktu ashar. Kami langsung menuju hotel Premiere di dekat pantai untuk check ini dan beristirahat. Malam harinya kami dijemput menuju kediaman mempelai pengantin perempuan untuk acara lamaran. Keluarga besar Arisman dari berbagai kota hadir. Selain bupuh Aris, ada Mas Har, mbak Wiwik, mbak Tatik, mas Yanto, mas Didik, mas Hari dan mbak Ninik beserta keluarganya. Acara selesai tengah malam dan kami diantar kembali ke hotel.

Keesokan harinya kami hadir kembali ke rumah mempelai perempuan untuk acara akad nikah. Dari rumah mempelai perempuan kami berjalan mengiringi pengantin dengan diiringi tetabuhan rebana. Demikian juga saat pulang kembali ke rumah. Usai akad nikah di masjid ada acara selamatan di rumah mempelai perempuan, dan itu menjadi waktu bagi kami bertemu keluarga Arisman secara lebih leluasa dan santai. Malam harinya kami bertemu lagi di sebuah rumah makan yang terletak di jalan utama menuju Slawi. Setelah itu aku dan istriku kembali ke hotel.

Keesokan harinya jeng Yani dan jeng Titik datang. Lalu setelah sarapan pagi kami bersama-sama mendatangi tempat resepsi pernikahan di sebutah ballroom yang terletak di belakang hotel. Acara berlangsung meriah hingga petang hari. Kami pun berpisah dengan keluarga kedua  mempelai dan kembali ke hotel untuk check out lalu meninggalkan kota Tegal. Jeng Yani ikut bersama kami sampai kota Cirebon. Kami mengantar ke terminal bus. Setelah bus yang ditumpangi jeng Yani meninggalkan terminal, kami pun melanjutkan perjalanan ke Bandung melalui daerah Trusmi yang kini nampak semakin semarak dengan banyaknya pertokoan dan pasar batik.

 

D.      Kemenakan dari keluarga Banjaran

 


 

1.      Pernikahan Yudha. Yudha, anak pertama ceu Yayah dan kang Ugih yang tinggal di Jalan Cagar Alam, Pancoran Mas, Depok setelah pindah dari Bandung. Ceu Yayah dan kang Ugih, sama-sama paramedis. Ceu Yaya, kakak tertua istriku, bekerja di RS Bhakti Yudha dan kang Ugih bekerja di Dinas Kesehatan Kota Depok.  Yudha, yang lulusan dari akuntansi UPN Veteran Depok menikah dengan Mely, orang Tionghoa. Ayah Mely punya pabrik pengolahan kopi yang  legendaris. Resepsi pernikahan Yudha dan Mely diadakan di Gedung Pertemuan yang megah di TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Dari Bandung, kami sekeluarga ke TMII di Pondok Gede, Jakarta pada Hari-H. Hari itu pula kami kembali ke Bandung.

2.      Pernikahan Andri. Andri, anak kedua Ceu Yayah dan kang Ugih. Resepsi pernikahan diselenggarakan di kediaman mereka di Jalan Cagar Alam, Pancoran Mas, Depok. Di samping rumah Ceu Yayah ada tanda kosong yang bisa digunakan untuk resepsi. Sementara kendaraan bisa diparkir di sebidang tanah kosong yang lainnya masih di blok yang sama. Karena diselenggarakan di rumah, suasana jadi lebih familiar. Kami bisa berkumpul sampai menjelang magrib. Usai magrib kami kembali ke Bandung.

3.      Pernikahan berikutnya yang bisa kuhadiri adalah pernikahan Mohammad Ramdhan (Dadan), anak laki-laki kang Iman Kardiman dan mbak Rita. Kang Iman adalah kakak perempuan istriku. Kang Iman  tinggal di Banjaran, Bandung. Ramdhan yang bekerja di IPTN adalah anak kedua kang Iman, ia menikah dengan Warni dari Arjasari, Kabupaten Bandung. Dalam pernikahan ini, akupun menjadi saksi nikah.

4.      Pernikahan Gun-gun. Gun-gun nama panggilan dari Guna Gumbira, anak pertama dik Eni dan dik Sunsun. Gun-gun menikah dengan gadis dari Lembang, seorang sarjana teknik pertambangan lulusan Unisba. Akad nikah dan pernikahan mereka diselenggarakan di sebuah resor tidak jauh dari rumah mempelai perempuan. Tepatnya di jalan Lembang-Maribaya. Pada pernikahan Gun-gun ini, dik Nanik datang dari Swiss untuk menghadiri. Adik-adikku juga hadir, baik dari Bandung maupun Bogor.

Seusai acara resepsi kami mengadakan rapat keluarga di tempat dan kemudian langsung ke RSHS menjenguk ibu istriku yang sedang dirawat untuk kesekian kalinya, sebelum akhirnya kembali menghadap Tuhan Yang Mahas Pengasih dan Maha Penyayang.

5.      Pernikahan Riska. Riska anak ketiga Kang Iman dan mbak Rita. Riska kuliah di UPI dan setelah lulus diterima bekerja sebagai guru pada Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor dan sehari-hari  bekerja di sebuah SLB di Cibinong. Riska menikah dengan orang Baleendah, Kabupaten Bandung. Akad nikah dan resepsi pernikahan diselenggarakan di rumah keluarga besar Une Hidayat di Banjaran.

6.       Ada beberapa pernikahan kemenakan lagi dari keluarga istriku yang kuhadiri. Yang kuingat adalah pernikahan cucu Kang Haji Engkom yang diselenggarakan dengan megah di kediaman orang tuanya di Desa Kiangroke. Kemudian pernikahan anak dari sepupu istriku di Pamengpeuk. Terakhir adalah pernikahan anak laki-laki ayi Haji Yuyus. Haji Yuyus adalah suami dari sepupu istriku. Anak mereka seorang prajurit TNI AD. Rupanya kemenakan ku ini mengikuti jejak uwa nya, Mayor Jendral Karmin, yang merupakan kakak sepupu istriku. Pernikahan anak dik Haji Yuyus diselenggarakan di garasi yang disulap menjadi tempat resepsi, milik kemenakan kami.

 

 

 

 

 

Rabu, 13 Oktober 2021

Pernikahan Adik-adikku

Sebagai anak sulung dan laki-laki satu-satunya aku punya lima adik perempuan. Perjalanan hidup yang di luar kendali kami, kami tidak pernah berkumpul bersama di masa kanak-kanak. Meski begitu saat dewasa kami bisa sesekali berkumpul  satu sama lain khususnya saat pernikahan.

Saat pernikahanku, hanya jeng Yani yang bisa menghadiri pernikahan kami di Banjaran, Bandung. Demikian juga saat jeng Yani menikah, hanya aku dan istriku yang bisa menghadiri pernikahannya di Desa Krendetan, Kecamatan Bagelen, Kabupaten Purworejo. Saat itu kami menumpang kereka Pasundan dari Stasiun Hall Bandung yang berangkat pukul 05.00. Kami pun boleh dikatakan masih pengantin baru saat itu. Tiba di Krendetan pada sekitar pukul 14.00. Adapun pernikahan jeng Yani dengan dik Karmawan berlangsung malam hari  di rumah Pakpuh Broto, seperti kebiasaan di sana. Dik Karmawan datang dari Jakarta bersama kakak-kakaknya. Ada pula yang sengaja datang dari Palembang.

Setelah jeng Yani, adikku yang menikah adalah jeng Titik. Ia menikah dengan dik Firdaus di Banjaran, Bandung. Saat itu Ibuku bisa menghadirinya. Adapun aku mewakili ayah menjadi walinya.

Berikutnya adalah jeng Yuni. Itu sekitar tahun 2000. Jeng Yuni menikah dengan dik Gery, orang Bogor, di rumah kami di Bumi Rancaekek Kencana, Bandung. Saat itu pun aku bertindak sebagai wali karena ayah telah meninggal setahun sebelumnya. Pernikahan jeng Yuni cukup meriah, karena ada pertunjukan musik dangdut  dari kelompok musik yang dibina kang Asep, kawan di Partai. Saat itu semua adik-adikku bisa berkumpul. Ibu juga ada karena tingal bersama kami di Bandung. Istimewanya karena ada Kang Kemal hadir bersama Pak Tri. Seingatku Kang Kemal saat itu adalah Ketua Umum Partindo. Ia adalah putra tertua Asmara Hadi. Asmara Hadi adalah suami dari Ratna Juwita, putri angkat Bung Karno.

Pada tahun 2003 giliran adikku yang bungsu, jeng Wiwin menikah dengan dik Somadin, orang Jawa yang lahir dan dewasa di Lampung. Saat itu Wiwin sudah menjadi PNS dan berprofesi sebagai Guru SD di Cipamokolan, Bandung.  Pernikahan mereka dilakukan di Balai Desa Rancaekek Wetan. Acara semua diatur oleh jeng Wiwin, aku hadir sebagai wali saja. Hiburan para pesta pernikahan adikku itu adalah nasid dari kawan-kawan jeng Wiwin. Tamu undangan diatur secara terpisah antara laki-laki dan perempuan meski masih dalam satu ruangan yang sama.

Adapun adikku yang terakhir menikah adalah jeng Nisa. Ia menikah dengan dik Toha, orang Parung yang asal usulnya dari Sidareja, Cilacap. Jeng Nisa menikah di rumah kami di Bumi Parahyangan Kencana, Soreang. Setelah menikah jeng Nisa mengikuti suaminya pindah ke Parung.

Kini adik-adikku sudah beranak pinak dan bahkan sudah ada yang memiliki cucu seperti juga kami. Jeng Yani tinggal di Bogor dan mempunyai tiga anak. Semuanya sudah menikah. C ucu jeng Yani ada lima orang. Jeng Yuni  tinggal di kota Bogor, kini punya satu anak laki-laki yang  belum menikah.  Jeng Titik tinggal di Bandung Barat, mempunyai enam anak dan tiga cucu. Jeng Wiwin tinggal di kota Bandung, punya tiga anak. Hanya jeng Nisa yang belum mempunyai keturunan. Ia  tinggal dengan suaminya di Parung, Bogor. Mereka semua hidup bahagia. They live happily ever after.

 

 

Rabu, 11 Agustus 2021

Pernikahan Sidiq-Sherenta


Pernikahan Sidiq-Sherenta

Beberapa bulan setelah pernikahan anakku yang pertama, aku bertemu dan istriku berangkat ke Jakarta naik kereta api. Saat matahari terbit, kereta api telah tiba di Stasiun Gambir. Tugu Monas nampak megah berdiri di seberang sana. Kami segera ke rest room untuk membasuh muka dan kemudian mencari resto untuk sarapan pagi. Tidak lama kemudian mbak Dea dan mas Sandy datang dari Yogyarta. Setelah sarapan kami keluar dari stasiun ke tempat parkir barat di mana taksi daring telah menunggu. Kami segera meluncur ke arah Kemang menjemput mas Sidiq dan dari sana menuju arah Tangerang Selatan ke rumah mbak Sherenta Sheiny Nasution yang biasa kami panggil mbak Eren. Saat tiba di sana keluarga mbak Eren sudah menunggu. Ibu, kakak-kakak serta adiknya. Kedua kakak mbak Eren,  sudah berkeluarga dan ada yang sudah memiliki anak. Kami makan siang dan kemudian saling berkenalan. Siang itu kami melamar mbak Eren kepada keluarga Ibu Sri Andini untuk mas Sidiq, anak keduaku. Lamaran kami diterima dan tanggal pernikahan akan diatur kemudian. Kami pun kembali ke Bandung.

Hari H

Sebelum hari H pernikahan mengadakan pengajian di rumah dengan mengundang tetangga di sekitar rumah. Pengajian dipimpin oleh Ustadz Asep yang menjadi imam masjid. Kami mohon doa dari para tetangga agar pernikahan mas Sidiq berjalan lancar dan berkah.

Keesokan harinya, aku, istri dan mas Sidiq dan Praja berangkat ke Jakarta pada malam hari. Menjelang tengah malam kami sudah sampai Jakarta dan keluar dari jalan tol menuju hotel  untuk menginap.  Pernikahan mas Sidiq dan mbak Eren akan  diselenggarakan di Aston Priority Simatupang Hotel and Conference Center di Jalan Letnan Jendral T. B. Simatupang Kav. 9 Kebagusan,  Jakarta Selatan, keesokan harinya.

Pagi itu aku menyempatkan berenang sebelum sarapan. Untuk sarapan aku memilih di executive lounge di lantai 9 bersama istriku. Sambil sarapan kami bisa menikmati pemandangan kota Jakarta di belahan sebelah selatan dan timur juga lalu lalang kendaraan di jalan tol arah Cilandak-Kampung Rambutan.

Menjelang siang hari adik-adik dan kemenakanku sudah berdatangan. Demikian juga keluarga dari pihak istriku. Usai salat zuhur kami semua mengantar mas Sidiq ke tempat akad nikah di Lantai 9. Dik Yus menjadi juru bicara dari pihak keluargaku dan dari juru bicara dari pihak mbak Eren adalah oomnya yang datang dari Pekalongan.

Akad nikah di hari Sabtu tanggal 28 Juli 2018, berjalan dengan khidmat dan lancar dipimpin oleh penghulu dari KUA Pasar Minggu Jakarta Timur. Pak penghulu juga sekaligus memberikan khutbah nikah yang menyentuh hati bagi siapapun yang mendengarnya. Usai akad nikah kami berfoto bersama.

Setelah salat ashar, kami semua dirias dengan pakaian adat Jawa Solo. Aku, dik Geri, dik Toha, dik Yus, Rahmat, mas Ugih dan mas Iman, semuanya menggunakan beskap, kain batik dan blangkon. Mas Sandy dan dik Praja juga menggunakan pakaian adat hanya warna beskapnya berbeda. Sementara yang perempuan menggunakan kebaya.

Sekitar  pukul 19.00 mempelai pengantin diiringi keluarga memasuki di Priority Skyballroom Lantai 26  dengan diiringi musik gending Jawa. Mempelai pengantin duduk di pelaminan didampingi kedua orang tuanya. Karena ayah mbak Eren sudah tiada, besanku didampingi anak lelakinya yang tertua, mas Batara. Sambutan dari keluarga besan. Dik Somadin membacakan doa. Setelah itu hadirin dipersilakan memberi ucapan selamat.

Tempat resepsi ditata sangat indah, dengan dominasi sinar lampu warna ungu dan putih menyinari hiasan bebungaan warna warni yang  mewangi. Makanan dan minuman disajikan dengan tata boga yang sempurna dan pelayan pelayan hotel yang cekatan. Ada iringan musik dari home band yang menyajikan lagu lagu populer.

Tamu dari pihak besan kebanyakan adalah para hakim di pengadilan negeri maupun pengadilan tinggi baik di Jakarta maupun pulau Jawa bahkan dari luar pulau pun ada yang datang. Kang Victor de Keizer  dan mas Timbul juga hadir dari Bandung. Demikian juga kang Nandang Afipudin. Bung Ahmad Basarah, Wakil Ketua MPR mengirim rangkaian bunga ucapan selamat, demikian juga dengan teh Ineu, Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat. Banyak juga karangan bunga dari para hakim kawan Ibu Sri Andini. Saudara saudara dari keluarga Rono dan keluarga Puluhwatu juga hadir. Demikian juga tetangga dan kawan kawan ku.

Resepsi berakhir sekitar pukul 23.00. Alhamdulillah acara resepsi pernikahan anak anak kami berjalan lancar.  Saudara-saudara pun pulang. Ada yang kembali ke Bandung ada pula yang ke Bogor. Hanya keluarga dik Eni yang menginap di hotel.  Kami sekeluarga kembali ke kamar hotel untuk menginap. Ipang anak mas Yono (Bengkulu) juga ikut menginap bersama kami. Mbak Dea dan mas Sandy menginap di apartemen di belakang hotel.

Setelah sarapan keesokan harinya, kami berpamitan dengan keluarga Ibu Sri Andini di lobby hotel. Ipang pulang ke tempat kost nya di dekat President University, Bekasi. Kami sekeluarga kembali ke Bandung. Di hari minggu itu udara sangat cerah. Perjalanan ke Bandung lengang dan lancar.

 

 

Jumat, 09 April 2021

Pernikahan Idea dan Sandy


 


Tidak berapa lama sejak putriku Idea – di keluarga kami memanggilnya mbak Dea – diterima sebagai pengajar di UGM, datang seorang kawannya sesama dosen, Dr. Sandy namanya, didampingi seorang dosen senior yang juga pejabat dari UGM. Melalui dosen tersebut, Sandy  menyampaikan isyarat akan melamar putriku. Kami  (aku dan istriku) pun memberi isyarat menerima.  

Lamaran.

Tidak berapa lama, pada waktu yang telah disepakati, keluarga mas Sandy datang dari Malang untuk meminang mbak Dea. Dalam rombongan ada ayah, ibu, kakak dan adik Sandy, disertai dengan tantenya. Keluarga kami nyaris lengkap hadir. Dari keluarga Harso Sugiatmo beberapa adikku dan suaminya hadir, ada juga anak-anak mereka.  Dari keluarga Une Hidayat pun demikian.  Awalnya keluarga Sandy kami terima di ruang tamu untuk beristirahat dan minum teh dan menikmati kue, kemudian kami berpindah ke ruang keluarga.

Ruangan kami tata menjadi dua bagian. Bagian pertama berisi sofa untuk dua keluarga, keluarga Rachmat dan keluarga Harjoko. Bagian kedua berisi kursi kursi lipat untuk keluarga besar kami. Mas Tony memasang kamera untuk merekam peristiwa bersejarah tersebut. Bertindak sebagai MC adalah dik Eni, adik istriku.

Acara berlangsung khidmat namun cair diselingi canda tawa. Lamaran dari mas Sandy disampaikan langsung oleh Pak Rachmat, ayahnya. Penerimaan dari pihak  mbak Dea, langsung olehku. Mas Sandy adalah anak kedua pak Rachmat, sedangkan mbak Dea adalah anak kami yang pertama, perempuan satu satunya. Usai penyampaian lamaran dan penerimaan, mas Sandy menyampaikan cincin untuk mbak Dea yang didisain khusus dengan kotak perhiasan yang indah. Acara pun diakhiri dengan doa oleh kang Iman, kakak istriku.

Kami memperkenalkan seluruh keluarga besar kepada keluarga pak Rachmat dan demikian sebaliknya. Setelah itu kami berfoto bersama dan makan bersama. Selepas waktu maghrib pak Rachmat dan keluarga undur diri. Mereka menginap di hotel di kawasan Jatinangor, yang masuk wilayah Sumedang, meski jaraknya hanya sekitar 3 km dari rumah kami.

Keesokah harinya keluarga pak Rachmat pulang ke Malang, kami melepas mereka di bandara Husein Sastranegara.

Pengajian.

Dua hari menjelang hari pernikahan, kami mengadakan pengajian di rumah bertempat di ruang keluarga. Pengajian dimpimpin oleh jamaah majlis taklim asuhan seorang ustad kondang sahabatku dari Riung Bandung. Pesertanya adalah keluarga besar kami dan kaum ibu di sekitar rumah. Dekorasi tempat pengajian sederhana saja, dipan kecil antik diberi latar belakang dedaunan buatan warna hijau yang disorot oleh lampu listrik. Pengajian juga disertai ceramah oleh seorang ustadzah. Pengajian dimulai selepas zuhur dan berakhir menjelang waktu ashar.

Keluarga mulai berdatangan.

Sehari menjelang pernikahan mbak Dea dan mas Sandy, keluarga mulai berdatangan. Mas Samidi dari Surabaya, mas Suyono dan istri dari Bengkulu, mas Wasis dari Pekanbaru, mas Bowo dari Magelang, mas Yanto dari Madiun, mbak Wiwik dari Semarang, bupuh Aris dari Wonosobo . Kemenakanku dari Yogya juga hadir. Keluarga besar Rono dari Bandung juga berdatangan siang itu, om Marsono, mas Nurul, kemenakanku Sumidi, Nah dan Nem. Tentu saja ini peristiwa yang langka.  Aku pun memperkenalkan mereka satu sama lain, karena memang baru sekali ini terjadi pertemuan antara keluargaku dari pihak ayah dan keluargaku dari pihak ibu.

Kami berkumpul mulai selepas dzuhur hingga menjelang tengah malam. Sementara itu para pekerja menyelesaikan panggung dan tenda. Dari WO menyelesaikan tata ruang dan dekorasi hingga waktu subuh.

Hari H.

Pada tanggal 20 Januari 2018, sekitar pukul 07.00 pagi rombongan pengantin pria tiba di di rumah singgah yang hanya terhalang satu rumah dari rumah kami. Rombongan terdiri dari calon mempelai pria Dr. Sandy Budi Wibowo,  didampingi ayahnya Pak Rachmad Yusuf Susanto dan ibunya Bu Titin Budi Prihatiningtyas; kakaknya, mas Tony dan adiknya, mbak Putri. Ikut pula dalam rombongan, tante mas Sandy dari Surabaya. Mereka datang dalam satu mobil Rubicon  yang dipinjami kang Mulyana, direktur sebuah yayasan pendidikan. Rombongan beristirahat di rumah singgah. Calon pengantin dirias dengan adat Sunda, demikian pula dengan ayah dan ibunya.

Sekitar pukul 08.00, rombongan calon pengantin pria bergerak dari rumah singgah ke rumah kami yang berjarak sekitar 50 meter dengan berjalan kaki diiringi rombongan keluarga kami yang sudah menunggu. Aku dan istriku menyambut di halaman dalam. Kami bersalaman dan mengalungkan rangkaian bunga melati ke calon pengantin pria, lalu membimbing mereka halaman rumah dengan diiringi alunan musik gamelan dan mempersilakan mereka duduk di kursi yang telah disediakan.

Saat itu hujan gerimis disertai angin bertiup kencang. Acara dimulai dengan pengantar dari Pak Rachmad , sedangkan  sambutan selamat datang yang disampaikan dik Ahmad Firdaus mewakili keluarga kami. Pembacaan ayat suci Alquran disampaikan oleh dik Somadin. Setelah itu akad nikah dipandu penghulu dari KUA Cileunyi. Akupun menikahkan mas Sandy dengan mbak Dea dengan emas kawin yang sudah ditentukan. Sahlan perkawinan di antara mereka. Bertindak sebagai saksi dari pihak pengantin pria seorang doktor dari UGM dan saksi dari pihak pengantin perempuan seorang Doktor  dari Unpad, Dr Sunardi. Adapun khutbah nikah disampaikan oleh kawanku di DPRD Jabar, seorang ulama yang terkenal, Dr. Saiful Islam.

Setelah  akad nikah selesai, mbak Dea turun dari rumah menuju ke pelaminan untuk mengikuti upacara  adat pernikahan Sunda dilanjutkan ucapan selamat dari hadirin. Sepupu dari Puluhwatu Klaten juga hadir, memberi ucapan selamat, dan kemudian kembali ke Klaten.

Resepsi

Resepsi pernikahan dimulai pada pukul 11.00. Kedua mempelai datang rumah dengan diiringi tiupan saxophone. Kami, kedua pasangan orang tua, menyambut di bawah tangga dan mengantar mempelai ke pelaminan . Para dosen dari UGM dan keluarga kami pun sudah menunggu. Demikian juga sebagian tamu undangan dan tetangga. Mbak Tati, meski menggunakan kursi roda menyempatkan hadir. Kami, kedua pasangan ortu dan mempelai berdiri menerima ucapan selamat dari para tamu. Sementara itu musik mengalun selama acara.

Karena resepsi pernikahan dilakukan di halaman rumah, kemacetan lalu lintas di jalan utama dan jalan kompleks tidak terhindarkan kendari ada beberapa petugas dari Linmas dan juru parkir dadakan ikut mengatur. Karangan bunga dari kolega  dijejerkan di halaman depan rumah dan di pinggir  jalan raya. Menu makanan yang disajikan secara prasmanan sederhana saja, disiapkan oleh vendor relasi dari wedding organizer yang dipilih anakku. Alhamdulillah mencukupi. Kawan-kawan dari partai, dari kampus, dari aktifis kampus, tetangga, teman kerja, saudara baik yang jauh maupun dekat  para politisi dan anggota parlemen, dan  eksekutif, meramaikan resepsi pernikahan.  Tamu terjauh, dik Nani, datang dari Swiss. Ada pula kemenakan, Ezra dan keluarganya datang dari Singapura. Sekjen KBM, Mas Djoko Sugiharto , Prof Nanang dari ITB demikian juga guru besar dari UGM, Ketua STIA Bagasasi Ibu Asrofah beserta para dosen /karyawan, anggota DPRD Jabar Mas Gatot-Dokter Iwan-kang Drajat,   Kepala dan karyawan Puskesmas Cinunuk , Bupati Bandung Barat Yayat T. Sumirat, Pak Mulyana bersama kawan kawan Alumni SPK Immanuel,  Pak Tom Sekretaris DPD BMI Jawa Barat  bersama Pengurus DPP, Sekretaris Desa Cileunyi Wetan, Bhabinkamtibmas dari Polsek Cileunyi , jamaah masjid dan lain lain yang tidak bisa kusampaikan satu persatu. Resepsi pernikahan berakhir pada pukul 14.00. Meski begitu masih masih ada beberapa tamu hadir seperti Dr Mimin, teman kuliahku di S3 UPI dan Mayor AU Supratman. Sampai malam hari masih ada tetangga dan keluarga dari jauh yang datang.

Keesokan harinya Pak Rachmad dan keluarganya pulang. Kami mengantar hingga ke Bandara Husein Sastranegara. Seminggu kemudian mas Sandy dan mbak Dea berangkat ke Yogyakarta.