Sabtu, 07 Mei 2011

Duta Batik




Batik



















SEKELOMPOK mahasiswa Bandung tanpa menyadari telah mempromosikan batik ke pelbagai negara jauh sebelum orang-orang mengalami euphoria dengan batik, sebelum ramai berita mengenai masuknya batik Cina, sebelum batik dijadikan warisan budaya tak benda oleh Unesco. Tanpa disadari mereka itu telah menjadi duta batik di kedutaan-kedutaan besar negara asing di Jakarta.

Ketika itu medio tahun 1980-an. Beberapa mahasiswa FISIP Unpas berangkat ke Jakarta dengan maksud mendatangi kedutaan-kedutaan besar negara asing dan perwakilan PBB agar mereka berpartisipasi dalam Pameran Perdamaian Dunia yang mereka selenggarakan. Mereka itu : Bono, Wahyu, Rizal, Bob, Abu, Tedi dan aku.

Base camp kami adalah sebuah rumah di Pamulang milik kakaknya Bono. Di situlah kami menyiapkan segala sesuatunya. Modal kami dari Bandung hanya mesin ketik manual, kertas dan amplop surat berlogo Senat Mahasiswa FISIP Unpas. Kami akan menjumpai para diplomat dari pelbagai kedutaan. Maka kamipun merancang segala sesuatu sebagai strategi, termasuk dress code. Kami memutuskan menggunakan baju batik, yang memang sudah kami siapkan dari Bandung.

Keesokan harinya dengan berbusana batik, kamipun berangkat meninggalkan Pamulang dengan menggunakan mobil impala tua pinjaman. Tujuan pertama kami ke kantor Menpora. Berhasil. Baru sampai di Jalan Thamrin mobil pun mogok. Ramai-ramai kami dorong masuk ke halaman Astra, dealer mobil Jepang. Bono mengutak-atik mesin, jreng… mobilpun bisa berjalan kembali. Berturut-turut kami ke UNIC : United Nation Information Centre; Kedubes-kedubes : AS, US, Jepang, Perancis, Jerman dan bertemu Dirjen ….Deparlu. Everything is running well.



Perserikatan Bangsa-Bangsa





The network of United Nations information centres (UNICs), services (UNIS) and offices (UNOs) links the Headquarters with people around the world. Located in over 60 countries, these field offices of the Department of Public Information help local communities obtain up-to-date information on the Organization and its activities. Children in remote villages of Myanmar, for example, were able to learn about the United Nations because UNIC Yangon distributed United Nations educational kits for use in community schools. Journalists from Mexico City and the Caribbean were able to add their voice to the call of the international community to do more to help solve the world drug problem because UNIC Mexico City linked them by teleconference to the head of the United Nations International Drug Control Programme based in Vienna. In such ways, UNICs help people everywhere to be heard and to understand better what the United Nations is doing to make a difference in their lives.


Setiap kedutaan memiliki kekhasan masing-masing. Kedutaan Jepang kental dengan nuansa teknologinya. Begitu kami culang-cileung di pintu gerbang tinggi dari besi yang tak ada penjaganya, pintupun bergeser dan membuka secara otomotis. Kamipun masuk. Jepang memberikan komitmennya. Sesudah itu kami ke kedubes AS di Jalan Merdeka Selatan. ketika itu belum diberi pagar kawat berduri seperti sekarang, tapi arogansinya memang terasa. Seorang marinir tinggi besar berkulit hitam dengan tatapan dingin menegur kami. Kami dan surat-surat pun harus dideteksi dengan detector logam. Setelah clear, kamipun diterima diajak ke USIS (United States Information Service). Segala macam bahan pameran disiapkan. Dari sana kami ke Kedutaan Besar Uni Sovyet tapi disarankan supaya kami ke Pusat Kebudayaan US di daerah Menteng. Orang-orang di sana sederhana, ramah, melayani secara personal dan uniknya merekapun memakai batik seperti kami. Informasi mengenai perkembangan Islam di Uni Sovyet banyak kami dapatkan dan cukup mengejutkan kami. Yang membuat kami terperangah, mereka itu fasih berbahasa Indonesia dan paham betul kondisi kota Bandung. (sayang Uni Sovyet harus bubar jalan). Kedutaan Perancis juga menerima kami dengan ramah serta memberi pelbagai buku mengenai kebudayaan dan seni dengan kualitas yang terbaik yang pernah kami lihat. Maka bagasi mobil kamipun penuh dengan pelbagai bahan untuk pameran.

Dengan perasaan lega kamipun menuju Tebet tepatnya ke Jalan Minangkabau, ke rumah Rizal untuk sholat dan makan siang gratis. Sebagai orang Padang keluarga Rizal punya menu andalan special : rendang. Kamipun dikenalkan dengan saudara-saudaranya. Hmm cantik-cantik…. Bapaknya Datuk bla-bla-bla adalah kepala suku yang dihormati oleh komunitasnya. Ia pun seorang mubaligh meski sehari-hari sibuk berbisnis tekstil di Pasar Rumput.

Setelah segala sesuatu urusan di Jakarta selesai, para duta batik kembali ke Bandung dengan menggunakan bus. Baju batik pun dilipat dalam tas. Dua puluh tahun kemudian batik diakui dunia sebagai warisan budaya.

Indonesian batik (From Wikipedia, the free encyclopedia)

Batik (Javanese pronunciation: [ˈbateʔ]; Indonesian: [ˈbatɪʔ]; English: /ˈbætɪk/ or /bəˈtiːk/) is a cloth that traditionally uses a manual wax-resist dyeing technique. Batik or fabrics with the traditional batik patterns are found in Indonesia, Malaysia, Japan, China, Azerbaijan, India, Sri Lanka, Egypt, Nigeria, Senegal, andSingapore.
Javanese traditional batik, especially from Yogyakarta and Surakarta, has notable meanings rooted to the Javanese conceptualization of the universe. Traditional colours include indigo, dark brown, and white, which represent the three major Hindu Gods (Brahmā, Visnu, and Śiva). This is related to the fact that natural dyes are most commonly available in indigo and brown. Certain patterns can only be worn by nobility; traditionally, wider stripes or wavy lines of greater width indicated higher rank. Consequently, during Javanese ceremonies, one could determine the royal lineage of a person by the cloth he or she was wearing.

Other regions of Indonesia have their own unique patterns that normally take themes from everyday lives, incorporating patterns such as flowers, nature, animals, folklore or people. The colours of pesisir batik, from the coastal cities of northern Java, is especially vibrant, and it absorbs influence from the Javanese, Arab, Chinese and Dutch cultures. In the colonial times pesisir batik was a favourite of the Peranakan Chinese, Dutch andEurasians.[citation needed]
UNESCO designated Indonesian batik as a Masterpiece of Oral and Intangible Heritage of Humanity on October 2, 2009. As part of the acknowledgment, UNESCO insisted that Indonesia preserve their heritage.[1]

Kamis, 05 Mei 2011

Pak Cecep



Gedung Merdeka















PERKENALANKU dengan Pak Cecep secara intens dimulai sejak berdiskusi dalam suatu seminar yang diselenggarakan di Gedung Merdeka. Ketika itu aku – seperti halnya mahasiswa lain yang kritis—melakukan kritik terhadap budaya politik Orde Baru dalam melakukan pembinaan pemuda dengan cara mengkooptasi KNPI (Komite Nasional Pemuda Indonesia). Point nya adalah bahwa KNPI telah menjadi alat bagi kekuasaan antara lain dengan menempatkan orang-orangnya sebagai pengurus dari tingkat nasional hingga daerah. Pemuda tidak lagi mencerminkan semangat kepemudaan atau pembaharuan karena lebih mengutamakan kelanggengan kekuasaan yang mengakibatkan para pengurus KNPI pada umumnya adalah bagian dari kekuasaan. Usia mereka pun tidak lagi muda karena umur empatpuluh tahun pun bisa menjadi pengurus KNPI. Itulah yang kukritik dari KNPI yang kebetulan salah seorang pengurusnya adalah Pak Cecep. Akibat kritik ini maka seorang intel mengajakku ngobrol ketika rehat. Cukuplah bagiku untuk mengetahui bahwa rejim tidak berkenan dengan kritik yang kusampaikan.

Nama lengkap Pak Cecep adalah Cecep Syarifudin, lulusan jurusan hubungan internasional fakultas sosial politik UGM, yang mengajar dan menduduki jabatan penting di Universitas Pasundan serta Paguyuban Pasundan. Dia adalah seorang anak kiai di Bogor yang kemudian menjadi menantu KH Prof Dr Musadad—ulama kharismatis dari Garut, karena Pak Cecep menikahi putrinya yang bernama Ummu Salamah. Aku tidak pernah membayangkan bahwa orang yang pernah kukritik itu pada suatu saat menjadi orang yang mendukung aktifitasku di kampus.

Pada saat PBB menyelenggarakan pawai obor perdamaian keliling dunia, aku dan kawan-kawan menyelenggarakan Pameran Perdamaian Dunia di Lengkong Besar 68. Ketika itu Dekan dan para dosen di FISIP Unpas tidak memberikan dukungan bagi terselenggaranya kegiatan. Pak Cecep setelah membaca berita rencana acara tersebut di koran Pikiran Rakyat dan Prioritas kemudian mengatakan padaku bahwa dia mendukung kegiatan itu. Diapun menyalahkan Dekan dan para pengajar FISIP. Sejak saat itu dia memantau perkembangan dan setelah tahu bahwa Departemen Luar Negri dan Menpora memberikan dukungan padaku maka dia sendiri yang mengantarku ke Jakarta dengan menggunakan Garuda dari Bandung. Aku dipertemukan dengan seorang diplomat Deparlu di Kebayoran, Dr Johan Syahperi . Dr Johan adalah diplomat yang aktif di dunia kepemudaan dan menjadi Ketua Asian Youth Council. Dia ternyata lulusan Universitas Parahyangan Bandung. Dalam pertemuan itu dia menyatakan bersedia untuk datang dalam seminar yang kami selenggarakan dan akan berbagi pengalaman mengenai peran pemuda dalam perdamaian internasional.

Pameran Perdamaian Dunia itupun terselenggara dengan segala keterbatasannya. Prof Muchtar Affandi yang menjadi rector saat itu pun hadir. Pak Cecep hanya memantau dari jauh dan mengatakan padaku agar aku mengerahkan pendukung-pendukungku untuk mensukseskan acara tersebut, karena dia tahu sebagian mahasiswa dan dosen memboikot acara tersebut. Alhamdulillah pameran yang terselenggara beberapa hari itu berjalan lancar dan sukses. Beberapa negara –termasuk negara super power ketika itu seperti AS dan US—memberikan dukungan berupa material pameran seperti buku-buku, poster dan film.

Pak Cecep kemudian tidak lagi aktif di kampus karena sibuk dengan kegiatan politiknya menjadi anggota DPR/MPR, dan menjadi pengurus PBNU. Ummu Salamah istrinya menjadi Ketua Jurusan Kesejahteraan Sosial sehingga akupun sering berinteraksi dalam kegiatan akademis. Pada saat kongres pendidikan pekerjaan sosial se-Asia dan Pasifik, ibu Ummu dan pak Fachrurozi sebagai pengajar serta dua orang mahasiswa yaitu aku dan Abu Hurairah ditugaskan kampus untuk mengikuti kegiatan tersebut. Setelah itu lama aku tidak bertemu dengan Pak Cecep. Belakangan aku mendengar berita tak sedap mengenai gelar Doktor Pak Cecep tapi hal itu tidak menghilangkan penghargaanku padanya karena dia adalah orang yang membantuku di saat-saat sulit, dan bukankah seorang sahabat ada untuk itu ?



Gedung DPR/MPR







Suatu saat aku bertemu Pak Cecep dalam sebuah resepsi pernikahan seorang dosen. MC di acara tersebut mengucapkan selamat datang padaku sebagai “calon bupati Bandung”. Pak Cecep tersenyum saat kami berpisah sebelum meninggalkan tempat resepsi dan mengatakan “semoga sukses”.

Seingatku aku bertemu Pak Cecep terakhir kali di RSHS, saat kami sama-sama melakukan general check-up sebagai salah satu syarat menjadi Caleg. Untuk kesekian kali Pak Cecep masuk Senayan, kali ini dari PKB. Ketika PKB terbelah ke dalam faksi Gus Dur dan faksi Muhaimin, Pak Cecep memilih bergabung dengan Muhaimin Iskandar.
Kini Pak Cecep telah berpulang ke rahmat Allah. Meskipun demikian Pak Cecep—nama panggilan KH Prof Dr Cecep Syarifudin –tetap hidup dalam kenanganku. Orang Jawa mengatakan “mikul duwur mendem jero”. Hanya yang baik-baik lah yang perlu dikenang.

Selasa, 03 Mei 2011

Seminar Pekerjaan Sosial Internasional













SEKITAR tahun 1987, Ibu Ummu Salamah Ketua Jurusan Kesejahteraan Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Pasundan (Unpas) menugaskanku dan adik kelasku Abu Hurairah untuk mengikuti seminar dan kongres Asia and Pacific Social Work Education di Jakarta. Kamipun berangkat ke sana berempat : Ibu Ummu, pak Fahrurozi, Abu dan aku, dengan Surat Perintah Jalan dari Pembantu Dekan Bidang Akademik , pak Soleh Suryadi. Dengan SPJ itu aku dan abu diberi biaya perjalanan sekitar Rp 75.000,00.

The Asian and Pacific Association for Social Work Education(APASWE), is a non-profit and non-sectarian organization for schools of social work in the Asia-Pacific region. With a membership exceeding 200 (mostly drawn from educational institutions), APASWE promotes academic and professional standards of social work education and facilitates inter-school cooperation and collaboration in the region.


Seminar diadakan di Hotel Kemang Jakarta, diikuti lembaga kesejateraan sosial, perguruan tinggi maupun perorangan dari negara-negara Asia Pasifik seperti Jepang, AS, Australia, Hongkong, Singapura, Malaysia, Thailand, Selandia Baru, Filipina, Fiji bahkan India dan negara-negara teluk. Itu adalah pengalamanku mengikuti seminar internasional yang pertama. Kongres dibuka oleh Menteri Sosial, Sudarsono dengan keynote speaker ketua dari Emil Salim, Alamsyar Ratu Perwiranegara dan beberapa pejabat lainnya. Siti Hardianti Rukmana ketika itu bertindak sebagai tuan rumah dalam acara welcoming dan farewell party karena posisinya sebagai ketua umum Pekerja Sosial Seluruh Indonesia.




Emil Salim





Dr Emil Salim, is a graduate in engineering and economics. Received Ph D degree from University of California, Berkley. After became Minister of State for Administrative Reform in 1971 at the age of 41, Dr Emil Salim served four terms in ministerial positions in Indonesia for 22 years, including the first minister of the Environment. Dr Emil Salim from early on addressed the environmental problems in the developing nations region in Asia, and as the chairman of the ASEAN Environment Ministerial Congress set the target, the scope, the programme and the action plan for the ASEAN nations to cooperate in the environment area. He also contributed in establishing the concept of sustainable development and furthering global environmental policies through various United Nations’ committees. He currently serves as President’s Council of Advisors, Indonesia.



Beberapa hal yang dibahas pada kongres dan seminar Apaswe adalah mengenai teori-teori dan praktik pekerjaan sosial serta kebijakan pemerintah berkaitan masalah-masalah kesejahteraan sosial di samping memformulasikan peran perguruan tinggi menghadapi kecenderungan global masalah-masalah kesejahteraan sosial. Para peserta kongres juga diberi kesempatan untuk mengikuti kegiatan kelompok dalam bentuk field trip ke obyek-obyek pelayanan sosial di sekitar Jakarta. Aku ikut field trip ke Yayasan Sayap Ibu yang menyantuni anak-anak yang kurang beruntung karena tidak memperoleh perawatan orangtuanya disebabkan karena kemiskinan atau masalah-masalah lainnya. Adapula acara promosi pariwisata kota Jakarta dalam bentuk sightseeing ke obyek-obyek wisata seperti Taman Impian Jakarta dan Monumen Nasional yang mendekatkanku pada seorang pekerja sosial dari Sidney, Australia yang nama bernama belakang Jones. Seorang professor dari Universitas Nagoya, Mitsuko Kojima nampaknya terkesan dengan kemampuanku menenangkan seorang anak penyandang cerebral palsy (radang otak) ketika melakukan field trip ke Yayasan Sayap Ibu. Kedua orang itu kemudian menjadi teman berkorenspondensi untuk beberapa lama.



Pantai Ancol












Panitia memberi kesempatan pula untuk para mahasiswa jurusan kesejahteraan sosial dari pelbagai perguruaan tinggi Indonesia melakukan “kongres” . hasil dari kongres itu adalah rekomendari agar kami membuat sebuah organisasi tingkat nasional . Beberapa waktu kemudian kami membentuk organisasi mahasiswa bernama Ikatan Mahasiswa Profesi Pekerjaan Sosial Indonesia (IMPPSI) di Bandung, dengan Ketua Umum Syafri dari STKS, Sekretaris Jendralnya adalah Marike dari Universitas Padjadjaran dan aku sebagai Ketua I Bidang Organisasi. Aku sempat mengikuti pertemuan tingkat nasional di Yogyakarta sebelum lulus kuliah. Selanjutnya Abu Hurairah dan teman-temannya yang melanjutkan organisasi tersebut.

Professor Mitsuko Kojima, memberi kesempatan padaku untuk mengikuti pendidikan pascasarjana di Jepang. Karena itu setiap bulan dia mengirimiku yen untuk biaya kursus bahasa Jepang. Dia menyiapkan cottage di rumahnya untuk tempat tinggalku kelak. Selain itu dia pun berbaik hati mengenalkanku dengan seorang mahasiswa pascarjana yang akan membantuk di sana. Aku sempat mengikuti kursus di Pusat Kebudayaan Jepang di jalan Purnawarman untuk sekitar setahun lamanya. Pusat Kebudayaan Jepang tersebut kini telah rata dengan tanah dan di atasnya dijadikan pusat penjualan alat-alat elektronik seperti computer, mobile phone dan peralatan audiovisual. Aku sempat menyiapkan paspor untuk berangkat ke Jepang, tapi kemudian keberangkatanku itu batal karena profesor pension dini karena kematian ibunya. Bahasa Jepang yang kupelajari pun pelan-pelan menghilang dari ingatan kecuali ucapan “arigato gozaimasu” yang artinya terima kasih.

Senin, 02 Mei 2011

Samarinda



Mesjid di Tepi Sungai Mahakam










PENGALAMAN menyebrang ke Pulau Kalimantan terjadi tahun 1986. Ketika itu GMNI mengadakan kongres di Samarinda. Aku diajak oleh Yayat Sumitra yang menjadi ketua GMNI Kota Bandung untuk ikut ke kongres sebagai peninjau.

Seingatku kami dari Bandung menginap terlebih dahulu di Jakarta. Aku lupa apakah di rumah Sudirman Kadir atau Kristiya Kartika. Keesokan harinya kami berangkat dari Jakarta menuju Balikpapan dengan menggunakan pesawat Bouraq dengan transit terlebih dahulu di bandara Syamsudin Noor Banjarmasin sekitar 15 atau 30 menit. Dengan demikian kota Banjarmasin adalah kota pertama yang kuinjak di Kalimantan. Sebenarnya tidak tepat benar dikatakan sebagai Banjarmasin, karena belakangan aku tahu bahwa bandara berada di kota Banjarbaru, setengah jam perjalanan dari Banjarmasin, ibukota Kalimantan Selatan . Dari bandara Syamsudin Noor kami melanjutkan perjalanan ke Balikpapan. Untuk mencapai Samarinda yang merupakan ibukota Kalimantan Timur, ada dua cara, menggunakan pesawat terbang atau menggunakan bus. Ketika itu kami menggunakan pesawat Twin Otter yang lebih mirip seperti perahu terbang karena ukurannya kecil sehingga di dalam pesawat tidak ada sela-sela di tengah pesawat tempat orang lewat. Pesawatpun tidak bisa terlalu tinggi naik ke udara, sehingga nampak seperti di atas ketinggian pohon kelapa. Perbedaan tekanan udara sekecil apapun terasa oleh penumpang, turbulensi menyebabkanku seperti naik komidi putar ombak banyu. Menjelang tengah hari kami sampai di Samarinda. Suasananya lebih mirip di terminal bus ketimbang bandara. Di sinilah aku benar-benar merasakan adanya ketimpangan pembangunan antara Jawa dan luar Jawa.

Sungai adalah jantung kota Samarinda. Kehidupan berputar di sungai Mahakam. Ketika itu belum ada jembatan yang menghubungan bagian kota yang satu dengan bagian yang lain sehingga perahu bermotor merupakan sarana satu-satunya bagi penduduk kota untuk bergerak dari satu tepian ke tepian lainnya. Aku senang berada di tepian sungai yang begitu besar dan deras arusnya itu, menyaksikan hiruk pikuk kehidupan di sungai. Kapal-kapal besar menarik tongkang berisi kayu gelondongan atau batubara. Di sebrang sana orang-orang Bugis menenun sarung yang dikenal dengan sebutan sarung Samarinda.
Samarinda memiliki budaya yang sangat kaya, karena terbentuk dari perpaduan budaya pelbagai suku seperti Daya, Melayu, Bugis, Jawa, Cina dan suku-suku lain. Daya pun memiliki pelbagai sub budaya yang masing-masing memiliki kekhasan. Sayangnya suku Daya memang mengalami masalah dengan kebudayaan mereka karena habitat tempat mereka hidup terganggu oleh eksploitasi dari para pengusaha yang tidak memiliki wawasan luas mengenai kehidupan.

Kongres GMNI dibuka di Lamin Etam, yaitu kantor Gubernur Kaltim. Lamin Etam adalah bahasa Daya yang berarti Rumah Kita. Setelah pembukaan kami kembali ke sebuah Rumah Panti Asuhan tempat Kongres diselenggarakan. Panti Asuhan itu juga sekaligus tempat kami menginap selama kami di Samarinda. Di panti asuhan yang hampir 90% bangunannya terbuat dari kayu itu kami berkumpul dengan para mahasiswa dari seluruh kampus dari seluruh Indonesia. Kongres berjalan beberapa hari dari pagi hingga tengah malam, yang selain membicarakan masalah organisasi juga membicarakan masalah politik dan ideology. Ideology yang dibahas tentunya adalah ideology Pancasila karena sejak tahun 1985 semua organisasi kemasyarakatan dan organisasi politik di Indonesia diharuskan menggunakan asas tunggal yaitu Pancasila. Pembicara mengenai Pancasila datang dari Depdagri. Kongres berakhir dengan memilih ketua formatur untuk presidium yaitu Kristiya Kartika, tapi nama-nama presidium ditentukan kemudian di Jakarta.

Di sela-sela kongres kami melihat industry di Samarinda. Pabrik-pabrik pengelohan kayu yang memproses kayu menjadi plywood bertebaran di sepanjang sungai. Sebuah kayu berdiamater satu atau dua meter bisa habis dikupas dalam beberapa menit saja. Tidak heran jika kayu di hutan Kalimantan bekurang dengan deret ukur. Pembangunan ketika itu belum menyadari arti penting menjaga ekosistem, sehingga hutan dibabat dengan cepat untuk alasan ekonomi semata-mata. Itulah dosa-dosa Orde Baru di bidang lingkunga hidup yang tak mungkin bisa dimaafkan.

Kamipun menyempatkan waktu pergi menyusuri sungai Mahakam kearah hulu, ke kerajaan Kutai Kertanegara yang berada di Tenggarong. Istananya berada di tepi sungai Mahakam. Ini bukanlah Kutai Hindu yang berdiri di abad ke-empat, tapi Kutai modern yang Islam. Istananya bergaya Eropa, masih nampak megah hingga saat itu. Di belakang keraton terdapat pemakaman raja-raja Kutai lengkap dengan silsilahnya. Koleksi istana masih cukup lengkap sehingga dijadikan museum. Belakangan raja Kutai dinobatkan kembali sebagai upaya memelihara warisan sejarah dan budaya Kutai.

Peristiwa yang tak dapat kulupakan adalah adanya kebakaran besar di Samarinda ketika itu. Kebakaran terjadi di malam hari dan melumatkan rumah-rumah kayu dengan lahapnya. Sebagai daerah produsen kayu hutan maka rumah-rumah di Samarinda pada umumnya memang terbuat dari kayu kualitas terbaik. Kayu-kayu itu dipancangkan di tepi-tepi sungai karena penduduk di sana hidup di pinggiran sungai. Kayu besi namanya, semakin lama berada di air sungai semakin kuat saja. Tapi api adalah lawan yang tangguh. Kebakaranpun membumihanguskan bangunan-bangunan indah kota Samarinda.

Ketika itu ada karya arsitektur di kota Samarinda yang memperoleh Agha Khan Award yaitu Citra Niaga yang merupakan pasar modern di Samarinda. Arsiteknya orang Indonesia. Sayang Citra Niaga pun mengalami kebakaran. Itu menunjukkan bahwa kota Samarinda, seperti halnya kota-kota lain di Indonesia belum memperhatikan unsur keselamatan. Sarana pemadam kebakaran sangat terbatas. Hidran di tepi jalan kadangkala tidak berfungsi.

Kini Samarinda telah memiliki dua buah jembatan di atas sungai Mahakam. Selain itu juga memiliki kompleks gelanggang olah raga yang luas dan megah dengan stadion utama yang cukup modern. GOR tersebut terletak di luar kota, dibangun di antara bukit-bukit batubara muda. Ketika GOR dibangun aku sempat kesana, ketika itu Samarinda menyiapkan diri untuk melaksanakan PON.

Aku sempat bertanya mengenai arti Samarinda. Seorang pemandu mengatakan Samarinda berasal dari kata samar dan indah. Ya memang keindahan kota nampak samar-samar indah jika kita lihat dari sebrang sungai Mahakam. namun ada pula yang mengatakan samarinda adalah berkaitan dengan rumah kediaman orang Bugis yang sama rendah, seperti termuat pada tulisan di wikipedia the free encyclopedia berikut ini :

Samarinda
From Wikipedia, the free encyclopedia

Samarinda is the capital of the Indonesian province of East Kalimantan (Kalimantan Timur) on the island of Borneo. The city lies on the banks of the Mahakam River. As well as being the capital, Samarinda is also the most populous city in East Kalimantan with a population of 726.223. Although it has status as the capital of East Kalimantan Province, some government institutions are located in Balikpapan, such as Police, Indonesian Army District VI of Tanjung Pura, and Pelabuhan Indonesia (Port Transportation). Samarinda is known for its traditional food amplang, as well as the cloth sarung samarinda. The city also has a bridge connecting its river banks, Mahakam Bridge. The city center is on one side and the other side is named Samarinda Seberang.

The name Samarinda originates from the description of the way in which the Bugis houses were constructed. At that time houses were customarily built on a raft and generally had the same height. This provided important social symbolism of equality between residents; no person's house, and thus no person, was seen as higher or lower than another. They named the settlement 'Samarenda', meaning 'equal in height'. After hundreds of years of use the pronunciation of the name changed slightly and the city became known as Samarinda.

History
When the Gowa War began, the Dutch under Admiral Speelman's command attacked Makassar from the sea. Meanwhile, the Netherlands' local ally Arung Palaka led a ground attack. The Kingdom of Gowa was forced to surrender and Sultan Hassanudin made to sign the Bongaya Treaty on November 19, 1667.

The treaty did not quell all trouble for the Dutch however, since the Bugis from Gowa continued their struggle using guerilla tactics. Some Buginese moved to other islands close by such as Kalimantan. A few thousand people led by Lamohang Daeng Mangkona or Pua Ado I, moved to East Kalimantan, known then as Kutai, where they were welcomed by the local Sultan.

The Sultan of Kutai gave the migrants land in Kampung Melantai around the Karang Mumus River, now known as Kampung Selili, where established farms and fisheries. In payment, the Bugis people promised to help the Sultan defend Kutai whenever needed.
The arrival of the first Bugis on 21 January 1668 was chosen to mark the city's anniversary.

In 1955, the Apostolic Vicariate of Samarinda was established in the city. In 1961, it was promoted as the Diocese of Samarinda. In 2003, the diocese was promoted as the Metropolitan Archdiocese of Samarinda.

The name Samarinda originates from the description of the way in which the Bugis houses were constructed. At that time houses were customarily built on a raft and generally had the same height. This provided important social symbolism of equality between residents; no person's house, and thus no person, was seen as higher or lower than another. They named the settlement 'Samarenda', meaning 'equal in height'. After hundreds of years of use the pronunciation of the name changed slightly and the city became known as Samarinda.

Jumat, 29 April 2011

WONOSOBO



Gunung Sumbing





SEINGATKU sudah tiga kali atau lebih aku ke kota Wonosobo. Kota di dataran tinggi yang berada di antara Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro ini merupakan kota yang berudara sejuk bahkan cenderung dingin. Kota yang bersih dengan alun-alun yang luas dan pasar yang ramai.



Gunung Sindoro








Pertama kali aku ke Wonosobo sekitar tahun 1979. Aku ke sana bersama Ribut teman sekelasku di SMEA PPS. Kami hiking dari Ngrambe (Ngawi) melalui Solo, Yogya dan Magelang, menginap di sebuah mesjid tua di Yogya lalu berjalan ke Sleman dan berziarah di makam dr Wahidin Sudirohusodo. Dari Sleman kami ke Magelang melalui kota kecil Muntilan yang ramai dan ramah. Magelang di pagi hari merupakan tempat yang nyaman untuk berjalan kaki. Gedung-gedung tua dengan pepohonan yang rindang sungguh pemandangan yang mengasyikkan untuk dinikmati. Dari Magelang kami melalui Secang, Parakan dan Temanggung yang berada di lereng pegunungan. Pohon tembakau seluas mata memandang. Kota begitu indah bersih sejuk dan nyaman. Gunung Sumbing dan Sindoro nampak biru dan megah. Subhanallah. Menjelang sore kami sampai di Wonosobo dan berkunjung ke rumah pakpuh Ariesman di daerah Sapen.Udara gunung menyergap kami. Air dari pegunungan yang begitu dingin mengalir deras dan menyegarkan. Mandi menjadi pengalaman yang tak terlupakan. Inilah pertama kali kami merasakan mandi di Wonosobo. Begitu dinginnya ketika itu sehingga orang menjual minyak klentik (minyak yang dibuat dari santan kelapa) dengan cara memotong-motongnya karena minyak yang cair telah menjadi bekuan.

Keesokan harinya kami pergi ke dataran tinggi Dieng yang merupakan sebuah plateau. Dieng plateau merupakan perbatasan dari tiga kabupaten selain Wonosobo. Perjalanan menuju Dieng menanjak dengan kebun sayur di kiri kanan jalan. Para petani bekerja dengan masih menutupi bagian tubuhnya dengan sarung. Menjelang tengah hari kami pun sampai. Dataran tinggi Dieng seperti sebuah kerajaan tua di pegunungan. Candi-candi berserakan di antara padang rumput, kawah gunung berapai yang mengepulkan asap serta telaga warna. Warna air telaga ada yang merah, biru, hijau, putih susu dan coklat. Kami terperangkap dalam ketakjuban. Allah menciptakan alam demikian indah dan nenek moyang kami menghargainya dengan membuat cand-candi yang megah tempat mereka bersembahnyang memuja Nya.

Sekitar tahun 1993 aku berkunjung lagi ke Wonosobo. Kali ini dengan keluargaku (anak ketiga kami belum lahir) dan keluarga mas Tarno. Kami menggunakan mobil pinjaman dari kantor karena mendadak ada berita pakpuh Ariesman sakit. Bersama kami ikut pula mang Eman adik pakpuh Ariesman. Kami tiba di Wonosobo tengah malam dan langsung tidur. Itu adalah pertemuanku yang terakhir dengan pakpuh Ariesman, karena tidak lama kemudian pakpuh meninggal dunia.

Pakpuh Aries, demikian kami memanggilnya adalah orang Cipatik Soreang yang pada masa revolusi melakukan long march ke Yogya karena Jawa Barat harus dikosongkan dari tentara Siliwangi. Singkat cerita pakpuh sampai ke Ngawi dan bertemu dengan bupuh kemudian menikah dan pindah ke Wonosobo untuk berbisnis pencelupan. Ketika industry tekstil berkembang, pencelupan tidak diperlukan lagi maka usaha pakpuh pun gulung tikar. Di akhir hayatnya dia mengandalkan penghasilan dari uang pension sebagai Veteran Kemerdekaan RI. Aku cukup dekat dengannya dan dia pernah menyarankan aku menjadi seorang polisi, tapi ayahku tidak mendukung. Ayahku ingin aku menjadi seorang dosen atau mentri. Kini aku telah menjadi seorang dosen tapi belum menjadi seorang mentri karena belum ada seorang pun presiden yang menelponku ketika mereka menyusun cabinet.

Sekali lagi aku ke Wonosobo di sekitar tahun 1998. Ketika itu aku diajak pak Mul tetanggaku mengunjungi rumahnya di Banjarnegara. Ia menunjukkan kolam-kolam budi daya ikan air tawar yang dikelola keluarganya dan mengajakku berbisnis perikanan. Ketika itu aku mengajak pak Mul mengunjungi keluarga bupuh Ariesman di Wonosobo. Kamipun berkunjung ke keluarga mbak Ninik (anak bupuh) yang bersama suaminya (Wasis) membuat toko di depan terminal bus Sapen. Mas Wasis orang yang pandai berbisnis. Ada saja usahanya mulai dari berkebun kelapa sawit, jual beli kayu, membuat toko, mengontrakkan rumah dll. di samping bekerja sebagai pelaut internasional. Terminal Sapen kemudian ditutup karena pemda membuat terminal di tempat lain. Toko dan rumah mas Wasis pun dijual, mereka sekeluarga kemudian tinggal di Yogya. Sekarang di Wonosobo tinggal ada mas Har (anak tertua bupuh).

Pada kunjunganku ke Wonosobo itu aku menyempatkan diri menjumpai pakpuh Sukar (no). pakpuh Sukar adalah kakak bupuh Ariesman yang selama ini kutahu berprofesi sebagai supir bus antar kota. Belakangan ia tidak begitu kuat lagi sehingga beralih menjadi supir pribadi seseorang. Ia menikah di usia tua dan tidak memiliki anak kandung sampai sekarang. Belakangan ia tinggal di sebuah desa di Salam yang masuk wilayah Magelang.

Inilah selayang pandang tentang Wonosobo dan Dieng

Kabupaten Wonosobo
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas



Lambang Kabupaten Wonosobo




Kabupaten Wonosobo, adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Tengah. Ibukotanya adalah Wonosobo. Kabupaten ini berbatasan dengan Kabupaten Temanggung dan Kabupaten Magelang di timur, Kabupaten Purworejo di selatan, Kabupaten Kebumen dan Kabupaten Banjarnegara di barat, serta Kabupaten Batang dan Kabupaten Kendal di utara.
Kabupaten Wonosobo berdiri 24 Juli 1825 sebagai kabupaten di bawah Kesultanan Yogyakarta seusai pertempuran dalam Perang Diponegoro. Kyai Moh. Ngampah, yang membantu Diponegoro, diangkat sebagai bupati pertama dengan gelar Kanjeng Raden Tumenggung (K.R.T.) Setjonegoro.

Geografi

Sebagian besar wilayah Kabupaten Wonosobo adalah daerah pegunungan. Bagian timur (perbatasan dengan Kabupaten Temanggung) terdapat dua gunung berapi: Gunung Sindoro (3.136 meter) dan Gunung Sumbing (3.371 meter). Daerah utara merupakan bagian dari Dataran Tinggi Dieng, dengan puncaknya Gunung Prahu (2.565 meter). Di sebelah selatan, terdapat Waduk Wadaslintang.



Peta Wonosobo






Ibukota Kabupaten Wonosobo berada di tengah-tengah wilayah Kabupaten, yang merupakan daerah hulu Kali Serayu. Wonosobo dilintasi jalan provinsi yang menghubungkan Semarang-

Pembagian administratif
Kabupaten Wonosobo terdiri atas 15 kecamatan, yang dibagi lagi atas sejumlah desa dan kelurahan. Pusat pemerintahan berada di Kecamatan Wonosobo.

Etimologi

Kata Wonosobo berasal dari bahasa Jawa: Wanasaba, yang secara harafiah berarti: "tempat berkumpul di hutan". Bahasa Jawa sendiri mengambilnya dari Bahasa Sansekerta: vanasabhā yang artinya kurang lebih sama. Kedua kata ini juga dikenal sebagai dua buku dari Mahabharata: "Sabhaparwa" dan "Wanaparwa".
Kawasan Wisata Dieng: terletak di kecamatan kejajar.Berjarak 26 km dari kota Wonosobo,Dieng adalah pegunungan yang sangat menarik dan menawan.banyak turis-turis yg singgah disana.suhu udaranya amat dingin mencapai 18 'C pada siang hari dan 13 'C Pada malam hari.

Dieng

Dieng adalah dataran tinggi di Jawa Tengah, yang masuk wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Letaknya berada di sebelah barat kompleks Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Dieng adalah wilayah vulkanik aktif dan dapat dikatakan merupakan gunung api raksasa. Kawah-kawah kepundan banyak dijumpai di sana. Ketinggian rata-rata adalah sekitar 2.000m di atas permukaan laut. Suhu di Dieng sejuk mendekati dingin, berkisar 15—20 °C di siang hari dan 10 °C di malam hari. Pada musim kemarau (Juli dan Agustus), suhu udara kadang-kadang dapat mencapai 0 °C di pagi hari dan memunculkan embun beku yang oleh penduduk setempat disebut bun upas ("embun racun") karena menyebabkan kerusakan pada tanaman pertanian.

Secara administrasi, Dieng mencakup Desa Dieng Kulon, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara dan Dieng Wetan, Kecamatan Kejajar, Kabupaten Wonosobo. Hingga tahun 1990-an wilayah ini tidak terjangkau listrik dan merupakan salah satu wilayah paling terpencil di Jawa Tengah.



Candi Arjuna, Dieng






Nama Dieng berasal dari gabungan dua kata Bahasa Kawi: "di" yang berarti "tempat" atau "gunung" dan "Hyang" yang bermakna (Dewa). Dengan demikian, Dieng berarti daerah pegunungan tempat para dewa dan dewi bersemayam. Nama Dieng berasal dari bahasa Sunda karena diperkirakan pada masa pra-Medang sekitar tahun 600 Masehi daerah itu berada dalam
Dataran tinggi Dieng (DTD) adalah dataran dengan aktivitas vulkanik di bawah permukaannya, seperti Yellowstone ataupun Dataran Tinggi Tengger. Sesungguhnya ia adalah kaldera dengan gunung-gunung di sekitarnya sebagai tepinya. Terdapat banyak kawah sebagai tempat keluarnya gas, uap air dan berbagai material vulkanik lainnya. Keadaan ini sangat berbahaya bagi penduduk yang menghuni wilayah itu, terbukti dengan adanya bencana letusan gas Kawah Sinila 1979. Tidak hanya gas beracun, tetapi juga dapat dimungkinkan terjadi gempa bumi, letusan lumpur, tanah longsor dan banjir.
Selain kawah, terdapat pula danau-danau vulkanik yang berisi air bercampur belerang sehingga memiliki warna khas kuning kehijauan.

Secara biologi, aktivitas vulkanik di Dieng menarik karena ditemukan di air-air panas di dekat kawah beberapa spesies bakteri termofilik ("suka panas") yang dapat dipakai untuk menyingkap kehidupan awal di bumi.

Tokoh-tokoh
• Letjend. S. Parman adalah salah satu dari pahlawan revolusi.

Organisasi Pecinta Alam
Banyak sekali Organisasi Pecinta Alam di Wonosobo, salah satunya ENW (Expediton Natural Wonosobo) yang berdiri pada tahun 2001, ENW sering melakukan kegiatan aksi sosial di bidang pelestarian lingkungan alam seperti kegiatan Penghijauan dll. Pada mulanya berdirinya ENW dilatar belakangi atas keprihatinan keadaan alam di Wonosobo yang mulai memburuk.

Kamis, 28 April 2011

Selamat Tinggal Soreang

LIMA tahun sudah aku menjalankan amanat sebagai wakil rakyat di DPRD Kabupaten Bandung. Pemilu 1997 telah menghasilkan komposisi anggota DPRD yang baru. Golkar menguasai mayoritas kursi di DPRD, kursi terbanyak yang mereka peroleh sejak Orde Baru. PPP memperoleh tambahan kursi lebih dari 100% akibat PDI yang dikerdilkan pemerintah. PDI di bawah kepemimpinan Megawati tidak diakui pemerintah, suara mereka banyak tidak digunakan, kalau pun ada yang memberikan suara ke TPS mereka tidak memilih PDI, mereka memberikan suaranya ke PPP. PDI yang dipimpin Soerjadi hanya menempatkan seorang wakilnya di DPRD II Kabupaten Bandung, Syuting Pranajaya, ketua DPC PDI Soerjadi. Tiba saatnya para anggota DPRD yang baru terpilih itu untuk dilantik, dan menggantikan posisi kami yang segera meninggalkan DPRD.

Pelantikan anggota DPRD II Kabupaten Bandung yang baru dan pemberhentian anggota DPRD II yang lama berlangsung di Gedung Mohammad Toha, di pusat pemerintahan Kabupaten Tingkat II Bandung di Soreang. Aku datang bersama istriku. Sebagai kenang-kenangan akupun berfoto di depan gedung dengan latar belakang para anggota ormas pemuda berseragam paramiliter loreng. Fotografernya tentu saja para juru foto yang biasa mangkal di setiap ada upacara kenegaraan di pusat pemerintahan. Keberadaan mereka sungguh membantuku untuk mendokumentasikan pelbagai peristiwa penting dalam kehidupanku di pemerintahan.

Pertemuan bersama teman-teman sesama anggota DPRD yang akan melepaskan jabatan sungguh mengharukan. Meskipun kami berbeda partai dan sering berbeda pendapat tapi waktu lima tahun cukuplah untuk membuat kami saling kenal satu sama lain hingga sudah seperti saudara saja layaknya.kami yang duduk di deretan kursi depan dari kiri ke kanan adalah Aa Surachman Ketua Fraksi Golkar, aku Ketua Fraksi PDI, Asep Suhaya Muchtar Ketua Fraksi PPP, Irom Nuroli Ketua Fraksi ABRI, Suprapto Ketua Komisi A, Kuswara ketua Komisi B, Oon Sudarna Ketua Komisi C, Sjamsoedin Ketua Komisi D dan Ahmad Saodih Masriatmadja Ketua Komisi E, sementara Holil Sukardi, Machmud Djamil, Mastur dan Amin Suparmin duduk di depan kami memimpin sidang paripurna karena mereka adalah para ketua dan wakil ketua Dewan yang selama lima tahun memimpin DPRD. Sebelum sidang di mulai kami sempat bercanda dan berfoto bersama.

Bupati Bandung, Uha Hatta Djatipermana menyampaikan pidato perpisahan dan Residen Priangan Timur yang berkedudukan di Garut mewakili Gubernur melantik anggota DPRD yang baru. Para anggota yang baru menempati kursi kami dan kamipun mundur ke belakang ke tempat undangan. Beberapa teman kami ada yang melanjutkan jabatannya menjadi anggota DPRD, sementara dari PDI tak satupun yang melanjutkan jabatannya.
Kami yang tidak melanjutkan masa jabatan diberhentikan dengan resmi dengan sebuah SK Gubernur. Pada kami diberi sebuah cincin kenang-kenangan berlogo DPRD Kabupaten Bandung, serta uang Rp 10 juta tunai serta uang Rp 100 ribu tiap bulannya selama lima tahun yang bisa diambil di Bank Jabar dari Yanarti (Yayasan Purna Bhakti) yang berasal dari potongan honor kami setiap bulannya. Dengan uang itu aku bisa melunasi cicilan rumahku di Perumnas. Sedangkan cincinnya kujual di sebuah toko emas di pasar Dangdeur karena aku tidak mengenakan cincin.

Soreang Selayang Pandang

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Soreang adalah ibukota dari Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Di Soreang terletak pusat pemerintahan Kabupaten Bandung, setelah pemindahan dari Kota Bandung dan Baleendah.

Soreang merupakan salah satu titik sentral transportasi di Bandung Selatan. Terletak 18 km di sebelah selatan Kota Bandung, daerah ini merupakan penghubung antara Kota Bandung dan Ciwidey. Meski jarak dari Kota Bandung cukup dekat, anda yang berkendara dengan menggunakan mobil butuh waktu lebih dari satu jam untuk mencapai Soreang. Hal ini dikarenakan kemacetan yang parah di sepanjang ruas jalan menuju Soreang, terutama di daerah Kopo Sayati dan Kawasan industri di Katapang. Kemacetan inilah yang menyebabkan Soreang kurang berkembang sebagai Kota Kabupaten. Pada zaman penjajahan Belanda, dibangun rel kereta api yang melintasi kota ini untuk mengangkut hasil perkebunan teh dari Ciwidey. Jalur rel ini tersambung dengan jalur rel kereta api di Kota Bandung. Namun, sekarang jalur ini sudah tidak dipakai lagi. Soreang juga merupakan sentra konveksi terbesar di Kabupaten Bandung.

Di Soreang terdapat Stadion Si Jalak Harupat yang merupakan salah satu stadion terbesar di Indonesia dan bertaraf internasional. Stadion ini merupakan homebase dari Persikab Bandung, yang berlaga di Divisi Utama Liga Indonesia, dan tim sekotanya Persib Bandung yang bermain di Liga Super Indonesia.

Pusat kegiatan penduduk di Soreang lebih terpusat di Kota Soreang dan sekitarnya. Pada akhir pekan, biasanya terdapat pasar tumpah di kawasan Jalan Terusan Al-Fathu di sebelah selatan kompleks Pemkab Bandung yang selalu dipadati warga kota. Setiap tahun, di Soreang juga sering diadakan pameran kesenian dan kreativitas yang diselenggarakan oleh Pemkab Bandung dalam rangka memperingati hari jadi Kabupaten Bandung. Biasanya pameran ini bertempat di Lapangan Terminal Cingcin di Jalan Gading Tutuka.

Seiring dengan perkembangan zaman, Soreang mulai berbenah diri. Meski perkembangannya dirasa sangat lambat dibanding kota-kota kabupaten lain di Jawa Barat, perlahan-lahan Soreang mulai berubah. Pembuatan ruas-ruas jalan baru, penataan PKL, pembangunan rumah sakit yang representatif, sarana olahraga yang memadai, dan fasilitas-fasilitas umum terus dibangun untuk meningkatkan kualitas pelayanan terhadap masyarakat Soreang dan sekitarnya. Dengan segera dibangunnya Jalan Tol Soreang-Pasirkoja (Soroja) yang menghubungkan Kota Bandung langsung ke Soreang, diharapkan kawasan Soreang dan sekitarnya dapat berkembang lebih cepat dan pembangunan kota dapat berjalan lebih baik.

Candi Prambanan

Candi Prambanan (Warisan UNESCO)
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas













Candi Rara Jonggrang atau Lara Jonggrang yang terletak di Prambanan adalah kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia. Candi ini terletak di pulau Jawa, kurang lebih 20 km timur Yogyakarta, 40 km barat Surakarta dan 120 km selatan Semarang, persis di perbatasan antara provinsi Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Yogyakarta. Candi Rara Jonggrang terletak di desa Prambanan yang wilayahnya dibagi antara kabupaten Sleman dan Klaten.
Candi ini dibangun pada sekitar tahun 850 Masehi oleh salah seorang dari kedua orang ini, yakni: Rakai Pikatan, raja kedua wangsa Mataram I atau Balitung Maha Sambu, semasa wangsa Sanjaya. Tidak lama setelah dibangun, candi ini ditinggalkan dan mulai rusak.

Pada tahun 1733, candi ini ditemukan oleh CA. Lons seorang berkebangsaan Belanda, kemudian pada tahun 1855 Jan Willem IJzerman mulai membersihkan dan memindahkan beberapa batu dan tanah dari bilik candi. beberapa saat kemudian Isaäc Groneman melakukan pembongkaran besar-besaran dan batu-batu candi tersebut ditumpuk secara sembarangan di sepanjang Sungai Opak. Pada tahun 1902-1903, Theodoor van Erp memelihara bagian yang rawan runtuh. Pada tahun 1918-1926, dilanjutkan oleh Jawatan Purbakala (Oudheidkundige Dienst) di bawah P.J. Perquin dengan cara yang lebih metodis dan sistematis, sebagaimana diketahui para pendahulunya melakukan pemindahan dan pembongkaran beribu-ribu batu tanpa memikirkan adanya usaha pemugaran kembali.Pada tahun 1926 dilanjutkan De Haan hingga akhir hayatnya pada tahun 1930. Pada tahun 1931 digantikan oleh Ir. V.R. van Romondt hingga pada tahun 1942 dan kemudian diserahkan kepemimpinan renovasi itu kepada putra Indonesia dan itu berlanjut hingga tahun 1993 [1].

Candi Prambanan adalah candi Hindu terbesar di Asia Tenggara, tinggi bangunan utama adalah 47m.
Kompleks candi ini terdiri dari 8 kuil atau candi utama dan lebih daripada 250 candi kecil.
Tiga candi utama disebut Trisakti dan dipersembahkan kepada sang hyang Trimurti: Batara Siwa sang Penghancur, Batara Wisnu sang Pemelihara dan Batara Brahma sang Pencipta.
Candi Siwa di tengah-tengah, memuat empat ruangan, satu ruangan di setiap arah mata angin. Sementara yang pertama memuat sebuah arca Batara Siwa setinggi tiga meter, tiga lainnya mengandung arca-arca yang ukuran lebih kecil, yaitu arca Durga, sakti atau istri Batara Siwa, Agastya, gurunya, dan Ganesa, putranya.
Arca Durga juga disebut sebagai Rara atau Lara/Loro Jongrang (dara langsing) oleh penduduk setempat. Untuk lengkapnya bisa melihat di artikel Loro Jonggrang.
Dua candi lainnya dipersembahkan kepada Batara Wisnu, yang menghadap ke arah utara dan satunya dipersembahkan kepada Batara Brahma, yang menghadap ke arah selatan. Selain itu ada beberapa candi kecil lainnya yang dipersembahkan kepada sang lembu Nandini, wahana Batara Siwa, sang Angsa, wahana Batara Brahma, dan sang Garuda, wahana Batara Wisnu.
Lalu relief di sekeliling dua puluh tepi candi menggambarkan wiracarita Ramayana. Versi yang digambarkan di sini berbeda dengan Kakawin Ramayana Jawa Kuna, tetapi mirip dengan cerita Ramayana yang diturunkan melalui tradisi lisan. Selain itu kompleks candi ini dikelilingi oleh lebih dari 250 candi yang ukurannya berbeda-beda dan disebut perwara. Di dalam kompleks candi Prambanan terdapat juga museum yang menyimpan benda sejarah, termasuk batu Lingga batara Siwa, sebagai lambang kesuburun.

Banyak bagian candi yang direnovasi, menggunakan batu baru, karena batu-batu asli banyak yang dicuri atau dipakai ulang di tempat lain. Sebuah candi hanya akan direnovasi apabila minimal 75% batu asli masih ada. Oleh karena itu, banyak candi-candi kecil yang tak dibangun ulang dan hanya tampak fondasinya saja.
Sekarang, candi ini adalah sebuah situs yang dilindungi oleh UNESCO mulai tahun 1991. Antara lain hal ini berarti bahwa kompleks ini terlindung dan memiliki status istimewa, misalkan juga dalam situasi peperangan.


Pada 27 Mei 2006 gempa bumi dengan kekuatan 5,9 pada skala Richter (sementara United States Geological Survey melaporkan kekuatan gempa 6,2 pada skala Richter) menghantam daerah Bantul dan sekitarnya. Gempa ini menyebabkan kerusakan hebat terhadap banyak bangunan dan kematian pada penduduk di sana. Salah satu bangunan yang rusak parah adalah kompleks Candi Prambanan, khususnya Candi Brahma