Minggu, 16 Oktober 2011

Kendaraan Roda Empat

















Bapak dan Ibu Mertua

Menjadi mahasiswa S2 membuatku merasa muda kembali kendati Usiaku ketika itu –di tahun 2000 tidaklah muda lagi. Aku berangkat dari rumah pukul 05.15 agar dapat ikut kereta api patas pertama yang berangkat dari stasiun Rancaekek pukul 05.30. berdesak-desakan dalam kereta sepagi itu menyenangkan karena bisa mengusir hawa dingin yang menusuk. Biasanya aku tiba di stasiun Hall pukul 06.00 kemudian melanjutkan perjalanan ke kampus UPI di Jalan Setiabudi dengan kendaraan angkutan kota jurusan Ledeng. Biasanya ketika aku Tiba di kampus, hari masih pagi dan suasana masih lengang. Tujuan pertamaku adalah kantin di kampus Program Pascasarjana yang menyediakan meja dengan bangku panjang di samping kampus di bawah pohon lengkeng. Secangkir kopi dan sepotong dua potong kue menjadi sarapan pagiku. Satu dua orang mahasiswa yang sama-sama sarapan pagi di situ menjadi teman berbincang.

Ketika aku mulai menjalankan tugas sebagai anggota DPRD Provinsi Jawa Barat—pengganti antar waktu (PAW)—maka kebiasaan naik kereta api masih tetap kujalani, apalagi gedung DPRD lebih dekat dari stasiun Hall dibanding kampus UPI. Masalah muncul karena kegiatan sebagai anggota Dewan begitu padatnya sehingga pelan-pelan kuliahku terbengkelai. Masalah lainnya adalah bahwa jadwal kerja Dewan tidak beraturan waktunya. Kadang aku harus sudah berada di Dewan pada pukul 05.00 pagi dan pulang larut malam, sedangkan kereta terakhir adalah pukul 20.00. Taksi menjadi pilihanku, sayangnya ongkos taksi dari Gedung Sate ke rumah bisa mencapai Rp 100.000,00 (seratus ribu rupiah). Mas Tikto (Sunitiyoso Pratikto) yang menjadi Direktur PDAM Kota Bandung berinisiatif meminjamiku mobil untuk menjemput dan mengantarku pulang. Hal itu dilakukannya karena tidak tega melihatku naik kereta api setiap hari.

Rupanya kebiasaanku naik kereta api diketahui Tatang teman sekomisi dari fraksi PG. Dia adalah PNS di Polda Jabar yang bertugas di bagian humas sehingga dekat dengan wartawan. Entah bagaimana mulanya, beberapa hari kemudian di harian Pikiran Rakyat ada berita mengenai anggota Dewan yang menggunakan kereta api pergi pulang dari rumah ke gedung Dewan. Tentulah aku yang dimaksudkannya, karena setahuku semua anggota Dewan selainku menggunakan mobil pribadi ke tempat tugas. aku merasa tidak nyaman dan mulai berpikir untuk membeli kendaraan roda empat.

Ada beberapa Pertimbanganku mengapa harus membeli kendaraan. Pertama adalah jadwal kerja yang tidak teratur dan di luar jadwal kereta api. Kedua ongkos taksi begitu mahalnya sehingga jika dikumpulkan dalam sebulan bisa untuk menyicil kendaraan. Ketiga aku tidak mau merepotkan mas Tikto. Dan keempat aku tidak ingin menjadi bahan berita di koran.

Aku mulai mencari-cari informasi mengenai kendaraan yang paling sederhana dan paling murah yang bisa kuperoleh disesuaikan dengan honor yang kuterima sebagai anggota Dewan. Setelah bertanya ke sana ke mari dan berdiskusi dengan teman-teman – antara lain dengan Bastian— tahun 2002 aku memutuskan membeli sebuah mobil jenis minibus merk D jenis T standar dengan cara leasing dan diangsur selama tiga tahun. Uang mukanya Rp 50 juta. Separuhnya kuperoleh dari bantuan Dewan dan separuhnya lagi uang tabungan. Angsuran perbulannya sekitar Rp 2,5 juta.

Mobil baruku belum diberi perlindungan dari karat dan belum ber-AC. Untuk perlindungan dari karat aku harus membawanya ke bengkel dengan biaya sendiri. AC kubeli beberapa bulan kemudian karena harganya lumayan mahal menurutku, Sekitar Rp 7 juta. Kini mobil itu telah berumur sembilan tahun namun masih setia menemaniku dan keluarga.

Selasa, 11 Oktober 2011

Kembali ke Tanah Air







Jeddah Seafront





Alhamdulillah seluruh rangkaian ibadah haji di tanah suci Mekah telah terlaksana dengan baik. Maka kami para jamaah Kelompok Terbang (Kloter) I dari Kabupaten Bandung pun meninggalkan kota Mekah menuju Jedah, sebuah kota di tepi laut merah. Di Jedah kami tinggal di asrama haji Indonesia selama beberapa hari menunggu jadwal penerbangan menuju kembali ke tanah air.

Untuk mengisi waktu selama berada di Jedah kami mengadakan city tour ke beberapa tempat. Berbeda dengan Mekah yang merupakan tanah suci dengan suasana religious yang kental, Jedah adalah sebuah kota besar layaknya kota besar lain di dunia dengan symbol-simbol kehidupan industrial yang kapitalistik, tidak berbeda dengan kota modern kosmopolitan seperti Jakarta, Singapura, atau Bangkok misalnya. Orang-orang bernampilan modis, pergi ke tempat-tempat keramaian bernuansa kebarat-baratan untuk berbelanja atau ke restoran-restoran yang menjual makanan cepat saji maupun junk food. Jedah menyediakan segala yang dibutuhkan manusia modern. Kotanya indah, bersih dan rapi. Mobil-mobil mewah lalu lalang di jalan raya. tidak terasa bahwa kami baru saja menyelesaikan ibadah haji.

Kami mengunjungi tempat-tempat yang menarik seperti instalasi penyulingan air laut yang dijadikan air tawar untuk konsumsi penduduk kota, istana raja di tengah laut yang bisa dicapai dengan menggunakan jalan di dasar laut, dan tentu saja Laut Merah yang legendaris itu. Laut Merah merupakan tempat wisata yang banyak dikunjungi orang-orang dari pelbagai Negara. Warna merahnya berasal dari warna karang dan pasir di dasar laut. Di tempat ini banyak pedagang dari Indonesia yang menjajakan penganan seperti di Pantai Kuta—minuman ringan dan makanan khas Indonesia seperti pecel. Selain pecel juga ada sate ayam. Jamaah haji yang sudah sebulan lebih berada di Saudi Arabia tentu saja tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Pecel itu pun segera menjadi santapan para jamaah di siang yang terik itu. Dalam soal kuliner kami ini memang benar-benar nasi-onalis.

Sebuah masjid yang indah dibangun kerajaan di pantai Laut Merah. Dari kejauhan Masjid itu Nampak seperti mengapung di laut. Pilar-pilar yang kokoh menyangga masjid, jumlahnya bisa mencapai ratusan. Untuk sampai ke masjid itu tersedia jembatan sepanjang lebih dari seratus meter. Kami melaksanakan shalat di sana dan setelahnya berkeliling masjid mengagumi keindahannya.

Tentu saja aku dan istriku tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berjalan-jalan sepanjang pantai sambil sesekali menceburkan diri ke dalam air laut yang menyegarkan sambil membayangkan kisah Nabi Musa memimpin bangsa Israel keluar dari Mesir ke tanah yang dijanjikan agar terbebas dari penindasan Firaun. Allah menolong mereka dengan membelah Laut Merah sehingga bangsa Israel dapat menyebrang dengan selamat. Ketika Firaun dan bala tentaranya mengejar mereka, laut itupun menutup kembali. Firaun pun mati. Jasadnya dapat dilihat di museum nasional Mesir dalam bentuk mummy.
Setelah puas berwisata di Laut Merah kami pun pulang ke asrama haji Indonesia yang berupa bangunan apartemen beberapa lantai yang nampaknya sudah berusia puluhan tahun. Tidak ada lift di sana sehingga kami harus naik turun tangga.

suatu malam Dari asrama haji kami menuju bandara King Abdul Aziz . Kami harus menunggu berjam-jam di sana menunggu pesawat. Kesempatan itu kami gunakan untuk berjalan-jalan di lorong-lorong bandara yang luas dan berarsitektur indah. Bandara dibuat seperti kumpulan tenda di tengah oasis yang dikelilingi pohon-pohon kurma dan rerumputan hijau. Tenda-tenda tersebut berwarna putih disangga oleh tiang besi dan satu sama lain dihubungkan dengan tali temali dari metal. Nampak bahwa komplek bandara itu dirancang oleh arsitek yang berbakat dan bercitarasa tinggi.

Sekitar pukul 00.00 waktu Jeddah kami boarding ke pesawat Saudi Arabian Airlines. Beberapa kemudian pesawat lepas landas meninggalkan jazirah Arabia menuju Jakarta. Selamat tinggal Jeddah. Ketika pesawat mulai naik ke ketinggian, aku tertegun, setengah tidak percaya bahwa aku baru saja usai menunaikan rukun Islam yang kelima. Alhamdulillah.

Selasa, 04 Oktober 2011

IBADAH HAJI











Haji

Haji (Bahasa Arab: حج‎; transliterasi: Hajj) adalah rukun (tiang agama) Islam yang kelima setelah syahadat, salat, zakat dan puasa. Menunaikan ibadah haji adalah bentuk ritual tahunan yang dilaksanakan kaum muslim sedunia yang mampu (material, fisik, dan keilmuan) dengan berkunjung dan melaksanakan beberapa kegiatan di beberapa tempat di Arab Saudi pada suatu waktu yang dikenal sebagai musim haji (bulan Zulhijah). Hal ini berbeda dengan ibadah umrah yang bisa dilaksanakan sewaktu-waktu. (Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas)

Kegiatan inti ibadah haji dimulai pada tanggal 8 Zulhijah ketika umat Islam bermalam di Mina, wukuf (berdiam diri) di Padang Arafah pada tanggal 9 Zulhijah, dan berakhir setelah melempar jumrah (melempar batu simbolisasi setan) pada tanggal 10 Zulhijah. Masyarakat Indonesia lazim juga menyebut hari raya Idul Adha sebagai Hari Raya Haji karena bersamaan dengan perayaan ibadah haji ini.

Secara lughawi, haji berarti menyengaja atau menuju dan mengunjungi. [1] Menurut etimologi bahasa Arab, kata haji mempunyai arti qashd, yakni tujuan, maksud, dan menyengaja. Menurut istilah syara', haji ialah menuju ke Baitullah dan tempat-tempat tertentu untuk melaksanakan amalan-amalan ibadah tertentu pula. Yang dimaksud dengan temat-tempat tertentu dalam definisi diatas, selain Ka'bah dan Mas'a(tempat sa'i), juga Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Yang dimaksud dengan waktu tertentu ialah bulan-bulan haji yang dimulai dari Syawal sampai sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Adapun amal ibadah tertentu ialah thawaf, sa'i, wukuf, mazbit di Muzdalifah, melontar jumrah, mabit di Mina, dan lain-lain.

Latar belakang ibadah haji

Orang-orang Arab pada zaman jahiliah telah mengenal ibadah haji ini yang mereka warisi dari nenek moyang terdahulu dengan melakukan perubahan disana-sini. Akan tetapi, bentuk umum pelaksanaannya masih tetap ada, seperti thawaf, sa'i, wukuf, dan melontar jumrah. Hanya saja pelaksanaannya banyak yang tidak sesuai lagi dengan syariat yang sebenarnya. Untuk itu, Islam datang dan memperbaiki segi-segi yang salah dan tetap menjalankan apa-apa yang telah sesuai dengan petunjuk syara' (syariat), sebagaimana yang diatur dalam al-Qur'an dan sunnah rasul. [2] Latar belakang ibadah haji ini juga didasarkan pada ibadah serupa yang dilaksanakan oleh nabi-nabi dalam agama Islam, terutama nabi Ibrahim (nabinya agama Tauhid). Ritual thawaf didasarkan pada ibadah serupa yang dilaksanakan oleh umat-umat sebelum nabi Ibarahim. Ritual sa'i, yakni berlari antara bukit Shafa dan Marwah (daerah agak tinggi di sekitar Ka'bah yang sudah menjadi satu kesatuan Masjid Al Haram, Makkah), juga didasarkan untuk mengenang ritual istri kedua nabi Ibrahim ketika mencari susu untuk anaknya nabi Ismail. Sementara wukuf di Arafah adalah ritual untuk mengenang tempat bertemunya nabi Adam dan Siti Hawa di muka bumi, yaitu asal mula dari kelahiran seluruh umat manusia.

Kegiatan ibadah haji

Tanggal 7 Zulhijah, kami bersama-sama umat Islam dari seluruh dunia mulai berbondong melaksanakan Tawaf Haji di Masjid Al Haram, Makkah. Di kota inilah berdiri pusat ibadah umat Islam sedunia, Ka'bah, yang berada di pusat Masjidil Haram. Dalam ritual haji, Makkah menjadi tempat pembuka dan penutup ibadah ini ketika jamaah diwajibkan melaksanakan niat dan thawaf haji.

Pada pagi 8 Zulhijah, kami bersama semua umat Islam memakai pakaian Ihram (dua lembar kain tanpa jahitan sebagai pakaian haji), kemudian berniat haji, dan membaca bacaan Talbiyah. Jamaah kemudian berangkat menuju Mina, sehingga malam harinya semua jamaah haji harus bermalam di Mina.

9 Zulhijah, pagi harinya semua jamaah haji pergi ke Arafah. Kemudian jamaah melaksanakan ibadah Wukuf, yaitu berdiam diri dan berdoa di padang luas ini hingga Maghrib datang. Kota di sebelah timur Makkah ini juga dikenal sebagai tempat pusatnya haji, yiatu tempat wukuf dilaksanakan, yakni pada tanggal 9 Zulhijah tiap tahunnya. Daerah berbentuk padang luas ini adalah tempat berkumpulnya sekitar dua juta jamaah haji dari seluruh dunia. Di luar musim haji, daerah ini tidak dipakai.Ketika malam datang, jamaah segera menuju dan bermalam Muzdalifah. Tempat di dekat Mina dan Arafah ini, dikenal sebagai tempat jamaah haji melakukan Mabit (Bermalam) dan mengumpulkan bebatuan untuk melaksanakan ibadah jumrah di Mina.

10 Zulhijah, setelah pagi di Muzdalifah, jamaah segera menuju Mina. Tempat berdirinya tugu jumrah, yaitu tempat pelaksanaan kegiatan melontarkan batu ke tugu jumrah sebagai simbolisasi tindakan nabi Ibrahim ketika mengusir setan. Dimasing-maising tempat itu berdiri tugu yang digunakan untuk pelaksanaan: Jumrah Aqabah, Jumrah Ula, dan Jumrah Wustha. Di tempat ini jamaah juga diwajibkan untuk menginap satu malam untuk melaksanakan ibadah Jumrah Aqabah, yaitu melempar batu sebanyak tujuh kali ke tugu pertama sebagai simbolisasi mengusir setan. Setelah mencukur rambut atau sebagian rambut, kami menuju Masjidil Haram di Mekah untuk ikut melaksanakan shalat Iedul Adha bersama para penduduk Mekah dan sekitarnya. Malamnya kami bermalam di Mina dan melaksanakan jumrah sambungan (Ula dan Wustha).

11 Zulhijah, melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.

12 Zulhijah, melempar jumrah sambungan (Ula) di tugu pertama, tugu kedua, dan tugu ketiga.

Perpisahan

Sebelum pulang ke negara masing-masing, kami bersama-sama jamaah lainnya melaksanakan Thawaf Wada' (thawaf perpisahan). Ketika meninggalkan halaman masjid dan memberikan salam perpisahan, air matapun menetes. Kami dengan perasaan haru biru memasuki bus untuk kembali ke pemondokan.

Senin, 03 Oktober 2011

UMRAH

Meninggalkan Madinah

Setelah melaksanakan shalat fardhu berturut-turut selama empat puluh kali yang memakan waktu sekitar delapan hari – biasa dinamakan shalat arbain – meskipun sebagian jamaah tidak melakukannya karena perbedaan pandangan, kamipun besiap meninggalkan Madinah.

Haji Arbain (bahasa Arab: اربعين arba'in, artinya "empat puluh") adalah ibadah haji yang disertai dengan salat fardhu sebanyak 40 kali di Masjid An-Nabawi Madinah tanpa terputus. Ibadah ini seringkali dikerjakan oleh jamaah haji dari Indonesia. Dalam pelaksanaannya, setidak-tidaknya tinggal di Madinah saat haji selama 8 atau 9 hari, dan dengan perhitungan sehari akan salat wajib sebanyak 5 kali dan selama 8 atau 9 hari maka akan tercukupi jumlah 40 kali salat wajib tanpa terputus.

Rasanya berat meninggalkan kota itu, seperti meninggalkan Nabi SAW. Makam nabi memang terletak di dalam masjid Nabawi. Mengapa demikian, karena ketika nabi wafat beliau dimakamkan di kamar di dalam rumah nabi yang dulu bersebelahan dengan masjid. ketika masjid diperluas dari masa ke masa, rumah nabi pun terkurung oleh kompleks masjid. Makam itu menjadi tujuan jamaah setelah melaksanakan shalat. Jamaah hanya bisa memberi salam dan berdoa dari luar pagar bahkan dari kejauhan karena banyaknya askar yang menjaga dan melarang orang-orang mendekat. Entah mengapa, tiba-tiba saja keharuan menyergap setiap aku melewati makam itu, kadangkala disertai tetesan air mata. Nabi seperti masih hidup dan hadir bersama kami para jamaah haji dari seluruh penjuru dunia.

Suatu malam yang telah ditentukan kami berkemas dan bergegas meninggalkan pemondokan dengan berpakaian ihram, dua lembar kain putih seperti handuk yang diikatkan di pinggang dan dililitkan di bahu. Ihram melambangkan pakaian kematian. Pakaian ini memang menjadi ujian tersendiri karena begitu sederhananya, jika ikatan dan lilitan itu terlepas maka kami akan telanjang karena kami tidak diperbolehkan mengenakan pakaian lain termasuk pakaian dalam. Pakaian ini kami kenakan dalam perjalanan menggunakan bus dari Madinah ke Mekah melalui gurun pasir sepanjang 500 km. sepanjang perjalanan kami menyerukan “labaik Allahuma labaik” …ya Allah kami datang. Ya kami datang memenuhi panggilanMu. Sementara di luar bulan dan bintang menerangi kegelapan malam.

Melaksanakan Umrah

Menjelang subuh kami tiba di Miqat Bir Ali, di perbatasan kota Mekah. dari sini kami berniat untuk melakukan umrah. Karena kami melakukan umrah terlebih dahulu maka haji yang kami lakukana dinamakan haji tamattu’. Memang Setiap jamaah bebas untuk memilih jenis ibadah haji yang ingin dilaksanakannya. Rasulullah SAW memberi kebebasan dalam hal itu, sebagaimana terlihat dalam hadis berikut.

Aisyah RA berkata: Kami berangkat beribadah bersama Rasulullah SAW dalam tahun hajjatul wada. Di antara kami ada yang berihram, untuk haji dan umrah dan ada pula yang berihram untuk haji. Orang yang berihram untuk umrah ber-tahallul ketika telah berada di Baitullah. Sedang orang yang berihram untuk haji jika ia mengumpulkan haji dan umrah. Maka ia tidak melakukan tahallul sampai dengan selesai dari nahar.
Berikut adalah jenis dan pengertian haji yang dimaksud.

Haji ifrad, berarti menyendiri. Pelaksanaan ibadah haji disebut ifrad bila sesorang bermaksud menyendirikan, baik menyendirikan haji maupun menyendirikan umrah. Dalam hal ini, yang didahulukan adalah ibadah haji. Artinya, ketika mengenakan pakaian ihram di miqat-nya, orang tersebut berniat melaksanakan ibadah haji dahulu. Apabila ibadah haji sudah selesai, maka orang tersebut mengenakan ihram kembali untuk melaksanakan umrah.

Haji tamattu', mempunyai arti bersenang-senang atau bersantai-santai dengan melakukan umrah terlebih dahulu di bulan-bulah haji, lain bertahallul. Kemudian mengenakan pakaian ihram lagi untuk melaksanakan ibadah haji, ditahun yang sama. Tamattu' dapat juga berarti melaksanakan ibadah di dalam bulan-bulan serta di dalam tahun yang sama, tanpa terlebih dahulu pulang ke negeri asal.

Haji qiran, mengandung arti menggabungkan, menyatukan atau menyekaliguskan. Yang dimaksud disini adalah menyatukan atau menyekaliguskan berihram untuk melaksanakan ibadah haji dan umrah. Haji qiran dilakukan dengan tetap berpakaian ihram sejak miqat makani dan melaksanakan semua rukun dan wajib haji sampai selesai, meskipun mungkin akan memakan waktu lama. Menurut Abu Hanifah, melaksanakan haji qiran, berarti melakukan dua thawaf dan dua sa'i.

Umrah dinamakan juga haji kecil, ibadahnya terdiri dari thawaf dan sa’i. Thawaf yaitu mengelilingi Ka’bah dengan pola berlawanan dengan arah jarum jam sambil berdoa dan menyentuh hajar aswad atau sekedar beristilam (memberi salam dengan melambaikan tangan dari kejauhan. Ritual sa'i, yakni berlari antara bukit Shafa dan Marwah (daerah agak tinggi di sekitar Ka'bah yang sudah menjadi satu kesatuan Masjid Al Haram, Makkah), juga didasarkan untuk mengenang ritual istri kedua nabi Ibrahim ketika mencari susu untuk anaknya nabi Ismail.

Tahalul

Setelah melaksanakan umrah kami pergi ke sumur zamzam untu meminum airnya sambil berdoa agar diberi kesehatan dan keluasan ilmu. Ritual terakhir adalah tahalul yaitu memotong rambut, beberapa jamaah termasuk aku, Ikhwan, Iswara, Pupu Danglar menggunduli kepala kami. Umrah pun usai, kami boleh melepas ihram.

Selasa, 27 September 2011

CITY TOUR



Masjid Quba










Rombongan haji dari KBIH Al Falah pun mengadakan city tour antara lain ke Masjid Kuba, masjid Kiblatain dan Gunung Uhud. Sambil mengunjungi tempat-tempat itu kamipun singgah di kebuh-kebun kurma. Para pedagang menjual kurma segar berwarna hijau kekuningan, yang terasa segar di tengah padang pasir yang gersang.

Masjid Pertama di Dunia
Masjid Quba ( مسجد قباء) adalah masjid tertua di dunia. Batu pertama diletakkan oleh Nabi Muhammad SAW ketika berhijrah dari Mekah ke Madinah, dan kemudian diselesaikan pembangunannya oleh para sahabat. Nabi menghabiskan waktu 20 malam di masjid ini melaksanakan shalat qashar sambil menunggu Ali RA yang rumahnya terletak di belakang masjid ini. Melaksanakan shalat dua rakaat di masjid Quba sama dengan melaksanakan Umrah.

Nabi Muhammad datang ke masjid Quba berjalan kaki atau mengendari onta setiap hari Sabtu dan melaksanakan shalat sunat dua rakaat. Beliau menyuruh umatnya melaksanakan hal yang sama dan bersabda “ barangsiapa berwudhu di rumah dan pergi kemudian melaksanakan shalat di Masjid Quba, dia akan memperoleh pahala seperti melaksanakan ibadah Umrah. (hadits riwayat Ahmad ibn Hanbal, Al-Nasa'i, Ibn Majah dan Hakim al-Nishaburi)

Kamipun melaksanakan shalat sunat, berzikir dan menerawang ke lima belas abad yang silam ketika Rasulullah SAW berhijrah dari Mekah ke Madinah di bawah pengejaran tentara Quraisy. Shalawat serta salam kami sampaikan bagimu ya Nabi…

Masjid al-Qiblatain














Masjid al-Qiblatain (المسجد القبلتین) (Masjid dua Kiblat) adalah sebuah masjid di Madinah. Dinamakan Qiblatain karena ketika nabi Muhammad SAW mengimami shalat mendapat perintah dari Allah SWT untuk mengubah arah shalat (qiblat) dari Yerusalem ke Mekah. Sehingga keunikan masjid ini adalah adanya dua mihrab. Setelah direnovasi kiblat yang ke Yerusalem dihilangkan. Masjid Qiblatain adalah satu dari tiga masjid awal dalam sejarah Islam bersama dengan masjid Quba dan Masjid Nabawi.
Masjid ini berlokasi di barat daya kota Madinah, tepatnya di jalan Khalid bin Walid. Masjid ini pertama kali dipugar oleh Kalifah Umar bin Khattab. Pada kekuasaan kekalifahan Ottoman masjid ini diperbaiki oleh Sultan Sulaiman.

The name of the mosque goes back to the beginning of Islam when the companions of Muhammad named it after an event that took place. Muhammad was leading the prayer when he received a revelation from Allah instructing him to take the Kaaba as the Qiblah. According to traditional accounts, Muhammad, who had been facing Jerusalem during the prayer, upon receiving this revelation, immediately turned around to face Mecca, and those praying behind him also did so. After this, the mosque in which this incident occurred came to be known as Masjid al-Qiblatain (i.e. 'Mosque of the Two Qiblas'). Many pilgrims who go to Mecca for hajj often visit Medina where some end up visiting the notable Qiblatain because of its historic significance. (Wikipedia).

Gunung Uhud

Uhud adalah salah satu tempat pertempuran antara kaum muslimin yang dipimpin oleh Rasulullah SAW melawan kaum kafir Quraisy. Dalam pertempuran itu kaum muslimin awalnya memperoleh kemenangan tapi kemudian mengalami kekalahan karena tidak menjalankan disiplin yang telah ditetapkan hanya karena tergiur oleh pampas an perang. Banyak prajurit kemudian gugur di gunung itu. Ketempat itulah kami datang.

Gunung Uhud mencintai Rasulullah SAW dan begitu juga sebaliknya. Dari Anas bin Malik r.a, Rasulullah bersabda :
"Sesungguhnya Uhud adalah satu gunung yang mencintai kami dan kami juga mencintainya.""
(Disetujui oleh Al-Bukhari dan Muslim)
Gunung Uhud berguncang ketika Rasulullah SAW beserta para sahabat beliau ketika berdiri di atasnya
Dari Anas bin Malik r.a, Rasulullah mendaki gunung Uhud bersama dengan Abu Bakar r.a, Umar r.a dan Ustman r.a. Ketika itu gunung Uhud berguncang. Kemudian Rasulullah SAW menghentakkan kakinya dan bersabda :
"Diamlah kamu wahai Uhud, karena sesungguhnya berada di atas kamu adalah seorang Nabi, seorang Siddiq dan dua orang syahid"
(Diriwayatkan oleh Bukhari)

Senin, 26 September 2011

KOTA MADINAH

Masjid Nabawi














Di Madinah pusat aktivitas kami tentu saja ada di Masjid Nabawi. Masjid ini jaraknya hanya dua blok dari hotel tempat kami menginap. Biasanya menjelang subuh kami sudah berangkat ke masjid melewati suhu dingin dan angin yang menampar pipi. Kami menyelimuti tubuh dengan pelbagai pakaian tebal melewati pertokoan yang lampu-lampunya menerangi kegelapan malam. kadang ada satu dua pengemis mencegat kami di tengah jalan, rasanya seperti ujian yang datang dari Allah mengenai seberapa besar keikhlasan kami dalam berderma. Seorang kawanku bukannya dimintai malah diberi oleh pengemis yant tiba-tiba muncul dari balik kegelapan malam.

Ketika kami datang di masjid nabawi adzan berkumandang. Kami bergerombol di didepan pintu gerbang tinggi dari besi yang masih terkunci. Ketika gerbang dibuka kami berduyun-duyun masuk ke halaman masjid yang sangat luas. Yang sudah berwudhu langsung memasuki pintu gerbang masjid berukuran raksasa yang terbuat dari kayu berlapis emas pada engsel-engselnya, sedangkan yang belum berwudhu bisa turun ke basement di pelataran masjid. Basement sangat luas dan bertingkat-tingkat menggunakan escalator. Tempat wudlhu maupun toilet sangat nyaman dengan teknologi Jerman. Air hangat tersedia dalam jumlah tak terbatas, sehingga kita bisa mandi atau berwudhu sepuas hati.

Masjid nawabi memang sungguh megah mewah dan indah. Tiang-tiangnya berlapiskan ornament emas. Atap-atapnya bisa terbuka secara otomatis, sehingga langit malam bertaburan cahaya bulan dan bintang kami bisa menikmati sepuas hati. Jika panas terik datang, atap-atap itu menutup, demikian juga payung-payung raksasa yang ada di dalam masjid. Tapi keistimewaannya bukan hanya terletak pada keindahan dan kecanggihan arsitekturnya melainkan karena pelbagai faktor yang menyertai masjid tersebut.

Keistimewaan masjid terletak pada keutamaan masjid Nabawi sebagai berikut :
 Dianjurkan datang ke masjid Nabawi terlebih dahulu bagi musafir yang pulang bepergian
 Masjidnya diasaskan atas dasar taqwa
 Pahala salat dilipatgandakan
 Pahala bagi orang yang salat 40 raka'at di masjid Nabawi
 Tidak boleh meninggikan suara
 Keutamaan siapapun yang datang ke masjid Nabawi baik sebagai pengajar maupun pelajar
 Raudhah termasuk tempat yang mulia
 Mimbar berada di atas telaga Rasulullah SAW.
 Mimbar tempat Rasulullah SAW berkhutbah berada di bawah pintu surga
 Tangisan dan rajukan batang tamar
 Tiang-tiang mimbar masjid menjadi tiang-tiang di dalam surga
 Hukuman bagi siapa saja yang bersumpah palsu di mimbar


Makam Baqi

Sesusai shalat subuh biasanya kami menyempatkan diri berjalan-jalan mengelilingi halaman masjid yang sangat luas, dan di antaranya mengunjungi makam Baqi.

Area pemakaman Al-Baqi' adalah suatu area pemakaman para sahabat Nabi, Tabi'in, Tabi'ut tabi'in, dan para ulama serta orang saleh sesudahnya. Sering Nabi mengunjunginya pada waktu malam dan berdoa dan memohon ampunan untuk mereka yang dikebumikan di pemakaman ini

 Di antara doa beliau yang diajarkan kepada kita untuk Ahli al-Baqi' :
"Kesejahteraan atas kamu wahai penghuni-penghuni Makam dari kalangan mukminin dan muslimin. Allah merahmati mereka yang terdahulu dan kemudian dari kalangan kami dan sesungguhnya kami dengan izin Allah akan mengikuti kamu"
"Kesejahteraan atas kamu tempat tinggal orang-orang yang beriman, dan telah datang pada kamu barang apa yang telah dijanjikan untukmu, kamu ditangguhkan hingga hari esok dan dengan izin Allah kami akan mengikuti kamu, wahai Allah, ampunilah penghuni-penghuni Baqi' Al-Gharqod"
 Jenazah yang dimakamkan di Baqi' akan dibangkitkan pertama di Padang Mahsyar
 70.000 dari penghuni Baqi' dibangkitkan dan masuk Surga tanpa hisab

Kota Madinah
المدينة المنورة

Madinah atau Madinah Al Munawwarah: مدينة رسول الله atau المدينه, (juga Madinat Rasul Allah, Madīnah an-Nabī) adalah kota utama di Arab Saudi. Merupakan kota yang ramai diziarahi atau dikunjungi oleh kaum Muslimin. Di sana terdapat Masjid Nabawi yang memiliki pahala dan keutamaan bagi kaum Muslimin. Dewasa ini, penduduknya sekitar 600.000 jiwa. Bagi umat Muslim kota ini dianggap sebagai kota suci kedua. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, kota ini menjadi pusat dakwah, pengajaran dan pemerintahan Islam. Dari kota ini Islam menyebar ke seluruh jazirah Arabia lalu ke seluruh dunia.
Wikipedia menyebutkan bahwa : Pada masa sebelum Islam berkembang, kota Madinah bernama Yatsrib, dikenal sebagai pusat perdagangan. Kemudian ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dariMekkah, kota ini diganti namanya menjadi Madinah sebagai pusat perkembangan Islam sampai beliau wafat dan dimakamkan di sana. Selanjutnya kota ini menjadi pusat kekhalifahan sebagai penerus Nabi Muhammad. Terdapat tiga khalifah yang memerintah dari kota ini yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Pada masa Ali bin Abi Thalib pemerintahan dipindahkan ke Kufah di Irak karena terjadi gejolak politik akibat terbunuhnya khalifah Utsman oleh kaum pemberontak. Selanjutnya ketika kekuasaan beralih kepada bani Umayyah, maka pemerintahan dipindahkan ke Damaskus dan ketika pemerintahan berpindah kepada bani Abassiyah, pemerintahan dipindahkan ke kota Baghdad. Pada masa Nabi Muhammad SAW, penduduk kota Madinah adalah orang yang beragama Islam dan orang Yahudi yang dilindungi keberadaannya. Namun karena pengkhianatan yang dilakukan terhadap penduduk Madinah ketika perang Ahzab, maka kaum Yahudi diusir ke luar Madinah.Kini Madinah bersama kota suci Mekkah berada di bawah pelayanan pemerintah kerajaan Arab Saudi.

Secara geografis, kota ini datar yang dikelilingi gunung dan bukit bukit serta beriklim gurun. Suhu tertinggi berkisar antara 30 °C sampai 45 °C pada waktu musim panas, dan suhu rata-rata berkisar antara 10 °C sampai 25 °C.

Dari sektor ekonomi, terdapat sektor pertanian dan perkebunan terlebih perkebunan kurma yang sudah dikenal sejak masa lampau, peternakan selayaknya penduduk Arab serta perdagangan ditambah dengan sektor jasa terutama jasa pelayanan para peziarah di antaranya adalah usaha perhotelan dan penginapan.

Selain dikenal sebagai kota pusat perkembangan Islam. Madinah juga merupakan pusat dari pendidikan Islam sejak masa Nabi Muhammad SAW. Juga banyak ulama-ulama dan Cendekiawan Islam yang muncul dari Madinah di antaranya adalah Imam Malik. Saat ini di Madinah terdapat berbagai Jami'ah (Universitas) dan perguruan perguruan tinggi Islam lainnya.

Sebagai salah satu kota suci umat Islam, Madinah memiliki sejumlah keutamaan, yaitu :
 Tempat yang diprioritaskan penyebutan namanya dalam Al-qur'an.
 Yang menjadikan Madinah sebagai tanah haram (suci) adalah Allah SWT.
 Pengharaman pemburuan dan buruan di Madinah.
 Larangan memotong pohon-pohon, mencabutnya dan memungut barang yang tercecer.
 Pengharaman mengangkat senjata dan berperang di dalamnya.
 Mengharamkan bid'ah
 Allah SWT memilih Madinah sebagai tempat hijrah Rasulullah SAW.
 Allah SWT memilih Madinah sebagai tempat disemayamkannya jasad Rasulullah SAW.
 Madinah dibersihkan dari Syirik.
 Iman akan kembali ke Madinah.
 Keberkahan di Madinah dilipatgandakan.
 Dajjal tidak boleh memasuki Madinah.
 Madinah tidak akan dimasuki oleh rasa gentar terhadap Dajjal.
 Madinah tidak akan dimasuki oleh wabah Ta'un.
 Perpindahan penyakit dari Madinah ke Juhfah.
 Larangan membunuh ular sebelum diberi peringatan selama 3 hari karena para jin di sana banyak yang memeluk Islam dan mereka suka berubah bentuk menjadi binatang di antaranya ular.
 Anjuran untuk tinggal di Madinah.
 Anjuran agar meninggal di Madinah.
 Orang-orang kafir tidak boleh memasuki Madinah.
 Alim ulamanya lebih alim dari ulama selainnya.
 Tanahnya sebagai penyembuh (Syifa')
 Syafaat bagi siapa saja yang sabar atas cobaan di Madinah.
 Syetan putus asa untuk disembah di Madinah.
 Doa untuk Madinah sebagaimana doa Nabi Ibrahim untuk Mekkah.
 Para Malaikat menjaganya hingga Hari Kiamat.
 Madinah bermandikan cahaya di hari kedatangan Rasulullah SAW.
 Hukuman bagi orang yang mendzalimi penduduk Madinah.
 Beribadah di Masjid Nabawi dilipatgandakan pahalanya.

Rabu, 21 September 2011

Ke Tanah Suci










Jamaah Haji (Koleksi Topenmuseum, Belanda)






Keinginanku untuk melaksanakan ibadah haji sudah muncul sejak lama. Pada tahun 1995 aku pernah ditawari mengikuti ibadah haji dari instansi tempatku berkhidmat pada masyarakat. Namun karena ketika itu ada teman yang lebih senior ingin pula berangkat maka aku pun mengalah. Hal ini terulang untuk tahun berikutnya. Maka akupun melupakan keinginan itu karena situasi di era menjelang reformasi memaksaku berkonsentrasi pada urusan-urusan politik. Allah telah memanggilku tapi belum mengizinkanku menginjakkan kaki di tanah suci.

Jalan menuju tanah suci terbuka kembali di tahun 2002. Ketika itu panitia musyawarah DPRD Provinsi Jawa Barat memutuskan memberi izin bagi beberapa anggota DPRD untuk melaksanakan ibadah haji. Kuota untuk setiap fraksi berbeda-beda berkorelasi positif dengan jumlah anggotanya. Fraksi PDI Perjuangan sebagai fraksi terbesar memperoleh kuota lima orang, yaitu Rahadi, Sutardi, Tarmudji, Iwan Fauzi, Pupu Danglar dan Dedi Hermansyah. Namun menjelang batas akhir pendaftaran ke Kandepag, Dedi Hermansyah mengundurkan diri karena tidak punya biaya untuk mengajak istrinya. Rudiharsa sebagai ketua fraksi menawarkan padaku untuk mengganti posisi Dedi tersebut, dan aku spontan menerimanya karena ketika itu aku punya uang di tabungan sejumlah Rp 50 juta, cukup untuk biaya ONH berdua dengan istriku. Maka akupun memperoleh izin dari lembaga untuk meninggalkan tugas selama kurang lebih satu setengah bulan.

Langkah pertama adalah mendaftarkan diri yang berjalan lancar karena dibantu Erna staf bagian umum. Proses ini antara lain adalah membayar ONH, menyiapkan paspor, cek kesehatan dan vaksinasi meningitis ke Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung serta mendaftarkan diri ke KBIH (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji).
Langkah kedua adalah mengikuti manasik haji bersama seluruh anggota dari fraksi-fraksi lain. Yang masih kuingat adalah Iswara, Tatang(FPG), Rahmat (FPPP), Dardiri (FPAN), …. (FAPBRI). Latihan manasik haji dilaksanakan di pondok pesantren Al Falah, Nagrek. Pembimbingnya KH Ahmad Syahid yang merupakan anggota DPRD dari FPG. Latihan manasik setiap hari sabtu dan berlangsung kurang lebih satu bulan bersama-sama jamaah haji lainnya yang berasal dari Bandung dan Garut. Dalam latihan itu kami melakukan simulasi manasik haji seperti thowaf, sai, dan melempar jumrah sambil membaca doa-doa yang bukunya disiapkan Depag dan kami gantungkan di leher dengan seutas tali terbuat dari benang yang dipintal.
Langkah ketiga adalah menyiapkan keberangkatan. Pimpinan DPRD membuat sebuah acara pelepasan di lobby gedung DPRD dengan mengundang seratus anggota DPRD. Seorang ustadz memberikan tausiyah (ceramah) berkenaan dengan hikmah ibadah haji kemudian kami para jamaah haji berjajar di depan untuk memperoleh salam, doa restu dan ciuman dari para anggota Dewan. Usai acara pelepasan di Dewan, kami bersiap-siap untuk diberangkatkan dari ponpes Al Falah. Kami masing-masing memperoleh pelbagai macam perlengkapan seperti koper, tas tangan, kain ihram, jaket, paspor, gelang pengenal, jas, dll.
Sebelum hari H, kami mengadakan pengajian yang diikuti ibu-ibu majlis ta’lim masjid An Nuur Rancaekek di mana kami berdomisili sambil memohon maaf dan memohon doa restu dari para tentangga.
Godaan muncul ketika kami hendak meninggalkan rumah menuju ponpes Al Falah. Anak kami yang bungsu, Praja tiba-tiba jatuh sakit dan badannya panas. Kami menjadi gamang dan nyaris membatalkan kepergian istriku. Dengan memohon kemurahan Allah SWT dan meminta dukungan dari sanak keluarga, kami pun berketetapan hati berangkat berdua. Alhamdulillah Praja mau ditinggalkan.

Dari rumah kami menuju ponpes Al Falah. Keluarga dan tetangga seperti pak Nana, pak Said, pak Mulyono dan pak Indri ikut mengantar. Di Al Falah dilakukan zikir dan doa bersama. Kami para jamaah haji berangkat ke Jakarta dengan menggunakan bus malam itu. Keluarga pun kami tinggalkan dengan menyerahkan semuanya kepada Allah SWT. Saudara-saudara dan para tetangga berbaik hati menjaga ketiga anakku.
Malam itu juga kami tiba di asrama haji Jawa Barat di Bekasi untuk bermalam. Di sana dilakukan pula pelepasan oleh Gubernur Jawa Barat, Nuriana, yang didampingi para bupati dan walikota. Yani, adik perempuanku sempat berkunjung ke sana sebelum kami dan rombongan berangkat ke Asrama Haji Pondok Gede di Jakarta. Dari sana kami ke bandara Halim Perdanakusumah untuk selanjutnya diterbangkan ke Saudi Arabia dengan menggunakan Saudi Arabian Airlines.

Kami lepas landas malam hari. Penerbangan pun dimulai. Kami bersyukur memperoleh kenyamanan dan pelayanan yang baik selama dalam perjalanan. Pesawat yang kami tumpangi cukup mewah dan berteknologi tinggi. Kami bisa mengetahui posisi kami selama perjalanan dan bisa melihat pemandangan lautan maupun daratan yang ada di bawah kami. Pramugari yang melayani kami adalah wanita-wanita cantik Indonesia. Makanan dan minuman yang disajikan membuat kami merasa seperti melakukan liburan saja layaknya. Ibadah di era modern ini memang sangat nyaman, dengan tingkat kesulitan yang nyaris nol.

Menjelang pagi hari pesawat sudah memasuki jazirah Arabia seperti nampak pada layar monitor. Sepanjang perjalanan hanya padang pasir gersang berwarna coklat tua, hitam dan kemerahan. Subhanallah. Tak terbayangkan bagaimana manusia bisa hidup di tanah gersang dang tandus itu. Tapi maha besar Allah, dari jazirah kering itu lahir para nabi dan rasul yang membuat sejarah dan peradaban.

Sekitar jam tujuh atau delapan pagi kami mendarat di bandara King Abdul Azis (?) di Madinah yang terletak di tengah-tengah gurun pasir. Udara panas pun menyergap, menggantikan udara sejuk ber AC di dalam pesawat. Perjuangan pun dimulai. Kamipun berbaris mengantri di depan petugas imigrasi dan custom (bea cukai). Paspor dan barang bawaan diperiksa. Metal detector pun harus kami lewati. Sampai di halaman parkir hiruk pikuk pun mulai. Kami masuk ke dalam bus-bus tua yang telah disediakan. Koper-koper kami ditumpuk di atas atap bus. Perjalanan ke kota Madinatul Nabi dimulai dengan tujuan pertama adalah hotel tempat menginap selama beberapa hari. Menjelang siang kami tiba di tempat penginapan. Aku memperoleh satu kamar bersama lima orang jamaah lainnya. Ada fasilitas ac, teve, bath up dengan pemanas air, kulkas serta kompor listrik.

Setelah beristirahat sebentar dan membersihkan diri kami langsung ke Masjid Nabawi . ternyata Hotel tempat kami menginap hanya sepelemparan batu jaraknya dari masjid nabawi jadi kami cukup berjalan kaki saja untuk mencapainya. Alhamdulillah kami telah sampai di masjid nabi.

Madinah berudara dingin dan kering ketika kami tiba di sana. Di malam hari udara membuat kami menggigil. Di siang haripun demikian. Kendati matahari bersinar terik, udara tetap dingin, sehingga banyak jamaah shalat di pelataran masjid sambil menghangatkan diri. Kombinasi udara dingin dan tiupan angin yang keras membuat kulit mongering dan bibir pecah-pecah. Kami harus menggunakan lotion untuk kulit dan lip glos untuk bibir. Di luar masalah udara, Madinah adalah kota yang menyenangkan.
Sepulang dari shalat Zuhur biasanya kami berjalan-jalan ke pusat kota yang dipenuhi jamaah dari seluruh dunia, yang menonjol adalah jamaah dari Turki karena menggunakan seragam warna kakhi dan selalu berjalan dalam rombongan besar. Kulit mereka bersih, campuran asia dan eropa, dengan tinggi badan s eperti layaknya orang Indonesia.

Madinah atau Madinah Al Munawwarah: مدينة رسول الله atau المدينه, (juga Madinat Rasul Allah, Madīnah an-Nabī) adalah kota utama di Arab Saudi. Merupakan kota yang ramai diziarahi atau dikunjungi oleh kaum Muslimin. Di sana terdapat Masjid Nabawi yang memiliki pahala dan keutamaan bagi kaum Muslimin. Dewasa ini, penduduknya sekitar 600.000 jiwa. Bagi umat Muslim kota ini dianggap sebagai kota suci kedua. Pada zaman Nabi Muhammad SAW, kota ini menjadi pusat dakwah, pengajaran dan pemerintahan Islam. Dari kota ini Islam menyebar ke seluruh jazirah Arabia lalu ke seluruh dunia.

Wikipedia menyebutkan bahwa : Pada masa sebelum Islam berkembang, kota Madinah bernama Yatsrib, dikenal sebagai pusat perdagangan. Kemudian ketika Nabi Muhammad SAW hijrah dariMekkah, kota ini diganti namanya menjadi Madinah sebagai pusat perkembangan Islam sampai beliau wafat dan dimakamkan di sana. Selanjutnya kota ini menjadi pusat kekhalifahan sebagai penerus Nabi Muhammad. Terdapat tiga khalifah yang memerintah dari kota ini yakni Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Utsman bin Affan. Pada masa Ali bin Abi Thalib pemerintahan dipindahkan ke Kufah di Irak karena terjadi gejolak politik akibat terbunuhnya khalifah Utsman oleh kaum pemberontak. Selanjutnya ketika kekuasaan beralih kepada bani Umayyah, maka pemerintahan dipindahkan ke Damaskus dan ketika pemerintahan berpindah kepada bani Abassiyah, pemerintahan dipindahkan ke kota Baghdad. Pada masa Nabi Muhammad SAW, penduduk kota Madinah adalah orang yang beragama Islam dan orang Yahudi yang dilindungi keberadaannya. Namun karena pengkhianatan yang dilakukan terhadap penduduk Madinah ketika perang Ahzab, maka kaum Yahudi diusir ke luar Madinah.Kini Madinah bersama kota suci Mekkah berada di bawah pelayanan pemerintah kerajaan Arab Saudi.

Kami memperoleh living cost yang diambil dari ONH yang kami bayarkan ke pemerintah selaku penyelenggara haji. Living cost tersebut cukup untuk membeli makan minum serta perlengakapan mandi seperti sabun, pasta gigi dan samphoo. Karena itu aku dan istriku biasanya makan berpindah-pindah dari satu restoran ke restoran yang lain dari satu menu ke menu yang lain. Ini adalah seperti wisata kuliner jadinya. Kami makan makanan Pakistan, Arab, Turki dll yang intinya terdiri dari roti atau nasi serta daging entah itu daging ayam kambing atau sapi. Meski sedikit, Adapula restoran Indonesia dan ada pula yang menyediakan bakso.