Jumat, 28 Desember 2018

Shalat Idul Adha Di Masjid Keraton Surakarta

Karena suatu alasan yang mendesak aku harus ke Ngawi secepatnya. Aku telah lupa alasannya. Singkat kata aku diantar kang Permadi berangkat ke Ngawi. Kami tiba di Ngawi siang hari dan selesai urusan pada sore harinya kami kembali pulang. Usai maghrib kami singgah di rumah bupuh Karsohutomo di Gendingan. Malam itu suara takbir mulai terdengar karena keesokan harinya adalah hari Idul Adha atau Lebaran Haji. Rasanya akan sangat lelah jika harus langsung pulang ke Bandung, jadi aku berpikir untuk menginap di Solo Yogya atau Semarang. Karena esoknya hari raya, aku membeli sebuah sarung di toko depan rumah bupuh untuk persiapan shalat Id. Seusai isya kami meninggalkan rumah bupuh menuju Solo melaui jalan raya nasional Solo-Surabaya. Malam itu lalu lintas dari Gendingan melalui hutan jati dan mahoni terasa sunyi dan kudus. Malam yang berkesan bagi kami berdua. Memasuki kota kecamatan Mantingan yang merupakan wilayah provinsi Jawa Timur paling barat kami mulai melihat keramaian di trotoar jalan yang gelap. Ada deretan nyala api menerangi kegelapan ditingkahi suara takbir tahmid tasbih dan tahlil bersahut-sahutan. Rupanya ada pawai obor menyambut hari Idul Adha. Setelah dekat dengan rombongan kami bisa melihat ternyata keseluruhan peserta pawai adalah ratusan santriwati Pondok Pesantren Putri Darussalam atau yang lebih dikenal sebagai Pesantren Gontor Putri. Mereka berjalan kaki dengan tertib dan rapi di trotoar di sekitar pondok pesantren, nampaknya mereka berkeliling kota Mantingan yang tidak terlalu besar. Mobil yang kami kendarai melewati mereka dan terus melaju ke arah Sragen meninggalkan rombongan pawai obor di kejauhan yang akhirnya menghilang dalam kegelapan. Sungguh peristiwa yang mengesankan. Baru sekali itu aku alami. Tak lama kemudian kami sampai diperbatasan Jawa Timur yang diberi penanda gapura berbentuk candi Penataran. Menyebrangi sungai tibalah kami di Banaran yang masuk wilayah Sragen, Jawa Tengah. Gapura memasuki provinsi Jawa Tengah tidak kalah megahnya. Oh ya pondok pesantren Gontor awalnya ada di Ponorogo. Seiring kemajuan dan kemasyhuran ponpes Gontor kini siswanya berdatangan dari seluruh pelosok negri. Ponpes Gontor pun membuka cabang di Ngawi dan Kediri. Di Ngawi ponpes dibangum di Mantingan dan itu khusus untuk putri. Mantingan terletak diperbatasan antara Ngawi (Jawa Timur) dan Sragen (Jawa Tengah). Kami pun memasuki kota Banaran yang sudah masuk wilayah Kabupaten Sragen, Jawa Tengah. Ini tempat yang tidak boleh dilewatkan oleh penggemar sate dan soto. Sayang karena sudah malam kami hanya melintasi tempat ini menuju Sragen dilanjutkan ke Solo. Malam itu kami memutuskan menginap di hotel Dana di Jalan Slamet Riyadi di pusat kota Solo. Hotel tua dan antik ini adalah hotel favoritku sejak tahun 1995 jika menginap di Solo. Awalnya aku menginap di sini saat mendampingi klub sepakbola Persikab dari Kabupaten Bandung bertanding dengan PSIS Semarang di lapangan Sriwedari. Sejak itu aku sering menginap di sini. Karena hari itu adalah hari raya, pagi pagi benar aku dan kang Permadi pergi ke Masjid Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat di alun alun dengan mengendarai becak. Jaraknya sekitar tiga kilometer dari hotel. Jalan Slamet Riyadi yang biasanya padat terasa lengang. Saat tiba di masjid jamaah telah memenuhi masjid kerajaan yang megah itu. Entah berapa kali aku shalat di masjid ini tapi baru kali ini aku merasakan suasana istimewa, shalat Idul Adha. Khutbah Idul Adha yang disampaikan khatib sangat menyentuh di hati. Sungguh shalat Id yang tidak terlupakan. Usai melaksanakan shalat kami kembali ke hotel dengan naik becak yang tadi. Jalan dari masjid ke hotel lurus namun searah. Dengan becak menjadi lebih dekat karena jika menggunakan mobil atau motor harus melalui jalan yang lain. Tiba di hotel kami langsung menuju restoran, sarapan di restoran yang sudah ditata dalam suasana lebaran. Menu makanannya pun khusus makanan lebaran seperti ketupat, lontong, kari dan opor ayam serta sambal goreng kentang. Suasananya benar benar seperti di rumah sendiri. Arsitektur bangunan hotel yang menyerupai rumah bangsawan membuat suasana Idul Adha menjadi istimewa. Kami bersalam-salaman dengan tamu dan para pegawai hotel. Sesudah menikmati sarapan aku dan kang Permadi masih menyempatkan duduk di serambi yang menghadap ke taman belakang sambil ngopi dan menikmati suasana lebaran haji di kota Solo yang mungkin hanya sekali itu kami rasakan. Setelah puas menikmati suasana Idul Adha di kota Solo, kami pun check out sebelum tengah hari. Kami pun meninggalkan kota menuju Kartasura. Di Kartasura jalan terbagi dua menuju ke Semarang lewat Boyolali dan Salatiga atau ke Yogyakarta melalui Klaten. Kedua jalan tersebut bisa digunakan jika kita ingin kembali ke Bandung atau Jakarta.

Kamis, 27 Desember 2018

Berkunjung ke Puluhwatu

 


Sudah lama aku mendengar cerita dari ibu dan bupuh-bupuhku bahwa meski mereka tinggal di Ngawi sebenarnya asal-usul mereka dari Klaten tepatnya dari Puluhwatu. Bupuh Arisman sepupu ibu bahkan sempat tinggal di sana. Namun sampai aku dewasa aku belum sempat ke tempat itu. Demikian juga dengan ibuku.

 Pada suatu ketika setelah tahun 2005 aku ditemani kang Permadi ada dalam perjalanan antara Yogya dan Solo. Kebetulan hari masih pagi. Udara cerah dan hangat. Lalu lintas lancar. Kami melewati Prambanan tapi tidak singgah. Kami meneruskan perjalanan menuju Klaten.


 

 Setelah melewati Museum Gula Gondang Winangoen, kami berbelok ke kiri memasuki pesawahan yang ditanami tembakau. Kejayaan tembakau Klaten masih membekas. Sebuah bangunan dari batu berdiri kokoh. Fungsinya sebagai gudang tembakau. Nampaknya peninggalan para pengusaha tembakau Belanda. Kami terus melaju melalui sawah sawah yang mengering beberapa kilometer sampai menjumpai sebuah kantor Koramil (Komando Rayon Militer). Dari situ kami berbelok ke kanan seratus meter dan berbelok ke kiri. Sampailah kami di rumah keluarga ibu dari pihak ibu. Ini adalah pertama kali aku ke situ.


 

Puluhwatu selain nama sebuah pasar juga adalah nama sebuah desa di selatan Gunung Merapi yang masuk ke kecamatan Karangnangka Kabupaten Klaten. Dari situ leluhurku- sebut saja Eyang Puluhwatu-berasal. Dari ketiga anaknya, satu menetap di Puluhwatu sedangkan dua orang ke Ngawi. Satu orang karena diperistri Belanda dan satunya lagi karena mengikuti kakaknya, ialah ibu dari ibuku atau nenekku. Nenek dan kakekku dari pihak ibu berasal dari Puluhwatu. Kakekku dimakamkan di pemakaman umum di desa itu sedang nenekku dimakamkan di Walikukun Ngawi.

 Kini keluarga Puluhwatu menyebar ke berbagai kota (Klaten, Ngawi, Magetan, Madiun, Surabaya, Malang, Kediri, Yogya, Semarang, Cimahi, Bandung, Bandung Barat, Bogor, Depok) bahkan ke berbagai pulau seperti Flores (Maumere) Kalimantan (Pangkalan Bun) dan Sumatra (Riau) hingga ke Singapura. Kami biasanya bertemu jika ada undangan pesta perkawinan.

Lewat tengah hari aku pamit pada keluarga bupuhku. Meski tidak lama aku berkunjung ke Puluhwatu tapi setidaknya aku sudah pernah ke situ.

Rabu, 26 Desember 2018

WO Sriwedari

Menonton Wayang Orang Sriwedari

Karena Sidiq kuliah di Undip maka sesekali aku berkunjung ke kota Semarang. Biasanya ini kulakukan setelah kegiatan turba ke Indramayu dan Cirebon selesai. Pada suatu waktu setelah tiba di Semarang kami melanjutkan perjalanan ke Jawa Timur. Pada malam hari kami tiba di kota Surakarta atau lebih dikenal dengan nama kota Solo. Kami singgah di Jalan Slamet Riyadi mampir ke sebuah warung lesehan sambil menikmati makanan khas kota itu. Malam itu kami tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk berkunjung ke Taman Hiburan Rakyat Sri Wedari. Taman Sriwedari didirikan oleh Raja Surakarta. Pada masanya Sriwedari sangat terkenal. Di sini ada tempat pertunjukan kesenian dan tempat bermain serta tempat wisata kuliner. Pertunjukan yang paling terkenal adalah pertunjukan wayang wong (wayang orang). Kamipun menyempatkan diri berkunjung ke Sriwedari. Pada malam itu di Sriwedari ada beberapa pertunjukan antara lain wayang orang. Wayang orang adalah sebuah sendratari (seni drama dan tari) atau opera Jawa. Setelah membeli tiket kami duduk bersama penonton menyaksikan pertujukan wayang orang yang menggunakan bahasa Jawa. Seperti wayang kulit, pada wayang ada pula dalang yang mengantarkan lakon. Para aktor dan aktris muncul bergantian tergantung plot cerita. Mereka bercakap, bernyanyi dan menari. Busana mereka indah dan berwarna warni seperti terdapat pada wayang kulit. Pertunjukan diiringi oleh orkestra gamelan yang indah. Penonton wayang orang di Sriwedari malam tidak banyak. Meski begitu aku menikmati pertunjukan itu. Menonton wayang orang bukan hal baru bagiku. Saat masih bersekolah di SD aku pernah satu dua kali diajak bapak nonton wayang orang Pandawa di Pasar Senin. Gedung pertunjukan wayang orang Sriwedari tidak sebaik gedung pertunjukan wayang orang Pandawa di Jakarta. Saat pertunjukan wayang orang berlangsung sayup-sayup terdengar suara konser musik dari gedung sebelah. Konsentrasi kami pun terganggu. Kang Permadi yang merasa tidak familiar dengan bahasa Jawa lebih tertarik mendengar musik dari sebelah. Ternyata itu konser musik lagu-lagu Koes Plus. Ia pun beranjak pergi ke gedung sebelah. Aku dan anakku melanjutkan menonton wayang orang hingga selesai. Menjelang tengah malam kami meninggalkan kota Solo menuju Ngawi. Sampai di kota Sragen kami sudah kelelahan dan segera menginap di sebuah hotel di pinggiran kota. Paginya Mas Yono dari Bengkulu mengunjungi kami. Kebetulan ia baru mengunjungi anaknya yang sulung di kota Solo. Ia datang sendiri mengendarai mobil jeep milik anaknya. Dari hotel kami pergi beriringan ke Ngawi. Kami singgah di rumah Bupuh Karsohutomo di Gendingan kemudian melanjutkan perjalanan ke Sine. Aku berkunjung ke rumah mas Yono dan berziarah ke makam ibunya. Ibu Mas Yono adalah kakak ayahku.

Kamis, 20 Desember 2018

Antara Merapi dan Merbabu

Dimas Sidiq anak keduaku sudah mulai kuliah di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro di Kampus I Jalan Imam Bardjo, beberapa meter dari kantor Gubernur Jawa Tengah di Jalan Pemuda, dekat dari Simpang Lima. Kurasa itu sekitar tahun 2008. Istriku berencana datang menengok Sidiq ke Semarang dengan naik kereta api Harina dari Stasiun Hall Bandung. Usai mengikuti kegiatan di Cirebon aku dan kang Permadi bertolak ke Semarang dengan memgendarai mobil melewati pantai utara. Setelah melewati Brebes Tegal Pemalang Pekalongan Batang dan Kendal sampailah kami di Semarang malam hari dan menginap di Dibya Puri, sebuah hotel antik, atau hotel yang lain, aku sudah lupa.
Keesokan harinya, seusai shalat subuh kujemput istriku di Stasiun Semarang Tawang dan kubawa ke hotel. Sidiq datang dari tempat kostnya di Jalan Singosari. Usai bersarapan kami melihat kampus anakku di Imam Bardjo dan Kampus 2 di Tembalang. Dari sana kami melanjutkan perjalanan ke Ungaran, Salatiga dan Boyolali. Aku ingin mengajak istri dan anakku berwisata ke Selo Pass.
Kampus Tembalang terletak beberapa kilometer dari pusat kota. Dari jalan raya Semarang-Solo, setelah melewati tanjakan Gombel, masih masuk ke arah kiri beberapa kilometer melewati pemukiman penduduk. Di belokan itu terdapat patung Pangeran Diponegoro. Di lahan yang luasnya mendekati 100 ha inilah kampus 2 Universitas Diponegoro berdiri. Rektorat sudah pindah ke sini demikian juga hampir semua fakultas dan program studinya. Lingkungannya mulai dipenuhi oleh bisnis dan pemukiman. Namun demikian kawasan kampus mulai diteduhi oleh tanaman keras yang menghijau.
Setelah berkeliling lingkungan kampus kami melanjutkan perjalanan melewati Bawen yang merupakan pertigaan jalan antara Semarang Solo Magelang, kemudian melewati telaga Rawapening dan kemudian Ungaran. Ungaran adalah ibukota Kabupaten Semarang. Dari sini kami terus ke kota Salatiga yang terletak di dataran tinggi. Kotanya sejuk dan ramai. Banyak orang datang ke kota ini untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Dari Salatiga kami melanjutkan perjalanan ke Boyolali. Boyolali adalah kota kabupaten. Boyolali terkenal akan produk susu perahnya. Orang Jawa sering menjadikan nama kota Boyolali dengan Bajul Kesupen, artinya sama yaitu buaya lupa.
Dari Boyolali kami berbelok ke kanan. Pelan pelan kami menempuh jalan yang menanjak dan menyempit dan meninggalkan kota. Kami memasuki desa-desa, kebun-kebun dan sawah-sawah yang asri. Udara semakin sejuk seiring makin meningginya jalan yang kami tempuh. Jalan memang terus mendaki dan berliuk-liku melewati ratusan kelokan di belakang. Setelah berpuluh kilometer sampailah kami di daerah Selo. Selo bisa berasal dari kata batu atau sela-sela karena itu diaebut Selo Pass. Ini adalah titik tertinggi lintasan yang membelah dua gunung kembar. Gunung Merbabu di kanan dan Gunung Merapi di kiri. Pemandandan sepanjang Selo Pass sungguh indah, sejuk dan damai. Apalagi hujan turun ketika itu membuat pemandandangan semakin sempurna. Langit biru jernih. Kabut menyaput di Merbabu sementara asap nampak mengepul di Merapi. Kami berhenti di shelter, menghirup udara segar dan mengambil gambar.
Gunung Merapi sebuah gunung yang aktif. Sisa-sisa letusan dan semburan lahar serta aliran lava masih terasa ketika itu. Beberapa desa nampak porak poranda. Rumah rumah hancur dan ditinggalkan penghuninya. Oleh pemerintah tempat itu tidak boleh lagi dijadikan pemukiman dan dibiarkan apa adanya. Tempat itu dijadikan museum lapangan di mana kita bisa melihat kerusakan sebagai dampak dari erupsi Merapi.
Setelah mencapai titik tertinggi kini hanya ada jalan menurun ke arah Yogyakarta. Akhirnya kami sampai di suatu tempat bernama Blabak. Di tempat itu didirikan sebuah museum Merapi. Kami pun masuk dan menonton pertunjukan layar lebar mengebai erupsi Merapi. Dengan teknologi digital yang canggih dilengapi tata suara dan cahaya yang bagus tersajilah sebuah film dokumenter mengenai Merapi dan aktivitasnya. Peristiwa letusan kawah Merapi menjadi seolah berada di depan kita. Betapa dahsyat dan mengerikan. Api yang membara, lelehan lumpur yang menyala, semburan lahar, suara gemuruh letusan, awan panas, dan bencana dahsyat yang ditimbulkan berupa rusaknya hutan sawah ladang dan pemukiaman serta kematian baik manusia ternak maupun pepohonan. Sungguh peristiwa alam yang sangat dahsyat dan mengerikan. Itu semua menjadi obyek penelitian tapi juga memunculkan imajinasi mengenai kedahsyatan neraka.
Usai menyaksikan pemutaran film mengenai Gunung Merapi dan aktivitasnya kami beristirahat di sebuah rumah makan di dekat museum. Letaknya seakan menggantung di lereng bukit, ditopang oleh pilar-pilar kayu dan bambu. Kami berempat duduk lesehan beralaskan tikar dan bantal menikmati secangkir kopi dan makanan yang disajikan. Suatu kesempatan yang amat langka tentunya bisa menikmati pemandangan alam pegunungan di suatu senja yang indah sambil berbincang dan menikmati kopi panas.
Saat meninggalkan museum tadinya kupikir akan melanjutkan perjalanan ke Magelang lalu ke Semarang. Tapi ternyata ada jalan pintas ke Salatiga, maka kamipun melalui jalan itu. Ternyata ini pilihan yang tepat karena jalan ini melalui kawasan wisata yang ramai seperti di Lembang atau Batu. Perjalanan terasa semakin mengasyikkan. Pemandangan di sini sangat menarik hati. Di kiri kanan ada kebun kebun bunga yang indah di antara bangunan vila hotel bungalow dan restoran yang tertata indah. Sayang perjalanan sudah memasuki malam sehingga kami langsung bergegas dan sampailah kami di kota Salatiga. Malam itu juga kami kembali ke Semarang.

Jumat, 20 Juli 2018

Pakpuh Sukarno Agen Muda Yang Membelot Pada Republik






Pada suatu kesempatan kami ke Semarang dan berkunjung ke Ngawi. Karena sudah malam akhirnya kami (saya, ibu, anakku Sidiq dan kang Permadi) menginap di sebuah hotel di Sragen. Pada pagi hari mas Yono sepupuku yang tinggal di Bengkulu menelpon dan kami pun bertemu di lobby hotel kemudian bersama-sama ke Ngawi.  Kami menyempatkan berkunjung ke bupuh Karsohutomo di Gendingan sebelum mengunjungi kerabat di Desa Tulakan, Sine. Keesokan harinya kami singgah di rumah mbak Warni di Brambang, Sragen mendoakan kemenakan kami Ary Atnoko yang akan menikah,  sebelum bertolak ke Bandung melalui Solo dan Yogyakarta. 

Di Yogyakarta kami singgah di rumah mbak Ninik sambil menjemput bupuh Arisman yang akan ke Magelang mengunjungi cucunya. Bupuh mengajak kami singgah ke Salam sebuah desa yang sudah masuk wilayah Magelang. Di sana kami berkunjung ke rumah pakpuh Sukar.  Pakpuh Sukar adalah kakak bupuh Aris,   sepupu ibuku. Di Salam pakpuh Sukar tinggal bersama istrinya yang sudah sakit-sakitan. Saat itulah aku sempat ngobrol berdua dengan pakpuh Sukar dan mendengar cerita yang mengejutkan. 

Pakpuh Sukar nama lengkapnya Sukarno, bernama asli Oscar, ayahnya seorang indo Belanda bernama Charles Wendyk.  Ia satu satunya anak laki laki, ketiga saudara kandung seibunya semua perempuan : bupuh Karsohutomo, bupuh Arisman dan bupuh Mulyono. Saudara tirinya – dari istri Charles Wendyk yang lain – yaitu   pakpuh Otto dan tante Charlotte yang dikenal dengan Nyah Lot. Pakpuh Otto meninggal di Tilburg Belanda dan Nyah Lot meninggal di Gendingan dan dimakamkan di Walikukun.

Setahuku pakpuh Sukar pernah bekerja  menjadi supir pribadi orang Tionghwa di Solo dan Wonosobo. Ia pun pernah menjadi supir bus antar kota antara Wonosobo dan Purwokerto. Sampai usia tua ia masih melajang sampai akhirnya ia menikahi seorang janda yang sudah beranak dan kemudian tinggal di Salam. Aku bertemu dengannya beberapa kali saja. Satu dua kali bertemu di rumah bupuh Karsohutomo di Gendingan dan satu dua kali bertemu di rumahnya di Wonosobo dan terakhir ya di Salam itu. Itulah pertemuan kami yang terakhir. Tidak lama kemudian beliau jatuh sakit dan wafat untuk kemudian dimakamkan di Wonosobo di dekat makam pakpuh Arisman.

Pada pertemuan terakhir sebelum wafatnya itu seolah pakpuh Sukar ingin menyampaikan sebuah rahasia yang selama ini dipendamnya. Tiba tiba saja ia berkata bahwa saat masih remaja ia sudah direkrut sebagai agen rahasia tentara Belanda. Menahan rasa terkejutku aku berusaha tidak menampakkan ekpresi apa pun. Seolah ingin meyakinkanku pakpuh menunjukkan semacam tatto di pahanya yang putih, bukan tatto, lebih tepatnya adalah cap yang dihasilkan dari besi panas yang ditempelkan di paha sehingga menyebabkan bekas luka yang abadi. Akupun serta merta mempercayainya karena pakpuh Sukar adalah orang yang setahuku tidak pernah berkata tidak jujur. 

Sebagai agen rahasia Belanda pakpuh yang memiliki ibu orang Jawa ditugasi mencari informasi di kalangan tentara Republik. Tetapi pada suatu ketika pakpuh berbalik menjadi agen rahasia tentara Republik, karena kecintaannya pada tanah airnya atau dibina oleh tentara Republik. Tugas barusebagai agen rahasis tentara Republik di umur semuda tentu   bukan tanpa risiko. Jika diketahui tentara Belanda entah apa yang akan terjadi.Bukan suatu kebetulan jika kedua adik iparnya yaitu pakpuh Arisman dan pakpuh Mulyono adalah veteran. Pakpuh Arisman tentara Siliwangi dan pakpuh Mulyono Tentara Pelajar. Boleh dikatakan keluarga kami adalah keluarga nasionalis. Jika tidak menjadi tentara atau pegawai pemerintah ya menjadi aktivis PNI atau PDI.

Saat bercerita mengenai perannya sebagai agen rahasia di masa remajanya itu pakpuh Sukar tidak menunjukkan ekspresi yang berubah. Biasa saja seperti saat ia bercakap cakap denganku saat aku kecil.  Ia kukenal sebagai orang baik. Ibu dan Titik adikku pernah beberapa bulan tinggal bersamanya di Jl Karangnangka Solo.  Rupanya itu adalah rahasia yang disimpannya selama ini terhadapku dan baru diceritakannya pada saat yang dianggapnya tepat.  Ibu saat itu duduk di sebrang kami, entah mendengar entah tidak, mengenai percakapan kami. 

Karena hari mulai senja kamipun berpamitan meninggalkan pakpuh dan bupuh Sukar. Kami melanjutkan perjalanan ke Magelang ke rumah mas Bowo di Perumahan KORPRI. Saat itu mas Bowo sedang berlayar jadi kami tidak berjumpa dengannya . Setelah beristirahat dan makan malam kamipun berpamitan pada bupuh Arisman dan mbak Nunung untuk melanjutkan perjalanan ke Bandung.  Kami mengambil jalan melalui Purworejo kemudian ke Kebumen, Banjar dan Ciamis. Menjelang pagi kami tiba di Bandung. 

Terus terang kisah pakpuh Sukar ini adalah kisah yang paling dramatis yang kudapat selama mengenal keluarga ibuku.



Senin, 24 Juli 2017

Masjid Menara Kudus




Menjelang pukul dua siang kami memasuki kota Kudus setelah satu dua jam perjalanan dari kota Demak diselingi singgah di Kadilangu yang merupakan tempat Sunan Kalijaga. Memasuki kota Kudus ditandai dengan hiasan iklan perusahaan rokok kretek di kiri kanan jalan menandakan kedigdayaan kota itu dalam industri rokok kretek. Tujuan utama kami ke kota ini bukan ingin melihat pabrik rokok atau memborong rokok tapi mengunjungi Masjid Kudus yang tekenal itu, yang menaranya diabadikan dalam pecahan  mata uang rupiah.
Memasuki bagian tengah kota yang padat dan jalan yang tidak begitu lebar sampailah kami di Masjid Kudus, meski mobil harus diparkir beberapa ratus meter di luar area masjid. Cuaca sedang cerah ketika itu, matahari bersinar sangat terik dan udara begitu panas. Melalui jalan-jalan sempit  di antara rumah-rumah penduduk yang sudah tua yang menandakan tuanya pemukiman di sana, akhirnya kami tiba pada tujuan yang kami cari. Suasana ramai ketika itu dengan para pengunjung masjid maupun para peziarah.
 Aku terpesona dengan dengan arsitektur menara masjid yang menyerupai candi terbuat dari batu bata, mengingatkanku pada bangunan bale bengong di Puri Taman Ayun di Bali. Mirip sekali. Hal ini tidak terlepas dari asal usul kota Kudus. Kudus berasal dari bahasa Arab Al Quds atau Yerusalem, bisa juga berarti suci dari kondisi setempat yang merupakan tempat yang suci sejak era Hindu. Menurut berbagai sumber, dahulu kota Kudus bernama Tajug, yang artinya atap bangunan tradisional yang digunakan untuk bersembahyang warga Hindu di daerah itu. Sunan Kudus yang datang kemudian melakukan pendekatan dengan membuat struktur atas menara Kudus berbentuk Tajug. Konon menara masjid Kudus sudah dibangun sebelum masjid Kudus berdiri. Pendirian menara ini dijadikan penanda kelahiran kota Kudus.
Kami memasuki masjid untuk melaksanakan shalat kemudian berkeliling melihat-lihat masjid peninggalan Sunan Kudus dan menikmati menara masjid dari serambi. Masjid Menara Kudus atau Masjid Al Manar bernama Masjid Al Aqsa Manarat Qudus. Disebut Al Aqsa karena batu pertama dibawa Sunan Kudus dari Al Aqsa di Baitul Maqdis (Yerusalem) Palestina. Masjid ini didirikan pada tahun 1549 dengan memadukan pola arsitektur yang memadukan budaya Islam dengan budaya Hindu. Pintu gerbangnya yang bernama Paduraksa seperti pintu gerbang pura di Bali
Kami pun tidak lupa menyempatkan diri berziarah ke makam wali dan keluarganya. Sunan Kudus bernama Ja’far Sidiq atau Raden Undung. Beliau dikenal sebagai salah seorang Wali Sanga. Sunan Kudus memiliki banyak ilmu, menguasai ilmu tauhid, hadis, tafsir, fikih sampai sastra sehingga disebut Waliyul Ilmi. Saat menyebarkan agama Islam beliau sangat berhati-hati. Untuk menghargai pemeluk Hindu yang menghormati sapi, maka Sunan Kudus mengajarkan untuk mengonsumsi daging kerbau. Ajaran ini berlangsung sampai sekarang dan menjadi salah satu kekhasan kuliner kota Kudus.
Dalam Babad Jawa dan Hikayat Melayu, nama Sunan Kudus pertama muncul saat perang jihad pertama di Jawa yang terjadi antara Kerajaan Islam Demak dengan Kerajaan Hindu Majapahit, pada 1524 dan 1526. Saat itu, Sunan Kudus mendampingi imam masjid Demak keempat yang tidak lain merupakan ayahnya sendiri, memimpin peperangan melawan Majapahit. Dalam pertempuran sengit itu, ayah Sunan Kudus gugur. Sunan Kudus kemudian diangkat menjadi imam masjid Demak. Sedangkah menurut Hikayat Hasanudin, Sunan Kudus adalah imam masjid Demak kelima. Pada 1526 dan 1527, Raja Demak Sultan Trenggana memerintahkan Sunan Kudus menyerang Majapahit. Serangan itu dipimpin langsung oleh Sunan Kudus dan berakhir dengan kemenangan Kerajaan Demak. Setelah itu, Sunan Kudus kembali dengan aktivitas keagamaannya di masjid Demak, yakni membumikan ajaran agama Islam.
Sunan Kudus mengembangkan filosofi gusjiang, yang berarti bagus, mengaji dan berdagang. Melalui filosofi tersebut Sunan menuntun masyarakat menjadi orang berkepribadian bagus, tekun mengaji dan mau berdagang. Usaha yang berkembang di antaranya usaha batik dan pembuatan jenang atau dodol. Para pedagang Timur Tengah, Tiongkok dan Nusantara yang berdagang kain, barang pecah belah dan hasil pertanian di Pelabuhan Tanjung Karang, Kudus terinspirasi dengan filosofi Sunan Kudus tersebut. Sayang pelabuhah Tanjung Karang kini tiada lagi karena sedimentasi.

Rabu, 19 Juli 2017

Kadilangu



Berkunjung ke Kadilangu



Selesai mengunjungi Masjid Demak serta menikmati kuliner khas kota Demak di alun-alun Masjid Demak, kami bermaksud berkunjung ke Kudus. Di antara Demak dan Kudus terdapat tempat yang istimewa bernama Kadilangu. Letaknya di sebelah kanan jalan nasional, berbelok beberapa kilometer. Ke sinilah kami menuju.
Meski hanya sebuah kelurahan, Kadilangu adalah tempat istimewa karena di tempat inilah terletak beberapa peninggalan Sunan Kalijaga, satu-satunya Wali asal Jawa dari sembilan wali yang disebut Wali Sanga. Peninggalan Sunan Kali Jaga yang ada adalah makam dan masjid, meskipun demikian yang banyak dikunjungi adalah makam Sunan Kalijaga, sementara Masjid Kadilangu nyaris tidak ada yang mengunjungi karena tidak sepopuler Masjid Demak. Maklum masjid Kadilangu bukanlah masjid besar seperti masjid Demak yang dibangunnya. Usai memimpin pembangunan masjid Demak, Sunan Kalijaga diberi tanah oleh Raden Patah atau Sultan Demak di Kadilangu yang kemudian berkembang menjadi 27 desa, tapi kemudian tinggal sepuluh desa saja karena desa-desa yang lain diambil Belanda pada tahun 1880, karena Belanda takut Kadilangu menjadi negara dalam negara.
 Suasana sangat ramai di pintu gerbang komplek makam Kadilangu. Suasananya mirip di pemakaman Sunan Ampel di Surabaya. Di lorong yang panjang para pedagang berdagang apa saja yang berkaitan maupun tidak dengan prosesi ziarah. Misalnya saja kitab-kitab, mulai dari Al Qur-an, hadits, kitab kuning, riwayat Wali Sanga, riwayat masjid-masjid, buku sejarah kerajaan Islam di Pulau Jawa, maupun buku-buku wirid, doa dan buku ziarah kubur. Kemudian busana, baik busana muslim, pakaian shalat, pakaian adat Jawa, batik, t-shirt serta aksesoris. Ada pula dijual kaligrafi dari huruf Arab maupun Jawa terbuat dari kayu yang diukir, kulit binatang yang ditatah maupun ditulis dengan tinta warna, dari kertas maupun dari kain. Selain itu juga dijual berbagai penganan khas Jawa yang beraneka rupa.
Memasuki komplek pemakaman suasana beralih ke suasana peziarahan dengan ramainya suara para peziarah melatunkan ayat suci Al Qur-an maupun yang sedang berdzikir, berwirid maupun berdoa dengan khusuknya. Makam Sunan Kalijaga merupakan inti pusat peziarahan di komplek makam tersebut, terpisah oleh pagar dan pintu khusus, makam Sunan terdapat di dalam bangunan yang berdiri lama dengan arsitektur yang indah bercat putih. Ke situlah kami menuju untuk melantunkan doa sambil mengenangkan hidup Sunan Kalijaga yang penuh perjuangan untuk menyebarkan agama Islam di Tanah Jawa sambil menyampaikan ajaran-ajarannya yang dikenal dengan Dasa Pitutur atau Sepuluh Nasihat.
Sunan Kalijaga semasa muda bernama Said atau Raden Setya, ia  adalah anak Tumenggung Wilatikta, pejabat kerajaan Majapahit. Menurut Babad Tanah Jawa, Said adalah murid Sunan Bonang dan setelah menjadi seorang wali bernama Sunan Kalijaga. Ia kawin dengan Dewi Sarah binti Maulana Ishak, saudara sepupu Sunan Gunung Jati.  Sunan Kalijaga memiliki pengetahuan luas di bidang kesenian dan kebudayaan Jawa. Ia memanfaatkan tradisi pertunjukan wayang sebagai sarana penyebaran agama Islam (dakwah). Ia pun menciptakan lagu Ilir-ilir yang berisi ajakan masuk agama Islam. Ia  adalah guru dari Hadiwijaya (Bupati Pajang). Selain itu ia juga guru dari Ki Gede Pamanahan, Ki Juru Martani, dan Panjawi, ketiganya adalah keturunan Ki Ageng Selo. Dalam percaturan politik di Demak dan Pajang, Sunan Kalijaga sangat berpengaruh. Ketika Pajang dan Jipang saling berebut kekuasaan atas Demak, ia memihak Pajang dan Pajang pun menang. Pusat pemerintahan Demak pun dipindahkan ke Pajang. Panjawi diberi kekuasaan atas Pati.  Atas pengaruh Sunan Kalijaga pula Ki Gede Pamanahan memperoleh haknya atas Mataram yang diramalkan Sunan Giri akan menjadi kerajaan seperti Pajang.
Puas berziarah dan melihat satu persatu makam keluarga Sunan Kalijaga kamipun meninggalkan makam menuju Kudus. Di tengah perjalanan kami singgah di Masjid Kadilangu. Inilah masjid yang didirikan Sunan Kalijaga. Masjidnya tidak sebesar masjid Demak, seukuran dengan masjid-masjid di pemukiman saat ini. Hanya saja ini memang masjid tua, didirikan pada tahun 1532 dan merupakan cagar budaya yang dilindungi. Dinding-dindingnya terbuat dari tembok tebal bercat putih. Pintu-pintu dan jendelanya terbuat dari kayu jati tua yang bagus, tebal dan kokoh. Kamipun menyempatkan melakukan shalat sunat tahiyatul masjid dua rakaat untuk kemudian melanjutkan perjalanan.