Selasa, 28 Juni 2022

Kongres V PDI Perjuangan di Denpasar




Rapat Pleno Pertama

Masih di bulan Juli, setelah KSB (Ketua Bendahara Sektetaris) bertemu untuk pertama kalinya setelah dilantik, pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung menggelar rapat pleno pertama di sekretariat di Baleendah. 19 orang pengurus hadir lengkap. Agenda pertama adalah perkenalan sesama pengurus dan yang kedua adalah persiapan mengikuti kongres kelima partai.

Meskipun kami sudah bertemu saat pelantikan, namun saat itulah pertama kali saya menyadari siapa siapa saja kawan yang masuk dalam skuad DPC. Secara umum nampak ada dua atau tiga generasi atau angkatan dalam kepengurusan ini. Ada juga yang saya baru mengenalnya untuk pertama kali. Ada beberapa di antaranya adalah anak dari kawan saya. Jadi ada yang memanggil saya pak, om atau kang.

Pengurus DPC kali ini merupakan campuran dari orang lama seperti saya, Wewen Winarni,Dentarsa Denni , Achmad Mulyana. Ada pula yang menengah seperti Henhen Asep Hen Hen Asep Suhendar, Erwin, Nanang Parhan tapi sebagian besar orang baru. Ada pula orang lama tapi baru masuk ke dalam struktur DPC seperti Juwita, Fatimah, Rudita Hartono, Dwi, Andri , Gungun, Yulianti. Yang benar benar baru adalah Luthfi, Chrysencia Gita dan Arief Gustamara dan Sri Wahyuni. 

Dibanding pengurus sebelum-sebelumnya, kawan kawan saya ini memiliki latar belakang yang sangat bervariasi baik profesi maupun organisasinya. Saya menganggap ini suatu hal yang baik.

Setelah perkenalan kami membahas persiapan ke Kongres V PDI Perjuangan di Bali pada tgl 8-9-10 Agustus. KSB (Ketua Sekretaris Bendahara) berangkat dengan dukungan biaya secara gotong royong dari kawan kawan. Kami tidak bisa memberangkatkan PAC (Pengurus Anak Cabang) dan PR (Pengurus Ranting) karena sebagai pengurus baru kami tidak memiliki dana yang cukup. Akhirnya kawan kawan banyak yang berangkat dengan inisiatif dan biaya sendiri. Ada juga yang ikut bersama rombongan DPD (Dewan Pimpinan Daera) PDI Perjuangan Jawa Barat.

Usai rapat pleno, kang Iwan wartawan balebandung.com sudah menunggu untuk wawancara. Itulah wawancara yang pertama di ruang kerja saya.

Berangkat ke Bali

Tengah malam tanggal 6 Agustus, saya,kang Dentarsa Denni dan kang Ryan Belekok, berangkat ke Jakarta dari Bandung dengan menggunakan transportasi bus antarmoda. Saat subuh kami tiba di bandara Soekarno-Hatta. Setelah sholat dan sarapan kami melakukan check-in di konter maskapai sambil menimbang bagasi (yang sudah dikenai tarif baru) dan tidak berapa lama masuk ke ruang tunggu dan melampiaskan kantuk di atas kursi. Saat matahari mulai terbit kang Ryan membangunkanku dan aku bergerak ke sudut yang lain menemui pak Adang Ruchiatna untuk berbincang-bincang. Ternyata kami satu peawat ke Bali.

Tanpa transit pesawat langsung ke Denpasar. Pukul 11.00 WIT kami tiba di bandara Ngurah Rai. Panitia Kongres V yang berpakaian adat Bali sudah menjemput dan kami memasuki bus yang telah disediakan. Di dalam bus kami bertemu dengan para utusan dari luar Jawa -di antaranya ada bupati walikota dan anggota DPRD- juga utusan dari luar negeri seperti Berlin dan Bangkok. Kamipun dibawa ke Sanur melewati jalan tol yang melayang di atas laut. Sekitar satu jam perjalanan kami pun tiba di Grand Inna Bali Beach Hotel untuk registrasi. Teman teman dari Jawa Barat sudah menunggu. Usai registrasi kami dibawa ke peninapan di Puri Dalem, sekitar 500 m dari GIBBH untuk check in.

Malam harinya Ketum PDI Perjuangan Megawati Soekarno mengundang delegasi dalam acara Selamat Datang di ballroom GIBBH untuk makan malam dan menyaksikan pagelaran kesenian. Kami tidak hadir ke undangan Ketua Umum karena memenuhi undangan Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat, bung Ono Surono melalui pesan WA :

"kepada kawan" utusan Kongres , KSB DPC se Jawa Barat ..... dalam rangka persiapan menjelang kongres V , dpd mengundang seluruh utusan dpc ( hanya utk KSB ) . .jamuan makan malam , ,hari Rabu, 7 agustus, pkl . 19.00- tempat : warung " be pasih " , jln. pemuda III no 24 renon, denpasar . tks. ,cc. ketua dpd."

Acara di Warung Be Pasih berlangsung hingga sekitar pukul 23.00 WIT. Setelah itu kami kembali ke penginapan. Di pendopo hotel kami bertemu dan ngobrol dengan beberapa utusan dari daerah lain. Ada juga kang Tatat, kawan lama dari kota Bandung. Kamipun ngobrol ngalor ngidul sampai menjelang pagi.

 


 

Pembukaan Kongres V PDI Perjuangan

Kamis, 8 Agustus 2019. Peserta kongres sudah memadati lobby Grand Inna Bali Beach Hotel di kawasan Sanur, Denpasar. Suara musik memenuhi udara. Sebuah repertoar dipertunjukkan di lobby, satunya lagi di sebuah panggung yang memang telah disediakan di bagian belakang. Panggung khas Bali dibuat sangat artistik dengan anyaman daun lontar membentuk figur wajah makhluk imajinatif. Di kiri kanan ada patung makhluk futuristik, juga terbuat dari anyaman lontar. Warna hijau pucat daun lontar yang kering diselingi warna merah kuning dan biru. Membelakangi laut, panggung ini nampak begitu megah tapi juga anggun. Di situlah peserta dan peninjau berkumpul untuk ngopi dan menyaksikan pertunjukan.

Pembukaan Kongres V berlangsung di convention hall yang luas namun terasa sempit karena banyaknya peserta dan tamu yang datang. Delegasi Jawa Barat ditempatkan di sayap kanan, di arah pintu keluar, sehingga tak bisa langsung melihat ke podium. Kami hanya bisa melihat pimpinan sidang dari layar televisi yang banyak disediakan. Meskipun demikian posisi ini cukup strategis karena dijadikan jalan bagi Ketua Umum dan undangan menuju ruang tunggu. Dengan demikian kami bisa bertemu mereka tanpa harus meninggalkan tempat.

 




Lepas waktu zuhur Ketua Umum PDI Perjuangan memasuki ruang sidang bersama Presiden Jokowi dan rombongan tamu undangan seperti Prabowo, Surya Paloh, Erlangga Hartarto, Muhaimin Iskandar, Wiranto, Ryamizard Ryacudu, Ahok dll. Setelah Sekjen menyampaikan laporan mengenai kesiapan kongres, gubernur Bali, Wayan Koster ikut enyampaikan "rahajeng rawuh", juga memberi hadiah destar bagi setiap peserta. Peserta juga diberi botol minuman yang harus dibawa setiap hari untuk mengurangi sampah plastik. Air minum disediakan pada dispenser di beberapa sudut ruangan. Kongres pun dibuka oleh Ketua Umum setelah menyampaikan pidatonya yang panjang dan penuh canda tawa tapi juga pesan pesan politik terselubung. Presiden pun menyampaikan pidato sambil "berbalas pantun" dengan Ketua Umum mengenai kursi mentri. Para peserta dan undangan senyum senyum mendengarnya. Di antara laporan panitia, pidato pembukaan Ketua Umum dan pidato Presiden, ada selingan pertunjukan tari Bali dan tari daerah lain yang semarak dan memikat. Baru saat ashar tiba, acara pembukaan selesai. Peserta berhamburan ingin menyalami Ketum, Presiden, Gubernur, para mentri dan para pesohor lainnya.

Setelah rehat sejenak, sidang kongres dimulai, DPP (Dewan Pimpinan Pusat) PDI Perjuangan menyampaikan laporan pertanggungjawaban, perwakilan delegasi menyampaikan pandangan dan kemudian DPP dinyatakan demisioner. Untuk memimpin sidang ditunjuk Respationo, wakil gubernur Riau Kepulauan sebagai ketua didampingi beberapa orang sebagai sekretaris dan anggota. Rapat berlangsung hingga malam. Acara disusun sangat ketat nyaris tidak memungkinkan peserta meninggalkan ruang sidang. Makan malam dan rehat kopi pun dilakukan dalam ruangan. Beberapa peserta yang melanggar disiplin diberi sanksi organisasi hingga pemecatan dari jabatannya pada struktur partai.

Malam itu juga secara aklamasi Megawati ditetapkan oleh Kongres dan dilantik oleh ketua sidang Respationo menjadi Ketua Umum PDI Perjuangan periode 2019-2024.

Malam telah larut ketika saya, Henhen dan Dentarsa tiba di penginapan. Beberapa kawan kawan DPC (Dewan Pimpinan Cabang) datang berkunjung dan kami pun ngobrol di beranda hingga menjelang pagi.

Puri Dalem tempat kami menginap merupakan komplek terdiri dari banyak rumah kecil atau cottage. Untuk sampai di kamar saya harus melalui banyak cottage berarsitektur Bali, taman yang asri dan dua kolam renang kecil yang menggoda untuk menyeburkan diri. Banyak "bule" berenang di situ saat kami pergi untuk sarapan, atau pergi pulang ke tempat kongres berlangsung.

 

Sidang Komisi

Jumat, 9 Agustus 2019. Kongres H2. Peserta Kongres V PDI Perjungan dibagi ke dalam lima komisi. Saya masuk dalam Komisi 4 bidang Pemenangan Pemilu yang dipimpin Gubernur Maluku, bersama Bambang Wuryanto (Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Tengah, Arif Wibowo, dan Eko (Ketua DPC PDI Perjuangan Yogyakarta). Peserta mencermati materi yang telah disediakan dan memberi masukan serta perbaikan seperlunya. Meski begitu rapat berjalan hangat karena ada banyak pimpinan eksekutif daerah yang berbicara di samping mereka yang gagal dalam pencalonan kepala daerah. Faktor faktor ideologi, popularitas, elektabilitas hingga "isitas" dibahas meski tidak tuntas. Menjelang salat Jumat rapat diakhiri. Semuanya diserahkan pada pimpinan sidang untuk membuat laporan dan rekomendasi. Di sela sela waktu rehat kopi saya berbincang-bicang dengan utusan lain dari seluruh Indonesia. Inilah antara lain manfaat ikut kongres.

Saya bergegas meninggalkan tempat kongres. Beruntung masih di dalam kompleks Grand Inna Bali Beach Hotel ada sebuah masjid. Hanya terhalang lapangan golf. Kesitu saya menuju. Rasanya sungguh luar biasa bisa melaksanakan shalat Jumat bersama delegasi dari seluruh Indonesia, di Pulau Dewata pula. Saya saksikan para peserta kongres khusyu menjalankan ritual mingguan ini. Sebelumnya takmir masjid Al Ihsan GIBBH menyampaikan ucapan selamat datang pada seluruh peserta Kongres V PDI Perjuangan dan berterimaksih atas penyerahan hewan qurban sebanyak 100 ekor kambing dari Panitia Kongres.

Usai shalat Jumat ada makan siang di tepi pantai. Kemudian kongres dilanjutkan dengan sidang pleno penyampaian hasil rapat dari Komisi 1 sd. Komisi 5. Meskipun ada sedikit tanya jawab tapi keseluruhannya dapat diterima dan ditetap menjadi keputusan kongres.

Dalam rapat pleno itu ada dua materi tambahan: (1) soal HAKI (Hak Atas Kekayaan Intelektual) yang disampaikan Bambang Kesowo (ex Sekab) dan (2) soal sosialisasi penanggulangan HIV/AIDS oleh Ketua Umum sendiri.

Kongres H2 berlangsung hingga sekitar pukul 20.00 WIT. Saat itu peserta menebak-nebak siapa yang masuk jajaran DPP yang akan diumumkan saat penutupan kongres, esok hari.

Saya pulang ke penginapan seorang diri menyusuri pantai Sanur yang entah berapa kali saya susuri. Perahu-perahu bersandar dalam kegelapan. Toko toko souvenir sudah tutup. Satu dua kafe dan restoran masih buka. Ada di antaranya menggelar live music berirama reggae dari musisi setempat. Tapi saya tidak tergoda untuk singgah. Apalagi masih dalam balutan seragam partai yang merah menyala. Saya berbelok ke kiri dan langsung menuju hotel Puri Dalem, di mana kawan kawan sudah menunggu untuk bercengkrama dan ngopi sampai pagi.

 

Susunan Pengurus DPP PDI Perjuangan 2019-2024

Konggres hari ketiga (10 Agustus) yang paling ditunggu-tunggu. Ketua umum menyampaikan susunan pengurus DPP PDI Perjuangan. Hampir semua pengurus sebelumnya masih masuk ke dalam dalam jajaran pengurus yang baru. Yang saya ingat Bung Andreas Pareira dan Pak Idham Samawi tidak masuk. Pengurus baru yang masuk antara lain Bung Bambang Wuryanto dan Bung Arif Wibowo. Tidak ada jabatan Wakil Ketua Umum dan Pengurus Harian. Mereka kemudian dilantik dan menyampaikan janji jabatan di depan kongres. Tidak sampai tengah hari, kongres pun ditutup. Para peserta kemudian berhamburan ke luar ruang sidang. Sebagian besar menuju ke sekitar panggung hiburan.

Berikut ini nama-nama pengurus DPP PDI Perjuangan hasil Kongres V :

Susunan Struktur dan Personalia DPP PDIP Periode 2019-2024

1. Ketua Umum : Megawati Soekarnoputri

2. Ketua Bidang Kehormatan : Komarudin Watubun

3. Ketua Bidang Ideologi dan Kaderisasi : Djarot Syaiful Hidayat

4. Ketua Bidang Pemenangan Pemilu : Bambang Wuryanto

5. Ketua Bidang Keanggotaan dan Organisasi : Sukur Nababan

6. Ketua Bidang Pemerintahan Hankam : Puan Maharani

7. Ketua Bidang Hukum HAM PUU : Yasonna Laoly

8. Ketua Bidang Perekonomian : Said Abdullah

9. Ketua Bidang Pangan, Pertanian dan LH : I Made Urip

10. Ketua Bidang Kelautan Perikanan : Rochmin Dahuri

11. Ketua Bidang Luar Negeri : Ahmad Basarah

12. Ketua Bidang Penanggulangan Bencana : Ribka Tjiptaning

13. Ketua Bidang Industri Tenaga Kerja dan Jamsos : Nusyirwan Sudjono

14. Ketua Bidang Kesehatan Perempuan dan Anak : Sri Rahayu

15. Ketua Bidang Kebudayaan : Tri Risma Harini

16. Ketua Bidang Koperasi dan Peningkatan Kesra : Mindo Sianipar

17. Ketua Bidang Pariwisata : Wiryanti Sukamdani

18. Ketua Bidang Pemuda Olahraga : Eriko Sotarduga

19. Ketua Bidang Keagamaan dan Kepercayaan : Hamka Haq

20. Ketua Bidang Ekraf dan Digital : M. Prananda Prabowo

21. Sekretaris Jenderal : Hasto Kristiyanto

22. Wakil Sekretaris Jenderal Internal : Utut Adianto

23. Wakil Sekretaris Jenderal Pemerintahan : Arif Wibowo

24. Wakil Sekretaris Jenderal Kerakyatan : Sadarestuwati

25. Bendahara Umum : Olly Dondokambey

26. Wakil Bendahara Internal : Rudianto Tjen

27. Wakil Bendahara Program : Juliari Batubara

 

Di depan pangung kesenian saya bertemu silih berganti dengan kawan-kawan dari berbagai provinsi kabupaten dan kota juga dengan para pengurus DPD PDI Perjuangan Jawa Barat beserta badan badannya. Beberapa kawan yang membawa kendaraan sendiri dari Bandung satu satu meninggalkan lokasi kongres. Demikian juga yang ke luar pulau Bali.

Saat kami berempat meninggalkan lokasi suasana mulai sepi. Saya mengajak kawan-kawan berjalan jalan sepanjang pantai Sanur. Tadinya saya ingin mengajak mereka ke Museum Lukisan Le Mayeur yang tidak jauh dari Grand Inna Bali Beach Hotel. Sayang museum tutup karena mungkin hari Sabtu. Akhirnya kami menuju ke Bazaar Rakyat yang masih buka menjual berbagai busana dan pernak pernik kongres. Dan akhirnya kami kembali ke lokasi kongres untuk terakhir kalinya sebelum kembali ke Bandung

 

Salat Id di Denpasar

Sanur, Denpasar, tanggal 11Agustus 2019 bertepatan dengan Idul Adha 10 Dzulhijah 1441 atau biasa disebut Lebaran Haji. Semalam saya tidur larut malam dan mandi keramas dengan air panas dengan niat ingin shalat Id. Jadi paginya saya langsung membawa sajadah dan bergegas mennggalkan kamar hotel. Jalan sepi. Pak polisi sudah berjaga-jaga di sekitar masjid Al Ihsan Grand Inna Bali Beach Hotel. Satu dua jamaah berjalan tergesa. Tiba di halaman masjid, jamaah sudah meluber. Mereka menggelar sajadah di rerumputan. Saya pun demikian. Masih sempat mendengar khutbah Idul Adha. Begitu selesai jamaah bergegas ke tempat parkiran motor. Cabut.

Saya tidak bersegera meninggalkan masjid. Bertemu bung Abidin Fikri lalu mendekat ke panggung yang telah disediakan. Ada serah terima kambing qurban dari Bung Djarot Syaiful Hidayat, Prof.Hamka Haq dan Ahmad Basarah kepada takmir masjid. Ada juga pidato Gubernur Bali, Wayan Koster. Saya sempat menyalami mereka saat mereka meninggalkan halaman masjid. Beberapa delegasi kongres membuat foto atau vlog di depan masjid.

Saya bertemu dengan bung Noval dan bung Ivan, dari sekretariat DPP dan keluarganya. Rombongan mereka sebanyak tiga bus masih punya agenda di Bali.

Siang itu juga kami checked out dari hotel. Dengan menggunakan taxi online kami menuju bandara lewat jalan tol yang dibangun melayang di atas laut. Menjelang pukul 13.00 WIT kami tiba di bandara I Gusti Ngurah Rai. Tidak berapa lama pesawat lepas landas.

Momen ketika pesawat lepas landas dari bandara Ngurah Rai sangat saya tunggu. Pesawat meninggalkan landasan pacu yang menjorok ke laut. Lalu pelan pelan pesawat terbang di atas laut meninggalkan daratan Pulau Dewata di kejauhan. Alhamdulillah pesawat tinggal landas dengan mulus.

 

Kurang lebih dua jam setelah tinggal landas, pesawat mendarat dengan selamat di Bandara Bagusrangin Kertajati, Majalengka, Jawa Barat. Ini pertama kali saya tiba di bandara yang masih dalam pembenaan ini. Beberapa penumpang jurusan Medan melakukan transit di bandara sekitar satu jam. Saya dkk langsung ke luar dan mencari kantin untuk makan petang.

Sekitar pukul 18.00 kami memasuki bus Damri yang menyediakan layanan gratis ke Bandung. Bus memasuki jalan tol menuju Cikampek lalu memasuki ruas Padaleunyi. Sekitar pukul 20.00 kami tiba di pool Jl. Kebon Kawung. Dari sana saya mengunakan taksi daring ke rumah. Alhamdulillah perjalanan Bandung-Jakarta-Denpasar-Bandung dalam Kongres V PDI Perjuangan berjalan selamat lancar jaya.

 

Sikap Politik PDI Perjuangan

Kongres V PDI Perjuangan berakhir dengan menghasilkan beberapa keputusan dan rekomendasi seperti penetapan Megawati Sukarnoputri sebagai Ketua Umum dan susunan DPP PDI Perjuangan; penetapan perubahan AD/ART PDI Perjuangan; penetapan rehabilitasi nama baik anggota; penetapan hasil-hasil lima sidang komisi ; rekomendasi soal HAKI dan sosialisasi penanggulangan HIV/AIDS.

Kali ini saya ingin menyampaikan hasil sidang komisi mengenai Sikap Politik Partai sebagai berikut yang saya kutip dari medio online.

23 Sikap Politik PDIP Hasil Kongres V di Bali.

Setelah tiga hari menggelar rapat akbar dengan seluruh pengurus di Indonesia, Kongres V PDI Perjuangan berakhir pada hari Sabtu (10/8).

Selain memilih ketua umum, PDIP juga menentukan sikap politik untuk lima tahun ke depan.

Sikap politik itu ditetapkan setelah melalui rapat-rapat komisi di dalam rangkaian kongres. Hasilnya, sikap politik PDIP dirumuskan mulai dari bidang ekonomi, budaya, hingga kesehatan.

Sikap politik itu dimuat dalam dokumen yang dibacakan saat kongres dan telah disetujui untuk disebarkan ke publik.

Salah satu sikap politik PDIP adalah mendorong kembali lahirnya produk Garis Besar Haluan Negara (GBHN), yang selama ini tidak diadakan sejak amandemen UUD 1945 tak lagi dipergunakan.

"Demi menjamin kesinambungan pembangunan nasional perlu dilakukan amandemen terbatas UUD NRI 1945 untuk menetapkan kembali MPR sebagai lembaga tertinggi negara dengan kewenangan menetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai pedoman penyelenggaraan pemerintahan," seperti dikutip dalam Sikap Politik PDIP, Sabtu (10/8)

PDIP juga menegaskan sikapnya dalam isu lingkungan. PDIP meminta negara ikut memastikan kelestarian lingkungan, salah satunya degradasi hutan.

"Negara wajib menjamin kelestarian lingkungan dengan memastikan pembangunan yang tidak melampaui daya dukung dan daya tampung serta baku mutu lingkungan hidup, serta memenuhi komitmennya terhadap mitigasi perubahan iklim dengan mencegah degradasi hutan, restorasi lahan gambut dan pengembangan energi baru dan terbarukan," demikian bunyi poin ke-15.

Berikut sikap Politik PDIP sebagai hasil Kongres V:

1. Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara Indonesia bersifat final dan mengikat.

2. Pancasila sebagai pedoman kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

3. Pancasila sebagai pedoman dalam merumuskan rencana pembangunan, keputusan kebijakan pembangunan, implementasi kebijakan pembangunan dan dalam pengawasan atas dijalankannya kebijakan pembangunan.

4. Pancasila harus dapat diwujudkan dalam bentuk tercapainya kesejahteraan dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang dicapai melalui kebijakan pembangunan yang berlandaskan pada

penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi yang terencana, terarah, dan terukur.

5. Pancasila diimplementasikan dalam kebijakan pembangunan, sebagai upaya membumikan Pancasila untuk mencapai Indonesia yang ber-Trisakti, yaitu berdaulat di bidang politik, berdiri di atas kaki sendiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian dalam kebudayaan.

6. Negara wajib memantapkan Politik Hukum nasional untuk membumikan nilai-nilai Pancasila dengan menjadikan norma dasar (groundnorm) Pancasila sebagai parameter pembentukan Peraturan Perundang-undangan.

7. Demi menjamin kesinambungan pembangunan nasional perlu dilakukan amandemen terbatas UUD NRI 1945 untuk menetapkan kembali MPR sebagai lembaga tertinggi negara dengan kewenangan menetapkan Garis-garis Besar Haluan Negara (GBHN) sebagai pedoman penyelenggaraan pemerintahan.

8. Negara wajib membentuk sistem pertahanan nasional yang kuat dalam menghadapi ancaman infiltrasi paham, ideologi, kekuatan global sehingga keamanan nasional, ketenangan Rakyat dan keutuhan Negara dapat terukur dan terwujud, serta membangun sistem keamanan nasional yang mampu mengatur kerjasama semua kekuatan nasional dalam menghadapi ancaman keamanan nasional yang bersifat luar biasa seperti serangan terorisme, kerusuhan, dan bencana alam.

9. Negara wajib mendukung pemberantasan tindakan kriminal yang menjadikan anak dan perempuan sebagai objek eksploitasi di dunia kerja, dan objek transaksi dalam masalah kejahatan perdagangan manusia (human trafficking), baik di dalam negeri maupun lintas negara.

10. Negara wajib menegakkan hukum dengan menjatuhkan hukuman maksimal kepada para pelaku korupsi, sehingga menimbulkan efek jera bukan hanya bagi pelaku korupsi tetapi juga potensi-potensi calon-calon koruptor yang ada di semua jajaran dan semua tingkatan penyelenggara Negara.

11. Negara wajib menyusun rencana pembangunan nasional dengan semangat Pembangunan Nasional Semesta Berencana (PNSB) bagi terwujudnya masyarakat adil dan makmur berdasarkan landasan ideologi Pancasila dan landasan konstitusional UUD RI 1945, serta melakukan koreksi terhadap kebijakan dan ketentuan peraturan-perundangan yang tidak sesuai, dan perlu menyusun konsepsi

Sistem Ekonomi Gotong-Royong yang sesuai dengan ideologi Pancasila dan cita-cita kemerdekaan (kedaulatan).

12. Negara wajib terus mengembangkan perekonomian nasional yang mewujudkan kedaulatan ekonomi dan menghindari terjadinya berbagai ketimpangan struktural yang menjadi sumber ketidakadilan sosial-ekonomi dengan mengembangkan program untuk meningkatkan penguasaan dan pemilikan aset ekonomi, dan akses modal serta pasar kepada pelaku ekonomi kerakyatan.

13. Negara wajib mengelola keuangan negara untuk pemenuhan hak-hak dasar Rakyat, dengan meningkatkan alokasi anggaran untuk belanja publik lebih besar daripada belanja aparatur.

14. Negara wajib memberikan jaminan sosial bagi seluruh warga negara, sesuai perintah UU SJSN dan UU BPJS, serta perlindungan dan pemenuhan hak-hak penyandang disabilitas .

15. Negara wajib menjamin kelestarian lingkungan dengan memastikan pembangunan yang tidak melampaui daya dukung dan daya tampung serta baku mutu lingkungan hidup, serta memenuhi

komitmennya terhadap mitigasi perubahan iklim dengan mencegah degradasi hutan, restorasi lahan gambut dan pengembangan energi baru dan terbarukan.

16. Negara wajib menjadi pelopor gerakan Revolusi Mental dan menjadikannya sebagai “Gerakan Hidup Baru” melalui perubahan cara berfikir, cara kerja, dan cara berperilaku yang memperkuat kedaulatan, meningkatkan kemandirian dan meneguhkan kepribadian dalam kebudayaan nasional, serta menjadi pelopor dan pendorong perubahan pikiran, sikap, dan perilaku masyarakat agar berorientasi pada kemajuan dan pengayaan keanekaragaman budaya dalam bingkai persatuan nasional.

17. Negara wajib mendorong revisi Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional tahun 2003 untuk meningkatkan kualitas pendidikan keilmuan dan karakter yang dilandaskan kepada nilai-nilai Pancasila.

18. Negara wajib memfasilitasi Perguruan Tinggi sebagai pusat keunggulan (centre of excellence) di setiap wilayah dengan mengembangkan potensi lokal dan kekhasan budaya, inovasi sains dan teknologi untuk memecahkan berbagai persoalan masyarakat.

19. Negara wajib menjaga persatuan nasional yang dibangun atas dasar keanekaragaman ekspresi kebudayaan nasional dan diperkaya oleh interaksi inklusif antarbudaya yang ada di Indonesia, serta mengintensifkan interaksi dan gotong-royong antar-kelompok budaya di masyarakat agar menghadirkan pengalaman konkrit atas keanekaragaman budaya dalam bingkai persatuan nasional.

20. Melakukan penguatan advokasi, preventif, promotif dan langkah aksi nyata untuk menekan gizi buruk dan gizi kurang pada balita serta menekan status gizi pendek (stunting), proporsi berat badan lebih balita maupun obesitas pada masyarakat dewasa, serta melakukan sosialisasi tentang pentingnya imunisasi secara lengkap dengan melibatkan tokoh masyarakat (termasuk agama) dan institusi pendidikan.

21. Melakukan pencegahan, penanganan dan penegakan hukum secara tegas terhadap pelaku peredaran narkotika tanpa pandang bulu, pencegahan terhadap HIV-AIDS, penanganan dan perlindungan terhadap Orang Dengan HIV-AIDS serta melakukan pemerataan sosialisasi terapi ARV (terapi bagi ODHA).

22. Negara wajib mengembangkan sistem pemilu dan kepartaian yang sejalan dengan terwujudnya sistem pemerintahan presidensial yang efektif. Oleh karena itu upaya menciptakan sistem pemilu dan kepartaian yang sederhana melalui pengaturan secara demokratik, efisien, dan efektif mutlak diperlukan.

23. Negara wajib memberikan perlindungan hukum atas Hak Kekayaan Intelektual termasuk keanekaragaman hayati dan kekayaan budaya, serta mendorong hasil penelitian dan inovasi oleh warga negara Indonesia untuk mendapatkan Hak Paten dengan prosedur yang mudah, cepat dan murah.

 

 

Minggu, 17 April 2022

Konferda PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat

 


Tidak berapa lama setelah konfercab di tingkat kota /kabupaten, dilakukan Konferda (Konferensi Daerah)  untuk membentuk struktur kepengurusan PDI Perjuangan tingkat provinsi Jawa Barat. Konferda PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat diselenggarakan di Hotel Asrilia pada hari Sabtu, tanggal 27 Juli 2019.

Rapat Pleno Konferda PDI Perjuangan Jawa Barat dipimpin oleh Jeje Wiradinata, Maman Yudia dan Karna Sobahi. Mereka ialah tiga Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dari tiga kabupaten dengan perolehan terbesar suara di Jawa Barat yakni Pangandaran, Subang, dan Majalengka. Rapat turut dihadiri sejumlah pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) yakni Sekjen Hasto Kristiyanto,Wasekjen PDI-P Utut Adianto, dan tiga Ketua DPP PDI-P yakni Andreas Hugo Pareira, Nusyirwan Sudjono, dan Sukur Nababan

Rekomendasi diberikan kepada Bung Ono Surono sebagai Ketua, Bung Ir Ketut Sustiawan sebagai Sekretaris dan Teh Ineu Purwadewi sebagai Bendahara. Mereka bertiga bersama beberapa orang formatur menyusun komposisi lengkap DPD PDI Perjuangan Jawa Barat beserta Badan-badannya. Kepengurusan ini dilantik oleh DPP PDI Perjuangan pada hari itu juga menggantikan kepengurusan Pak Tubagus Hasanuddin dkk.

Tugas DPD PDI Perjuangan yang baru tidakah ringan setelah Partai kalah dalam Pilgub, Pileg dan Pilpres di tingkat Jawa Barat. Ada keharuan waktu melepas Pak Tb. Bagaimanapun saya dkk sempat menampingi beliau selama masa kampanye dan saya pun sempat berkampanye untuk Hasanah (Hasanuddin-Anton Charliyan Amanah) di RRI Badung. Yang paling mengharu biru tentu saja saat debat calon di Kampus UI Depok. Ketika itu ada paslon yang memancing emosi sehingga suasana sempat rusuh dan debatpun ditutup. KPUD Jabar dianggap lalai. 

 


 

KSB (Ketua Sekretaris Bendahara) DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat sangat saya kenal baik. Bung Ono saya kenal sejak saya menjadi anggota DPRD Jawa Barat dapil Cirebon-Indramayu. Dukungan dan bantuan Bung Ono memungkinkan saya terpilih bersama Haji Iwan Fauzi dan Bu Selly Gantina. Adapun Bung Ketut saya kenal sejak tahun 1992. Beliau dan saya sama sama menjadi anggota legislatif di Bandung. Bedanya bung Ketut di kota sayadi Kabupaten. Kamipun sama sama menjadi Sekretaris DPC. Sedangkan Bu Ineu saya kenal sejak muda karena ayahnya (Yusep Purwasuganda, wakil walikota Bandung) adalah teman seperjuangan. Pada saat dilantik, Bung Ono dan Bung Ketut adalah anggota DPR RI dan Bu Ineu adalah Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat.

Pengurus DPD PDI Perjuangan Jawa Barat yang lainnya juga yang saya kenal baik. Bung Abdy Yuhana, Bung Bedi Budiman, Bung Gatot Tjahyono, Bung Mathius Tandiontong , Bung Memo, Teh Nia, dr Rinie Chaerunisa , Bung Tom Maskun, Bung Apriyanto Wijaya, Bung Edi Suripno, Bung Bambang Mujiarto, Teh Nia Purnakania  dll. Ada juga wajah baru seperti teh Sofia dan beberapa nama lainnya.

Susunan DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat yang baru dilantik Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto. Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto berharap kepengurusan partainya di Jawa Barat mampu meningkatkan perolehan suara pada Pemilu 2019 dan memenangkan sejumlah Pilkada di sana. "Semoga susunan DPD PDI-P Jawa Barat periode 2019-2024 mampu mengemban amanah ini. Semua bekerja dengan sepenuh hati, mencintai Partai, dan menggalang dukungan rakyat dengan penuh semangat," ujar Hasto usai menghadiri Konferda DPD PDI-P Jawa Barat. Ia meminta seluruh jajaran kepengurusan DPD PDI-P Jawa Barat segera berkonsolidasi untuk memenangkan Pilkada serentak 2020 di sejumlah kabupaten dan kota di provinsi tersebut. Ia juga meminta struktur partai segera memetakan kekuatan untuk mempersiapkan strategi pemenangan PDI-P pada Pemilu 2024 di Jawa Barat.

Hasto mengatakan, beberapa isu yang bisa digunakan untuk menarik partisipasi masyarakat Jawa Barat dalam kegiatan partai ialah menjaga kelestarian sungai Citarum. Sebab, sungai Citarum membelah sebagian besar wilayah kabupaten dan kota di Jawa Barat. Baca juga: PDI-P Jabar Minta Partai Pecat Kader yang Ditangkap Tangan KPK Aktivitas bersih-bersih sungai Citarum diprediksi bakal menarik perhatian masyarakat Jawa Barat. "Partai harus memerhatikan pentingnya pengelolaan lingkungan, pentingnya pengembalian sungai Citarum yang bersih," lanjut Hasto.


Ajang Konferda menjadi sarana pertemuan dengan kawan-kawan lama seperti kang Rudi Harsa, kang Yadi dll.

 

 

Senin, 28 Februari 2022

Menjadi Ketua Partai Politik

 


Jika tanggal 4 Juli di AS diperingati sebagai hari kemerdekaan (independence day) dan di Indonesia diperingati sebagai hari lahirnya PNI (Partai Nasional Indonesia). Bagi saya dan kawan kawan tanggal tanggal 14 Juli juga perlu dikenang karena pada 14 Juli 2019 kami memulai babak baru dalam kehidupan kepartaian, khususnya di Kabupaten Bandung.

Pada hari itu, Sabtu, 14 Juli 2019, mulai pukul 09.00, PDI Perjuangan Kabupaten Bandung melaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) di Hotel Horison. Sidang Konfercab dipimpin oleh Andreas Hugo Pareira dari DPP; Ketut Sustiawan, Abdy Yuhana dan Yadi Srimulyadi dari DPD Jawa Barat. Acara sidang adalah penyampaian Laporan Pertanggungjawaban dari Wewen Winarni (Ketua), Deky Hisyanto (Sekretaris), Nanang Farhan (Bendahara) dan pengurus DPC lainnya. Setelah LPJ diterima oleh para peserta Konfercab (yaitu para KSB PAC), acara dilanjutkan dengan pembacaan Rekomendasi DPP megenai nama-nama Ketua, Sekretaris dan Bendahara DPC PDI Perjuangan untuk periode 2019-2024.

Surat Rekomendasi DPP dibacakan oleh Andreas Hugo Pareira, salah seorang Ketua DPP. Dalam surat itu dinyatakan bahwa Dr. H. Harjoko Sangganagara M.Pd sebagai Ketua, Henhen Asep Suhendar sebagai Sekretaris dan Dentarsa Denni SE, sebagai Bendahara (KSB). Surat rekomendasi ditandatangani oleh Megawati Sukarnoputri selaku Ketua Umum dan Hasto Kristiyanto sebagai Sekretaris Jendral. Bagi saya pribadi ini adalah untuk kedua kalinya saya ditunjuk oleh Megawati menjadi pengurus partai. Surat pertama adalah penunjukan saya oleh beliau pada tahun 1997. Saat itu Sekjennya adalah Alexander Litaay. Jarak surat pertama dengan surat yang kedua adalah 22 tahun 🙂

KSB bersama tiga orang formatur (Ketua PAC Katapang, Ketua PAC Pamengpeuk dan Ketua PAC Nagrek) menyusun kepengurusan DPC secara lengkap yang akan dilantik pada saat itu juga.

Susunan Pengurus

Saat menyusun komposisi personal KIM (Kabinet Indonesia Maju), saya dengar Presiden Jokowi harus memilih sekitar 30 dari 300 orang yang telah didaftar. Memang tidak mudah. Saya saja membentuk struktur kepengurusan partai di tingkat kabupaten juga memerlukan musyawarah panjang untuk mufakat.

Sabtu, 14 Juli 2019, sekitar pukul 14. 00, bertempat di lantai 1 Hotel Horison Bandung, KSB (Ketua Sekretaris Bendahara) disertai tiga perwakilan Ketua PAC (Pengurus Anak Cabang) dari Katapang (Erwin) , Pamengpeuk (Dian) dan Nagrek (Asep ) menjadi formatur penyusunan DPC (Dewan Pengurus Cabang) PDI Perjuangan Kabupaten Bandung. Dari puluhan nama yang sudah disiapkan sekretaris dan para ketua PAC kami memilih 16 orang sebagai wakil ketua, wakil sekretaris dan wakil bendahara. Setelah bermusyawarah sekitar dua jam disaksikan oleh perwakilan DPP dan DPD, kami dapat menyepakati susunan DPC sebagai berikut :

Ketua : Harjoko Sangganagara 

Wakabid Kehormatan Partai : Wewen Winarni

Wakabid Kaderisasi dan Ideologi : Fatimah

Wakabid Organisasi : Achmad Mulyana

Wakabid Pemenangan Pemilu : Rudita Hartono

Wakabid Komunikasi Politik : Chrysencia Gita

Wakabid Polhukam : Nanang Parhan

Wakabid Maritim: Asep Muhammad

Wakabid Pembagunan Manusia dan Kebudayaan : Andri Kusnandar

Wakabid Ekonomi : Arief Gustamara

Wakabid Buruh Tani dan Nelayan : Agung Wisnu Umbara

Wakabid Perempuan dan Anak : Sri Wahyuni

Wakabid Pemuda dan Olahraga : Erwin Gunawan

Wakabid Pariwisata dan Ekonomi Kreatif : Juwita

Sekretaris : Hen Hen Asep Suhendar

Wakil Sekretaris Internal : A. Dwi Kuswantoro

Wakil Sekretaris Eksternal : Yulianti

Bendahara : Dentarsa Denni

Wakil Bendahara : M.Luthfi Hafiyyan

 

Susunan pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung ini dilantik oleh Bung Andreas Pareira pada hari itu juga disaksikan oleh DPD, PAC dan PR PDI Perjuangan. 

Susunan pengurus berjumlah 19 orang ini juga sudah ditetapkan melalui SK DPP PDI Perjuangan yang ditandatangani oleh Megawati Sukarnoputri / Ketua Umum dan Hasto Kristiyanto / Sekretaris Jenderal.

 

Kamis, 24 Februari 2022

Opa dan Oma

Setelah lebih dari tiga puluh tahun menikah, anak-anak kami mulai berumah tangga. Mbak Dea menikah dengan mas Sandy, orang Malang. Mas Sidiq menikah dengan Mbak Sherenita orang Jakarta, ayahnya orang Batak dan ibunya orang Jawa dari Pekalongan. Tinggal dik Praja, si bungsu, yang masih belum menikah. Aku sering mengatakan kepadanya, kalau mau menikah kami mendukung, tapi dia mengatakan belum ingin menikah dalam waktu dekat ini.

Tidak lama kemudian kami pun memiliki dua cucu perempuan yang cantik. Cucu yang pertama bernama Shasmaka, putri dari mas Sidiq dan mbak Sherenita. Yang kedua bernama Kanaya, putri dari mbak Dea dan mas Sandy. Shasmaka lahir di Jakarta dan Kanaya lahir di Yogyakarta. Dengan demikian aku menjadi seorang kakek dan Atikah, istriku, menjadi seorang nenek. Cucu-cucu kami memanggil aku Opa dan memanggil istriku Oma. Panggilan Opa Oma ini muncul dari keluarga istriku. Maklum keluarga istriku keluarga yang multi etnis bahkan multi bangsa  dan multi agama. Sebutan opa oma lebih bisa diterima oleh semua.

Bertemu Shasmaka


 

Beberapa bulan setelah mbak Dea melahirkan Kanaya, istriku berangkat ke Yogyakarta untuk waktu yang cukup lama. Kebetulan itu di bulan Ramadan. Jadi istriku sekaligus berlebaran di Yogyakarta. Untungnya mas Sidiq dan mbak Sherenta berlebaran ke Bandung. Itulah pertama kali aku bertemu dengan cucuku Shasmaka. Adapun istri dan anak bungsuku sudah bertemu dengan Shasmaka saat baru saja dilahirkan di Rumah Sakit.

Selama kami menikah, baru kali ini aku melewati hari Lebaran tanpa istriku di rumah. Karena itu kami sebisa-bisa memasak sendiri hidangan untuk lebaran. Untungnya bahan-bahan sudah disiapkan oleh istriku dan sebagian sudah diolah oleh teh Dedeh, yang sehari-hari membantu di rumah. Aku, mas Sidiq, dik Praja dan mbak Sherenita membuat ketupat, memasak opor ayam, dan membuat sambal goreng kentang. Hasilnya tidaklah mengecewakan.

Pada Hari Lebaran, kami pergi tanah lapang di salah satu kantor perhubungan laut milik Dinas Perhubungan Provinsi Jabar di Jalan Nasional yang menghubungkan Bandung dengan Sumedang. Jaraknya beberapa kilometer dari rumah. Kami menggunakan mobil milik keluarga mbak Sherenita. Shasmaka pun ikut bersama kami. Gadis kecil ini pun memakai baju lebaran yang indah dan kepalanya dihias dengan bando berpita.

Setiba di tanah lapang yang beraspal (tepatnya parkiran), kami menggelar sajadah dan ikut bertakbir  tasbih, tahmid dan tahlil bersama jamaah lainnya dari wilayah Cileunyi.  Setelah salat Id dua rakaat secara berjamaan kami mendengarkan khutbah Id dari khatib setempat. Setelah itu kami bersalam-salaman. Sebelum pulang kami berfoto bersama di tanah lapang.

Setiba di rumah kami menikmati hidangan lebaran yang kami masak bersama. Rasanya cukup enak. Setelah itu kami saling mengucapkan selamat lebaran dan bermaaf-maafan sekeluarga.

Keesokan harinya aku ikut mas Sidiq dan mbak Sherenita ke Jakarta bersama Shasmaka dengan menggunakan mobil pribadi. Dik Praja menunggu di rumah. Jalan tol Purbaleunyi dan Cikampek cukup lengang dan lancar. Shasmaka tertidur di pangkuanku.

Saat matahari tergelincir ke Barat, kami tiba di rumah Bu Sri Andini, besan kami. Hari itu keluarga besan mengadakan silaturahmi keluarga. Aku menyampaikan ucapan selamat lebaran dan tidak lama kemudian diantar mas Sidiq ke pool bus Primajasa di Tangerang Selatan. Dengan menggunakan bus Primajasa, aku kembali ke Bandung pada hari itu juga.

Bertemu Kanaya


 

Menjelang perayaan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2019, mbak Dea dan mas Sandy berkunjung ke Bandung bersama Kanaya. Pada saat itulah aku bertemu dengan cucu keduaku. Mbak Dea berlibur agak lama di Bandung. Sekitar satu bulan. Menghabiskan cuti melahirkan. Kami merasa bahagia karena ada suara tangis dan tawa bayi di rumah. Biasanya kami hanya bertiga di rumah. Aku istriku dan anak bungsu. Jika dik Praja pergi, kami hanya berdua saja di rumah.

Alhamdulillah kami dikaruniai dua cucu perempuan yang cantik : Shasmaka dan Kanaya. Mereka sama-sama menarik hati. Rambut mereka juga sama-sama bergelombang. Kini aku seorang opa dan istriku menjadi oma.

 

Selasa, 22 Februari 2022

Test Drive Bandung-Malang

 


Ketika itu, pada  akhir tahun 2018, mbak Dea dan mas Sandy berlibur di Bandung. Ketika itu mereka berdua juga meluangkan waktu pergi ke dealer-dealer mobil di sekitar rumah untuk mencari mobil yang enak dipakai dan harganya terjangkau. Nampaknya mereka sepakat membeli mobil keluarga Daihatsu Sigra. Setelah itu mereka kembali ke Yogyakarta.

Pada tahun baru 2019, mas Sandy ke Bandung sendirian dan mengajak aku dan istriku ke dealer Daihatsu di Jalan Sukarno Hatta. Mas Sandy  membeli mobil yang telah dipesannya dan membayar secara cash sehingga mendapat korting atau discount yang lumayan. Mobil pun siap di depan gerai. Aku melakukan test drive di seputar gerai yang cukup luas. Akhirnya kami bertiga pulang ke rumah dengan mobil baru yang disupiri mas Sandy.

Setelah itu mas Sandy kembali ke Yogya dengan menggunakan bus. Mobil baru disimpan di garasi rumah kami menunggu kiriman STNK dan plat nomor polisi yang hitam.

Berselang seminggu, STNK dan plat nomor polisi pun datang. Kini tugasku mengantar mobil tersebut ke Yogyakarta.

Sehari sebelum keberangkatanku ke Yogya, aku mencoba mobil baru tersebut. Suatu pagi bersama anakku yang bungsu, Praja, aku meninggalkan rumah dan  melakukan test drive. Aku meluncur memasuki jalan tol Padaleunyi. Tujuanku adalah  ke Jalan Tol Soroja dan kemudian ke kota Soreang.  Aku mencoba akrab dengan peralatan navigasi yang canggih. Tiap putaran mesin terindikasi di layar pada dash board. Jika putaran pas, muncul lampu warna hijau dengan tulisan eco, jika putaran mesin  tidak pas muncul warna merah. Tulisan eco berarti penggunaan bbm efisien, jika muncul warna merah berarti penggunaan bbm tidak efisien. Aku pun langsung akrab dengan kendaraan ini. Hanya tenaganya memang tidak terlalu kuat karena mesinnya  kecil.

Setelah melakukan test drive sekitar 30 menit, kamipun sampai di Soreang dan mejeng di depan gedung budaya di depan kantor Bupati beberapa saat untuk kemudian kembali ke rumah dengan menggunakan jalan yang sama. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Aku siap membawa mobil ini besok.

Menuju Yogyakarta.


 

Keesokan harinya, aku berdua dengan istriku, Atikah, meninggalkan rumah. Kami akan mencoba mobil baru hingga sampai ke Yogyakarta. BBM full tank  karena sudah diisi penuh oleh mas Sandy.  Kami mengambil rute melalui Rancaekek, Cicalengka, Nagreg, Limbangan, Malangbong, Ciawi dan beristirahat di Masjid Agung Ciamis untuk melaksanakan salat dzuhur, istirahat dan makan siang berupa bekal yang kami bawa dari rumah.

Dari Ciamis kami melewati kota Banjar dan memasuki wilayah Cilacap di Provinsi Jawa Tengah. Saat ashar kami tiba di Karangpucung dan bersistirahat sambil melaksanakan salat ashar di sebuah masjid SPBU. SPBU nya baru, bagus dengan tempat parkir yang luas dan nyaman. Kebetulan saat itu hujan turun dengan derasnya. Kami pun mengaso di dalam masjid sampai hujan reda.

Saat hujan reda kami melanjutkan perjalanan. Ketika tiba di Kebumen hari mulai senja. Kami berbelok ke kanan melewati perkampungan dan pesawahan menuju Jalan Daendels di pantai selatan.

Saat tiba di Jalan Daendels yang menghubungkan Kebumen dengan Purworejo, hari masih terang. Beruntung kami masih bisa menikmati pemandangan. Jalan jalur selatan yang bagus mulus dan lebar. Di kiri kanan ada penjual buah-buahan seperti jambu mutiara dan lain-lain. Di sebelah kanan kadang-kadang nampak pantai selatan di kejauhan. Menjelang maghrib kami sampai di jembatan di atas sungai Bogowonto yang menjadi perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Aku terus melaju di jalur selatan sampai mendekati bandara internasional Yogyakarta, barulah aku berbelok ke kiri, ke jalan nasional Purworejo-Wates.

Sekitar pukul 22.00 kami tiba di rumah mbak Dea di Yogyakarta. mbak Dea sendirian di rumah, karena mas Sandy sudah pergi ke Malang. Mbak Dea pun melihat mobil baru yang dibeli mas Sandy dengan perasaan takjub. Mobil ini memang dibeli atas nama mbak Dea.

Menuju Malang

Keesokan harinya, usai waktu salat maghrib, aku, istriku dan mbak Dea meninggalkan Yogyakarta menuju Malang. Dari rumah aku menyupiri mobil hingga ke kota. Kemudian mbak Dea mencoba mengemudi saat meninggalkan kota menuju Solo. Meski sedang hamil, mbak Dea dengan trampil mengemudikan kendaraan. Pertama menuju Klaten dan kemudian lanjut sampai di Kota Solo. Jaraknya sekitar 60 km.

Dari Solo aku kembali mengemudikan kendaraan. Aku memilih mencoba menggunakan jalan tol yang baru saja dibuka. Untuk mencapainya pintu masuk tol pertama-tama  aku melewati jalan , Jl. Slamet Riyadi yang ramai. Ketika itu di sekitar waktu tahun baru Imlek. Balaikota dihiasi lampion-lampion besar berwarna merah.  Kami pun melewati alun-alun kraton Surakarta. Pasar Kliwon nampak dihiasi lampu warna-warni. Kami terus menuju Jurug, melewati Sungai Bengawan Solo. Ketika tiba di Palur, kami berbelok ke kiri memasuki jalan tol Trans Java yang menghubungkan Jakarta dengan Surabaya.

Jalan Tol Trans Jawa

Ini pertama kali aku mecoba berkendara di jalan tol Trans Jawa. Jalannya bagus. Setiap sekitar 20 km tersedia rest area di sebelah kiri dan kanan sekaligus. Akupun mencoba berhenti di rest area kedua untuk melaksanakan salat isya. Mushola nya bersih dengan taman yang indah. Banyak orang berhenti di rest area ini.

Setelah berhenti sejenak, aku melanjutkan perjalanan. Kota pertama yang kulewati adalah Sragen, lalu Ngawi. Ketika berada di Caruban, aku berhenti lagi untuk rehat kopi. Demikian aku mencoba berhenti di setiap rest area. Menjelang pagi aku sudah sampai di Mojokerto dan tidak lama kemudian tiba di Sidoarjo. Di sini aku berhenti untuk salat subuh dan minum kopi panas.

Perjalanan kulanjutkan sampai Pandaan. Jalan tol pun berakhir. Aku kemudian memasuki jalan arteri ke Lawang, Singosari dan sampailah aku di kota Malang pada pagi hari. Mas Sandy sudah datang untuk membuka guest house. Kami pun mandi, sarapan nasi krawu kegemaranku dan kemudian beristirahat.

Resepsi Pernikahan Mas Tony

Hari ini hari resepsi pernikahan mas Tony.Sekitar pukul 16.00 kami meninggalkan penginapan menuju ke  Hotel Sahid Montana  di Jalan Kahuripan yang tidak begitu jauh dari guest house kami di Jalan Coklat. Dari Jalan Coklat kami memasuki  Jl. Mayjen  Pandjaitan , Jl. Brigjen Slamet Riyadi dan berbelok ke kiri ke Jl. Kahuripan. Sejak kami berangkat dari guest house hingga saat kami tiba di parkiran hotel, hujan turun dengan deras. 


 

Acara resepsi dimulai sekitar pukul 19.00. Kami menjadi bagian dari keluarga H. Rachmad mengiringi kedatangan mas Tony ke pelaminan. Mas Tony, anak pertama H. Rachmad, seorang doktor perikanan dari sebuah universitas di Mexico. Kini mas Tony menjadi pengajar di UGM dan mendapat jodoh di universitas yang sama. Istri mas Tony juga penduduk kota Malang. Resepsi pernikahan mas Tony dihadiri tamu asing, sepasang muda-mudi dari Australia, yang merupakan kenalan lama  keluarga.

Saat resepsi pernikahan berlangsung aku menerima kunjungan mas Bido Swasono, seorang ahli permesinan yang juga politisi kota Malang. Kami mengobrol sambil minum kopi di tepi kolam. Tidak lama kemudian, datang kawan sekolahku saat di Ngawi, mas Parman, yang kini menjadi pejabat di Universitas Negeri Malang. Maka kami ngobrol bertiga mengenasi situasi lokal di kota Malang. Obrolan berakhir menjelang acara resepsi berakhir.

Dari hotel kami kembali ke guest house untuk beristirahat. Ibu Rachmad membawakan banyak makanan untuk kami. 


 

Kembali ke Yogyakarta

Keesokan harinya, pada sore hari kami meninggalkan guest house menuju kediaman Bpk. H. Rachmad, besan kami, di Jl. Nes, Lowakwaru. Kami berkunjung sekaligus berpamitan hendak mengantar mbak Dea dan mas Sandy kembali ke Yogyakarta dan kami sendiri pun hendak kembali ke Bandung.

Sekitar pukul 21.00, kami meninggalkan rumah besan dan meninggalkan kota Malang. Kali ini mas Sandy yang mengemudi. Mas Sandy melalui jalan-jalan yang tidak kukenal. Yang kutahu kami tiba di kota Jombang sekitar tengah malam dan kemudian memasuki jalan tol Trans Jawa. Saat tiba di Ngawi atau Sragen, mas Sandy berhenti untuk beristirahat. Aku kemudian yang mengambil alih kemudi.

Menjelang fajar kami memasuki Solo yang sepi dan nampak berkabut. Aku ke luar ke arah bandara Adisumarmo kemudian menuju Kartasura. Dari Kartasura kami menuju Klaten.  Pada pagi hari kami tiba di Yogyakarta.

Sore harinya, aku dan istriku kembali ke Bandung. Namun sebelum itu kami makan malam dulu di sebuah restoran di Kota Gede. Dari sana aku dan istrikut diantar ke Terminal Bus Giwangan untuk selanjutnya menggunakan bus ke Bandung.