Senin, 22 Mei 2017

Berkunjung Ke Demak







Saat Dimas diterima kuliah di Fakultas Hukum Undip aku menyempatkan diri ke Semarang, dan menginap di Hotel Dibya Puri. Hotel ini milik salah satu BUMN. Bangunannya peninggalan Belanda dengan langgam arsitektur Eropa. Sayang sekali hotel ini tidak terawat dengan baik sehingga nampaknya sedikit yang berminat menginap di sana meski lokasinya berada di tengah-tengah kota dekat dengan pusat perdagangan.
Usai dengan urusan Dimas di Undip aku mengajaknya menyempatkan berjalan-jalan ke luar kota Semarang, bersama Ibu dan kang Permadi. Tujuan pertama ke Demak. Jaraknya sekitar 30 km dari Semarang, melalui jalan pantura atau yang dikenal sebagai Jalan Daendels. Sebelumnya aku pernah menyusuri jalan ini sampai Gresik dan Surabaya. Saat itu aku berangkat dari Bandung dan harus tiba di kantor wali kota Surabaya pagi hari untuk melakukan studi soal transportasi umum di Surabaya. Yang kedua saat aku berbisnis furnitur ke Jepara, pulangnya sempat singgah di Masjid Demak untuk shalat Isya dan makan tongseng di kaki lima. Tongseng kambingnya memang enak. Yang ketiga saat melakukan perjalan berdua dengan istriku ke Ngawi. Saat kembali pulang ke Bandung melewati Cepu Blora Demak Semarang Cirebon.
 Karena melihat banyaknya peninggalan bersejarah di Demak maka aku ingin mengajak anakku untuk melihatnya. Jadilah siang itu kami berangkat dari Semarang menuju Demak. Menjelang waktu Dzuhur sampailah kami di Demak dan langsung menuju Masjid Agung Demak yang tersohor itu. Setelah melaksanakan shalat mulailah kami menelusuri sejarah Masjid Agung Demak sekaligus sejarah Kerajaan Demak dan tidak lupa menziarahi makam para raja beserta keluarganya yang ada di lingkungan masjid.
1.       Sejarah Masjid Demak.
Menurut catatan sejarah, masjid Demak didirikan oleh para wali sekitar tahun 1478  terkait dengan penyebaran Islam di Pulau Jawa. Arsitekturnya bersifat Jawa, atapnya bersusun tiga, khas atap masjid Indonesia yang mengkhiaskan tiga tingkatan pencapaian keagamaan seseorang yaitu Iman (percaya), Islam (mengamalkan)  dan Ikhsan (berbuat baik).  Ada lima pintu melambangkan rukun Islam. Jendelanya enam buah melambangkan Rukun Iman. Pada tahun 1980-an bangunan dipugar dengan biaya Rp 688.712.000 dan diresmikan pemugarannya oleh Pak Harto tanggal 21 Maret 1987. Tiang utama masjid (sakaguru) yang terbuat dari tatal (serpihan kayu) diganti, tapi tiang utama masih disimpan di museum.
2.       Sejarah Kerajaan Demak.
Kerajaan Demak yang bercorak Islam berdiri sekitar tahun 1500-1550. Raden Patah adalah raja pertamanya, dia adalah anak raja Majapahit dari ibu Cina yang dikatakan merupakan seorang putri berasal dari Campa. Saat hamil putri ini dihadiahkan kepada Ario Damar seorang vasal Majapahit yang berkuasa di Palembang. Di Palembang inilah Raden Patah dilahirkan. Saat dewasa R. Patah kembali ke Majapahit dan diberi kekuasaan di daerah Demak.  Atas dukungan dari Jepara, Gresik, dan daerah pesisir lain R. Patah naik takhta Kerajaaan Demak dan melepaskan dari dari kekuasaan Kerajaan Mahapahit dan memerintah sampai tahun 1518. Dari Demak inilah Islam disebarkaqn ke seluruh Pulau Jawa. Pada tahun 1511 hubungan perniagaan khususnya beras ke Malaka terganggu dengan direbutnya Malaka oleh Portugis. Tahun 1513 R. Patah menugaskan Pati Unus menyerbu Malaka.
Raja Demak kedua bernama Pangeran Sabrang Lor yang menurut catatan Tome Pires pada saat itu Demak memiliki angkatan laut dengan 40 kapal jung (kapal perang ukuran besar lebih besar dari kapal-kapal Portugis atau Cina).
Kejayaan Demak terjadi di era Sultan Trenggono, raja Demak yang ketiga. Demak diproklamasikan sebagai Kesultanan dan Masjid Demak dijadikan lambang kekuasaan Islam.  Sultan Trenggono menggunakan gelar Sultan Ahmad Abdul Arifin. Majapahit didimusnahkan pada tahun 1527 dan semua peralatan keraton dibawa ke Demak.
Tahun 1546 secara mendadak Sultan Trenggono wafat dan digantikan oleh Sunan Prawoto. Tidak lama kemudian Sunan Prawoto dibunuh oleh putra Pangeran Seda Lepen. Pangeran Kalinyamat muncul sebagai raja dan kemudian juga wafat terbunuh.
Adipati Jipang bernama Ario Penangsang yang didukung Sunan Kudus menuntuk takhta Kesultanan Demak. Hadiwijaya atau yang lebih dikenal dengan Joko Tingkir, Adipati Pajang, bersekutu dengan Ratu Kalinyamat tampil dan menentang Jipang. Kemenangan diperoleh Hadiwijaya yang kemudian mengangkat diri sebagai Sultan Demak dan kemudian memindahkan kekuasaannya ke Pajang.  Ini menandakan mulainya Dinasti Pajang.
3.       Makam para raja dan keluarga Kerajaan Demak
Komplek makam sultan-sultan Demak dan para abdinya, yang terbagi atas empat bagian:
Makam Kasepuhan, yang terdiri atas 18 makam, antara lain makam Sultan Demak I (Raden Fatah) beserta istri-istri dan putra-putranya, yaitu Sultan Demak II (Raden Pati Unus) dan Pangeran Sedo Lepen (Raden Surowiyoto), serta makam putra Raden Fatah, Adipati Terung (Raden Husain).
Makam Kaneman, yang terdiri atas 24 makam, antara lain makam Sultan Demak III (Raden Trenggono), makam istrinya, dan makam putranya, Sunan Prawoto (Raden Hariyo Bagus Mukmin).
Makam di sebelah barat Kasepuhan dan Kaneman, yang terdiri atas makam Pangeran Arya Penangsang, Pangeran Jipang, Pangeran Arya Jenar, Pangeran Jaran Panoleh.
Makam lainnya, seperti Pangeran Benowo, dan Singo Yudo. 

Selesai menjiarahi Masjid Demak dan komplek makamnya kami berjalan-jalan sejenak mengelilingi alun-alun yang luas. Tidak lupa kami melepas lelah di rumah makan sekitar alun-alun yang menyajikan sajian penuh cita rasa. Menikmati pecel (semacam gado-gado atau lotek) di tengah hari sungguh suatu kenikmatan yang pantas disyukuri.

Senin, 13 Februari 2017

Universitas Diponegoro Semarang




Pada tahun 2007 anak lelakiku Sidiq yang biasa dipanggil Dimas lulus dari SMUN 20 di Jalan Citarum, di sebrang Majid Istiqomah Bandung. Awalnya Dimas bersekolah di SMUN 1 Cimahi mengikutiku yang tinggal di rumah dinas DPRD Jabar di Jalan Kolonel Masturi Cimahi. Saat naik ke Kelas 11 aku dan istriku sepakat memindahkanny ke SMUN 20 dengan tiga alasan : pertama dia bisa masuk ke program IPA, kedua ada kawanku Rusdi yang menjadi Wakil Kepala Sekolah di situ dan ketiga karena sekolahnya terletak di belakang komplek Gedung Sate di mana aku bertugas. Lagipula lingkungan itu tidak begitu asing bagi kami, karena Dimas dulunya bersekolah di SMPN 7 di Jalan Ambon, yang berada di lingkungan tersebut. Selain itu Dea kakak perempuannya juga bersekolah di SMUN 5 di Jalan Belitung.  Jadi Dimas bersekolah di SMUN 20 selama dua tahun dan lulus pada tahun 2007. Saat itulah dia mendaftar ke tiga Perguruan Tinggi Negri dan diterima di Fakultas Hukum Universitas Diponegoro, Semarang.
Menjelang pendaftaran aku terlebih dahulu pergi ke Semarang dari Cirebon bersama kang Permadi. Maklum Dimas belum mengenal kota itu. Terakhir aku mengajaknya ke Semarang di tahun 1995 saat dia masih  di SD. Malam hari aku dan kang Permadi tiba di kawasan kampus Undip di Jalan Imam Bardjo, yang biasa dikenal dengan nama Pleburan. Lokasinya di pusat kota, di area pemerintahan Pemprov Jawa Tengah, dekat dengan Simpang Lima sebagai jantung kota Semarang. Saat kami datang suasana kampus cukup ramai meski waktu sudah menunjukkan waktu menjelang tengah malam. Di bulevar ada panggung dengan lampu terang dan pengeras suara yang didirikan GMNI (Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia), di belakangnya ada posko organisasi intra dan ekstra kampus lainnya.
Paginya Dimas kujemput di Stasiun KA Semarang Tawang. Dia berangkat naik KA malam Harina dari Bandung diantar ibuku. Untuk sementara aku minta tolong Mbak Wiwik di Sampangan untuk menampung Dimas sampai memperoleh tempat kost. Untungnya ada Ganang anak Mas Har yang bisa menjadi penunjuk jalan dari Sampangan ke kampus Pleburan selama masa orientasi.
Untuk selanjutnya sampai tahun 2009 aku akan sering singgah ke Semarang, terutama jika selesai reses  di wilayah Cirebon dan Indramayu. Jarak Cirebon – Semarang sekitar 200 km, bisa dicapai dalam beberapa jam karena jalan yang lurus dan cukup bagus. Setelah tahun 2009 aku nyaris tidak ke Semarang lagi sampai wisuda Dimas di tahun 2015.

Minggu, 12 Februari 2017

Sembawa



Bermula dari kejelian penduduk di pantai timur Sumatra yang melihat peluang pasar karet alam di awal abad XX, perkebunan karet berkembang pesat di hampir seluruh Sumatra. Berbagai cara dilakukan penduduk membawa biji dari Malaka sepulang menunaikan ibadah haji atau saat mereka pulang kampung setelah bekerja menjadi buruh. Penduduk kemudian menanam biji karet sejalan dengan perladangan berpindah yang mereka lakukan.
Provinsi Sumatra Selatan memiliki curah hujan bervariasi dari 2000 mm sampai 3500 mm, suhu berkisar antara 200 C sampai dengan 350 C dengan rata-rata 28O C. Kondisi tanah terdiri dari atas 11 klasifikasi tanah dan tanah uang terluas adalah jenis tanas Podsolik. Kondisi iklim dan tanah demikian sangat sesujai untuk pertumbuhan tanaman karet.
Di samping Dinas Perkebunan, di Sumatra Selatan terdapat Balai Penelitian Sembawa dan beberapa lembaga seperti Asosiasi Petani Karet, Gabungan Pengusaha Perkebunan, Gabungan Perusahaan Karet Indonesia. Di samping itu juga telah terbentuk Forum Bersama Pengembangan Perkebunan. Pada saat ini sedang dirintis pembangunan infrastruktur penting untuk pengembangan ekspor yaitu Pelabuhan Samudra Tanjung Api-api yang dilengkapi sarana jalan dan jalur kereta api. Pemerintah Daerah juga merencanakan peremajaan karet rakyat seluas 150 ribu hektar dalam beberapa tahun mendatang.
Senyampang berkunjung ke Palembang sekira tahun 2005 rombongan Komisi B DPRD Jabar yang dipimpin Pak Hidayat dan Bu Teti Kadi menyempatkan diri melihat perkembangan dan prospek perkebunan karet di Sumatra Selatan. Singkatnya waktu membuat kami mencari informasi ke Balai Penelitian Sembawa. Balai Penelitian Sembawa berada di bawah pengelolaan Pusat Penelitian Karet yang berada di bawah koordinasi Lembaga Riset Perkebunan Indonesia Bogor. Terletak di tengah-tengah perkebunan karet rakyat tepatnya di Desa Sembawa, sejak tahun 1982 Balai Penelitian Sembawa menjalankan misinya untuk menghasilkan teknologi di bidang perkaretan. Desa Sembawa terletak di KM 29 ruas jalan raya Palembang-Jambi.
Balai Penelitian Sembawa saat  memiliki 30 peneliti handal dari berbagai disiplin ilmu seperti agronomi, hama dan penyakit, tanah dan agroklimat, sosial ekonomi, dan teknologi pengolahan. Setiap hari mereka bekerja  secara terintegrasi dan berusaha menghasilkan teknologi yang bermanfaat bagi pengembangan perkebunan karet.
Balai Penelitian Sembawa memiliki berbagai laboratorium, kebun percobaan seluas 3500 hektar dan perpustakaan yang memadai. Berbagai teknologi telah mereka hasilkan seperti klon unggul karet, sistem sadap, pengendalian hama dan penyakit, rekomendasi pemupukan serta teknologi perbaikan mutu karet.
Klon unggul yang dihasilkan Balai Penelitian Sembawa adalah seri BPM dari spesies Hevea Brasiliensis. Hevea Brasiliensis merupakan spesies tanaman karet yang berhasil dikembangkan secara komersial di seluruh dunia. Sebelumnya terdapat spesies lain seperti Castilloa Elastica dan Funtumia Elastica, tetapi kualitas Hevea Brasiliensis  dinilai legih unggul dari spesies lainnya. Hevea Brasiliensis diyakini berasal dari daerah Amazone, Brasilia. Di daerah asalnya Hevea Brasiliensis dikenal dengan sebutan “cahucu” yang berarti pohon yang menangis. Kini seluruh klon-klon unggul  karet yang dikembangkan di seluruh dunia berasal dari spesies Hevea Brasiliensis.
Penyediaan klon unggul karet tentu sangat membantu para pekebun karet khusunya yang pemilik perkebunan karet rakyat, apalagi lebih dari 409 ribu KK di Sumatra Selatan adalah petani karet. Tidak kurang dari 18 ribu orang menjadi karyawan perkebunan besar, sedangkan industri  pengolahan karet dan kayu karet menyerap tenaga kerja tidak kurang dari 4000 orang, secara keseluruhan sekitar 28% penduduk Sumatra Selatan hidupnya bergantung pada perkebunan karet.
Areal perkebunan karet di Sumatra Selatan didominasi oleh perkebunan rakyat yaitu seluas 886 ribu hektar pada tahun 200r atau sekitar 96% dari total areal perkebunan karet. Perkebunan karet rakyat di Sumatra Selatan menyebar pada beberapa Kabupaten. Areal terluas terletak di Kabupaten Musi Rawas (23%), disusul oleh Musi Banyuasin (17%), Muara Enim (19%), Ogan Komering Ilir (12%), Banyuasin (10%) dan Ogan Komering Ulu (7%).
Produksi karet rakyat di Sumatra Selatan selama 30 tahun terakhir meningkat pesat dari 148 ribu ton pada tahun 1974 menjadi 599 ribu ton pada tahun 2004. Sedangkan perkebunan besar hanya meningkat 2.544 ton pada tahun 1974 menjadi 41 ribu ton pada tahun 2004. Kenaikan ini berkat perluasasn areal dan penggunaan klon unggul karet yang berproduktivitas tinggi.
Sumatra Selatan mempunyai 20 pabrik pengolahan karet yaitu pabrik karet remah (crumb rubber)17 buah, pabrik RSS (Ribbed Smoked Sheet) 1 buah dan pabrik lateks pekat 2 buah. Berkembang sejak tahun 1969 produksi karet remah mendominasi ekspor karet alam dari Sumatra Selatan yang mencapai 512 ribu ton pada tahun 2004. Sumatra Selatan menargetkan produksi karet alam sebesar 800 ribu ton pada tahun 2009.
Diprediksi pada tahun 2020 produksi karet alam dunia akan mencapai 11,5 juta ton. Sekitar 70% alam dunia diperuntukkan bagi industri ban. Indonesia ditargetkan memasok 29% atau 3,3 juta ton karet kering. Sumatra Selatan akan dengan berbagai keunggulan yang dimiliki akan mengisi peluang pasar tersebut. Tahun 2009 luas areal perkebunan karet menjadi  1  juta hektar dan Sumatra Selatan memasok 800 ribu ton karet kering.
Dalam “The Golden Forest”  Sumber Kehidupan (Profil Perkebunan Karet di Sumatra Selatan)  tercatat bahwa kontribusi nilai ekspor karet alam terhadap ekspor non migas Sumatra Selatan meningkat dari 26% pada tahun 1999 menjadi 51% pada tahun 2004. Terjadi peningkatan dari US $ 205 juta pada tahun 1999 menjadi US $ 618 juta pada tahun 2004. Prestasi ini menempatkan karet alam sebagai penghasil devisa terbesar dari sektor non migas bagi Provinsi Sumatra Selatan.
Sistem pemasaran karet rakyat belum efisien. Penyebabnya antara lain karena lokasi kebun tersebar dalam hamparan kecil, rantai tataniaga yang panjang, mutu rendah dan beragam, serta sistem penjualan yang berdasarkan berat basah. Peran pedagang perantara sangat dominan, kondisi ini menyebabkan harga yang diterima petani relatif rendah. Pada beberapa wilayah telah dimulai pemasaran yang lebih terorganisiar melalui koperasi atau kelompok petana yang memasarkan karet secara bersama.
Pemanfaatan tanamana karet tidak hanya sebatas pada lateks tetapi juga kayu karet. Salah satu produk yang dihasilkan adalah panel kayu yang digunakan untuk industri furnitur dan bahan bangunan. Kapasistas pabrik yang ada di Sumatra Selatan adalah 720 ton kayu karet per hati atau serta dengan sekitar 12 hektar kebun karet tua. Di samping itu terdapat beberapa industri kayu gergajian berbahan baku kayu karet.







Rabu, 12 Oktober 2016

Shanghai Kota yang Tidak Tidur




16 Mei 2007. Dini hari pesawat China Air dengan nomor penerbangan nomor sekian dari bandara Hangzhou mendarat dengan mulus di Shanghai International Aiport. Bangunan bandara sangat besar sehingga memasukinya serasa seperti di dalam mal. Begitu besar dan luasnya seperti bandara Beijing, aku tidak ingat lagi rincian bangunannya. Orang nampak sibuk, hiruk pikuk bersliweran dengan membawa trolley berisi koper tas dan bawaan lainnya. Ini memang kota bisnis yang supersibuk dan mungkin yang terbesar di Cina melebihi kesibukan Hong Kong atau Beijing.

Karena sudah tengah malam atau dini hari kami langsung menuju hotel. Tetapi perjalanan yang agak jauh dari bandara memberi kesempatan padaku menyaksikan pemandangan kota di waktu malam. Kesan pertama : glamour, bercahaya, penuh warna, ramai, tidak pernah tidur, struktur yang massif dan  raksasa. Jalan-jalan bebas hambatan dibuat bertingkat-tingkat, meliuk-liuk, vernakular, seperti menggiring kendaraan yang melaju di atasnya ke satu titik yang menyedot kita entah menuju ke mana. Seperti roaller coaster saja.
Mata yang terkantuk-kantuk pun menjadi nyalang saat mendengar pemandu yang bercerita tentang sektor properti yang dirajai oleh orang-orang Rusia yang menguasai tanah dengan harga termahal mendekati miliaran rupiah per meter persegi. Dan akhirnya kami pun tiba di penginapan. Namun saya lupa nama penginapannya.

17 Mei 2007.
Udara dingin iklim sub tropis dapat kunikmati di pagi hari sambil duduk tenang di lobby hotel. Entah karena berada di tepi sungai Huangpu atau karena tidak begitu jauh dari laut sehingga angin dapat berembus dengan bebas, udara Shanghai (yang artinya di atas permukaan laut) di pagi hari sungguh menyegarkan kulit. Padahal penduduk Shanghai sangat padat melebihi angka 13 juta. Sehingga ada pepatah Cina mengatakan kalau pergi ke Shanghai itu seperti “menonton kepala orang” karena jalan dipadati begitu banyak orang yang lalu lalang nyaris saling bertabrakan sehingga yang nampak hanya kepala nya saja.

Tidak menyia-nyiakan kesempatan aku bergegas ikut rombongan menuju Shanghai Exhibition Center di wilayah konsesi Perancis karena memang ke sini tujuan utamaku datang ke kota ini. Shanghai secara administratif setara dengan sebuah provinsi atau kabupaten di Tanah Air.  Oh ya meskipun  secara geografis terbelah oleh Sungai Huangpu menjadi dua bagian, yakni Puxi (barat) dan Pudong (timur), Shanghai terbagi  ke dalam tiga area utama Tiga area utama di kota Shanghai adalah French Concessions dan Old City (Kota Tua) yang berada di barat Sungai Huangpu  dan Pudong di timur sungai. Old City di bagian selatan berlanggam China dengan gang-gang, pasar-pasar dan kuil-kuil. French Concessions di bagian barat Old City dan British and American Concessions yang secara kolektif disebut sebagai International Settlement (pemukiman internasional) berada di utara. The Bund yang berada di sepanjang sisi sungai ditandai dengan bagunan-bangunan kolonial yang megah serta dua jalan utama perbelanjaan, Nanjing Lu dan Huaihai Lu. Sedangkan Pudong , distrik yang paling baru berada di sisi timur sungai dan kini menjadi pusat bisnis dangan bangunan-bangunan pencakar langit tertinggi di dunia.

Pada area bekas wilayah Perancis terdapat bangunan tempat pertemuan bersejarah, di mana perwakilan sel-sel komunis China membentuk partai nasional pada 23 Juli 1921. Mereka terdiri dari12 peserta resmi termasuk Mao Zedong. Polisi menemukan tempat ini sehingga para peserta segara diungsikan ke dalam boat di Danau Nan di Zhejiang.

Pudong sampai pertengahan abad ke-20 merupakan bagian kota yang termiskin, dengan pemukiman kumuh dan tempat bagi gangster terkenal Du Yuesheng. Pada tahun 1990 Pudong memperoleh status sebagai Specific Economic Zone dan menjadi tempat gedung-gedung pencakar langit kenamaan di dunia. Di sini pula terdapat The Oriental Pearl TV Tower setinggi 457 m yang menawarkan pemandangan kota Shanghai.
The Bund yang dikenal dengan nama Zongshan Lu adalah jantung kolonial kota Shanghai selain dengan Sungai Huangpu juga dengan hotel-hotel, bank-bank, perkantoran dan klub yang menjadi simbol kebesaran kekuatan komersial Barat. Bangunan-bangunan tua masih berdiri megah, ada yang telah dibangun tahun 1906 seperti The Palace Hotel dan ada pula yang dibangun tahun 20-30 an seperti Hong Kong & Shanghai Bank. Di sisi sungai  terdapat trotoar yang luas dan merupakan tempat yang terbaik untuk menyaksikan lalu lintas sungai dan setiap pagi hari penduduk lokal  melakukan senam (tai chi) di tempat itu.

Sungai Huangpu yang membelah Shanghai mengalir 110 km dari sumbernya, Danau Dianshan dan kemudian melanjutkan alirannya sepanjang 28 km ke bawah untuk bertemu Sungai Yangzi. Selain menyuguhkan pemandangan indah lansekap tepian sungai beserta metropolitan modern Pudong juga dipenuhi dok yang selalu sibuk, boat yang lalu lalang dan paket perjalanan menyusuri sungai selama tiga setengah jam menuju Sungai Yangzi. Orang Shanghai selalu mengklaim bahwa sepertiga perdagangan internasional memasuki Cina melalui Sungai Huangpu yang selalu sibuk abadi.

Shanghai dulu dan sekarang

Sampai tahun 1842 Shanghai hanyalah pelabuhan kecil, tapi sejak pemerintah China menyerah pada keinginan Barat untuk memperoleh konsesi perdagangan maka pelabuhan-pelabuhan di timur China termasuk Shanghai menjadi pos luar negara-negara Barat yang penting. Mereka memperoleh hak ekstra teritorialitas di mana orang-orang Barat boleh tinggal dengan menggunakan hukum negara mereka sendiri. Sehingga orang AS, Inggris dan Perancis memperolah konsesi yang ekslusif dengan sistem pengadilan dan kepoliasian tersendiri. Situasi itu menarik tidak saja para pengusaha, tetapi juga pengungsi, kriminal dan revolusionerian. Campuran ini berpotensi menjadikan Shanghai bersinar dan terseret ke dalam situasi politik yang riuh di antara dua perang dunia yang baru berakhir tahun 1940-an ketika orang-orang asing menyerahkan hak mereka kepada pihak oposisi yang mulai berkembang.

Shanghai juga merupakan destinasi belanja utama di China. Sebelum PD II penduduk asing kota Shanghai yang glamor membutuhkan barang-barang terbaik dan reputasi Shanghai akan kemewahan berlanjut hingga kini dengan toko-toko yang memuaskan selera dan kantong. Shanghai juga kota yang cemerlang secara kebudayaan, dengan pergelaran opera, teater, akrobat, musik klasik dan jazz yang berlanjut. Kehidupan malamnya dipenuhi dengan restoran, bar, cinema dan klub malam yang fashionable. Dengan demikian Shanghai menjadi kota metropolitan yang tidak pernah tidur seperti kesan pertama saya saat menyusuri jalan-jalan yang gemilang dengan sinar lampu antara bandara dan tempat penginapan meski waktu telah melewati tengah malam.