Sejak memasuki tahun 2000-an, banyak sekali pernikahan
kemenakanku. Banyak yang bisa kuhadiri baik
sendirian maupun bersama nyonya dan kadang bersama keluarga, namun ada juga
yang tidak bisa kuhadiri karena alasan kesibukanku maupun belakangan karena
alasan adanya pandemi. Kemenakanku setidaknya berasal dari
beberapa asal usul. Pertama berasal adik
adikku (Keluarga Harso), kedua berasal dari keluarga ayah (Keluarga Rono),
ketiga berasal
dari keluarga ibu (Keluarga Puluhwatu), dan
keempat berasal dari keluarga istriku (Keluarga Banjaran).
A.
Kemenakan dari Keluarga Harso.
1.
Pernikahan kemenakan pertama yang kuhadiri adalah
pernikahan Mohammad Iman Damara, anak laki-laki pertama adikku, jeng Yani ,
yang tinggal di Cibinong, Bogor. Iman lulusan IPB dan bekerja di Baznas. Mempelai
perempuan berprofesi sebagai guru, berasal dari Bogor juga. Pernikahan
berlangsung di ballroom Vila Billabong. Dalam pernikahan ini aku mendampingi jeng Yani di sisi pelaminan, karena suami jeng
Yani-dik Karmawan- sudah lama meninggal dunia. Pernikahan ini dilaksanakan
dengan menggabungkan adat Palembang dan Jawa. Ketua Baznas, Dr. Didin, hadir memberi
kutbah nikah.
Istriku lebih dulu ke Cibinong, sedang aku berangkat pada Hari-H. Dari Jalan Tol Padaleunyi kami memasuki jalan tol Jakarta
Bogor. Sampai di Bogor kami mengambil jalan nasional ke arah Jakarta. Resepsi
selesai pada pukul 14.00. Seusai resepsi,
aku beristirahat sejenak di sebuah rumah singgah di dekat rumah jeng Yani.
Menjelang malam kami kembali ke Bandung.

2.
Pernikahan berikut yang bisa kuhadiri adalah pernikahan Aulia
Rachmat Wibowo, anak laki-laki kedua jeng Yani (Budi Wajiati) di Jakarta.
Rachmat seorang jurnalis teve menikah dengan Yuvienda sesama jurnalis di
stasiun televisi yang sama. Mereka menikah di sebuah gedung pertemuan di
komplek Lanud Halim Perdanakusuma di Jakarta. Kali ini saya pun menjadi saksi
dan sekaligus mendampingi jeng Yani . Pernikahan menggunakan adat Jawa dan
Palembang, karena ayah nak Rachmat berasal dari Padamaran, OKI. Karena lokasi
akad nikah dan resepsinya di Halim yang dekat dengan jalan tol
Jakarta-Cikampek, maka aku tidak perlu menginap di Jakarta. Pagi itu aku, istri
dan anak-anak berangkat dari Bandung bersama-sama dan pulang pada hari itu
juga.

3.
Pernikahan selanjutnya adalah pernikahan
Haniefah, putri pertama dari jeng Haryani dan dik Achmad Firdaus. Haniefah menikah
dengan Evan, anak seorang pasangan dokter dari Cirebon. Akad nikah
pernikahan dilaksanakan di masjid Al
Irsyad di kota baru Parahyangan, Padalarang, dan resepsinya diselenggarakan
secara outdoor (garden party) di halaman samping masjid. Dalam pernikahan ini
aku pun bertindak mewakili keluarga jeng Haryani dan juga menjadi saksi
pernikahan. Mbak Dea dan mas Sandy juga hadir dari Yogyakarta. Ibu dan
adik-adikku juga bisa berkumpul secara lengkap.
4.
Pernikahan berikutnya adalah pernikahan Maryam
Qaramatullah yang biasa dipanggil Lulu
dengan Irfan. Mereka sama sama kuliah dan bekerja di UPI (Universitas
Pendidikan Indonesia). Lulu anak dik Yus
dan jeng Titik. Sedangkan Irfan anak seorang pejabat di Depag. Mereka tinggal
di Sukabumi.
Akad nikah dan resepsi pernikahan Lulu dan Irfan diselenggarakan di
gedung pertemuan Ahmad Sanusi UPI yang terletak di samping Sekolah Pascasarjana dan
dibelakang masjid kampus. Antara masjid dan gedung pertemuan dihalangi sungai
kecil. Adik-adik dan keluarganya datang dari berbagai kota, demikian juga
anak-anakku. Mbak Dea dan mas Sandy dan
Kanaya datang dari Yogyakarta dengan menggunakan pesawat. mereka menginap di
sebuah hotel di Jalan Cihampelas. Mas Sidiq dan Shasmaka datang dari Jakarta
dengan menggunakan kereta api.
Pada pernikahan Lulu aku mendapat tugas menjadi saksi. Usai akad nikah
aku segera meninggalkan tempat dan dengan menggunakan taksi daring segera
menuju sekretariat DPD PDI Perjuangan Jawa Barat untuk mengikuti fit dan proper
test calon bupati Bandung. Dari PDI Perjuangan ada empat bakal calon : Kang
Dimyati, Teh Yena, Kang Irman dan saya.
5.
Pernikahan berikutnya adalah pernikahan Maulida Kartika Azzahara (Tika)
dengan Dony. Tika anak bungsu jeng Yani
yang tinggal di Cibinong dan Dony berasal dari Ponorogo. Tika dan Dony
saling bertemu di program Indonesia Mengajar. Pernikahan diselenggarakan di
sebuah gedung pertemuan di daerah Cibinong dan diselenggarakan dengan adat
Palembang dan Jawa. Aku mewakili tuan rumah menerima rombongan pengantin pria,
menjadi saksi pernikahan dan mendampingi jeng Yani selama rerepsi berlangsung.
Pada pernikahan Tika dan Dony ini, keluarga mas Sidiq hadir bersama
besanku, Ibu Sri Andini, hakim tinggi DKI Jakarta. Keluarga nyonya juga hadir
dari Bandung. Demikian juga keluarga mas Ignas dan mbak Tutik dari Bogor. Kami
masih sempat saling bertemu di akhir acara. Setelah itu kami kembali ke tempat
masing-masing.
Ini adalah pernikahan di keluarga Harso yang bisa dihadiri ibu.
6.
Pernikahan berikutnya adalah pernikahan Aisyah
dan Encep. Aisyah anak jeng Titik dan dik Yus. Sementara orang tua Encep orang
Bandung. Kali ini akad nikah dan resepsi pernikahan diselenggarakan di sebuah
kolam renang di Cipatat, dekat rumah jeng Titik. Pada pernikahan Aisyah-Encep
ini pun aku menjadi saksi pernikahan.
Usai resepsi pernikahan , aku mengantar mas Yono dan keluarga
berjalan-jalan ke Waduk Saguling. Mas Yono dan nyonya menyempatkan datang dari Bengkulu untuk menghadiri pernikahan ini, sementara Ipang, anak mereka,
datang bersama kawan-kawannya dari Jakarta. Rute yang kami lalui adalah mengeliling Waduk Saguling
melalui Cipatat, Saguling, Cipongkor,
Cililin, Batujajar, Cimaremeh, Padalarang dan Cileunyi. Dari Padalarang kami
melewati jalan tol Padaleunyi. Ipang dan kawan-kawannya pulang malam itu,
sedangkan mas Yono dan nyonya pulang keesokan harinya. Aku mengantar mereka sampai
ke komplek Batununggal. Mereka kemudian menggunakan shutle bus ke Bandara
Sukarno-Hatta.
B.
Kemenakan dari Keluarga Rono
1. Pernikahan Maryono ( anak jeng Sumini dan dik
Salekan) dengan Nonon diadakan di Batujajar,
dekat dengan Waduk Saguling. Jeng Sumini adalah anak sulung bulik Giyem (adik
ayahku yang bungsu). Jeng Sumini satu-satunya anak bulik yang tinggal di Ngawi.
Akad nikah dan resepsi diadakan di
kediaman mempelai perempuan.
Pernikahan Siswanto (anak jeng Suminem dan dik
Untung) dengan Wati. Akad nikah diadakan di sebuah masjid di Subang dan resepsi
diadakan di rumah mempelai perempuan. Aku dan
nyonya berangkat dari Bandung melalui jalan tol Padaleunyi dan ke luar
di pintu tol Sadang. Pulangnya aku keluar di pintu tol Kopo dan singgah di
Perumnas Bumi Parahyangan Kencana mengantar Ibuku. Ikut bersama kami, beberapa
saudara yang datang dari Ngawi.
3. Pernikahan kemenakan berikutnya yang kuhadiri adalah pernikahan Aulia
Rohayati (biasa dipanggil Uli), anak
perempuan Mas Nurul Supardi di Bandung. Uli yang lulusan UII Yogyakarta menikah
di rumahnya di Gedebage dengan orang Jakarta, Herwandi. Mas Nurul adalah anak
dari bupuhku, kakak perempuan bapak. Sehingga mas Nurul adalah kakak sepupu.
Dia juga teman sekolahku di SMEA Panti Pamardi Sisi, Ngrambe, Ngawi. Dalam
pernikahan ini aku juga menjadi saksi nikah
4. Pernikahan Wulandari. Wulan adalah anak jeng Suminah dan kang Ece
yang kedua. Wulan, lulusan sastra Jepang UPI dan bekerja di perusahaan Jepang
menikah dengan Ismail, seorang pemuda dari
Kebumen, yang pernah aktif menjadi Satgas PDI Perjuangan. Akad nikah dan
resepsi diselenggarakan di sebuah GOR di Cicalengka, Bandung. Keluarga dari
berbagai kota hadir, juga yang dari Sumatra. Keluarga jeng Suminah banyak
tinggal di Sumatra, karena orang tua mereka bertransmigrasi ke sana sejak tahun
70-an. Ibu mereka, bulik Giyem adalah adik bungsu ayah. Bulik dan suaminya
meninggal di Lampung, Sumatra dan dimakamkan di sana. Sehari setelah pernikahan, keluarga
besar jeng Suminah dari Ngawi dan
Lampung datang berkunjung ke rumahku.
5. Pernikahan Eva. Eva adalah putri sulung mbak
Kasmiyati dan mas Gunari. Mbak Kasmiyati anak perempuan bupuh Sinem, kakak
perempuan ayah yang tertua. Ketika itu Eva bekerja di Tangerang, di mana ia
bertemu dengan laki-laki yang menjadi jodohnya. Akad nikah dan resepsi pernikahan
diselenggarakan di rumah mbak Kasmiyati di Ujung Berung, Bandung. Ada hiburan
dangdutan dari penyayi dan grup musik setempat.
6. Pernikahan Ujang Suherman. Ujang anak ketiga
jeng Suminah dengan dik Cece. Ujang bekerja di sebuah BPR (Bank Perkreditan
Rakyat) di Cileunyi, Bandung dan melanjutkan kuliah di sebuah PTS di Bandung.
Ujang menikah dengan seorang pegawai bank juga. Akad nikah dan resepsi
pernikahan mereka diadakan di sebuah komplek perumahan di Parakan Muncang,
Kabupaten Sumedang.
7. Pernikahan berikutnya adalah pernikahan Bagus Rengga di
Surabaya. Rengga anak laki-laki mas H.
Samidi. Rengga, sarjana teknik lulusan ITS menikah dengan seorang dokter gigi. Pernikahan
berlangsung pagi hari dan resepsinya diselenggarakan malam hari di gedung
pertemuan Universitas Bhayangkara. Saat itu aku dan rombongan menggunakan
kereta api dari stasiun KA Kiaracondong seusai waktu subuh dan tiba di Stasiun
KA Wonokromo pada malam hari. Kami dijemput para kemenakan. Di rumah mas Samidi
sudah ada mas Suyono dari Bengkulu. Kamipun menginap di masjid dekat rumah. Mas
Yono bertugas menjadi saksi dan saya memberikan sambutan mewakili keluarga
mempelai pria. Pernikahan berlangsung dalam adat Jawa. Sehari setelah
pernikahan, kami kembali ke Bandung dengan kereta api siang dan tiba di Stasiun
Kiaracondong pada malam hari.
8. Pernikahan berikutnya adalah pernikahan Dony
Setya, putranya mbak Mar dan mas Dwi di
Nganjuk. Dony lulusan S2 dari Universitas Negri Surabaya. Nah kali kami
berangkat dari Yogyakarta bersama-sama dengan anak perempuanku, mbak Idea dan
menantu, mas Sandy. Kami berangkat pada waktu subuh dengan membawa kendaraan
pribadi melalui kota Klaten dan Solo lalu masuk ke jalan tol Trans Jawa menuju
kota Nganjuk. Menjelang waktu dzuhur kami tiba di tempat hajat. Dony mendapat
istri warga setempat. Pernikahan diselenggarakan di rumah. Di tempat hajat kami
bisa bertemu dengan keluarga besar dari Ngawi dan kota-kota lain baik di Jawa
dan luar Jawa. Sekitar pukul 14.00 kami kembali ke Yogyakarta. Mas Sandy
melanjutkan perjalanan ke Malang dengan menggunakan bus dari terminal bus
Nganjuk untuk menengok orang tuanya. Aku mengemudi mobil pulang ke Yogyakarta. Setelah
beberapa hari di Yogyakarta, kami pulang
ke Bandung dengan menggunakan kereta api ekspres malam.
9. Pernikahan selanjutnya yang bisa kuhadiri adalah
pernikahan Bagus Anton di Surabaya.
Anton lulusan ITS dan saat itu sudah bekerja di luar Jawa. Ini anak laki-laki
kedua mas H. Samidi. Bagus menikah
dengan anak seorang haji yang merupakan pengusaha tambak ikan dari Sidoharjo, Jawa
Timur. Kali ini aku berangkat dari Bandung bersama istri. Kami menuju
Yogyakarta dan menginap semalam. Malamnya kami naik bus dari depan bandara Adisucipto
dan sampai di Stasiun Sidoarjo pada pagi hari. Dari sana kami naik taksi ke
Universitas Bhayangkara, Surabaya. Pernikahan berlangsung pagi hari dan
resepsinya juga diselenggarakan pada pagi dan siang hari di gedung pertemuan
Universitas Bhayangkara. Acara berlangsung hingga pukul 14.00. Mas Yono
bertugas menjadi saksi dan saya memberikan sambutan mewakili keluarga mempelai
pria. Pernikahan berlangsung dalam adat Jawa. Sore harinya kami kembali ke
Yogyakarta dengan menggunakan bus.Tiba di Yogyakarta pada tengah malam dan
menginap di rumah anak kami.
10. Pernikahan Selly Ulfiyani. Selly adalah anak
perempuan dari jeng Sri Wahyuni dengan dik Mukarom. Jeng Sri adalah adalah anak
ke sepuluh (bungsu) Oom Wiro dan bulik Giyem. Pernikahan diselenggarakan di
kediaman mereka di Desa Gandasoli, kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung. Kebetulan
pada hari yang sama ada acara partai, menanam pohon di Pangalengan. Jadi dari
sana aku dan istriku langsung ke tempat pernikahan.
C.
Kemenakan dari keluarga Puluhwatu.
1.
Pernikahan drg. Siska, anak perempuan dari mbak
Ninik dan mas Wasis Kusni. Dokter Gigi Siska menikah dengan Reza,
orang Kalimantan yang berdarah Madura—anak
seorang anggota DPRD di Pangkalan Bun—yang
merupakan kemenakan bupati Sleman saat itu,
Idham Samawi, dari pihak istri. Pernikahan diselenggarakan dengan megah dalam
budaya Jawa yang agung di sebuah gedung pertemuan di depan komplek UGM di Yogyakarta.
Ada ensamble musik gamelan selama acara
resepsi berlangsung. Aku datang ke Yogyakarta bersama mbak Tatik dan mas Tarno.
Kamipun menginap di sebuah wisma milik keluarga Dian Sastrowardojo. Di sana aku
bertemua anakku Sidiq yang datang dari Semarang dan Praja yang lebih dulu
berangkat dari Bandung bersama Ibu dan jeng Wiwin. Ibu dan rombongan bahkan
sempat mengunjungi keluarga besar kami di Ngawi terlebih dahulu. Saat pulang ke
Bandung kami melalui jalur pantai selatan sampai Cilacap dan berkunjung ke
keluarga besar mas Tarno di Jatilawang. Menjelang tengah malam aku sampai di
rumah. Mas Tarno dan keluarga melanjutkan perjalanan ke Cimahi.
2.
Pernikahan Bertha Widiantari, anak perempuan kedua mbak
Tatik Ariyani dan mas Alexius Sutarno. Pernikahan Bertha dengan Panji
diselenggarakan di katedral Cimahi dan pesta pernikahan diselenggarakan di aula
Gereja di pusat kota. Bertha menikah dengan seorang pemuda berdarah Menado dan
Jawa. Keluarga bupuh Arisman dan bupuh
Mulyono juga hadir dari berbagai kota dan mereka menginap di sebuah mess TNI AD
di dekat katedral.
Keesokan harinya keluarga mbak Ninik berkunjung ke rumah diantar mas Bowo, sebelum pulang ke Yogyarta.

3.
Pernikahan Citra, anak perempuan kedua mbak Ninik dan mas Wasis.
Citra lulusan sebuah universitas di Singapura menikah dengan seorang pemuda Melayu dari Singapura. Akad nikah di
Singapura, tetapi pesta pernikahan diselenggarakan di tiga tempat, Singapura,
Medan dan Pekanbaru. Nah aku menghadiri
acara di Pekanbaru ini. Berangkat sendirian dari bandara Husen Sastranegara di
Bandung, aku sampai di bandara internasional Sultan Syarif Kasim II menjelang
ashar dan menggunakan bus kota menuju kediaman mas Wasis. Saat turun dari halte
bus dan menyebrang jalan dengan menarik koper,
ada seorang mahasiswa berbaik hati mengantarku dengan menggunakan motornya
hingga ke halaman rumah mas Wasis. Tiba di sana sudah ada bupuh Aris, Mas Yanto
dan Rendi. Malam itu Prof Caska dari Unri datang mengunjungiku. Mas Wasis
menjamu kami dengan gulai kepala kambing yang lezat. Kambing yang disembelih
merupakan kambing yang diternakkan mas Wasis di perkebunan sawitnya. Mas Caska
kemudian mengajakku jalan jalan menikmati pemandangan malam hari kota Pekanbaru
sambil berkeliling kampus dan bercerita mengenai beberapa bangunan eks PON yang
mangkrak.
4.
Pernikahan
dr. Fahmi anak laki-laki pertama
mas Haji Bowo Restiyono dan mbak Hj. Nunung. Fahmi dokter lulusan Universitas
Sultan Agung, Semarang, mendapatkan jodoh orang Tegal, anak seorang PNS yang
berbisnis busana dengan mendirikan butik.
Sehari sebelum pernikahan aku dan nyonya berangkat dengan mobil melalui
Sumedang, Jatiwangi, Palimanan, Cirebon, Losari dan Brebes melalui jalan
nasional. Saat salat Jumat tiba aku menyempatkan diri salat di sebuah masjid di
kota Cirebon. Usai salat kami melanjutkan perjalanan dan tiba di Tegal saat
waktu ashar. Kami langsung menuju hotel Premiere di dekat pantai untuk check
ini dan beristirahat. Malam harinya kami dijemput menuju kediaman mempelai
pengantin perempuan untuk acara lamaran. Keluarga besar Arisman dari berbagai
kota hadir. Selain bupuh Aris, ada Mas Har, mbak Wiwik, mbak Tatik, mas Yanto,
mas Didik, mas Hari dan mbak Ninik beserta keluarganya. Acara selesai tengah
malam dan kami diantar kembali ke hotel.
Keesokan harinya kami hadir kembali ke rumah mempelai perempuan untuk
acara akad nikah. Dari rumah mempelai perempuan kami berjalan mengiringi
pengantin dengan diiringi tetabuhan rebana. Demikian juga saat pulang kembali
ke rumah. Usai akad nikah di masjid ada acara selamatan di rumah mempelai
perempuan, dan itu menjadi waktu bagi kami bertemu keluarga Arisman secara
lebih leluasa dan santai. Malam harinya kami bertemu lagi di sebuah rumah makan
yang terletak di jalan utama menuju Slawi. Setelah itu aku dan istriku kembali
ke hotel.
Keesokan harinya jeng Yani dan jeng Titik datang. Lalu setelah sarapan
pagi kami bersama-sama mendatangi tempat resepsi pernikahan di sebutah ballroom
yang terletak di belakang hotel. Acara berlangsung meriah hingga petang hari.
Kami pun berpisah dengan keluarga kedua
mempelai dan kembali ke hotel untuk check out lalu meninggalkan kota
Tegal. Jeng Yani ikut bersama kami sampai kota Cirebon. Kami mengantar ke
terminal bus. Setelah bus yang ditumpangi jeng Yani meninggalkan terminal, kami
pun melanjutkan perjalanan ke Bandung melalui daerah Trusmi yang kini nampak
semakin semarak dengan banyaknya pertokoan dan pasar batik.
D.
Kemenakan dari keluarga Banjaran
1. Pernikahan Yudha. Yudha, anak pertama ceu Yayah
dan kang Ugih yang tinggal di Jalan Cagar Alam, Pancoran Mas, Depok setelah
pindah dari Bandung. Ceu Yayah dan kang Ugih, sama-sama paramedis. Ceu Yaya,
kakak tertua istriku, bekerja di RS Bhakti Yudha dan kang Ugih bekerja di Dinas
Kesehatan Kota Depok. Yudha, yang
lulusan dari akuntansi UPN Veteran Depok menikah dengan Mely, orang Tionghoa.
Ayah Mely punya pabrik pengolahan kopi yang
legendaris. Resepsi pernikahan Yudha dan Mely diadakan di Gedung
Pertemuan yang megah di TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Dari Bandung, kami
sekeluarga ke TMII di Pondok Gede, Jakarta pada Hari-H. Hari itu pula kami
kembali ke Bandung.
2. Pernikahan Andri. Andri, anak kedua Ceu Yayah
dan kang Ugih. Resepsi pernikahan diselenggarakan di kediaman mereka di Jalan
Cagar Alam, Pancoran Mas, Depok. Di samping rumah Ceu Yayah ada tanda kosong
yang bisa digunakan untuk resepsi. Sementara kendaraan bisa diparkir di
sebidang tanah kosong yang lainnya masih di blok yang sama. Karena
diselenggarakan di rumah, suasana jadi lebih familiar. Kami bisa berkumpul
sampai menjelang magrib. Usai magrib kami kembali ke Bandung.
3. Pernikahan berikutnya yang bisa kuhadiri adalah
pernikahan Mohammad Ramdhan (Dadan), anak laki-laki kang Iman Kardiman dan mbak
Rita. Kang Iman adalah kakak perempuan istriku. Kang Iman tinggal di Banjaran, Bandung. Ramdhan yang
bekerja di IPTN adalah anak kedua kang Iman, ia menikah dengan Warni dari
Arjasari, Kabupaten Bandung. Dalam pernikahan ini, akupun menjadi saksi nikah.
4. Pernikahan Gun-gun. Gun-gun nama panggilan dari
Guna Gumbira, anak pertama dik Eni dan dik Sunsun. Gun-gun menikah dengan gadis
dari Lembang, seorang sarjana teknik pertambangan lulusan Unisba. Akad nikah
dan pernikahan mereka diselenggarakan di sebuah resor tidak jauh dari rumah
mempelai perempuan. Tepatnya di jalan Lembang-Maribaya. Pada pernikahan Gun-gun
ini, dik Nanik datang dari Swiss untuk menghadiri. Adik-adikku juga hadir, baik
dari Bandung maupun Bogor.
Seusai acara resepsi kami mengadakan rapat
keluarga di tempat dan kemudian langsung ke RSHS menjenguk ibu istriku yang
sedang dirawat untuk kesekian kalinya, sebelum akhirnya kembali menghadap Tuhan
Yang Mahas Pengasih dan Maha Penyayang.
5. Pernikahan Riska. Riska anak ketiga Kang Iman
dan mbak Rita. Riska kuliah di UPI dan setelah lulus diterima bekerja sebagai
guru pada Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor dan sehari-hari bekerja di sebuah SLB di Cibinong. Riska
menikah dengan orang Baleendah, Kabupaten Bandung. Akad nikah dan resepsi
pernikahan diselenggarakan di rumah keluarga besar Une Hidayat di Banjaran.
6.
Ada beberapa pernikahan kemenakan lagi dari
keluarga istriku yang kuhadiri. Yang kuingat adalah pernikahan cucu Kang Haji
Engkom yang diselenggarakan dengan megah di kediaman orang tuanya di Desa
Kiangroke. Kemudian pernikahan anak dari sepupu istriku di Pamengpeuk. Terakhir
adalah pernikahan anak laki-laki ayi Haji Yuyus. Haji Yuyus adalah suami dari
sepupu istriku. Anak mereka seorang prajurit TNI AD. Rupanya kemenakan ku ini
mengikuti jejak uwa nya, Mayor Jendral Karmin, yang merupakan kakak sepupu
istriku. Pernikahan anak dik Haji Yuyus diselenggarakan di garasi yang disulap
menjadi tempat resepsi, milik kemenakan kami.