Senin, 28 Februari 2022

Menjadi Ketua Partai Politik

 


Jika tanggal 4 Juli di AS diperingati sebagai hari kemerdekaan (independence day) dan di Indonesia diperingati sebagai hari lahirnya PNI (Partai Nasional Indonesia). Bagi saya dan kawan kawan tanggal tanggal 14 Juli juga perlu dikenang karena pada 14 Juli 2019 kami memulai babak baru dalam kehidupan kepartaian, khususnya di Kabupaten Bandung.

Pada hari itu, Sabtu, 14 Juli 2019, mulai pukul 09.00, PDI Perjuangan Kabupaten Bandung melaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) di Hotel Horison. Sidang Konfercab dipimpin oleh Andreas Hugo Pareira dari DPP; Ketut Sustiawan, Abdy Yuhana dan Yadi Srimulyadi dari DPD Jawa Barat. Acara sidang adalah penyampaian Laporan Pertanggungjawaban dari Wewen Winarni (Ketua), Deky Hisyanto (Sekretaris), Nanang Farhan (Bendahara) dan pengurus DPC lainnya. Setelah LPJ diterima oleh para peserta Konfercab (yaitu para KSB PAC), acara dilanjutkan dengan pembacaan Rekomendasi DPP megenai nama-nama Ketua, Sekretaris dan Bendahara DPC PDI Perjuangan untuk periode 2019-2024.

Surat Rekomendasi DPP dibacakan oleh Andreas Hugo Pareira, salah seorang Ketua DPP. Dalam surat itu dinyatakan bahwa Dr. H. Harjoko Sangganagara M.Pd sebagai Ketua, Henhen Asep Suhendar sebagai Sekretaris dan Dentarsa Denni SE, sebagai Bendahara (KSB). Surat rekomendasi ditandatangani oleh Megawati Sukarnoputri selaku Ketua Umum dan Hasto Kristiyanto sebagai Sekretaris Jendral. Bagi saya pribadi ini adalah untuk kedua kalinya saya ditunjuk oleh Megawati menjadi pengurus partai. Surat pertama adalah penunjukan saya oleh beliau pada tahun 1997. Saat itu Sekjennya adalah Alexander Litaay. Jarak surat pertama dengan surat yang kedua adalah 22 tahun 🙂

KSB bersama tiga orang formatur (Ketua PAC Katapang, Ketua PAC Pamengpeuk dan Ketua PAC Nagrek) menyusun kepengurusan DPC secara lengkap yang akan dilantik pada saat itu juga.

Susunan Pengurus

Saat menyusun komposisi personal KIM (Kabinet Indonesia Maju), saya dengar Presiden Jokowi harus memilih sekitar 30 dari 300 orang yang telah didaftar. Memang tidak mudah. Saya saja membentuk struktur kepengurusan partai di tingkat kabupaten juga memerlukan musyawarah panjang untuk mufakat.

Sabtu, 14 Juli 2019, sekitar pukul 14. 00, bertempat di lantai 1 Hotel Horison Bandung, KSB (Ketua Sekretaris Bendahara) disertai tiga perwakilan Ketua PAC (Pengurus Anak Cabang) dari Katapang (Erwin) , Pamengpeuk (Dian) dan Nagrek (Asep ) menjadi formatur penyusunan DPC (Dewan Pengurus Cabang) PDI Perjuangan Kabupaten Bandung. Dari puluhan nama yang sudah disiapkan sekretaris dan para ketua PAC kami memilih 16 orang sebagai wakil ketua, wakil sekretaris dan wakil bendahara. Setelah bermusyawarah sekitar dua jam disaksikan oleh perwakilan DPP dan DPD, kami dapat menyepakati susunan DPC sebagai berikut :

Ketua : Harjoko Sangganagara 

Wakabid Kehormatan Partai : Wewen Winarni

Wakabid Kaderisasi dan Ideologi : Fatimah

Wakabid Organisasi : Achmad Mulyana

Wakabid Pemenangan Pemilu : Rudita Hartono

Wakabid Komunikasi Politik : Chrysencia Gita

Wakabid Polhukam : Nanang Parhan

Wakabid Maritim: Asep Muhammad

Wakabid Pembagunan Manusia dan Kebudayaan : Andri Kusnandar

Wakabid Ekonomi : Arief Gustamara

Wakabid Buruh Tani dan Nelayan : Agung Wisnu Umbara

Wakabid Perempuan dan Anak : Sri Wahyuni

Wakabid Pemuda dan Olahraga : Erwin Gunawan

Wakabid Pariwisata dan Ekonomi Kreatif : Juwita

Sekretaris : Hen Hen Asep Suhendar

Wakil Sekretaris Internal : A. Dwi Kuswantoro

Wakil Sekretaris Eksternal : Yulianti

Bendahara : Dentarsa Denni

Wakil Bendahara : M.Luthfi Hafiyyan

 

Susunan pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung ini dilantik oleh Bung Andreas Pareira pada hari itu juga disaksikan oleh DPD, PAC dan PR PDI Perjuangan. 

Susunan pengurus berjumlah 19 orang ini juga sudah ditetapkan melalui SK DPP PDI Perjuangan yang ditandatangani oleh Megawati Sukarnoputri / Ketua Umum dan Hasto Kristiyanto / Sekretaris Jenderal.

 

Kamis, 24 Februari 2022

Opa dan Oma

Setelah lebih dari tiga puluh tahun menikah, anak-anak kami mulai berumah tangga. Mbak Dea menikah dengan mas Sandy, orang Malang. Mas Sidiq menikah dengan Mbak Sherenita orang Jakarta, ayahnya orang Batak dan ibunya orang Jawa dari Pekalongan. Tinggal dik Praja, si bungsu, yang masih belum menikah. Aku sering mengatakan kepadanya, kalau mau menikah kami mendukung, tapi dia mengatakan belum ingin menikah dalam waktu dekat ini.

Tidak lama kemudian kami pun memiliki dua cucu perempuan yang cantik. Cucu yang pertama bernama Shasmaka, putri dari mas Sidiq dan mbak Sherenita. Yang kedua bernama Kanaya, putri dari mbak Dea dan mas Sandy. Shasmaka lahir di Jakarta dan Kanaya lahir di Yogyakarta. Dengan demikian aku menjadi seorang kakek dan Atikah, istriku, menjadi seorang nenek. Cucu-cucu kami memanggil aku Opa dan memanggil istriku Oma. Panggilan Opa Oma ini muncul dari keluarga istriku. Maklum keluarga istriku keluarga yang multi etnis bahkan multi bangsa  dan multi agama. Sebutan opa oma lebih bisa diterima oleh semua.

Bertemu Shasmaka


 

Beberapa bulan setelah mbak Dea melahirkan Kanaya, istriku berangkat ke Yogyakarta untuk waktu yang cukup lama. Kebetulan itu di bulan Ramadan. Jadi istriku sekaligus berlebaran di Yogyakarta. Untungnya mas Sidiq dan mbak Sherenta berlebaran ke Bandung. Itulah pertama kali aku bertemu dengan cucuku Shasmaka. Adapun istri dan anak bungsuku sudah bertemu dengan Shasmaka saat baru saja dilahirkan di Rumah Sakit.

Selama kami menikah, baru kali ini aku melewati hari Lebaran tanpa istriku di rumah. Karena itu kami sebisa-bisa memasak sendiri hidangan untuk lebaran. Untungnya bahan-bahan sudah disiapkan oleh istriku dan sebagian sudah diolah oleh teh Dedeh, yang sehari-hari membantu di rumah. Aku, mas Sidiq, dik Praja dan mbak Sherenita membuat ketupat, memasak opor ayam, dan membuat sambal goreng kentang. Hasilnya tidaklah mengecewakan.

Pada Hari Lebaran, kami pergi tanah lapang di salah satu kantor perhubungan laut milik Dinas Perhubungan Provinsi Jabar di Jalan Nasional yang menghubungkan Bandung dengan Sumedang. Jaraknya beberapa kilometer dari rumah. Kami menggunakan mobil milik keluarga mbak Sherenita. Shasmaka pun ikut bersama kami. Gadis kecil ini pun memakai baju lebaran yang indah dan kepalanya dihias dengan bando berpita.

Setiba di tanah lapang yang beraspal (tepatnya parkiran), kami menggelar sajadah dan ikut bertakbir  tasbih, tahmid dan tahlil bersama jamaah lainnya dari wilayah Cileunyi.  Setelah salat Id dua rakaat secara berjamaan kami mendengarkan khutbah Id dari khatib setempat. Setelah itu kami bersalam-salaman. Sebelum pulang kami berfoto bersama di tanah lapang.

Setiba di rumah kami menikmati hidangan lebaran yang kami masak bersama. Rasanya cukup enak. Setelah itu kami saling mengucapkan selamat lebaran dan bermaaf-maafan sekeluarga.

Keesokan harinya aku ikut mas Sidiq dan mbak Sherenita ke Jakarta bersama Shasmaka dengan menggunakan mobil pribadi. Dik Praja menunggu di rumah. Jalan tol Purbaleunyi dan Cikampek cukup lengang dan lancar. Shasmaka tertidur di pangkuanku.

Saat matahari tergelincir ke Barat, kami tiba di rumah Bu Sri Andini, besan kami. Hari itu keluarga besan mengadakan silaturahmi keluarga. Aku menyampaikan ucapan selamat lebaran dan tidak lama kemudian diantar mas Sidiq ke pool bus Primajasa di Tangerang Selatan. Dengan menggunakan bus Primajasa, aku kembali ke Bandung pada hari itu juga.

Bertemu Kanaya


 

Menjelang perayaan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2019, mbak Dea dan mas Sandy berkunjung ke Bandung bersama Kanaya. Pada saat itulah aku bertemu dengan cucu keduaku. Mbak Dea berlibur agak lama di Bandung. Sekitar satu bulan. Menghabiskan cuti melahirkan. Kami merasa bahagia karena ada suara tangis dan tawa bayi di rumah. Biasanya kami hanya bertiga di rumah. Aku istriku dan anak bungsu. Jika dik Praja pergi, kami hanya berdua saja di rumah.

Alhamdulillah kami dikaruniai dua cucu perempuan yang cantik : Shasmaka dan Kanaya. Mereka sama-sama menarik hati. Rambut mereka juga sama-sama bergelombang. Kini aku seorang opa dan istriku menjadi oma.

 

Selasa, 22 Februari 2022

Test Drive Bandung-Malang

 


Ketika itu, pada  akhir tahun 2018, mbak Dea dan mas Sandy berlibur di Bandung. Ketika itu mereka berdua juga meluangkan waktu pergi ke dealer-dealer mobil di sekitar rumah untuk mencari mobil yang enak dipakai dan harganya terjangkau. Nampaknya mereka sepakat membeli mobil keluarga Daihatsu Sigra. Setelah itu mereka kembali ke Yogyakarta.

Pada tahun baru 2019, mas Sandy ke Bandung sendirian dan mengajak aku dan istriku ke dealer Daihatsu di Jalan Sukarno Hatta. Mas Sandy  membeli mobil yang telah dipesannya dan membayar secara cash sehingga mendapat korting atau discount yang lumayan. Mobil pun siap di depan gerai. Aku melakukan test drive di seputar gerai yang cukup luas. Akhirnya kami bertiga pulang ke rumah dengan mobil baru yang disupiri mas Sandy.

Setelah itu mas Sandy kembali ke Yogya dengan menggunakan bus. Mobil baru disimpan di garasi rumah kami menunggu kiriman STNK dan plat nomor polisi yang hitam.

Berselang seminggu, STNK dan plat nomor polisi pun datang. Kini tugasku mengantar mobil tersebut ke Yogyakarta.

Sehari sebelum keberangkatanku ke Yogya, aku mencoba mobil baru tersebut. Suatu pagi bersama anakku yang bungsu, Praja, aku meninggalkan rumah dan  melakukan test drive. Aku meluncur memasuki jalan tol Padaleunyi. Tujuanku adalah  ke Jalan Tol Soroja dan kemudian ke kota Soreang.  Aku mencoba akrab dengan peralatan navigasi yang canggih. Tiap putaran mesin terindikasi di layar pada dash board. Jika putaran pas, muncul lampu warna hijau dengan tulisan eco, jika putaran mesin  tidak pas muncul warna merah. Tulisan eco berarti penggunaan bbm efisien, jika muncul warna merah berarti penggunaan bbm tidak efisien. Aku pun langsung akrab dengan kendaraan ini. Hanya tenaganya memang tidak terlalu kuat karena mesinnya  kecil.

Setelah melakukan test drive sekitar 30 menit, kamipun sampai di Soreang dan mejeng di depan gedung budaya di depan kantor Bupati beberapa saat untuk kemudian kembali ke rumah dengan menggunakan jalan yang sama. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Aku siap membawa mobil ini besok.

Menuju Yogyakarta.


 

Keesokan harinya, aku berdua dengan istriku, Atikah, meninggalkan rumah. Kami akan mencoba mobil baru hingga sampai ke Yogyakarta. BBM full tank  karena sudah diisi penuh oleh mas Sandy.  Kami mengambil rute melalui Rancaekek, Cicalengka, Nagreg, Limbangan, Malangbong, Ciawi dan beristirahat di Masjid Agung Ciamis untuk melaksanakan salat dzuhur, istirahat dan makan siang berupa bekal yang kami bawa dari rumah.

Dari Ciamis kami melewati kota Banjar dan memasuki wilayah Cilacap di Provinsi Jawa Tengah. Saat ashar kami tiba di Karangpucung dan bersistirahat sambil melaksanakan salat ashar di sebuah masjid SPBU. SPBU nya baru, bagus dengan tempat parkir yang luas dan nyaman. Kebetulan saat itu hujan turun dengan derasnya. Kami pun mengaso di dalam masjid sampai hujan reda.

Saat hujan reda kami melanjutkan perjalanan. Ketika tiba di Kebumen hari mulai senja. Kami berbelok ke kanan melewati perkampungan dan pesawahan menuju Jalan Daendels di pantai selatan.

Saat tiba di Jalan Daendels yang menghubungkan Kebumen dengan Purworejo, hari masih terang. Beruntung kami masih bisa menikmati pemandangan. Jalan jalur selatan yang bagus mulus dan lebar. Di kiri kanan ada penjual buah-buahan seperti jambu mutiara dan lain-lain. Di sebelah kanan kadang-kadang nampak pantai selatan di kejauhan. Menjelang maghrib kami sampai di jembatan di atas sungai Bogowonto yang menjadi perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Aku terus melaju di jalur selatan sampai mendekati bandara internasional Yogyakarta, barulah aku berbelok ke kiri, ke jalan nasional Purworejo-Wates.

Sekitar pukul 22.00 kami tiba di rumah mbak Dea di Yogyakarta. mbak Dea sendirian di rumah, karena mas Sandy sudah pergi ke Malang. Mbak Dea pun melihat mobil baru yang dibeli mas Sandy dengan perasaan takjub. Mobil ini memang dibeli atas nama mbak Dea.

Menuju Malang

Keesokan harinya, usai waktu salat maghrib, aku, istriku dan mbak Dea meninggalkan Yogyakarta menuju Malang. Dari rumah aku menyupiri mobil hingga ke kota. Kemudian mbak Dea mencoba mengemudi saat meninggalkan kota menuju Solo. Meski sedang hamil, mbak Dea dengan trampil mengemudikan kendaraan. Pertama menuju Klaten dan kemudian lanjut sampai di Kota Solo. Jaraknya sekitar 60 km.

Dari Solo aku kembali mengemudikan kendaraan. Aku memilih mencoba menggunakan jalan tol yang baru saja dibuka. Untuk mencapainya pintu masuk tol pertama-tama  aku melewati jalan , Jl. Slamet Riyadi yang ramai. Ketika itu di sekitar waktu tahun baru Imlek. Balaikota dihiasi lampion-lampion besar berwarna merah.  Kami pun melewati alun-alun kraton Surakarta. Pasar Kliwon nampak dihiasi lampu warna-warni. Kami terus menuju Jurug, melewati Sungai Bengawan Solo. Ketika tiba di Palur, kami berbelok ke kiri memasuki jalan tol Trans Java yang menghubungkan Jakarta dengan Surabaya.

Jalan Tol Trans Jawa

Ini pertama kali aku mecoba berkendara di jalan tol Trans Jawa. Jalannya bagus. Setiap sekitar 20 km tersedia rest area di sebelah kiri dan kanan sekaligus. Akupun mencoba berhenti di rest area kedua untuk melaksanakan salat isya. Mushola nya bersih dengan taman yang indah. Banyak orang berhenti di rest area ini.

Setelah berhenti sejenak, aku melanjutkan perjalanan. Kota pertama yang kulewati adalah Sragen, lalu Ngawi. Ketika berada di Caruban, aku berhenti lagi untuk rehat kopi. Demikian aku mencoba berhenti di setiap rest area. Menjelang pagi aku sudah sampai di Mojokerto dan tidak lama kemudian tiba di Sidoarjo. Di sini aku berhenti untuk salat subuh dan minum kopi panas.

Perjalanan kulanjutkan sampai Pandaan. Jalan tol pun berakhir. Aku kemudian memasuki jalan arteri ke Lawang, Singosari dan sampailah aku di kota Malang pada pagi hari. Mas Sandy sudah datang untuk membuka guest house. Kami pun mandi, sarapan nasi krawu kegemaranku dan kemudian beristirahat.

Resepsi Pernikahan Mas Tony

Hari ini hari resepsi pernikahan mas Tony.Sekitar pukul 16.00 kami meninggalkan penginapan menuju ke  Hotel Sahid Montana  di Jalan Kahuripan yang tidak begitu jauh dari guest house kami di Jalan Coklat. Dari Jalan Coklat kami memasuki  Jl. Mayjen  Pandjaitan , Jl. Brigjen Slamet Riyadi dan berbelok ke kiri ke Jl. Kahuripan. Sejak kami berangkat dari guest house hingga saat kami tiba di parkiran hotel, hujan turun dengan deras. 


 

Acara resepsi dimulai sekitar pukul 19.00. Kami menjadi bagian dari keluarga H. Rachmad mengiringi kedatangan mas Tony ke pelaminan. Mas Tony, anak pertama H. Rachmad, seorang doktor perikanan dari sebuah universitas di Mexico. Kini mas Tony menjadi pengajar di UGM dan mendapat jodoh di universitas yang sama. Istri mas Tony juga penduduk kota Malang. Resepsi pernikahan mas Tony dihadiri tamu asing, sepasang muda-mudi dari Australia, yang merupakan kenalan lama  keluarga.

Saat resepsi pernikahan berlangsung aku menerima kunjungan mas Bido Swasono, seorang ahli permesinan yang juga politisi kota Malang. Kami mengobrol sambil minum kopi di tepi kolam. Tidak lama kemudian, datang kawan sekolahku saat di Ngawi, mas Parman, yang kini menjadi pejabat di Universitas Negeri Malang. Maka kami ngobrol bertiga mengenasi situasi lokal di kota Malang. Obrolan berakhir menjelang acara resepsi berakhir.

Dari hotel kami kembali ke guest house untuk beristirahat. Ibu Rachmad membawakan banyak makanan untuk kami. 


 

Kembali ke Yogyakarta

Keesokan harinya, pada sore hari kami meninggalkan guest house menuju kediaman Bpk. H. Rachmad, besan kami, di Jl. Nes, Lowakwaru. Kami berkunjung sekaligus berpamitan hendak mengantar mbak Dea dan mas Sandy kembali ke Yogyakarta dan kami sendiri pun hendak kembali ke Bandung.

Sekitar pukul 21.00, kami meninggalkan rumah besan dan meninggalkan kota Malang. Kali ini mas Sandy yang mengemudi. Mas Sandy melalui jalan-jalan yang tidak kukenal. Yang kutahu kami tiba di kota Jombang sekitar tengah malam dan kemudian memasuki jalan tol Trans Jawa. Saat tiba di Ngawi atau Sragen, mas Sandy berhenti untuk beristirahat. Aku kemudian yang mengambil alih kemudi.

Menjelang fajar kami memasuki Solo yang sepi dan nampak berkabut. Aku ke luar ke arah bandara Adisumarmo kemudian menuju Kartasura. Dari Kartasura kami menuju Klaten.  Pada pagi hari kami tiba di Yogyakarta.

Sore harinya, aku dan istriku kembali ke Bandung. Namun sebelum itu kami makan malam dulu di sebuah restoran di Kota Gede. Dari sana aku dan istrikut diantar ke Terminal Bus Giwangan untuk selanjutnya menggunakan bus ke Bandung.



 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 20 Februari 2022

Berkendara ke Yogyakarta


Mbak Dea dan mas Sandy sama-sama mengajar di Fakultas Geografi UGM. Mbak Dea mengajajar di Departemen Geografi Pembangunan, mas Sandy di departemen yang lain. Karena itu mereka mencari tempat tinggal di dekat kampus. Mereka mendapat kontrakan rumah di sebuah komplek kecil di Condong Catur, masuk wilayah Kabupaten Sleman. Suasana di sekitar rumah terasa khas Yogya tapi aku merasakan suasana seperti di daerah Kuta Bali.

Suatu saat di bulan Oktober tahun 2018 karena mas Sandy harus bertugas di luar kota untuk waktu yang agak lama, aku beserta istriku dan anakku yang bungsu berangkat ke Yogyakarta untuk menemani mbak Dea. Kami berangkat dari Bandung sekitar pukul 08.00 pagi hari dengan menggunakan mobil Taruna kesayanganku. Aku sendiri yang menyetir. Rutenya Nagreg Limbangan Malangbong Tasikmalaya Ciamis. Saat waktu salat Jumat kami tiba di masjid agung Malangbong, Garut, dan salat di sana. Usai salat kami makan siang di mobil yang kuparkir di alun-alun Malangbong. Bekal kami bawa dari rumah. Menjelang ashar kami tiba di masjid Agung Ciamis untuk salat dan beristirahat.

Dari Ciamis kami melanjutkan perjalanan melewati kota Banjar dan memasuki wilayah Cilacap di perbatasan Jawa Tengah. Memasuki wilayah Sidareja hingga Majenang, kami melewati pemukiman, kota kota kecil dan pesawahan yang indah. Menjelang maghrib kami  memasuki wilayah Banyumas  melewati Wangon, Buntu, Gombong  danKarangayar  dan kami pun beristirahat di sebuah rest area di wilayah Kebumen.  Setelah itu aku berkendara non stop melewati Kutoarjo, Purworejo, Wates dan sekitar pukul 09.00 memasuki kota Yogyakarta.

Setelah berbelok ke kiri dari ring road  kami sampai di Jalan Kali Urang dan berbelok ke kanan di dekat Gardu Induk PLN lalu sampailah kami di nama-nama jalan bernuansa geomoetrik  dan sampailah kami di rumah mbak Dea. Setelah mandi kami makan bersama. Masakan a la Jepang buatan mbak Dea yang disajikan panas-panas sungguh nikmat. Setelah mengobrol sejenak waktu, kami pun beristirahat.

Selama di Yogyakarta, kami menyempatkan berjalan-jalan di seputar ke kawasan Malioboro dan kawasan kraton, dan makan malam di sebuah rumah makan Jawa yang sedang trend di Jalan Kaliurang. Aku sendiri menyempatkan salat jumat di sebuah masjid sekitar rumah. Suasana perkampungan Jawa masih sangat terasa pada suasana pergaulan di luar dan dalam masjid.

Saat kembali ke Bandung, kami menggunakan jalan yang sama seperti pada saat berangkat. Kami berangkat pagi hari dari Yogyakarta dan berhenti sejenak di Ambar Ketawang untuk membeli oleh-oleh. Setelah itu kami beristirahat di alun-alun Jatilawang dan salat di masjid agung. Istri dan anakku menyempatkan mencari bakso di siang yang panas terik itu. Aku sendiri lebih suka bersantai di serambi masjid sambil melihat lalu lintas di jalan nasional dan aktivitas warga di alun-alun.

Sekitar waktu maghrib kami sudah sampai di tanjakan Gentong di wilayah Tasikmalaya dan beberapa jam kemudian kami sudah sampai di lingkar Nagreg. Menjelang tengah malam kami telah tiba di rumah dengan selamat.

Kamis, 17 Februari 2022

Berkunjung ke Kota Malang


Tidak lama setelah anak pertamaku, Mbak Dea menikah dengan Mas Sandy, aku dan istriku pergi ke kota Malang untuk mengunjungi besan kami. Pada bulan Februri 2018,  kami naik KA Malabar dari Stasiun Kiaracondong, Bandung, pada suatu petang. KA bergerak ke timur melewati Rancaekek, Cicalengka, Nagreg hingga Cibatu. Karena hari masih terang kami masih bisa menikmati pemandangan di luar. Kereta bergerak cepat melewati pemukiman, pesawahan, perkebunan, perbukitan dan sungai. Kadang kereta berada di ketinggian, dan di kejauhan nampak lembah yang permai dengan padi yang menguning, hijau pepohonan dan gunung-gunung di kejauhan. Setelah malam datang menyelimuti, kami pun menikmaticahaya terang di dalam gerbong sambil mendengar deru mesin dan gerak kereta yang berirama.

Kereta terus bergerak menembus malam. Ciamis, Tasikmalaya, Banjar, Sidareja, Kroya, Kebuman, Kutoardjo, Wates, Yogyakarta, Klaten, Solo, Sragen, Walikukun, Paron, Madiun dan Nganjuk. Saat waktu subuh tiba kereta masih melaju melalui Kertasana, Kediri, Tulungagung, dan Blitar.  Saat kereta meninggalkan stasiun Tulungagung, dunia mulai nampak cerlang cemerlang. Mentari nampak bergerak dari kanan ke kiri, menghilang di kerimbunan dedaunan lalu muncul di atas pesawahan dengan sinarnya yang keperakan menyilaukan. Sungguh pemandangan yang sangat indah.

 Akhirnya kereta tiba di Wlingi, Kepanjen dan tidak lama kemudia sampailah kami di stasiun Malang. Di sana mbak Dea dan mas Sandy menjemput kami . Ini adalah kunjunganku ke kota Malang yang kedua. Kunjunganku ke kota Malang seingatku adalah di tahun 1995. Sedang bagi istriku, ini adalah kunjungannya yang pertama.

Pagi itu udara kota Malang terasa sejuk. Dari stasiun KA kami melewati stadion olah raga Gajayana yang merupakan home base dari klub sepakbola Persema yang bisa disebut Laskar Ken Arok,  menuju kampus Universitas Brawijaya. Bulevar  di depan kampus sangat bagus mengingatkan pada bulevar di kampus Universitas Diponegoro di Jalan Imam Bardjo. Kami berkeliling kampus dan mengunjungi fakultas tempat mbak Putri mengajar. Di beberapa spot kami berhenti untuk mengambil gambar. 


 

Dari Unibraw kami  mengunjungi depot pecel Ibu Djarot untuk sarapan pagi bersama besan kami yang perempuan, Dr. Hj. Budi Prihatminingtyas, M.AB . Makan pecel di pagi hari dengan dilengkapi peyek kacang serta segelas air jahe panas sungguh amat nikmat.

Seusai sarapan kami menuju kampus Untri (Universitas Tribuana Tungga Dewi) tempat besan kami mengajar di mana kami dikenalkan dengan seorang Dekan di kampus tersebut. Dari sana kami menuju guest house di Jalan Coklat untuk mandi dan beristirahat. di guest house kami hanya berdua saja. Guest house  milik besan kami ini bangunannya cukup besar dan terletak di tengah kota Malang yang sibuk.

Malam harinya pak Drs. H. Rachmad Yusuf Susanto, M.AB  dan keluarga datang berkunjung ke guest house. Dari guest house kami berjalan kaki ke sebuah rumah makan untuk makan malam. Pak Rachmad dan nyonya menjamu kami makan malam yang spesial dengan menu  sea food. kami pun mengobrol secara leluasa. Pak Rachmad dan nyona bersama anak mereka  yang masih lajang mas Tony dan mbak Putri. Aku berdua bersama istriku. Mbak Dea dan mas Sandy. usai makan malam mereka mengantar kami ke guest house untuk beristirahat.

Batu

Keesokan paginya, kami dijemput mas Sandy dan mbak Dea. Setelah sarapan nasi krawy khas Gresik, kami meluncur ke luar kota, melewati Kampung Pelangi di tepian Sungai Brantas menuju kota Batu. Batu adalah sebuah kota yang relatif baru, sebelumnya Batu merupakan bagian dari Kabupaten Malang. Jadi kini ada kota Malang, kabupaten Malang dan kota Batu. Perjalanan ke Batu cukup mengasyikkan, maklum kota Batu merupakan daerah tujuan wisata. Jalan ke Batu terus menanjak sejak ke luar dari kota Malang, seperti perjalanan dari Bandung ke Lembang. Banyak obyek wisata di kota itu yang bertebaran di sepanjang jalan. Tujuan kami kali ini adalah sebuah agrowisata, kebun apel. Menjelang tengah hari kami sudah sampai di sana. Pengunjung cukup ramai sejak di tempar parkir dan pintu masuk. Di dalamnya ada bermacam-macam obyek wisata yang bisa dinikmati. Panggung hiburan, kolam renang, resto, wisata kebun apel, pasar rakyat yang menjual tanaman dan cindera mata dan tempat outbond. Pemandangan di sekitar agro wisata ini sangat indah mengingatkan kami pada Lembang,  Pangalengan dan Ciwidey. Gunung di kejauhan, hutan yang hijau, padang rumput, dan kebun apel. Kamipun berkeliling  ke semua obyek wisata di dalamnya sambil berfoto ria. Saat hujan turun kami singgah di warung desa yang ada di dalaml. Kami menikmati makan siang dengan menu makanan khas Malang serta menikmati kopi panas dan kudapan. 


 

Selepas waktu dzuhur kami meninggalkan lokasi aggrowisata apel dan kembali menuju Malang. Kali ini jalan terus menurun dan lalu lintas sudah mulai padat. Sebelum ke guest house kami menuju rumah Pak Haji Rachmad, besanku di Lowokwaru, tepatnya di jalan Nes. Itu pertama kami kami berkunjung ke rumah beliau. Kami banyak berbincang soal politik baik nasional, Jawa Barat maupun lokal khususnya di kota Malang.  Menjelang sore hari kami pun kembali ke guest house. Kali ini mbak Dea tinggal dan tidur bersama kami.

Sendang Biru.

Hari berikutnya aku sudah mulai mencari sarapan sendiri. Yang kucari masih tetap nasi krawu. Nasi krawu itu nasi putih yang dibungkus daun pisang disertai lauk seperti  daging dan serundeng dan sedikit sambel. Penjual nasi krawu kebetulan tidak jauh dari guest house. Boleh dikatakan tetangga rumah saja. Saat pagi kios penjual nasi krawu selalu didatangi pelanggan. Tidak sampai pukul sepuluh, barang dagangannya sudah ludes dibeli orang.

Setelah sarapan pagi bertiga  dengan nyonya dan mbak Dea, mas Sandy menjemput kami dan kami pun keluar dari guest house, berbelok ke kiri lalu menuju arah Kepanjen. Kepanjen  adalah ibukota kabupaten Malang. Dari Kepanjen kami terus mengarah ke selatan melewati kota kota kecamatan dan desa. Setelah beberapa jam kami tiba di wilayah pantai selatan. Seingatku kami pantai pertama yang kami kunjungi adalah pantai Bajul Mati. Pantainya relatif masih sepi dan bersih dengan banyak tanaman cemara udang. Kami pun berjalan-jalan sepanjang pantai. Anggap saja mbak Dea berbulan madu dengan dengan mas Sandy, dan aku dengan istriku. Setelah puas menikmati pasir putih, laut dan langit biru, deburan ombak, panas sinar mentari serta desir angin kami pun meninggalkan pantai.

Kami berkendara menyusuri pantai ke arah timur. Banyak sekali spot wisata sepanjang selatan Malang ini. Jalan yang bagus dan lengang membuat perjalanan sangat nyaman. Kami pun tidak lupa singgah di sebuah rumah makan di tepi pantai yang menjajikan makanan ikan segar dari laut. Maka sempurnalah traveling kami ini.

Senyampang ada waktu kami bergerak ke arah timur dan setelah beberapa kilometer berbelok ke kanan, lalu menaiki dan menuruni punggung bukit yang dipenuhi pepohonan rimbun. Di depan mata pemandangan yang menakjubkan, pantai yang dipenuhi kapal nelayan. Lautnya nampak biru permai. Pantai Sendang Biru. Aku seperti bermimpi melihatnya . Ini pantai yang fotonya banyak menghias kalender dan menerbangkan imajinasi. Seakan tidak percaya, akupun langsung menghambur ke pantai yang dipenuhi kapal-kapan nelayan. 


 

Kami berjalan jalan dari ujung pantai yang satu ke ujung pantai yang lain. Kadang mengendap di balik kapal yang bersandar. Jika lelah kami pun duduk di dermaga memandang laut yang tenang dan memandang ke Pulau Sempu di sebrang tidak jauh dari pantai. Hanya sepelemparan batu saja. Pulau Sempu nampak anggun seperti gundukan batu zamrud hijau. Satu dua perahu perahu nelayan hilir mudik dari pantai ke pulau dan sebaliknya. Pulau Sempu seperti baru diciptakan Tuhan. Begitu baru dan sempurna. Masya Allah.

Sepulang dari pantai kami tidak lupa singgah ke pasar ikan modern, masih sehamparan dan tidak jauh dari dermaga. Setelah itu kami meninggalkan pantai melewati  perkampungan nelayan yang ramai. Perkampungan nelayan nampaknya sudah cukup lama dan seperti tersembunyi di balik hutan dan perbukitan. Sementara itu nampaknya pemerintah sudah membuat sebuah apartemen nelayan yang megah di tepi jalan raya.

Dari pantai Sendangbiru ke Malang jaraknya sekitar 80 km. Mas Sandy membawa mobil tidak melalui jalan utama melainkan melalui jalan alternatif seperti saat pergi. Jadi kami melewati jalan yang berbeda saat pergi dan pulang. Namun suasana pedesaan masih kental terasa baik pada perjalanan pergi maupun pulang.  Menjelang isya kami sampai di kota Kepanjen. Kami pun melewati stadion Kanjuruhan, home base dari klub sepakbola Arema.  Dari sini lalu lintas nampak padat hingga ke kota Malang. Saat tiba di guest house kami segera mandi, salat, makan dan beranjak tidur.

Keesokan harinya kami, aku dan istriku, mas Sandy dan mbak Dea, meninggalkan kota Malang menuju Yogyakarta. Mbak Putri mengantar kami sampai stasiun KA. Kami menggunakan kereta api menuju Yogyakarta.  Aku lupa nama keretanya, Kertanegara Gajayana atau Malioboro Ekspres.  Sepanjang perjalanan kami berbincang-bincang mengenai budaya dan sejarah Sunda maupun Jawa. Antara lain membahas kisah Dyah Pitaloka, putri kerajaan Sunda yang tewas dalam insiden di Bubat bersama ayahnya dan juga para hulubalang raja.

Menjelang malam kami tiba di stasiun Tugu. Setelah membeli tiket KA ke Bandung, kami masih sempat mengobrol dan mengambil foto sebelum berpisah. Mbak Dea dan mas Sandy kembali ke rumah, sedangkan aku dan istriku menunggu kereta api dari Surabaya.  Saat menunggu  datangnya kereta api, ternyata kami bertemu dengan tetangga  yang sama-sama hendak pulang ke Bandung. Pengumuman datang dari pengeras suara, bahwa kereta api Lodaya segera masuk ke jalur. Saat kereta berhenti kami pun segera masuk. Tidak lama kemudian kereta api pun berangkat menujup Bandung meninggalkan Yogyakarta.

 

 

 

Jumat, 28 Januari 2022

Pernikahan Kemenakan


Sejak memasuki tahun 2000-an, banyak sekali pernikahan  kemenakanku. Banyak yang bisa kuhadiri baik sendirian maupun bersama nyonya dan kadang bersama keluarga, namun ada juga yang tidak bisa kuhadiri karena alasan kesibukanku maupun belakangan karena alasan adanya pandemi. Kemenakanku setidaknya berasal dari  beberapa asal usul. Pertama berasal adik adikku (Keluarga Harso), kedua berasal dari keluarga ayah (Keluarga Rono),  ketiga berasal  dari keluarga ibu (Keluarga Puluhwatu), dan keempat berasal dari keluarga istriku (Keluarga Banjaran).

A.      Kemenakan dari Keluarga Harso.

1.       Pernikahan  kemenakan pertama yang kuhadiri adalah pernikahan Mohammad Iman Damara, anak laki-laki pertama adikku, jeng Yani , yang tinggal di Cibinong, Bogor. Iman lulusan IPB dan bekerja di Baznas. Mempelai perempuan berprofesi sebagai guru, berasal dari Bogor juga. Pernikahan berlangsung di ballroom Vila Billabong. Dalam pernikahan ini aku mendampingi  jeng Yani di sisi pelaminan, karena suami jeng Yani-dik Karmawan- sudah lama meninggal dunia. Pernikahan ini dilaksanakan dengan menggabungkan adat Palembang dan Jawa. Ketua Baznas, Dr. Didin, hadir memberi kutbah nikah.

Istriku lebih dulu ke Cibinong, sedang aku berangkat pada Hari-H. Dari  Jalan Tol Padaleunyi kami memasuki jalan tol Jakarta Bogor. Sampai di Bogor kami mengambil jalan nasional ke arah Jakarta. Resepsi selesai pada pukul 14.00.  Seusai resepsi, aku beristirahat sejenak di sebuah rumah singgah di dekat rumah jeng Yani. Menjelang malam kami kembali ke Bandung. 


 

2.       Pernikahan berikut  yang bisa kuhadiri adalah pernikahan Aulia Rachmat Wibowo, anak laki-laki kedua jeng Yani (Budi Wajiati) di Jakarta. Rachmat seorang jurnalis teve menikah dengan Yuvienda sesama jurnalis di stasiun televisi yang sama. Mereka menikah di sebuah gedung pertemuan di komplek Lanud Halim Perdanakusuma di Jakarta. Kali ini saya pun menjadi saksi dan sekaligus mendampingi jeng Yani . Pernikahan menggunakan adat Jawa dan Palembang, karena ayah nak Rachmat berasal dari Padamaran, OKI. Karena lokasi akad nikah dan resepsinya di Halim yang dekat dengan jalan tol Jakarta-Cikampek, maka aku tidak perlu menginap di Jakarta. Pagi itu aku, istri dan anak-anak berangkat dari Bandung bersama-sama dan pulang pada hari itu juga.


 

3.       Pernikahan selanjutnya adalah pernikahan Haniefah, putri pertama dari jeng Haryani dan dik Achmad Firdaus. Haniefah menikah dengan Evan, anak seorang pasangan dokter dari Cirebon. Akad nikah pernikahan  dilaksanakan di masjid Al Irsyad di kota baru Parahyangan, Padalarang, dan resepsinya diselenggarakan secara outdoor (garden party) di halaman samping masjid. Dalam pernikahan ini aku pun bertindak mewakili keluarga jeng Haryani dan juga menjadi saksi pernikahan. Mbak Dea dan mas Sandy juga hadir dari Yogyakarta. Ibu dan adik-adikku juga bisa berkumpul secara lengkap. 


 

4.       Pernikahan berikutnya adalah pernikahan Maryam Qaramatullah  yang biasa dipanggil Lulu dengan Irfan. Mereka sama sama kuliah dan bekerja di UPI (Universitas Pendidikan Indonesia).  Lulu anak dik Yus dan jeng Titik. Sedangkan Irfan anak seorang pejabat di Depag. Mereka tinggal di Sukabumi.

Akad nikah dan resepsi pernikahan Lulu dan Irfan diselenggarakan di gedung pertemuan Ahmad Sanusi UPI yang terletak di samping Sekolah Pascasarjana dan dibelakang masjid kampus. Antara masjid dan gedung pertemuan dihalangi sungai kecil. Adik-adik dan keluarganya datang dari berbagai kota, demikian juga anak-anakku. Mbak Dea dan mas Sandy  dan Kanaya datang dari Yogyakarta dengan menggunakan pesawat. mereka menginap di sebuah hotel di Jalan Cihampelas. Mas Sidiq dan Shasmaka datang dari Jakarta dengan menggunakan kereta api.

Pada pernikahan Lulu aku mendapat tugas menjadi saksi. Usai akad nikah aku segera meninggalkan tempat dan dengan menggunakan taksi daring segera menuju sekretariat DPD PDI Perjuangan Jawa Barat untuk mengikuti fit dan proper test calon bupati Bandung. Dari PDI Perjuangan ada empat bakal calon : Kang Dimyati, Teh Yena, Kang Irman dan saya. 


 

5.       Pernikahan berikutnya adalah  pernikahan Maulida Kartika Azzahara (Tika) dengan Dony. Tika anak bungsu jeng Yani  yang tinggal di Cibinong dan Dony berasal dari Ponorogo. Tika dan Dony saling bertemu di program Indonesia Mengajar. Pernikahan diselenggarakan di sebuah gedung pertemuan di daerah Cibinong dan diselenggarakan dengan adat Palembang dan Jawa. Aku mewakili tuan rumah menerima rombongan pengantin pria, menjadi saksi pernikahan dan mendampingi jeng Yani selama rerepsi berlangsung.

Pada pernikahan Tika dan Dony ini, keluarga mas Sidiq hadir bersama besanku, Ibu Sri Andini, hakim tinggi DKI Jakarta. Keluarga nyonya juga hadir dari Bandung. Demikian juga keluarga mas Ignas dan mbak Tutik dari Bogor. Kami masih sempat saling bertemu di akhir acara. Setelah itu kami kembali ke tempat masing-masing.

Ini adalah pernikahan di keluarga Harso yang bisa dihadiri ibu.

6.       Pernikahan berikutnya adalah pernikahan Aisyah dan Encep. Aisyah anak jeng Titik dan dik Yus. Sementara orang tua Encep orang Bandung. Kali ini akad nikah dan resepsi pernikahan diselenggarakan di sebuah kolam renang di Cipatat, dekat rumah jeng Titik. Pada pernikahan Aisyah-Encep ini pun  aku menjadi saksi pernikahan.

Usai resepsi pernikahan , aku mengantar mas Yono dan keluarga berjalan-jalan ke Waduk Saguling. Mas Yono dan nyonya menyempatkan  datang dari Bengkulu untuk  menghadiri  pernikahan ini, sementara Ipang, anak mereka, datang bersama kawan-kawannya dari Jakarta. Rute yang  kami lalui adalah mengeliling Waduk Saguling melalui  Cipatat, Saguling, Cipongkor, Cililin, Batujajar, Cimaremeh, Padalarang dan Cileunyi. Dari Padalarang kami melewati jalan tol Padaleunyi. Ipang dan kawan-kawannya pulang malam itu, sedangkan mas Yono dan nyonya pulang keesokan harinya. Aku mengantar mereka sampai ke komplek Batununggal. Mereka kemudian menggunakan shutle bus ke Bandara Sukarno-Hatta.

 

 

B.      Kemenakan dari Keluarga Rono 

 


 

 

1.        Pernikahan Maryono ( anak jeng Sumini dan dik Salekan) dengan Nonon  diadakan di Batujajar, dekat dengan Waduk Saguling. Jeng Sumini adalah anak sulung bulik Giyem (adik ayahku yang bungsu). Jeng Sumini satu-satunya anak bulik yang tinggal di Ngawi.  Akad nikah dan resepsi diadakan di kediaman mempelai perempuan.

 Pernikahan Siswanto (anak jeng Suminem dan dik Untung) dengan Wati. Akad nikah diadakan di sebuah masjid di Subang dan resepsi diadakan di rumah mempelai perempuan. Aku dan  nyonya berangkat dari Bandung melalui jalan tol Padaleunyi dan ke luar di pintu tol Sadang. Pulangnya aku keluar di pintu tol Kopo dan singgah di Perumnas Bumi Parahyangan Kencana mengantar Ibuku. Ikut bersama kami, beberapa saudara yang datang dari Ngawi.

3.      Pernikahan kemenakan berikutnya  yang kuhadiri adalah pernikahan Aulia Rohayati  (biasa dipanggil Uli), anak perempuan Mas Nurul Supardi di Bandung. Uli yang lulusan UII Yogyakarta menikah di rumahnya di Gedebage dengan orang Jakarta, Herwandi. Mas Nurul adalah anak dari bupuhku, kakak perempuan bapak. Sehingga mas Nurul adalah kakak sepupu. Dia juga teman sekolahku di SMEA Panti Pamardi Sisi, Ngrambe, Ngawi. Dalam pernikahan ini aku juga menjadi saksi nikah

4.       Pernikahan Wulandari.  Wulan adalah anak jeng Suminah dan kang Ece yang kedua. Wulan, lulusan sastra Jepang UPI dan bekerja di perusahaan Jepang menikah dengan Ismail, seorang pemuda dari  Kebumen, yang pernah aktif menjadi Satgas PDI Perjuangan. Akad nikah dan resepsi diselenggarakan di sebuah GOR di Cicalengka, Bandung. Keluarga dari berbagai kota hadir, juga yang dari Sumatra. Keluarga jeng Suminah banyak tinggal di Sumatra, karena orang tua mereka bertransmigrasi ke sana sejak tahun 70-an. Ibu mereka, bulik Giyem adalah adik bungsu ayah. Bulik dan suaminya meninggal di Lampung, Sumatra dan dimakamkan di sana.  Sehari setelah pernikahan, keluarga besar  jeng Suminah dari Ngawi dan Lampung datang berkunjung ke rumahku.

5.       Pernikahan Eva. Eva adalah putri sulung mbak Kasmiyati dan mas Gunari. Mbak Kasmiyati anak perempuan bupuh Sinem, kakak perempuan ayah yang tertua. Ketika itu Eva bekerja di Tangerang, di mana ia bertemu dengan laki-laki yang menjadi jodohnya.  Akad nikah dan resepsi pernikahan diselenggarakan di rumah mbak Kasmiyati di Ujung Berung, Bandung. Ada hiburan dangdutan dari penyayi dan grup musik setempat.

6.      Pernikahan Ujang Suherman. Ujang anak ketiga jeng Suminah dengan dik Cece. Ujang bekerja di sebuah BPR (Bank Perkreditan Rakyat) di Cileunyi, Bandung dan melanjutkan kuliah di sebuah PTS di Bandung. Ujang menikah dengan seorang pegawai bank juga. Akad nikah dan resepsi pernikahan mereka diadakan di sebuah komplek perumahan di Parakan Muncang, Kabupaten Sumedang.

7.       Pernikahan berikutnya  adalah pernikahan Bagus Rengga di Surabaya.  Rengga anak laki-laki mas H. Samidi. Rengga, sarjana teknik lulusan ITS  menikah dengan seorang dokter gigi. Pernikahan berlangsung pagi hari dan resepsinya diselenggarakan malam hari di gedung pertemuan Universitas Bhayangkara. Saat itu aku dan rombongan menggunakan kereta api dari stasiun KA Kiaracondong seusai waktu subuh dan tiba di Stasiun KA Wonokromo pada malam hari. Kami dijemput para kemenakan. Di rumah mas Samidi sudah ada mas Suyono dari Bengkulu. Kamipun menginap di masjid dekat rumah. Mas Yono bertugas menjadi saksi dan saya memberikan sambutan mewakili keluarga mempelai pria. Pernikahan berlangsung dalam adat Jawa. Sehari setelah pernikahan, kami kembali ke Bandung dengan kereta api siang dan tiba di Stasiun Kiaracondong pada malam hari.

8.       Pernikahan berikutnya adalah pernikahan Dony Setya,  putranya mbak Mar dan mas Dwi di Nganjuk. Dony lulusan S2 dari Universitas Negri Surabaya. Nah kali kami berangkat dari Yogyakarta bersama-sama dengan anak perempuanku, mbak Idea dan menantu, mas Sandy. Kami berangkat pada waktu subuh dengan membawa kendaraan pribadi melalui kota Klaten dan Solo lalu masuk ke jalan tol Trans Jawa menuju kota Nganjuk. Menjelang waktu dzuhur kami tiba di tempat hajat. Dony mendapat istri warga setempat. Pernikahan diselenggarakan di rumah. Di tempat hajat kami bisa bertemu dengan keluarga besar dari Ngawi dan kota-kota lain baik di Jawa dan luar Jawa. Sekitar pukul 14.00 kami kembali ke Yogyakarta. Mas Sandy melanjutkan perjalanan ke Malang dengan menggunakan bus dari terminal bus Nganjuk untuk menengok orang tuanya. Aku mengemudi mobil pulang ke Yogyakarta. Setelah beberapa hari di Yogyakarta,  kami pulang ke Bandung dengan menggunakan kereta api ekspres malam.

9.      Pernikahan selanjutnya yang bisa kuhadiri adalah pernikahan Bagus Anton  di Surabaya. Anton lulusan ITS dan saat itu sudah bekerja di luar Jawa. Ini anak laki-laki kedua mas H. Samidi.  Bagus menikah dengan anak seorang haji yang merupakan  pengusaha tambak ikan dari Sidoharjo, Jawa Timur. Kali ini aku berangkat dari Bandung bersama istri. Kami menuju Yogyakarta dan menginap semalam. Malamnya kami naik bus dari depan bandara Adisucipto dan sampai di Stasiun Sidoarjo pada pagi hari. Dari sana kami naik taksi ke Universitas Bhayangkara, Surabaya. Pernikahan berlangsung pagi hari dan resepsinya juga diselenggarakan pada pagi dan siang hari di gedung pertemuan Universitas Bhayangkara. Acara berlangsung hingga pukul 14.00. Mas Yono bertugas menjadi saksi dan saya memberikan sambutan mewakili keluarga mempelai pria. Pernikahan berlangsung dalam adat Jawa. Sore harinya kami kembali ke Yogyakarta dengan menggunakan bus.Tiba di Yogyakarta pada tengah malam dan menginap di rumah anak kami.

10.  Pernikahan Selly Ulfiyani. Selly adalah anak perempuan dari jeng Sri Wahyuni dengan dik Mukarom. Jeng Sri adalah adalah anak ke sepuluh (bungsu) Oom Wiro dan bulik Giyem. Pernikahan diselenggarakan di kediaman mereka di Desa Gandasoli, kecamatan Katapang, Kabupaten Bandung. Kebetulan pada hari yang sama ada acara partai, menanam pohon di Pangalengan. Jadi dari sana aku dan istriku langsung ke tempat pernikahan.

 

C.      Kemenakan dari keluarga  Puluhwatu.

1.       Pernikahan drg. Siska, anak perempuan dari mbak Ninik dan mas Wasis Kusni. Dokter Gigi Siska menikah dengan Reza,  orang Kalimantan yang berdarah Madura—anak seorang anggota DPRD di Pangkalan Bun—yang  merupakan kemenakan bupati Sleman saat itu, Idham Samawi, dari pihak istri. Pernikahan diselenggarakan dengan megah dalam budaya Jawa yang agung di sebuah gedung pertemuan di depan komplek UGM di Yogyakarta.  Ada ensamble musik gamelan selama acara resepsi berlangsung. Aku datang ke Yogyakarta bersama mbak Tatik dan mas Tarno. Kamipun menginap di sebuah wisma milik keluarga Dian Sastrowardojo. Di sana aku bertemua anakku Sidiq yang datang dari Semarang dan Praja yang lebih dulu berangkat dari Bandung bersama Ibu dan jeng Wiwin. Ibu dan rombongan bahkan sempat mengunjungi keluarga besar kami di Ngawi terlebih dahulu. Saat pulang ke Bandung kami melalui jalur pantai selatan sampai Cilacap dan berkunjung ke keluarga besar mas Tarno di Jatilawang. Menjelang tengah malam aku sampai di rumah. Mas Tarno dan keluarga melanjutkan perjalanan ke Cimahi.

2.       Pernikahan  Bertha Widiantari, anak perempuan kedua mbak Tatik Ariyani dan mas Alexius Sutarno. Pernikahan Bertha dengan Panji diselenggarakan di katedral Cimahi dan pesta pernikahan diselenggarakan di aula Gereja di pusat kota. Bertha menikah dengan seorang pemuda berdarah Menado dan Jawa. Keluarga  bupuh Arisman dan bupuh Mulyono juga hadir dari berbagai kota dan mereka menginap di sebuah mess TNI AD di dekat katedral.

Keesokan harinya keluarga mbak Ninik berkunjung ke rumah  diantar mas Bowo, sebelum pulang ke Yogyarta. 



 

3.       Pernikahan  Citra,  anak perempuan kedua mbak Ninik dan mas Wasis. Citra lulusan sebuah universitas di Singapura menikah  dengan seorang pemuda  Melayu dari Singapura. Akad nikah di Singapura, tetapi pesta pernikahan diselenggarakan di tiga tempat, Singapura, Medan dan Pekanbaru. Nah  aku menghadiri acara di Pekanbaru ini. Berangkat sendirian dari bandara Husen Sastranegara di Bandung, aku sampai di bandara internasional Sultan Syarif Kasim II menjelang ashar dan menggunakan bus kota menuju kediaman mas Wasis. Saat turun dari halte bus dan menyebrang jalan dengan menarik koper,  ada seorang mahasiswa berbaik hati mengantarku dengan menggunakan motornya hingga ke halaman rumah mas Wasis. Tiba di sana sudah ada bupuh Aris, Mas Yanto dan Rendi. Malam itu Prof Caska dari Unri datang mengunjungiku. Mas Wasis menjamu kami dengan gulai kepala kambing yang lezat. Kambing yang disembelih merupakan kambing yang diternakkan mas Wasis di perkebunan sawitnya. Mas Caska kemudian mengajakku jalan jalan menikmati pemandangan malam hari kota Pekanbaru sambil berkeliling kampus dan bercerita mengenai beberapa bangunan eks PON yang mangkrak.

4.       Pernikahan  dr. Fahmi  anak laki-laki pertama mas Haji Bowo Restiyono dan mbak Hj. Nunung. Fahmi dokter lulusan Universitas Sultan Agung, Semarang, mendapatkan jodoh orang Tegal, anak seorang PNS yang berbisnis busana dengan mendirikan butik. 


 

Sehari sebelum pernikahan aku dan nyonya berangkat dengan mobil melalui Sumedang, Jatiwangi, Palimanan, Cirebon, Losari dan Brebes melalui jalan nasional. Saat salat Jumat tiba aku menyempatkan diri salat di sebuah masjid di kota Cirebon. Usai salat kami melanjutkan perjalanan dan tiba di Tegal saat waktu ashar. Kami langsung menuju hotel Premiere di dekat pantai untuk check ini dan beristirahat. Malam harinya kami dijemput menuju kediaman mempelai pengantin perempuan untuk acara lamaran. Keluarga besar Arisman dari berbagai kota hadir. Selain bupuh Aris, ada Mas Har, mbak Wiwik, mbak Tatik, mas Yanto, mas Didik, mas Hari dan mbak Ninik beserta keluarganya. Acara selesai tengah malam dan kami diantar kembali ke hotel.

Keesokan harinya kami hadir kembali ke rumah mempelai perempuan untuk acara akad nikah. Dari rumah mempelai perempuan kami berjalan mengiringi pengantin dengan diiringi tetabuhan rebana. Demikian juga saat pulang kembali ke rumah. Usai akad nikah di masjid ada acara selamatan di rumah mempelai perempuan, dan itu menjadi waktu bagi kami bertemu keluarga Arisman secara lebih leluasa dan santai. Malam harinya kami bertemu lagi di sebuah rumah makan yang terletak di jalan utama menuju Slawi. Setelah itu aku dan istriku kembali ke hotel.

Keesokan harinya jeng Yani dan jeng Titik datang. Lalu setelah sarapan pagi kami bersama-sama mendatangi tempat resepsi pernikahan di sebutah ballroom yang terletak di belakang hotel. Acara berlangsung meriah hingga petang hari. Kami pun berpisah dengan keluarga kedua  mempelai dan kembali ke hotel untuk check out lalu meninggalkan kota Tegal. Jeng Yani ikut bersama kami sampai kota Cirebon. Kami mengantar ke terminal bus. Setelah bus yang ditumpangi jeng Yani meninggalkan terminal, kami pun melanjutkan perjalanan ke Bandung melalui daerah Trusmi yang kini nampak semakin semarak dengan banyaknya pertokoan dan pasar batik.

 

D.      Kemenakan dari keluarga Banjaran

 


 

1.      Pernikahan Yudha. Yudha, anak pertama ceu Yayah dan kang Ugih yang tinggal di Jalan Cagar Alam, Pancoran Mas, Depok setelah pindah dari Bandung. Ceu Yayah dan kang Ugih, sama-sama paramedis. Ceu Yaya, kakak tertua istriku, bekerja di RS Bhakti Yudha dan kang Ugih bekerja di Dinas Kesehatan Kota Depok.  Yudha, yang lulusan dari akuntansi UPN Veteran Depok menikah dengan Mely, orang Tionghoa. Ayah Mely punya pabrik pengolahan kopi yang  legendaris. Resepsi pernikahan Yudha dan Mely diadakan di Gedung Pertemuan yang megah di TMII (Taman Mini Indonesia Indah). Dari Bandung, kami sekeluarga ke TMII di Pondok Gede, Jakarta pada Hari-H. Hari itu pula kami kembali ke Bandung.

2.      Pernikahan Andri. Andri, anak kedua Ceu Yayah dan kang Ugih. Resepsi pernikahan diselenggarakan di kediaman mereka di Jalan Cagar Alam, Pancoran Mas, Depok. Di samping rumah Ceu Yayah ada tanda kosong yang bisa digunakan untuk resepsi. Sementara kendaraan bisa diparkir di sebidang tanah kosong yang lainnya masih di blok yang sama. Karena diselenggarakan di rumah, suasana jadi lebih familiar. Kami bisa berkumpul sampai menjelang magrib. Usai magrib kami kembali ke Bandung.

3.      Pernikahan berikutnya yang bisa kuhadiri adalah pernikahan Mohammad Ramdhan (Dadan), anak laki-laki kang Iman Kardiman dan mbak Rita. Kang Iman adalah kakak perempuan istriku. Kang Iman  tinggal di Banjaran, Bandung. Ramdhan yang bekerja di IPTN adalah anak kedua kang Iman, ia menikah dengan Warni dari Arjasari, Kabupaten Bandung. Dalam pernikahan ini, akupun menjadi saksi nikah.

4.      Pernikahan Gun-gun. Gun-gun nama panggilan dari Guna Gumbira, anak pertama dik Eni dan dik Sunsun. Gun-gun menikah dengan gadis dari Lembang, seorang sarjana teknik pertambangan lulusan Unisba. Akad nikah dan pernikahan mereka diselenggarakan di sebuah resor tidak jauh dari rumah mempelai perempuan. Tepatnya di jalan Lembang-Maribaya. Pada pernikahan Gun-gun ini, dik Nanik datang dari Swiss untuk menghadiri. Adik-adikku juga hadir, baik dari Bandung maupun Bogor.

Seusai acara resepsi kami mengadakan rapat keluarga di tempat dan kemudian langsung ke RSHS menjenguk ibu istriku yang sedang dirawat untuk kesekian kalinya, sebelum akhirnya kembali menghadap Tuhan Yang Mahas Pengasih dan Maha Penyayang.

5.      Pernikahan Riska. Riska anak ketiga Kang Iman dan mbak Rita. Riska kuliah di UPI dan setelah lulus diterima bekerja sebagai guru pada Dinas Pendidikan Kabupaten Bogor dan sehari-hari  bekerja di sebuah SLB di Cibinong. Riska menikah dengan orang Baleendah, Kabupaten Bandung. Akad nikah dan resepsi pernikahan diselenggarakan di rumah keluarga besar Une Hidayat di Banjaran.

6.       Ada beberapa pernikahan kemenakan lagi dari keluarga istriku yang kuhadiri. Yang kuingat adalah pernikahan cucu Kang Haji Engkom yang diselenggarakan dengan megah di kediaman orang tuanya di Desa Kiangroke. Kemudian pernikahan anak dari sepupu istriku di Pamengpeuk. Terakhir adalah pernikahan anak laki-laki ayi Haji Yuyus. Haji Yuyus adalah suami dari sepupu istriku. Anak mereka seorang prajurit TNI AD. Rupanya kemenakan ku ini mengikuti jejak uwa nya, Mayor Jendral Karmin, yang merupakan kakak sepupu istriku. Pernikahan anak dik Haji Yuyus diselenggarakan di garasi yang disulap menjadi tempat resepsi, milik kemenakan kami.