Kamis, 28 April 2011

Pulang Kampung Nih

SAMPAI memilik tiga orang anak dari perkawinan kami, seorang putri dan dua orang putra, kami belum pernah pulang ke kampung halamanku, tempat orang tuaku berasal. Biasanya Kami pulang ke Banjaran, Bandung, rumah orang tua istriku, terutama pada hari raya idul fitri atau pada saat libur sekolah. Kami tidak pulang ke Ngawi karena keluargaku sudah tinggal lagi di Ngawi, ibu bapak dan adik-adikku tinggal di Bandung, Bogor dan Jakarta. Untuk mengenalkan anak-anakku pada kampung halamanku, pada tahun 1997, kami memutuskan membawa anak-anak ke Ngawi. Saat itu Dea putriku sudah berumur 10 tahun, Dimas anak kedua sudah berumur delapan tahun dan Praja berumur tiga tahun.

Pada pagi hari kami sekeluarga berangkat meninggalkan Rancaekek, Bandung menuju Ngawi. Bersama kami ikut pula ibuku serta pak Tri dan kang Nandang, dua orang teman dekatku, dengan demikian aku tidak harus membawa sendiri kendaraan sejauh 700 kilometer. Nyatanya, selama perjalanan kang Nandanglah yang mengemudikan kendaraan pergi pulang. Kami melalui Ciamis, Banjar, Kebumen, Purworejo, Yogya, Klaten, Solo, Sragen dan tiba di Gendingan, Ngawi malam hari. Kami pun menginap di rumah bupuh Karsohutomo.



Stasiun Walikukun





Keesokan harinya istri dan anak-anak, ditemani kang Nandang dan pak Tri pergi ke pasar Walikukun. Mereka senang sekali karena suasana pasar sangat bersahaja tapi nyaman, barang-barangnya terbatas dan kebanyakan berasal dari desa-desa sekitar. Ikan sungai (disebut wader) dijual dengan cara dirangkai pada bilah bamboo dan dibakar, rasanya enak dan harganya murah. Teman-temanku bergurau, kata mereka jika tinggal di Ngawi bisa punya istri dua karena harga-harga makanan murah meriah. Ha ha ha. Ikan sungai itu oleh bupuh dibuat menjadi garang asem, yaitu dimasak dalam bentuk pepesan dibumbui belimbing wuluh sehingga rasanya menjadi segar. Kamipun makan nikmat sekali di beranda belakang rumah beralaskan tikar.

Di Ngawi kami sempat berjalan-jalan ke museum fosil di Trinil (Trinil is a palaeoanthropological site on the banks of the Bengawan Solo River in Ngawi Regency, East Java Province, Indonesia. It was at this site in 1891 that the Dutch anatomist Eugène Dubois discovered the first early hominid remains to be found outside of Europe: the famous "Java Man" specimen) yang terletak di pinggiran Bengawan Solo, kemudian melihat reco Banteng, dan menikmati sate di daerah Banaran. Sate kambing Banaran sangat terkenal kelezatannya. Pedagang sate dan soto berderet-deret sepanjang jalan nasional antara Banaran dan Mantingan. Banaran adalah sebuah tempat di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur yang masuk ke wilayah kabupaten Sragen, sedangkan Mantingan adalah pintu gerbang memasuki Jawa Timur yang masuk wilayah kabupaten Ngawi. Malam itu kami mengajak bupuh dan keluarganya menikmati sate Banaran. Anak-anakku pun senang karena rumah makannya adalah sebuah rumah limasan berkayu jati dengan arsitektur khas Jawa Tengah dan Timur. Suasananya tidak dapat ditemukan di tempat lain. Suasana Jawa yang membuat kita merasa seperti di rumah sendiri.

Aku mengajak keluargaku ke Tulakan, desa dari mana keluarga ayahku berasal. Di desa inilah asal-usul keluarga Rono. Mbah buyut Rono memiliki beberapa anak, dan salah satunya adalah Prawirorejo, ayah dari ayahku. Kami berziarah ke makam mbah kakung dan mbah putri. Tidak lupa mengunjungi bude-budeku dan mbah-mbahku yang masih ada. Anak-anakku terkesan dengan kunjungan ini karena hampir satu kampung adalah saudara-saudara mereka semua, jika bertemu mbah-mbah atau bude-bude selalu menciumi anak-anakku. Memang sungguh menyentuh hati.

Akupun mengajak keluargaku berkeliling gunung Lawu. Kami berangkat dari Gendingan menuju Magetan, singgah di rumah bupuh Mulyono. Dari sana kami terus menuju Sarangan. Di Sarangan aku mengajak anak-anakku naik kuda berkeliling telaga, kemudian mengajak ibu, istri, bupuh dan teman-temanku berkeliling telaga dengan menggunakan dua buah speedboat. Udara gunung Lawu yang segar membuat kegiatan ber-speedboat sangat mengasyikkan. Air telaga Sarangan yang jernih dan biru, gunung yang biru, langit biru, semuanya mendekatkan kami pada alam yang indah dan mengingatkan kami pada kemahabesaran Allah Swt. Subhanallah. Setelah puas berperahu, kami melepas lelah sambil menikmati sate kelinci. Sate kelinci adalah makanan khas yang dijual para pedagang di Sarangan. Rasanya seperti sate ayam.



Telaga Sarangan











Setelah zuhur kami melanjutkan perjalanan ke Cemorosewu, yang merupakan perbatasan antara Jawa Timur dan Jawa Tengah, sekaligus pintu masuk ke puncak Gunung Lawu. Perjalanan sangat mengasyikkan karena melalui hutan yang lebat dan jalan yang menanjak berkelok-kelok diselingi kabut. Kang Nandang harus mengerahkan seluruh kemampuannya mengemudi karena kendaraan yang kami kendarai adalah mobil Kijang tua buatan tahun 1988. Alhamdulillah kami akhirnya bisa sampai juga di Tawangmangu.



Grojogan Sewu







Tawangmangu adalah tempat wisata terkenal di gunung Lawu, yang masuk wilayah kabupaten Karanganyar provinsi Jawa Tengah. Jikalau kita menggemari lagu-lagu kroncong maka kita akan menemukan sebuah lagu yang berjudul Tawangmangu, juga Telaga Sarangan. Tempat-tempat itu memang sudah terkenal sejak zaman colonial. Hingga kini Tawangmangu masih memiliki pesonanya, dan yang terkenal adalah air terjun Grojogan Sewu. Kita harus menuruni ratusan anak tangga untuk mencapainya. Kami semua pun menuruni anak tangga itu. Bupuh dan ibuku pun ingin melihat Gorojogan Sewu, sehingga mereka pun harus berjuang untuk menuruni ratusan anak tangga.Gorojogan Sewu adalah air terjun yang terkenal keindahannya. Dea dan Dimas pun menceburkan diri di sungai merasakan sejuknya air terjun. Agak lama kami di sana, baru menjelang sore kami meninggalkan Tawangmangu.



Candi Sukuh







Tujuan kami berikutnya adalah Candi Sukuh. Situs candi Sukuh dilaporkan pertama kali pada masa pemerintahan Britania Raya di tanah Jawa pada tahun 1815 oleh Johnson, Residen Surakarta. Johnson kala itu ditugasi oleh Thomas Stanford Raffles untuk mengumpulkan data-data guna menulis bukunya The History of Java. Setelah masa pemerintahan Britania Raya berlalu, pada tahun 1842, Van der Vlis, arkeolog Belanda, melakukan penelitian. Pemugaran pertama dimulai pada tahun 1928. Sama halnya dengan Telaga Sarangan dan Gorojogan Sewu, Candi Sukuh pun terletak di lereng Gunung Lawu. Candi Sukuh merupakan peninggalan Hindu dari kerajaan Majapahit. Bentuk bangunannya unik, tidak seperti candi-candi lain, candi Sukuh berbentuk trapesium seperti bangunan peninggalan orang-orang Indian di benua Amerika. Sayang sekali ketika kami tiba, hari sudah mulai gelap.

Malam hari kami tiba di Solo, melihat gerebek di Keraton Kasunanan. Setelah berkeliling dengan menggunakan kereta-keretaan kami pun pulang. Sehari itu kami berkeliling Gunung Lawu. Dulu di tahun 1977 aku mengelilinginya dengan berjalan kaki. Kini aku mengajak anak-anakku berkeliling dengan mengendarai kendaraan roda empat.

Esok harinya kami meninggalkan Ngawi kembali ke Bandung. Sambil lewat, kami mengunjungi museum fosil di Sangiran yang seperti Trinil juga terletak di sekitar Bengawan Solo. Kondisi Museum Sangiran yang masuk wilayah Sragen jauh lebih baik dari museum fosil Trinil di Ngawi. Keduanya museum itu menjadi bukti ditemukannya fosil manusia Jawa yang hidup dan berevolusi di sekitar Bengawan Solo. Selain fosil-fosil manusia, ditemukan pula fosil binatang-binatang di zaman purba dengan ukuran yang jauh lebih besar dari yang biasa kita lihat sekarang ini. Sayang sekali masyarakat sekitar museum masih hidup dalam kemiskinan sehingga fosi-fosil yang memiliki nilai historis dan ilmiah banyak dijual ke para pedagang internasional.



Phitecanthropus Erectus







(Sangiran is an archaeological excavation site on the island of Java in Indonesia. The area comprises about 48 km² and is located in Central Java, about 15 kilometers north of Surakarta in the Solo River valley. In 1996 it was accepted as World Heritage by the UNESCO.In 1934 the anthropologist Gustav Heinrich Ralph von Koenigswald started to examine the area. During excavations in the next years fossils of some of the first known human ancestors, Pithecanthropus erectus ("Java Man", now reclassified as part of the species Homo erectus), were found here. About 60 more human fossils, among them the enigmatic "Meganthropus", have since been found here. In addition, there are considerable numbers of remains of the animals that these primitive humans hunted, and of others that merely shared the habitat)

Di Solo kami makan siang di rumah makan tradisional yang menyajikan makanan daerah seperti pecel, soto dan lain-lain. Tidak lupa dengan segelas teh manis sebagai penutupnya sebagaimana tradisi yang ada di sana. Kami semua meminta porsi kedua karena nikmatnya dan karena porsi makan di rumah makan itu memang kecil bagi ukuran perut kami.

Dalam perjalanan ke Yogyakarta melalui Klaten, kami menyempatkan singgah di Candi Prambanan. Ketika itu saat ashar. Matahari sudah mendekati ufuk barat langit. Udara mulai beranjak sejuk membuat berjalan-jalan di antara bangunan candi menjadi sangat menyenangkan dan menimbulkan sensasi yang luar biasa. Bayang-bayang candi menambah suasana demikian mengesankan. Satu persatu bangunan candi kami datangi. Kami benar-benar takjub pada arsitekturnya, pada detil relief dan penataan batu-batu yang begitu mempesona. Anak-anakku pun berpose di antara bangunan candi, tak lupa kami pun berfoto sekeluarga. Sampai sekarang aku masih saja terkesan jika melihat foto itu di album, candi prambanan di latar belakang serta bayang-bayang di latar depan, dengan cahaya yang terang damai, sungguh sebuah kenangan yang sulit dilupakan.
Cukup lama kami di Prambanan, memberi kesempatan buat anak-anakku bermain, berlari di halaman yang luas, bermain kursi gantung dan permainan lainnya yang tersedia. Setelah puas bermain barulah kami melanjutkan perjalanan.

Menjelang isya kami tiba di Yogyakarta. Inilah acara penutup perjalanan kami, yaitu berjalan-jalan sepanjang Malioboro, membeli cinderamata ala kadarnya dan makan di lesehan, nasi gudeg dan burung dara goreng. Gudeg adalah sayur yang terbuat dari nangka muda yang diolah dalam kuali dari tanah dan didiamkan selama beberapa hari. Biasanya disajikan dengan sepotong ayam, kerecek, tempe bacem dan telur ayam rebus.

Nasi Gudeg










Malam itu kami langsung pulang ke Bandung. Kang Nandang melarikan mobil dengan kecepatan maksimal. Harus kuakui dia memang pengemudi yang handal dan idola keluarga kami. Lepas tengah malam kami istirahat sebentar di Sidareja untuk sekedar minum kopi. Menjelang subuh kami sampai di rumah. Alhamdulillah.

Candi Penataran

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas













Candi Panataran adalah sebuah candi berlatar belakang Hindu (Siwaitis) yang terletak di Jawa Timur, tepatnya di lereng barat daya Gunung Kelud, di sebelah utara Blitar. Lokasinya di Wikimapia [1]. Kompleks candi ini merupakan yang terbesar di Jawa Timur. Candi ini mulai dibangun dari Kerajaan Kadiri dan dipergunakan sampai dengan Kerajaan Majapahit. Candi Penataran ini melambangkan penataan pemerintahan kerajaan-kerajaan yang ada di Jawa Timur.

Nama asli candi Penataran dipercaya adalah Candi Palah yang disebut dalam prasasti Palah, dibangun pada tahun 1194 oleh Raja Çrnga (Syrenggra) yang bergelar Sri Maharaja Sri Sarweqwara Triwikramawataranindita Çrengalancana Digwijayottungadewa yang memerintah kerajaan Kediri antara tahun 1190 – 1200, sebagai candi gunung untuk tempat upacara pemujaan agar dapat menetralisasi atau menghindar dari mara bahaya yang disebabkan oleh gunung Kelud yang sering meletus. Kitab Negarakretagama yang ditulis oleh Mpu Prapanca menceritakan perjalanan Raja Hayam Wuruk, yang memerintah kerajaan Majapahit antara tahun 1350 – 1389, ke Candi Palah untuk melakukan pemujaan kepada Hyang Acalapati yang berwujud Girindra (raja penguasa gunung).

Kesamaan nama Girindra yang disebut pada kitab Negarakretagama dengan nama Ken Arok yang bergelar Girindra atau Girinatha menimbulkan dugaan bahwa Candi Penataran adalah tempat pendharmaan (perabuan) Ken Arok, Girindra juga adalah nama salah satu wangsa yang diturunkan oleh Ken Arok selain wangsa Rajasa dan wangsa Wardhana. Sedangkan Hyang Acalapati adalah salah satu perwujudan dari Dewa Siwa, serupa dengan peneladanan (khodam) sifat-sifat Bathara Siwa yang konon dijalankan Ken Arok.
Seperti pada umumnya relief candi di Jawa Timur yang dipahat berdasarkan analogi romantika hidup tokoh yang didharmakan di tempat tersebut, relief Ramayana dengan tokoh Rama dan Shinta, dan relief Krisnayana dengan tokoh Krisna dan Rukmini, yang dipahatkan pada dinding candi Penataran dapat dikatakan mirip dengan kisah Ken Arok dan Ken Dedes. Ketokohan Ken Arok sendiri masih menjadi kontroversi antara karakter seorang bandit yang berambisi memperbaiki keturunan setelah mengerti arti cahaya yang terpancar dari gua garbha milik Ken Dedes yang dilihatnya dan kemudian membunuh Tunggul Ametung yang menjadi suami sang nareswari, dengan karakter seorang bangsawan yang mengemban amanat dari Mpu Purwa yang merupakan ayahanda Ken Dedes sekaligus keturunan Mpu Sindok untuk mengembalikan kejayaan kerajaan Kanjuruhan yang ditaklukkan oleh kerajaan Kediri, dengan dukungan kalangan brahmana dari kedua kerajaan. Alkisah seluruh mpu dari kerajaan Kediri berpindah ke wilayah Tumapel sebelum Ken Arok membunuh Tunggul Ametung dan menjadi penyebab kekalahan Kediri dalam peperangan melawan Tumapel di wilayah Ganter pada tahun 1222. Dibunuhnya Mpu Gandring yang tidak menyelesaikan keris pesanan Ken Arok pada waktunya konon juga berkaitan dengan para mpu yang mulai meninggalkan kerajaan Kediri sehingga menimbulkan kecurigaan Ken Arok bahwa Mpu Gandring berpihak pada Kediri. Keris tersebut kemudian diselesaikan oleh mpu yang lain dengan demikian indah sehingga menarik perhatian dan mudah dikenali ketika Kebo Ijo memamerkannya kepada semua orang, sebelum akhirnya keris tersebut digunakan Ken Arok untuk membunuh Tunggul Ametung.

Kitab Negarakretagama menyebutkan bahwa Ken Arok dicandikan di daerah Kagenengan, yang dewasa ini masih tersisa sebagai nama desa di wilayah selatan Kabupaten Malang, tepatnya di Kecamatan Pakisaji. Belum dapat dipastikan apakah Desa Kagenengan ini merupakan tempat yang sama yang disebut dalam kitab Negarakertagama, dan apakah luas daerah ini pada zaman

Relief rendah pada bangunan induk Komplek Percandian Penataran. Perhatikan penggambaran figur manusia yang mirip wayang.
Selain sebagai komplek percandian terluas, Candi Penataran juga memiliki kekhasan dalam ikonografi reliefnya. Gaya reliefnya menunjukkan bentuk yang jelas berbeda dari candi-candi Jawa Tengah dari sebelum abad ke-11 seperti Candi Prambanan. Wujud relief manusia digambarkan mirip wayang

Rabu, 27 April 2011

Berziarah Ke Blitar


Ir Sukarno



Logo Kota Blitar










BLITAR adalah sebuah tempat yang istimewa bagi bangsa Indonesia, terlebih bagi para pengagum dan pengikut Bung Karno, karena di kota inilah terletak makam Bung Karno. Pada bulan Juni dan Juli kota ini menjadi ramai oleh para peziarah. kota ini juga disebut sebagai Kota PETA (Pembela Tanah Air) karena di bawah kepimpinanan Suprijadi, Laskar PETA melakukan perlawanan terhadap Jepang untuk pertama kalinya pada tanggal 14 Februari 1945 yang menginspirasi timbulnya perlawanan di daerah lain. Wakil Presiden Republik Indonesia, Boediono; Panglima TNI, Laksamana Agus Suhartono; dan Wakil Ketua KPK, Mochammad Jasin, lahir dan dibesarkan di kota ini. Ketiganya merupakan alumni SMP Negeri 1 Blitar dan SMA Negeri 1 Blitar. Puteri Indonesia 2007, Putri Raemawasti, lahir dan dibesarkan di kota ini. Produsen pesawat berkebangsaan Belanda-Amerika Serikat, Anthony Fokker, lahir di Blitar.



Supriyadi









Pada tahun 1997-an aku bersama-sama kawan-kawan seperjuangan berangkat dari Bandung menuju Blitar dengan menggunaan bus sewaan. Biaya sewa kami peroleh secaran patungan. Bus yang kami gunakan adalah Primajasa, tarif sewanya lebih murah karena aku memperoleh potongan harga melalui haji Eman tetangga belakangan rumahku. (Almarhum adalah seorang pengagum Bung Karno yang kemudian bergiat di PAN meskipun belakangan menjadi anggota PDI Perjuangan).

Boediono




Putri Raemaswati













M Jasin











Agus Suhartono


















Rombongan kami sekitar 50 orang terdiri dari para pengurus partai tingkat kabupaten, kecamatan, desa juga para anggota dan simpatisan. Kami berangkat dari Solokan Jeruk (Bandung) malam hari melalui Yogyakarta, Solo, Madiun, Kediri dan tiba di Blitar kurang lebih pukul 10 siang keesokan harinya. Di sana kami bertemu dengan teman-teman dari Jawa
Barat, Jakarta dan provinsi-provinsi lain.



Istana Gebang (Kediaman Keluarga Sukarno)






Siang itu kota Blitar ramai oleh para pendatang dari seluruh penjuru Indonesia. Pengamanan kota pun tidak seperti biasanya. Tentara dan polisi berjaga-jaga di mana-mana dengan senjata lengkap. Panser disiapkan di tengan-tengah kota. Pusat dari keramaian adalah sebuah rumah di kota Blitar, rumah keluarga Sukarno. Rumah itu dikenal dengan Istana Gebang atau lebih dikenal dengan sebutan Ndalem Gebang, merupakan rumah tempat tinggal orang tua Bung Karno. Istana ini bertempat di Jl. Sultan Agung 69. Rumah itu besar dengan arsitektur yang menarik. Halamannya adalah padang rumput luas. Gambar Bung Karno dalam ukuran besar sudah di pasang di halaman tersebut. Orang-orang lalu lalang. Mereka penasaran untuk memasuki rumah Sukarno yang berfungsi seperti museum meskipun masih dihuni oleh Ibu Wardoyo, kakak perempuan Bung Karno. Kami pun berkunjung ke rumah itu, berkeliling mulai dari ruang depan, melihat kamar-kamar dan peninggalan-peninggalan Bung Karno. Tidak lupa berfoto-foto tentunya. Di rumah itulah Bung Karno dibesarkan oleh kedua orang tuanya Sukemi dan I Gusti Nyoman Rai yang keturunan bangsawan dari Puri Singaraja Bali.

Pada malam harinya haul untuk Bung Karno digelar di halaman. Haul adalah acara memperingati wafatnya Bung Karno yang diisi dengan pengajian, tahlilan dan doa. Manusia tumpah ruah memenuhi tempat tersebut. Kiai-kiai NU (Nahdhatul Ulama) memberikan tausiyah (orasi) mengenang jasa-jasa Bung Karno dan sekaligus berdoa untuk sang proklamator. Seingatku yang memberikan tausiyah adalah Ketua NU Jawa Timur. Keluarga Sukarno memberikan sambutan dimulai dari Rachmawati dan kemudian Megawati. Ketika Megawati berpidato, suasana menjadi riun rendah, maklum ketika itu Megawati sudah menjadi symbol perlawanan terhadap Orde Baru sekaligus pemimpin wong cilik.



Makam Bung Karno





Keesokan harinya kami berziarah ke makam Bung Karno di Bendo Gerit. Dengan dispensasi khusus kami bisa memasuki joglo yang berdinding kaca. Kami berdoa untuk Bung Karno agar arwahnya diberi tempat yang mulia di sisi Allah SWT sesuai dengan pengorbanan yang telah beliau berikan untuk nusa dan bangsa.

Bung Karno dimakamkan di Bendo Gerit atas keinginan Suharto, Bung Karno sendiri nampaknya lebih ingin dimakamkan di tanah Pasundan seperti wasiatnya yang bisa kita ketahui di dalam autobiografi Bung Karno “Penyambung Lidah Rakyat” yang ditulis Cindy Adam. Ratna Sari Dewi berpendapat bahwa Bung Karno ingin dimakamkan di Batutulis Bogor, tapi ada pula yang berpendapat Bung Karno ingin dimakamkan di Taman Pahlawan Cikutra Bandung. Di sana sudah disediakan lahan untuk makam Bung Karno ditandai dengan pohon beringin yang rindang. Belakangan memang muncul wacana dari Guruh Sukarnoputra yang ingin memindahkan makam Bung Karno dari Blitar ke Bogor atau Jakarta, tetapi warga Blitar dengan keras menolak keinginan keluarga Bung Karno tersebut.

Warga Blitar memang bangga kotanya menjadi tempat tinggal dan sekaligus makam Bung Karno. Kota yang sepi itu pun mendapat berkah dari nama besar Bung Karno. Banyak orang mendapatkan rejeki dari keberadaan sang proklamator, terutama para pedagang kecil pedagang cindera mata, losmen dan warung-warung.

Setelah berziarah kami menyempatkan diri melihat Candi Penataran, sebuah candi peninggalan Majapahit, di luar kota Blitar. Setelah puas berkeliling melihat-lihat kemegahan dan keindahan candi kamipun meninggalkan Blitar melalui Kediri, Tulungagung, Trenggalek, Ponorogo, Wonogiri dan akhirnya tiba di Solo sekitar pukul tujuh malam. kami beristirahat sejenak di kota itu. Aku menyempatkan diri berkeliling keraton Mangkunegaran dengan menggunakan becak.



Malioboro



Parang Tritis


Pukul 21.00 kami tiba di Yogyakarta. Rombongan sempat berjalan-jalan di Malioboro menikmati keramaian Yogya di waktu malam. dari Malioboro kami ke Parangtritis. Teman-teman sempat bermain sepakbola di tepi pantai dalam kegelapan. Kami semua tertawa-tawa bahagia melepaskan diri dari segala beban kehidupan, sebelum akhirnya meningalkan tempat itu menuju Bandung.
Alhamdulillah kami tiba dengan selamat di Bandung keesokan harinya.

Sabtu, 23 April 2011

DALAM PUSARAN GELOMBANG POLITIK



Kwik Kian Gie






Mendirikan Litbang

Kwik Kian Gie membuat iklan di Kompas yang intinya menyatakan Balibang PDI menerima pendaftaran anggota Balitbang (Badang Penelitian dan Pengembangan). Tentu saja respon public sangat ramai ketika itu karena hal itu merupakan fenomena yang baru sekali itu terjadi di dalam dunia politik di Indonesia. Begitu banyaknya orang yang mendaftarkan diri sehingga Kwik membuat kebijakan untuk membuat Litbang di tingkap Provinsi.

Ferdi, Eka Santosa, Lamintang, Endang Karman, Idris Lubis, aku dan beberapaka kawan lain ikut membidani berdirinya Balitbang PDI Provinsi Jawa Barat yang diketuai Lamintang, seorang colonel polisi purnawirawan mantan kapolres Sukabumi. Kami pun secara rutin membuat diskusi-diskusi mengenai pelbagai hal yang berkaitan dengan kehidupan politik.

Guru Kader
Menjelang konfercab partai Pak Abbas memintaku mendukung pencalonannya kembali sebagai ketu DPC. Aku dan Yadi Srimulyadi memfasilitasi pertemuan para Komcam/Korcam di RM Sukahati Cileunyi. Namun ketika konfercab berlangsung Pak Abbas tersingkir, Idih Sujana sekretaris DPC terpilih menjadi ketua. Yadi dimasukkan ke dalam komposisi pengurus DPC, sedangkan aku tidak.

Meskipun aku bukan pimpinan partai tapi Idih selalu memintaku membantunya dalam mengelola organisasi. Akupun diminta menyiapkan kaderisasi untuk para pengurus Komcam/Korcam. Maka akupun dan seorang guru di SMP Santa Maria Cimahi diminta membuat semacam kurikulum pengkaderan. Aku merancang suatu pola pengkaderan dengan pendekatan andragogi, dengan memberikan unsur-unsur permainan yang menyenangkan. Di samping itu akupun mengajar masalah ideology dan retorika.
Kaderisasi yang dilakukan DPC Kabupaten Bandung itu merupakan kaderisasi tingkat kabupaten satu-satunya di era Megawati, sebelumnya ada kaderisasi tingkat provinsi di Maluku. Mangara Siahaan nampaknya tidak begitu suka dengan kaderisasi yang kami selenggarakan.





Mangara Siahaan















Bertemu Megawati
Di awal kepemimpinannya Megawati mengunjungi Jawa Barat. Ketika musim penghujan, Bandung Selatan terutama daerah pesawahannya sering mengalami banjir. Aku dan Ferdi mencarikan tempat yang akan didatangi Megawati hingga ke Solokan Jeruk, Majalaya. Beberapa hari kemudian Megawati datang dan mengunjungi daerah banjir di Sapan untuk member bantuan beras. Dia didampingi Laksamana Sukardi, Mangara, Tarto Sudiro, Manggabararani, Noviantika dan kalau aku tidak salah ada pula Sophan Sopiaan.

Rombongan Megawati berupa iring-iringan kendaraan roda empat dan roda dua yang sangat panjang, berangkat dari kantor DPD PDI Jawa Barat di Jalan Soekarno Hatta melewati Dayeuhkolot, Ciparay, Majalaya dan tiba di Sapan menjelang tengah hari. Sepanjang jalan rakyat mengelu-elukan Megawati. Pada saat itu pula kami secara spontan mengkampanyekan Megawati sebagai calon presiden RI yang akan datang. Gayung bersamput. Dari Sapan rombongan berkonvoi ke Banjaran, Soreang, Cimahi, Parongpong dan berakhir di rumah Edi Junaedi di Lembang.



Stasiun KA Haurgeulis Indramayu










Sejak saat itu megawati mengunjungi tempat-tempat lain di Jawa Barat. Aku pernah mendampinginya ke Indramayu dan menjadi master of ceremony ketika Megawati bertemu masyarakat di Gelanggang Olah Raga Indramayu. Seluruh tempat duduk penuh bahkan banyak yang berdiri. Ruangan pun penuh asap rokok. Mangara memintaku agar hadirin tidak merokok, maka akupun meminta mereka untuk tidak merokok. Alhamdulillah mereka mau mengikuti imbauanku itu. Megawati pun berpidato dengan berapi-api disambut oleh tepuk tangan riuh rendah dari hadirin. Selesai berorasi Megawati mengunjungi kantor partai dan diterima di pendopo kabupaten oleh Bupati Indramayu Ope Mustopa yang ternyata teman sekolahnya di Perguruan Cikini. Partai pun kemudian memintaku untuk menjadi kordinator acara Konferda (Konferensi Daerah) partai tingkat Provinsi Jawa Barat.

Suatu ketika ada berita bahwa aku diminta untuk datang ke Kebagusan bertemu Megawati. Aku tidak tahu apakah atas prakarsa DPD atau Megawati, yang pasti aku memang berkunjung ke kediaman Megawati. Dari Bandung aku berangkat menuju Jakarta dengan menggunakan mobil dinas Tb Soewondo yang ketika itu adalah Wakil Ketua DPRD Kota Bandung, diapun ikut mengantarku. Rudi Harsa menunggu kami di pertokolah dekat terminal bus Baranang Siang Bogor. Dialah yang memandu perjalanan ke Kebagusan, kediaman Megawati. Itu pertama kali aku berkunjung ke rumah Megawati.

Ketika kami tiba di Kebagusan, Taufik Kiemas menerima kami di halamannya yang luas dan asri. Dia sedang berjalan-jalan di atas kerikil, mungkin untuk merangsang syaraf-syaraf pada kakinya. Ia tidak ikut bersama kami menemui Megawati di ruang tamu. Megawati sendirian saja, aku bersama Tb Suwondo dan Rudiharsa. Yang kuingat waktu itu Megawati menanyakan beberapa hal mengenai acara Konferda dan akupun memberikan penjelasan apa saja acara yang akan diselenggarakan. Aku terkesan dengan pertemuan itu karena menurutku Megawati seorang yang luwes yang dapat menerima pandangan dan saran dari orang lain. Pengalaman ini agak berbeda ketika aku dulu mendampingi Rachmawati dalam suatu kunjungannya ke Parung Sukabumi. Ketika itu aku memberi sambutan dan ketika kemudian Rachma berbicara dia langsung mengatakan bahwa pandanganku keliru. Pengalaman mendampingi Rachmawati dan bertemu Megawati memberiku pengalaman berharga mengenai kepribadian dua anak Proklamator Kemerdekaan Republik Indonesia yang sangat kuhormati.

Sejak saat itu aku sering sekali berkunjung ke kediaman Megawati bersama rombongan dari Jawa Barat. Megawati mulai menunjukkan kharismanya sebagai pemimpin partai politik, pemimpin perlawanan terhadap penguasa dan pemimpin rakyat sekaligus. Kehidupan seperti berputar lebih cepat dari biasanya. Megawati yang luwes dan kemayu berubah menjadi nampak garang di depan massa.

Turun Ke Jalan
Ketika legitimasi kepemimpinan partai yang dimiliki Megawati dinafikan pemerintah dengan pelbagai maneuver seperti membuat DPP tandingan dan menyelenggarakan Kongres untuk mengganti Megawati dengan orang pemerintah, kami sering berkumpul di Jalan Diponegoro untuk menunjukkan dukungan. Di sana diselenggarakan mimbar bebas yang diisi orasi dari orang-orang partai dan para aktivis maupun tokoh-tokoh nasional. Megawati sudah menjadi symbol penindasan dan symbol perlawanan terhadap Orde Baru. Dari jalan Diponegoro kami turun ke jalan menuju Depdagri atau monument nasional, lalu menyusuri Jalan Thamrin. Kadangkala aku menyimpan kendaraan di samping YLBHI dan ikut berkonvoi hingga Matraman. Awalnya demonstrasi berjalan damai, lama kelamaan aparatur pertahanan dan keamanan mulai bertindak represif hingga terjadi pemukulan seperti yang terjadi di Gambir.

Ketika itu pelbagai kekuatan partai dan gerakan yang melawan pemerintah bersatu padu, sehingga terbentuk aliansi yang dinamakan MARI (Majelis Rakyat Indonesia) dengan pelbagai tuntutan-tuntutannya.



Monumen Nasional














Kegiatan turun ke jalan berlanjut setelah peristiwa 27 Juli, Ketika beberapa anak muda yang bertahan di kantor partai justru diadili di Pengadilan Negeri. Biasanya kami berkumpul di depan Pengadilan dan berkonvoi ke Kebon Waru mengantar Yadi, Iwan dan Eman, Cece dan seorang kawan lagi yang aku lupa namanya ke rumah tahanan.

Peristiwa 27 Juli, Golput dan Mega Bintang











POLITIK Orde Baru sampai pada tahap pertahanan terakhirnya. PDI sudah berhasil dipecahbelah ke dalam beberapa kelompok. Yusuf Merukh membuat DPP Reshuffle menentang Megawati karena alasan keterlibatan pengurus partai dalam G30S/PKI. Puncak penentangan terhadap Megawati adalah ketika Fatimah Achmad dan konco-konconya menyelenggarakan Kongres PDI di Medan 20-23 Juni 1996. Soerjadi didudukkan kembali pada posisi sebagai Ketua Umum dan Butu Hutapea sebagai Sekretatis Jendral yang diakui legitimasinya oleh pemerintah tapi tidak oleh rakyat. Megawati mendapat dukungan yang semakin kuat dari arus bawah. Pada saat itu muncullah istilah PDI Megawati. Ini adalah masa yang tersulit dalam kehidupan politikku tapi juga yang paling menggairahkan.

Upaya Suharto menggulingkan Megawati berujung pada penyerbuan para “pendukung Kongres Medan” terhadap kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro. Peristiwa penyerbuan oleh aparat pemerintah itu berubah menjadi tragedi yang disebut Insiden Sabtu Kelabu atau Peristiwa 27 Juli 1966 yang merenggut ratusan nyawa para pendukung Megawati dari seluruh Indonesia, belum lagi ditambah yang hilang dan luka-luka. Penyerbuan tersebut diikuti oleh adanya kerusuhan dan huru-hara yang meluas di Jakarta, dalam bentuk pembakaran dan perusakan pertokoan, kantor dan mobil oleh massa yang anonym. Pemerintah menuding PRD yang diketuai Budiman Sudjatmiko berada di belakang kerusuhan tersebut, dan mencapnya sebagai gerakan kaum komunis.

Megawati mengadakan perlawanan terhadap pemerintah melalui jalur hukum. Tidak kurang dari 230 gugatan disampaikan ke pengadilan-pengadilan di seluruh Indonesia. Meskipun pada umumnya kalah di pengadilan, tapi Megawai berhasil memenangkan peperangan karena dukungan rakyat semakin meluas dan menguat. Megawati berhasil menarik konstituen baru yang tidak berafiliasi pada ideology tertentu, melainkan pada solidaritas hati nurani: kasihan, simpati dan budaya protes (Sumarno, 2002: 26).

Aku bersama teman-teman setiap hari berkeliling kabupaten Bandung, memelihara semangat perjuangan para kader dan anggota partai, dari satu kecamatan ke kecamatan lain, dari satu desa ke desa yang lain. Sebagai pengurus PDI Megawati modal kami hanya dukungan rakyat. Kami mengadakan pertemuan-pertemuan kecil di kampung-kampung di tengah alam pedesaan yang indah. Kadang di tengah persawahan, di pegunungan atau di tepi sungai. Seringkali kami bertemu selepas maghrib karena pada saat itulah para petani berada di rumah. Pertemuan bisa berlangsung sampai menjelang pagi, adakalanya didatangi aparatur pemerintah atau keamanan.

Pada umumnya pembicaraan dengan rakyat berkisar pada masalah organisasi, politik dan ekonomi. Masalah organisasi adalah bagaimana caranya mempertahankan jalannya perjuangan dengan organisasi yang tidak diakui pemerintah. Masalah politik adalah bagaimana mengakhiri rezim Orde Baru dan menggantinya dengan rezim yang demokratis dan berkeadilan sosial serta bagaimana memposisikan partai menghadapi Pemilu 1987, apakah harus memberikan suara pada partai lain, karena memberikan suara pada PDI Soerjadi sudah tidak mungkin. Masalah ekonomi adalah bagaimana mengatasi kesulitan kehidupan yang dirasakan semakin mencekik.

Keputusan ke mana suara rakyat menghadapi Pemilu 1987 nampaknya semakin jelas. Dari rumahnya di Kebagusan Jakarta Selatan, pada hari Kamis 22 Mei 1997 Megawati menyampaikan pidato yang menyatakah bahwa “hak politik saya sebagai warga negara tidak akan saya gunakan dalam Pemilu tanggal 29 Mei 1997”. Selanjutnya dia berkata “saya akan memegang dan menyimpan kartu kuning yang saya miliki dengan baik sebagai kesaksian kondisi demokrasi kita saat ini”.

Akibat pernyataan tersebut, para pendukung Megawati banyak yang memberikan suaranya ke PPP yang berlambang bintang, fenomena ini dikenal dengan Mega-Bintang, meski lebih banyak lagi yang tidak memilih atau golput (golongan putih). Akibatnya PDI Soerjadi hanya memperoleh suara 3,05% dan hanya memperoleh 11 kursi di DPR padahal pada pemilu 1987 PDI memperoleh suara 10,87% dan pemilu 1992 memperoleh suara 14,89%. Berkah dari fenomena Mega-Bintang PPP mendapat 22,6% suara.

Sabtu, 02 April 2011

Vespa








PERKENALANKU yang pertama dengan Vespa adalah di tahun 80 ketika di Semarang. Mas Mur suami mbak Wiwik memiliki sebuah sepeda motor skuter Vespa. Mas Yanto sering mengajakku berkeliling kota dan mengajariku menggunakannya. Ketika aku sudah bisa menggunakannya sendiri akupun sering berjalan-jalan di sore hari. Tempat JJS favoritku adalah daerah Candi yang terletak di Semarang atas. Bervespa ria di tempat itu benar-benar menyegarkan jiwa.Ketika di Bandung, akupun bertemu kembali dengan vespa milik Isworo. Aku sering sekali dibonceng dari Bandung ke Cimahi atau sebaliknya.










Menjelang akhir aku di St. Angela kesempatan untuk memiliki vespa sendiri. Ketika itu aku memperoleh vespa melalui sebuah iklan di koran. Vespa super tahun 78 dengan surat-surat lengkap seharga Rp 750 ribu. Uangnya kudapat dari pinjaman di CU Tunas Merdeka. Ketika itu aku masih tinggal di Babakan Tarogong. Perjalanan terjauhku dengan vespa itu adalah ke Banjaran.

Selama di Rancaekek, vespa itulah yang menjadi alat transportasi utamaku untuk bergerak ke pelbagai titik penting seperti pasar, stasiun kereta api, puskesmas, sekolah anakku dan kantor partai. Di sore hari aku biasa mengajak anak-anakku berkeliling komplek perumahan dengan vespa itu. Ketika itu Bumi Rancaekek Kencana adalah tempat yang nyaman dan indah. Kami berkeliling dari satu blok ke blok yang lain, bahkan seusai hujan turun pun kami menikmati jalan-jalan.

Selain untuk digunakan sebagai sarana transportasi, vespa itupun pernah juga menjadi sarana ekonomi sebagai barang yang digadaikan di pegadaian. Biasanya kugadaikan di perum pegadaian Ciparay.













Pada masa reformasi, vespaku menjadi sahabat setia untuk berjuang. Ketika itu aku harus memiliki mobilitas yang tinggi untuk mengorganisir para pengurus dan anggota partai, dengan vespa itulah aku ke secretariat, mengunjungi teman-teman seperjuangan dan para simpatisan. Ketika itu kehidupan pada pengurus partai begitu terpuruknya sehingga mereka harus menggunakan angkutan umum atau bahkan berjalan kaki menembus hujan berpayung daun pisang. Alhamdulillah aku masih bisa bergerak lebih cepat karena vespa itu.

Seingatku vespa itu baru dua kali ngadat ketika kuajak berjuang. Pertama ia mogok di rumah pak Sujana Sobari di Rancakusumba. Di belakang rumah pak Sujana ada gudang tempat mengumpulkan hasil panen sekaligus kandang ayam. Di situlah secretariat partai kami. Megawati pun pernah menggelorakan perjuangan di tempat itu. Suatu saat hujan deras turun, Vespaku kehujanan sehingga tak bisa kugunakan saat pulang. Kedua ia pernah mogok di tengah jalan Majalaya saat hujan turun. Aku bersama pak Tri ketika itu minta tolong kang Mamat Dorim untuk mengangkut vespaku ke rumah dengan mobil bak terbuka.

Sayang sekali aku tak bisa mempertahankan keberadaan vespaku itu. Karena masalah keuangan, tahun 2000 vespa itu kujual seharga Rp 2 juta.

Berikut ini hal-ihwal mengenai Vespa.




















Vespa
From Wikipedia, the free encyclopedia

Type Subsidiary

Industry Scooter

Founded 23 April 1946 in Florence

Headquarters Pontedera, Italy

Parent
Piaggio & Co. SpA

Website vespa.com

Vespa is an Italian brand of scooter manufactured by Piaggio. The name means wasp in Italian.

The Vespa has evolved from a single model motor scooter manufactured in 1946 by Piaggio & Co. S.p.A. of Pontedera, Italy—to a full line of scooters and one of seven companies today owned by Piaggio—now Europe's largest manufacturer of two-wheeled vehicles and the world's fourth largest motorcycle manufacturer by unit sales.[1]
From their inception, Vespa scooters have been known for their painted, pressed steel unibody which combines a complete cowling for the engine (enclosing the engine mechanism and concealing dirt or grease), a flat floorboard (providing foot protection), and a prominent front fairing (providing wind protection) into a structural unit.

History

Post World War II Italy, in light of its agreement to cessation of war activities with the Allies, had its aircraft industry severely restricted in both capability and capacity.

Piaggio emerged from the conflict with its Pontedera fighter plane plant demolished by bombing. Italy's crippled economy and the disastrous state of the roads did not assist in the re-development of the automobile markets. Enrico Piaggio, the son of Piaggio's founder Rinaldo Piaggio, decided to leave the aeronautical field in order to address Italy's urgent need for a modern and affordable mode of transportation for the masses.

Concept

The inspiration for the design of the Vespa dates back to Pre-WWII Cushman scooters made in Nebraska, USA. These olive green scooters were in Italy in large numbers, ordered originally by Washington as field transport for the Paratroops and Marines. The US military had used them to get around Nazi defense tactics of destroying roads and bridges in the Dolomites (a section of the

Design

In 1944, Piaggio engineers Renzo Spolti and Vittorio Casini designed a motorcycle with bodywork fully enclosing the drivetrain and forming a tall splash guard at the front. In addition to the bodywork, the design included handlebar-mounted controls, forced air cooling, wheels of small diameter, and a tall central section that had to be straddled. Officially known as the MP5 ("Moto Piaggio no. 5"), the prototype was nicknamed "Paperino".[2]

Enrico Piaggio was displeased with the MP5, especially the tall central section. He contracted aeronautical engineer Corradino D'Ascanio, to redesign the scooter.[2] D'Ascanio, who had earlier been consulted by Ferdinando Innocenti about scooter design and manufacture, made it immediately known that he hated motorcycles, believing them to be bulky, dirty, and unreliable.[3]

D'Ascanio's MP6 prototype had its engine mounted beside the rear wheel. The wheel was driven directly from the transmission, eliminating the drive chain and the oil and dirt associated with it. The prototype had a unit spar frame with stress-bearing steel outer panels.[3] These changes allowed the MP6 to have a step-through design without a centre section like that of the MP5 Paperino. The MP6 design also included a single sided front suspension, interchangeable front and rear wheels mounted on stub axles, and a spare wheel. Other features of the MP6 were similar to those on the Paperino, including the handlebar-mounted controls and the enclosed bodywork with the tall front splash guard.[2]

Upon seeing the MP6 for the first time Enrico Piaggio exclaimed: "Sembra una vespa!" ("It resembles a wasp!") Piaggio effectively named his new scooter on the spot.[3][4] Vespa is both Latin and Italian for wasp—derived from the vehicle's body shape: the thicker rear part connected to the front part by a narrow waist, and the steering rod resembled antennae. The name also refers to the high-pitched noise of the two-stroke engine.[citation needed]

Product



modified by the French military, that incorporated an anti tank weapon















On 23 April 1946, at 12 o'clock in the central office for inventions, models and makes of the Ministry of Industry and Commerce in Florence, Piaggio e C. S.p.A. took out a patent for a "motorcycle of a rational complexity of organs and elements combined with a frame with mudguards and a casing covering the whole mechanical part".[5]

The basic patented design allowed a series of features to be deployed on the spar-frame which would later allow quick development of new models. The original Vespa featured a rear pillion seat for a passenger, or optionally a storage compartment. The original front protection "shield" was a flat piece of aero metal; later this developed in to a twin skin to allow additional storage behind the front shield, similar to the glove compartment in a car. The fuel cap was located underneath the (hinged) seat, which saved the cost of an additional lock on the fuel cap or need for additional metal work on the smooth skin.

The scooter had rigid rear suspension and small 8-inch (200 mm) wheels that allowed a compact design and plenty of room for the rider's legs. The Vespa's enclosed, horizontally-mounted two-stroke 98 cc engine acted directly on the rear drive wheel through a three-speed transmission. The twistgrip-controlled gear change involved a system of rods. The early engine had no cooling, but fan blades were soon attached to the flywheel (otherwise known as the magneto, which houses the points and generates electricity for the bike and for the engine's spark) to push air over the cylinder's cooling fins. The modern Vespa engine is still cooled this way. The mixture of two-stroke oil in the fuel produced high amounts of smoke, and the engine made a high buzzing sound like a wasp.[citation needed]

The MP6 prototype had large grilles on the front and rear of the rear fender covering the engine. This was done to allow air in to cool the engine, as the prototype did not have fan cooling. A cooling fan similar to that used on the MP5 "Paperino" prototype was included in the design of the production Vespa, and the grilles were removed from the fender.[2]

Launch

Piaggio filed a patent for the Vespa scooter design in April 1946. The application documents referred to a "model of a practical nature" for a "motorcycle with rationally placed parts and elements with a frame combining with mudguards and engine-cowling covering all working parts", of which "the whole constitutes a rational, comfortable motorcycle offering protection from mud and dust without jeopardizing requirements of appearance and elegance". The patent was approved the following December.

The first 13 examples appeared in spring 1946, and reveal their aeronautical background. In the first examples, one can recognize the typical aircraft technology. Attention to aerodynamics is evident in all the design, in particular on the tail. It was also one of the first vehicles to use monocoque construction (where the body is an integral part of the chassis).

The company was aiming to manufacture the new Vespa in large numbers, and their longstanding industrial experience led to an efficient Ford-style volume production line. The scooter was presented to the press at Rome Golf Club, where journalists were apparently mystified by the strange, pastel coloured, toy-like object on display. But the road tests were encouraging, and even with no rear suspension the machine was more manoeuvrable and comfortable to ride than a traditional motorcycle.
Following its public debut at the 1946 Milan Fair, the first fifty sold slowly—then with the introduction of payment by installments, sales took off.

Sales and development

Piaggio sold some 2,500 Vespas in 1947, over 10,000 in 1948, 20,000 in 1949, and over 60,000 in 1950.[6]

The biggest sales promo ever was Hollywood. In 1952, Audrey Hepburn side-saddled Gregory Peck's Vespa in the feature film Roman Holiday for a ride through Rome, resulting in over 100,000 sales. In 1956, John Wayne dismounted his horse in favor of the two-wheeler to originally get between takes on sets.[7] By the end of the fifties, Lucia Bosé and her husband, the matador Luis Miguel Dominguín,[8] as well as Marlon Brando, Dean Martin, and the entertainer Abbe Lane had become Vespa owners. William Wyler filmed Ben Hur in Rome in 1959, allowing Charlton Heston to abandon horse and chariot between takes to take a spin on the Vespa.[9][10]

Vespa clubs popped up throughout Europe, and by 1952, worldwide Vespa Club membership had surpassed 50,000. By the mid-1950s, Vespas were being manufactured under licence in Germany, the United Kingdom, France, Belgium and Spain; in the 1960s, production was started in India, Brazil and Indonesia. By 1956, one million had been sold, then two million by 1960. By the 1960s, the Vespa—originally conceived as a utility vehicle—had come to symbolize freedom and imagination, and resulted in further sales boosts: four million by 1970, and ten million by the late 1980s. Between 1957 and 1961 a reverse-engineered and partially redesigned version of the Vespa was made in USSR under the name Vjatka-VP150.[11]

Improvements were made to the original design and new models were introduced. The 1948 Vespa 125 had rear suspension and a bigger engine. The headlamp was moved up to the handlebars in 1953, and had more engine power and a restyled rear fairing. A cheaper spartan version was also available. One of the best-loved models was the Vespa 150 GS introduced in 1955 with a 150 cc engine, a long saddle, and the faired handlebar-headlamp unit. Then came the 50 cc of 1963, and in 1968 Vespa 125 Primavera became one of the most durable of all.

Vespas came in two sizes, referred to as "largeframe" and "smallframe". The smallframe scooters came in 50 cc, 90 cc, 100 cc, and 125 cc versions, all using an engine derived from the 50 cc model of 1963, and the largeframe scooters in 125 cc, 150 cc, 160 cc, 180 cc, and 200 cc displacements using engines derived from the redesigned 125 cc engine from the late 1950s.



Vespa sidecar








The largeframe Vespa evolved into the PX range in the late 1970s and was produced in 125 and 150 cc versions until July 2007. The smallframe evolved into the PK range in the early 1980s, although some vintage-styled smallframes were produced for the Japanese market as late as the mid 1990s.


1990s and beyond

The ET model range stuck true to the wasp/aero design principles. It was lighter, more aerodynamic, had an automatic gearbox and could take a series of engines from a 50 cc in either two-stroke or four-stroke, up to a 150 cc four stroke.[12]
When Vespa celebrated its 50th anniversary in 1996, more than 15 million of the scooters had been sold worldwide.[citation needed] Other companies vied with Piaggio for market share, but none came close to emulating the success—or romance—of Vespa.

Under new ownership

In 1959 Piaggio came under the control of the Agnelli family, the owners of car maker Fiat SpA. Vespa thrived until 1992 when Giovanni Alberto Agnelli became CEO, but Agnelli was already suffering from cancer and died in 1997. In 1999 Morgan Grenfell Private Equity acquired Piaggio, but a quickly hoped-for sale was dashed by a failed joint venture in China.

In 2003, the company found itself close to bankruptcy. Continual management changes and millions spent on many different plans and products had saddled Piaggio with crushing debt and left it vulnerable to competition from cheaper Asian rivals.
Then came Roberto Colaninno: A lot of people told me I was crazy. Piaggio wasn't dying. It just needed to be treated better. Piaggio's finances were in a bad shape, but its brand was still well-known and its products were featuring in more Hollywood films thanks to the Vespa ET4. In October 2003 Colaninno made an initial investment of 100 million euros through his holding company Immsi SpA in exchange for just under a third of Piaggio and the mandate to run it. Chief executive Rocco Sabelli redesigned the factory to Japanese principles so that every Piaggio scooter could be made on any assembly line.

Colaninno laid down some rules and made quick changes; all bonuses for blue-collar workers and management were based on the same criteria: profit margins and customer satisfaction. He didn't fire a single worker—a move which helped seduce the company's skeptical unions. Air conditioning was installed in the factory and he gave the company's engineers, who had been idled by the company's financial crisis, deadlines for projects. They rolled out two world firsts in 2004: a gas-electric hybrid scooter and a scooter with two wheels in front and one in back which grips the road better.

One of Piaggio's problems Mr. Colaninno couldn't fix from the inside was its scale. Even though Piaggio was the European market leader, it was dwarfed by rivals Honda and Yamaha. A year after rescuing Piaggio, Colaninno decided to salvage another Italian brand: scooter and motorcycle maker Aprilia. On July 11, 2006, shares of Piaggio & Co., became available to the general public through listing on the Milan [Italy] Stock Exchange or Borsa Italiana. Piaggio share prices, converted to US Dollars, may be found under the trading symbol: PIAGF.

Re-entry to North America

Piaggio first came back into the market in 2001 with the ET2 (two stroke 50 cc) and ET4 (four stroke 150 cc). In 2004, the PX (model year 2005) was re-introduced to North America to meet market demand for the classic Vespa design. Growth in the US market and worldwide environmental concerns meant a need for larger and cleaner engines, so Vespa developed the LEADER (Low Emissions ADvanced Engine Range) series of four-stroke engines. The larger Granturismo frame, with larger 12-inch (300 mm) wheels, was introduced to handle the additional power. The bike in 2006 spawned the iconic GTS-250ie version, with an upgraded suspension and the new QUASAR (QUArter-liter Smooth Augmented Range) 250 cc fuel-injected engine, capable of 80+ mph. As of the end of 2010 the GTS 250 has been replaced by the GTS 300 which has a 278cc fuel - injected engine. In 2005, the ET was withdrawn from Europe and North America and replaced by a new small-frame scooter, the LX range. These were available in the USA in 50 cc and 150 cc versions, while Europeans could choose a 50 cc or 125 cc.

Design icon

In recent years, many urban commuters have purchased new or restored Vespas. A shortage of available parking for automobiles in large urban areas and the Vespa's low running costs are two reasons for the increase in Vespa (and other scooter) popularity. The cultural use of the scooter as a recreational vehicle with a sub-cultural following in the USA/Canada and parts of Europe & Japan has also contributed to the rise in Vespa ownership. In contrast, the Vespa is considered a utilitarian vehicle for hauling products and sometimes up to 5 family members in much of Asia and Mexico

There is a Piaggio Museum & Gift Shop adjacent to the plant in central Pontedera, near Pisa, Tuscany. The permanent exhibition includes those items which toured venues such as the Guggenheim in New York and the Centre Pompidou in Paris. Also on display is a model personally customised by Salvador Dalí in 1962.
The 1959 Vespa N was also the styling inspiration for the Neco Italia.[13]

Global markets

Europe

Vespa's largest market by all measures globally is still Italy, but as a result of the mod subculture that developed in the 1960s, the United Kingdom is still Vespa's second largest global market—and at one point in the 1960s, its largest. The appeal of the Vespa to the style-conscious mods was the weather protection. Their counterparts, the rockers rode classic British motorcycles such as Triumph Bonneville and BSAs, and needed to wear leathers against the elements. Mods would modify their Vespas, adding lights, mascots, accessories, various racks and crash bars. A new lifestyle evolved in the UK, with thousands attending scooter rallies.
The dominance of the Vespa declined through the 1970s, as small car ownership increased and cheap and reliable commuter bikes like the Honda Super Cub hit sales. Despite the introduction of the more modern 'P' range in the 1970s, the lack of development cost Vespa, and like other markets, the sales fell off drastically in the economic boom of the 1980s. Then Vespa introduced the trendy automatic ET2, London introduced the congestion charge and—partly with celebrity chef Jamie Oliver's indirect help from his BBC2 series—sales suddenly leapt.[14]

North America

Much as Vespa had used the Cushman Army scooter as inspiration for its original design, Vespa in turn made scooters for Sears and Cushman after World War II.[15]
Imported by Morton Colby of Colby General Tire Company, 662 E. Fordham Road, Bronx, New York, the Sears models were 3- and 4-speed 125 cc Vespas rebadged as Sears Allstate Cruiseaires. Innocenti also distributed their Lambretta brand via Montgomery Ward's catalogue during this post-WWII period. These were the premier brands of scooters, bringing premium pricing to many, including farmers, whose link to the outside world was via purchases made in these catalogues. Cushman sold rebadged Vespa scooters as Cushmans, but many Cushman dealers refused to market a "foreign" machine. However, collectors prize the Cushman Vespa because it is relatively rare.

Bankruptcy of Vespa's American importer due to two expensive product-liability lawsuits, increased competition from Japanese manufacturers, and certain states' passing so-called "green laws" caused a withdrawal from the US market in late 1981.
During 1981-2001, despite an absence of United States domestic sales, Vespas continued to have a core group of enthusiasts who kept vintage scooters on the road by rebuilding, restoring, and adding performance-enhancing engine parts as the stock parts would wear out.

Vespa returned to the US market in 2001 with a new, more modern style ET series, in 50 cc two and four stroke, and 150 cc four-stroke. According to the Motorcycle Industry Council, U.S. scooter sales increased fivefold over six years, swelling from 12,000 units in 1997 to 69,000 units in 2002. Vespa sales in the U.S. increased 27 percent between 2001 and 2002. The 65 "Vespa Boutiques" scattered throughout the U.S. gave scooterists a place to buy, service, and customize Vespa scooters, and outfit themselves in everything from Vespa watches and helmets to Vespa jackets, T-shirts, and sunglasses. Vespa restarted its American sales effort, opening its first boutique on Ventura Boulevard in Sherman Oaks, Calif.

In light of vastly-increasing US sales, Vespa developed the GT, offered as a 200 cc four-stroke and a 125 cc variant in Europe. In 2004 Vespa reintroduced a modernized PX 150 to the US. In the fall of 2005, Piaggio offered their largest-selling Vespa scooter ever, the 250 cc-engined GTS250, available in Europe with ABS.
Rest of the world
Vespa acquired popularity beyond Europe and North America. When looking to expand into markets outside of Europe and North America, it was common for Vespa to partner with, or license certain models to already existing manufacturers. Though the motorcycle industry has been and still is dominated by Japanese companies, Vespa still has a small but significant markets. While details are sometimes hard to come by, especially in some markets, some information is known.

India

Piaggio first licensed the production of Vespa scooters in India to Bajaj Auto in the 1960s. In 1971, Piaggio's license was not renewed as a part of Indira Gandhi's privatization programs. After the collaboration ended, Bajaj continued to produce scooters of its own design, namely the Chetak, using design and engineering cues it had gleaned from the earlier affiliation.

Another Vespa partner in India was that of LML Motors. Beginning as a joint-venture with Piaggio in 1983, LML, in addition to being a large parts supplier for Piaggio, produced the P-Series scooters for the Indian market. In 1999, after protracted dispute with Piaggio, LML bought back Piaggio's stake in the company and the partnership ceased. LML continues to produce (and also exports) the P-Series variant known as the Stella in the U.S. market and by other names in different markets.
Piaggio, in 2007, announced plans to reenter the Indian market. This time, however, Piaggio plans to do so with a wholly owned subsidiary.

Taiwan

Vespa has had various partnerships and presence in Taiwan. In 1965 Taiwan Vespa Co. Ltd was licensed for Vespa scooter production. From 1972 to 1982 Vespa entered into a collaboration with manufacturer PGO. In 1978 Vespa entered into a collaboration with TGB, which to some extent, continues to this day (namely with CVT transmission production).

Indonesia

A company known as Dan Motors Vespa produced Vespas under license for the Indonesian market.

Export of restored classics

The resurgence in interest in vintage motor scooters has also spawned the scooter restoration industry, with many restored Vespas being exported from Thailand, Vietnam and Indonesia to the rest of the world.[16][17][18]

Racing

In the 1950s and early 1960s, Vespa and Lambretta scooters were raced competitively against motorcycles, often winning the races. In the mid 1960s, motorcycle engines became larger and faster, and a gap was created—along with varying cc classifications. Since the 1980s, Vespa and Lambretta racing has grown into a serious sport in the United States. There are various classes in the United States, depending on the racing association. They are generally:
• Small Frame Class: Open class up to 152 cc's
• Automatics Class
• Specials Class
• Stock Class: Large-frame Vespa and Lambretta 180 & 200 cc scooters.

Vespa models

There have been 138 different versions of the Vespa. Today five series are in production: the classic manual transmission PX and the modern CVT transmission S, LX, GT, and GTS

Jumat, 01 April 2011

Anak Ketiga





Praja












Dea sudah mulai bersekolah di TK Sandy Putra di Jalan Radio. Dimas pun segera akan menyusul. Istriku ingin memiliki momongan lagi. Aku tentu senang mendengarnya. Allah pun mengabulkan keinginan kami, istriku mengandung anak ketiga.

17 Agustus 1994. Saat orang-orang ramai merayakan hari ulang tahun kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 49, istriku merasa ingin melahirkan anak ketiga. Ia pun segera ke bidan Nonong dekat rumah kami. Usai waktu ashar, saat orang ramai berkumpul di lapangan volley untuk menyaksikan pertandingan, lahirlah anakku yang ketiga. Seorang laki-laki. Tubuhnya besar. Akupun menyuarakan adzan dan iqomat di telinganya. Hatiku merasa bahagia dan bersorak sorai, seperti para tetangga di lapangan.



Biaya persalinan di bidan Nonong tidaklah mahal, hanya sekitar Rp 100 ribu, tapi kami benar-benar tidak punya uang ketika itu, meskipun aku adalah seorang anggota DPRD II. Untunglah ada dik Yuni yang merelakan giwang miliknya untuk dijual di pasar Dangdeur dan dengan uang hasil penjualan itulah kami membayar biaya persalinan. (Dik Yuni pun merelakan keluar dari pekerjaannya di pabrik untuk mengasuh anak bungsuku itu, sambil ikut kursus menjahit dua kali dalam seminggu.)

Pada umur seminggu rambut anakku kami cukur dan kami timbang. Berat timbangan rambut anakku itulah sebagai pengukur membeli emas yang kami sedekahkan. Anak ketiga kami beri nama Muhammad Agustus Prajakusuma. Kami ingin ia berakhlaqul karimah seperti Rasulullah SAW, menjadi manusia mulia dan bunga dari nusa-bangsanya. Sehari-hari kami memanggilnya ade (adik), tapi ia tidak mau dipanggil ade, jadi kami semua memanggilnya Praja.

Kami semua tertawa jika melihat tubuh anak ketiga kami itu, hampir semua bagian tubuhnya menonjolkan dagingnya yang gemuk. Pipinya, perutnya, paha, kaki dan tangannya seperti roti tawar. Hingga kini, setiap kami melihat foto-fotonya sewaktu kecil kami tertawa.

Khitanan



Praja baru berusia satu atau dua tahun ketika dokter di RS Immanuel menyarankan agar dilakukan circumcision (khitan) padanya. Kamipun mengikuti saran tersebut, maka dikhitanlah Ade tanpa perencanaan atau persiapan terlebih dahulu.

Karena Ade sudah dikhitan, Dimas pun ingin dikhitan pula, karena itu kami membawanya ke RS Al Islam di Jalan Soekarno-Hatta. Sayang sekali tenaga medis di sana nampaknya belum begitu trampil mengkhitan sehingga Dimas meraung-raung kesakitan. Berbeda dengan Ade yang menginap satu atau dua hari di rumah sakit, Dimas pulang hari itu juga.



RS Al Islam












Sampai di rumah tetangga kiri kanan rumah berdatangan untuk nyecep (memberi angpau). Dimas senang sekali dan uang itu dibelikannya sepatu roda serta untuk berjalan-jalan ke Jogja bersama Dea diantar dik Wiwin. Ia senang sekali dapat memerah susu sapi setiap pagi, karena mbak Wiji yang dikunjunginya memelihara sapi perah beberapa ekor.





Istriku berinisiatif untuk membalas kebaikan mereka itu dengan memberi makanan ala kadarnya. Kamipun membuat duaratus kotak nasi dan laukpauk untuk dibagikan ke para tetangga. Seraya mengharapkan doa agar anak-anak kami yang telah dikhitan itu menjadi anak yang salih, berguna bagi nusa bangsa dan agama.

MEMASUKI BIDANG PEMERINTAHAN

Utusan Pak Abbas

MESKIPUN aku tercatat sebagai anggota partai, sesungguhnya aku tidak terlibat secara aktif secara organisatoris. Maklum ketika itu jika seseorang terikat dengan sebuah parpol maka ia akan kehilangan kesempatan untuk berkarir sebagai PNS, padahal saat lulus sarjana aku punya niat untuk menjadi dosen kopertis atau pekerja sosial di depsos atau institusi pemerintah lainnya. Namun keinginan ini tinggal keinginan karena jalan hidupku menentukan lain.

Peta Kabupaten Bandung









Suatu saat bapak mertua datang ke rumah menyampaikan berita bahwa pak Abbas mengirim utusan ke Banjaran menanyakan keberadaanku. Akupun datang ke rumah pak Abbas. Ketika itu menjelang Pemilihan Umum tahun 1992, DPC PDI sedang menyusun daftar calon anggota DPRD Kabupaten Bandung. Aku diminta mencalokan diri , “sebagai vote getter” kata pak Abbas. Akupun bermusyawarah dengan istriku, meskipun pada akhirnya akulah yang memutuskan untuk memenuhi permintaan pak Abbas itu dengan memikirkan segala konsekuensinya.

Calon Tetap


Partai Demokrasi Indonesia








Ketika daftar calon diumumkan, aku terkejut sekaligus bersyukur karena berada di nomor urut 6 dari Partai Demokrasi Indonesia. “Nomor jadi” kata orang. Reaksipun bermunculan dalam bentuk pengaduan dan protes menanggapi pencalonanku, terutama dari internal partai. Harus kuakui bahwa pencalonanku memang controversial. Pertama meskipun aku adalah anggota sejak tahun 1980-an tapi aku bukan fungsionaris partai. Kedua, aku terdaftar sebagai pemilih di kota Bandung tapi dicalonkan di Kabupaten Bandung. Tapi Panitia Pemilu Daerah menyatakan bahwa pencalonanku sah. Di masa orde baru, pemerintah sangat kuat, sehingga pernyataan tersebut merupakan sebuah jaminan bahwa pencalonanku aku tidak bisa digugurkan. Apalagi aku sudah lolos dari pelbagai persyaratan : persyaratan administrative dengan pelbagai bentuk surat-menyurat dan perizinan dari pelbagai institusi pemerintahan, ;persyaratan clearance secara ideologis dengan screening tertulis maupun wawancara yang menyatakan aku bukan orang yang cacat politik secara ideologis (tidak terlibat PKI dan DI).

Sebagai calon tetap aku tidak boleh mengundurkan diri, itu berarti aku sudah 100% terlibat dalam politik praktis (istilah yang muncul sejak Orde Baru). Aku pun terlibat dengan kampanye-kampanye politik di lapangan terbuka serta pawai-pawai di jalan raya. Aku harus membuat atribut-atribut kampanye seperti kaos oblong berlogo partai dan nomor urut dalam pemilu, bendra, spanduk dan lain-lain. Akupun harus menyiapkan kendaraan untuk memobilisasi rakyat ke tempat-tempat kampanye. Semua itu berkonsekuensi pada besarnya pengeluaran biaya. Aku harus menjual ini itu, meminjam sana sini, berkomitmen ke sana kemari dan tentu saja berjanji.

Pada saat itu suhu politik sedang tinggi, kebosanan terhadap Orde Baru di bawah Suharto mulai memuncak. PDI di bawah Suryadi menjadi oposan paling depan melawan kemapanan sistem. Orang-orang muda berbondong-bondong ke PDI karena PDI menjadi lambang perlawanan rakyat kecil sekaligus perlawanan orang muda. Hal itu terjadi secara nasional, tidak terkecuali di Jawa Barat. Terbukti ketika kampanye partai di Garut, massa membludak di jalan-jalan sepanjang 60 km. sayangnya intervensi operasi intelejen membuat kegairahan politik itu berubah menjadi keonaran sehingga citra PDI berubah menjadi anarkhis dan premanistis. Dan tujuan operasi intelejen untuk menghancurkan PDI di Jawa Barat khususnya berhasil. Dalam Pemilu PDI tidak mengalami kenaikan suara signifikan, di Kabupaten Bandung bahkan menurun.


Suharto













Hasil dari pemungutan suara di TPS-TPS menunjukkan bahwa suara yang diperoleh PDI dari para pemilih handy cukup untuk memperoleh 6 kursi di lembaga legislative. PPD memutuskan yang menjadi anggota DPRD II Kabupaten Bandung dari PDI adalah Mohammad Abbas, Christianus Sukiman, Mastur, Haji Affandi, Idih Sudjana dan Harjoko Sangganagara. Keputusan ini mengantarku memasuki sebuah dunia baru : bidang pemerintahan. Kabupaten BAndung ketika itu meliputi Kabupaten Bandung Barat dan Kota Cimahi.

Kabupaten BAndung

Kota Cimahi

Kabupaten Bandung Barat




Menjadi Anggota Legislatif

Aku dilantik menjadi anggota DPRD II Kabupaten Bandung dari Fraksi PDI di pusat pemerintahan Soreang berdasarkan surat keputusan Gubernur. Selain dilantik aku bersama pak Sukardi dari Golkar dipilih menjadi pimpinan sementara DPRD. Hari-hari berikutnya aku bertugas sebagai wakil rakyat di DPRD II Kabupaten Bandung di Baleendah. Untuk waktu sekitar satu bulan aku menjadi pimpinan sementara sehingga harus ada di setiap acara seremonial yang dihadiri Bupati. Bupati ketika itu Hatta Djatipermana berasal dari ABRI (TNI/AD) dengan pangkat Kolonel. Itu adalah era dwi fungsi ABRI sehingga ABRI berperan politik, termasuk di DPRD II. Fraksi ABRI terdiri dari anggota TNI (AD/AL/AU) dan Polri.

Kekuasaan militer atas politik demokrasi Pancasila versi Suharto memang sangat nyata. Selalin menguasai eksekutif, legislative pun mereka kuasai. Kendati Golkar menguasai lebih dari 50% kursi DPRD II, mereka tidaklah memperoleh posisi ketua melainkan hanya wakil saja, ketua tetap dipegang oleh seorang Letkol TNI AD, Holil namanya. Pak Djamil sebagai ketua Golkar hanya menjadi wakil meskipun ia seorang militer berpangkat letkol. Dari PPP yang menjadi wakil adalah Amin Suparmin dan dari PDI adalah Mastur. Ketika itu pemilihan pimpinan DPRD II berlangsung melalui sistem paket yang terlebih dahulu harus direstui Bupati dan Kakansospol yang juga seorang tentara.

Aku ditempatkan di Komisi B yang berkaitan dengan keuangan daerah dan hanya sebatas anggota. Meskipun demikian aku pernah pula ditugaskan di Panitia Anggaran untuk beberapa waktu. Di fraksi PDI aku selalu menjadi sekretaris . posisiku sedikit berubah menjelang akhir masa bakti dengan menjadi Pjs Ketua Fraksi PDI, itupun karena tidak ada pilihan lain rupanya. Honorku kurang lebih Rp 1 juta dan fasilitas yang kudapat adalah sebuah mobil dinas plat merah keluaran tahun 1988.

Sampai sekarang aku tidak mengerti mengapa rezim Orba bisa menerimaku sebagai ketua fraksi, meskipun mereka tahu aku berada dalam posisi bersebrangan dengan mereka. Aku adalah pendukung Megawati. Beberapa kali mereka secara persuasive memintaku mengikuti arus atau dalam bahasa mereka : “mengikuti arah angin”.



Gonjang ganjing


Keluarga Megawati









Suryadi nampaknya menjadi anak nakal bagi rezim Orde Baru, karena itu meskipun terpilih di Kongres Medan ia dijatuhkan secara paksa melalui kekerasan. Inilah premanisme dalam politik yang nampaknya akan terus menjadi tradisi dalam demokrasi di Indonesia. KLB (Kongres Luar Biasa)pun digelar di Surabaya yang menghasilkan buah simalakama bagi Orde Baru. Megawati muncul sebagai kuda hitam menyaingi Budi Harjono yang didukung pemerintah. KLB pun mengalami deadlock. Tak kurang akal Megawati menyatakan dirinya sebagai ketua umum PDI de facto.

Suryadi




















Untungnya momentum politik dunia ketika itu mengarah pada demokratisasi dan penegakan HAM (hak asasi manusia) sehingga pemerintahan otoriter yang dijalankan Orba kurang popular di dalam dan di luar negeri. Angin berhembus untuk Megawati rupanya, karena beberapa perwira tinggi militer seperti Beni Murdani, Agum Gumelar dan Hendropriyono memberikan dukungan bagi terselenggaranya Munas (musyawarah nasional) PDI di Jakarta yang mengukuhkan Megawati menjadi Ketua Umum PDI de facto dan de iure. Pilihan politikku ternyata benar.



Agum Gumelar




A.M. Hendropriyono










Kemenangan Megawati mengganggu konstelasi kekuasaan otoriter Suharto sehingga tidak beberapa lama inner cyrcle DPP melakukan penjegalan terhadap Megawati dengan membuat kongres yang menetapkan Suryadi menjadi Ketua Umum PDI. Sejak itulah ada dua DPP, versi Munas dan versi Kongres pemerintah. PDI pun pecah. Pemerintah hanya mengakui PDI Suryadi dan tidak mengakui PDI Megawati. Para fungsionaris dan anggota partai pun harus memilih : ikut Suryadi atau Megawati. Pada umumnya para pengurus lebih memilih ikut Suryadi dan para anggota serta massa pendukung lebih memilih Megawati, termasuk aku di antaranya. Dengan demikian aku bersebrangan dengan kelima anggota fraksi lainnya.

DPC (Dewan Pimpinan Cabang) PDI Kabupaten Bandung yang dipimpin Idih Sudjana pada umumnya ikut Suryadi, hanya ada lima orang yang mendukung Megawati. Mereka itu Yadi Sri Mulyadi, Nandang Afifidin, Pupu Danglar, Happy dan Dedeh. Para pendukung Megawati mereformasi DPC dengan Yadi sebagai ketua dan aku sebagai sekretaris. Dengan demikian ada dua DPC PDI di Kabupaten Bandung. DPC yang kami pimpin tidak diakui oleh pemerintah daerah.

Mengenal Kabupaten Bandung

Kabupaten Bandung
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Sebagian besar wilayah Kabupaten Bandung adalah pegunungan. Di antara puncak-puncaknya adalah: Sebelah utara terdapat Gunung Bukittunggul (2.200 m), Gunung Tangkubanperahu (2.076 m) di perbatasan dengan Kabupaten Purwakarta. (kedua-duanya kini termasuk dalam wilayah Kabupaten Bandung Barat). Sedangkan di selatan terdapat Gunung Patuha (2.334 m), Gunung Malabar (2.321 m), serta Gunung Papandayan (2.262 m) dan Gunung Guntur (2.249 m), kedua-duanya di perbatasan dengan Kabupaten Garut.

Kabupaten Bandung lahir melalui Piagam Sultan Agung Mataram, yaitu pada tanggal 9 bulan Muharram tahun Alif atau sama dengan hari sabtu tanggal 20 April 1641 Masehi. Bupati pertamanya adalah Tumenggung Wiraangunangun (1641-1681 M). dari bukti sejarah tersebut ditetapkan bahwa 20 April sebagai Hari Jadi Kabupaten Bandung. Jabatan bupati kemudian digantikan oleh Tumenggung Nyili salah seorang putranya. Namun Nyili tidak lama memegang jabatan tersebut karena mengikuti Sultan Banten. Jabatan bupati kemudian dilanjutkan oleh Tumenggung Ardikusumah, seorang Dalem Tenjolaya (Timbanganten) pada tahun 1681-1704.

Selanjutnya kedudukan Bupati Kabupaten Bandung dari R. Ardikusumah diserahkan kepada putranya R. Ardisuta yang diangkat tahun 1704 setelah Pemerintah Hindia Belanda mengadakan pertemuan dengan para bupati se-Priangan di Cirebon. R. Ardisuta (1704-1747) terkenal dengan nama Tumenggung Anggadiredja I setelah wafat dia sering disebut Dalem Gordah. sebagai penggantinya diangkat putra tertuanya Demang Hatapradja yang bergelar Anggadiredja II (1707-1747).

Pada masa Pemerintahan Anggadiredja III (1763-1794) Kabupaten Bandung disatukan dengan Timbanganten, bahkan pada tahun 1786 dia memasukkan Batulayang ke dalam pemerintahannya. Juga pada masa Pemerintahan Adipati Wiranatakusumah II (1794-1829) inilah ibu kota Kabupaten Bandung dipindahkan dari Karapyak (Dayeuhkolot) ke tepi sungai Cikapundung atau alun-alun Kota Bandung sekarang. Pemindahan ibu kota itu atas dasar perintah dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda Daendels tanggal 25 Mei 1810, dengan alasan daerah baru tersebut dinilai akan memberikan prospek yang lebih baik terhadap perkembangan wilayah tersebut.

Setelah kepala pemerintahan dipegang oleh Bupati Wiranatakusumah IV (1846-1874), ibu kota Kabupaten Bandung berkembang pesat dan beliau dikenal sebagai bupati yang progresif. Dialah peletak dasar master plan Kabupaten Bandung, yang disebut Negorij Bandoeng. Tahun 1850 dia mendirikan pendopo Kabupaten Bandung dan Mesjid Agung. Kemudian dia memprakarsai pembangunan Sekolah Raja (Pendidikan Guru) dan mendirikan sekolah untuk para menak (Opleiding School Voor Indische Ambtenaaren). Atas jasa-jasanya dalam membangun Kabupaten Bandung di segala bidang beliau mendapatkan penghargaan dari Pemerintah Hindia Belanda berupa Bintang Jasa, sehingga masyarakat menjulukinya dengan sebutan Dalem Bintang.

Di masa pemerintahan R. Adipati Kusumahdilaga, rel kereta api mulai dibangun, tepatnya tanggal 17 Mei 1884. Dengan masuknya rel kereta api ini ibu kota Bandung kian ramai. Penghuninya bukan hanya pribumi, bangsa Eropa, dan Cina pun mulai menetap di ibu kota, dampaknya perekonomian Kota Bandung semakin maju. Setelah wafat penggantinya diangkat R.A.A. Martanegara, bupati inipun terkenal sebagai perencana kota yang jempolan. Martanegara juga dianggap mampu menggerakkan rakyatnya untuk berpartisipasi aktif dalam menata wilayah kumuh menjadi permukiman yang nyaman. Pada masa pemerintahan R.A.A. Martanegara (1893-1918) ini atau tepatnya pada tanggal 21 Februari 1906, Kota Bandung sebagai ibu kota Kabupaten Bandung berubah statusnya menjadi Gementee (Kotamadya).

R. A. A. Wiranatakoesoema V (Dalem Haji, masa jabatan 1912-1931 dan 1935-1945) sebagai wakil Volksraad di Congres van Prijaji-Bond (Kongres Perhimpunan Priyayi) di Surakarta tahun 1929
Periode selanjutnya Bupati Bandung dijabat oleh Aria Wiranatakusumah V (Dalem Haji) yang menjabat selama 2 periode, pertama tahun 1912-1931 sebagai bupati yang ke-12 dan berikutnya tahun 1935-1945 sebagai bupati yang ke-14. Pada periode tahun 1931-1935 R.T. Sumadipradja menjabat sebagai Bupati ke-13. Selanjutnya bupati ke-15 adalah R.T.E. Suriaputra (1945-1947) dan penggantinya adalah R.T.M. Wiranatakusumah VI alias Aom Male (1948-1956), kemudian diganti oleh R. Apandi Wiriadipura sebagai bupati ke-17 yang dijabatnya hanya 1 tahun (1956-1957).

Bupati berikutnya adalah Letkol. R. Memet Ardiwilaga (1960-1967). Kemudian pada masa transisi (Orde Lama ke Orde Baru) dilanjutkan oleh Kolonel Masturi. Pada masa Pimpinan Kolonel R.H. Lily Sumantri tercatat peristiwa penting yaitu rencana pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung yang semula berada di Kotamadya Bandung ke Wilayah Hukum Kabupaten Bandung, yaitu daerah Baleendah. Peletakan batu pertamanya pada tanggal 20 April 1974, yaitu pada saat Hari Jadi Kabupaten Bandung yang ke-333. Rencana pemindahan ibu kota tersebut berlanjut hingga jabatan bupati dipegang oleh Kolonel R. Sani Lupias Abdurachman (1980-1985).

Atas pertimbangan secara fisik geografis, daerah Baleendah tidak memungkinkan untuk dijadikan sebagai ibu kota kabupaten, maka ketika jabatan bupati dipegang oleh Kolonel H.D. Cherman Affendi (1985-1990), ibu kota Kabupaten Bandung pindah ke lokasi baru yaitu Kecamatan Soreang. Di tepi Jalan Raya Soreang, tepatnya di Desa Pamekaran inilah dibangun Pusat Pemerintahan Kabupaten Bandung seluas 24 hektare, dengan menampilkan arsitektur khas gaya Priangan. Pembangunan perkantoran yang belum rampung seluruhnya dilanjutkan oleh bupati berikutnya yaitu Kolonel H.U. Djatipermana, sehingga pembangunan tersebut memerlukan waktu sejak tahun 1990 hingga 1992.

Tanggal 5 Desember 2000, Kolonel H. Obar Sobarna, S.I.P. terpilih oleh DPRD Kabupaten Bandung menjadi Bupati Bandung dengan didampingi oleh Drs. H. Eliyadi Agraraharja sebagai Wakil Bupati. Sejak itu, Soreang betul-betul difungsikan menjadi pusat pemerintahan. Pada tahun 2003 semua aparat daerah, kecuali Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perhubungan, Dinas Kebersihan, Kantor BLKD, dan Kantor Diklat, sudah resmi berkantor di kompleks perkantoran Kabupaten Bandung. Pada periode pemerintahan H. Obar Sobarna, S.I.P. yang pertama telah dibangun Stadion Olahraga Si Jalak Harupat, yaitu stadion bertaraf internasional yang menjadi kebanggaan masyarakat Kabupaten Bandung. Selain itu, berdasarkan aspirasi masyarakat yang diperkuat oleh Undang-Undang Nomor 22 tahun 1999, Kota Administratif Cimahi berubah status menjadi kota otonom.

Tanggal 5 Desember 2005, H. Obar Sobarna, S.I.P. menjabat bupati Bandung untuk kali kedua didampingi oleh H. Yadi Srimulyadi sebagai wakil bupati, melalui proses pemilihan langsung oleh seluruh masyarakat Kabupaten Bandung. Di masa pemerintahan H. Obar Sobarna yang kedua ini, berdasarkan dinamika masyarakat dan didukung oleh hasil penelitian dan pengkajian dari 5 perguruan tinggi, secara yuridis terbentuklah Kabupaten Bandung Barat bersamaan dengan keluarnya Undang-Undang Nomor 12 tahun 2007 tentang Pembentukan Kabupaten Bandung Barat di Provinsi Jawa Barat. Ibu kota Kabupaten Bandung Barat terletak di Kecamatan Ngamprah). Bupati Bandung Barat masa jabatan 2008--2013 adalah Abubakar [3].

Kabupaten Bandung terdiri atas 31 kecamatan, yang dibagi lagi menjadi 277 desa dan kelurahan (pasca-pemekaran). Pusat pemerintahan terletak di Kecamatan Soreang.

Bupati Kabupaten Bandung saat ini adalah M. Dadang Naser. Aku mengenalnya sejak aku menjadi anggota DPRD Kabupaten Bandung. ketika itu ia adalah ketua KNPI Kabupaten Bandung. Ayah mertuanya Obar Sobarna pernah satu komisi denganku di DPRD Kabupaten Bandung.