Sabtu, 25 Agustus 2012

Batanghari


Candi Tinggi di Tepian Sungai Batanghari


SEKITAR tahun 2005  kami mendarat di bandara Sultan Thaha di kota Jambi.  Nama Sultan Thaha berasal dari nama pahlawan yang memimpin perlawanan terhadap Belanda (1855-1907). Kota Jambi merupakan  ibukota Provinsi Jambi. Sebagai ibukota, kota Jambi tidaklah begitu besar. Penduduknya berkisar   1 juta orang. Sebagian besar merupakan  orang Melayu , yakni Melayu Muda (Deutero Melayu) yang sudah mendapat pengaruh kebudayaan luar seperti kebudayaan Hindu, Islam, Eropa,  dll. Suku Melayu konon sudah ada di Jambi 3500 tahun sebelum Masehi. 

Suku-suku asal di Provinsi  Jambi ada tujuh di antaranya suku Kubu atau Anak Dalam dan Kerinci, Penghulu, Batin, Pindah,  Bajau dan Melayu. Suku Kubu Disebut Anak Dalam karena mereka tinggal di pedalaman, berpindah-pindah dan tersebar di hutan di daerah sungai Batanghari. Suku Kerinci berasal dari ras Proto Melayu (Melayu Tua) yang bermigrasi dari Hindia Belakang, melalui Sungai Batanghari kemudian tiba di Dataran Tinggi Kerinci.  Suku Penghulu berasal dari Minagkabau. Suku Batin berasal dari pegunungan di barat daya. Suku Ameng (Pindah) berasal dari Rawas.  Suku Bajau yang termasuk Proto Melayu disebut orang Laut karena tinggal di pantai. Tidak seperti suku-suku yang lain yang hidup bertani, suku Bajau hidup sebagai nelayan. 

Meskipun tergolong kota kecil Jambi memiliki kelebihan karena memiliki sungai Batanghari yang besar sehingga  Jambi memiliki pelabuhan di samping memiliki bandara. Dari Pelabuhan tersebut ribuan kapal keluar  mengangkut karet, kayu lapis, kayu gergajian dan hasil hutan lainnya. Panjang Sungai Batanghari mencapai 637 kilometer, berasal dari Gunung Kerinci (3.805 meter) di Provinsi Sumatra Barat dan bermuara di Selat Malaka. Kehidupan masyarakat berpusat di aliran sungai Batanghari dan anak-anak sungainya. aku sempat melayari sungai itu untuk merasakan aura kebesarannya,

Sungai Batanghari terancam pendangkalan, penyempitan dan polusi yang berasal dari limbah industri , limbah perkebunan, limbah rumah tangga maupun limbah yang berasal dari penggundulan hutan. Taman Nasional Kerinci Seblat yang terletak pada rangkaian pegunungan Bukit Barisan merupakan kawasan konservasi yang luasnya mencapai 1,5 juta hektar pun terancam keberadaannya sehingga berpengaruh terhadap kelestarian sungai Batanghari. Ji ka pendangkalan terus terjadi maka akses sejauh 150 km dari kota Jambi ke selat Malaka pun terancam karena kapal-kapal besar tidak akan lagi dapat berlayar ke hulu. 

Pada aliran sungai Batanghari ini dulu terdapat kerajaan besar Melayu (abad ke-tujuh) yang meninggal jejak kebesarannya berupa pelbagai bangunan candi Budha seperti Candi Muara Jambi, Candi Astano, Candi Tinggi, Candi Gumpung, Candi Kembar Batu, Candi Gedong, Candi Kedaton, dan Candi Kota Mahligai. Peziarah Budha dari Cina bernama I’tsing pernah tinggal selama dua bulan  di kerajaan Melayu yang berada di tepian Sungai Batanghari tersebut dalam perjalanannya dari  Sriwijaya ke India. Ketika pengaruh Sriwijaya memudar, kerajaan Melayu-Jambi mengambil alih posisi kepemimpinan politik di wilayah itu. “Pengembangan kerajaan dengan perekonomian yang cemerlang di pinggir lembah Batanghari, raja Melayu-Jambi memberi contoh atas kesiapan penduduk maritim menyesuaikan diri dengan perubahan perekonomian” (Pierre-Yves Manguin, 2002:102).

Para pemangku kepentingan menyadari peran penting Batanghari dan melakukan kerjasama untuk menyelamatkannya. Memang harus ada satu manajemen terpadu aliran sungai yang bersifat lintas sektoral dan lintas spasial.



Senin, 13 Agustus 2012

Berlayar di Sungai Musi

Sungai Musi di Malam Hari

Jawa Barat merupakan daerah tujuan wisata  dalam negri yang menonjol di Indonesia. Peringkatnya hanya terpaut satu tingkat di bawah Yogyakarta yang menduduki peringkat utama.  Meskipun begitu kami di Komisi B selalu mendorong eksekutif,  dunia usaha serta  masyarakat  sebagai  pemangku kepentingan untuk bersatu secara sinergis memajukan pariwisata Jawa Barat. Ketika itu dikenal istilah gurilaps : gunung rimba laut pantai  dan sungai sebagai obyek wisata alam andalan di samping wisata budaya.  Belakangan Bandung dikenal sebagai tempat wisata belanja dengan factory outlet (FO) sebagai icon nya. Kaum muda urban Bandung bahkan menjadikan industri kreatif sebagai icon baru, maka Bandung kemudian terkenal dengan wisata kreatifnya. Belakangan Bandung dijadikan ibukota industri kreatif Asia Pasifik.

Pariwisata merupakan salah satu aspek dari bidang perekonomian yang kami tangani di samping perdagangan, industri, pertanian, kehutanan, perkebunan dan kelautan.  dalam kerangka mengembangkan pariwisata itu kami bersama dinas pariwisata melihat geliat pariwisata di kota Palembang yang sedang berbenah menghadapi PON.

Kota Palembang sedang berdandan ketika kami datang. Bandara Sultan Badaruddin diperluas dan  ditambah dengan anjungan yang baru di sebrang bangunan yang lama. Konon pembangunan perluasan bandara dimungkinkan atas jasa Taufik Kiemas , suami Megawati Sukarnoputri, Presiden Indonesia.  

Obyek utama yang kami kunjun gi di Palembang adalah wisata sungai Musi.  Kami datang malam hari dengan terlebih dulu melihat-lihat istana Palembang yang menghadap sungai. Dari sana kami ke dermaga dan sebuah kapal pesiar milik Pemerintah Kota Palembang telah bersiap mengantar kami menyaksikan pesona sungai di malam hari. Walikota tidak bisa mendampingi. Beberapa pejabat eksekutif dan legislatif kota Palembang menemani kami berlayar sambil menjelaskan pelbagai program yang telah dijalankan untuk  menjadikan Musi sebagai tujuan wisata dalam negri dan mancanegara.  Sambil berbincang dan beramah tamah, tuan rumah menyajikan musik dan makan  malam sajian jurumasak kapal pesiar yang profesional.  Kami sungguh menikmati pelayaran menyusuri sungai yang membelah kota Palembang dengan latar belakang jembatan Ampera yang dibangun Bung Karno tahun 60-an dengan biaya dari pampasan perang Jepang. Jembatan tersebut  dipenuhi lampu warna-warni di sekujur  bangunannya. Sayang bagian tengah jembatan tidak bisa dinaik-turunkan lagi karena rusak, sehingga kapal-kapal besar tidak bisa berlalu lalang di bawahnya.  Namun demikian pemerintah kota menjadikan puncak pilar jembatan sebagai rumah makan di mana para pengunjung bisa melihat kota dari ketinggian. Harus kuakui bahwa sungai Musi di malam hari memang sangat indah.

Keesokan harinya kami meninggalkan Palembang  ibukota Sumatra Selatan menuju Pangkal  Pinang ibukota Bangka Belitung. Provinsi Babel, begitu orang menyebutnya, merupakan provinsi baru yang  melepaskan diri dari Sumatra Selatan.  Dari udara terlihat bahwa  bentang alam pulau Bangka  rusak berat oleh pertambangan timah tanpa ada upaya serius untuk memperbaikinya kembali.  K.erusakan makin paraha setelah PT Timah menutup usahanya. Pertambangan swasta mrajalela tanpa kendali. Lingkungan hidup pun menjadi korban.

Di pangkalpinang kami sempat berdiskusi dengan Sekda Provinsi Babel di pusat pemerintahan yang baru dibangun di ibukota. Setelah itu kami masih sempat melihat pantai, mengunjungi industri kerajinan timah milik pemerintah, melihat industri rumahan tenun Bangka yang mulai menghilang, mendatangi pasar tradisional yang menjual rempah-rempah seperti lada putih dan teripang. Humas pemerintah provinsi tidak lupa mengajak jalan-jalan mengunjungi pemakaman Cina yang menjadi obyek wisata di Pangkalpinang. Dia seolah ingin menunjukkan bahwa  antara pribumi dan warga keturunan di Babel telah hidup beranakpinak melintasi pelbagai generasi dengan damai dan melahirkan budaya yang khas di sana, termasuk dalam hubungannya dengan perbedaan keyakinan masing-masing.  Menarik sekali.


Sabtu, 11 Agustus 2012

BUKIT TINGGI DI MALAM HARI


Bandara Kertajati

TATKALA bertugas di Panitia Anggaran ada satu isu politik besar yang menonjol untuk dibahas yaitu mengenai realisasi pembangunan bandara Kertajati di Majalengka.  Majalengka dipilih sebagai lokasi bandara mengalahkan lokasi alternative lainnya : Ciparay di Kabupaten Bandung dan sebuah lokasi lain di Kabupaten  Subang.  Kendati dalam rencana tata ruang regional Jawa Barat ketika itu Majalengka belum direncanakan sebagai tempat bagi sebuah bandara internasional sebagai pintu gerbang Jawa Barat tapi di kalangan eksekutif dan legislative bandara di Majalengka telah menjadi semacam kesepakatan untuk di bangun ditandai dengan adanya anggaran untuk studi kelayakan dlsb. 

Sebagai anggota DPRD 2004-9 dari wilayah Cirebon, aku bersama beberapa anggota lainnya mendapat tugas melihat pelbagai obyek pembangunan di sana termasuk  bandara Kertajati.  Ketika itu di bulan puasa menjelang maghrib kami masih berputar-putar di perkampungan  di tempat di mana bandara tersebut akan dibangun. Sebenarnya bukan hanya sebuah bandara tapi tepatnya sebuah aero city, karena meliputi suatu kawasan bandara serta pelbagai fasilitas penunjangnya yang mencakup wilayah ribuah hektar.  Malamnya kami terus ke Cirebon dan bermalam di sana.
Masalah yang menjadi topic berkaitan dengan pembangunan bandara tersebut adalah mengenai bagaimana mencara dana untuk membangun dan seberapa besar anggaran bisa dialokasikan dari APBD  Jawa Barat untuk  membuat disain, persiapan kelembagaan dan penyediaan lahan.  Pembahasan tersebut menuntun kami untuk melakukan studi ke Padang, karena di sana telah dibangun sebuah bandara baru.  

Padang
Itulah awal mula aku berkunjung ke Padang.  Kami tiba senja hari setelah beberapa saat penerbangan dari Jakarta.  Setelah  check ini di sebuah hotel, aku mengajak Maman Abdurahman dari Fraksi PAN untuk ke Bukit Tinggi, karena acara meninjau bandara baru akan dilakukan keesokan harinya.  Dia setuju dan dengan ditemani beberapa teman lainnya sore itu kami bergegas memasuki bus menuju Bukit Tinggi. 

Perjalanan menuju Bukit Tinggi begitu mempesona. Keluar dari Padang kami melewati jalan-jalan yang berkelok-kelok di antara bebukitan, hutan, sungai dan ngarai. Kami pun melewati beberapa kota seperti Padang Panjang dan kota kecilan lainya. Menjelang maghrib kami tiba di Pandai Sikek. Berhenti sebentar di sana untuk shalat maghrib di sebuah rumah yang dijadikan industri rumahan dan gerai tenun khas Sumatra Barat.  Berbelanja seperlunya kemudian perjalanan pun dilanjutkan.

Jam Gadang
Sekitar isya kami tiba di kota Bukit Tinggi. Kami melewati rumah Bung Hatta yang masih terpelihara dengan baik kemudian ke istana Bukit Tinggi, sebuah tempat bersejarah dalam masa revolusi dan berkaitan dengan perjuangan Bung Karno dan Bung Hatta di sana. Akhirnya kami tiba di objek yang menjadi land mark kota Bukit Tinggi yaitu Jam Gadang. Kami segera turun kemudian memperhatikan dengan seksama dan penuh takjub pada menara tertinggi di kota itu dengan jam besar (gadang) di puncaknya. Tidak lupa kami berkeliling lokasi itu di tengah udara dingin yang menusuk malam itu. Maklum Bukit Tinggi terletak di dataran  tinggi seperti Lembang. 

 Bukit Tinggi terkenal sejak zaman penjajahan sebagai pusat intelektual di Sumatra Barat ditandai dengan banyaknya sekolah-sekolah yang bagus kualitasnya bahkan hingga saat ini. Banyak pula tokoh lahir atau dibesarkan di sana seperti Bung Hatta. Puas rasanya bisa mengunjungi kota ini meski hanya beberapa menit saja, karena kami harus kembali ke Padang malam itu juga. Dalam perjalanan pulang kami singgah di sebuah pasar tradisional yang menjadi pusat kuliner khas Bukit Tinggi.  Tidak lupa kami mampir ke sebuah pusat oleh-oleh untuk membeli satu dua bungkus keripik singkong balado yang pedas.



Jumat, 01 Juni 2012

Jabatan =


Jabatan adalah amanat
Gedung Sate Dilihat dari Ruang Kerjaku

Selama  di Komisi B (2004-2005), aku punya banyak jabatan, karena aku juga ditugasi di Panitia Anggaran untuk kurang lebih satu tahun, kemudian di Panitia Legislasi. Di Panitia Anggaran aku hanya sebagai anggota sedangkan di Panitia Legislasi menjadi Sekretaris.  Baik Komisi B, Panitia Anggaran  maupun Panitia Legislasi dinamakan sebagai Alat Kelengkapan DPRD.
Komisi B berfokus pada bidang perekonomian yang meliputi : perdagangan dan perindustrian, wilayah kelautan daerah, konservasi daerah, ketahanan pangan, pertanian tanaman pangan, peternakan, perikanan perkebunan, kehutanan, logistic, koperasi dan pengusaha kecil serta pariwisata.

Panitia Anggaran (Pangar) mempunyai tugas mengusulkan dan memberikan pokok-pokok pikiran DPRD kepada Gubernur dalam mempersiapkan RAPBD selambat-lambatnya lima bulan sebelum ditetapkannya APBD; membahas Pra APBD yang diusulkan Gubernursebelum disampaikannya Nota Keuangan dalam Rapat Paripurna; memberikan saran, koreksi dan sinkronisasi terhadap Pra APBDP dan Perhitungan APBD yang disampaikan Gubernur; serta menyusun anggaran  belanja DPRD dan anggaran belanja Sekretariat DPRD.

 Adapun Panitia Legislasi  (Panleg) mempunyai tugas mengusulkan hak inisiatif DPRD dalam membuat Rancangan Peraturan Daerah; meneliti dan mengevaluasi Perda yang sedang berlaku untuk dikaji efektivitas dan kesesuaiannya dengan Perundang-undangan yang berlaku; meneliti dan menguji kelayakan Ranperda yang diajukan oleh Pemda sebelum memasuki pembahasan Panitia Khusus; dan menyampaikan rekomendasi hasil pelaksanaan tugas kepada Pimpinan DPRD.
Di samping tugas-tugas di Komisi B, Pangar dan Panleg akupun sewaktu-waktu ditugaskan Fraksi untuk bekerja di dalam Panitia Khusus. Panitia Khusus merupakan alat kelengkapan DPRD yang bersifat tidak tetap yang dibentuk oleh Pimpinan DPRD atas usulan  anggota DPRD dan pertimbangan Panitia Musyawarah dengan persetujuan Rapat Paripurna. Pansus dibentuk untuk membahas masalah , program maupun kegiatan tertentu. Setiap pembahasan Ranperda biasanya memerlukan adanya Pansus.

Tugasku di Panitia Anggaran tidak berlangsung lama karena kemudian aku dipindahkan ke Panitia Musyawarah (Panmus) bersama-sama  Rahadi Zakaria. Ada kemungkinan latar belakang dipindahkannya kami berdua karena Rahadi menolak adanya anggaran untuk pengadaan mobil bagi pimpinan DPRD.  Wallahu alam.

Panitia Musyawarah merupakan alat kelengkapan DPRD yang memutuskan kegiatan DPRD secara menyeluruh termasuk penjadwalannya. Boleh dikatakan tidak satupun agenda DPRD yang tidak melalui pembahasan di Panmus. Di sinilah semua pimpinan DPRD, pimpinan Komisi, dan pimpinan Fraksi berkumpul. Panmus menjadi semacam entry point bagi eksekutif (Gubernur) untuk masuk ke DPRD.

Bukan hanya di situ, daftar jabatanku di DPRD masih ditambah lagi dengan jabatan internal Fraksi PDI Perjuangan sebagai Sekretaris Fraksi. Adapun Ketua Fraksinya adalah Ayi Vivananda.  Sebagai Sekretaris aku antara lain harus menyiapkan rancangan pandangan politik fraksi terhadap Rancangan Peraturan Daerah maupun RAPBD.  Semua pandangan politik Fraksi itu menjadi milik public karena disuarakan dalam Rapat Paripurna yang pada umumnya bersifat terbuka. Pandangan politik itu dirangkum dalam media internal DPRD bahkan kadangkala dikutip oleh media massa.  Setiap setahun sekali pandangan politik itu dibukukan dan dilaporkan ke Partai dalam Rapat Kerja Daerah yang diselenggarakan setahun sekali di depan DPP, DPD dan DPC se Provinsi Jawa Barat.
Meskipun jabatanku banyak bukan berarti aku memperoleh banyak fasilitas.  Fasilitas yang kudapatkan adalah sebuah rumah jabatan di Kompleks DPRD Provinsi Jawa Barat bernomor 25 di Jalan Kolonel Masturi Cimahi. Rumah itu dilengkapi dengan perabot rumah tangga yang lengkap. Fasilitas yang sama diberikan untuk keseratus anggota DPRD yang lain meskipun mereka mungkin tidak memiliki banyak jabatan sepertiku.

Aku bersyukur diberi amanat itu, sehingga sebagian dari umurku telah kudedikasikan bagi nusa dan bangsa sebagai ibadahku pada Allah SWT, dan yang lebih aku syukuri adalah bahwa aku telah berusaha menjalankan amanat itu sebaik-baiknya, setidak-tidaknya menurut penilaianku sendiri.

Minggu, 13 Mei 2012

Ujung Barat Indonesia




Sebelum beranjak tidur malam aku keluar dari kamar menuju tepi pantai Gapang. Dalam kegelapan aku dapat menemukan restoran dan seingatku aku memesan nasi goreng dan segelas minuman panas untuk makan malamku. Restoran sepi. Hanya dua atau tiga meja terisi tamu.  Di antaranya turis manca. Tiga atau empat perempuan bule dengan didampingi seorang pemandu. Sedangkan aku makan sendirian sambil menyukuri kenyataan bahwa aku akhirnya sampai di Pantai Gapang, kota Sabang, Pulau Weh, NAD.  Maka akupun menikmati makan malamku  ditemani debur ombak yang mengempas dermaga di ujung restoran. Dikejauhan ada satu dua kapal atau perahu dengan  lampu menerangi kegelapan lautan Indonesia. Seusai menghabiskan santap malamku akupun tergerak turun ke dermaga. Sinar lampu membantuku melihat air laut yang bening dengan riak-riak gelombang yang tenang . ikan-ikan memenuhi kaki dermaga.  Sebuah pemandangan yang mengesankan.
Saat bangun pagi keesokan harinya, aku bergegas ke pantai yang sepi.  Sepotong surga di depanku. Aku merasa seperti Adam yang diturunkan ke dunia.  Bersijingkat di atas pasir putih aku menuju pantai penuh bebatuan yang dijilati deburan ombak.  Dengan leluasa aku menceburkan diri dan menenggelamkan seluruh tubuhku ke kedalaman laut yang bening dan hangat. Matahari mulai bersinar ketika aku mulai berenang kemudian menyandarkan diri di antara bebatuan berasalas pasir putih yang lembut. Sungguh aku ingin waktu berhenti saat itu.
Waktuku tidak banyak.  Seorang pemandu sudah menungguku di atas sepeda motornya. Akupun naik ke atas sadel dan sejurus kemudian motorpun melaju meninggalkan penginapan.  Tujuan pertama adalah sebuah teluk yang menjadi tempat berkumpulnya turis-turis Eropa. Tempat itu memang sungguh indah dan tersembunyi.  Ada banyak penginapan dan warung. Sepagi itu para turis sudah mulai memenuhi tepi pantai. Ada yang mencari sarapan pagi atau sekedar duduk menikmati matahari. Beberapa dari mereka kawin dengan penduduk setempat dan tinggal menetap di sana. Seorang wanita Perancis mencocok tanah di halaman rumahnya dan menanaminya dengan bunga  marrygold, ditemani anaknya yang masih balita.
Dari teluk itu kami menuju ke ujung barat pulau Weh yang berupa hutan lindung. Di tengah jalan kami berkunjung ke rumah penduduk  di rumah panggung mereka yang terbuat dari kayu. Kami mengobrol sebentar sambil minum teh. Tuan rumah menceritakan situasi sebelum dan setelah peradamaian di Aceh.  Mereka hidup lebih tenang sekarang dan dengan segala keterbatasan mereka memulai hidup yang baru.
Setelah kampung terakhir di Sabang, kamipun memasuki hutan dengan jalan berkelok-kelok dan menanjak. Sesekali jalan terhalang oleh pohon-pohon yang tumbang. Untungnya motor kami bisa melaluinya dan akhirnya tiba di gerbang yang dijaga petugas kemananan. Pemanduku berbincang sebentar dengan mereka dan kamipun melanjutkan perjalanan makin masuk ke dalam hutan. Sekitar pukul 10.00 kami pun tiba di tugu  Kilometer nol  kota Sabang yang sekaligus sebagai penanda titik paling barat Indonesia. Akupun teringat lagu “dari Sabang sampai Merauke”.  Alhamdulillah. 


Aku berkeliling tugu peringatan nol derajat, mengambil beberapa foto dengan camera telpon selularku, melihat lautan Indonesia dari ketinggian bukit. Inilah ujung terbarat negriku. Keharuan menyergapku.  Matakupun berkaca-kaca. Setelah itu yang ada jalan menurun dan berliku kembali ke Pantai Gapang.  
Menjelang  pukul 12.00 aku check out dari penginapan dan dengan dengan menggunakan motor yang sama aku menuju kota Sabang. Ini adalah sebuah perjalanan yang tak akan terlupakan. Sepanjang perjalanan laut yang mengelilingi pulau Weh terlihat dari ketinggian dan nampai begitu indah.  Ada pulau-pulau kecil tak jauh dari tepi pantai menyembul di antara laut biru dengan ombak putih. Sebuah obyek foto yang harus diabadikan. 

Kamipun tiba di kota Sabang pada tengah hari.  Tujuanku adalah sebuah kedai makan. Kamipun segera menjadi bagian dari pengunjung yang makan siang di kedai itu. Ramai sekali suasananya mirip suasana di warteg. Tak lama kemudian semua kedai dan toko-toko di Sabang akan tutup. Penduduk kota akan beristirahat. Mereka baru akan memulai aktivitasnya kembali setelah waktu ashar.  Aku menyempatkan diri singgah ke Kantor Dinas Pariwisata Kota Sabang untuk mencatatkan diri sebagai pengunjung tugu  KM  0 (nol yang kesekian dan pejabat berwenang memberiku sebuah piagam kenang-kenangan.
Setelah berkeliling kota akupun berangkat ke pelabuhan.  Menjelang ashar aku memasuki ferry yang kemudian mengantarkanku kembali ke Banda Aceh untuk kemudian terbang ke Jakarta dengan Garuda.  Selamat tinggal Sabang, selamat tinggal Aceh…  damailah dalam pangkuan Ibu Pertiwi n: Indonesia. “ Dari Sabang sampai Merauke, berjajar pulau-pulau, sambung menyambung menjadi satu, itulah Indonesia…”







Senin, 07 Mei 2012

Menyebrang ke Sabang


Meski belum pukul 13.00 aku check out dari hotel Cakradonya setelah makan siang. Pemanduku sudah menunggu di lobby dan sejurus kemudian kamipun meninggalkan halaman hotel menuju pelabuhan laut Malahayati (?).  sebelum sampai di pelabuhan kami singgah di sebuah pemakaman korban tsunami  yang lebih menyerupai taman berwujud sebuah bukit kecil  dengan lapisan hamparan rumput hijau segar.  Ratusan jenazah dimakamkan di situ. Berdiri di depannya aku merasakan kepedihan yang amat sangat dan bulu kuduk pun serta merta meremang. Aku terhenyak namun kemudian berdoa, juga buat sahabatku Aliudin yang tewas bersama seluruh—kecuali seorang putrinya yang menjadi santriwati di
sebuah ponpes di subang—keluarganya . 

Menjelang petang di tanggal 24 Maret 2006 itu aku tiba di dermaga pelabuhan darurat yang menghubungkan Banda Aceh di Pulau Sumatra dan Sabang di Pulau Weh.  Setelah membeli sebuah tiket aku menunggu ferry yang akan menyebrangkanku bersama penumpang-penumpang lain.  Satu atau dua jam kemudian ferry tiba dan para penumpang bergegas memasukinya.  Masih diperlukan beberapa waktu lagi sampai ferry benar-benar penuh dan kemudian lepas sauh meninggalkan dermaga untuk bertolak ke Sabang. 

Ketika ferry bertolak meninggalkan Banda Aceh, aku agak bimbang apakah aku lega atau cemas ketika itu. Tak sempat berpikir panjang laut biru yang bergelombang tinggi pun menyergap.  Kota Banca Aceh di ujung  paling utara Pulau Suvarnadwipa itupun pelan-pelang hilang dari pandangan. Ferry melalui satu dua pulau berupa bukit yang menghijau. Di dalam ferry beberapa prajurit TNI –nampaknya dari AD—hilir  mudik sambil membawa senapan. Meskipun perjanjian perdamaian antara Pemerintah RI dengan GAM telah ditandadatangani kedua belah pihak tapi nampaknya keamanan belum sepenuhnya pulih.

Sambil merasakan hati atau pikiran yang berkecamuk, aku mendengar suara ribute-ribut orang bertengkar di dalam kapal, entah antar awak kapal atau antara awak kapal dengan penumpang. Tentu saja insiden itu menambah perasaanku menjadi galau. Tapi aku harus ke Sabang karena tidak mungkin aku turun di tengah jalan. Nasib menuntunku menuju Indonesia nol derajat.

Senja menyapa ketika fery tiba di pelabuhan di Pulau Weh.  Dengan setengah sok tahu aku keluar dari pelabuhan dan  menyelinap di antara penumpang angkutan kota yang menuju Sabang sambil tak dapat memastikan tujuanku di sana.  Kurang lebih setengah jam perjalanan mobil pun tiba di kota Sabang. Akupun turun begitu saja  ketika ada orang lain turun. Di trotoar aku termangu sejenak  kemudian berjalan ke arah kerumunan orang-orang menanyakan tempat penginapan. Seorang pengemudi becak bermotor mengatakan penginapan ada di Pantai Gabang sekitar sepuluh kilometer dari kota. Tanpa pikir panjang Akupun minta dia mengantarkanku kesana. 

Perjalanan ke Pantai Gapang membuatku terpana. Keindahan kota Sabang menyergapku tanpa ampun. Kontur kota yang berbukit memudahkan mata menatap keindahan teluk dan pantai di kejauhan dengan kapal-kapal , ada yang bersauh di samping ada yang hilir mudik.  Lautnya begitu biru dan tenang. Hutan atau gerombolan pepohonan yang rimbun dan hijau memberikan pemandangan yang permai. Kotapun Nampak santai . semua itu menebus kegalauan dalam penyebaranganku.

Pengemudi becak bermotor yang kutumpangi ternyata seorang mantan marinir yang masih bertugas sebagai informan bagi negara. Ia menceritakan Aceh seperti apa adanya, tentang GAM dll. Menurutnya pulau Sabang menjadi tempat pelarian aktivis GAM yang dikejar di Banda Aceh. Akupun dikenalkan pada satu dua orang mantan kombatan GAM yang ditemuinya sepanjang perjalanan.  Ada satu dua alat-alat berat yang rusak dan terbakar yang menurutnya terjadi karena persaingan mencari rejeki di antara para mantan anggota GAM. Rasa ngeriku sepanjang perjalanan berbanding lurus dengan keindahan yang kutemui sepanjang perjalanan . 

Menjelang Isya kami sampai di Pantai Gapang. Tempat menginapku mala mini adalah Leguna Resort sebuah resor di tengah hutan  di tepi pantai. Bangunan yang akan kutempati untuk menginap malam ini  adalah  cottage berupa rumah panggung terbuat dari kayu.  Ada beberapa cottage yang nampaknya hanya satu dua saja yang terisi. 

Malam itu menjadi malam yang panjang bagiku karena aku merasakan suasana mencekam. Sesekali lenguhan sapi di kebun mengusik kesunyian malam. Sekitar jam 21.00, dengan menggunakan sepeda motor, seorang petugas dari kepolisian sektor datang ke front office.  terlibat pembicaraan pendek dengan  resepsionis lalu kemudian pergi.  Aku mematikan lampu kamar, berdoa dan berusaha tidur di Room 18 bertarif Rp 175.000,00 per malam.