Selasa, 16 April 2013

Menikmati Secangkir Kopi Turki di Pasar El Khalili



Pedagang Cinderamata di Pasar El Khalili 

Tanggal 10 November 2006 aku masih berada di Kairo. Ketika itu matahari sedang terik. Dengan beberapa teman kami berkunjung ke sebuah pasar tradisional yang termasyhur di kota itu. Namanya pasar El Khalili atau dalam bahasa setempat disebut Khan El Khalili. Anda yang menonton film Ketika Cinta Bertasbih bisa melihat di film itu bagaimana situasi keramaian pasar El Khalili.  Acara kami yang pertama adalah makan siang di sebuah kedai. Setelah itu dilanjutkan dengan menjelajahi lorong-lorong pasar yang suasananya seperti di Pasar Kota Kembang Bandung. Bedanya jika di Pasar Kota Kembang Bandung hanya menjual tekstil di sana segala macam barang dijual terutama souvernir.

Setelah berkeliling menyaksikan keriuhan  jual beli di pasar kami sampai di sebuah tempat di salah satu sudut di lorong pasar itu. Namanya Khan El Khalili Restaurant & Naguib Mahfouz Cafe. Bagian muka restoran itu kecil saja dan tidak menonjol. Bedanya di bagian depan ada dua orang penerima tamu berseragam warna merah seperti prajurit di Keraton Yogyakarta.  Restoran ini adalah tempat terkenal di pasar itu bahkan di Kairo atau Mesir dan menjadi tempat tujuan wisatawan dunia berkunjung. Tidak tanggung-tanggung restoran itu dioperasikan oleh hotel Oberoi. Restoran itu sedemikian terkenal karena di tempat itulah Najib Mahfuz (Naguib Mahfouz) seorang novelis Mesir yang mendapat Hadiah Nobel Sastra di tahun 1988 sering bekunjung semasa hidupnya.  Khan el-Khalili dan Miqdad Alley adalah dua novelnya yang berlatar belakang suasana pasar itu.

Najib Mahfuz (Naguib Mahfouz)
Pengunjung Khan El Khalili Restaurant & Naguib Mahfouz Cafe sangat ramai siang itu, kebanyakan wisatawan manca terutama dari Eropa. Mereka kebanyakan makan siang di bagian dalam restoran itu. Karena kami sudah makan siang di kedai maka kami bertiga (Siswanda, aku dan mas Pemandu) hanya duduk-duduk di cafe untuk minum masing-masing secangkir kecil  Turkish Coffee (kopi Turki).  Kopi Turki itu sangat pekat, begitu pekatnya sehingga aku menganggap seisi cangkir adalah “endek-endek” semua. Rasanya sangat pahit dan begitu kita teguk rasa kopi itu langsung menjalar sampai ke kepala. Apa boleh buat sudah dipesan dan harus dibayar. Secangkir harganya LE 10 (10 pon Mesir).  Sebenarnyabukan kopi itu yang menjadi kenangan berharga, melainkan  Najib Mahfuzlah yang memberi arti.

Tempat di  mana aku minum siang itu adalah tempat di mana novelis Mesir itu biasa duduk mencari inspirasi untuk karya-karyanya. Najib mengamati orang-orang yang hilir mudik dan berjual beli di pasar El Khalili atau merasakan keriuhan pasar sambil minum kopi atau minuman lain kesukaannya.  Meja kursi kafe di sudut Najib Mahfuz itu masih dipertahankan seperti apa adanya, bahkan disediakan pula buku-buku yang ditulis semasa hidupnya. Pengunjung bisa menikamti minuman di situ sambil membaca buku-bukunya yang ditulis dalam bahasa Arab  sambil membayangkan Najib Mahfuz. Kafe itu memang dibuat untuk mengenang Najib. “Khan El Khalili Restaurant & Naguib Mahfouz Cafe, created as tribute to the Nobel Laureate novelist, since their opening, have become a landmark of thispart of Khan, andhave been patronized by writers, artists, inteellectuals and tourist ever since...”.

Najib mahfuz punya menu minuman kesukaan yang oleh pengelola Khan El Khalili Restaurant & Naguib Mahfouz Cafe dipertahankan dengan nama Naguib Mahfouz. Akupun memesan minuman itu, soft drink yang berwarna merah muda seperti sirup cincau di ini, dengan rasa masam karena terbuat dari tamarin atau asam Jawa.  Secangkir besar harganya LE 13 (13 pon Mesir).  Sambil menikmati minuman tersebut aku minta pemanduku membacakan sebuah buku karya Najib.  Maka sempurnalah acara minum-minum siang itu.

Kota Kairo


Tentu saja aku tidak melupakan untuk membeli beberapa souvenir. Apalagi kalau bukan CD dari album penyanyi Mesir kenamaan Ummi Kalthoum. Akupun menyempatkan melihat toko rempah-rempah yang menjadi salah satu daya tarik KhanEl Khalili.  Acara hari itu kemudian kututup dengan mengunjungi Masjid Iman Husein di sebrang pasar untuk melaksanakan shalat Ashar dan sekaligus berziarah. Konon yang dimakamkan di sini hanya kepala Iman Husein saja. Wallahu alam.

Jumat, 29 Maret 2013

Masjid Al Azhar Kairo

Masjid M. Ali



Akhir tahun 2006

Setelah mengunjungi piramida Giza dan menikmati keindahan sungai Nil, aku berkesempatan mengunjungi beberapa masjid-masjid yang indah di Kairo. Salah satu masjid yang kukunjungi tidaklah terlalu indah dan megah tetapi merupakan salah satu masjid yang tertua, yaitu masjid Al Azhar. Masjid ini dibangun sekitar tahun 1200an,  pada era Majapahit masih berkuasa di Nusantara.  Aku merasa beruntung dapat mengunjungi masjid ini, apalagi pada saat shalat Jumat tiba. Siang itu aku bersama tiga orang teman diantar seorang pemandu dari Mesir dan pemandu dari Indonesia yang sedang mengambil gelar magister di Universitas Al Azhar Kairo.  Di  luar  masjid suasana yang tidak biasa sudah terasa. Mobil-mobil baracuda dan panser kepolisian Mesir sudah berjajar di sekitar masjid. Polisi berseragam hitam menenteng senapan dalam posisi siap siaga. Memasuki pintu gerbang masjid polisi berpakaian preman berjajar di kiri kanan pintu masuk sambil mengawasi para jamaah yang datang.

Setelah melewati  halaman masjid yang terbuka kamipun duduk di dalam bagian masjid yang beratap.  Tiang-tiang dan kolom-kolom masjid terbuat dari kayu yang berukir seperti bangunan masjid Demak atau masjid Sang Ciptarasa Cirebon.  Cahaya di dalamnya agak remang mungkin dipengaruhi oleh warna masjid yang kebanyakan berwarna hitam.  Satu-satu jamaah memenuhi masjid. Pakaian mereka kebanyakan seperti pakaian orang-orang di Indonesia, bercelana panjang dan berkemeja atau polo shirt bahkan t-shirt.  Postur tubuh mereka tidak terlalu tinggi, kebanyakan berkulit putih dengan wajah Arab, yang nampak dominan adalah hidung mereka yang mancung dan rambut mereka yang keriting halus.
Setelah adzan berkumandang, seorang imam  dengan jubah dan sorban menaiki mimbar yang bertangga.  Dia berdiri di tengah tangga dan berkhutbah dalam bahasa Arab.  Beberapa kamera dari pelbagai stasiun televisi nampak di antara deretan jamaah.  Selebihnya tidak ada bedanya dengan shalat jumat yang diselenggarakan di Indonesia.

Saat imam dan jamaah mengucapkan salam, yang artinya shalat telah berakhir , saat itulah terjadi keramaian di dalam masjid. Beberapa orang membuka spanduk dan berteriak mengucapkan yel-yel.  Rupanya ada demonstrasi. Para awak televisi bergegas mengabadikan momen tersebut. Seorang demonstran digendong pada bahu demonstran lain sehingga nampak menonjol kemudian mengepal-ngepalkan tangannya sambil berteriak dalam bahasa Arab : demi jiwa,  demi darah.  Rupanya mereka berdemonstrasi mendukung tentara Hezbollah Lebanon yang dihujani rudal Israel bahkan beberapa diantaranya tewas.

Dari dalam ruangan demonstran bergerak ke halaman masjid yang terbuka dan kemudian berakhir di sana. Rupanya pihak kepolisian mesir hanya memberi toleransi pada mereka  berdemonstransi di dalam masjid. Pemanduku mengatakan bahwa begitu mereka bergerak untuk berdemonstrasi ke luar halaman masjid maka pihak kepolisian segera menangkap mereka.  Dengan berakhirnya demonstrasi, para polisi yang bertugas segera berbaris dan  memasuki kendaraan kemudian meninggalkan masjid.

Siang hari di Kairo setelah shalat Jumat memang terik tetapi tidaklah terasa terlalu panas karena suhu di Mesir ketika itu lumayan dingin. Kami kemudian mencari tempat makan siang yang tidak terlalu jauh dari situ.  Seingat ku kami kemudian makan di salah satu kedai di pasar El Khalili

Berlayar di Sungai Nil



Sungai Nil dapat dikatakan sebagai kehidupan dan ikon Mesir. Semua kehidupan berpusat di sepanjang sungai ini.  Mengalir dari atas Mesir menuju lower Egypt  dan berakhir di laut Mediterania yang mempertemukan Asia, Eropa dan Afrika.  Sesungguhnya sungai itu berasal dari  Danau Vicotria di jantung Afrika, melintasi pelbagai negara  seperti Uganda dan Sudan sebelum tiba di Mesir.  Bahkan anak sungainya berasal dari Kongo, Tanzania, Kenya dan Ethiopia. Aliran sungai itu menjadi  berkah dan keindahan tiada tara bagi negara Mesir yang berupa padang pasir luas.  Irigasi dibuat sedemikian baiknya antara lain dengan membuat bendungan Aswan  hingga tiada setetes pun air dari sungai itu melainkan menjadi sumber kehidupan bagi manusia, flora, fauna  dan alam semesta. Saat sungai itu tiba di Kairo, ia menjadi pemandangan yang menakjubkan dan membuatku terharu untuk kemudian ingat pada Nya dan bersyukur diberi kesempatan melihatnya. 

Siang itu kami sempat makan siang di sebuah restoran terapung di sungai Nil. Restoran terapung itu berupa sebuah kapal yang berlayar menyusuri kota Kairo. Bersantap siang di sebuah kapal yang berlayar di siang yang terik tentu menjadi kenangan yang tidak terlupakan.  Apalagi sungai Nil sangat bersih, tidak dipenuhi sampah seperti sungai-sungai kita. Tampak bersama  kami banyak wisatawan dari negara lain terutama dari Eropa. Orang China pun ada. Nampaknya mereka adalah delegasi perdagangan yang sedang berpromosi.  Mereka makan sangat sederhana dan hemat tapi promosinya  luar biasa. Saat makan siang selesai dan kapal merapat ke dermaga, kulihat di  front desk banyak brosur dan majalah mereka. ketika  kubaca, majalah mereka tidak saja berbahasa Inggris tetapi juga berbahasa Arab. Indonesia yang merupakan negara muslim terbesar setahuku tidak membuat media promosi perdagangan dalam bahasa Arab. 

Di malam  hari bulan November 2006, Sungai Nil tetap memancarkan pesona.Kali ini aku mencoba mengikuti acara nightlife yang diselenggarakan The Pharaohs Cruising Restaurants. Prinsipnya sama dengan restoran terapung di siang hari hanya saja kapalnya lebih besar  lebih mewah  dan terdiri dua lantai dengan eksterior dan interior ala kerajaan di masa Firaun. Sejak memasuki pelataran parkir kemudian menuju dermaga situasinya sudah terbangun sebagai kehidupan ke rajaan dengan pengawal-pengawal berbusana khas Mesir.  Saat pengunjung telah memenuhi kursi yang tersedia, kapal pun melepas sauh dan pelahan-lahan meninggalkan dermaga untuk melayari sungai Nil. Kota Kairo nampak gemerlapan di malam hari, sementara di sungai kapal-kapal dan perahu kecil berlalu lalang dalam kegelapan. Cahaya warna-warni muncul dari kapal-kapal itu menambah indah pemandangan.

Makan malampun dimulai ala prasmanan. Ada minuman, kudapan berupa kue-kue, buah-buahan dan menu utama berupa nasi dan roti dengan lauk pauk khas Mesir berupa masakan dari daging dan ikan dengan bumbu rempah yang kuat. Makanan dengan menu Eropa dan sea food juga tersedia. Saat pengunjung bersantap malam di meja mereka masing-masing, hiburan pun dimulai. Hiburan utama adalah tari perut (belly dance). Seorang penari berwajah Arab berambut pirang pun muncul dengan  iringan musik timur tengah. Busana yang dikenakan sangat khas penari perut : rok dan penutup dada warna  hijau metalik dengan hiasan untaian manik-manik keemasan yang gemerlapan.  Keindahan tarian itu menyatu dengan keindahan sang penari sehingga memukau pengunjung dari awal hingga akhir. Saat semua imajinasi dan hasrat memuncak, sebuah pertunjukan yang memberi keseimbangan dihadirkan. Seorang laki-laki berpakaian darwis dengan menggendong boneka bayi masuk ke tengah-tengah ruangan menarikan tarian sufi berupa gerakan memutar yang tiada habis-habisnya.  Gerakan memutar dan kibasan busana yang digunakan dalam iringan musik sufi mengingatkanku pada Jalalludin Rumi. Bukan hanya itu, tarian itu tiba-tiba saja mengingatkanku dan mungkin juga pengunjung yang lain pada kematian.  

Andai kita tidak ingin berpesiar dengan kapal melayari sungai Nil, kita dapat datang ke sebuah restoran di tepi sungai di malam hari agar kita bisa memandang kehidupan malam di sungai dan gemerlap lampu-lampu dari gedung jangkung di sebrang sungai. Ini pun tidak kalah asyiknya. Sambil bercengkrama dengan teman kita bisa menikmati hasis, yaitu rokok ala Arab dengan menggunakan alat pengisap seperti saxophone. Ketika kita mengisap ujungnya maka air di dalam alat itu memunculkan gelombang udara, sementara kita memperoleh kesegaran dari asap tembakau yang terisap.  Rasa hasis bisa bermacam-macam tergantung selera, misalnya rasa mint atau menthol.

Rabu, 06 Februari 2013

Mengunjungi Mesir


                                                                         
                                                                           Piramida Di Giza

Beberapa hari ini media televisi menayangkan berita Presiden Republik Indonesia SBY sedang berada di Saudi Arabia untuk melaksanakan umrah. Meskipun demikian yang nampak di layar kaca adalah pidato SBY meminta KPK untuk mempercepat proses pemeriksaan Anas Urbaningrum dalam kasus korupsi Hambalang.  Hari ini running text memunculkan berita SBY sudah berada di Mesir dan mengunjungi asrama mahasiswa Indonesia. maka ingatanku segera saja terbang ke Kairo.  

Dubai-Kairo
Ketika berada di Dubai awal November 2006 aku ditugasi teman-teman untuk mengunjungi Kairo untuk melihat realisasi penggunaan bantuan dari APBD Jawa Barat yang diberikan pada para mahasiswa asal Provinsi Jawa Barat yang sedang melanjutkan studi di Universitas Al Azhar.  Kebetulan pak Agustiar, Kadis Indag mengajakku ke sana, maka berangkatlah aku  kesana bersama beberapa orang: Kohar kepala Biro di Gedung Sate, Bachtiar reporter TVRI, nyonya Kohar, nyonya Agustiar, Siswanda  dan aku.  Agustiar menyusul setelah berkunjung ke Kedubes RI di Qatar.

Dari bandara internasional Dubai pesawat Emirates menerbangkan kami melintasi jazirah Arabia, menyebrangi Laut Merah kemudian melintas di  benua Afrika, di negri Mesir, untuk kemudian mendarat di bandara Kairo. Hari telah malam ketika kami tiba. Dari sama kami kami melewati jalan-jalan kota Kairo untuk kemudian tiba di hotel Zoser yang berada di provinsi Giza. Pemandangan yang tidak biasa adalah banyak aparat keamanan bersenjata lengkap bahkan sampai di lobby hotel.  Suhu sangat dingin malam itu.

Gedung KBRI 

Kedubes RI
Acara pertama di Mesir adalah mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia di jantung kota Kairo. Gedung Kedubes sangat megah seperti gedung Bank Indonesia yang ada  di Bandung.  Aku tak bisa menyembunyikan rasa banggaku berada di sana. Ketika itu sedang berlangsung Indonesia Day  yang diisi pameran produk-produk Indonesia dan pertunjukan kesenian oleh masyarakat Indonesia yang ada di sana. Pak Dubes dan para atase menyambut kami dengan senang.  Bagiku rasanya seperti mimpi berada di sana di antara saudara-saudaraku sebangsa dan setanah air.
Hubungan diplomatik IndonesiaMesir  dimulai pada tanggal 10 Juni 1947 setelah ditandatangani perjanjian persahabatan antara Menteri Luar Negeri Indonesia, H. Agus Salim dan Perdana Menteri Mesir, Mr. Fahmy El Nouikrasyi. Dua bulan kemudian berdiri Kantor Perwakilan Indonesia di Mesir dengan HM Rasyidi sebagai kuasa usaha. Pada tanggal 25 Februari 1950 kantor itu ditingkatkan menjadi Kedutaan Besar Republik Indonesia dengan HM Rasyidi sebagai duta besar pertama. Sampai sekarang Pemerintah Indonesia telah menempatkan 18 duta besar luar biasa dan berkuasa penuh di Mesir.

Dari kedubes kami langsung mengunjugi para mahasiswa Indonesia asal Jawa Barat di dekat kampus Al Azhar. Mereka menunjukkan asrama yang sedang direnovasi  antara lain untuk dijadikan balai pertemuan mahasiswa.

Piramida Giza
Keesokan paginya kami berkunjung ke piramida Giza, disebut demikian karena piramida tersebut berada di provinsi Giza.   Aku setengah tidak percaya berada di antara tiga piramida yang biasanya hanya kulihat di media cetak atau televisi.  Kami berlima terkagum-kagum melihat bangunan yang terbuat dari tumpukan batu-batu besar berusia ribuan tahun tersebut.
Piramida Agung Giza adalah piramida tertua dan terbesar dari tiga piramida yang ada di Nekropolis Giza dan merupakan satu-satunya bangunan yang masih menjadi bagian dari Tujuh Keajaiban Dunia. Dipercaya bahwa piramida ini dibangun sebagai makam untuk firaun dinasti keempat Mesir, Khufu (Χεωψ, Cheops) dan dibangun selama lebih dari 20 tahun dan diperkirakan berlangsung pada sekitar tahun 2560 SM. . Piramida ini kadang-kadang disebut sebagai Piramida Khufu

Tidak lupa kamipun mengunjungi patung singa berkepala manusia atau sphynx.  Hidung patung itu tidak utuh lagi, konon dipatahkan oleh tebasan pedang para prajurit Islam yang tiba di Mesir di masa Khalifah Rasyidin.

Minggu, 09 Desember 2012

Safari Gurun


Gurun Pasir di Dubai Tempat Bersafari


Holidays in Dubai don’t end with the sun going down and there ia an energetic and cosmopolitant feel about the many different nightspots that Dubai has to offer (Discover Dubai, November 2006).

Selama pameran di  Index 2006, banyak waktu di sela-sela tugas yang bisa dimanfaatkan untuk mengenali sisi-sisi unik di sekitar Dubai baik sendirian maupun bersama kawan-kawan.  Kesempatan pertama menemani ibu gubernur dan ibu-ibu pejabat yang lain shopping  tentu saja.  Tempat yang masih kuingat adalah gold shouk  atau toko emas.  Ini adalah sebuah pusat perdagangan emas paling besar di Dubai mungkin juga di dunia. Segala macam perhiasan terutama dari emas dari pelbagai negara  dengan anekaragam rancangan yang terindah ada di situ.  Aku dan Is sempat menyempatkan melihat satu dua toko. Tidak seperti toko  emas  di sekitar alun-alun Bandung, toko di sana ada beberapa lantai dengan bangunan serta interior megah serta nyaman. Manajer dan pramuniaganya tampan dan cantik, fashionable, profesional  dan ramah tamah. Pelayanannya tingkat tinggi, mungkin juga karena tahu yang berbelanja adalah very important person.  Kebanyakan manajer toko berasal dari India yang berbicara bahasa Inggris dengan aksen khas. Perhiasan yang dijual banyak dari negara-negara Eropa terutama Italia. Orang-orang India dikenal sebagai pekerja kelas menengah di Dubai. Setelah beberapa waktu bekerja dengan penghasilan yang lebih dari cukup, mereka kembali ke negaranya dan membuka bisnis secara mandiri. Kusebut itu Strategi India.

Kesempatan kedua adalah mengunjungi sebuah pub . Mulanya kami mengobrol di lobby hotel ketika malam mulai larut tapi kantuk belum datang, kemudian bersama bupati Cirebon dan pejabat Bank Jabar cabang Cirebon kami menaiki lift beberapa lantai ingin melihat nightlife di Dubai. Di lantai sekian hotel tempat kami menginap ada pub Rusia yang bernama Troyka. Ke situlah kami pergi. Sekitar tengah malam ketika itu. Dengan membayar beberapa dirham kami pun memperoleh meja.  Kami makan minum dengan menu Rusia dan Eropa. Alkohol juga tersedia tapi aku minum soft drink saja. Meskipun pub Rusia pengunjung bisa dari Rusia, Eropa atau negara lain seperti kami. Orang Arab banyak juga karena mudah dikenali  dari fisik dan pakaian mereka. Pengunjung larut dalam kegembiraan mendengarkan musik dan tari Rusia. Para petugas, pelayan, pemusik, penyanyi dan penari menggunakan pakaian khas Rusia.  Kami menikmati jamuan menikmati pertunjukan dan “menonton orang-orang”  sampai menjelang pub ditutup.

Kesempatan ketiga adalah mengikuti Desert Safari. Saat para eksekutif bermain golf aku dan  Is mencari acara sendiri, menikmati petualangan di gurun di luar kota Dubai.  Ada banyak perusahaan travel dan turisme yang menyelenggarakan paket Desert Safari. Rata-rata bertarif DHS 160 atau sekitar US $ 50 per orang.   Acara pertama adalah dune bashing, berkendara dilautan  gunungan pasir dengan  mobil sport khusus cruisher 4x4. Kami boleh menjajal mengemudi sendiri di   padang pasir, tapi tentu  saja memerlukan ketrampilan khusus. Menjelang  malam kami tiba di perkampungan Arab untuk dinner buffet (makan malam) ala padang pasir.  Deretan makanan ala Arab tersedia di meja saji yang panjang, penuh dengan  pelbagai jenis masakan dari daging penuh dengan rempah-rempah yang terasa aneh di mulutku. Kemudian sambil bersantai di atas permadani,  kami dipersilakan menikmati shisha (merokok ala Arab dengan mengisapnya melalui pipa panjang) dan menyaksikan belly dancing (tari perut) bersama para pelancong lain yang kebanyakan bule.  sementara bintang-bintang bertaburan di  langit. maka terbayanglah olehku kehidupan suku-suku Badewi  dan  para raja  mereka.  

Sabtu, 27 Oktober 2012

Bertemu Pak Dubes RI Untuk UEA


Kemegahan Dubai



Hari kedua di Dubai. Selasa, 7 November 2006. Pagi-pagi benar kami berangkat bersama menuju lokasi Index Dubai 2006. Sebagai pintu gerbang Timur Tengah ke Eropa dan Afrika, Dubai memiliki banyak event pameran perdagangan tingkat dunia. Index Dubai 2006 diselenggarakan di Dubai International Convention and Exhibition Centre. Pada tahun 2006 Index diikuti oleh 1700 perusahaan dan 53 paviliun negara peserta termasuk Indonesia. pameran difokuskan pada industri interior termasuk di dalamnya furniture, flooring, lighting, textiles, wall covering dan accessories.

Index Dubai 2006 digelar oleh dmg world media, sebuah event organizer papan atas yang sukses menyelenggarakan pelbagai pameran di Bahrain, India dan Dubai. Selain menyelenggarakan pameran dmg world media juga menerbitkan Gulf Interiors, sebuah majalah perdagangan interior regional yang dihormati di Timur Tengah. Dalam sebuah terbitan pameran (show news), Guy Roukaerts, editor Gulf Interior bicara tentang perubahan selera di bidang interior, gaya lokal dan apa yang belum diperhatikan di tingkat lokal. Diapun memberikan nasihat praktis bagi perusahaan interior yang ingin memasuki pasar Timur Tengah: “I’d like to say three things : research, research and research.”

Pameran dibuka oleh Sheikh Muhammad dan dihadiri oleh para duta besar dan perwakilan negara peserta. kami mengunjungi paviliun Indonesia. di paviliun itulah beberapa pengusaha dan pengrajin Jawa Barat memamerkan karya terbaik mereka. Pak Wahid, Dutabesar RI untuk Uni Emirat Arab yang berkedudukan di Qatar mengunjungi stand Jawa Barat dan cukup lama berkeliling memperhatikan produk yang ditawarkan sambil bercakap-cakap dengan para penjaga stand maupun pengusaha. Kang Bachtiar dari TVRI Jawa Barat mengabadikan momen-momen berharga tersebut, tidak lupa pula membuat wawancara dengan Dubes, disaksikan Gubernur Dany Setiawan, Ketua DPRD HAM Ruslan serta anggota Komisi B : MQ Iswara dan aku, juga bupati Cirebon Dedi Supardi, serta Kadis Indag Agustiar serta Kabiro Umum Kohar. Nampak terkesan dengan penampilan stand Jawa Barat di paviliun Indonesia serta suasana kekeluargaaan saat beramahtamah, Dubes mengundang kami untuk makan siang.Siang itu jadilah kami makan siang di sebuah rumah makan. Aku tidak ingat lagi di rumah makan apa. Pak Dubes berbicara banyak mengenai peluang usaha di Timur Tengah dan upayanya mengundang para investor ke Indonesia. di luar masalah ekonomi, masalah yang banyak dibicarakan adalah mengenai masalah tenaga kerja Indonesia di Timur Tengah.

Keesokan harinya kami bertemu lagi dengan pak Dubes. Kali ini kami menghadiri pertemuan antara Dubes dengan masyarakat Indonesia di Dubai, bertempat di sebuah hotel. Para pejabat perwakilah KBRI di Dubai hadir. Senang sekali bertemu dengan banyak saudara dari Indonesia nun jauh di sana di Dubai. Pertemuan berlangsung hingga larut malam diselingi dengan sambutan-sambutan serta musik sebagai hiburan.

Sebelum kembali ke Qatar pak Wahid masih berkesempatan mengunjungi kami di tempat kami menginap. Pada pertemuan sambil sarapan pagi ini kami sempat berbincang-bin cang lebih santai dan aku sempat bertukar kartu nama. Dia bercerita mengenai masa jabatannya yang akan berakhir dan kemungkinannya untuk menduduki sebuah posisi memimpin lembaga yang mengurusi tenaga kerja setingkat departemen. Dia pun bercerita mengenai keinginannya memiliki sebuah rumah di Bandung jika nantinya kembali ke Indonesia. (belakangalembaga yang dimaksudkannya ternyata dipimpin oleh Jumhur Hidayat, sedangkan pak Wahid kemudian menjadi staf ahli Menteri Tenaga Kerja).