Tidak lama setelah pindah ke Rumah Gunung, anakku yang bungsu, Prajakusuma, lulus dari SMA Negeri 6 di Jl. Pasirkaliki, Bandung. Ia diterima di FMBTI Universitas Telkom yang populer dengan nama Tel-U (Telkom University), sebuah universitas yang tergolong sebagai corporate university, yang dikelola oleh sebuah yayasan milik Telkom. Letaknya di selatan kota Bandung, tepatnya di Bojongsoang, hanya satu dua kilometer dari pintu keluar tol Buahbatu.
Tel-U tergolong universitas favorit dan unggul. Untuk masuk kesitu, pada saat itu - sekitar tahun 2012- kami harus menyiapkan dana sekitar Rp. 25 juta untuk dana ini dan itu termasuk biaya setahun pertama di asrama. Praktiknya anakku harus tinggal di flat (rusunami/rusunawa) di Jl. Terusan Buahbatu pada lantai paling atas. Dari asrama ia naik sepeda ke kampus melewati lorong underpass jalan tol, beberapa komplek perumahan dan pemukiman warga. Sepanjang jalan dipenuhi rumah kost mahasiswa, toko dan warung nasi.
Selama setahun pertama aku nyaris pergi pulang ke asrama anakku. Kadang menunggu di kamar atau di kafetaria dilantai bawah dan basement. Kadang sepulang mengajar di hari jumat malam aku menjemputnya di asrama. Kadang aku juga mengantar atau menjemput di kampusnya yang megah dan modern.
Pada tahun kedua Praja sudah boleh keluar asrama. Awalnya ia kost
di daerah Bojongsoang tapi kemudian ia tinggal di rumah. Ibunya membelikannya motor kreditan. Praja bisa pulang pergi ke kampus dengan jarak yang cukup jauh, sekitar 40 km pergi pulang.
Pada tahun kesekian Praja melakukan Praktik Kerja Lapangan sekitar satu bulan di Sekolah Telkom di Jl. Gegerkalong Bandung. Seingatku waktu itu bulan puasa. Di akhir PKL nya ia pulang dengan membawa bingkisan lebaran.
Kini anakku sedang berada di tahapan akhir perkuliahannya. Untuk tugas akhirnya ia melakukan penelitian tentang industri musik indies di Indonesia. Untuk itu ia sering menonton konser, membeli CD musik indies dan mengikuti seminar industri musik di berbagai kota. Sebagai ayahnya aku berharap ia segera menyelesaikan kuliahnya dengan hasil yang terbaik.
Tel-U terus berkembang. Asrama untuk mahasiswa sudah lengkap baik untuk putra dan putri. Kerjasama internasional terjalin baik dengan banyak perguruan tinggi di luar negeri. Sistem penjaminan mutunya berjalan sangat baik. Kini Tel-U terakreditasi A pada BAN-PT. Sebagai orang tua tentu aku ikut bangga anakku kuliah di situ.
Selasa, 19 Mei 2020
Sabtu, 16 Mei 2020
Pertemuan Terakhir Dengan Taufik Kiemas
Menjelang sidang promosi doktor di UPI aku mulai mengajar kembali di STIA Bagasasi. Aku juga menjadi salah seorang pengurus PA GMNI (Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia) Jawa Barat.
Pada suatu ketika ada Rakerda PDI Perjuangan Jawa Barat di Hotel Papandayan. Dr. Djoemad Tjiptowardojo, ketua PA GMNI Jawa Barat yang juga Ketua STIA Bagasasi mengundangku untuk bertemu dengan Taufik Kiemas (TK), suami Megawati Sukarnoputri yang merupakan ketua MPR RI
Siang itu aku berkendara dari Cileunyi ke arah Jl. Gatot Subroto. Dekat dengan hotel Papandayan, bendera partai sudah banyak dipasang di kiri kanan. Sebelum masuk aku berhenti di pinggir jalan dan menelpon. Karena belum ada kawan yang hadit akupun meninggalkan tempat.
Tak lama kemudian Bang Suhunan memberitahu kalau acara akan segera dilaksanakan. Akupun segera bergegas ke hotel, memarkir mobil dan menuju lobby. Pak Djoemad sudah di sana. Sambil menunggu Bang TK yang masih memberi ceramah di Rakerda partai, aku melobby Pak Djoemad untuk memuat paperku dalam jurnal Administrator. Berhasil dan naskah aku sampaikan lalu aku mendapat tanda terima.
Bang TK keluar ruangan diikuti bung Helmi. Kami pun segera mwngikuti beliau ke restoran untuk makan siang dalam satu round table untuk beberapa orang. Makanan segera disajikan, Bang TK menyilakan kami. Kamipun tidak menyia-nyiakan kesempatan makan siang menu a la hotel dengan table manner nya. Kesempatan langka bertemu dengan orang nomor tiga di RI dan juga tokoh partai.
Sambil makan bung Andreas memperkenalkan kami satu persatu : Prof NTP, Dr Djoemad, bang Suhunan, bang Syarif Bastaman, kang Ayi Vivananda, teh Ai Supriyati, bung Harry, mas Djoko Ariyanto dan mas Petrus. Bang TK menyapa kami satu-satu. Waktu bung Andreas mengatakan kalau aku mengambil program doktoral di UPI, beliau berkomentar, "oh yang di Jl. Setiabudi ya. Mahasiswinya cantik cantik." Kamipun tertawa.
Saat itu bang TK menyinggung soal partai dan kang RHT serta perlunya menyiapkan pemimpin partai di Jawa Barat. "Sebaiknya Guru seperti pak Slamet Mulyadi," katanya. Alasannya guru bisa membimbing dan bisa menerima berbagai perilaku manusia. Begitu kira-kira. Mendapat sinyalemen demikian bang Suhunan mulai pasang aksi mempromosikan pak Djoemad.
Tidak lama, bang TK pamitan dan kembali ke Jakarta. Kami pun bubar. Ternyata itu adalah pertemuanku yang terakhir dengan bang TK.Tidak lama kemudian beliau wafat di Singapura.
Adapun pak Djoemad tidak menindaklanjuti pembicaraan di Hotel Pampandayan itu. Belakangan kang Tb. Hasanuddin, anggota DPR RI dan ex sekpri Presiden RI ditunjuk oleh Megawati menjadi Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat tanpa melalui Konferda. Alasannya tidak begitu jelas bagiku. Ada info kang RHT terkena masalah yang menyinggung norma kesusilaan.
Waktu hal ini kusinggung saat bertemu pak Djoemad, ia hanya senyum senyum saja.
Pada suatu ketika ada Rakerda PDI Perjuangan Jawa Barat di Hotel Papandayan. Dr. Djoemad Tjiptowardojo, ketua PA GMNI Jawa Barat yang juga Ketua STIA Bagasasi mengundangku untuk bertemu dengan Taufik Kiemas (TK), suami Megawati Sukarnoputri yang merupakan ketua MPR RI
Siang itu aku berkendara dari Cileunyi ke arah Jl. Gatot Subroto. Dekat dengan hotel Papandayan, bendera partai sudah banyak dipasang di kiri kanan. Sebelum masuk aku berhenti di pinggir jalan dan menelpon. Karena belum ada kawan yang hadit akupun meninggalkan tempat.
Tak lama kemudian Bang Suhunan memberitahu kalau acara akan segera dilaksanakan. Akupun segera bergegas ke hotel, memarkir mobil dan menuju lobby. Pak Djoemad sudah di sana. Sambil menunggu Bang TK yang masih memberi ceramah di Rakerda partai, aku melobby Pak Djoemad untuk memuat paperku dalam jurnal Administrator. Berhasil dan naskah aku sampaikan lalu aku mendapat tanda terima.
Bang TK keluar ruangan diikuti bung Helmi. Kami pun segera mwngikuti beliau ke restoran untuk makan siang dalam satu round table untuk beberapa orang. Makanan segera disajikan, Bang TK menyilakan kami. Kamipun tidak menyia-nyiakan kesempatan makan siang menu a la hotel dengan table manner nya. Kesempatan langka bertemu dengan orang nomor tiga di RI dan juga tokoh partai.
Sambil makan bung Andreas memperkenalkan kami satu persatu : Prof NTP, Dr Djoemad, bang Suhunan, bang Syarif Bastaman, kang Ayi Vivananda, teh Ai Supriyati, bung Harry, mas Djoko Ariyanto dan mas Petrus. Bang TK menyapa kami satu-satu. Waktu bung Andreas mengatakan kalau aku mengambil program doktoral di UPI, beliau berkomentar, "oh yang di Jl. Setiabudi ya. Mahasiswinya cantik cantik." Kamipun tertawa.
Saat itu bang TK menyinggung soal partai dan kang RHT serta perlunya menyiapkan pemimpin partai di Jawa Barat. "Sebaiknya Guru seperti pak Slamet Mulyadi," katanya. Alasannya guru bisa membimbing dan bisa menerima berbagai perilaku manusia. Begitu kira-kira. Mendapat sinyalemen demikian bang Suhunan mulai pasang aksi mempromosikan pak Djoemad.
Tidak lama, bang TK pamitan dan kembali ke Jakarta. Kami pun bubar. Ternyata itu adalah pertemuanku yang terakhir dengan bang TK.Tidak lama kemudian beliau wafat di Singapura.
Adapun pak Djoemad tidak menindaklanjuti pembicaraan di Hotel Pampandayan itu. Belakangan kang Tb. Hasanuddin, anggota DPR RI dan ex sekpri Presiden RI ditunjuk oleh Megawati menjadi Ketua DPD PDI Perjuangan Jawa Barat tanpa melalui Konferda. Alasannya tidak begitu jelas bagiku. Ada info kang RHT terkena masalah yang menyinggung norma kesusilaan.
Waktu hal ini kusinggung saat bertemu pak Djoemad, ia hanya senyum senyum saja.
Kamis, 07 Mei 2020
Foto Wisuda
Tahun 2011 bagiku sebagai seorang ayah adalah tahun yang istimewa. Pada saat ini aku diwisuda sebagai doktor administrasi pendidikan, putriku-Dea diwisuda sebagai magister ilmu lingkungan dan putraku-Sidiq diwisuda sebagai sarjana hukum.
Dea
Saat itu Program S2 PPSDAL Unpad bekerjasama dengan Twente University Belanda membuka program double degree. Putriku termasuk yang lolos mengikuti program itu, dengan demikian ia bersama tiga kawannya berangkat ke Belanda pada tahun kedua.
Dea membuat dua buah tesis untuk Twente University dalam bahasa Inggris dan untuk Unpad dalam bahasa Indonesia. Uniknya ia lebih dulu lulus di Twente University dengan mendapat gelar MSc., baru kemudian lulus di Unpad dengan mendapat gelar MIL. Saat wisuda ia mendapat predikat cum laude dan langsung diminta mendaftar ke S3 dengan memperoleh bea siswa.
Sidiq
Anak keduaku, Sidiq - biasa kami panggil Dimas, pindah dari program studi hukum pidana ke program studi tata negara. Selain aktif sebagai ketua Komisariat GMNI FH Undip, Semarang, ia juga memimpin grup debat hukum dan pernah menyabet posisi runner up di tingkat nasional yang diselenggarakan di UGM. Di luar kampus ia aktif di Perludem. Meski sempat diskors dari kampus ia akhirnya bisa menyelesaikan tulisan hukumnya yang berkait dengan Pemilu.
Putraku diwisuda di fakultasnya bertempat di Hotel Patra Jasa, masih di kawasan atas. Di sini wisuda dilakukan oleh Dekan dan Ketua Prodinya. Acara berlangsung hingga tengah hari.
Setelah diwisuda di fakultas Sidiq diwisuda di universitas dan sidang senat terbuka dipimpin oleh Rektor. Dengan demikian ia berhak menggunakan gelar SH. Dosen-dosennya meminta ia langsung melanjutkan ke S2. Tapi anakku masih mikir mikir.
Kami bertiga kemudian pergi ke foto studio untuk mengabadikan kenangan. Ibu, aku, istriku, Dea, Sidiq dan Praja. Kami pun berfoto dengan menggunakan toga. Dimas dengan toga sarjana, Dea dengan toga magister dan aku dengan toga doktor.
Dea
Saat itu Program S2 PPSDAL Unpad bekerjasama dengan Twente University Belanda membuka program double degree. Putriku termasuk yang lolos mengikuti program itu, dengan demikian ia bersama tiga kawannya berangkat ke Belanda pada tahun kedua.
Dea membuat dua buah tesis untuk Twente University dalam bahasa Inggris dan untuk Unpad dalam bahasa Indonesia. Uniknya ia lebih dulu lulus di Twente University dengan mendapat gelar MSc., baru kemudian lulus di Unpad dengan mendapat gelar MIL. Saat wisuda ia mendapat predikat cum laude dan langsung diminta mendaftar ke S3 dengan memperoleh bea siswa.
Sidiq
Anak keduaku, Sidiq - biasa kami panggil Dimas, pindah dari program studi hukum pidana ke program studi tata negara. Selain aktif sebagai ketua Komisariat GMNI FH Undip, Semarang, ia juga memimpin grup debat hukum dan pernah menyabet posisi runner up di tingkat nasional yang diselenggarakan di UGM. Di luar kampus ia aktif di Perludem. Meski sempat diskors dari kampus ia akhirnya bisa menyelesaikan tulisan hukumnya yang berkait dengan Pemilu.
Putraku diwisuda di fakultasnya bertempat di Hotel Patra Jasa, masih di kawasan atas. Di sini wisuda dilakukan oleh Dekan dan Ketua Prodinya. Acara berlangsung hingga tengah hari.
Setelah diwisuda di fakultas Sidiq diwisuda di universitas dan sidang senat terbuka dipimpin oleh Rektor. Dengan demikian ia berhak menggunakan gelar SH. Dosen-dosennya meminta ia langsung melanjutkan ke S2. Tapi anakku masih mikir mikir.
Kami bertiga kemudian pergi ke foto studio untuk mengabadikan kenangan. Ibu, aku, istriku, Dea, Sidiq dan Praja. Kami pun berfoto dengan menggunakan toga. Dimas dengan toga sarjana, Dea dengan toga magister dan aku dengan toga doktor.
Abdurrahman Sidiq Suryasemesta SH
Anak keduaku, Sidiq - biasa kami panggil Dimas, pindah dari program studi hukum pidana ke program studi tata negara. Selain aktif sebagai ketua Komisariat GMNI FH Undip, Semarang, ia juga memimpin grup debat hukum dan pernah menyabet posisi runner up di tingkat nasional yang diselenggarakan di UGM. Di luar kampus ia aktif di Perludem. Meski sempat diskors dari kampus ia akhirnya bisa menyelesaikan tulisan hukumnya yang berkait dengan Pemilu.
Saat wisuda, akupun pergi ke Semarang berempat dengan ibu, istri, Sidiq dan anak bungsu, Praja. Kami melaewati jalur utara : Cirebon, Tegal, Pekalongan , Pemalang dan Kendal. Sore hari kami tiba di Senarang. Kami menginap di hotel Candi Baru di kawasan atas kota Semarang yang bergaya art deco. Kami menginap di ruang utama di lantai satu yang berukuran besar dengan beberapa tempat tidur lengkap dengan dapur meja makan ruang tamu dan balkon. Malam itu kami benar benar beristirahat di kamar saja sambil menonton teve.
Keesokan harinya kami bersiap dengan pakaian terbaik. Karena siangnya langsung check out, kami berfoto foto dulu di di kamar dan halaman hotel. Dari hotel kami menuju ke ruang pertemuan di sebuah hotel. Putraku diwisuda di fakultasnya bertempat di Hotel Patra Jasa, masih di kawasan atas. Di sini wisuda dilakukan oleh Dekan dan Ketua Prodinya. Acara berlangsung hingga tengah hari.
Tidak cukup di fakultas, masih ada wisuda juga di universitas. Karena waktunya masih tiga hari sejak wisuda di fakultas, kami memutuskan tidak kembali dulu ke Bandung.
Sore itu kami ke kampus Tembalang. Dari sana kami singgah di rumah mas Didik di Banyumanik untuk pamitan. Dari mas Didik kami ke Sampangan untuk pamitan dengan mas Mursito dan mbak Wiwik. Dari sana kami ke mess ALRI di daerah Candi. Kamipun menginap di sini.
Pada hari yang telah dijadwalkan kami berangkat ke kampus Undip di Tembalang. Kali ini wisuda untuk semua fakultas dan sidang senat terbuka dipimpin oleh Rektor. Acaranya sungguh meriah. Lulusan yang diwisuda mungkin mencapai lima ratusan orang baik S1, S2 dan S3. Dengan diwisuda oleh Rektor, Dekan dan Ketua Prodi Tata Negara maka anakku berhak menjadi Sarjana Hukum. Ia pun dipanggil dengan Abdurrahman Sidiq Suryasemesta SH.
Setelah acara selesai tengah hari kami melihat lihat kampus Tembalang yang luas dan megah. Tidak lupa kami ke fakultas hukum dan berfoto di sana. Dari sana kami ke kota tua untuk mencari oleh-oleh dan langsung meninggalkan kota Semarang.
Jumat, 24 April 2020
Twente University
Setelah lulus dari program studi biologi F-MIPA Unpad, putriku -Idea, biasa kami panggil mbak atau neng Dea bekerja di Rumah Zakat sebagai manajer PR (public relation) dan ditugaskan di Jakarta. Karena ada kesempatan mendapatkan bea siswa di almamaternya ia meninggalkan pekerjaannya dan mendaftar kuliah S2 manajemen lingkungan hidup di PPSDAL (Pusat Penelitian Sumber Daya Air dan Lingkungan ) Unpad Bandung. Ia diterima bersama sekitar 20 orang sarjana dari berbagai jurusan dan universitas. Kampusnya di Jl. Sekeloa, Bandung. Tidak jauh dari kampus utama. Sekitar dua kilometer ke arah utara.
Saat itu Program S2 PPSDAL Unpad bekerjasama dengan Twente University Belanda membuka program double degree. Putriku termasuk yang lolos mengikuti program itu, dengan demikian ia bersama tiga kawannya berangkat ke Belanda pada tahun kedua. Kami sekeluarga mengantarnya ke Bandara Sukarno-Hatta.
Aku di rumah tinggal berdua. Anak pertama ke Belanda, anak kedua, Sidiq, di Semarang dan anak ketiga, Praja, tinggal di apartemen Buahbatu karena harus mengikuti program asrama selama setahun dari Tel-U. Seminggu sekali aku menjemputnya. Biasanya sepulang aku mengajar.
Sebelum Dea ke Belanda, Andre kemenakanku dari Bogor datang bersama kedua orangtuanya, mas Ignas dan mbak Tuti. Ia pun tinggal bersama kami selama kuliah di Fakultas Perikanan dan Kelautan Unpad di Jatinangor, Sumedang.
Selama di Belanda, Dea kost di sebuah rumah di kota Leeuwarden. Dari rumah ia menggunakan sepeda pergi pulang ke kampus. Untuk hidup sehari hari ia mengandalkan bea siswa dari negara.
Setelah setahun kuliah di Belanda, Dea pulang ke Indonesia. Untuk tesisnya ia melakukan penelitian lapangan di Waduk Cirata dengan dibantu kawan kawannya dan dik Ahmad Firdaus. Selain itu ia juga melakukan wawancara ke Cianjur, Bogor serta Purwakarta.
Dea membuat dua buah tesis untuk Twente University dalam bahasa Inggris dan untuk Unpad dalam bahasa Indonesia. Uniknya ia lebih dulu lulus di Twente University dengan mendapat gelar MSc., baru kemudian lulus di Unpad dengan mendapat gelar MIL. Saat wisuda ia mendapat predikat cum laude dan langsung diminta mendaftar ke S3 dengan memperoleh bea siswa.
Putriku sempat beberapa kali mengikuti kuliah di S3 Unpad tapi karena berbagai alasan ia mengundurkan diri dan memilih bekerja di kantor konsultan. Ia pun kost di Jl. Tubagus Ismail. Tidak berapa lama bekerja sebagai karyawan di situ ia memilih menjadi konsultan lepas dan pindah kantor ke Jl Sukarno Hatta. Di situ ia seringkali berpergian ke berbagai kota. Selain menjadi konsultan ia juga mengajar di Universitas Bakti Kencana.
Setahun kemudian ia diterima menjadi pengajar di Fakultas Geografi UGM Yogyakarta. Seangkatannya ada empat orang : putriku (S2 Unpad/Twente University), Rara (S2 Australia), Sandi (S3 dari Sorbonne University dan seorang lagi dari S2 ITB.
Saat itu Program S2 PPSDAL Unpad bekerjasama dengan Twente University Belanda membuka program double degree. Putriku termasuk yang lolos mengikuti program itu, dengan demikian ia bersama tiga kawannya berangkat ke Belanda pada tahun kedua. Kami sekeluarga mengantarnya ke Bandara Sukarno-Hatta.
Aku di rumah tinggal berdua. Anak pertama ke Belanda, anak kedua, Sidiq, di Semarang dan anak ketiga, Praja, tinggal di apartemen Buahbatu karena harus mengikuti program asrama selama setahun dari Tel-U. Seminggu sekali aku menjemputnya. Biasanya sepulang aku mengajar.
Sebelum Dea ke Belanda, Andre kemenakanku dari Bogor datang bersama kedua orangtuanya, mas Ignas dan mbak Tuti. Ia pun tinggal bersama kami selama kuliah di Fakultas Perikanan dan Kelautan Unpad di Jatinangor, Sumedang.
Selama di Belanda, Dea kost di sebuah rumah di kota Leeuwarden. Dari rumah ia menggunakan sepeda pergi pulang ke kampus. Untuk hidup sehari hari ia mengandalkan bea siswa dari negara.
Setelah setahun kuliah di Belanda, Dea pulang ke Indonesia. Untuk tesisnya ia melakukan penelitian lapangan di Waduk Cirata dengan dibantu kawan kawannya dan dik Ahmad Firdaus. Selain itu ia juga melakukan wawancara ke Cianjur, Bogor serta Purwakarta.
Dea membuat dua buah tesis untuk Twente University dalam bahasa Inggris dan untuk Unpad dalam bahasa Indonesia. Uniknya ia lebih dulu lulus di Twente University dengan mendapat gelar MSc., baru kemudian lulus di Unpad dengan mendapat gelar MIL. Saat wisuda ia mendapat predikat cum laude dan langsung diminta mendaftar ke S3 dengan memperoleh bea siswa.
Putriku sempat beberapa kali mengikuti kuliah di S3 Unpad tapi karena berbagai alasan ia mengundurkan diri dan memilih bekerja di kantor konsultan. Ia pun kost di Jl. Tubagus Ismail. Tidak berapa lama bekerja sebagai karyawan di situ ia memilih menjadi konsultan lepas dan pindah kantor ke Jl Sukarno Hatta. Di situ ia seringkali berpergian ke berbagai kota. Selain menjadi konsultan ia juga mengajar di Universitas Bakti Kencana.
Setahun kemudian ia diterima menjadi pengajar di Fakultas Geografi UGM Yogyakarta. Seangkatannya ada empat orang : putriku (S2 Unpad/Twente University), Rara (S2 Australia), Sandi (S3 dari Sorbonne University dan seorang lagi dari S2 ITB.
Selasa, 14 April 2020
Akhir Tahun Di Pulau Sumatra
Pagi hari di tanggal 31 Desember kami bangun untuk salat subuh mandi dan berganti pakaian. Mas Yono dan nyonya sedang sudah berangkat ke pasar. Saat kami menikmati minum kopi dan teh yang disajikan, mas Yono kembali. Kami pun terlibat dalam pembicaraan yang seru mengenai pengalaman perjalanan antara Lampung dan Bengkulu.
Tidak lama kemudian nyonya Yono menyiapkan sajian sarapan pagi. Ada bermacam macam masakan tersaji di meja. Kebanyakan adalah makanan laut seperti udang dan ikan. Kami makan pagi bersama.
Kawan kuliah dik Yus di STKS yang menjadi pejabat di Bengkulu datang bersama istrinya. Mereka pun kami ajak sarapan. Lalu kami berbincang-bincang mengenai banyak hal. Kami juga tidak lupa berfoto bersama di rumah mas Yono yang merangkap sebagai tempat usaha konveksi dan sablon. Nama resmi perusahaannya adalah Adiguna Bordir. Di Bengkulu mas Yono tergolong pengusaha yang sukses. Adik serta anaknya pun memiliki usaha.
Setelah kawan dik Yus pamit, kamipun berpamitan senyampang masih pagi. Saat hendak berangkat mbak Katmi datang bersama suami dan anaknya. Kamipun berfoto bersama. Lalu dengan beriringan dalam dua kendaraan kami meninggalkan rumah mas Yono.
Sebelum meninggalkan kota Bengkulu mas Yono mengajak berkeliling kota. Kami pun singgah di Rumah Bung Karno. Karena hari itu hari terakhir di tahun 2017, banyaklah orang yang datang berwisata. Kami melihat lihat satu persatu ruangan di rumah itu dan melihat barang-barang peninggalan Bung Karno seperti kursi tamu, tempat tidur, meja makan, sepeda dan buku-buku sambil membaca keterangannya. Setelah puas melihat lihat di dalam, kamipun berjalan jalan di halaman depan yang luas lalu berfoto selfi maupun berfoto bersama.
Dari rumah Bung Karno kami mengarah ke pantai. Setelah berjalan sekitar tiga kilometer kami sampai di Pantai Panjang. Ratusan pohon cemara berjajar meneduhkan pantai. Mobil mobil dari berbagai kota menuhi tempat parkir di sepanjang jalan. Wisatawan dari berbagai kota provinsi dan pulau sudah mulai memenuhi pantai. Di sinilah puncak perayaan pergantian tahun akan dilaksanakan nanti malam.
Dari Pantai Panjang kami menuju luar kota. Di batas kota kami berpamitan dengan keluarga mas Yono. Kamipun melanjutkan perjalanan ke Lampung. Di perjalanan kami beristirahat untuk makan siang. Bekal makanan dari nyonya Yono sangat banyak sehingga kami tidak perlu makan di restoran.
Sepanjang perjalanan banyak orang menjual duren. Kami berhenti untuk beristirahat sambil menikmati duren Bengkulu yang lezat. Setelah puas menikmati duren kamipun melanjutkan perjalanan.
Perjalanan melalui Jalan Lintas Barat Sumatra sungguh menyenangkan. Kami kembali menyusuri pantai pesisir barat Sumatra. Kota kota yang tidak terlihat jelas saat berjalan malam kini terlihat jelas. Pemandangan pantai sepanjang ratusan kilometer bisa kami nikmati. Beberapa pantai benar benar berada di tepi jalan sehingga kami memandanginya dengan leluasa seolah sedang berwisata pantai.
Alhamdulillah, lepas waktu waktu ashar kami sudah memasuki hutan. Jalan jalan benar sepi. Hanya ada satu atau dua mobil yang kami lihat. Hutan lebat dan jalan yang menanjak membuat perjalanan terasa seperti sebuah petualangan. Dari balik pepohonan muncul puluhan primata berukuran besar dengan bulu hitam atau pirang. Mereka dengan santai berloncatan di jalan dan pepohonan. Sungguh pemandandangan yang tidak terlupakan.
Setelah melewati hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan malam pun datang. Aku terkantuk kantuk dan tertidur. Setelah jalan panjang mendaki dan berliku kami memasuki Kabupaten Tanggamus. Sekitar pukul 20.00 kami salat dan beristirahat di sebuah masjid yang indah bersih luas dan nyaman. Kami ngopi sambil menikmati udara malam yang segar. Sekitar satu jam kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Wonosobo.
Menjelang tengah malam kami telah tiba di rumah ibu dik Somadin. Keluarga tak henti henti bertanya mengenai perjalanan kami. Kami pun dengan bersemangat bercerita mengenai pengalaman ke Bengkulu pp.
Saat waktu menunjukkan waktu pukul 00.00, terdengar peluit dari kapal yang berlabuh di pantai.
Tidak lama kemudian nyonya Yono menyiapkan sajian sarapan pagi. Ada bermacam macam masakan tersaji di meja. Kebanyakan adalah makanan laut seperti udang dan ikan. Kami makan pagi bersama.
Kawan kuliah dik Yus di STKS yang menjadi pejabat di Bengkulu datang bersama istrinya. Mereka pun kami ajak sarapan. Lalu kami berbincang-bincang mengenai banyak hal. Kami juga tidak lupa berfoto bersama di rumah mas Yono yang merangkap sebagai tempat usaha konveksi dan sablon. Nama resmi perusahaannya adalah Adiguna Bordir. Di Bengkulu mas Yono tergolong pengusaha yang sukses. Adik serta anaknya pun memiliki usaha.
Setelah kawan dik Yus pamit, kamipun berpamitan senyampang masih pagi. Saat hendak berangkat mbak Katmi datang bersama suami dan anaknya. Kamipun berfoto bersama. Lalu dengan beriringan dalam dua kendaraan kami meninggalkan rumah mas Yono.
Sebelum meninggalkan kota Bengkulu mas Yono mengajak berkeliling kota. Kami pun singgah di Rumah Bung Karno. Karena hari itu hari terakhir di tahun 2017, banyaklah orang yang datang berwisata. Kami melihat lihat satu persatu ruangan di rumah itu dan melihat barang-barang peninggalan Bung Karno seperti kursi tamu, tempat tidur, meja makan, sepeda dan buku-buku sambil membaca keterangannya. Setelah puas melihat lihat di dalam, kamipun berjalan jalan di halaman depan yang luas lalu berfoto selfi maupun berfoto bersama.
Dari rumah Bung Karno kami mengarah ke pantai. Setelah berjalan sekitar tiga kilometer kami sampai di Pantai Panjang. Ratusan pohon cemara berjajar meneduhkan pantai. Mobil mobil dari berbagai kota menuhi tempat parkir di sepanjang jalan. Wisatawan dari berbagai kota provinsi dan pulau sudah mulai memenuhi pantai. Di sinilah puncak perayaan pergantian tahun akan dilaksanakan nanti malam.
Dari Pantai Panjang kami menuju luar kota. Di batas kota kami berpamitan dengan keluarga mas Yono. Kamipun melanjutkan perjalanan ke Lampung. Di perjalanan kami beristirahat untuk makan siang. Bekal makanan dari nyonya Yono sangat banyak sehingga kami tidak perlu makan di restoran.
Sepanjang perjalanan banyak orang menjual duren. Kami berhenti untuk beristirahat sambil menikmati duren Bengkulu yang lezat. Setelah puas menikmati duren kamipun melanjutkan perjalanan.
Perjalanan melalui Jalan Lintas Barat Sumatra sungguh menyenangkan. Kami kembali menyusuri pantai pesisir barat Sumatra. Kota kota yang tidak terlihat jelas saat berjalan malam kini terlihat jelas. Pemandangan pantai sepanjang ratusan kilometer bisa kami nikmati. Beberapa pantai benar benar berada di tepi jalan sehingga kami memandanginya dengan leluasa seolah sedang berwisata pantai.
Alhamdulillah, lepas waktu waktu ashar kami sudah memasuki hutan. Jalan jalan benar sepi. Hanya ada satu atau dua mobil yang kami lihat. Hutan lebat dan jalan yang menanjak membuat perjalanan terasa seperti sebuah petualangan. Dari balik pepohonan muncul puluhan primata berukuran besar dengan bulu hitam atau pirang. Mereka dengan santai berloncatan di jalan dan pepohonan. Sungguh pemandandangan yang tidak terlupakan.
Setelah melewati hutan Taman Nasional Bukit Barisan Selatan malam pun datang. Aku terkantuk kantuk dan tertidur. Setelah jalan panjang mendaki dan berliku kami memasuki Kabupaten Tanggamus. Sekitar pukul 20.00 kami salat dan beristirahat di sebuah masjid yang indah bersih luas dan nyaman. Kami ngopi sambil menikmati udara malam yang segar. Sekitar satu jam kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Wonosobo.
Menjelang tengah malam kami telah tiba di rumah ibu dik Somadin. Keluarga tak henti henti bertanya mengenai perjalanan kami. Kami pun dengan bersemangat bercerita mengenai pengalaman ke Bengkulu pp.
Saat waktu menunjukkan waktu pukul 00.00, terdengar peluit dari kapal yang berlabuh di pantai.
Kamis, 09 April 2020
Menyusuri Perjalanan Di Tepi Samudra Indonesia.
Setelah menginap semalam di Tanggamus, paginya saya menyampaikan niat saya pada dik Somad ingin naik bus ke Bengkulu menengok mas Yono di . Ia pun mencari informasi ke kakak kakaknya mengenai kondisi jalan dan rute bus yang menuju Bengkulu. Setelah bertanya ke sana sini, dik Somad menyarankan agar kami berangkat bersama saja dengan mobil carteran yang kami bawa dari Bandung. Maka kami putuskan berangkat keesokan harinya.
Sekitar pukul 10.00 tanggal 30 Desember 2017 kami berangkat dari Wonosobo meninggalkan Tanggamus. Kebetulan hari itu hari Jumat. Di perjalanan kami berhenti di sebuah masjid untuk salat Jumat. Setelah salat kami makan siang berupa bekal nasi dan lauk pauk dari rumah di serambi. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan terus menanjak dan meninggalkan pemukiman. Lalu kami pun memasuki hutan pegunungan Bukit Barisan. Turun dari punggung hutan Bukit Barisan kami sudah meninggalkan kabupaten Tanggamus.
Kini kami memasuki wilayah pantai sepanjang puluhan kilometer. Di sebelah kiri nampak pantai yang tiada putusnya. Suasananya mirip pulau Bali dengan rumah rumah penduduk bergaya Bali lengkap dengan puranya. Sapi sapi dilepas begitu saja. Ini adalah pemukiman para transmigran dari Bali.
Meninggalkan pemukiman orang orang Bali kami memasuki pemukiman transmigran dari Jawa dan penduduk asli Lampung. Lalu kami masuki kota Krui ibukota Kabupaten Pesisir Barat. Kotanya terletak di tepi pantai yang indah. Rumah rumah penduduk berbentuk panggung berjajar dengan rapi dan anggun di sepanjang jalan. Di daerah ini ada satu dari empat kerajaan Lampung.
Setelah meninggalkan kota kami kembali menyusuri pantai di kiri jalan serta hutan dan perbukitan di sebelah kanan. Pemandangan sangat indah. Dari dalam mobil kami melihat deburan ombak menghantam pantai berkarang terjal. Beberapa tegakan batu karang bediri dengan tegar seperti candi di tepian pantai menghadapi gelombang yang terus menerus menghempas ke pantai tiada henti-hentinya. Sungguh pemandangan yang mempesona mata dan perasaan.
Kami pun tak bisa mampu melawan godaan untuk sejenak meluangkan waktu bertamasya. Kami singgah di sebuah warung makan di tepi pantai untuk menikmati kopi panas dan sejenak berjalan-jalan di tepi pantai serta bermain main bersama tiga kemenakan ketika matahari mulai tergelincir ke arah barat. Lalu kami pun melanjutkan perjalanan.
Jalan ke kota Bengkulu masih panjang. Pemandangan indah menyertai kami sepanjang perjalanan. Kadang kami tepat berada di bibir pantai, kadang kami berada di ketinggian dan melihat perkampungan jauh di bawah kami, dengan deretan rumah rumah penduduk yang bagus dan teratur dan latar belajang lautan nan amat luas.
Setelah berjalan ratusan kilometer kami memasuki provinsi Bengkulu ditandai dengan transisi bentuk rumah ke dalam bentuk limasan meski pun sama sama berbentuk rumah panggung dari kayu yang kokoh. Sama sama megah dan indah di pandang mata. Semua itu membuktikan bahwa Sumatra adalah pulau yang kaya. Tidak salah jika disebut Swarnadwipa. Swarna emas. Dwipa pulau. Pulau emas. Baik secara harfiah maupun majas.
Malampun tiba dan hanya lampu mobil yang menerangi jalan. Hanya ada satu dua kendaraan yang lewat dan berpapasan. Lebih banyak kami berpapasan dengan kawasan ternak di tengah jalan. Ada puluhan domba atau sapi. Begitu saja mereka berjalan dalam kawanannya dengan merdeka seperti tiada yang ditakuti. Kadang kami harus berhenti untuk membiarkan mereka berlalu atau kami harus membunyikan klakson agar mereka mau berbagi jalan. Luar biasa bukan ?
Setelah makan malam di kedai di sebuah kota kecamatan kami pun sampai di salah satu ibu kabupaten. Saya mengirim pesan kepada kakak. Mas Yono berkata agar kami bersabar. "Masih 250 km lagi," katanya. Ternyata kami baru menyelesaikan separuh perjalanan. Kami pun mekanjutkan perjalanan.
Kini jalan yang kami tempuh lebih lebar meski berselang seling antara jalan yang mulus dan yang rusak. Dalam kegelapan kami melihat kebun kebun karet dan kelapa sawit. Kami pun melewati beberapa ibukota kabupaten. Saat ingin mengisi bensin ternyata SPBU sudah tutup. Namun di depan SPBU banyak kios pedagang bensin. Di situlah kami mengisi bahan bakar, dengan harga yang lebih mahal.
Lewat tengah malam, hari pun berganti. Kami telah memasuki kota Bengkulu dengan jalan protokol yang luas. Jalan di sepanjang bandara Fatmawati nampak lengang. Namun memasuki pusat kota masih nampak banyak keramaian di kafe kafe yang dipenuhi anak anak muda. Mobil mobil aneka bentuk dan merk berjajar sepanjang jalan seperti di kota kota besar di Jawa.
Akhirnya kami pun sampai di Jl. Kalimantan. Kakak dan istrinya masih menunggu kami yang terlantuk kantuk. Setelah melepas kangen kami pun bersiap untuk istirahat. Waktu menunjukkan pukul 02.00. Kami telah menempah perjalanan sepanjang 520 kilometer.
Sekitar pukul 10.00 tanggal 30 Desember 2017 kami berangkat dari Wonosobo meninggalkan Tanggamus. Kebetulan hari itu hari Jumat. Di perjalanan kami berhenti di sebuah masjid untuk salat Jumat. Setelah salat kami makan siang berupa bekal nasi dan lauk pauk dari rumah di serambi. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan. Perjalanan terus menanjak dan meninggalkan pemukiman. Lalu kami pun memasuki hutan pegunungan Bukit Barisan. Turun dari punggung hutan Bukit Barisan kami sudah meninggalkan kabupaten Tanggamus.
Kini kami memasuki wilayah pantai sepanjang puluhan kilometer. Di sebelah kiri nampak pantai yang tiada putusnya. Suasananya mirip pulau Bali dengan rumah rumah penduduk bergaya Bali lengkap dengan puranya. Sapi sapi dilepas begitu saja. Ini adalah pemukiman para transmigran dari Bali.
Meninggalkan pemukiman orang orang Bali kami memasuki pemukiman transmigran dari Jawa dan penduduk asli Lampung. Lalu kami masuki kota Krui ibukota Kabupaten Pesisir Barat. Kotanya terletak di tepi pantai yang indah. Rumah rumah penduduk berbentuk panggung berjajar dengan rapi dan anggun di sepanjang jalan. Di daerah ini ada satu dari empat kerajaan Lampung.
Setelah meninggalkan kota kami kembali menyusuri pantai di kiri jalan serta hutan dan perbukitan di sebelah kanan. Pemandangan sangat indah. Dari dalam mobil kami melihat deburan ombak menghantam pantai berkarang terjal. Beberapa tegakan batu karang bediri dengan tegar seperti candi di tepian pantai menghadapi gelombang yang terus menerus menghempas ke pantai tiada henti-hentinya. Sungguh pemandangan yang mempesona mata dan perasaan.
Kami pun tak bisa mampu melawan godaan untuk sejenak meluangkan waktu bertamasya. Kami singgah di sebuah warung makan di tepi pantai untuk menikmati kopi panas dan sejenak berjalan-jalan di tepi pantai serta bermain main bersama tiga kemenakan ketika matahari mulai tergelincir ke arah barat. Lalu kami pun melanjutkan perjalanan.
Jalan ke kota Bengkulu masih panjang. Pemandangan indah menyertai kami sepanjang perjalanan. Kadang kami tepat berada di bibir pantai, kadang kami berada di ketinggian dan melihat perkampungan jauh di bawah kami, dengan deretan rumah rumah penduduk yang bagus dan teratur dan latar belajang lautan nan amat luas.
Setelah berjalan ratusan kilometer kami memasuki provinsi Bengkulu ditandai dengan transisi bentuk rumah ke dalam bentuk limasan meski pun sama sama berbentuk rumah panggung dari kayu yang kokoh. Sama sama megah dan indah di pandang mata. Semua itu membuktikan bahwa Sumatra adalah pulau yang kaya. Tidak salah jika disebut Swarnadwipa. Swarna emas. Dwipa pulau. Pulau emas. Baik secara harfiah maupun majas.
Malampun tiba dan hanya lampu mobil yang menerangi jalan. Hanya ada satu dua kendaraan yang lewat dan berpapasan. Lebih banyak kami berpapasan dengan kawasan ternak di tengah jalan. Ada puluhan domba atau sapi. Begitu saja mereka berjalan dalam kawanannya dengan merdeka seperti tiada yang ditakuti. Kadang kami harus berhenti untuk membiarkan mereka berlalu atau kami harus membunyikan klakson agar mereka mau berbagi jalan. Luar biasa bukan ?
Setelah makan malam di kedai di sebuah kota kecamatan kami pun sampai di salah satu ibu kabupaten. Saya mengirim pesan kepada kakak. Mas Yono berkata agar kami bersabar. "Masih 250 km lagi," katanya. Ternyata kami baru menyelesaikan separuh perjalanan. Kami pun mekanjutkan perjalanan.
Kini jalan yang kami tempuh lebih lebar meski berselang seling antara jalan yang mulus dan yang rusak. Dalam kegelapan kami melihat kebun kebun karet dan kelapa sawit. Kami pun melewati beberapa ibukota kabupaten. Saat ingin mengisi bensin ternyata SPBU sudah tutup. Namun di depan SPBU banyak kios pedagang bensin. Di situlah kami mengisi bahan bakar, dengan harga yang lebih mahal.
Lewat tengah malam, hari pun berganti. Kami telah memasuki kota Bengkulu dengan jalan protokol yang luas. Jalan di sepanjang bandara Fatmawati nampak lengang. Namun memasuki pusat kota masih nampak banyak keramaian di kafe kafe yang dipenuhi anak anak muda. Mobil mobil aneka bentuk dan merk berjajar sepanjang jalan seperti di kota kota besar di Jawa.
Akhirnya kami pun sampai di Jl. Kalimantan. Kakak dan istrinya masih menunggu kami yang terlantuk kantuk. Setelah melepas kangen kami pun bersiap untuk istirahat. Waktu menunjukkan pukul 02.00. Kami telah menempah perjalanan sepanjang 520 kilometer.
Langganan:
Postingan (Atom)