Minggu, 17 April 2022

Konferda PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat

 


Tidak berapa lama setelah konfercab di tingkat kota /kabupaten, dilakukan Konferda (Konferensi Daerah)  untuk membentuk struktur kepengurusan PDI Perjuangan tingkat provinsi Jawa Barat. Konferda PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat diselenggarakan di Hotel Asrilia pada hari Sabtu, tanggal 27 Juli 2019.

Rapat Pleno Konferda PDI Perjuangan Jawa Barat dipimpin oleh Jeje Wiradinata, Maman Yudia dan Karna Sobahi. Mereka ialah tiga Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) dari tiga kabupaten dengan perolehan terbesar suara di Jawa Barat yakni Pangandaran, Subang, dan Majalengka. Rapat turut dihadiri sejumlah pengurus Dewan Pimpinan Pusat (DPP) yakni Sekjen Hasto Kristiyanto,Wasekjen PDI-P Utut Adianto, dan tiga Ketua DPP PDI-P yakni Andreas Hugo Pareira, Nusyirwan Sudjono, dan Sukur Nababan

Rekomendasi diberikan kepada Bung Ono Surono sebagai Ketua, Bung Ir Ketut Sustiawan sebagai Sekretaris dan Teh Ineu Purwadewi sebagai Bendahara. Mereka bertiga bersama beberapa orang formatur menyusun komposisi lengkap DPD PDI Perjuangan Jawa Barat beserta Badan-badannya. Kepengurusan ini dilantik oleh DPP PDI Perjuangan pada hari itu juga menggantikan kepengurusan Pak Tubagus Hasanuddin dkk.

Tugas DPD PDI Perjuangan yang baru tidakah ringan setelah Partai kalah dalam Pilgub, Pileg dan Pilpres di tingkat Jawa Barat. Ada keharuan waktu melepas Pak Tb. Bagaimanapun saya dkk sempat menampingi beliau selama masa kampanye dan saya pun sempat berkampanye untuk Hasanah (Hasanuddin-Anton Charliyan Amanah) di RRI Badung. Yang paling mengharu biru tentu saja saat debat calon di Kampus UI Depok. Ketika itu ada paslon yang memancing emosi sehingga suasana sempat rusuh dan debatpun ditutup. KPUD Jabar dianggap lalai. 

 


 

KSB (Ketua Sekretaris Bendahara) DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat sangat saya kenal baik. Bung Ono saya kenal sejak saya menjadi anggota DPRD Jawa Barat dapil Cirebon-Indramayu. Dukungan dan bantuan Bung Ono memungkinkan saya terpilih bersama Haji Iwan Fauzi dan Bu Selly Gantina. Adapun Bung Ketut saya kenal sejak tahun 1992. Beliau dan saya sama sama menjadi anggota legislatif di Bandung. Bedanya bung Ketut di kota sayadi Kabupaten. Kamipun sama sama menjadi Sekretaris DPC. Sedangkan Bu Ineu saya kenal sejak muda karena ayahnya (Yusep Purwasuganda, wakil walikota Bandung) adalah teman seperjuangan. Pada saat dilantik, Bung Ono dan Bung Ketut adalah anggota DPR RI dan Bu Ineu adalah Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat.

Pengurus DPD PDI Perjuangan Jawa Barat yang lainnya juga yang saya kenal baik. Bung Abdy Yuhana, Bung Bedi Budiman, Bung Gatot Tjahyono, Bung Mathius Tandiontong , Bung Memo, Teh Nia, dr Rinie Chaerunisa , Bung Tom Maskun, Bung Apriyanto Wijaya, Bung Edi Suripno, Bung Bambang Mujiarto, Teh Nia Purnakania  dll. Ada juga wajah baru seperti teh Sofia dan beberapa nama lainnya.

Susunan DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat yang baru dilantik Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto. Sekjen PDI-P Hasto Kristiyanto berharap kepengurusan partainya di Jawa Barat mampu meningkatkan perolehan suara pada Pemilu 2019 dan memenangkan sejumlah Pilkada di sana. "Semoga susunan DPD PDI-P Jawa Barat periode 2019-2024 mampu mengemban amanah ini. Semua bekerja dengan sepenuh hati, mencintai Partai, dan menggalang dukungan rakyat dengan penuh semangat," ujar Hasto usai menghadiri Konferda DPD PDI-P Jawa Barat. Ia meminta seluruh jajaran kepengurusan DPD PDI-P Jawa Barat segera berkonsolidasi untuk memenangkan Pilkada serentak 2020 di sejumlah kabupaten dan kota di provinsi tersebut. Ia juga meminta struktur partai segera memetakan kekuatan untuk mempersiapkan strategi pemenangan PDI-P pada Pemilu 2024 di Jawa Barat.

Hasto mengatakan, beberapa isu yang bisa digunakan untuk menarik partisipasi masyarakat Jawa Barat dalam kegiatan partai ialah menjaga kelestarian sungai Citarum. Sebab, sungai Citarum membelah sebagian besar wilayah kabupaten dan kota di Jawa Barat. Baca juga: PDI-P Jabar Minta Partai Pecat Kader yang Ditangkap Tangan KPK Aktivitas bersih-bersih sungai Citarum diprediksi bakal menarik perhatian masyarakat Jawa Barat. "Partai harus memerhatikan pentingnya pengelolaan lingkungan, pentingnya pengembalian sungai Citarum yang bersih," lanjut Hasto.


Ajang Konferda menjadi sarana pertemuan dengan kawan-kawan lama seperti kang Rudi Harsa, kang Yadi dll.

 

 

Senin, 28 Februari 2022

Menjadi Ketua Partai Politik

 


Jika tanggal 4 Juli di AS diperingati sebagai hari kemerdekaan (independence day) dan di Indonesia diperingati sebagai hari lahirnya PNI (Partai Nasional Indonesia). Bagi saya dan kawan kawan tanggal tanggal 14 Juli juga perlu dikenang karena pada 14 Juli 2019 kami memulai babak baru dalam kehidupan kepartaian, khususnya di Kabupaten Bandung.

Pada hari itu, Sabtu, 14 Juli 2019, mulai pukul 09.00, PDI Perjuangan Kabupaten Bandung melaksanaan Konferensi Cabang (Konfercab) di Hotel Horison. Sidang Konfercab dipimpin oleh Andreas Hugo Pareira dari DPP; Ketut Sustiawan, Abdy Yuhana dan Yadi Srimulyadi dari DPD Jawa Barat. Acara sidang adalah penyampaian Laporan Pertanggungjawaban dari Wewen Winarni (Ketua), Deky Hisyanto (Sekretaris), Nanang Farhan (Bendahara) dan pengurus DPC lainnya. Setelah LPJ diterima oleh para peserta Konfercab (yaitu para KSB PAC), acara dilanjutkan dengan pembacaan Rekomendasi DPP megenai nama-nama Ketua, Sekretaris dan Bendahara DPC PDI Perjuangan untuk periode 2019-2024.

Surat Rekomendasi DPP dibacakan oleh Andreas Hugo Pareira, salah seorang Ketua DPP. Dalam surat itu dinyatakan bahwa Dr. H. Harjoko Sangganagara M.Pd sebagai Ketua, Henhen Asep Suhendar sebagai Sekretaris dan Dentarsa Denni SE, sebagai Bendahara (KSB). Surat rekomendasi ditandatangani oleh Megawati Sukarnoputri selaku Ketua Umum dan Hasto Kristiyanto sebagai Sekretaris Jendral. Bagi saya pribadi ini adalah untuk kedua kalinya saya ditunjuk oleh Megawati menjadi pengurus partai. Surat pertama adalah penunjukan saya oleh beliau pada tahun 1997. Saat itu Sekjennya adalah Alexander Litaay. Jarak surat pertama dengan surat yang kedua adalah 22 tahun 🙂

KSB bersama tiga orang formatur (Ketua PAC Katapang, Ketua PAC Pamengpeuk dan Ketua PAC Nagrek) menyusun kepengurusan DPC secara lengkap yang akan dilantik pada saat itu juga.

Susunan Pengurus

Saat menyusun komposisi personal KIM (Kabinet Indonesia Maju), saya dengar Presiden Jokowi harus memilih sekitar 30 dari 300 orang yang telah didaftar. Memang tidak mudah. Saya saja membentuk struktur kepengurusan partai di tingkat kabupaten juga memerlukan musyawarah panjang untuk mufakat.

Sabtu, 14 Juli 2019, sekitar pukul 14. 00, bertempat di lantai 1 Hotel Horison Bandung, KSB (Ketua Sekretaris Bendahara) disertai tiga perwakilan Ketua PAC (Pengurus Anak Cabang) dari Katapang (Erwin) , Pamengpeuk (Dian) dan Nagrek (Asep ) menjadi formatur penyusunan DPC (Dewan Pengurus Cabang) PDI Perjuangan Kabupaten Bandung. Dari puluhan nama yang sudah disiapkan sekretaris dan para ketua PAC kami memilih 16 orang sebagai wakil ketua, wakil sekretaris dan wakil bendahara. Setelah bermusyawarah sekitar dua jam disaksikan oleh perwakilan DPP dan DPD, kami dapat menyepakati susunan DPC sebagai berikut :

Ketua : Harjoko Sangganagara 

Wakabid Kehormatan Partai : Wewen Winarni

Wakabid Kaderisasi dan Ideologi : Fatimah

Wakabid Organisasi : Achmad Mulyana

Wakabid Pemenangan Pemilu : Rudita Hartono

Wakabid Komunikasi Politik : Chrysencia Gita

Wakabid Polhukam : Nanang Parhan

Wakabid Maritim: Asep Muhammad

Wakabid Pembagunan Manusia dan Kebudayaan : Andri Kusnandar

Wakabid Ekonomi : Arief Gustamara

Wakabid Buruh Tani dan Nelayan : Agung Wisnu Umbara

Wakabid Perempuan dan Anak : Sri Wahyuni

Wakabid Pemuda dan Olahraga : Erwin Gunawan

Wakabid Pariwisata dan Ekonomi Kreatif : Juwita

Sekretaris : Hen Hen Asep Suhendar

Wakil Sekretaris Internal : A. Dwi Kuswantoro

Wakil Sekretaris Eksternal : Yulianti

Bendahara : Dentarsa Denni

Wakil Bendahara : M.Luthfi Hafiyyan

 

Susunan pengurus DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung ini dilantik oleh Bung Andreas Pareira pada hari itu juga disaksikan oleh DPD, PAC dan PR PDI Perjuangan. 

Susunan pengurus berjumlah 19 orang ini juga sudah ditetapkan melalui SK DPP PDI Perjuangan yang ditandatangani oleh Megawati Sukarnoputri / Ketua Umum dan Hasto Kristiyanto / Sekretaris Jenderal.

 

Kamis, 24 Februari 2022

Opa dan Oma

Setelah lebih dari tiga puluh tahun menikah, anak-anak kami mulai berumah tangga. Mbak Dea menikah dengan mas Sandy, orang Malang. Mas Sidiq menikah dengan Mbak Sherenita orang Jakarta, ayahnya orang Batak dan ibunya orang Jawa dari Pekalongan. Tinggal dik Praja, si bungsu, yang masih belum menikah. Aku sering mengatakan kepadanya, kalau mau menikah kami mendukung, tapi dia mengatakan belum ingin menikah dalam waktu dekat ini.

Tidak lama kemudian kami pun memiliki dua cucu perempuan yang cantik. Cucu yang pertama bernama Shasmaka, putri dari mas Sidiq dan mbak Sherenita. Yang kedua bernama Kanaya, putri dari mbak Dea dan mas Sandy. Shasmaka lahir di Jakarta dan Kanaya lahir di Yogyakarta. Dengan demikian aku menjadi seorang kakek dan Atikah, istriku, menjadi seorang nenek. Cucu-cucu kami memanggil aku Opa dan memanggil istriku Oma. Panggilan Opa Oma ini muncul dari keluarga istriku. Maklum keluarga istriku keluarga yang multi etnis bahkan multi bangsa  dan multi agama. Sebutan opa oma lebih bisa diterima oleh semua.

Bertemu Shasmaka


 

Beberapa bulan setelah mbak Dea melahirkan Kanaya, istriku berangkat ke Yogyakarta untuk waktu yang cukup lama. Kebetulan itu di bulan Ramadan. Jadi istriku sekaligus berlebaran di Yogyakarta. Untungnya mas Sidiq dan mbak Sherenta berlebaran ke Bandung. Itulah pertama kali aku bertemu dengan cucuku Shasmaka. Adapun istri dan anak bungsuku sudah bertemu dengan Shasmaka saat baru saja dilahirkan di Rumah Sakit.

Selama kami menikah, baru kali ini aku melewati hari Lebaran tanpa istriku di rumah. Karena itu kami sebisa-bisa memasak sendiri hidangan untuk lebaran. Untungnya bahan-bahan sudah disiapkan oleh istriku dan sebagian sudah diolah oleh teh Dedeh, yang sehari-hari membantu di rumah. Aku, mas Sidiq, dik Praja dan mbak Sherenita membuat ketupat, memasak opor ayam, dan membuat sambal goreng kentang. Hasilnya tidaklah mengecewakan.

Pada Hari Lebaran, kami pergi tanah lapang di salah satu kantor perhubungan laut milik Dinas Perhubungan Provinsi Jabar di Jalan Nasional yang menghubungkan Bandung dengan Sumedang. Jaraknya beberapa kilometer dari rumah. Kami menggunakan mobil milik keluarga mbak Sherenita. Shasmaka pun ikut bersama kami. Gadis kecil ini pun memakai baju lebaran yang indah dan kepalanya dihias dengan bando berpita.

Setiba di tanah lapang yang beraspal (tepatnya parkiran), kami menggelar sajadah dan ikut bertakbir  tasbih, tahmid dan tahlil bersama jamaah lainnya dari wilayah Cileunyi.  Setelah salat Id dua rakaat secara berjamaan kami mendengarkan khutbah Id dari khatib setempat. Setelah itu kami bersalam-salaman. Sebelum pulang kami berfoto bersama di tanah lapang.

Setiba di rumah kami menikmati hidangan lebaran yang kami masak bersama. Rasanya cukup enak. Setelah itu kami saling mengucapkan selamat lebaran dan bermaaf-maafan sekeluarga.

Keesokan harinya aku ikut mas Sidiq dan mbak Sherenita ke Jakarta bersama Shasmaka dengan menggunakan mobil pribadi. Dik Praja menunggu di rumah. Jalan tol Purbaleunyi dan Cikampek cukup lengang dan lancar. Shasmaka tertidur di pangkuanku.

Saat matahari tergelincir ke Barat, kami tiba di rumah Bu Sri Andini, besan kami. Hari itu keluarga besan mengadakan silaturahmi keluarga. Aku menyampaikan ucapan selamat lebaran dan tidak lama kemudian diantar mas Sidiq ke pool bus Primajasa di Tangerang Selatan. Dengan menggunakan bus Primajasa, aku kembali ke Bandung pada hari itu juga.

Bertemu Kanaya


 

Menjelang perayaan HUT Kemerdekaan RI, 17 Agustus 2019, mbak Dea dan mas Sandy berkunjung ke Bandung bersama Kanaya. Pada saat itulah aku bertemu dengan cucu keduaku. Mbak Dea berlibur agak lama di Bandung. Sekitar satu bulan. Menghabiskan cuti melahirkan. Kami merasa bahagia karena ada suara tangis dan tawa bayi di rumah. Biasanya kami hanya bertiga di rumah. Aku istriku dan anak bungsu. Jika dik Praja pergi, kami hanya berdua saja di rumah.

Alhamdulillah kami dikaruniai dua cucu perempuan yang cantik : Shasmaka dan Kanaya. Mereka sama-sama menarik hati. Rambut mereka juga sama-sama bergelombang. Kini aku seorang opa dan istriku menjadi oma.

 

Selasa, 22 Februari 2022

Test Drive Bandung-Malang

 


Ketika itu, pada  akhir tahun 2018, mbak Dea dan mas Sandy berlibur di Bandung. Ketika itu mereka berdua juga meluangkan waktu pergi ke dealer-dealer mobil di sekitar rumah untuk mencari mobil yang enak dipakai dan harganya terjangkau. Nampaknya mereka sepakat membeli mobil keluarga Daihatsu Sigra. Setelah itu mereka kembali ke Yogyakarta.

Pada tahun baru 2019, mas Sandy ke Bandung sendirian dan mengajak aku dan istriku ke dealer Daihatsu di Jalan Sukarno Hatta. Mas Sandy  membeli mobil yang telah dipesannya dan membayar secara cash sehingga mendapat korting atau discount yang lumayan. Mobil pun siap di depan gerai. Aku melakukan test drive di seputar gerai yang cukup luas. Akhirnya kami bertiga pulang ke rumah dengan mobil baru yang disupiri mas Sandy.

Setelah itu mas Sandy kembali ke Yogya dengan menggunakan bus. Mobil baru disimpan di garasi rumah kami menunggu kiriman STNK dan plat nomor polisi yang hitam.

Berselang seminggu, STNK dan plat nomor polisi pun datang. Kini tugasku mengantar mobil tersebut ke Yogyakarta.

Sehari sebelum keberangkatanku ke Yogya, aku mencoba mobil baru tersebut. Suatu pagi bersama anakku yang bungsu, Praja, aku meninggalkan rumah dan  melakukan test drive. Aku meluncur memasuki jalan tol Padaleunyi. Tujuanku adalah  ke Jalan Tol Soroja dan kemudian ke kota Soreang.  Aku mencoba akrab dengan peralatan navigasi yang canggih. Tiap putaran mesin terindikasi di layar pada dash board. Jika putaran pas, muncul lampu warna hijau dengan tulisan eco, jika putaran mesin  tidak pas muncul warna merah. Tulisan eco berarti penggunaan bbm efisien, jika muncul warna merah berarti penggunaan bbm tidak efisien. Aku pun langsung akrab dengan kendaraan ini. Hanya tenaganya memang tidak terlalu kuat karena mesinnya  kecil.

Setelah melakukan test drive sekitar 30 menit, kamipun sampai di Soreang dan mejeng di depan gedung budaya di depan kantor Bupati beberapa saat untuk kemudian kembali ke rumah dengan menggunakan jalan yang sama. Alhamdulillah semuanya berjalan lancar. Aku siap membawa mobil ini besok.

Menuju Yogyakarta.


 

Keesokan harinya, aku berdua dengan istriku, Atikah, meninggalkan rumah. Kami akan mencoba mobil baru hingga sampai ke Yogyakarta. BBM full tank  karena sudah diisi penuh oleh mas Sandy.  Kami mengambil rute melalui Rancaekek, Cicalengka, Nagreg, Limbangan, Malangbong, Ciawi dan beristirahat di Masjid Agung Ciamis untuk melaksanakan salat dzuhur, istirahat dan makan siang berupa bekal yang kami bawa dari rumah.

Dari Ciamis kami melewati kota Banjar dan memasuki wilayah Cilacap di Provinsi Jawa Tengah. Saat ashar kami tiba di Karangpucung dan bersistirahat sambil melaksanakan salat ashar di sebuah masjid SPBU. SPBU nya baru, bagus dengan tempat parkir yang luas dan nyaman. Kebetulan saat itu hujan turun dengan derasnya. Kami pun mengaso di dalam masjid sampai hujan reda.

Saat hujan reda kami melanjutkan perjalanan. Ketika tiba di Kebumen hari mulai senja. Kami berbelok ke kanan melewati perkampungan dan pesawahan menuju Jalan Daendels di pantai selatan.

Saat tiba di Jalan Daendels yang menghubungkan Kebumen dengan Purworejo, hari masih terang. Beruntung kami masih bisa menikmati pemandangan. Jalan jalur selatan yang bagus mulus dan lebar. Di kiri kanan ada penjual buah-buahan seperti jambu mutiara dan lain-lain. Di sebelah kanan kadang-kadang nampak pantai selatan di kejauhan. Menjelang maghrib kami sampai di jembatan di atas sungai Bogowonto yang menjadi perbatasan antara Provinsi Jawa Tengah dan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Aku terus melaju di jalur selatan sampai mendekati bandara internasional Yogyakarta, barulah aku berbelok ke kiri, ke jalan nasional Purworejo-Wates.

Sekitar pukul 22.00 kami tiba di rumah mbak Dea di Yogyakarta. mbak Dea sendirian di rumah, karena mas Sandy sudah pergi ke Malang. Mbak Dea pun melihat mobil baru yang dibeli mas Sandy dengan perasaan takjub. Mobil ini memang dibeli atas nama mbak Dea.

Menuju Malang

Keesokan harinya, usai waktu salat maghrib, aku, istriku dan mbak Dea meninggalkan Yogyakarta menuju Malang. Dari rumah aku menyupiri mobil hingga ke kota. Kemudian mbak Dea mencoba mengemudi saat meninggalkan kota menuju Solo. Meski sedang hamil, mbak Dea dengan trampil mengemudikan kendaraan. Pertama menuju Klaten dan kemudian lanjut sampai di Kota Solo. Jaraknya sekitar 60 km.

Dari Solo aku kembali mengemudikan kendaraan. Aku memilih mencoba menggunakan jalan tol yang baru saja dibuka. Untuk mencapainya pintu masuk tol pertama-tama  aku melewati jalan , Jl. Slamet Riyadi yang ramai. Ketika itu di sekitar waktu tahun baru Imlek. Balaikota dihiasi lampion-lampion besar berwarna merah.  Kami pun melewati alun-alun kraton Surakarta. Pasar Kliwon nampak dihiasi lampu warna-warni. Kami terus menuju Jurug, melewati Sungai Bengawan Solo. Ketika tiba di Palur, kami berbelok ke kiri memasuki jalan tol Trans Java yang menghubungkan Jakarta dengan Surabaya.

Jalan Tol Trans Jawa

Ini pertama kali aku mecoba berkendara di jalan tol Trans Jawa. Jalannya bagus. Setiap sekitar 20 km tersedia rest area di sebelah kiri dan kanan sekaligus. Akupun mencoba berhenti di rest area kedua untuk melaksanakan salat isya. Mushola nya bersih dengan taman yang indah. Banyak orang berhenti di rest area ini.

Setelah berhenti sejenak, aku melanjutkan perjalanan. Kota pertama yang kulewati adalah Sragen, lalu Ngawi. Ketika berada di Caruban, aku berhenti lagi untuk rehat kopi. Demikian aku mencoba berhenti di setiap rest area. Menjelang pagi aku sudah sampai di Mojokerto dan tidak lama kemudian tiba di Sidoarjo. Di sini aku berhenti untuk salat subuh dan minum kopi panas.

Perjalanan kulanjutkan sampai Pandaan. Jalan tol pun berakhir. Aku kemudian memasuki jalan arteri ke Lawang, Singosari dan sampailah aku di kota Malang pada pagi hari. Mas Sandy sudah datang untuk membuka guest house. Kami pun mandi, sarapan nasi krawu kegemaranku dan kemudian beristirahat.

Resepsi Pernikahan Mas Tony

Hari ini hari resepsi pernikahan mas Tony.Sekitar pukul 16.00 kami meninggalkan penginapan menuju ke  Hotel Sahid Montana  di Jalan Kahuripan yang tidak begitu jauh dari guest house kami di Jalan Coklat. Dari Jalan Coklat kami memasuki  Jl. Mayjen  Pandjaitan , Jl. Brigjen Slamet Riyadi dan berbelok ke kiri ke Jl. Kahuripan. Sejak kami berangkat dari guest house hingga saat kami tiba di parkiran hotel, hujan turun dengan deras. 


 

Acara resepsi dimulai sekitar pukul 19.00. Kami menjadi bagian dari keluarga H. Rachmad mengiringi kedatangan mas Tony ke pelaminan. Mas Tony, anak pertama H. Rachmad, seorang doktor perikanan dari sebuah universitas di Mexico. Kini mas Tony menjadi pengajar di UGM dan mendapat jodoh di universitas yang sama. Istri mas Tony juga penduduk kota Malang. Resepsi pernikahan mas Tony dihadiri tamu asing, sepasang muda-mudi dari Australia, yang merupakan kenalan lama  keluarga.

Saat resepsi pernikahan berlangsung aku menerima kunjungan mas Bido Swasono, seorang ahli permesinan yang juga politisi kota Malang. Kami mengobrol sambil minum kopi di tepi kolam. Tidak lama kemudian, datang kawan sekolahku saat di Ngawi, mas Parman, yang kini menjadi pejabat di Universitas Negeri Malang. Maka kami ngobrol bertiga mengenasi situasi lokal di kota Malang. Obrolan berakhir menjelang acara resepsi berakhir.

Dari hotel kami kembali ke guest house untuk beristirahat. Ibu Rachmad membawakan banyak makanan untuk kami. 


 

Kembali ke Yogyakarta

Keesokan harinya, pada sore hari kami meninggalkan guest house menuju kediaman Bpk. H. Rachmad, besan kami, di Jl. Nes, Lowakwaru. Kami berkunjung sekaligus berpamitan hendak mengantar mbak Dea dan mas Sandy kembali ke Yogyakarta dan kami sendiri pun hendak kembali ke Bandung.

Sekitar pukul 21.00, kami meninggalkan rumah besan dan meninggalkan kota Malang. Kali ini mas Sandy yang mengemudi. Mas Sandy melalui jalan-jalan yang tidak kukenal. Yang kutahu kami tiba di kota Jombang sekitar tengah malam dan kemudian memasuki jalan tol Trans Jawa. Saat tiba di Ngawi atau Sragen, mas Sandy berhenti untuk beristirahat. Aku kemudian yang mengambil alih kemudi.

Menjelang fajar kami memasuki Solo yang sepi dan nampak berkabut. Aku ke luar ke arah bandara Adisumarmo kemudian menuju Kartasura. Dari Kartasura kami menuju Klaten.  Pada pagi hari kami tiba di Yogyakarta.

Sore harinya, aku dan istriku kembali ke Bandung. Namun sebelum itu kami makan malam dulu di sebuah restoran di Kota Gede. Dari sana aku dan istrikut diantar ke Terminal Bus Giwangan untuk selanjutnya menggunakan bus ke Bandung.



 

 

 

 

 

 

 

Minggu, 20 Februari 2022

Berkendara ke Yogyakarta


Mbak Dea dan mas Sandy sama-sama mengajar di Fakultas Geografi UGM. Mbak Dea mengajajar di Departemen Geografi Pembangunan, mas Sandy di departemen yang lain. Karena itu mereka mencari tempat tinggal di dekat kampus. Mereka mendapat kontrakan rumah di sebuah komplek kecil di Condong Catur, masuk wilayah Kabupaten Sleman. Suasana di sekitar rumah terasa khas Yogya tapi aku merasakan suasana seperti di daerah Kuta Bali.

Suatu saat di bulan Oktober tahun 2018 karena mas Sandy harus bertugas di luar kota untuk waktu yang agak lama, aku beserta istriku dan anakku yang bungsu berangkat ke Yogyakarta untuk menemani mbak Dea. Kami berangkat dari Bandung sekitar pukul 08.00 pagi hari dengan menggunakan mobil Taruna kesayanganku. Aku sendiri yang menyetir. Rutenya Nagreg Limbangan Malangbong Tasikmalaya Ciamis. Saat waktu salat Jumat kami tiba di masjid agung Malangbong, Garut, dan salat di sana. Usai salat kami makan siang di mobil yang kuparkir di alun-alun Malangbong. Bekal kami bawa dari rumah. Menjelang ashar kami tiba di masjid Agung Ciamis untuk salat dan beristirahat.

Dari Ciamis kami melanjutkan perjalanan melewati kota Banjar dan memasuki wilayah Cilacap di perbatasan Jawa Tengah. Memasuki wilayah Sidareja hingga Majenang, kami melewati pemukiman, kota kota kecil dan pesawahan yang indah. Menjelang maghrib kami  memasuki wilayah Banyumas  melewati Wangon, Buntu, Gombong  danKarangayar  dan kami pun beristirahat di sebuah rest area di wilayah Kebumen.  Setelah itu aku berkendara non stop melewati Kutoarjo, Purworejo, Wates dan sekitar pukul 09.00 memasuki kota Yogyakarta.

Setelah berbelok ke kiri dari ring road  kami sampai di Jalan Kali Urang dan berbelok ke kanan di dekat Gardu Induk PLN lalu sampailah kami di nama-nama jalan bernuansa geomoetrik  dan sampailah kami di rumah mbak Dea. Setelah mandi kami makan bersama. Masakan a la Jepang buatan mbak Dea yang disajikan panas-panas sungguh nikmat. Setelah mengobrol sejenak waktu, kami pun beristirahat.

Selama di Yogyakarta, kami menyempatkan berjalan-jalan di seputar ke kawasan Malioboro dan kawasan kraton, dan makan malam di sebuah rumah makan Jawa yang sedang trend di Jalan Kaliurang. Aku sendiri menyempatkan salat jumat di sebuah masjid sekitar rumah. Suasana perkampungan Jawa masih sangat terasa pada suasana pergaulan di luar dan dalam masjid.

Saat kembali ke Bandung, kami menggunakan jalan yang sama seperti pada saat berangkat. Kami berangkat pagi hari dari Yogyakarta dan berhenti sejenak di Ambar Ketawang untuk membeli oleh-oleh. Setelah itu kami beristirahat di alun-alun Jatilawang dan salat di masjid agung. Istri dan anakku menyempatkan mencari bakso di siang yang panas terik itu. Aku sendiri lebih suka bersantai di serambi masjid sambil melihat lalu lintas di jalan nasional dan aktivitas warga di alun-alun.

Sekitar waktu maghrib kami sudah sampai di tanjakan Gentong di wilayah Tasikmalaya dan beberapa jam kemudian kami sudah sampai di lingkar Nagreg. Menjelang tengah malam kami telah tiba di rumah dengan selamat.