Jumat, 22 April 2016

Yellow Mountain (Huangshan)






13 Mei 2007. Setelah urusan di Beijing selesai saya  masih punya satu acara lagi  di Shanghai. Karena waktunya berselang satu dua hari, aku dan rombongan keesokan harinya  mengadakan perjalanan dari Beijing menuju Shanghai. Itu artinya dari  North China (Cina Utara)  menuju Central China (Cina Tengah)  melalu beberapa provinsi.

Pagi-pagi benar bus telah bersiap di depan hotel dan kamipun memulai perjalanan darat memasuki kota-kota dan pedesaan China. Perjalanan dari Beijing rasanya sangat panjang dan lama mungkin kurang lebih mencapai 500 kilo meter. Bus menyusuri jalan tol dan jalan biasa menembus pepohonan bambu yang ditanam rapi, tepian sungai, desa-desa dengan rumah penduduk yang bagus dan rapi, pesawahan yang tidak terlalu subur, pegunungan, kabut tipis dan hutan. Sesekali kami berhenti untuk makan di restoran dengan menu dan bahan pangan lokal yang ditanam petani setempat. (Pemerintah China membagi tanah kepada semua penduduk dan mengharuskan para pengusaha setempat membeli produk para petani). Kami pun berhenti di galeri  yang memproduksi dan menjual batu mulia seperti jade (giok). Tidak lupa pula pemandu mengajak kami ke pusat pengobatan herbal untuk memperoleh pelayanan gratis merendam kaki di air hangat yang telah diberi ramuan dari tumbuh-tumbuhan. Tentu saja kami membeli produk mereka barang satu atau dua bungkus.

Seingatku destinasi  yang pertama kami kunjungi adalah Huang Shan atau Yellow Mountain. Huang Shan merupakan tempat wisata paling populer di Provinsi Anhui.  Terkenal sebagai pegunungan tercantik di China, bukit-bukitnya yang selalu berkabut mendapat pujian dari para pelukis dan penyair selama ratusan tahun.  Meskipun puncak tertingginya hanya sekitar 6.200 ft (1.900 m) tetapi 70 bukit-bukit granitnya spektakuler untuk dipanjat dan jalan setapaknya sangat terjal dan menantang. Karena waktu kami tidak banyak, alih-alih menapaki jalan setapak yang sudah dibangun permanen, untuk mencapai puncaknya kami menggunakan cable car dari salah satu pintu pendakian.  Melintasi perbukitan karang kami seperti melayang di awan menyaksikan pemandangan jurang-jurang dengan beragam tanaman setempat. Menyaksikan itu aku menahan nafas dan teringat perbukitan marmer di Cipatat yang bukit-bukitnya kian melenyap digusur para pengusaha.  

Setelah turun di shelter bukan berarti sudah sampai di puncak. Kami harus berjalan di jalan setapak yang dibuat permanen sejauh beberapa kilometer sambil menyaksikan vegetasi pegunungan seperti pelbagai macam cemara dan bunga-bungaan yang menawan.  Untuk itu kami harus melewati Huan Ke Song (Welcoming Guest Pine) atau Pinus Penyambut Tamu, yang konon sudah berusia ribuan tahun menyambut tamu yang datang. Waktu kami  tidak lama karena sebelum malam tiba sudah harus tiba di puncak.   Untunglah meski dengan nafas terengah-engah kami pun sampai di puncak. Hebatnya di puncak Huang Shan tersedia akomodasi seperti di Puncak. Hotel-hotel, restoran, toko-toko dan fasilitas lainnya. Penerangan listrik menambah keindahan malam yang dingin. Aku lupa  kami menginap di Lianhua Feng  (Lotus Flower Peak) di ketinggian 6.145 kaki atau Guangming Ding (Brighr Summit Peak) di ketinggiana  6.035 kaki. Kalau nama hotel tempat kami menginap bisa kupastikan bernama Shilin. Fasilitas hotelnya tidak begitu bagus tapi memiliki pemanas ruangan sehingga bisa menjadi tempat istirahat malam itu.

14 Mei 2007. Pukul 03.00 dini hari wake up call membangunkanku. Beberapa orang termasuk diriku bergegas meninggalkan kamar dan dengan berbekal lampu senter dari hotel menyusuri pebukitan menuju Qingliang Tai (Refreshing Terrace) untuk menyaksikan matahari terbit bersama para wisatawan domestik maupun mancanegara.  Ini adalah perjalanan yang terberat kurasakan karena jalan ke menuju puncak sangat terjal, sempit, mendaki, berliku dan berkabut dengan suhu mendekati 0 o  . Namun melihat beberapa wisatawan lokal yang sudah berusia lanjut berjalan dengan santai membuat semangatku meningkat. Belum lagi tetumbuhan dengan aneka bebungaan khas daratan Cina yang indah menambah keinginanku mencapai puncai bertambah. Dengan nafas tersengal-sengal karena kadar oksigen yang menipis akupun dapat menyelesaikan pendakian. Inilah klimaks perjalanan ke Huang Shan atau Gunung Kuning yaitu menyaksikan matarahari terbit. Memang sangat indah. Berbeda dengan melihat matahari terbit di Gunung Bromo yang berada di padang pasir, matahari terbit di Huang Shan muncul di antara banyak bukit yang bersaput awan tipis.

Setelah  kembali ke hotel aku membeli sebuah CD yang memviasualisasikan pemandangan Huang Shan sebagai kenang-kenangan.  Huang Shan memang  gunung yang indah. Tidak mengherankan UNESCO menjadikannya sebagai World Heritage (Warisan Dunia). Hal itu yang menambah daya tarik Huang Shan, belum lagi ada sebuah pernyataan Deng Xiao Ping di sebuah baliho di tempat parkir yang menyatakan bahwa mereka yang belum mendaki Huang Shan belum mengetahui Cina yang sebenarnya.

Rabu, 24 Februari 2016

Beijing dan Tembok Besar




Pada suatu hari di bulan Mei 2007 staf di kantor menelponku dan memberi informasi bahwa aku diminta berangkat bersama Adi Gunawan ke Tiongkok untuk mendampingi pemerintah provinsi Jawa Barat yang akan mengikuti China International Exhibition 2007. Rombongan dipimpin Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Barat Lex Laksamana dan Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat. Rombongan terdiri dari Kepala Dinas Pertambangan dan jajarannya disertai dengan eksekutif, legislatif  dan perguruan tinggi di kabupaten Garut dan Tasikmalaya. Dari kalangan pengusaha ada beberapa pengusaha Bandung  dan Gatot Tjahjono dari KADIN.  Sayangnya karena sesuatu hal aku tidak bisa berangkat bersama rombongan melainkan menyusul sendiri belakangan.  

Seingatku aku akhirnya berangkat malam hari dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta. Di pesawat aku duduk di samping Wakil Gubernur Sulawesi Barat yang ternyata juga berangkat ke China. Rupanya pengatur perjalanan telah mengaturnya. Dalam perjalanan  Pak Wagub bercerita bahwa dulu pernah berdinas di Telkom di Bandung bahkan pernah mendaftar menjadi anggota PDI Perjuangan dan memiliki KTA (Kartu Tanda Anggota).  Aku pun merasa memiliki teman dekat sehingga perjalanan terasa menyenangkan.

Perjalanan ke Beijing berlangsung sekitar enam  jam. Saat malam berakhir pesawat sudah berada di atas kota  Beijing yang merupakan kota ketiga terbesar di dunia. Cahaya matahari tidak begitu terang karena kota diselimuti kabut. Samar-samar bandara yang luas dan modern nampak di kejauhan. Hari masih pagi saat kami tiba di bandara.   Keriuhan bandara segera terasa. Para penumpang yang antri di bagian imigrasi dan bea cukai nampak mengular dan panjang. Kebanyakan adalah penumpang berkulit putih. Kebetulan saat itu Beijing sedang bersiap menghadapi Olympiade. Stadion Sarang Burung yang menjadi venue  utama olympiade bisa kulihat selintas saat pesawat hendak mendarat. 

Saat keluar bandara seorang pemandu sudah menjemput kami. Dengan menggunakan minibus dia membawa kami meluncur memasuki kota Beijing. Kami pun langsung masuk ke keramaian lalu lintas di jalan raya yang memiliki banyak jalur sehingga nampak lebih luas dari jalan tol di Indonesia .  Bagiku Beijing nampak serba berskala besar. Akupun menikmati pemandangan pagi hari di kota yang memiliki penduduk lebih dari sepuluh juta  ini.

Di Beijing pengendara sepeda motor dilarang memasuki kota. Di jalan hanya ada kendaraan roda empat dan sepeda (kereta angin). Sepeda bersliweran di kawasan perdagangan maupun kawasan perumahan.  Menurut cerita kehilangan sepeda  merupakan hal yang sudah biasa. Penggunaan sepeda diharapkan mengurangi polusi udara. Pemerintah Cina nampaknya kewalahan mengatasi polusi udara  yang berasal dari emisi gas buangan kendaraan serta asap dari pabrik maupun debu dari pembangunan gedung-gedung. Tadinya kupikir kabut di Beijing berasal dari udara yang dingin tapi ternyata  dari debu maupun asap yang memenuhi udara.  Dengan sendirinya jarak pandang pun menjadi terbatas.

Meski pemerintah kota Beijing belum mampu mengatasi  polusi udara tapi di sisi lain keliahatannya mereka sudah mampu mengatasi pencemaran air sungai. Sungai -sungai di Beijing nampak bersih dan jernih dengan tanggul dan tepian sungai yang ditata dengan baik dengan taman-taman yang nyaman sehingga menjadi tempat pertemuan dan tempat bersantai warga kota. Saat aku melintas dari bandara menuju hotel, aku melihat banyak orang berusia lanjut yang berjalan-jalan atau duduk di tepian sungai. Aku pun  melihat ada yang sedang memancing. Saat ikan didapat mereka melepas kembali ke sungai. Ada pula yang melepas pakaian dan berenang di sungai  yang mengalir jernih.

Di Beijing masih tersisa bangunan-bangunan perumahan untuk penduduk yang dibangun oleh pemerintah. Bentuknya lebih menyerupai asrama . Ukurannya  lebih kecil dari rumah T 21 yang dibuat oleh Perumnas.  Kamar  mandi dan WC dibuat kolektif. Kini pemerintah Cina sudah membangun perumahan bagi warga berbentuk rumah susun atau apartemen yang disediakan bagi penduduk berdasarkan strata sosialnya.
Di Beijing kami berkesempatan jalan-jalan ke Lapangan Tian An Men (Lapangan Merah) dengan foto Mao Ze Dong berukuran besar di gerbang Istana. Di dekat situ ada musoleum Mao dan kantor pemerintatahan. Pada malam hari lampu-lampu  di sekitar Lapangan Merah sangat indah. Di  Beijing kami mampir ke sebuah pusat pengobatan herbal di sebrang Lapangan Merah yang mempromosikan pengobatan  dengan tujuk jarum, pijat dan ramuan alamiah.

Bukan hanya mengunjungi Lapangan Tian Anmen (Pintu Surga Yang Damai) kamipun pergi ke luar kota Beijing menuju Tembok Besar (Great Wall) yang mulai dibangun  tahun  210 sebelum Masehi oleh Kaisar Dinasti Chin , Shih Huang Ti untuk menahan serangan bangsa Mongol dari Utara. Panjang Tembok Besar  dari barat ke timur sekitar 2.414 km  mungkin hampir sama dengan jarak penerbangan dari Jakarta ke Beijing. Aku mencoba mendaki tangga dari batu untuk mencapai bagian atas tembok yang  didirikan di atas bukit dan merasa takjub akan karya mereka itu. Sebagai kenang-kenangan ada piagam dari terbuat dari kuningan yang ditulisi namaku, menunjukkan bahwa aku pernah berkunjung ke sana pada tanggal 12 Mei 2007. Tentu saja aku harus membayar beberapa yuan (renmimbi) untuk mendapatkannya.
,

Berikutnya insya Allah akan kuceritakan kunjunganku ke Hangzhou, Huangshan, Shanghai.



Rabu, 06 Agustus 2014

Bengkulu antara Rafflesia Arnoldi dan Jejak Bung Karno







Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di Indonesia. investasi baik berupa PMA (penanaman modal asing) dan PMDN (penanaman modal dalam negri) masuk setiap tahunnya. Sentra-sentra industri dan perdagangan baru muncul di mana-mana. Sayangnya infrastruktur selalu tertinggal di belakang. Baik legislatif maupun eksekutif selalu mencari jalan agar ketertinggalan itu bisa diatasi antara lain dengan membuat jalan baru. Cara mendanainya dengan pelbagai skema. Misalnya dengan road fund yaitu menyediakan dana khusus bagi pembangunan jalan maupun   pendanaan pembangunan multi years, cara mendanai suatu proyek dalam beberapa tahun anggaran.  Persoalannya adalah, pemerintahan daerah belum memiliki pengalaman mengenai skema pembiayaan semacam ini sehingga perlu melihat pengalaman daerah lain, kerena itu kami ke Bengkulu--yang menurut info dari staf—memiliki pengalaman soal itu. Pemerintah provinsi Bengkulu memang sedang membangun jalan di sepanjang pantai barat yang berhadapan dengan Samudra Indonesia.  jalan ini memang akan sangat bermanfaat untuk menghidupkan perekonomian sekaligus pariwisata.
Bengkulu memiliki alam yang khas karena  berbatasan langsung dengan Samudra Indonesia dan dilewati Bukit Barisan. Bengkulu memiliki bunga sekedai yang diberi nama Rafflesia Arnoldi, bunga khas Bengkulu yang merupakan bunga dengan kelopak terbesar dan paling spektakuler  di dunia—nama  Raflesia diambil dari nama Thomas Stamford Raffles, Gubernur Inggris yang pernah bertugas di Bengkulu tahun 1818.
Jejak Raffles di Bengkulu bukan hanya diabadikan dalam Rafflesia Arnoldi, tapi juga nampak jelas pada peninggalannya yaitu Benteng Fort Marlborough, benteng Inggris terbesar kedua di Asia Pasifik, setelah benteng di India. Selain membangun benteng untuk kepentingan pejajahan Inggris, Raffles melakukan penelitian flora dan fauna dengan menyusuri hutan di pedalaman Sumatra.  Sebagai catatan, sebelum diajajah Inggris tahun 1685-1824, Bengkulu merupakan wilayah kekuasaan Kerajaan Banten.
Jejak sejarah di Bengkulu tidak melulu berkaitan dengan Raffles, tapi juga berkaitan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro melawan penjajahan Belanda. Salah seorang pengikutnya bernama Sentot Alibasya Prawirodirjo dibuang ke Bengkulu hingga wafat dan dimakamkan di sana. Bukan hanya Kiai Sentot,  belakangan Ir Sukarno  juga diasingkan Belanda ke Bengkulu pada tahun 1938-1942 setelah sebelumnya diasingkan di Ende.
Ketika berada dalam pembuangan di Bengkulu Ir Sukarno yang lebih dikenal dengan Bung Karno melakukan pelbagai kegiatan yang masih bisa ditelusuri hingga kini. Di rumah pengasingan Bung Karno masih tersimpan banyak buku naskah drama yang ditulisnya untuk bahan pentas kelompok sandiwara yang disutradarainya, di mana Bung Karno sendiri juga berperan sebagai aktor. Selain itu Bung Karno juga merancang sebuah masjid yang hingga kini masih berdiri megah di pusat kota Bengkulu. Bung Karno juga tercatat sebagai salah seorang ketua Muhammadiyah Bengkulu. Di Bengkulu pula Bung Karno menikah dengan Fatmawati, setelah sebelumnya menikah dengan Utari anak Cokroaminoto dan Inggit Garnasih. Rumah Bung Karno dan Rumah Fatmawati kini dijadikan museum










Senin, 04 Agustus 2014

Pulau Penyengat, Raja Ali Haji & Gurindam 12






Pulau Penyengat
Antara tahun 2004-2009 adalah masa di mana aku agak sering berkunjung ke Pulau Batam. Setidaknya tiga kali aku ke sana dengan teman-teman dan agenda yang berbeda. Batam dulunya adalah bagian dari Provinsi Riau, kemudian menjadi bagian dari Provinsi Kepulauan Riau. Sungguhpun aktivitas ekonomi terpusat di Batam, tapi ibukota Provinsi Kepulauan Riau adalah Tanjung Pinang.

Provinsi Kepulauan Riau yang merupakan Provinsi ke 32 di Indonesia berbatasan dengan pelbagai negara : Vietanam, Kamboja, Malaysia dan Singapura. wilayah  Kepulauan Riau terdiri dari 4 kabupaten dan 2 kota, 47 kecamatan serta 274 kelurahan/desa dengan jumlah 2.408 pulau besar dan kecil yang 30% belum bernama dan berpenduduk. Adapun luas wilayahnya sebesar 252.601 km², sekitar 95% merupakan lautan dan hanya sekitar 5% daratan. 

Pada kunjungan yang pertama sejak Batam menjadi bagian Provinsi Kepulauan Riau, aku mengajak beberapa teman untuk menyebrang ke Tanjung Pinang untuk kemudian ke Pulau Penyengat. Seingatku yang berangkat keesokan harinya dengan menggunakan ferry dari Sekupang adalah : Rahadi Zakaria, Achmad Ruhiyat, Asep Saefulah Danu, Taqiyudin dan beberapa teman lain. (Rahadi- seorang penyair sekaligus wartawan kini menjadi anggota parlemen, Achmad Ruhiyat menjadi wakil walikota Bogor sebelum periode Arya Bima).

Menjelang zuhur kami tiba di pelabuhan Tanjung Pinang dan dengan menggunakan perahu motor tempel kami bergegas menyebrang ke Pulau Penyengat atau Pulau Penyengat Inderasakti. Pulau ini berukuran kurang lebih 2.500 meter x 750 dan merupakan salah satu obyek wisata di Kepulauan Riau. Obyek terpenting tentu saja adalah makam pahlawan nasional Raja Ali Haji yang lebih terkenal sebagai sastrawan yang menulis Gurindam 12.

Kami pun berkeliling dengan menggunakan becak bermotor, mengunjungi Masjid Raya Sultan Riau yang terbuat dari putih telur, makam-makam para raja, makam dari pahlawan nasional Raja Ali Haji, kompleks Istana Kantor dan benteng pertahanan di Bukit Kursi. Pulau Penyengat dan komplek istana di Pulau Penyengat telah dicalonkan ke UNESCO untuk dijadikan salah satu Situs Warisan Dunia

Gurindam 12

Sebuah makam khusus yang dibangun untuk Raja Ali Haji. Karya beliau berupa puisi yang dikenal sebagai Gurindam 12 ditulis pada lempengan batu marmer dan ditempelkan pada dinding makam. gurindam adalah sebuah puisi yang ditulis Raja Ali Haji sebagai mas kawin yang diberikan kepada Engku Puteri  Hamidah.
setelah berfoto di kompleks makam, kamipun masing-masing membeli satu atau dua buku Gurindam 12 dan membacanya sepanjang pelayaran pulang dari Bintan menuju Batam. Berlayar di antara pulau-pulau di laut biri ditiup angin segar dan dinaungi langit jernih berawan putih, kami masing-masing asyik masyuk membaca gurindam. Dengarkanlah kawan  sedikit bait-baik daripadanya :

“barang siapa mengenal Allah/suruh dan tegahnya tiada ia menyalah/barang siapa mengenal diri/maka telah mengenal akan Tuhan yang bahri/barang siapa mengenal dunia/tahulah ia barang yang terpedaya” dst.


Menjelang malam hari kami tiba di penginapan dengan perasaan bahagia, seolah mendapatkan harta karun yang sangat berharga.

Minggu, 03 Agustus 2014

Shenzen pusat pertumbuhan baru di Cina



“Shenzhen, covering an area of 1984.69 square meters, is east to the Daya and Dapeng Bay, west to Pearl River, north to Dongguan and Huizhou and south to Hong Kong. It consists of 6 districts: Luohun, Futian, Nanshan, Yantian,Bao’an and Longgang, of which the last two are not located in the Special Zone.Azalea is the the municipal flower of Shenzhen. In the city there are skyscrapers everywhere. There are fisherman wedding dance when fisherman hold weddings, dragon dance in the 2 nd day of Chinese New Year, dragon boat competition in Dragon Boat Festival” (chinese.com).

Berangkat dari Cengkareng dengan menggunakan pesawat GIA nomor  penerbangan GA 860 kelas Y dengan nomor kursi 41 K aku dkk tiba di Hong Kong tanggal 2 Desember 2005 pagi. Dennis Te tour coordinator dari One China Tour yang berkantor di Causeway Bay mengantar keliling HK sehari semalam. Dennis ternyata pandai berbahasa Indonesia karena lahir di Indonesia. Keesokan  paginya aku  menyebrang dengan menggunakan ferry ke pelabuhan  Shekou di Shenzen, China daratan. Harga tiketnya sekitar 150 yuan atau RMB (renmimbi).
Berbeda dengan ferry di tanah air, ferry di HK seperti pesawat terbang pelayanannya. Tertib bersih nyaman dan berkelas. Ada pramugari cantik  dengan seragam mirip tentara tampil dengan senyuman. Senyuman adalah sesuatu yang standar dijumpai dalam pelayanan publik di HK atau China. Beda dengan bayangan orang tentang sebuah negara Komunis, para pekerja di sektor publik selalu tersenyum dalam pelayanannya.
Pemandangan di laut sungguh indah. Bayangan HK dan China daratan nampak samar di kejauhan. Kapal-kapal dan ferry bersliweran. Di kejauhan jalan-jalan tol yang menghubungkan HK dan China daratan dipenuhi kendaraan. Ya HK dan Shenzen terhubung dengan banyak moda transportasi, ferry, mobil dan pesawat terbang. Meski HK secara resmi sudah kembali menjadi bagian dari China tapi HK masih seperti sebuah administrasi tersendiri. Keluar dari HK menuju wilayah China daratan  harus menunjukkan paspor. Mata uang HK masih dipertahankan dengan HK $ sementara China dengan yuan atau RMB. Penduduk HK hidup dengan standar ekonomi yang lebih tinggi. Ada anekdot, supir di HK bisa punya istri muda di China karena, karena penghasilan mereka yang tinggi. Merupakan kebanggaan perempuan China memiliki suami orang HK atau bahkan... orang Indonesia !
Tiba di Shekou port tengah hari, kami langsung menuju jantung kota Shenzen. Oh mama sayange... aku terperangah melihat pembangunan infrastrukur kota yang jauh meninggalkan kota Jakarta sekalipun. Bangunan-bangunan berlomba menggapai langit biru. Geliat kehidupan ekonomi nampak secara kasat mata dari jendela bus yang kutumpangi. Orang China yang hidup dalam negri tirai bambu selama puluhan tahun tiba-tiba hidup dalam era liberal yang kapitalistik. Mereka hidup seperti di kota metropolitan di seluruh dunia bahkan lebih bebas dari penduduk Jakarta. Anak-anak muda berpacaran dan berciuman di taman-taman kota. Pemerintah China nampaknya membiarkan ada dua sistem di sana : Komunisme dan Liberalisme.
Acara  malamku di Shenzen adalah menikmati sebuah teater yang menggelar pertunjukan sendratari spektakuler tentang legenda kepahlawanan China. Pertunjukan dibuat secara kolosal dengan ratusan penari dan property yang canggih seolah-olah kita melihat drama kehidupan yang sesungguhnya. Tata  panggungnya begitu hidup, tata cahayanya begitu bagus, tata suaranya menggetarkan sementara musiknya sangat oriental  dengan suara perkusi yang dominan sehingga penonton terbawa ke dalam kehidupan China yang sesungguhnya. Para artis China bekerja dengan totalitas dan profesionalitas yang tinggi.  Sungguh sebuah pertunjukkan yang mengesankan.
Malam itu Kami  menginap di pusat kota. Di depan hotel tempatku menginap ada sebuah adult shop dengan interior yang transparan disorot lampu warna biru. Di dalamnya dijual aneka alat dan produk yang berhubungan dengan urusan orang dewasa. Semua ini nampak jelas terlihat dari luar saat kita berjalan di trotoar. kami pun mengunjungi pasar yang menjadi pusat perbelanjaan dari aneka produk yang diproduksi di Shenzen dan China pada umumnya. Suasanya persis seperti di Mangga Dua atau Tanah Abang atau bahkan seperti di Klewer.  Pelayannya gadis-gadis China yang yang cantik. Mereka sangat terkesan dengan orang Indonesia.
Tanggal 5 Desember kami meninggalkan Shenzen. Di pelabuhaan Shekou kami melihat-lihat toko buku di terminal keberangkatan. Buku-buku bergambar model nudis China dijual bebas. Setelah mendapatkan exit permit dari imigrasi RRC, dengan menggunakan ferry bernama Pengjiang kami menuju HK.  Memasuki HK ferry langsung terkoneksi dengan bandara HKIA (Hong Kong International Airport). Kami harus membayar tiket CAAC Airport Management and Construction Fee seharga 50 RMB.  Di dalam bandara kami berjumpa dengan banyak gadis Indonesia yang akan kembali ke Indonesia dengan pesawat yang sama. Mereka adalah para asisten rumah tangga yang bekerja di HK. Penampilan mereka sangat modis dan wajah mereka ceria. Kuharapkan tidak ada pemerasan saat mereka kembali di tanah air.





Sabtu, 02 Agustus 2014

Kota Buaya



SURABAYA adalah pintu gerbang  timur Jawa selain sebagai  kota terbesar kedua di tanah air. Karena karakter penduduknya seperti telah tergambar dalam perlawanannya terhadap kemapanan dan agresor dari luar membuat Surabaya identik dengan  patriotisme.  Novelis Idrus menggambarkannya dengan bagus dalam karya sastranya. Posisinya yang strategis membuat Surabaya menjadi magnet bagi banyak orang terutama dari Indonesia bagian timur. Perpaduan antara posisi geografis, budaya dan sejarah telah membuat Surabaya seperti yang dikenal saat ini.
Mungkin sudah  lebih dari tujuh kali aku mengunjungi  Surabaya, sekedar lewat menuju kota lain di Jawa Timur atau Bali, istirahat di stasiun KA Gubeng untuk mandi dan sarapan,   menginap di rumah paman untuk besoknya berangkat menuju kota tujuan untuk mengikuti tes masuk PTN, datang menghadiri sebuah  seminar,  bertemu dengan pemerintahan setempat,  rendesvouz  dengan teman sekolah atau sekedar transit dan membeli  buku di bandara Juanda. Pernah satu atau dua kali aku datang ke Surabaya dengan menggunakan penerbangan paling pagi dari Bandung dan sorenya sudah tiba kembali di bandara Husein dengan pesawat yang sama. Rasanya seperti mimpi saja. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan di masa lalu. Semua itu menjadi mungkin berkat kemajuan ilmu dan teknologi.
Kota Surabaya semakin hari semakin berkembang dan semakin padat penduduknya. Udaranya pun semakin panas. Namun demikian pemerintah kota selalu berusaha menciptakan kota yang tertib, bersih, disiplin, sejuk, indah, aman dan nyaman. Setiap kita berkunjung ke Surabaya selalu ada sesuatu yang baru yang membuat kita terkesan dan nyaman. Lalu lintas yang padat dan semrawut ditata, bangunan tanpa IMB dibongkar meski sudah menjulang ke langit, sungai dibersihkan dan dijadikan tempat yang nyaman untuk pelbagai aktivitas, taman-taman dibuat sehijau dan seasri mungkin.



Kehidupan malam di Surabaya mungkin masih kalah dari Jakarta dan Bandung, tetapi wisata kulinernya semakin semarak. Bangunan-bangunan tua masih banyak yang terpelihara seperti kantor pemerintah provinsi misalnya. Jembatan merah yang tersohor itu masih berdiri dengan baik.  Pabrik rokok yang terkenal di Surabaya kini dijadikan museum. Sayangnya saham industri rokok telah dikuasai secara mayoritas oleh pemodal asing. Wisata ziarah di masjid Sunan Ampel berdenyut 24 jam sehari, peziarah dari seluruh Jawa bahkan  tanah air dan Malaysia selalu memadati tempat tersebut untuk berdoa di depan makam Sunan Ampel, salah seorang penyebar agama Islam yang legendaris dan biasa dikenal dengan Wali Songo.
Berkunjung ke Surabaya rasanya belum lengkap kalau belum menyebrang ke Pulau Madura melalui jembatan Suramadu (Surabaya-Madura). Melintasi selat menggunakan perahu sudah biasa, tapi dengan menggunakan kendaraan darat melintasi laut rasanya menjadi sebuah sensasi tersendiri. Dalam hitungan menit kita bisa tiba di daratan Madura untuk sekedar melihat-lihat sebentar, traveling, atau membeli buah tangan.  Sensasi menyebrangi selat Madura seperti menyebrang di Barelang (Batam Rempang Galang) dan Penang di Malaysia.




Kembali dari Madura, kita bisa melihat patung Jalesveva Jayamahe, yaitu patung bersosok Komodor Yos Soedarso yang tenggelam di perairan Papua dalam perjuangan merebut Irian Jaya (Papua), di depan pelabuhan Tanjung Perak.  Tiba di darat, tidak jauh dari jembatan Suramadu kita akan melintasi makam Dr Soetomo, tokoh pendiri Boedi Oetomo.




Kini ada satu lagi destinasi di Surabaya, yaitu lumpur Sidoarjo yang biasa dikenal dengan lumpur Lapindo. Lumpur yang menyembur karena human error ini telah meratakan pemukiman penduduk, pabrik-pabrik, pesawahan dll. Menjadi sebuah bendungan lumpur raksasa yang mengerikan. Lapindo adalah sebuah perusahaan dari kelompok Bakrie sebuah holding company milik ARB. Sampai kini belum ada penyelesaian yang tuntas bagi penduduk yang menjadi korban dan mengungsi di sekitar.

Untuk mengobati rasa sedih setelah melihat tanggul lumpur Sidoarjo, pergilah ke Tanggul Angin untuk menggunjungi industri rumahan tas dan sepatu. Ada banyak produk tas, sepatu, jaket, koper, ikat pinggang, topi dari kulit pelbagai binantang dan imitasi. Harganya terjangkau, kuallitasnya baik.
Di antara banyak penginapan di Surabaya ada satu dua hotel yang berkesan, salah satunya adalah hotel Majapahit. Hotel ini dulunya bernama  hotel Yamato milik Jepang yang tersohor itu. Dalam buku-buku sejarah digambarkan para pejuang merobek warna biru  pada bendera Belanda sehingga menjadi bendera merah putih. Peristiwa itu dikenal sebagai insiden perobekan bendera Belanda di  hotel Yamato.  Hingga  kini  hotel Yamato masih difungsikan setelah direnovasi besar-besaran  dengan mempertahankan bentuk arsitektur aslinya. Namanya kemudian  diubah  menjadi Hotel Majapahit. Beberapa perabotan di dalamnya dibuat mirip aslinya, hanya saja beberapa bagian yang konon dulunya terbuat dari emas kini diganti dengan kuningan.



Jumat, 01 Agustus 2014

Manado : Bulevar, Bubur dan Bibir


Bunaken, tempat menyelam yang terkenal di dunia

JAWA Barat dan Sulawesi Utara memiliki tiga kesamaan : pertama, sama-sama berada di perbatasan Republik Indonesia. Jika Sulawesi Utara berbatasan dengan Filipina, Jawa Barat berbatasan dengan Australia. Kedua, sama-sama dibatasi oleh laut. Ketiga, kedua provinsi ini sama-sama berada di wilayah paling ujung, Sulawesi Utara di ujung utara dan Jawa Barat di ujung selatan. Karena itu di pertengahan tahun 2005 kamipun memutuskan bertolak ke Menado, bertemu dengan pemerintahan daerah provinsi Sulawesi Utara mendiskusikan masalah-masalah lingkungan hidup. Inilah catatanku.
Tiba di bandar udara  Sam Ratulangi, aku terpesona dengan kerimbunan pepohonan di sekitarnya. Pohon nyiur melambai-lambai di kiri kanan runway, menjadi pemandangan elok saat pesawat mendarat. Ya, Sulawesi Utara memang terkenal sebagai penghasil kopra, selain cengkih. Saat memasuki anjungan kedatangan, matahari telah tergelincir ke barat. Ke luar terminal kami singgah di sebuah rumah makan tidak  jauh dari bandara. Menunya khas Manado, masakan dari ikan laut dengan rempah-rempah berwarna kuning kemerahan yang pedas dan membangkitkan selera.
Memasuki kota kami disambut patung Yesus di bukit berukuran raksasa, mungkin patung Yesus terbesar di tanah air setelah Timor Timur melepaskan diri dari Indonesia. tidak mengherankan karena penduduk Sulawesi Utara mayoritas beragama Kristen.  Meskipun demikian, tidak jauh dari sana kami menemukan masjid besar di mana kami melaksanakan shalat Zuhur dan Ashar masing-masing dua rakaat.
Kegiatan kami di Manado adalah bertukar pikiran dan pengalaman mengenai lingkungan hidup. Peraturan daerah Sulawesi Utara mengatur keterlibatan masyarakat desa dalam menjaga kelestarian alam khususnya di kawasan Bunaken yang merupakan kawasan konservasi. Sebagaimana diketahui bersama, Bunaken adalah pulau dan kawasan laut yang terletak di teluk Manado antara kota Manado  dan pulau Menado Tua yang kaya dengan terumbu karang yang indah sehingga menjadi tujuan para penyelam dari seluruh penjuru dunia. Sehingga tidaklah heran saat tiba di hotel tempatku menginap aku melihat beberapa selebaran dan poster dari LSM luar negri yang melakukan kampanye penyelamatan terumbu karang di Bunaken.
Keesokan harinya kami berlayar ke Bunaken.  Karena waktu yang terbatas kami tidak menyelam, cukup melihat terumbu karang dari perahu yang dilubangi dan ditutup kaca bening. Memang indah. Sayangnya banyak terumbu karang yang telah rusak oleh kegiatan para pencari nafkah. Terumbu karang mati oleh senyawa kimia yang dibuang ke laut. Kini upaya penyelamatan sedang diupayakan. Aku melihat para penjaga lingkungan yang terdiri  masyarakat setempat berkeliling mengawasi kawasan pantai dengan menggunakan boat.
Temanku Syaiful Bachri Day mengajakku jalan-jalan keliling di sekitar hotel dan singgah di sebuah kedai yang ramai yang menjajakan penganan. Rupanya mereka menjual pisang goreng. Uniknya pisang goreng disajikan dalam beberapa irisan tipis disatukan dalam balutan tepung dan membentuk kipas. Lebih unik lagi pisang goreng tersebut diolesi sambal sebelum dimakan. Jadilah perpaduan antara pisang goreng yang manis dengan sambal yang pedas. Oh mama sayange.....
Tempat yang tidak lupa kukunjungi adalah kawasan water front yang dinamakan Boulevard. Kawasan pantai hasil reklamasi ini dijadikan deretan pertokoan dan nampaknya menjadi landmark kota Manado. Di sinilah penduduk kota berkumpul untuk bertemu dan bersantai. Gadis-gadis pun banyak dijumpai di sana. Karena itu  Menado terkenal dengan tiga B : boulevard, bubur (makanan khas Manado) dan bibir (gadis-gadis).