16 Mei 2007. Dini hari pesawat China Air dengan nomor penerbangan nomor
sekian dari bandara Hangzhou mendarat dengan mulus di Shanghai International
Aiport. Bangunan bandara sangat besar sehingga memasukinya serasa seperti di
dalam mal. Begitu besar dan luasnya seperti bandara Beijing, aku tidak ingat
lagi rincian bangunannya. Orang nampak sibuk, hiruk pikuk bersliweran dengan
membawa trolley berisi koper tas dan bawaan lainnya. Ini memang kota bisnis
yang supersibuk dan mungkin yang terbesar di Cina melebihi kesibukan Hong Kong
atau Beijing.
Karena sudah tengah malam atau dini hari kami langsung menuju hotel. Tetapi
perjalanan yang agak jauh dari bandara memberi kesempatan padaku menyaksikan
pemandangan kota di waktu malam. Kesan pertama : glamour, bercahaya, penuh
warna, ramai, tidak pernah tidur, struktur yang massif dan
raksasa. Jalan-jalan bebas hambatan dibuat
bertingkat-tingkat, meliuk-liuk, vernakular, seperti menggiring kendaraan yang
melaju di atasnya ke satu titik yang menyedot kita entah menuju ke mana.
Seperti
roaller coaster saja.
Mata yang terkantuk-kantuk pun menjadi nyalang saat mendengar pemandu yang
bercerita tentang sektor properti yang dirajai oleh orang-orang Rusia yang
menguasai tanah dengan harga termahal mendekati miliaran rupiah per meter
persegi. Dan akhirnya kami pun tiba di penginapan. Namun saya lupa nama
penginapannya.
17 Mei 2007.
Udara dingin iklim sub tropis dapat kunikmati di pagi hari sambil duduk
tenang di lobby hotel. Entah karena berada di tepi sungai Huangpu atau karena
tidak begitu jauh dari laut sehingga angin dapat berembus dengan bebas, udara
Shanghai (yang artinya di atas permukaan laut) di pagi hari sungguh menyegarkan
kulit. Padahal penduduk Shanghai sangat padat melebihi angka 13 juta. Sehingga
ada pepatah Cina mengatakan kalau pergi ke Shanghai itu seperti “menonton
kepala orang” karena jalan dipadati begitu banyak orang yang lalu lalang nyaris
saling bertabrakan sehingga yang nampak hanya kepala nya saja.
Tidak menyia-nyiakan kesempatan aku bergegas ikut rombongan menuju Shanghai
Exhibition Center di wilayah konsesi Perancis karena memang ke sini tujuan
utamaku datang ke kota ini. Shanghai secara administratif setara dengan sebuah
provinsi atau kabupaten di Tanah Air.
Oh
ya meskipun
secara geografis terbelah
oleh Sungai Huangpu menjadi dua bagian, yakni Puxi (barat) dan Pudong (timur),
Shanghai terbagi
ke dalam tiga area
utama Tiga area utama di kota Shanghai adalah French Concessions dan Old City
(Kota Tua) yang berada di barat Sungai Huangpu
dan Pudong di timur sungai. Old City di bagian selatan berlanggam China
dengan gang-gang, pasar-pasar dan kuil-kuil. French Concessions di bagian barat
Old City dan British and American Concessions yang secara kolektif disebut sebagai
International Settlement (pemukiman internasional) berada di utara. The Bund
yang berada di sepanjang sisi sungai ditandai dengan bagunan-bangunan kolonial
yang megah serta dua jalan utama perbelanjaan, Nanjing Lu dan Huaihai Lu.
Sedangkan Pudong , distrik yang paling baru berada di sisi timur sungai dan
kini menjadi pusat bisnis dangan bangunan-bangunan pencakar langit tertinggi di
dunia.
Pada area bekas wilayah Perancis terdapat bangunan tempat pertemuan bersejarah,
di mana perwakilan sel-sel komunis China membentuk partai nasional pada 23 Juli
1921. Mereka terdiri dari12 peserta resmi termasuk Mao Zedong. Polisi menemukan
tempat ini sehingga para peserta segara diungsikan ke dalam boat di Danau Nan
di Zhejiang.
Pudong sampai pertengahan abad ke-20 merupakan bagian kota yang termiskin,
dengan pemukiman kumuh dan tempat bagi gangster terkenal Du Yuesheng. Pada
tahun 1990 Pudong memperoleh status sebagai Specific Economic Zone dan menjadi
tempat gedung-gedung pencakar langit kenamaan di dunia. Di sini pula terdapat
The Oriental Pearl TV Tower setinggi 457 m yang menawarkan pemandangan kota
Shanghai.
The Bund yang dikenal dengan nama Zongshan Lu adalah jantung kolonial kota
Shanghai selain dengan Sungai Huangpu juga dengan hotel-hotel, bank-bank,
perkantoran dan klub yang menjadi simbol kebesaran kekuatan komersial Barat.
Bangunan-bangunan tua masih berdiri megah, ada yang telah dibangun tahun 1906
seperti The Palace Hotel dan ada pula yang dibangun tahun 20-30 an seperti Hong
Kong & Shanghai Bank. Di sisi sungai
terdapat trotoar yang luas dan merupakan tempat yang terbaik untuk
menyaksikan lalu lintas sungai dan setiap pagi hari penduduk lokal
melakukan senam
(tai chi) di tempat itu.
Sungai Huangpu yang membelah Shanghai mengalir 110 km dari sumbernya, Danau
Dianshan dan kemudian melanjutkan alirannya sepanjang 28 km ke bawah untuk
bertemu Sungai Yangzi. Selain menyuguhkan pemandangan indah lansekap tepian
sungai beserta metropolitan modern Pudong juga dipenuhi dok yang selalu sibuk,
boat yang lalu lalang dan paket perjalanan menyusuri sungai selama tiga
setengah jam menuju Sungai Yangzi. Orang Shanghai selalu mengklaim bahwa
sepertiga perdagangan internasional memasuki Cina melalui Sungai Huangpu yang
selalu sibuk abadi.
Shanghai dulu dan sekarang
Sampai tahun 1842 Shanghai hanyalah pelabuhan kecil, tapi sejak pemerintah
China menyerah pada keinginan Barat untuk memperoleh konsesi perdagangan maka
pelabuhan-pelabuhan di timur China termasuk Shanghai menjadi pos luar
negara-negara Barat yang penting. Mereka memperoleh hak ekstra teritorialitas
di mana orang-orang Barat boleh tinggal dengan menggunakan hukum negara mereka
sendiri. Sehingga orang AS, Inggris dan Perancis memperolah konsesi yang
ekslusif dengan sistem pengadilan dan kepoliasian tersendiri. Situasi itu
menarik tidak saja para pengusaha, tetapi juga pengungsi, kriminal dan
revolusionerian. Campuran ini berpotensi menjadikan Shanghai bersinar dan
terseret ke dalam situasi politik yang riuh di antara dua perang dunia yang
baru berakhir tahun 1940-an ketika orang-orang asing menyerahkan hak mereka
kepada pihak oposisi yang mulai berkembang.
Shanghai juga merupakan destinasi belanja utama di China. Sebelum PD II
penduduk asing kota Shanghai yang glamor membutuhkan barang-barang terbaik dan
reputasi Shanghai akan kemewahan berlanjut hingga kini dengan toko-toko yang
memuaskan selera dan kantong. Shanghai juga kota yang cemerlang secara
kebudayaan, dengan pergelaran opera, teater, akrobat, musik klasik dan jazz yang
berlanjut. Kehidupan malamnya dipenuhi dengan restoran, bar, cinema dan klub
malam yang fashionable. Dengan demikian Shanghai menjadi kota metropolitan yang
tidak pernah tidur seperti kesan pertama saya saat menyusuri jalan-jalan yang
gemilang dengan sinar lampu antara bandara dan tempat penginapan meski waktu
telah melewati tengah malam.