Rabu, 17 Mei 2023

Ziarah ke Makam Bung Karno

 

 

Atas inisiatif dan sponsorship dari kang M. Luthfi Hafiyan, Ketua Fraksi PDI Perjuangan Kabupaten Bandung, pada awal bulan Februari yang lalu kami pergi ke kota Blitar, untuk berkunjung ke rumah dan museum Bung Karno serta makam Bung Karno. Kami berangkat pada tanggal 3 Februari dan kembali pada tanggal 6 Februari 2022.

Pada Kamis malam, 3 Februari 2022, saya diantar anak sampai simpang susun Cileunyi. Dari sana ikut bus wisata yang berangkat dari kediaman Kang Luthfi di Cicalengka. Bus memasuki pintu tol dan ke luar di Buah Batu. Dari sana menuju Baleendah melewati Bojongsoang.

Sekitar pukul 22.00 bus sudah penuh penumpang. Kami pun berangkat dari Sekretariat DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung.

Bus kembali memasuki pintu tol Buah Batu memasuki jalan tol Padaleunyi menuju pintu tol Kalihurip Utama dan memasuki jalan tol Cipali. Setelah melewati Cikampek, Subang, Kertajati dan Indramayu, bus memasuki Palimanan dan kami pun beristirahat di sebuah rest area di sekitar Cirebon.

Batang.

Saat fajar menyingsing tanggal 4 Februari 2022, kami tiba di rest area Batang. Kawan kawan DPC Fraksi PAC Badan Sayap Satgas dan Sekretariat melaksanakan salat subuh berjamaah dan kemudian nongkrong di warkop.

Saat itu Mas Prasetyo Edi Marsudi, Ketua DPRD DKI datang. Kami ngobrol sebentar dan berfoto bersama. Mas Pras hendak melanjutkan perjalanan ke kota Tuban.

Kendal.

Di Kendal kami keluar dari jalan tol dan menyusuri area industri tak jauh dari pantai. Pada sebuah restoran kami berhenti untuk sarapan a la prasmanan. Sepiring nasi dan segelas teh panas cukup menambah tenaga.

Sebelum melanjutkan perjalanan kami berfoto bersama.

Dari Kendal kami memasuki kota Semarang dan masuk jalan tol menuju Salatiga, Surakarta, Sragen, Ngawi, Madiun dan keluar di Kertasana. Dari Kertasana kami menuju Kediri kemudian perjalanan berakhir di Blitar.

Blitar.

Setelah membersihkan diri dan salat kami naik becak ke Istana Gebang (rumah keluarga Bung Karno). Kami menyusuri ruang demi ruang di rumah itu dan memperhatikan satu persatu peninggalan keluarga Raden Sukemi (ayah Bung Karno dan Ibu Wardoyo). Tidak lupa kami berfoto di depan patung Bung Karno yang berada di depan Istana Gebang.

Dari Istana Gebang kami kembali naik becak beramai ramai melewati jalan protokol dan kediaman resmi Walikota Blitar menuju Museum Bung Karno. Kami mengagumi rancangan museum yang modern sebelum memasuki halaman makam Bung Karno untuk berziarah.Museum ini dibangun pada masa Walikota Blitar dijabat oleh Djaro Syaiful Hidayat.

Kang Ujang Iyet Kepala BP Pemilu memimpin tahlil untuk Bung Karno. Kang Ujang Dedi memimpin doa. Setelah itu kami menaburkan bunga dan mengheningkan cipta di sekitar pusara.

Malam harinya kami meninggalkan kota Blitar. Sebelum itu kami singgah di sebuah restoran di tengah sawah untuk makan malam.

Sekitar tengah malam bus berhenti di sebuah rest area di Ngawi. Kami turun untuk beristirahat. Aku ngopi ditemani Kang Jajang yang menemaniku mengobrol panjang lebar.

Bus kemudian bergerak ke arah Barat dan keluar di kota Surakarta lalu melewati jalan non tol memasuki kota Klaten. Saat waktu subuh kami tiba di Prambanan. Hujan turun deras mengguyur saat kami bergegas ke dalam masjid untuk salat subuh.

Yogyakarta.

Dalam hujan gerimis bus meninggalkan Prambanan memasuki wilayah DIY. Setelah melewati bandara Adisucipto, bus berbelok ke kiri ke arah Kota Gede dan berhenti di sebuah bangunan antik yang berfungsi sebagai restoran. Kami turun untuk mandi dan kemudian sarapan.

Siang itu kami menyempatkan diri bergerak ke wilayah Bantul di selatan Yogyakarta. Hujan turun sepanjang jalan. Padi di sawah mulai menguning. Sungai sungai nampak deras.

Setelah beberapa jam perjalanan kami tiba di Parangtritis. Gerimis masih merinai. Kawan kawan nekat menuju pantai. Saya dan beberapa kawan memilih nongkrong di warkop.

Saat gerimis menipis saya dan beberapa kawan mendekat ke pantai. Pengunjung cukup ramai. Ada yang berenang, berjemur, berjalan, naik ATV dan Kereta kuda. Saya menikmati pemandangan alam yang indah. Gelombang samudra Indonesia yang tinggi bergulung gulung dan pecah di pantai berpasir kelabu. Langit tertutup mendung hitam yang masih meneteskan hujan. Kabut menyebar di atas laut selatan.

Saat petang tiba, kami kembali ke kota Yogyakarta. Setelah berputar putar tibalah bus di Jl. Suprapto dan memasuki halaman sebuah hotel. Setelah check in, kami masuk ke kamar masing-masing.

Usai mandi salat dan minum secangkir kopi ditemani bakpia yang tadi kubeli di Kota Gede, aku tertidur pulas hingga malam tiba. Saat terbangun sesi makan malam bersama kawan kawan di Restoran Ambar Kerawang telah lewat. Saya lalu menelpon anak cucu untuk bertemu. Tapi mereka belum berani bertemu karena kekhawatiran terhadap penyebaran virus Covid-19 yang masih mewabah.

Keesokan paginya saya menyempatkan berenang kemudian sarapan dan bersiap-siap check out.

Pada hari Minggu yang cerah itu kami meninggalkan kota Yogya menuju Bandung melewati Kulon Progo, Kebumen, Cilacap, Banjar, Ciamis, Tasikmalaya dan Garut.

Setelah beristirahat di Kebumen dan Ciamis, lewat tengah malam- menjelang pagi, saya tiba di simpang Cileunyi dan rombongan melanjutkan perjalanan memasuki jalan tol Padaleunyi menuju Baleendah.

 

 

Belajar Sampai Ke Paris


Setahun yang lalu pandemi Covid-19 mulai melandai. Tiba waktunya anak perempuan dan anak pertamaku , bersiap berangkat kenegri orang untuk mencari ilmu setelah tertunda selama kurang lebih dua tahun. Kali ini ia akan studi pada jenjang S3 di Paris, Perancis, tepatnya di Universitas Sorbonne. Untuk mendapatkan visa belajar anakku harus ke kedutaan besar Perancis di Jakarta. Satu dua kali harus menginap di Swissbell hotel di kawasan Pondok Indah, Jakarta Selatan. Kadangkala langsung dari Yogyakarta ke Jakarta bersama suami dan anaknya, kadangkala mampir dulu ke Bandung dan bersama-sama menuju Jakarta. Di Jakarta aku dan istriku menginap juga, kadang bersama anak kedua dan anaknya kadang bersama anak ketiga yang masih lajang.

Setelah visa diperoleh kami sekeluarga mengantar Dea ke bandara Sukarno Hatta. Dari sana ia terbang dengan pesawat Emirate dan transit di Dubai. Keesokan harinya tiba di Paris lalu dijemput dosen pembimbingnya, seorang profesor yang biasa kami panggil Pak Franc. Pak Franc sudah bisa berbahasa Indonesia dan Jawa karena sering berkunjung ke Indonesia dan memiliki istri orang Boyolali yang bisasa kami panggil Tante Ema.  Putriku  tinggal bersama profesornya yang memiliki home stay untuk disewakan. Letaknya di luar kota Paris. Jadi dari sana anakku harus menggunakan kereta api  jika hendak ke kampus. Sesekali suami anakku terbang ke Perancis bersama anaknya, cucuku. Menantuku ke sana sambil mengerjakan satu dua proyek penelitian bekerja sama dengan kampus di mana anakku belajar mengenai geografi lingkungan. Profesor Franc juga pernah berkunjung ke Yogyakarta bersama istri dan kedua anaknya serta mahasiswa dari Perancis. Kami pernah menjumpainya di Westlake hotel. Hadir juga Pak Danang, Dekan Fakultas Geografi UGM dan beberapa ilmuwan kenalan atau murid Pak Franc.

Setidaknya dalam setahun ini putriku sudah tiga kali ke Perancis pergi pulang. Sekali sendiri. Kedua disusul suami dan anak perempuannya. Ketiga terbang  bersama-sama. Untuk keberangkatan yang ketiga anakku bersama suami dan anaknya tinggal di asrama kampus di kota Paris. Karena itu kami sering sekali pergi ke bandara dan kadangkala meginap di satu dua hotel di kawasan bandara. Jika waktu menunggu boarding masih lama sementara kami sudah check out dari hotel, kami sering mengisi waktu dengan berpesiar ke Pantai Indah Kapuk yang merupakan kawasan hasil reklamasi. Kadangkala kami berkendara sepanjang pantai hingga memasuki wilayah provinsi Banten. Dari tepi pantai kami bisa melihat laut yang membiru dengan perahu dan bagan para nelayan. Sementara tidak begitu jauh nampak pulau pulau dari Kepulauan Seribu. Ada beberapa pulau hasil reklamasi di situ di mana di atasnya dibangun pemukiman dengan harga sekitar Rp 5 milyar per unit. Ada pula pusat perniagaan dan perkantoran modern. Kadangkala kami memasuki sebuah mal di situ sekedar untuk menikmati sejuknya ruangan berpengatur udara. Kadangkala kami juga menikmati kuliner di pusat makanan yang serasa di Singapura atau Hong Kong.

Pada kepergian anakku ke Perancis yang terakhir, kebetulan  memasuki bulan puasa, sehingga mereka sempat merasakan puasa di Perancis yang lebih lama waktunya daripada di Indonesia. Selisihnya sekitar dua jam. Saat itu di Perancis, khususnya di kota Paris, sedang banyak terjadi demonstrasi besar-besaran dari pegawai baik itu pegawai negri maupun swasta yang menolak kebijakan pemerintahan Macron mengenai perpanjangan usia memasuki pensiun dari 62 tahun ke 64 tahun. Artinya mereka baru memasuki masa pensiun pada usia 64 tahun. Selain itu gaji pensiunnya juga dikurangi. Tidak heran jika terjadi demonstrasi besar-besaran di Perancis dan di Paris sehingga tidak urung cucuku ikut menyaksikan peristiwa tersebut.  Oleh-olehnya adalah kata “pardon, pardon” yang mungkin diperolehnya saat ayah bundanya minta permisi saat melewati kerumunan demonstran.

Menjelang lebaran 1 Syawal 1444 H, putriku  pulang meski tidak bersamaan dengan keluarganya. Pertama yang pulang adalah menantu dan cucu perempuanku, Kanaya. Belakangan baru putriku menyusul. Namun mereka tidak berlebaran di Bandung. Sekitar dua minggu menjelang lebaran mereka pulang ke Yogyakarta karena menantuku harus mengajar dan putriku harus melakukan penelitian di Gunung Merapi yang sedang menunjukkan tanda-tanda aktivitasnya.

Mereka pun “mudik” ke Malang ke keluarga pak Rachmad, besanku, untuk berlebaran di sana. Jadi kami berlebaran di Bandung berempat saja, aku, istriku, anak keduaku Dimas dan anak ketigaku Praja. Cucuku Shasmaka baru ke Bandung beberapa hari kemudian.

Semalam Praja, anakku yang bungsu berangkat ke Yogyakarta untuk mengambil sample penelitian. Sample penelitian itu biasanya adalah air dari sekitar Gunung Merapi yang dikemas dalam botol-botol plastik. Sample itu nantinya akan dibawa ke laboratorium PPSDAL Unpad di Jalan Sekeloa untuk diperiksa dan dianalisis.

 

 

 

 

 

Rilis Survei SMRC


 

PDI Perjuangan di Provinsi Jawa Barat nampaknya masih menunjukkan popularitas dan elektabilitas yang tinggi. Dalam dua kali survei yang diselenggarakan SMRC, PDI Perjuangan selalu leading di atas partai partai yang lain seperti Gerindra, Golkar dan PKS. Hanya saja pada survei kedua SMRC yang dirilis tanggal 15 Februari 2022, PDI Perjuangan di Jawa Barat memang mengalami penurunan dari 20,3% ke 16% (Uniknya semua partai besar juga mengalami penurunan dan yang paling menurun adalah Golkar). Salah satu penyebab penurunan suara PDI Perjuangan di Jawa Barat karena ucapan Arteria Dahlan dalam sebuah rapat di DPR tanggal 17 Januari 2022 yang meminta kepada Jaksa Agung RI agar Kajati di sebuah provinsi (tidak disebutkan provinsinya) tidak menggunakan bahasa Sunda dalam rapat resmi.

Reaksi masyarakat, khususnya para pengguna Bahasa Sunda, tentu saja marah terhadap ucapan Arteria Dahlan tersebut. Khususnya di Jawa Barat, termasuk di dalamnya, masyarakat di Kabupaten Bandung.

DPD PDI Perjuangan menyikapi protes masyarakat tersebut dengan melayangkan surat kepada DPP PDI Perjuangan agar Arteria Dahlan di PAW dari kedudukannya sebagai anggota DPR RI Fraksi PDI Perjuangan. Reaksi DPD PDI Perjuangan tersebut disikapi DPP dengan memanggil Arteria Dahlan dan meminta keterangan atas terjadinya peristiwa yang menghebohkan tersebut. Itu diikuti oleh permintaan maaf Arteria Dahlan pada tanggal 20 Januari 2022 kepada seluruh masyarakat Sunda, khususnya yang ada di Provinsi Jawa Barat. Adapun keinginan agar Arteria Dahlan di PAW nampaknya sulit untuk dikabulkan mengingat satu dan lain hal.

Apa yang dilakukan DPD PDI Perjuangan Jawa Barat menurut survei SMRC diterima secara positif oleh publik dan oleh juru bicara SMRC dianggap mitigasi yang sangat tepat. Dampaknya meski hasil survei PDI Perjuangan mengalami penurunan tetapi masih tetap unggul di antara partai-partai yang lain.

DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung juga melakukan sikap yang senada dengan DPD PDI Perjuangan dan menyatakan bahwa Arteria Dahlan perlu meminta maaf terhadap masyarakat Sunda baik di Kabupaten Bandung maupun Jawa Barat serta nasional.

Survei selain melihat gambaran di tingakat provinsi juga melihat pengaruh ucapan Arteria Dahlan tersebut terhadap pemilih di 8 kota dan 19 kabupaten di Jawa Barat. Hasilnya ada yang justru meningkat seperti di wilayah Pantura, tapi banyak juga yang menurun, seperti di Kabupaten Bandung, Bekasi, Majalengka, Ciamis, Banjar dan daerah lainnya.

PDI Perjuangan di Kabupaten Bandung, pada survei sebelumnya memimpin dengan meninggalkan partai-partai papan atas seperti Golkar, Gerindra dan PKS. Tapi dengan adanya kasus Arteria, PDI Perjuangan kembali pada posisi semula. Hanya masuk empat besar saja. Padahal saat terjadi kasus Arteria Dahlan, DPC PDI Perjuangan langsung bersikap dan melakukan langkah-langkah persuasif ke internal partai maupun kepada masyarakat.

Kini tugas untuk memenangkan PDI Perjuangan di Kabupaten Bandung menjadi terganggu. Tidak ada jalan lain selain bergotong-royong melakukan segala daya upaya agar popularitas dan elektabilitas partai meningkat kembali seperti pada survei sebelum adanya kasus Arteria Dahlan.

 

 

Kesepahaman Bersama PDI Perjuangan - PKB


 

Pada hari Rabu, 12 Januari 2022 bertempat di Sekretariat DPC PDI Perjuangan di Baleendah, DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung kedatangan Ketua DPC PKB Kabupaten Bandung, M. Dadang Supriatna bersama rombongan untuk bersilaturahmi kepada DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung.

Acara dilanjutkan dengan penandatanganan kesepahaman bersama antara PKB Kabupaten Bandung dan PDI Perjuangan yang ditandatangani oleh Ketua DPC PKB Kabupaten Bandung, M. Dadang Supriatna (Bupati Bandung) dan Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung, H. Harjoko Sangganagara. Masing masing didampingi oleh Sekretaris dari kedua partai (Henhen Asep Suhendar dari PDI Perjuangan dan H. Tarya dari PKB) yang juga ikut menandatangani kesepahaman. Penandatanganan disaksikan oleh pengurus dari kedua partai.

Penandatanganan kesepahaman ini merupakan tindak lanjut dari rekomendasi Rakercab I PDI Perjuangan Kabupaten Bandung tahun 2021 yang lalu.

Dengan adanya kesepahaman ini maka baik Fraksi PDI Perjuangan maupun Fraksi PKB bisa melakukan kerjasama di DPRD meski tetap terbuka peluang untuk melakukan kritik konstruktif terhadap jalannya pemerintahan di daerah.

Bupati mengajak semua elemen bergerak cepat, jangan kalah dengan perkembangan teknologi dan zaman. Sehingga mengajak semua elemen pemerintah mulai tingkat Kabupaten Bandung hingga Desa dan RW bergerak cepat untuk membangun dan bekerja sesuai tupoksi dan intinya bagaimana dapat bekerja untuk meningkatkan perekonomian masyarakat dan tentunya juga harus menjaga protokol kesehatan Covid - 29.

https://www.timesindonesia.co.id/.../bangun-kabupaten...

 

 

Gerakan Menanam Pohon

 

Masih dalam rangkaian HUT ke-49 Partai, DPC PDI Perjuangan melakukan gerakan menanam pohon di bantaran Anak Sungai Citarum Kampung Rancasabir Desa Malakasari Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung, pada harin Minggu, 23 Januari 2022


.

Kegiatan penanaman pohon ini juga dalam rangka rangkaian HUT PDI Perjuangan dan sekaligus merayakan ulang tahun Ketua Umum PDI Perjuangan Ibu Megawati Soekarnoputri ke-75.

Pada penanaman pohon kali ini kami menggunakan pakaian tradisional khas Sunda yakni pangsi hitam dan ikat kepala.

Penanaman pohon ini dilaksanakan bukan hanya di Kabupaten Bandung saja, namun hari ini dilaksanakan serentak se-Indonesia dan dipusatkan di Provinsi Bali. Untuk Jawa Barat dipusatkan di Kabupaten Bogor. Khusus di Kabupaten Bandung, penanaman pohon ini salah satu upaya untuk mencegah terjadinya longsor dan banjir. Wilayah Kabupaten Bandung merupakan wilayah rawan longsor dan banjir.

DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung menyediakan 245 pohon berbagai jenis, yakni pohon endemik dan pohon buah-buahan untuk ditanam di bantaran anak sungai Citarum.

Penanaman pohon ini dilaksanakan bersama masyarakat, tokoh masyarakat, dan kepala Desa Malakasari.

Selain untuk konservasi, kami menanam pohon buah-buahan yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat.

Kami sengaja menanam pohon buah-buahan agar masyarakat bisa mendapatkan manfaatnya, sehingga masyarakat mau merawat pohon yang telah ditanam.

Acara seremoni dilakukan di sebuah kafe milik Ketua Ranting PDI Perjuangan Malakasari. Kafenya terletak di rumah H. Akub Sanusi. Rumah H. Akub ini termasuk rumah bersejarah karena Bung Karno pernah berkunjung ke rumah ini.

Acara dihadiri pengurus DPC, para Ketua PAC, PR Malakasari, Badan, Sayap Partai, pimpinan dan Anggota DPRD dari Fraksi PDI Perjuangan, pemerintah Desa dan tokoh masyarakat.

https://jabarekspres.com/.../cegah-longsor-dan-banjir.../

 

 

HUT Ke-49 PDI Perjuangan

 


 

Pada hari Senin, 10 Januari 2022, kami mengadakan upacara memperingati HUT ke-49 PDI Perjuangan, di halaman Sekretariat DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung, Jalan Jaksa Naranata No. 10 Baleendah, Bandung. Dalam amanat upacara, saya menyampaikan sejarah PDI Perjuangan.

Sejarah PDI Perjuangan

Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) adalah partai politik di Indonesia. Sejarah PDIP dapat dirunut mulai dari Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan oleh Ir Sukarno pada 4 Juli 1927. PNI bergabung dengan Partai Musyawarah Rakyat Banyak (Partai Murba), Ikatan Pendukung Kemerdekaan Indonesia (IPKI), Partai Kristen Indonesia (Parkindo) dan Partai Katolik. Partai gabungan tersebut kemudian dinamakan Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada 10 Januari 1973

Sejak awal terbentuk, konflik internal PDI terus terjadi dan diperparah dengan adanya intervensi dari pemerintah. Untuk mengatasi konflik tersebut, anak kedua dari Ir Sukarno, Megawati Sukarnoputri didukung untuk menjadi ketua umum (Ketum) PDI.Namun pemerintahan Suharto tidak menyetujui dukungan tersebut kemudian menerbitkan larangan mendukung pencalonan Megawati Sukarnoputri dalam Kongres Luar Biasa (KLB) pada 2-6 Desember 1993 di Asrama Haji Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur. Hasil ini tidak diakui oleh pemerintah, yang terus mendorong Budi Harjono, calon ketua umum yang dipilihnya, untuk dipilih. Kongres Khusus diadakan di mana pemerintah mengharapkan Harjono terpilih, tetapi Megawati sekali lagi muncul sebagai pemimpin terpilih.

Larangan tersebut berbanding terbalik dengan keinginan peserta KLB, kemudian secara de facto Megawati Sukarnoputri dinobatkan sebagai ketum DPP PDI periode 1993-1998. Sehingga pada Musyawarah Nasional (Munas) 22-23 Desember 1993 di Jakarta, Megawati Sukarnoputri dikukuhkan sebagai Ketum Dewan Pimpinan Pusat (DPP) PDI secara de jure.

Konflik internal PDI terus berjalan. Pada 20 Juni 1996 para pendukung Megawati Sukarno Putri melakukan unjuk rasa hingga bentrok dengan aparat keamanan. Kongres pada 22-23 Juni 1996 di Asrama Haji Medan di mana Megawati tidak diundang; anggota anti-Megawati hadir. Dengan dukungan pemerintah, Suryadi, mantan ketua umum, terpilih kembali menjadi Ketua Umum PDI. Megawati menolak mengakui hasil kongres ini dan terus memandang dirinya sebagai pemimpin sah PDI. Kemudian pada 15 Juli 1996 pemerintah Suharto mengukuhkan Suryadi sebagai Ketum DPP PDI.

Para pendukung Megawati Sukarnoputri menggelar Mimbar Demokrasi di halaman kantor DPP PDI, Jalan Diponegoro Nomor 58, Jakarta Pusat. Meski digulingkan sebagai ketua oleh Suryadi dan pemerintah, acara tersebut sangat mengangkat profil Megawati, memberikan simpati dan popularitas nasional.

Pagi 27 Juli 1996, Suryadi mengancam akan mengambil kembali markas PDI di Jakarta.Para pendukung Suryadi (kabarnya dengan dukungan Pemerintah) menyerang Markas Besar PDI dan menghadapi perlawanan dari pendukung Megawati yang ditempatkan di sana sejak Kongres Nasional di Medan. Dalam bentrokan berikutnya, pendukung Megawati berhasil bertahan di markas. Kerusuhan pun terjadi—pada tahap yang dianggap terburuk yang pernah dilihat Jakarta pada masa "Orde Baru"—yang disusul dengan tindakan keras pemerintah. Pemerintah kemudian menuding kerusuhan itu terjadi pada Partai Rakyat Demokratik (PRD). Peristiwa tersebut dikenal dengan Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli atau disingkat menjadi Peristiwa Kudatuli.

PDI kini terpecah menjadi dua fraksi, Megawati dan Suryadi. Yang pertama ingin berpartisipasi dalam pemilihan legislatif 1997, tetapi pemerintah hanya mengakui yang terakhir. Dalam pemilu, para pendukung Megawati dan pendukungnya memberikan dukungan kepada Partai Persatuan Pembangunan dan PDI hanya meraih 11 kursi DPR atau 3% suara.

Perjuangan Megawati dan PDI Pro Mega kemudian ditempuh melalui jalur hukum. Megawati dibela oleh para pengacara yang tergabung dalam TPDI (Tim Pembela Demokrasi Indonesia).

TPDI

TPDI adalah kumpulan ahli hukum yang pernah membela PDIP dan Ketua Umum Megawati Soekarnoputri dalam kasus 27 Juli 1996. Mereka berani secara terbuka menentang kekuasaan politik Rezim Orde Baru. Di dalamnya ada para aktivis seperti Petrus Selestinus, Nusyahbani Katjasungkana, Didik Supriyanto, Sugeng Teguh Santoso, Erick S Paat, Erlina Tambunan, Gilbert Silitonga, Pantas Nainggolan, Simeon Petrus, Stefanus Dionysous, Tumbu Saraswati, Berlin Pandiangan, Edi Sadikun, Kaspudin Nor, Firman Akbar, Hasoloan Hutabarat, Netty Saragih, Martin Erwan, Terkelin Brahmana, Saut Pangaribuan (Hasanudin Aco, Tribunnews.com).

Karena pemerintahan Suharto lengser pada reformasi 1998, PDI di bawah pimpinan Megawati Sukarnoputri semakin kuat, dan ditetapkan sebagai ketum DPP PDI periode 1998-2003 pada Kongres ke-V di Denpasar, Bali.

Megawati Sukarnoputri kemudian mengubah nama PDI menjadi PDI Perjuangan pada 1 Februari 1999 agar dapat mengikuti pemilu. Nama tersebut disahkan oleh Notaris Rahmat Syamsul Rizal dan kemudian dideklarasikan pada 14 Februari 1999 di Istora Senayan, Jakarta. Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) melakukan Kongres I pada 27 Maret-1 April 2000 di Hotel Patra Jasa, Semarang, Jawa Tengah. Kongres tersebut menghasilkan keputusan Megawati Sukarnoputri sebagai Ketum DPP PDI Perjuangan periode 2000-2005. Pada Kongres II di Ina Beach Hotel Bali, Megawati terpilih kembali sebagai Ketua Umum DPP PDI Perjuangan untuk 2005-2010. Pada Kongres III PDI Perjuangan Megawati dikukuhkan sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan untuk 2010-2015. Selanjutnya pada Kongres IV PDI Perjuangan di Bali pada 8-12 April 2015, Megawati Sukarnoputri kembali dikukuhkan sebagai Ketum PDI Perjuangan periode 2015-2020. Pada Kongres V PDI Perjuagan di Bali pada 8-11 Agustus 2019 sekali lagi Megawati Sukarnoputri dikukuhkan sebagai Ketua Umum PDI Perjuangan untuk 2019-2024.

Pencapaian pada Pemilu Anggota DPR

Pemilu 1999

PDI Perjuangan mendapat 153 kursi (33,12% ) di DPR hasil Pemilihan Umum Anggota DPR Tahun 1999 setelah mendapat 35.689.073 suara (33,74%) . Dengan hasil ini PDI Perjuangan menempati posisi pertama dalam perolehan suara serta kursi di DPR.

Pemilu 2004

PDI Perjuangan mendapat 109 kursi (19,82% %) di DPR hasil Pemilihan Umum Anggota DPR Tahun 2004 setelah mendapat 21.026.629 suara (18,53%). Dengan hasil ini PDI Perjuangan menempati posisi kedua dalam perolehan suara serta kursi di DPR.

Pemilu 2009

PDI Perjuangan mendapat 95 kursi (16,96%) di DPR hasil Pemilihan Umum Anggota DPR 2009, setelah mendapat 14.600.091 suara (14,03%). Dengan hasil ini, PDI Perjuangan menempati posisi ketiga dalam perolehan suara serta kursi di DPR.

Pemilu 2014

PDI Perjuangan mendapat 109 kursi (19,46%) di DPR hasil Pemilihan Umum Anggota DPR 2014, setelah mendapat 23.681.471 suara (18,95%). Dengan hasil ini, PDI Perjuangan menempati posisi pertama dalam perolehan suara serta kursi di DPR.

Pemilu 2019

PDI Perjuangan mendapat 128 kursi (22,26%) di DPR hasil Pemilihan Umum Anggota DPR 2019, setelah mendapat 27.053.961 suara (19,33%). Dengan hasil ini, PDI Perjuangan menempati posisi pertama dalam perolehan suara serta kursi di DPR .

 

Bimbingan Teknis Bagi Para Aggota Legislatif

 


 

DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat mengadakan Bimtek (Bimbingan Teknis) bagi para anggota Legislatif PDI Perjuangan se Provinsi Jawa Barat di hotel Santika Megacity Bekasi bulan Desember 2021. Ketua dan Sekretaris Fraksi PDI Perjuangan Kabupaten Bandung (Kang M. Luthfi Hafiyyan dan Kang Dadang Koswara) hadir sebagai peserta. Saya dan Kang Henhen (Ketua dan Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung) diundang hadir untuk mengikuti Pembukaan dan Rakor (rapat kordinasi) tiga Pilar (struktur Partai, Legislatif dan eksekutif). Dari struktur Partai ada Ketua DPP PDI Perjuangan, Sukur Nababan; KSB (Ono Surono, Ketut Sustiawan, Ineu Purwadewi) DPD PDI Provinsi Jawa Barat dan jajarannya; Ketua dan Sekretaris DPC PDI Perjuangan Kabupaten dan Kota se-Jawa Barat; para anggota DPRD dari Provinsi Jawa Barat dan Kota/Kabupaten se Jawa Barat; dan para Kepala Daerah (Bupati, Wakil Bupati/Walikota).

Pembukaan Bimtek dilaksanakan seusai salat Jumat, diisi dengan arahan dari Ketua DPD, Wakabid Bidang Pemenangan Pemilu dan Ketua DPP. Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian hasil survei oleh SMRC (Saiful Mujani Research Consultant) yang disampaikan langsung oleh Direktur Eksekutif nya, Sirodjudin. Survei ini diadakan atas prakarsa DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat untuk mengetahui posisi partai di Jawa Barat termasuk di dalamnya posisi partai di 28 kota dan Kabupaten se Jawa Barat. Di samping itu survei juga melihat faktor faktor yang mempengaruhi elektoral partai seperti simbol simbol partai, tokoh, hubungan kekeluargaan, kepedulian partai terhadap nasib rakyat dlsb. Survei juga memotret popularitas dan elektabiltas para Pengurus dan Anggota Legislatif di setiap Dapil di Jawa Barat.

Secara Umum dapat saya sampaikan bahwa jika Pemilu diadakan di bulan Desember 2021, maka PDI Perjuangan menang di Jawa Barat. PDI Perjuangan unggul atas Gerindra, Golkar, PKS, Nasdem, PKB, PAN dan partai partai lainnya. Alhamdulillah. Terima kasih kepada para pemilih.

Kang Henhen dan saya berangkat pukul 09.00 dari Kantor DPRD Kabupaten Bandung di Soreang dan tiba di Bekasi pukul 12.00. Acara Rakor berlangsung hingga sekitar pukul 22.00 tapi kami baru pulang sekitar pukul 00.30. Lalin di jalan tol padat merayap sehingga kami baru bisa singgah di rest area sekitar pukul 02.00 untuk "makan sahur" dan ngobrol dengan Kang Yuda. Akhirnya kami tiba di Soreang saat subuh. Saya ikut salat subuh di di ruang Waka 3 DPRD dan segera berkendara melalui jalan tol Soroja sampai akhirnya tiga di rumah menjelang pukul 06.00.