Jumat, 16 Juni 2023

BSPN Milenial

 

Beberapa hari yang lalu Kang Nanang Parhan berkirim pesan lewat Whatsapp bahwa BSPN PDI Perjuangan Kabupaten Bandung hendak bertemu. BSPN (Badan Saksi dan Pemilu Nasional) adalah salah satu Badan di DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung yang berfungsi menyiapkan dan meningkatkan mutu SDM Saksi serta mengawal dan mengamankan suara para pemilih PDI Perjuangan baik itu pileg pilkada maupun pilpres. Setelah Ketua BSPN Kang Rudita meninggal dunia dan Sekretaris BSPN Kang Aceng Wajidin mengundurkan diri maka kami menyusun BSPN yang baru. Pertama tama kami mengirim tujuh nama kandidat Kepala BSPN ke BSPN Pusat di Jakarta untuk diuji kelayakan dan kepatutannya. Dari ketujuh nama akhirnya mengerucut ke beberapa nama dan akhirnya satu orang terpilih sebagai Kepala. Teh Diniar namanya. Kepala BSPN yang baru ini membentuk kepengurusan baru terdiri dari Kepala Sekretaris dan Bendahara serta Wakil Kepala yang memimpin divisi divisi. Nah mereka inilah yang ingin bertemu DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung untuk ber audiensi. Kepala Sekretariat menyarankan agar audiensi dilakukan pada hari Minggu.

Pada hari Minggu setelah lepas waktu zuhur saya berangkat dari Cileunyi dan memasuki Jalan tol Padaleunyi untuk keluar di pintu tol Buahbatu. Jalan Bojongsoang nampak lengang sehingga saya bisa menikmati perjalanan. Tidak berapa lama kami tiba di Sekretariat DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung di Baleendah. Para pedagang keliling yang biasanya membuka lapak di Jalan Jaksa Naranata masih ada satu dua yang membereskan jongko atau lapaknya. Kebetulan hujan turun gerimis membersihkan debu debu di jalan sehingga saat tiba di Sekretariat suasana terasa nyaman. Setelah memarkir mobil saya beranjak ke masjid untuk melaksanakan salat asar. Saya masih bisa mengikuti salat berjamaah pada rakaat ketiga dan keempat.

Sekitar pukul 16.00 Kang Henhen membuka rapat kordinasi DPC dan Fraksi PDI Perjuangan dengan terlebih dahulu menerima BSPN PDI Perjuangan Cabang Kabupaten Bandung. Teh Diniar mengenalkan satu persatu skuad nya yang 100% adalah anak anak muda yang lahir sekitar tahun 2000 an. Karena itu saya menyebut mereka BSPN Milenial. Setelah itu Kepala BSPN menyampaikan program kerjanya dari mulai Pelatihan Pelatih Saksi Daerah sampai pengamanan dan pelaporan suara pada Pemilu 2024.

Setelah memberi pengarahan dan berbagi pengalaman mengenai pengawalan suara di TPS sampai target politik, selanjutnya saya menyampaikan SK perubahan keenam BSPN PDI Perjuangan Cabang Kabupaten Bandung.

Setelah skuad BSPN berpamitan, acara rapat kordinasi DPC dan Fraksi PDI Perjuangan Kabupaten Bandung dilanjutkan hingga waktu magrib. Kang Luthfi selaku Wakil Bendahara melaporkan perolehan dana dari kawan Fraksi PDI Perjuangan baik itu DPRD Kabupaten DPRD Provinsi dan DPR RI untuk digunakan bagi keperluan berbagi di hari lebaran.

Acara dilanjutkan dengan berbuka puasa. Ternyata beberapa kawan membawa bermacam macam "cireng". Itulah yang menjadi menu iftar kami sore itu. Tentu saja ditemani secangkir kopi panas.

 

Deklarasi Bersama untuk Kedamaian, Pemilu Berkualitas 2024

 

Alarm pada telpon genggam saya setel pukul 09.30 WIB. Kemudian perangkat Zoom saya nyalakan. Meeting id dan password saya masukkan. Sekitar pukul 10.00 host mengizinkan saya bergabung dalam simposium Nasional yang diadakan secara hybrid, luring dan daring.

Prof. Hamka Haq selaku Ketum DPP Bamusi PDI Perjuangan menyampaikan sambutan berisi latar belakang penyelenggaraan simposium. Simposium mengundang pembicara dari unsur pemerintah dan kalangan umat beragama bahkan penganut aliran kepercayaan.

Setelah itu Prof. Mahfud MD selaku key note speaker menyampaikan paparannya.

Dalam paparannya yang terdiri dari empat slide, Prof Mahfud menyampaikan gambaran mengenai kehidupan bernegara, konstitusi, dan Demokrasi baik secara substantial maupun prosedural dan menyampaikan kemajuan demokrasi di Indonesia saat ini dibandingkan pada masa orde baru. Setelah itu Prof Mahfud mengkaitkan antara agama dengan kehidupan politik di Indonesia. Agama menimbulkan politik inspiratif.

Politik inspiratif melihat agama agama memiliki kesamaan dalam kemanusiaan. Ini yang dinamakan "kalimatun sawa".

Politik inspiratif, high politic, bisa disampaikan di rumah ibadah, misalnya bicara tentang pemimpin yang baik, keadilan. Tapi tempat ibadah tidak boleh untuk politik praktis misalnya untuk mengkampanyekan seseorang.

Sekitar pukul 12.00 simposium dihentikan sejenak dan dilanjutkan pada pukul 13.00. Keseluruhan acara bisa diikuti di channel YouTube PDI Perjuangan atau TV Bamusi.

Menurut Prof. Hamka Haq kegiatan seperti ini akan diadakan setiap tiga bulan sekali.

Deklarasi

Berita dari Antara menyebutkan bahwa para tokoh agama yang hadir di Simposium Nasional tersebut mendeklarasikan komitmen untuk memastikan penyelenggaraan Pemilu 2024 berlangsung secara damai, rukun, dan solid tanpa keberadaan politisasi agama.

Pembacaan komitmen bertajuk "Deklarasi Bersama untuk Kedamaian, Pemilu Berkualitas 2024" itu dilakukan di tengah-tengah acara simposium nasional yang digelar di Sekolah Partai PDI Perjuangan, Jakarta, dan disaksikan secara virtual oleh Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

"Untuk menjaga tegaknya negara Pancasila, kami peserta simposium nasional yang diselenggarakan pada 21 Maret 2023 menyepakati perlunya membangun kedamaian dalam kehidupan beragama guna lebih meningkatkan soliditas dan solidaritas berbangsa tanpa diskriminasi dan tanpa politisasi agama," ujar perwakilan tokoh agama Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Bidang Kerja Sama dan Hubungan Luar Negeri Syafiq A. Mughni saat membacakan salah satu poin dalam deklarasi itu.

Syafiq didampingi tokoh agama lain dalam pembacaan deklarasi tersebut, di antaranya Fatah S. Massinai selaku perwakilan dari Ahlul Bait Indonesia, Sekretaris DPP Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) Rio Sidauruk, Hafizurrahman Danang mewakili Ahmadiyah, dan Romo Hans Jeharut dari Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI).

Berikutnya, tokoh agama dari Persekutuan Gereja-gereja Indonesia Gomar Gultom dan perwakilan Baitul Muslimin Indonesia Hamka Haq. Lalu, ada pula Mayjen TNI (Purn.) Wisnu Bawa Tenaya dari Parisada Hindu Dharma Indonesia, dan WS Budi Santoso Tanuwibowo dari Majelis Tinggi Agama Konghucu Indonesia yang hadir secara virtual.

Poin selanjutnya yang dimuat dalam deklarasi itu adalah kesadaran para tokoh agama bahwa diskriminasi dan politisasi agama sangat bertentangan dengan ideologi Pancasila dan akan melahirkan disintegrasi bangsa.

Oleh karena itu, menurut mereka, segala bentuk gagasan yang mengarah kepada politisasi agama atau politik identitas diskriminatif atas nama agama harus dihindari.

 

Perjalanan Bandung Magetan

 

Menghadiri Resepsi Perhikahan di Sragen


Pada sepuluh hari terakhir bulan Februari 2023, adik-adikku : Yus, Titik dan Wiwin mengajakku ke Sragen. Kami berangkat malam hari dari Bandung memasuki Jalan Tol Cisumdawu kemudian memasuki Jalan Tol Cipali dan pada sekitar pukul 03.00 tiba di Semarang. Dik Yus mengajak kami menginap di hotel Amaris. Lumayan bisa beristirahat sampai pagi hari.

Pagi harinya setelah berkeliling kota  kami mengunjungi kawan Jeng Titik di dekat Pelabuhan Tanjung Emas sebelum kemudian memasuki Jalan Tol Semarang – Solo dan keluar di Boyolali. Dari Boyolali kami menuju wilayah Klaten melewati Ceper dan kemudian tiba di kawasan Cawas, Sukoharjo, untuk mengunjungi anak Jeng Wiwin, Hajid, yang sedang “mondok” di SMA Muhammadiyah.

Setelah melaksanakan salat zuhur dan makan siang di kedai soto, kami meninggalkan Sukoharjo dan menuju kota Karanganyar lalu mengelilingi lereng Gunung Lawu menuju Sragen. Di perjalanan kami singgah terlebih dahulu ke rumah kawan sekolah Jeng Titik untuk melaksanakan salat magrib, mandi dan menikmati buah durian.

Menjelang waktu isya kami melanjutkan perjalanan melewati Batu Jamus dan beberapa bendungan antara lain bendungan Brambang sebelum akhirnya tiba di rumah Mas Rosyid yang malam itu menyelenggarakan akad nikah bagi anak perempuannya. Acara akad nikah juga  dihadiri oleh Mas Slamet Riyadi, anggota DPRD Kabupaten Ngawi dari Fraksi PDI Perjuangan. Setelah acara akad nikah selesai kami meninggalkan Sragen menuju Ngawi melewati desa-desa hingga tiba di Winong. Ini adalah wilayah terdepan Jawa Tengah yang berbatasan dengan Provinsi Jawa Timur. Setelah menyebrangi Sungai Sawur kami tiba di Desa Tanggung Kecamatan Sine Kabupaten Ngawi. Kami terus berkendara menuju Sine  untuk kemudian menginap di rumah Pak Tomo.


 

Pada keesokan harinya kami menikmati keindahan pemandangan di lereng Gunung Lawu dengan menuruni sungai yang berair jernih, melihat pesawahan, bendungan dan hutan. Setelah itu kami menuju Ngrambe dan singgah di sekolahku SMP PPS 2 untuk berfoto dan kemudian menuju Walikukun kemudian singgah di rumah Bupuh Karsohutomo di Gendingan sambil menjemput Jeng Yani yang tiba dari Bogor.  Dari Gendingan kami kembali menuju Sragen untuk menghadiri resepsi pernikahan. Kami bertemu Mas Yono dari Bengkulu, Mas Samidi dari Surabaya, Mas Nuhadi dari Nganjuk, Om Martin dari Ngawi dan sanak saudara lainnya.

Sekitar pukul 13.00 kami meninggalkan kediaman Mas Rosyid dan memasuki jalan tol Solo-Kertasana. Kami turun di sekitar Maospati kemudian melanjutkan perjalanan menuju Tinap, Sukomoro di Kabupaten Magetan. Kali ini kami mengunjungi Pakpuh Moeljono dan keluarga.

Dari Sukomoro kami menuju Ngrambe melewati Kendal dan Jogorogo. Dari Ngrambe kami menuju Tulakan untuk mengunjungi beberapa sanak saudara yang sedang sakit seperi Mbak Ngad, Mas Bandi, Jeng Sumini dan Tante Sum.

Usai bersilaturahmi dengan keluarga kami melepas lelah sambil menikmati mie  dan nasi goreng di kedai mie milik kemenakan kami sebelum akhirnya kembali ke rumah Pak Tomo untuk menginap. Malam hari itu kami mengobrol hingga larut malam karena keesokan harinya kami akan kembali ke Bandung.

Pada keesokah harinya kami berkunjung ke Pasar Sine untuk berbelanja dan mencari makanan untuk sarapan pagi. Sementara itu aku menyempatkan diri berkunjung dengan Mas Suparno, kawanku sekolah dulu yang tinggal di belakang pasar sambil membuka kios kelontongan.

Setelah sarapan pagi di rumah Pak Tomo kami masih melepas kangen di rumah joglo sebelum kemudian berpamitan.

Siang itu kami meninggalkan Sine di Kabupaten Ngawi, Jawa Tengah menuju Gondang atau Kedung Banteng di Kabupaten Sragen, Jawa Timur. Dari Gondang kami memasuku jalan tol menuju kota Solo atau Surakarta.


 

Di Surakarta, adik-adikku “shopping” di Pasar Klewer dan menikmati bakso Mbah Pawiro.  Aku memilih mengisi waktu dengan ngopi di angkringan lalu ngobrol dengan penjual akik dan cangklong di halaman masjid keraton. Setelah itu aku mengeksplorasi bangunan Masjid Keraton Surakarta Hadiningrat dan mengambil banyak gambar. Sedari dulu aku terpesona dengan arsitektur masjid ini.

 

Usai salat zuhur kami meninggalkan kota Surakarta dan kembali memasuki jalan tol menuju Salatiga, Semarang, Kendal, Pemalang, Pekalongan, Tegal dan berhenti di rest area di sekitar Brebes hingga waktu magrib. Setelah salat dan makan kami melanjutkan perjalanan menuju Cirebon lalu keluar di Bandara Kertajati dan memasuki jalan nasional menuju Jatiwangi, Majalengka kemudian menuju Sumedang dan kembali memasuki jalan tol menuju Bandung hingga keluar di Simpang Cilenyi. Tiba di Cileunyi Dik Yus,  Jeng Titik dan Jeng Yani  menginap di rumah. Jeng Wiwin melanjutkan perjalan ke Riung Bandung.

 

Senin, 12 Juni 2023

Reuni


Ada gurauan bahwa kita perlu sekolah agar kita bisa reunian. Tentu itu ada benarnya. Sekarang ini aku sering menghadiri reuni kawan-kawan sekolahku maupun kawan kawan sekolah istriku. Reuni yang terbaru diadakan di Rancakendal, Bandung utara. Kordinatornya Mas Nurhasto. Kali ini reuni kawan kuliah di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)  Universitas Pasundan (Unpas)  tapi khusus kelas sore atau kelas karyawan meskipun tidak semua adalah karyawan. Prodinya campuran tetapi kebanyakan dari Prodi (Program Studi) Administrasi Negara (AN)  meski ada pula yang dari Prodi Kesejahteraan Sosial  (KS)seperti diriku.

Aku  sebenarnya lupa jadwal reuni tersebut. Tetapi saat baca grup Whatsapp Mas Nurhasto mencolekku. Akupun segera bersiap. Mandi, menyalakan mesin mobil dan berangkat. Istriku yang juga alumni FISIP Unpas dari Prodi KS tidak bisa ikut serta karena kesehatan kurang prima saat itu. Maka berangkatlah aku sendiri menyusuri jalan dari Cileunyi menuju Cibiru, Ujung Berung, Cikutra menuju Jalan Rancakendal di sekitar Dago Pakar, Bandung Utara.

Saat aku tiba sebenarnya acara nyaris selesai, tetapi kawan kawan belum pulang jadi aku masih bisa bertemu dengan Budiman, Uus Agusni, Tedy, Guntur dan Ahmad. Kawan-kawan perempuan juga masih ada seperti Yuni, Susi, Nina dan lain-lain. Kebetulan resto yang digunakan untuk reuni adalah resto yang dikelola Mas Marno suami dari salah seorang kawan kami. Kami masih sempat ngopi dan ngobrol. Akupun masih bisa makan nasi timbel. Setelah berfoto bersama kami pun meninggalkan tempat. Aku kembali menyusuri jalan di Bandung Utara hingga tiba di Cileunyi.

Reuni Partai


 

Ternyata reuni bukan hanya dengan kawan kuliah, akupun sempat reunian dengan kawan kawan pengurus partai sebelum masa reformasi. Sebenarnya ini adalah suatu kebetulan. Kami bertemu di resepsi pernikahan anak kang Rahmat Mulyana (Muy) di sebuah resort di Lembang. Kali ini aku berangkat bersama istriku. Saat tiba di sana kami bertemu dengan kawan-kawan pengurus PDI Pro Mega. Ada Kang Yadi, Kang Pupu dan Kang Nandang. Ketika itu Kang Yadi adalah Ketua, Kang Pupu adalah Bendahara dan Kang Nandang adalah Wakil Ketua. Aku sendiri adalah Sekretaris. Maka kesempatan itu menjadi pertemuan melepas kangen. Usia kami di antara 60-70 tahun. Alhamdulillah masih bisa reunian.

Sebelum pulang kami berfoto bersama. Tentu dengan generasi yang lebih muda seperti Kang Muy, Teh Ida dan Kang Opik. Kang Muy adalah Bendahara, Teh Ida adalah Ketua dan Kang Opik adalah Wakil Ketua. Mereka semua dari DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung Barat. Adapula Teh Nia, anak Kang Yadi. Teh Nia adalah anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dan Wakil Bendahara DPD PDI Perjuangan Jawa Barat. Kang Yadi anggota DPR RI.

Saat pulang dari Lembang aku memilih jalan melalui Jalan Kolonel Masturi melewati Cisarua dan Cimahi sebelum memasuki pintu tol Baros. Sementara saat berangkat ke Lembang aku melewati Parongpong.

Pantai Kejawanan di Kota Cirebon


Sejak tidak lagi menjadi anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, aku nyaris tidak lagi bepergian ke Cirebon atau Indramayu. Hanya pernah lewat sekali saat ada undangan menghadiri resepsi pernikahan anak Mas Bowo di kota Tegal.

Bulan Februari 2023 aku berkesempatan berkunjung ke Cirebon untuk menghadiri undangan resepsi pernikahan anak Bupati Majalengka. Kebetulan ketika itu anak perempuanku baru pulang dari Perancis dan ada di Bandung, jadi kami pergi berempat, aku istriku anak perempuanku dan Kanaya cucuku.

Pagi hari kami berangkat dari pintu tol Cileunyi memasuki jalan tol Cisumdawu (Cileunyi Sumedang Dawuan). Kami berkendara menikmati pemandangan alam pegunungan melewati twin tunnel dan kota Sumedang kemudian keluar di Cimalaka. Nah dari Cimalaka kami melewati jalan nasional menuju bandara Kertajati dan dari sana memasuki jalan tol Cipali (Cikampek Palimanan). Kami berhenti sebentar di rest area untuk salat zuhur  mengambil uang di ATM dan mengisi bahan bakar. 


 

Sekitar pukul 13.00 kami memasuki Palimanan, Trusmi dan memasuki kota Cirebon.  Kami parkir di halaman sekolah Muhammadiyah lalu menyebrang ke hotel Apita Plaza tempat resepsi berlangsung. Mas Nanang Tyas Puspito sudah keluar dari tempat resepsi. Mas Nanang adalah dosen pembimbing mempelai pengantin pria. Tadinya kami janjian untuk bertemu.

 Saat kami tiba di ballroom tempat resepsi berlangsung, tamu masih antri untuk menyalami mempelai pengantin dan kedua pasangan orang tua mereka. Usai bersalaman kami berkeliling mencari hidangan. Aku dan nyonya menikmati empal gentong, makanan khas Cirebon. Akupun sempat bertemu dengan Mas Abdy Yuhana sebelum meninggalkan tempat resepsi.


 

Senyampang bersama istri anak dan cucu, aku mengajak mereka berkeliling kota Cirebon kemudian tiba di pelabuhan dan memasuki Pantai Kejawanan. Kami mengajak Kanaya berjalan-jalan di taman bermain lalu menuju bungalow di tepi pantai. Di sinilah kami menghabiskan wantu menikmati pemandangan pantai, deburan ombak, tiupan angin dan menyaksikan kapal-kapal sedang berlabuh di kejauhan hingga menjelang matahari tenggelam.

Usai salat magrib kami meninggalkan kota Cirebon, kembali memasuki jalan tol Cipali dan keluar di Bandara Kertajati. Kami berhenti di depan sebuah hotel untuk beristirahat dan menikmati kopi serta snack.

Dari Kertajati kami menuju kota Jatiwangi di Kabupaten Majalengka lalu memasuki wilayah Kabupaten Sumedang dan kembali memasuki jalan tol Cisumdawu. Saat tiba di kota Sumedang kami singgah di rumah makan untuk menikmati tahu Sumedang. Setelah puas menikmati tahu kami berjalan-jalan di kota lalu kembali memasuki jalan tol menuju Cileunyi.

Sekitar pukul 22.00 kami tiba di rumah.

 

Minggu, 11 Juni 2023

Hari Kanker se-Dunia 2023

 


Kang Sam menyampaikan undangan perihal Peringatan Hari Kanker se-Dunia. Sayapun berangkat pagi pagi dari rumah menuju Soreang. Meski di undangan tertera pukul 07.30 tetapi ketika saya datang di Gedung Budaya pada pukul 08.00 ruangan masih lengang. Sudah biasa. Saya duduk di kursi ketiga dari baris ketiga.

Panitia menyiapkan hiburan musik electone dengan biduan yang menyanyikan lagu lagu melow. Beberapa deretan kursi mulai terisi. Sayapun merasa terhibur di pagi hari ini.

Sekitar pukul 09.00 MC menyampaikan bahwa Bupati akan segera hadir. Kursi kursi mulai penuh terisi. Kebanyakan kaum Ibu dengan seragam t shirt berwarna ungu.

Bertindak sebagai MC Kang Joe dan Kang Jainal. Seingat saya dulu keduanya personal P Project. Keduanya membuat acara menjadi semarak.

Ketua Panitia dalam sambutan nya antara lain mengatakan bahwa kanker menjadi penyakit pembunuh kedua setelah penyakit jantung.

Setelah laporan dari Ketua Panitia, selanjutnya Dr Eva Basmala direktur RSUD Al Ihsan menyampaikan bahwa meski RSUD Al Ihsan milik pemerintah Provinsi Jawa Barat tetapi hampir 50 % pasiennya berasal dari Kabupaten Bandung.

Direktur RSUD mengatakan bahwa tema Peringatan Hari Kanker se-Dunia kali ini adalah "Close the Care Gap" yang bermakna agar pelayanan kesehatan terhadap pasien kanker bisa menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Lebih jauh direktur RSUD mengatakan bahwa peralatan untuk mendeteksi kanker rahim sudah cukup canggih. Pasien bisa mengetahui hasil pemeriksaan hanya dalam waktu sekitar sepuluh menit saja. Hasil pemeriksaan bisa menjelaskan apakah pasien terkena kanker atau tumor biasa. Alat tersebut hanya ada di RSUD Al Ihsan saja.

Menurut direktur RSUD, kini kanker bisa disembuhkan asal terdeteksi secara dini. Sayangnya kebanyakan pasien datang untuk berobat ketika kanker sudah pada stadium lanjut. Karena itu direktur RSUD mengimbau kaum Ibu yang hadir di auditorium untuk tidak segan segan memeriksakan diri jika memiliki gejala dini kanker.

Lebih lanjut RSUD Al Ihsan melakukan sosialisasi dan penanganan kanker dengan cara edukasi prevensi dan pengobatan.

Bupati Bandung DR H. M. Dadang Supriatna menyampaikan apresiasi nya kepada direktur RSUD Al Ihsan dan seluruh jajarannya. Bupati juga menyatakan bahwa Kabupaten Bandung membangun tujuh RS baru antara lain di Cimaung dan Kertasari.

Bupati membuka resmi acara, melepas balon ke udara dan melambaikan tangan padaku seraya berkata "kapan kita ngobrol ?" setelah itu meninggalkan acara untuk menghadiri Musrenbang di tempat lain.

Saya menghidupkan mesin mobil lalu menuju ke DPRD Kabupaten Bandung. Saya singgah ke ruang Fraksi PDI Perjuangan dan menanyakan kawan kawan ke teh Rida, staff Fraksi . Tidak lama kemudian Kang Henhen datang dan saya beranjak ke ruang kerjanya di lantai atas. Kang Benny membuatkanku secangkir kopi Ciwidey dengan gula aren.

Kang Ari datang dari hotel Grand Sunshine, kami mengobrol bertiga hingga menjelang waktu zuhur. Waktu Kang Ari pamit, kawan kawan PAC PDI Perjuangan dari Pasirjambu Ciwidey Rancabali datang. Saya berpamitan dengan Kang Henhen dan kembali ke ruang Fraksi PDI Perjuangan. Saya bertemu Ceu Wita dan memberi selamat karena Ceu Wita ternyata mempunyai anak lewat proses bayi tabung. Ceu Wita menyiapkan makan siang tapi saya bergegas pamit. Lalu teh Rida memasukkan dua kotak nasi ke bagasi mobil.

Saat saya meninggalkan Soreang, hujan turun deras di jalan tol Soroja. Saya terpaksa memperlambat kecepatan dan menyalakan lampu dim.

Hujan mereda saat saya singgah ke rest area KM 147 untuk salat dan mengisi bahan bakar.

 

Deklarasi Bacaleg PDI Perjuangan


Semangat kawan kawan untuk "nyaleg" sudah terlihat sejak proses Pemilu 2024 digulirkan Ketua KPU, Prof Hasyim Asyhari yang oleh anakku dipanggil dengan sebutan Abah. Hari Sabtu kemarin saya menghadiri acara Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Paseh H. Nandang Hidayat yang akan maju menjadi caleg untuk DPRD Kabupaten Bandung dari Dapil 5 yang meliputi Kecamatan Paseh, Kecamatan Solokan Jeruk, Kecamatan Majalaya dan Kecamatan Ibun. Dapil 5 ini berbatasan langsung dengan Kabupaten Garut.

Saat ini dari Dapil 5 terwakili oleh Kang Deswan dari Ibun, yang merupakan mantan Kepala Desa Pangguh. Untuk Pemilu 2024 kami menargetkan setidaknya dapat dua kursi. Saat ini selain Kang Deswan ada beberapa bacaleg yang akan maju seperti Teh Yulianti (Wakil Sekretaris Bidang eksternal DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung), H. Nandang (Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Paseh), Kang Usep (Ketua PAC PDI Perjuangan Kecamatan Majalaya) dan beberapa nama lainnya.

Sebenarnya saat saya berangkat dari rumah menuju kediaman H. Yadi Srimulyadi di Solokan Jeruk awalnya karena ada undangan dari Kang Nanang bahwa akan ada acara sosper dari Teh Nia, anggota DPRD Provinsi Jawa Barat dari Dapil Jabar 2. Sosper, sosialisasi Perda. Tidak terpikir sama sekali bahwa saya akan menghadiri adanya deklarasi dari H. Nandang tersebut.

Sekitar pukul 10.00 ada pesan melalui Whatsapp meminta konfirmasi kehadiran saya di Solokan Jeruk. Saya pun segera bersiap lalu meminjam mobil anak saya yang kelihatannya masih bersih dan kemudian segera meluncur ke Rancaekek langsung menuju Solokan Jeruk yang berjarak sekitar 10 km dari rumah. Tiba di rumah H. Yadi ada Ceu Wewen menyambut saya. Acara Sosper sudah berlangsung. Saya ikut mendengarkan paparan Teh Nia dari ruang sebelah. Tidak lama Kang Nanang mengajak saya ke ruang kerja H. Yadi yang merupakan anggota DPR RI dari Jabar 2 meliputi Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat.

Tidak berapa lama Kang Yadi muncul dengan menggunakan t shirt berwarna putih dipadu jacket merah berlambang DPR RI. Berpeci pula. Kami bersalaman dan Kang Yadi membuatkanku secangkir kopi. Kami pun membahas persiapan Pemilu 2024.

Nah setelah acara sosper ditutup dengan doa ternyata masih ada acara berikutnya. MC memberi waktu pada Kang Nandang (entah mengapa biasa dipanggil Haji Sanip). Haji Sanip eh Kang Nandang tampil dan menyatakan diri maju ke pileg 2024. Tentu saja hal ini disambut dengan suka cita oleh hadirin yang memang merupakan struktural Partai baik di tingkat anak Cabang maupun Ranting se Kecamatan Paseh.

Setelah Kang Nandang saya pun diberi waktu memberi sambutan. Sayapun menyampaikan bahwa sesuai dengan rekomendasi Rakercab PDI Perjuangan Kabupaten Bandung tahun 2021 (?) untuk Dapil 5 diberi target memperoleh dua kursi. Untuk kursi DPRD Provinsi Jawa Barat pun Dapil Jabar 2 diberi target dua kursi. Demikian juga dengan kursi DPR RI. Bedanya untuk DPR RI Dapil Jabar 2 meliputi dua Kabupaten yakni Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat. Setelah saya Kang Yadi juga memperkuat apa yang saya sampaikan seraya menekankan pada segi ideologi dan historis dan berharap dari Jabar 2 bisa terpilih dua angleg ke Senayan, Kang Yadi dan Mas Harjoko (begitu Kang Yadi biasa memanggil namaku).

Seusai acara, Kang Yadi mengajak saya masuk ke ruang kerja. Mas Joko Nugroho  dari BSPN Daerah PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat bertanya apakah saya akan menghadiri pengajian di Rancatungku yang dihadiri Kang Ono Surono Ketua DPD PDI Perjuangan Provinsi Jawa Barat. Sayapun mohon diri pada empunya rumah yang mengantar saya sampai gerbang. Sementara Ceu Wewen membawakan paket makan siang dalam goody bag berwarna merah.

Perlahan lahan saya keluar meninggalkan halaman rumah Kang Yadi yang megah dan meninggalkan Solokan Jeruk yang biasa saya sebut sebagai ibukota PDI Perjuangan Kabupaten Bandung. Jalan nampak lengang ketika itu. Kawan kawan masih berkumpul di halaman belakang.

Melewati Solokan Jeruk, lansekap alangkah eloknya. Di kiri dan kanan jalan masih dihiasi hamparan sawah sejauh mata memandang. Di kejauhan Gunung Manglayang berdiri tegak dengan anggun menaungi Bandung Raya.

Pada SPBU Pertamina yang terletak di tengah persawahan saya menepi, mengisi tangki dengan Pertamax full seharga Rp 300.000,00 agar perjalanan berikutnya lancar jaya. Sayapun salat zuhur lalu menikmati makan siang yang diberikan Ceu Wewen. Oh ada buku sosialisasi 4 Pilar rupanya.

Sayapun melanjutkan perjalanan ke arah Cileunyi. Tanda tanda kepadatan lalu lintas sudah terasa sejak memasuki Jalan Nasional. Saya berhenti di simpang tiga Cileunyi, melihat flyer acara, menengok jam pada telpon genggam. Ternyata sudah pukul 14.00. Tidak cukup waktu sampai ke Rancatungku. Saya berkirim kabar pada Kang Rajo Galan Ketua Gema Pasundan seraya berkirim salam buat Pak Kiyai . Saya tidak bisa mengikuti pengajian yang dimulai pada pukul 13.00.

Kini saatnya melakukan tugas domestik. Saya mendapat arahan dari kesayangan di rumah untuk membayar iuran RT sampai dengan bulan Juni. Saya berbelok ke SPBU Pertamina milik keluarga Ma'soem di Cikandang dan mencari ATM. Tapi ATM nya tidak berfungsi. Sayapun meninggalkan SPBU untuk segera meluncur ke rumah, dan segera bertugas menjadi Satpam, karena kesayangan akan berkunjung ke Banjaran bersama anak dan cucu. Jadilah malam Mingguan sendirian di rumah dan bonusnya adalah bisa nonton televisi tanpa gangguan.