Minggu, 03 Agustus 2014

Shenzen pusat pertumbuhan baru di Cina



“Shenzhen, covering an area of 1984.69 square meters, is east to the Daya and Dapeng Bay, west to Pearl River, north to Dongguan and Huizhou and south to Hong Kong. It consists of 6 districts: Luohun, Futian, Nanshan, Yantian,Bao’an and Longgang, of which the last two are not located in the Special Zone.Azalea is the the municipal flower of Shenzhen. In the city there are skyscrapers everywhere. There are fisherman wedding dance when fisherman hold weddings, dragon dance in the 2 nd day of Chinese New Year, dragon boat competition in Dragon Boat Festival” (chinese.com).

Berangkat dari Cengkareng dengan menggunakan pesawat GIA nomor  penerbangan GA 860 kelas Y dengan nomor kursi 41 K aku dkk tiba di Hong Kong tanggal 2 Desember 2005 pagi. Dennis Te tour coordinator dari One China Tour yang berkantor di Causeway Bay mengantar keliling HK sehari semalam. Dennis ternyata pandai berbahasa Indonesia karena lahir di Indonesia. Keesokan  paginya aku  menyebrang dengan menggunakan ferry ke pelabuhan  Shekou di Shenzen, China daratan. Harga tiketnya sekitar 150 yuan atau RMB (renmimbi).
Berbeda dengan ferry di tanah air, ferry di HK seperti pesawat terbang pelayanannya. Tertib bersih nyaman dan berkelas. Ada pramugari cantik  dengan seragam mirip tentara tampil dengan senyuman. Senyuman adalah sesuatu yang standar dijumpai dalam pelayanan publik di HK atau China. Beda dengan bayangan orang tentang sebuah negara Komunis, para pekerja di sektor publik selalu tersenyum dalam pelayanannya.
Pemandangan di laut sungguh indah. Bayangan HK dan China daratan nampak samar di kejauhan. Kapal-kapal dan ferry bersliweran. Di kejauhan jalan-jalan tol yang menghubungkan HK dan China daratan dipenuhi kendaraan. Ya HK dan Shenzen terhubung dengan banyak moda transportasi, ferry, mobil dan pesawat terbang. Meski HK secara resmi sudah kembali menjadi bagian dari China tapi HK masih seperti sebuah administrasi tersendiri. Keluar dari HK menuju wilayah China daratan  harus menunjukkan paspor. Mata uang HK masih dipertahankan dengan HK $ sementara China dengan yuan atau RMB. Penduduk HK hidup dengan standar ekonomi yang lebih tinggi. Ada anekdot, supir di HK bisa punya istri muda di China karena, karena penghasilan mereka yang tinggi. Merupakan kebanggaan perempuan China memiliki suami orang HK atau bahkan... orang Indonesia !
Tiba di Shekou port tengah hari, kami langsung menuju jantung kota Shenzen. Oh mama sayange... aku terperangah melihat pembangunan infrastrukur kota yang jauh meninggalkan kota Jakarta sekalipun. Bangunan-bangunan berlomba menggapai langit biru. Geliat kehidupan ekonomi nampak secara kasat mata dari jendela bus yang kutumpangi. Orang China yang hidup dalam negri tirai bambu selama puluhan tahun tiba-tiba hidup dalam era liberal yang kapitalistik. Mereka hidup seperti di kota metropolitan di seluruh dunia bahkan lebih bebas dari penduduk Jakarta. Anak-anak muda berpacaran dan berciuman di taman-taman kota. Pemerintah China nampaknya membiarkan ada dua sistem di sana : Komunisme dan Liberalisme.
Acara  malamku di Shenzen adalah menikmati sebuah teater yang menggelar pertunjukan sendratari spektakuler tentang legenda kepahlawanan China. Pertunjukan dibuat secara kolosal dengan ratusan penari dan property yang canggih seolah-olah kita melihat drama kehidupan yang sesungguhnya. Tata  panggungnya begitu hidup, tata cahayanya begitu bagus, tata suaranya menggetarkan sementara musiknya sangat oriental  dengan suara perkusi yang dominan sehingga penonton terbawa ke dalam kehidupan China yang sesungguhnya. Para artis China bekerja dengan totalitas dan profesionalitas yang tinggi.  Sungguh sebuah pertunjukkan yang mengesankan.
Malam itu Kami  menginap di pusat kota. Di depan hotel tempatku menginap ada sebuah adult shop dengan interior yang transparan disorot lampu warna biru. Di dalamnya dijual aneka alat dan produk yang berhubungan dengan urusan orang dewasa. Semua ini nampak jelas terlihat dari luar saat kita berjalan di trotoar. kami pun mengunjungi pasar yang menjadi pusat perbelanjaan dari aneka produk yang diproduksi di Shenzen dan China pada umumnya. Suasanya persis seperti di Mangga Dua atau Tanah Abang atau bahkan seperti di Klewer.  Pelayannya gadis-gadis China yang yang cantik. Mereka sangat terkesan dengan orang Indonesia.
Tanggal 5 Desember kami meninggalkan Shenzen. Di pelabuhaan Shekou kami melihat-lihat toko buku di terminal keberangkatan. Buku-buku bergambar model nudis China dijual bebas. Setelah mendapatkan exit permit dari imigrasi RRC, dengan menggunakan ferry bernama Pengjiang kami menuju HK.  Memasuki HK ferry langsung terkoneksi dengan bandara HKIA (Hong Kong International Airport). Kami harus membayar tiket CAAC Airport Management and Construction Fee seharga 50 RMB.  Di dalam bandara kami berjumpa dengan banyak gadis Indonesia yang akan kembali ke Indonesia dengan pesawat yang sama. Mereka adalah para asisten rumah tangga yang bekerja di HK. Penampilan mereka sangat modis dan wajah mereka ceria. Kuharapkan tidak ada pemerasan saat mereka kembali di tanah air.





Sabtu, 02 Agustus 2014

Kota Buaya



SURABAYA adalah pintu gerbang  timur Jawa selain sebagai  kota terbesar kedua di tanah air. Karena karakter penduduknya seperti telah tergambar dalam perlawanannya terhadap kemapanan dan agresor dari luar membuat Surabaya identik dengan  patriotisme.  Novelis Idrus menggambarkannya dengan bagus dalam karya sastranya. Posisinya yang strategis membuat Surabaya menjadi magnet bagi banyak orang terutama dari Indonesia bagian timur. Perpaduan antara posisi geografis, budaya dan sejarah telah membuat Surabaya seperti yang dikenal saat ini.
Mungkin sudah  lebih dari tujuh kali aku mengunjungi  Surabaya, sekedar lewat menuju kota lain di Jawa Timur atau Bali, istirahat di stasiun KA Gubeng untuk mandi dan sarapan,   menginap di rumah paman untuk besoknya berangkat menuju kota tujuan untuk mengikuti tes masuk PTN, datang menghadiri sebuah  seminar,  bertemu dengan pemerintahan setempat,  rendesvouz  dengan teman sekolah atau sekedar transit dan membeli  buku di bandara Juanda. Pernah satu atau dua kali aku datang ke Surabaya dengan menggunakan penerbangan paling pagi dari Bandung dan sorenya sudah tiba kembali di bandara Husein dengan pesawat yang sama. Rasanya seperti mimpi saja. Sesuatu yang tidak pernah terbayangkan di masa lalu. Semua itu menjadi mungkin berkat kemajuan ilmu dan teknologi.
Kota Surabaya semakin hari semakin berkembang dan semakin padat penduduknya. Udaranya pun semakin panas. Namun demikian pemerintah kota selalu berusaha menciptakan kota yang tertib, bersih, disiplin, sejuk, indah, aman dan nyaman. Setiap kita berkunjung ke Surabaya selalu ada sesuatu yang baru yang membuat kita terkesan dan nyaman. Lalu lintas yang padat dan semrawut ditata, bangunan tanpa IMB dibongkar meski sudah menjulang ke langit, sungai dibersihkan dan dijadikan tempat yang nyaman untuk pelbagai aktivitas, taman-taman dibuat sehijau dan seasri mungkin.



Kehidupan malam di Surabaya mungkin masih kalah dari Jakarta dan Bandung, tetapi wisata kulinernya semakin semarak. Bangunan-bangunan tua masih banyak yang terpelihara seperti kantor pemerintah provinsi misalnya. Jembatan merah yang tersohor itu masih berdiri dengan baik.  Pabrik rokok yang terkenal di Surabaya kini dijadikan museum. Sayangnya saham industri rokok telah dikuasai secara mayoritas oleh pemodal asing. Wisata ziarah di masjid Sunan Ampel berdenyut 24 jam sehari, peziarah dari seluruh Jawa bahkan  tanah air dan Malaysia selalu memadati tempat tersebut untuk berdoa di depan makam Sunan Ampel, salah seorang penyebar agama Islam yang legendaris dan biasa dikenal dengan Wali Songo.
Berkunjung ke Surabaya rasanya belum lengkap kalau belum menyebrang ke Pulau Madura melalui jembatan Suramadu (Surabaya-Madura). Melintasi selat menggunakan perahu sudah biasa, tapi dengan menggunakan kendaraan darat melintasi laut rasanya menjadi sebuah sensasi tersendiri. Dalam hitungan menit kita bisa tiba di daratan Madura untuk sekedar melihat-lihat sebentar, traveling, atau membeli buah tangan.  Sensasi menyebrangi selat Madura seperti menyebrang di Barelang (Batam Rempang Galang) dan Penang di Malaysia.




Kembali dari Madura, kita bisa melihat patung Jalesveva Jayamahe, yaitu patung bersosok Komodor Yos Soedarso yang tenggelam di perairan Papua dalam perjuangan merebut Irian Jaya (Papua), di depan pelabuhan Tanjung Perak.  Tiba di darat, tidak jauh dari jembatan Suramadu kita akan melintasi makam Dr Soetomo, tokoh pendiri Boedi Oetomo.




Kini ada satu lagi destinasi di Surabaya, yaitu lumpur Sidoarjo yang biasa dikenal dengan lumpur Lapindo. Lumpur yang menyembur karena human error ini telah meratakan pemukiman penduduk, pabrik-pabrik, pesawahan dll. Menjadi sebuah bendungan lumpur raksasa yang mengerikan. Lapindo adalah sebuah perusahaan dari kelompok Bakrie sebuah holding company milik ARB. Sampai kini belum ada penyelesaian yang tuntas bagi penduduk yang menjadi korban dan mengungsi di sekitar.

Untuk mengobati rasa sedih setelah melihat tanggul lumpur Sidoarjo, pergilah ke Tanggul Angin untuk menggunjungi industri rumahan tas dan sepatu. Ada banyak produk tas, sepatu, jaket, koper, ikat pinggang, topi dari kulit pelbagai binantang dan imitasi. Harganya terjangkau, kuallitasnya baik.
Di antara banyak penginapan di Surabaya ada satu dua hotel yang berkesan, salah satunya adalah hotel Majapahit. Hotel ini dulunya bernama  hotel Yamato milik Jepang yang tersohor itu. Dalam buku-buku sejarah digambarkan para pejuang merobek warna biru  pada bendera Belanda sehingga menjadi bendera merah putih. Peristiwa itu dikenal sebagai insiden perobekan bendera Belanda di  hotel Yamato.  Hingga  kini  hotel Yamato masih difungsikan setelah direnovasi besar-besaran  dengan mempertahankan bentuk arsitektur aslinya. Namanya kemudian  diubah  menjadi Hotel Majapahit. Beberapa perabotan di dalamnya dibuat mirip aslinya, hanya saja beberapa bagian yang konon dulunya terbuat dari emas kini diganti dengan kuningan.



Jumat, 01 Agustus 2014

Manado : Bulevar, Bubur dan Bibir


Bunaken, tempat menyelam yang terkenal di dunia

JAWA Barat dan Sulawesi Utara memiliki tiga kesamaan : pertama, sama-sama berada di perbatasan Republik Indonesia. Jika Sulawesi Utara berbatasan dengan Filipina, Jawa Barat berbatasan dengan Australia. Kedua, sama-sama dibatasi oleh laut. Ketiga, kedua provinsi ini sama-sama berada di wilayah paling ujung, Sulawesi Utara di ujung utara dan Jawa Barat di ujung selatan. Karena itu di pertengahan tahun 2005 kamipun memutuskan bertolak ke Menado, bertemu dengan pemerintahan daerah provinsi Sulawesi Utara mendiskusikan masalah-masalah lingkungan hidup. Inilah catatanku.
Tiba di bandar udara  Sam Ratulangi, aku terpesona dengan kerimbunan pepohonan di sekitarnya. Pohon nyiur melambai-lambai di kiri kanan runway, menjadi pemandangan elok saat pesawat mendarat. Ya, Sulawesi Utara memang terkenal sebagai penghasil kopra, selain cengkih. Saat memasuki anjungan kedatangan, matahari telah tergelincir ke barat. Ke luar terminal kami singgah di sebuah rumah makan tidak  jauh dari bandara. Menunya khas Manado, masakan dari ikan laut dengan rempah-rempah berwarna kuning kemerahan yang pedas dan membangkitkan selera.
Memasuki kota kami disambut patung Yesus di bukit berukuran raksasa, mungkin patung Yesus terbesar di tanah air setelah Timor Timur melepaskan diri dari Indonesia. tidak mengherankan karena penduduk Sulawesi Utara mayoritas beragama Kristen.  Meskipun demikian, tidak jauh dari sana kami menemukan masjid besar di mana kami melaksanakan shalat Zuhur dan Ashar masing-masing dua rakaat.
Kegiatan kami di Manado adalah bertukar pikiran dan pengalaman mengenai lingkungan hidup. Peraturan daerah Sulawesi Utara mengatur keterlibatan masyarakat desa dalam menjaga kelestarian alam khususnya di kawasan Bunaken yang merupakan kawasan konservasi. Sebagaimana diketahui bersama, Bunaken adalah pulau dan kawasan laut yang terletak di teluk Manado antara kota Manado  dan pulau Menado Tua yang kaya dengan terumbu karang yang indah sehingga menjadi tujuan para penyelam dari seluruh penjuru dunia. Sehingga tidaklah heran saat tiba di hotel tempatku menginap aku melihat beberapa selebaran dan poster dari LSM luar negri yang melakukan kampanye penyelamatan terumbu karang di Bunaken.
Keesokan harinya kami berlayar ke Bunaken.  Karena waktu yang terbatas kami tidak menyelam, cukup melihat terumbu karang dari perahu yang dilubangi dan ditutup kaca bening. Memang indah. Sayangnya banyak terumbu karang yang telah rusak oleh kegiatan para pencari nafkah. Terumbu karang mati oleh senyawa kimia yang dibuang ke laut. Kini upaya penyelamatan sedang diupayakan. Aku melihat para penjaga lingkungan yang terdiri  masyarakat setempat berkeliling mengawasi kawasan pantai dengan menggunakan boat.
Temanku Syaiful Bachri Day mengajakku jalan-jalan keliling di sekitar hotel dan singgah di sebuah kedai yang ramai yang menjajakan penganan. Rupanya mereka menjual pisang goreng. Uniknya pisang goreng disajikan dalam beberapa irisan tipis disatukan dalam balutan tepung dan membentuk kipas. Lebih unik lagi pisang goreng tersebut diolesi sambal sebelum dimakan. Jadilah perpaduan antara pisang goreng yang manis dengan sambal yang pedas. Oh mama sayange.....
Tempat yang tidak lupa kukunjungi adalah kawasan water front yang dinamakan Boulevard. Kawasan pantai hasil reklamasi ini dijadikan deretan pertokoan dan nampaknya menjadi landmark kota Manado. Di sinilah penduduk kota berkumpul untuk bertemu dan bersantai. Gadis-gadis pun banyak dijumpai di sana. Karena itu  Menado terkenal dengan tiga B : boulevard, bubur (makanan khas Manado) dan bibir (gadis-gadis).





Kamis, 31 Juli 2014

MASALAH- MASALAH PEMBANGUNAN DI JAWA BARAT




Menjelang tahun kedua di periode keduaku di DPRD Provinsi Jawa Barat (2004-2009), pimpinan  fraksi PDI Perjuangan memutuskanku keluar  dari Komisi B dan Panitia Anggaran untuk ditempatkan menjadi anggota Komisi D. Komisi D membidangi  pembangunan yang meliputi : pekerjaan umum (kebinamargaan, pengairan, tata ruang dan  pemukiman), perencanaan dan pengendalian, pembangunan regional, pengelolaan pelabuhan laut dan udara regional, perhubungan dan telekomunikasi, pertambangan dan energi, perumahan rakyat, penelitian dan pengembangan daerah, pengendalian dan perlindungan lingkungan hidup. Seingatku, tidak berapa lama kemudian aku menggantikan posisi Yadi Srimulyadi sebagai Wakil Ketua Komisi D, sedangkan Dadang Naser sebagai Sekretaris.  Yadi kemudian menjadi Wakil Bupati Bandung. Dadang kini  menjadi Bupati Bandung, setelah periode Yadi berakhir.
Selama di Komisi D,  hampir seluruh sudut-sudut Jawa Barat kudatangi sampai sudu-sudutnya yang paling terpencil, gunung sungai danau hutan dan laut. Jalan raya, jalur kereta api, pelabuhan, bandar udara, pembangkit listrik, semua itu kudatangi.  Beberapa proyek besar untuk kemajuan Jawa Barat kudorong untuk dilaksanakan pembangunannya oleh Pemerintah,khususnya Gubernur. Proyek yang sudah berjalan  adalah Bendungan Jatigede dan jalan tol Cileunyi Dawuan. Sementara Bandara Kertajati nampaknya kurang mendapat perhatian Gubernur. Pelabuhan Cilamaya juga tidak jelas masa depannya.
 Masalah yang sulit terpecahkan atau belum bisa tuntas diselesaikan adalah perambahan hutan lindung, pencemaran sungai oleh industri, pengelolaan sampah di kota-kota besar, polusi udara baik oleh industri maupun kendaraan, banjir terutama di pantai utara , rawan air bersih terutama di cekungan Bandung dan kesemrawutan lalu lintas. 
Kelistrikan terus menerus ditingkatkan jangkauannya, namun menurut perkiraanku jangkauannya baru mencapai 80% rumah tangga. Kendati Jawa Barat memiliki tiga bendungan besar untuk dijadikan pembangkit listrik : Purwakarta, Saguling dan Cirata, namun kebutuhan energi untuk industri belum terpenuhi sepenuhnya. Industri mengatasinya dengan menggunakan batu bara sebagai sumber energi. Masalahnya debu dan limbah batubara yang dibuang begitu saja menimbulkan persoalan lingkungan hidup. Limbah batu bara sering dibuang begitu saja di pinggir jalan antara Bandung-Cirebon.
Sumber energi listrik yang ramah lingkungan adalah panas bumi yang berasal dari gunung berapi yang banyak tersebar di Jawa Barat, meskipun demikian baru beberapa gunung atau kawah  yang dimanfaatkan : Kamojang, Wayang Windu, Darajat, dan Halimun. Potensinya sangat besar, tinggal menunggu keseriusan pemerintah untuk mengelolanya, karena investasi yang diperlukan memang sangat besar.

HK





Terbang dari Bandara Soekarno-Hatta malam hari, kami mendarat di HKIA (Hong Kong International Airport) pada pagi hari  di awal bulan Desember 2005 mana kita bisa menggunakan alat transportasi umum maupun pribadi. Sedangkan jika melalui jalur laut kita bisa menggunakan ferry. Semuanya langsung terhubung dengan bandara. Setelah melewati pintu  imigrasi tempat petugas memeriksa paspor dan visa di mana petugas dengan wajah dingin memperhatikan wajah kami dan memberi stempel pada paspor, kami pun  menuju bagian pengambilan bagasi kemudian menuju cutoms (bea cukai) untuk kemudian ke luar bandara dengan perasaan lega.
. Bandara HKIA terletak di sebuah pulau yang tersendiri dan terhubung dengan Hong Kong (HK) oleh jalur laut dan darat. Melalui jalur darat ada sebuah jembatan tol penghubung di
Dengan menggunakan bus kami meninggalkan HKIA, menyebrangi jembatan berlantai dua  dan masuk ke jalan bebas hambatan. Jembatan dua lantai disiapkan untuk menghadapi cuaca. Jika cuaca tidak bersahabat, misalnya karena angin kencanng, kendaraan akan masuk ke lantai pertama. Jalan tol menggunakan ERP (electronic road pricing) atau sistem penagihan tol secara elektronik , sehingga pengemudi tidak harus membayar setiap kali lewat. Ada kamera di atas jalan yang bisa merekam kendaraan yang melaju, dan pengguna jalan akan membayar tagihan sebulan atau bahkan setahun sekali.
Dari bandara kami menuju Victoria Park, kemudian ke Victoria Hill dengan menggunakan semacam trem dengan roda bergigi untuk memanjati rel di lereng bukit dengan kemiringan nyaris 90o.   Di Victoria Hill ada rumah batu, sebuah bangunan kolonial Inggris yang pertama dibangun di HK. Air dari bukit dibendung dalam dalam danau buatan dan menjadi sumber air bersih bagi penduduk HK. Wajarlah jika pemerintah HK menjaga betul kelestarian hutan di bukit ini.
Dari pulau HK kami menuju Canton,  teritori HK  yang berada di daratan China. Untuk sampai ke sana kita bisa menyebrangi laut menggunakan ferry atau menembus terowongan bawah tanah dengan menggunakan bus. Cara kedua yang kami gunakan.
Setelah melihat-lihat kota, Siang itu kami  tiba di Stars Avenue, yang berada dalam kompleks pusat perbelanjaan di tepi laut. Stars Avenue adalah sebuah tempat untuk mengenang atau menghargai para aktor dan aktris HK yang terkenal ke penjuru  dunia, antara lain : Bruce Lee, Jacky Chan, Jet Lee dll.  Di taman terdapat patung Bruce Lee dalam posisi in action selain ada beberapa cap telapak tangan yang diabadikan di batu pada lantai.
Setelah  check in di sebuah hotel, aku dan Imam berjalan-jalan di seputaran hotel. Saat ashar tiba kami menemukan sebuah masjid dan dengan sukacita masuk ke dalamnya untuk shalat. Tentu saja ini merupakan pengalaman yang sangat berkesan.
Hotel tempatku menginap terdiri dari puluhan lantai yang terasa bergoyang jika angin bertiup. Ada hal menarik yang perlu dicontoh di hotel itu, kamar mandinya menggunakan dua sumber air. Untuk mandi menggunakan air tawar, sementara untuk penggelontor WC menggunakan air laut.

Dragon Restaurant
Pengalaman yang menarik di HK adalah kegiatan kulinernya. Masyarakat China berkumpul di pagi hari untuk sarapan. Kamipun mencoba mengalami suasana tersebut dengan mengunjungi rumah makan di pagi hari. Semua kursi penuh dengan pengunjung untuk minum teh dan makanan yang dikukus (dimsum) sambil mengobrol. Suasananya sangat riuh.
Kami pun makan siang di Dragon restaurant, sebuah restoran terapung berbentuk perahu naga di lepas pantai. Untuk menuju restoran itu pengunjung harus menggunakan perahu motor. Makan di sini tentu sangat mengesankan karena pengunjung bisa merasakan suasana khas budaya China dan seakan-akan berada di dalam film-film HK yang sering diputar di negri kita. Seperti biasa makan di restoran China terdiri dari beberapa tahapan. Menunya dikeluarkan pelayan setahap demi setahap mulai dari menu pembuka, menu utama dan menu penutup. Semuanya disajikan dengan penuh cita rasa, sehingga makan bukan sekedar mengenyangkan perut tapi menjadi peristiwa budaya.

Makao
Beberapa temanku pergi ke Makao pada malam hari. Makao adalah negara tetangga HK yang merupakan jajahan Portugis dan terkenal sebagai tempat judi dan hiburan. Cukup menggunakan ferry kita bisa sampai dalam beberapa jam. Untuk memasukinya diperlukan paspor dan visa. Aku dan Imam tidak ke sana, karena asyik melihat-lihat barang-barang bagus di pertokoan.

Selasa, 27 Agustus 2013

Transit di Bandara Internasional Kolombo Sri Lanka



Perjalanan selalu memiliki sesuatu yang tidak terduga, kejutan atau bisa juga sebuah misteri. Itu kualami saat kembali dari Mesir menuju tanah air.  Pengalaman seperti itu seringkali kualami dan membuat setiap perjalanan selalu menarik meski dari dan ke tempat yang sama. Itu kualami di bandara Kairo, Dubai dan Srilanka.

Saat hendak kembali ke Jakarta aku menunggu  agak lama pesawat agak lama di bandara Kairo.  Saat  shalat maghrib di mushola kacamataku tertinggal di tempat wudhu .  itu baru kusadari saat selesai shalat.  Situasi di mushola sangat ramai. Aku sudah melangkah meninggalkan tempat itu dan tiba-tiba merasa padanganku buram.  Ternyata aku tidak berkacamata. Akupun segera bergegas ke mushola. Setengah tidak percaya di sana seseorang telah menyimpan kacamataku. Rasanya seperti bertemu malaikat. “thank you”  atau “syukran” kataku padanya. Dia pun tersenyum. Alhamdulillah. Masih di bandara aku berkeliling mencari sesuatu khas Mesir. Nafsu berbelanjaku cukup tinggi, hanya  saja persediaan pound  Mesir di sakuku yang membatasinya. Lumayan, aku mendapat beberapa VCD belly dance.

Menjelang tengah malam pesawat yang membawaku dari Mesir tiba di bandara Dubai. Transit di sana agak lama sehingga kami bisa berjumpa dengan beberapa kawan yang hendak pulang ke Indonesia. Para pengusaha furniture dari Cirebon itu Nampak ceria  karena barang-barang yang dipamerkannya di Index Dubai menarik buyers di kawasan Timur Tengah dan Eropa. Selain barang yang dipamerkan laku terjual, merekapun mendapatkan kontrak penjualan.

Setelah beberapa jam transit pesawat pun meninggalkan Dubai menuju Jakarta.  Mendapatkan tempat duduk di sebelah kanan aku diapit oleh Bachtiar dari TVRI Jabar Banten di sebelah kanan  dekat jendela dan di sebelah kiri oleh seorang gadis manis asal Inggris. Meski aku sempat berkenalan tapi aku lupa namanya. Dia seorang volunteer  (relawan) dari sebuah organisasi social internasional yang bertugas di Sri Lanka yang saat itu dilanda perang saudara. Bachtiar menyebutnya “si emak”.  Dari situlah aku baru menyadari bahwa pesawat akan mendarat di Sri Lanka.

Benar saja. Setelah beberapa jam penerbangan pesawat mendarat di sebuah landasan bandara pada pagi hari. Kru pesawat memberitahu penumpang bahwa pesawat telah mendarat di bandara internasional Kolombo. Penumpang tujuan Kolombo pun bergegas merapikan diri, berkemas mengangkat kopor dan barang bawaan dan pelahan meninggalkan pesawat sambil terkantuk-kantuk, termasuk “si emak”.  Pesawat transit selama kuranglebih satu jam. Beberapa penumpang turun ke bandara.  Disergap kantuk berat aku hanya berdiam diri di pesawat, sambil sesekali mengintip ke luar jendela. Di kejauhan hanya rimbun pohon kelapa yang kulihat, karena Kolombo memang terletak di tepi Samudra Indonesia (di peta ditulis Samudra Hindia).

Kolombo adalah ibukota Sri Lanka, Negara yang saat itu dilanda konflik antara etnis Sinhala yang merupakan 70% populasi  yang beragama Budha dengan etnis Tamil yang merupakan 20% populasi dan beragama Hindu.  Konflik disebabkan karena orang Tamil keberatan bahasa Sinhala dijadikan bahasa resmi Negara. Menurut sejarah, orang Sinhala menyebrang dari India enam abad sebelum Masehi dan mendirikan kerajaan Sinhala selama kurang lebih 2000 tahun, sedangkan Tamil yang juga dari India datang belakangan dan mendirikan kerajaan Tamil di utara.  Nama Sri Lanka berasal dari bahasa Sinhala yang artinya “tanah yang gilang gemilang” digunakan sejak tahun 1972 menggantikan nama Sailan.


Kamis, 02 Mei 2013

Menyaksikan Mummi Firaun di Museum Nasional Mesir



Beberapa Tempat  Menarik Di  Kairo

The Egyptian Museum, Cairo


Sebagai Negara dengan kebudayaan tertua di dunia Mesir memiliki banyak peninggalan sejarah dan obyek pariwisata. Di samping piramida, sungai Nil, pasar El Khalili, dan Masjid  Al Azhar masih ada beberapa tempat menarik lainnya yang bisa dikunjungi di Mesir. Berikut ini adalah beberapa tempat di seputar Kairo:

1.      Museum Nasional Mesir (The Egyptian Museum)  

Museum ini merupakan tempat dari warisan kebudayaan dan sejarah Mesir yang panjang.  Terletak di pusat kota, museum nasional dikunjungi wisatawan dari pelbagai penjuru dunia terutama dari Negara Eropa. Koleksinya sangat lengkap mencapai 120.000 item benda bersejarah dan penataannya baik seperti di pertokoan.  Boleh dikatakan museum nasional merupakan harta karun Mesir yang sesungguhnya karena menyimpan benda-benda bersejarah sejak ribuan tahun sebelum Masehi. didirikan tahun 1835 museum ini sempat berpindah-pindah hingga akhirnya tahun 1902 berpindah ke tempat yang sekarang yaitu di Tahrir Square . Untuk memasuki museum ini pengunjung dipungut biaya LE 50 (50 pon Mesir). sayangnya pada Revolusi Mesir 2011 museum sempat mengalami kerusakan, dua mummi dirusak demikian juga beberapa artefak.

Ada dua lantai utama di Museum  yaitu  lantai dasar dan lantai satu. Di lantai dasar terdapat koleksi papyrus dan koin di zaman kuno. Papyrus dalam bentuk fragmen kecil karena usianya yang melebihi dua ribu tahun. Sedangkan koin terbuat dari pelbagai metal yang berbeda yakni emas, perak dan perunggu dari Mesir, Yunani, Romawi dan Islam. Terdapat pula artefak dari New Kingdom, pada periode 1550-1069 SM termasuk patung, meja dan sarcophagus (peti mati). Ada pula item dari kuburan Firaun Thutmosis III, Thutmosis IV, Amenophis II, Hatshepsut dan banyak artefak dari Lembah Raja- Raja.

2. Museum Mummi 

Bagian paling berharga dan presitisius di museum nasional Mesir  ini adalah museum yang menyimpan mumi raja-raja Mesir.  Museum ini dijaga ketat oleh aparat keamanan yang bersenjata lengkap. Pengamanannya pun berlapis=lapis, salah satunya melalui metal detector. Tiket masuknya pun lumayan mahal yaitu LE 100 (100 pon Mesir).

Museum mummi  (Royal Mummy Room) yang memajang 11  mummi kerajaan pada masa Pharaoh (Firaun). Para sejarawan kesulitan menentukan masa kekuasaan para Firaun tersebut.  Tapi mereka memperkirakan Sneferu berkuasa sekitar tahun 2620 SM   dan Akhenaten berkuasa tahun  1350 SM. Mummi Firaun yang berkuasa pada zaman Nabi Musa AS juga dipajang di sana. Mummi Firaun itulah obyek paling menarik bagiku. Tidak pernah terbayangkan Mummi Firaun ada di depan mataku. Penguasa yang ingin dipertuhan ini terbujur kaku dalam bentuk mummi yang berwarna kehitaman. Dalam Al Quran diceritakan Nabi Musa AS atas pertolongan Allah membelah laut Merah dengan tongkatnya sehingga bisa menyebrang bersama ummatnya. Firaun dan para pengikutnya mengejar melalui jalan itu, tapi laut Merah menutup dan binasalah mereka . namun Allah SWT menghendaki agar jasad Firaun diselamatkan agar manusia dapat melihatnya sebagai tanda kekuasaanNya. Jasad itu terbujur kaku di depanku dalam bentuk mummi.


3.  Benteng Salahuddin Al Ayubi (The Saladin Citadel)

terletak bukit di bukit dekat pusat kota Kairo. Benteng ini memiliki  udara yang segar dengan pemandangan yang indah ke kota Kairo. Kini benteng Saladin menjadi tempat cagar budaya dengan masjid dan museum. Untuk memasuki benteng ini pengunjung dipungut biaya LE 40 (40 pon Mesir).

Benteng dibangun oleh pemimpin dinasti Ayubi, Salahuddin, antara tahun 1176-1183 untuk berlindung dari kaum Salib. Beberapa tahun setelah mengalahkan Khalifah Fatimiyah, Salahuddin membangun tembok besar yang meliputi Kairo dan Fustat, dengan maksud agar tentaranya dapat mempertahankan dua kota tersebut sekaligus, dan menurutnya adalah baik untuk mengelilinginya dengan tembok dari satu tepian ke tepian sungai Nil lainnya.  

Benteng terdapat di pusat tembok dank arena dibangun di bukit maka akan sulit untuk diserang. Di benteng itulah pemerintahan Mesir sampai abad ke-19. Untuk memasok air ke benteng, Salahuddin membuat sumur sedalam 85 meter yang dinamakan sumur Yusup yang dikenal sebagai sumur spiral karena menggunakan 300 lingkaran menuju sumur. Air dari sumur dinaikkan ke permukaan dan kemudian ke benteng dengan menggunakan serangkaian jembatan air (aqueduct). Sumur itu kemudian ditambah dengan kincir air dari Sungai Nil di masa Nasir Muhammad dari dinasti Mamluk.     

Nasir juga membangun kembali masjid dan kemudian diberi nama masjid Nasir di tahun 1318. Masjid ini seperti replica masjid Biru (Blue Mosque) di Istambul Turki. Masjid ini memiliki tata akustik yang bagus sehingga tidak diperlukan adanya pengeras suara. Suara imam masjid dan khatib dapat terdengar jelas oleh para jamaan yang melaksanakan shalat berjamaah di dalamnya.     

Aku sempat berpose dengan menggunakan busana perang Salahuddin berupa jubah berwarna merah dengan topi dan penutup dada dari besi, lengkap dengan perisai dan pedang.


4.       Museum Papirus

KATA papyrus melalui bahasa Latin berasal dari bahasa Yunani papuros. Dalam bahasa Arab disebut Bardy atau Warak. Tanaman papyrus berada di delta sungai Nil. Papyrus sangat penting di masa Mesir Kuno. Saat teknologi pengolahan papyrus ditemukan maka Mesir memonopoli papyrus dan bahkan mengekspornya ke Negara lain.

Tanaman papyrus berada di delta sungai Nil. Tingginya bisa mencapai 4-5 meter dan dipanen pada bulan Oktober-Desember setelah terjatuh kerena banjir. Orang Mesir Kuno membuat papyrus menjadi kertas sejak 3000 SM. Tidak Cuma dibuat kertas, papyrus juga menjadi komponen pembuatan perahu, tambang dan keranjang. Akarnya bisa  untuk bahan bakar, batangnya yang kering bisa dibuat tikar, peti, meja dan sandal. Mengapa papyrus dibuat menjadi kertas karena ringan, kuat dan tipis, tahan lama dan mudah dibawa.

Teknik modern produksi papyrus di Mesir saat ini dikembangkan tahun 1962 oleh Dr Hassan Rajab, seorang insinyur Mesir yang lama terpesona oleh teknis misterius Mesir Kuno. Dalam rangka menemukan kembali pembuatan kertas papyrus di Mesir, dia membawa pohon papyrus dari Sudan dan Ethiopia dan membuat perkebunan papyrus terbesar di dunia di Pulau Yakub di Giza yang sekarang dikenal sebagai Desa Firaun.

Dr Hassan Rajab kemudian membuka Institut Papyrus di tahun 1968 dalam upaya membangun kembali teknik kuno dan menunjukkan pada public. Kini museum itu adalah suatu toko yang diakui pemerintah dalam membuat dan menjual papyrus yang asli dalam bentuk pelbagai souvenir dan pakaian Firaun-an. Institut Papyrus Hassan Ragab yang  juga dikenal sebagai Museum Papyrus berada di sisi barat sungai Nil, satu kilometer dari pusat kota Kairo. Museum memiliki koleksi reproduksi papyrus dan lukisan terkenal dari Mesir kuno.  Selama tahun 1970-80an tempat ini menjadi destinasi wisata ketiga terpenting di Mesir setelah Piramid dan Museum Mesir.  

5.      Toko Wewangian

Salah satu tempat yang bisa dikunjungi di Kairo adalah toko parfum.  Ada banyak toko parfum di sana yang bisa kita kunjungi. Saya mengunjungi salah satu di antaranya. Toko yang kukunjungi menyediaakan minyak esensial dan minyak untuk  aromatherapy.   Aromatherapy baik untuk penyembuhan spiritual dan membuat orang memperoleh energy atau relaks.

Manajer toko menjelaskan bahwa Ada tiga kelompok wewangian yang berbeda. Yang pertama adalah Sari Bunga (flower essences) yang hanya berasal dari satu macam bunga. Kelompok kedua adalah campuran (essence blends) yang bisa terdiri dari lima sampai tujuhpuluh bunga, kelompok ini menjadi dasar dari pelbagai parfum yang terkenal.  Dan yang terakhir adalah kelompok ketiga adalah rempah-rempah (spices) yang berasal dari pepohonan  yang dibawa oleh binatang. 

Perusahaan memiliki lahan di Faiyoum (90 km dari Kairo) dan memanen bunga dua kali dalam setahun. (di Indonesia kita bisa panen bunga setiap hari). Kemudian sarinya diambil dengan mesin  kayu yang digerakkan tangan. Sari (essence) dimasukkan ke dalam kendi yang terbuat dari batu pualam, tidak menggunakan plastic karena zat kimianya  bisa bercampur dengan essence. Sari bunga kemudian disimpan di tempat gelap supaya lebih menyatu. 60% diekspor ke Perancis. Di sana perusahaan mencampurnya dengan tambahan kimia dengan merek dan kemasan yang menarik dan dengan harga yang menarik pula tentunya.

Toko parfum juga menjual botol-botol yang fancy  terbuat dari kaca yang kuat yang dinamakan pyrex. Botol-botol ini ditiup  diwarnai dengan tangan sehingga setiap botol unik. Botol ini digunakan untuk menyimpan essence dan bisa dijadikan dekorasi di rumah.

 Aku membeli sari bunga untuk aromaterapi di rumah. Namun aku kadang menggunakannya sebagai parfum dengan mengoleskannya sedikit di bagian tengkuk terutama pada saat menjelang shalat Jumat.  Memang terbukti bagus, meski sudah kugunakan bertahun-tahun, essence di botol baru terpakai 25% saja. Harumnyapun masih bertahan seperti semula. Sayang aku tidak membeli botol pyrex yang lucu itu  karena harganya mahal.