Selasa, 10 Januari 2012

Pattaya






Perjalanan dari Bangkok ke Pattaya memerlukan waktu beberapa jam melalui kawasan industri yang nampak sedang mengalami pertumbuhan, pesawahan dan desa-desa. Penduduk seempat banyak tinggal di tepi-tepi sungai kecil, dan nampaknya pemerintah membuatkan akses jalan untuk mereka berupa jalan kecil mirip dermaga dengan tiang-tiang tinggi. Rute yang kami tempuh adalah Bangkok-Chonburi-Pattaya Highway No. 7.

Selama perjalanan Dadang Eka melucu tak habis-habis, karena pembawaannya memang senang heureuy (berkelakar). satu atau dua kali kami singgah di pemberhentian untuk makan siang atau membeli penganan khas Thailand. Lucunya jika masuk rumah makan kami akan berebut telur dadar atau tumis kangkung karena dianggap halal. Makanan memang menjadi masalah bagi orang muslim karena di rumah makan biasanya disajikan makanan yang mengandung daging babi. Kiai Soebki dan istrinya begitu berhati-hati, sehingga membawa bekal makanan sendiri dari Indonesia : tempe dan teri goreng kering. Makanan Thailand favoritkua adalah tomyam, sejenis sup dengan daging ayam atau seafood yang penuh rempah-rempah dengan rasa pedas masam segar. Tomyam biasanya disajikan sebagai appetizer (makanan pembuka).

Menjelang malam kami tiba di Pattaya. Ketika kami memasuki wilayah pantai, suasana hingar bingar sudah mulai menghentak di kafe-kafe sepanjang jalan pantai seperti atau bahkan lebih ramai dari Kuta Bali. Laki-laki kulit putih bercengkrama atau menari dengan gadis-gadis pribumi sambil menenggak minuman beralkohol. Beberapa perempuan menari di atas meja. Musik berdentum keras seperti merayakan kegelapan malam.

Pattaya terletak di timur Teluk Thailand, berjarak 165 km sebelah tenggara kota Bangkok terletak pada tapi tidak menjadi bagian dari Amphoe Bang Lamung (Banglamung) diProvinsi Chonburi. Pattaya merupakan bagian dari zona industri Eastern Seaboard sekaligus pusat Pattaya-Chonburi Metropolitan Area.

Selama beberapa abad Pattaya hanyalah sebuah desa nelayan yang kemudian berubah pada 26 April 1961 ketika sekitar 100 tentara Amerika yang berperang di Vietnam datang untuk bersantai. Sejak itu desa nelayan berubah menjadi resor pantai yang populer dan didatangi sekitar 4 juta pengunjung setiap tahunnya. Pemukiman nelayan sepanjang pantai diganti dengan hotel resor dan pertokoan termasuk mal tepi pantai terbesar di Asia (the CentralFestival Pattaya Beach Mall and hotel Hilton) yang terletak di Jalan Pantai di pusat Pattaya.

Nama Pattaya berasal dari perjalanan Phraya Tak (Raja Taksin) dan tentaranya dari Ayutthaya ke Chantaburi sebelum kejatuhan ibukota ke tangan orang-orang Burma tahun 1767. Ketika tentaranya memasuki tempat yang sekarang dikenal dengan Pattaya, Phraya Tak mendahului tentara Nai Klom yang mencoba menjegalnya. Ketika keduanya bertemu, Nai Klom terpesona dengan kegagahan Phrya Tak dan disiplin tentaranya. Dia kemudia menyerah tanpa melakukan pertempuran. Tempat di mana dua pasukan tentara berhadapan satu sama lain dinamakan Thap Phraya, yang berarti Tentara Phraya. Belakangan nama itu berubah menjadi Phatthaya yang berarti angin yang berembus dari barat laut ke tenggara sebagai permulaan musim hujan. Secara internasional dikenal dengan Pattaya sementara ejaan yang benar adalah Phatthaya seperti masih tertulis di banyak di rambu-rambu lalulintas.

Malam itu kami pergi ke sebuah teater para waria yang mempertunjukkan sebuah opera dengan tata panggung yang megah. Seusai pertunjukkan para pemain ke luar ke halaman parkir dengan busana shownya yang glamour. Pengunjung dapat melihat kecantikan para waria dan berfotoria bersama mereka untuk kenang-kenangan.

kami menginap di kawasan Jomtien Beach yang berada di bagian selatan teluk dan bisa melihat laut lepas dari kamar tidur. Pagi hari anak-anak bisa bermain di sepanjang pantai sebrang hotel tempat kami menginap. Kawasan itu menawarkan aktivitas olahraga air seperti jet ski, parasailing atau perahu boat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar