Rabu, 19 Oktober 2022

Membuat Film Pendek Tentang Lingkungan Hidup

Hari Ibu



Tiba-tiba jagat medsos khususnya di Kabupaten Bandung dipenuhi berita banjir bandang (cileuncang) di kampung Cirawa, Desa Cibeureum Kecamatan Kertasari. Berita itupun menjadi viral. Rasanya baru kali itu Kertasari terkena banjir. Bagi sahabat yang belum tahu, Kertasari adalah sebuah kecamatan di Bandung Selatan yang berbatasan dengan Pangalengan meskipun lebih mudah diakses dari Ciparay. Jaraknya sekitar 60 km dari kota Bandung. Letaknya di pegunungan, di mana Situ Cisanti berada. Situ Cisanti adalah KM 0 Sungai Citarum. Penebangan hutan yang terus berlangsung menyebabkan rusaknya ekosistem Kertasari. Akibatnya terjadi longsor dan banjir.

Pada hari Minggu, 22 Desember 2019, kami bergerak ke sana. Senyampang hari Ibu kami melakuan bakti sosial pengobatan dan membagi sembako. Kami juga mengadakan penyuluhan soal lingkungan hidup, sanitasi, stunting dan HIV/AIDS. Kami juga melakukan trauma healing dan mengajak kru televisi RI untuk membuat feature soal lingkungan hidup di Kabupaten Bandung

Situ Cisanti



Setelah menghadiri bakti sosial di Cirawa, Desa Cibeureum, Kecamatan Kertasari, saya bersama kang Dentarsa menumpang mobil dinas kang Henhen bertolak ke Situ Cisanti. Sebelumnya kami turun di depan kantor polsek Kertasari melihat separuh jembatan yang ambrol, dan melakukan wawancara dengan kru TVRI. Sekonyong-konyong datang seorang spiritualis bernama Komar yang memakai kaos bergambar Sukarno, rambutnya yang gondrong putih dibalut kopiah, dan di atas kopiahnya tersunting tiga bunga hutan warna warni. Kamipun mengobrol berbagai persoalan dari alam negara hingga agama. Pak Komar bersada bahwa sebelum semua agama menjadi satu dunia tidak akan damai.

Saat tiba di Situ Cisanti dengan diantar oleh petugas dari Polsek, beberapa pengunjung mulai berdatangan. Hari Minggu banyak wisatawan. Mas Tri dari TVRI melanjutkan liputan untuk program Inspirasi Pagi degan mengambil gambar dan wawancra, termasuk dengan juru kunci mata air Cikahuripan yang bercerita bahwa Prabu Siliwangi dan Dipati Ukur pernah mandi di tempat itu. Tempat itu kini menjadi tempat yang dihormati. Di situ saya berwudu dan menunaikan salat zuhur. Selebihnya kami menikmati pemandangan yang indah.

Menjelang waktu ashar kami turun kembali kearah Kertasari dan Pacet menuju Ciparay. Hujan pun turun dengan derasnya. Menjelang waktu Isya kami tiba di pintu tol Buah Batu, Bandung.

Jadi Aktor


 

Pembuatan film pendek berlangsung selama sekitar seminggu. Lokasinya mulai dari  daerah banjir di Baleendah, berlanjut ke pembuatan perahu lalu ke Pengalengan dan kemudian ke Gunung Tilu di Bandung Utara. Selama pembuatan film pendek ini aku diminta memberi testimoni mengenai kerusakan di Bandung Raya serta upaya upaya yang telah kami lakukan untuk mengatasinya. Tidak lupa juga wawancara dengan masyarakat tentunya.

Kegiatan yang diliput meliputi kegiatan penghijauan Ngajak Hejo, Hajat Lembur dan penyemaian tanaman endemik yang dikelola Eyang Memed di Pasirjambu. 

Film pendek yang dibuat Mas Tri dengan kru nya dari TVRI disiarkan pada acara Inspirasi Indonesia TVRI Jawa Barat - Ngajak Hejo dan diposting di kanal Youtube TVRI Jawa Barat.

 

Dari Ngajak Hejo Hajat Lembur Sampai Leuweung Pajajaran

 

Program Ngajak Hejo

Sepulang menghadiri pernikahan alo dari keluarga Arisman (Cipatik, Soreang) di Tegal, keesokan harinya yaitu hari Selasa, 12 November 2019, saya sudah ditunggu kawan-kawan di Cimaung, Bandung Selatan. Membayangkan jalan pegunungan yang terjal, saya membawa mobil yang tenaganya lebih joss. Senyampang satu arah, saya singgah dulu di rumah mertua di Banjaran, mengantar kesayangan, bersilaturahmi dan ikut makan siang. Kakak tertua membuatkan sepiring lotek yang nikmat. Ditemani kurupuk dan segelas teh panas, makan siang terasa sempurna.

(Dari rumah inilah saya memperoleh dukungan politik yang penting, yaitu dari bapak mertua dan keluarga besarnya se desa Kiangroke dan Jagabaya bahkan hingga Soreang. Keluarga bapak beragam dari petani hingga menak, santri hingga abangan, kopral hingga jendral, kiai desa hingga PBNU, Islam sampai Kristen, guru hingga pengusaha, pns hingga kades, pribumi hingga bule, pemain kasidah hingga dangdut, PDI Perjuangan hingga Golkar dan PKB. Komplit. Kini Bpk dan Ibu mertua telah tiada. Hanya doa bisa saya persembahkan ).

Sekitar pukul 14.00 saya tiba di Cimaung. Kang Rudi, kang Kely, kang Andri dan ayahnya, kang Ujang sudah menunggu. Tak lama kemudian kang Anan hadir. Kamipun ngobrol sambil ngopi menunggu datangnya truk yang membawa bibit tanaman. Ini ide kawan-kawan : melakukan gerakan penanaman di lahan kritis yang dinamakan "Ngajak Hejo" sekaligus mengugah ingatan akan perjalanan politik Sukarno di Bandung Selatan yang dinamakan "mata air Pancasila".

Sekitar pukul 17.00 truk pengangkut bibit tanaman keras datang. Kamipun beranjak pergi ke Pangalengan (sekitar 30 km dari Bandung). Dalam perjalanan hujan pun turun dan hari mulai gelap. Menjelang isya kami tiba di kota Pangalengan. Dari sana mengambil arah ke Situ Cileunca hingga akhirnya tiba di Kantor Desa Sukaluyu.

Meskipun sudah malam, kantor desa masih terang benderang. Pak Kades dan jajarannya beserta Gapoktan masih menunggu. Kami disuguhi kopi Malabar. Setelah memperoleh informasi mengenai kehidupan desa secara menyeluruh kami pun mulai menyerahkan bibit tanaman keras : kayu maupun buah-buahan. Sekitar 4.500 bibit diterima oleh Pak Kades dan Ketua Gapoktan. Bibit itu akan dibagikan kepada para petani dan ditanam di lahan mereka maupun lahan milik umum.

Dari Kantor Desa Sukaluyu kami singgah di rumah Ketua PAC PDI Perjuangan untuk bersilaturahmi dan memantau perkembangan pilkades. Dari sana kami langsung meninggalkan Pangalengan menuju Cimaung menurunkan kawan kawan. Karena sudah larut malam saya langsung pamit menuju Banjaran kemudian kembali ke rumah melalui Baleendah dan Bojongsoang.


Survey Lokasi Penghijauan

Pagi di hari Sabtu, 7 Desember, saya meluncur memasuki jalan tol Padaleunyi (Padalarang Cileunyi), memasuki jalan tol Soroja (Soreang Kopo Pasirkoja) dan ke luar di di depan Masjid Al Fathu, Soreang. Saya memarkir kendaraan di komplek DPRD Kabupaten Bandung dan pindah ke mobil kang Dentarsa. Bertiga bersama dr Rini kami menuju arah Ciwidey. Tujuan kami adalah vila Eyang Memed di Desa Cibodas Kecamatan Pasirjambu.

Saat tiba di sana, kang Ono Surono, kang Tom Maskun, dan teh Nia Purwakania sudah di tempat. Kemudian teh Sofie datang. Kami segera bergabung dan menikmati sajian kopi Bandung plus kudapan setempat seperti singkong jagung dan kacang rebus. Kami mendengarkan paparan Eyang soal krisis lingkungan hidup di Sub DAS Citarum.

Kami berkumpul di Pasirjambu dalam rangka menyiapkan kegiatan program hutan untuk peradaban yang digagas oleh DPD PDI Perjuangan Jawa Barat.

Setelah melihat koleksi tanaman Eyang, kami meluncur ke arah Badiklat Kemenhub. Di depannya ada lapang sepak bola dan tanah desa. Ke situlah kami menuju. Rencananya tempat ini nantinya akan kami jadikan lokasi penanaman pohon. Dari sana kembali ke rumah Eyang untuk makan siang.

Usai waktu dzuhur, dengan mengendarai 4 mobil kami meluncur ke arah kota Ciwidey hingga desa Alam Endah. Dari situ berbelok ke kiri memasuki hutan dan perkebunan. Ada beberapa spot untuk kegiatan outdoor seperti untuk motor trail dan bersepeda gunung. ( Kebetulan hari itu ada lomba motor-cross di sekitar Gambung dan pertemuan para motor crosser di lapangan Upakarti, Soreang).

Perjalanan memasuki kawasan hutan Gunung Tilu, perbatasan antara Ciwudey dan Pangalengan. Dari tepi jalan hutan nampak lebat tapi menurut informan di bagian dalam hutan sudah mulai ditebangi dan dijadikan kebun sayur. Saat itu hujan turun deras. Kami terus berkendara dalam kawasan hutan. Di sana sini terdapat tanda "lintasan macan."

Akhirnya kami tiba di sebuah perkebuban teh di mana terdapat lokasi pembangkit listrik tenaga uap (geothermal) dan lokasi yang akan kami hutankan kembali.

Dari kawasan Gunung Tilu, saya bersama kang Tom dan kang Dadi melanjutkan perjalanan mengirari Gunung Patuha. Beruntung hujan mereda dan tinggal menyisakan gerimis. Kami seperti berada di atas awan. Di bawah sana hamparan lembah hijau yang luas dilapisi kabut. Sungguh pemandangan alam yang mempesona.

Hari mulai petang ketika kami turun meninggalkan kawasan hutan Gunung Tilu. Kami langsung menuju Soreang dan berpisah di kantor pemerintah kabupaten Bandung. Kang Tom melanjutkan perjalanan ke Cisewu. Saya mengambil kendaraan dan segera melaju memasuki jalan tol Soroja. Kafe kafe di Soreang mulai ramai. Kendaraan dari arah Bandung mulai padat. Maklum ini malam Minggu.

Hajat Lembur

 



Hari Senin, 23 Desember 2019. Teh Sofi dkk dari DPD PDI Perjuangan Jawa Barat mengadakan hajat lembur di Desa Cibodas Kecamatan Pasirjambu. Saya dan mas Dwi pun berangkat ke sana. Memasuki jalan tol Soroja yang lengang, jalan by pass Soreang, memasuki jalan provinsi Bandung-Ciwidey, berbelok kiri ke arah Gambung, saya melihat bendera partai sudah dipasang di tiang bambu yang masih hijau di kiri kanan jalan, memandu saya ke tempat acara. Saya memasuki kebun Eyang Memed dan menunggu Kang Ono lalu bersama-sama menuju lokasi Hajat Lembur.

Saat tiba, ada upacara penyambutan dengan tarian pencak silat. Wakil Sekjen DPP PDI Perjuangan, Sadarestu, dan Kepala Baguna serta para undangan sudah memenuhi tenda. Acara segera dimulai. Ada sambutan dari teh Sofi, kang Ono, Eyang Memed dan bu Sadarestu. Inti dari sambutan mereka adalah mengenai pentingnya hutan bagi kelangsungan ekosistem di DAS Citarum dan upaya partai dalam menjaga kelestarian alam melalui penanaman pohon di hulu dan hilir Sungai Citarum.

Setelah pembukaan dengan memukul perkusi oleh Sadarestu, Ono Surono dan saya, acara Hajat Lembur berlanjut dengan gelar budaya dengan menampilkan pembacaan rajah, tarawangsa, longser, pencak silat dan pertunjukan dari Pertuni. Ada pula simbolis pemberian bibit tanaman kepada ibu dan anak.

Acara pokok yang dinanti tiba, yaitu menanam pohon. Para undangan meninggalkan tenda menuju ke tanah lapang, masing-masing menanam sebatang pohon, bersama ibu dan anak dari lingkungan setempat, senyampang menyambut Hari Ibu. Ribuan pohon ditanam di tanah desa pada hari itu. Di sela-sela tegakan pohon ditanmi dengan tumpangsari berupa sayur sayuran. Semua merasa senang bisa ikut menanam di hari yang cerah dan di lingkungan yang indah itu.

Usai acara menanam, ada sarasehan mengenai Leuweung Pajajaran yang dipandu kang Rahmat. Kang Ono, Eyang Memed dan saya menjadi narasumber. Sarasehan diakhiri dengan deklarasi menyelamatkan hutan sebagai sumber peradaban.

Saat meninggalkan tenda, di halaman disajikan pertunjukan istimewa, lais. Lais adalah seni akrobatik tradisional Sunda. Aktornya menunjukkan kebolehan akrobatiknya di atas sebuah tambang yang terbentang di atara dua tiang bambu. Sungguh pertunjukan yang mendebarkan.

Sebelum pulang kang Ono dan saya memberika  wawancara untuk TVRI. Itu masih berlanjut di tempat Eyang Memed. Tim TVRI meliput kegiatan Eyang dalam memuliakan tanam-tanaman langka, termasuk yang endemik di pegunungan Bandung Selatan.

Persiapan Pencanangan Leuweung Padjadjaran 



Rabu, 22 Januari 2020, DPD PDI Perjuangan berkunjung ke DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung di Jl. Jaksa Naranata No. 10 Baleendah untuk melakukan rapat kordinasi persiapan pelaksanaan pencanangan Leuweung Pajajaran, langsung dipimpin kang Ono Surono (ketua), kang Ketut Sustiawan (sekretaris) dan teh Nia Purwakania (wakil bendahara). Hadir pula teh Sofi, kang Tom kang Apriyanto (organizing commitee) serta kang Yadi Srimulyadi (anggota DPR RI). Dari DPC PDI Perjuangan ada ketua sekretaris dan bendahara beserta para wakilnya. Juga pimpinan dan para anggota DPRD Kabupaten Bandung dari Fraksi PDI Perjuangan. Dihadirkan pula para pengurus PAC dan PR dari dapil 1 (Rancabali, Ciwidey, Pasirjambu, Kutawaringin dan Soreang). Demikian juga dengan para bakal calon bupati dan wakil bupati Kabupaten Bandung, saya dan teh Yena. Sementara kang Dimyati diwakili kang Usep. Para bakal calon bupati/wakil bupati akan mengerahkan masing masing 300 orang dan dari 7 anggota DPRD Kabupaten masing masing mengerahkan 150 orang. Dari DPR RI dan DPRD Provinsi masing masing 100 orang. Dengan demikian ada sekitar 2000 orang yang dilibatkan.

Kesimpulan dari rakor adalah bahwa pada tanggal 2-2-2020 akan dilakukan penanaman pohon oleh ibu Megawati Sukarnoputri dalam rangka Pencanangan Leuweung Pajajaran di Gunung Tilu yang berada dalam komplek PPTK Gambung, Pasirjambu, Kabupaten Bandung, diikuti oleh penanaman pohon di sembilan kota dan kabupaten lainnya yang termasuk dalam sub DAS Citarum yakni Cimahi, Bandung, Bandung Barat, Sumedang, Garut, Cianjur, Purwakarta, Bogor, Karawang dan Bekasi. Di luar sub DAS Citarum, semua DPC PDI Perjuangan juga melakukan hal yang sama pada waktu yang sama secara serentak. Penanaman pohon masih berlangsung selama bulan Februari hingga Maret di lahan kritis yang ada. Bibit tanaman diperoleh dari instansi pemerintah, swasta dan masyarakat. Pada acara di Gunung Tilu juga akan diadakan pergelaran kesenian dan pembagian paket bahan pangan yang biasa disebut sembako bagi bagi 1.000 keluarga yang membutuhkan.

Pencanangan Leuweung (Hutan) Pajajaran direncanakan tidak hanya di hulu sungai Citarum (Kabupaten Bandung), melainkan di DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum meliputi Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bandung, Kabupaten Bandung Barat, Kota Bandung, Kota Cimahi Kabupaten Canjur, Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Karawang, Kabupaten Bekasi dan Kabupaten Bogor. Maka pada tangal 29 Januari DPD PDI Perjuangan Jawa Barat berkordinasi dengan kesepuluh DPC PDI Perjuangan di daerah tersebut. Dari DPD diwakili teh Sofi dan kang Tom. Dari DPC diwakili oleh para wakil ketua atau ketua panitia. Karena komando pencanangan dilakukan di Kabupaten Bandung maka saya memimpin sendiri delegasi sebanyak empat orang (saya, kang Henhen, kang Andri dan kang Asep). Karena banyak membahas masalah teknis seperti menentukan lokasi, mencari bibit pohon, jumlah dan distribusi pohon, pengangkutan pohon dan lain lain maka pembicaraan berlangsung cukup memakan waktu. Selain menanam pohon, kami dari kabupaten Bandung bertanggung jawab mendatangkan 1000 warga penerima bantuan pangan dari Kemensos, menggerakkan 2000-3000 partisipan dan memasang sekitar 1500 bendera partai dari pintu keluar tol Soroja di Soreang hingga lokasi kegiatan di PPTK Gambung, Pasirjambu.

Tanggal 31 Januari, Baguna sudah bersiap di lokasi untuk membuat dapur umum yang ditargetkan menyediakan sekitar 3000 paket makan siang bagi tamu undangan. Lewat tengah malam Kang Asep dan kang Andri mulai memasang bendera partai. Regu 1 bergerak dari pintu tol Soreang ke arah Ciwidey dan regu dua bergerak dari Pasirjambu ke PPTK Gambung. Tenda dan panggung dengan kapasitas 2000 kursi juga mulai dipasang di halaman PPTK Gambung yang cukup luas.

Tanggal 1 Februari tenda sudah terpasang dan sudah siap untuk general repetition (gladi bersih) yang langsung dipimpin ketua DPD PDI Perjuangan. Kang Acil dan kang Syam Bimbo ambil bagian.

Pencanangan Leuweung Padjadjaran 


 

Sejak pagi undangan telah memenuhi tenda. Musik juga sudah dimainkan. Tamu tamu sudah berdatangan dari Jawa Barat bahkan dari seluruh penjuru tanah air. DPP PDI Perjuangan nyaris hadir seluruhnya demikian pula anggota DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan. Ketua Umum diwakili oleh Sekjen DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto. Ibu Risma, Pak Jarot dan Bu Ribka Tjiptaning juga hadir. Beberapa bupati dan walikota Jawa Barat hadir. Menteri Sosial juga hadir. Setelah Gubernur Jawa Barat hadir acara pun dimulai. Kang Ono Surono membacakan sebuah puisi tentang alam yang menyentuh. Setelah Kang Emil memberi sambutan, Sekjen membuka secara resmi Pencanangan Leuweung Pajajaran.

Setelah pergelaran kesenian dari para seniman Bandung termasuk Bimbo, serta penyerahan bibit tanaman kepada para undangan, serta penyerahan bahan pangan dari Mensos kepada masyarakat sekitar, acara dilanjutkan dengan menanam pohon di sekitar hutan. Setiap orang diberi satu pohon untuk ditanam. Saya menanam pohon picung atau kluwek (pangium edule). Penanaman di kawasan hutan Gunung Tilu ini diikuti penanaman secara serentak di Jawa Barat bahkan di seluruh tanah air.

 


 

Rakernas I PDI Perjuangan

 Bertolak ke Jakarta


 

Tahun berganti. Selamat datang tahun 2020. Sehari setelah tahun baru kami sudah memulai agenda partai di Bandung. Hari kamis pagi, 9 Januari, hujan turun deras. Saya menunggu kang Luthfi di beranda rumah, dengan satu koper pakaian. Kami akan berangat ke Jakarta. Rencananya beberapa hari di sana. Tak berapa lama menunggu, kang Luthfi datang. Saya masuk ke dalam mobil yang langsung memasuki pintu tol Cileunyi dan keluar di Buahbatu. Kang Dentarsa Denni sudah menunggu untuk bergabung. Pas empat orang dalam Mercedez Benz hitam. Hujan mulai mereda. Kami kembali memasuki jalan tol ke arah Pasirkoja dan berbelok ke kiri ke arah Soreang melalui tol Soroja. Kami singgah di kantor DPRD Kabupaten Bandung. Teman teman anggota Fraksi PDI Perjuangan telah menunggu. Kami singgah sebentar untuk ngopi.

Dari Soreang kami berangkat bersepuluh dalam satu mobil. Di depan kang Dadan Konjala dengan supir. Di bangku kedua saya dengan teh Juwita. Di bangku ketiga kang Henhen, kang Denni dan kang Yayat. Paling belakang kang Erwin, kang Dadang dan kang Lutfi. Berangkatlah kami ke Jakarta melewati jalan tol.

Dari tol Soroja kami berbelok ke kiri memasuki tol Padaleunyi. Hujan gerimis sepanjang perjalanan. Bukit bukit di kiri kanan jalan selepas kota Padalarang dilapisi kabut tipis. Jalan basah dan licin. Pak Kasep mengemudi dengan tenang dan lembut dengan kecepatan di bawah 100 km per jam. Saya tak pernah bosan memandangi panorama alam Parahyangan. Di rest area KM 88 (?) kami berhenti untuk beristirahat dan salat, minum teh atau kopi ditemani kudapan yang tersedia.

Hujan mulai reda, kami melanjutkan perjalanan. Gerimis tipis. Jalan basah. Kang Dadang dihinggapi dilema. Ia akan menikahkan putrinya, tapi agenda partai mengharuskannya ikut ke Jakarta. Ditambah cuaca pancaroba membuat daya tahan tubuhnya menurun. Dalam perjalan ke Jakarta ia mulai mual mual.

Keluar di Halim kami terjebak kemacetan di Cililitan tapi segera menemukan jalan ke Kemayoran lewat Rawamangun. Suasana ulang tahun partai mulai terasa. Bendera partai dan spanduk spanduk menyambut Rakernas banyak dipasang di pinggir jalan protokol. Akhirnya kami sampai di komplek JIEXPO di mana Rakernas I PDI Perjuangan akan diselenggarakan.

Setelah melakukan registrasi, menerima ID Card dan materi Rakernas kami melakukan kunjungan singkat ke venue pembukaan Rakernas yang akan dilakukan keesokan harinya. Kami segera meninggalkan lokasi untuk mencari klinik terdekat. Kondisi kang Dadang harus segera mendapatkan penanganan medis.

Malam itu saya memutuskan untuk memulangkan kang Dadang karena kondisi kesehatannya tidak mengizinkan untuk mengikuti acara yang memakan waktu lama dengan agenda yang padat.

Saya dan kang Hen Hen Asep Suhendar meninggalkan penginapan menuju Ancol. Kang Ono Surono mengundang para KSB DPC PDI Perjuangan se Jawa Barat untuk kordinasi. Acara didahului makan malam. Namun suasana berlangsung hambar. Berita berita terkait penangkapan komisioner KPU rupanya terkait dengan penangkapan beberapa orang staf kesekjenan. Suka suka tidak suka mempengaruhi suasana malam itu. Meski demikian Kang Ono mengajak semua untuk lebih meningkatkan semangat perjuangan.


 

 Pembukaan Rakernas

10 Januari. Pukul 09.00 sekitar 4000 peserta Rakernas 1 PDI Perjuangan sudah mulai memasuki halaman parkir. Kami mengantri di pintu pintu masuk untuk mencatatkan kehadiran dengan memindai barcode yang ada pada id card dan melewati metal detector di pos provinsi masing-masing. Dari situ peserta harus berjejalan menuju hall utama. Beruntung cuaca mendung sehingga panasnya kota Jakarta tak begitu terasa. Sebagai gantinya ada gerimis. Tak urung gerimis membasahi para peserta. Akibatnya belakangan banyak peserta yang menurun kondisi fisiknya. Memasuki hall masih ada satu lagi penjagaan oleh paspampres melalui metal detector. Akhirnya saya berhasil ke lobby. Sebelum menunjukkan id card kedua kali saya berkeliling ke stand Borobudur yang menjelaskan secara detil arsitektur dan relief yang ada di Borobudur dengan penjelasan mengenai arti dari bangunan dan relief tersebut yang setiap penampangnya memuat sastra yang menggambarkan ajaran atau kebijakan tertentu. Saya mempelajari dengan seksama dan memotret bagian yang saya anggap penting. Lalu saya memasuki ruangan untuk gladi bersih. Menjelang pukul 11.00 gladi bersih selesai, saya masih sempat ngobrol dengan beberapa kawan dan makan siang hokben yang diedarkan oleh Komunitas Juang dari Jawa Tengah. Usai makan saya bergegas ke luar mencari tempat salat Jumat dan mendapatkannya di Lantai 4 Gedung Eksebisi di bagian lain Jiexpo. Para peserta lain sudah memenuhi mushola. Sekitar pukul 12.00 salat Jumat dimulai. Jamaah sebagian besar berbaju merah.

 


 

Lewat tengah hari petinggi petinggi negri berdatangan ke tempat acara pembukaan Rakernas. Presiden ke 5 dan ke 7. Wapres dan wapres wapres sebelumnya. Pimpinan lembaga tinggi negara. Juga para pimpinan partai, internal dan eksternal. Para menteri termasuk Menhan. Acarapun dimulai. Barisan pembawa panji panji partai memasuki ruangan. Menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Mengheningkan cipta dipimpin oleh Sekjen. Membacakan teks Pancasila oleh Ibu Risma. Dedication of Life Bung Karno dibacakan Kang Ono. Lalu menyanyikan lagu Mars dan Hymne PDI Perjuangan. Sambutan disampaikan oleh Ketua Umum. Ada pementasan sendratari dari seluruh Nusantara. Presiden Jokowi menyampaikan sambutan. Kemudian dilanjutkan dengan lagu lagu dari Edo, Harvey, Lita dkk. Terakhir ada Didi Kempot maka meriahlah suasana. Acara kemudian ditutup dengan doa oleh Prof Nazaruddin didampingi para petinggi umat beragama yang ada di Indonesia.

Tepat di belakang tempat duduk saya, bung Erico menjadi nara sumber bagi siaran langsung sebuah teve nasional. Saya bertegursapa dan berpelukan lalu saling mendoakan. Tak lama kemudian bang Ara lewat. Sayapun bersalaman dan berpelukan lalu saling mendoakan. Berikutnya RI 1 lewat. Kami sempat berfoto bersama. Tapi saya tidak tahu siapa yang memoto

Kami pun berpisah. Kaki saya melangkah menuju ruang pameran rempah Nusantara hendak melihat melihat stand rempah teh Gita sekaligus mempromosikan ke kawan kawan saya. Tak lama berselang Ibu Ketua Umum hadir didampingi mas Prananda mas Pramono dan mas Hasto. Ibu Megawati menghidu teh dan kopi yang dipamerkan. Teh Gita memberi cindera mata. Pret pret pret. Mat kodak beraksi. Ketua Umum berlalu ke stand yang lain. Kami berfoto selfi dengan mas Hasto.

Setelah waktu isya, Rakernas berlanjut dengan mendengarkan pidato dari Ibu Puan Maharani, Ketua DPR RI, hingga larut malam. Sejak RI merdeka baru kali ini ada Ketua DPR RI seorang perempuan dan anak seorang presiden yang juga seorang perempuan.

Rakernas diskors untuk dilanjutkan keesokan harinya. Kami berdelapan dari Kabupaten Bandung menuju ke tempat parkir mencari mobil jemputan yang mengantarkan kami ke penginapan.

Hari Kedua

Rakernas 1 PDI Perjuangan hari kedua memasuki pembahasan berbagai hal serius. Peserta dibagi ke dalam kelas kelas. Ada kelas Ketua, kelas Sekretaris dan kelas Bendahara. Acara dimulai pukul 09.00. Peserta memakai polo shirt warna merah atau hitam dengan celana denim. Polo shirt disediakan panitia. Saya menggunakan sepatu sport yang saya bawa dari rumah. Sepatu itu sudah lama tersimpan di gudang. Digunakan berjalan ke sana sini akhirnya jebol juga alas bagian depan sebelah kanan.

Pagi itu saat sarapan saya bertemu Pak Imran, Bupati Cirebon. Ia adalah pejabat pada Kementrian Agama sebelum menjadi bupati. Ia juga pernah bertugas di Kabupaten Bandung dan masih memiliki rumah di Bojongsoang. Kabupaten Cirebon memiliki tempat istimewa dalam hidup saya. Saya sempat tinggal di sana sewaktu saya masih kecil. Sekitar usia 1-2 tahun. Itu sekitar tahun 1960-1961. Ayah saya sempat memulai kehidupan rumah tangganya di sana dan tinggal di depan Stasiun KA Plered bersama kakak iparnya (uwa saya) yang mendirikan sekolah pelayaran di kota itu. Saat

uwa saya tugas belajar ke AS dan kemudian bekerja di PN Garam Madura, ayah memutuskan hijrah ke Jakarta dan bekerja pada Pemda DKI.

Belakangan Cirebon menjadi daerah pemilihan saya dalam Pemilu tahun 2004 bersama kang Iwan Fauzi dan teh Sely. Teh Sely bahkan sempat menjadi Bupati Cirebon dan kini menjadi anggota DPR RI. Selama lima tahun antara 2004-2009 kami bolak balik Bandung -Cirebon/Indramayu.

Kembali ke Rakernas. Saya masuk ke kelas IV yang terdiri dari ketua DPD dan DPC se Indonesia serta 13 DPRD Provinsi serta DPRD kabupaten/kota dari 2 provinsi ditambah 3 Poksi DPR RI. Meski dibagi kelas, semua peserta mendapat materi yang sama yaitu Politik Partai dalam Kebijakan Pembangunan, Politik Partai dalam Kebijakan Kebudayaan, Politik Partai dalam Pemenangan Elektoral, Paparan BMKG/BNPB dan Paparan BPOM/BNN/HAKI/HIV AIDS.

Narasumber berasal dari kalangan internal dan eksternal. Dari internal ada Puan Maharani, Rieke Dyah Pitaloka, Yasona Laoly, Juliari Batubara, Syukur Nanaban, Bambang Wuryantoro, Arif Wibowo dan masih banyak lagi. Dari eksternal ada banyak pimpinan lembaga seperti dari Deputy BNN, Kepala BNPB, Kepala BPPOM, Deputy BMKG, Direktur HAKI dan Aktivis Peduli HIV/AIDS.

Rakernas hari kedua berlangsung hingga menjelang tengah malam. Saat keluar saya mengambil kopi yang dibagikan dan meminumnya sambil berjalan ke halaman parkir mencari kendaraan. Akibatnya saya terjaga hingga menjelang subuh, meski sudah mandi dengan air panas dari shower dan nonton siaran televisi serta membaca koran.

 

Sarapan pagi bersama Bupati Cirebon

 

 

Kamis, 13 Oktober 2022

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW

 


Suara adzan meggema dari masjid di komplek kantor DPC PDI Perjuangan di Jalan Jaksa Naranata No. 10 Baleendah. Saya segera menghentikan rapat dan mengajak para pengurus partai menuju masjid untuk shalat dan memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.

Para pengurus DKM sudah melantunkan shalawat. Ajengan sudah siap dengan pelantang di depannya. Kami duduk bersila di atas permadani dalam posisi melingkar dengan punggung bersender pada dinding masjid. Pembawa acara segera memulai acara. Seorang qori melantunkan ayat-ayat Al Qur-an. Saya menyampaikan sambutan. Ajengan menyampaikan ceramahnya.

Ajengan mengajak kita menjaga persatuan dan kesatuan dan mendoakan agar Presiden Jokowi sukses memimpin dan mensejahterakan rakyat. Beliau juga mendoakan apa yang dicita-citakan partai terkabul.

https://www.balebandung.com/bung-karno-sebut-nabi.../

https://www.opininews.com/.../dpc-pdip-kab-bandung...

 

Pilkades Serentak

 

Hari Sabtu tanggal 26 Oktober 2019. Pemilihan kepala desa serentak di 199 desa di Kabupaten Bandung (dari 283 desa/kelurahan). Saya bangun pagi, mandi, ngopi, minta kesayangan mengambil gambar saya yang menunjukkan surat panggilan memilih dari ketua panitia pemilihan di TPS Lapang Adu Domba. Saya sengaja berjalan kaki dari halaman barat melewati tegalan yang ditanami singkong, ubi dan tanaman palawija lainnya. Sesekali bertemu pak tani dan bertegur sapa. Saya memasuki lorong lorong yang padat dengan rumah penduduk. Ada juga kost-kostan dan rumah kontrakan yang berderet, warung, penjual oleh-oleh. Beberapa tetangga nongkrong di beranda. "Punten". "Mangga". Saya berbelok kanan kiri naik turun. Memperhatikan rumah rumah penduduk dan selokan. Ada rumah yang masih berarsitektur Sunda terbuat dari kayu dan bambu. Setelah berjalan sekitar 15 menit sampailah saya ke Lapangan Adu Domba. (Di sebut demikian karena ini memang tempat kontes dan adu domba). Saya menuruni sekitar seratus anak tangga. TPS sudah mulai diatangi para pemilih. Ada juga yang ngobrol ngopi di warung. Saya memasuki TPS, senyum manis dan bersalaman dengan petugas pendaftar, menyerahkan surat panggilan lalu duduk diruang tunggu. Tak lama, giliran saya tiba. Saya menerima kertas suara, memasuki satu dari lima kotak coblos, membuka kertas yang terlipat, melihat foto-foto calon yang optimis dan gagah. Setidaknya tiga dari empat calon saya kenal. Satu orang pernah ke rumah. Satu orang pernah bertemu di terminal. Satu lagi mengirim tim sukses. Saya ambil paku yang terikat. Saya letakkan kertas suara di atas bantal. Bismillah. Cleb. Paku menancap di gambar calon kades pilihanku. Saya merasa lega, kertas saya lipat, dan saya bergerak ke kotak untuk memasukkan kertas tersebut ke dalamnya. Sayang tidak ada wartawan yang datang untuk mengambil gambar.


Saya menuju pintu keluar, mencelupkan kelingking ke tinta ungu dan ke luar. Tersenyum dan bertegur sapa dengan Pak RT.

Pilkades serentak ini sedari awal menjadi perhatian saya. Di partai kami membuat semacam tim sukses untuk se kabupaten. Kami menginventarisir calon. Para pengurus partai dari tingkat kabupaten hingga desa serta anggota DPRD dari Fraksi PDI Perjuangan kami minta melakukan pendampingan dan membantu semaksimal mungkin. Ada calon yang gagal sejak seleksi tapi lebih banyak yang berhasil dan lolos menjadi kades. Menurut para wartawan di grup WA yang saya ikuti, banyak calon yang kami dukung berhasil lolos. Alhamdulillah.

Beberapa hari yang lalu para kades baru dilantik oleh Bupati. Selamat dan sukses ya Pak Kades.