Senin, 13 Agustus 2012

Berlayar di Sungai Musi

Sungai Musi di Malam Hari

Jawa Barat merupakan daerah tujuan wisata  dalam negri yang menonjol di Indonesia. Peringkatnya hanya terpaut satu tingkat di bawah Yogyakarta yang menduduki peringkat utama.  Meskipun begitu kami di Komisi B selalu mendorong eksekutif,  dunia usaha serta  masyarakat  sebagai  pemangku kepentingan untuk bersatu secara sinergis memajukan pariwisata Jawa Barat. Ketika itu dikenal istilah gurilaps : gunung rimba laut pantai  dan sungai sebagai obyek wisata alam andalan di samping wisata budaya.  Belakangan Bandung dikenal sebagai tempat wisata belanja dengan factory outlet (FO) sebagai icon nya. Kaum muda urban Bandung bahkan menjadikan industri kreatif sebagai icon baru, maka Bandung kemudian terkenal dengan wisata kreatifnya. Belakangan Bandung dijadikan ibukota industri kreatif Asia Pasifik.

Pariwisata merupakan salah satu aspek dari bidang perekonomian yang kami tangani di samping perdagangan, industri, pertanian, kehutanan, perkebunan dan kelautan.  dalam kerangka mengembangkan pariwisata itu kami bersama dinas pariwisata melihat geliat pariwisata di kota Palembang yang sedang berbenah menghadapi PON.

Kota Palembang sedang berdandan ketika kami datang. Bandara Sultan Badaruddin diperluas dan  ditambah dengan anjungan yang baru di sebrang bangunan yang lama. Konon pembangunan perluasan bandara dimungkinkan atas jasa Taufik Kiemas , suami Megawati Sukarnoputri, Presiden Indonesia.  

Obyek utama yang kami kunjun gi di Palembang adalah wisata sungai Musi.  Kami datang malam hari dengan terlebih dulu melihat-lihat istana Palembang yang menghadap sungai. Dari sana kami ke dermaga dan sebuah kapal pesiar milik Pemerintah Kota Palembang telah bersiap mengantar kami menyaksikan pesona sungai di malam hari. Walikota tidak bisa mendampingi. Beberapa pejabat eksekutif dan legislatif kota Palembang menemani kami berlayar sambil menjelaskan pelbagai program yang telah dijalankan untuk  menjadikan Musi sebagai tujuan wisata dalam negri dan mancanegara.  Sambil berbincang dan beramah tamah, tuan rumah menyajikan musik dan makan  malam sajian jurumasak kapal pesiar yang profesional.  Kami sungguh menikmati pelayaran menyusuri sungai yang membelah kota Palembang dengan latar belakang jembatan Ampera yang dibangun Bung Karno tahun 60-an dengan biaya dari pampasan perang Jepang. Jembatan tersebut  dipenuhi lampu warna-warni di sekujur  bangunannya. Sayang bagian tengah jembatan tidak bisa dinaik-turunkan lagi karena rusak, sehingga kapal-kapal besar tidak bisa berlalu lalang di bawahnya.  Namun demikian pemerintah kota menjadikan puncak pilar jembatan sebagai rumah makan di mana para pengunjung bisa melihat kota dari ketinggian. Harus kuakui bahwa sungai Musi di malam hari memang sangat indah.

Keesokan harinya kami meninggalkan Palembang  ibukota Sumatra Selatan menuju Pangkal  Pinang ibukota Bangka Belitung. Provinsi Babel, begitu orang menyebutnya, merupakan provinsi baru yang  melepaskan diri dari Sumatra Selatan.  Dari udara terlihat bahwa  bentang alam pulau Bangka  rusak berat oleh pertambangan timah tanpa ada upaya serius untuk memperbaikinya kembali.  K.erusakan makin paraha setelah PT Timah menutup usahanya. Pertambangan swasta mrajalela tanpa kendali. Lingkungan hidup pun menjadi korban.

Di pangkalpinang kami sempat berdiskusi dengan Sekda Provinsi Babel di pusat pemerintahan yang baru dibangun di ibukota. Setelah itu kami masih sempat melihat pantai, mengunjungi industri kerajinan timah milik pemerintah, melihat industri rumahan tenun Bangka yang mulai menghilang, mendatangi pasar tradisional yang menjual rempah-rempah seperti lada putih dan teripang. Humas pemerintah provinsi tidak lupa mengajak jalan-jalan mengunjungi pemakaman Cina yang menjadi obyek wisata di Pangkalpinang. Dia seolah ingin menunjukkan bahwa  antara pribumi dan warga keturunan di Babel telah hidup beranakpinak melintasi pelbagai generasi dengan damai dan melahirkan budaya yang khas di sana, termasuk dalam hubungannya dengan perbedaan keyakinan masing-masing.  Menarik sekali.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar