Kamis, 13 Oktober 2022

Bertemu Pak Saurif Kadi di Kabuyutan Abah Alam

Kang Ari Mulia, sesepuh masyarakat adat Sunda dan kang Heri Sambas, juga beberapa kawan lain mengirim pesan berupa undangan untuk hadir dalam acara di kabuyutan Abah Alamsyah di Jl. Pasirkaliki, sekitar seratus meter dari RS Hasan Sadikin. Malam itu tgl 11 Oktober sayapun datang ke sana. Saya memarkir kendaraan di halaman RSHS lalu menyebrang ke SPBU dan beruntung bertemu kang Gun-gun yang lalu memandu saya hingga kediaman Abah. 

Saat saya tiba di lantai paling atas di mana acara diselenggarakan, jamaah sudah memenuhi lantai. Mereka duduk bersila dan kebanyakan memakai busana pangsi warna hitam dengan ikat kepala atau destar. Saat saya tiba kang Ari menyilakan saya duduk di hadapannya. Saya pun bersalam salaman dengan jamaah yang berasal dari berbagai latar belakang. Saya segera menyadari bahwa di hadapan saya ada Abah Alamsyah yang ramah dan mengajak bercakap dalam bahasa Sunda maupun Jawa. Di samping kanan saya ada Jendral (purn) Saurif Kadi, asisten ahli Menkopolhukam dan wakil walikota Cimahi, Kol. Ngatiana. Di kiri saya ada mas Dokter Andy Talman Nitidisastro. Abah Alamsyah memberi saya destar/ikat berwarna putih dan dengan demikian saya menjadi keluarga besar KBS.

Acara dimulai dengan musik kasidah dan tarawangsa, lalu sambutan oleh Pak Saurif Kadi yang menjelaskan sikon politik nasional serta perkembangan kesehatan Pak Wiranto. Setelah itu ada sambutan dari Pak Ngatiana. Di sela sela itu datang Bu Yena Iskandar bersama suaminya. Ustad Abdullatif juga hadir bersama rombongan.

Akhirnya sampailah pada acara pokok. Abah Alamsyah mengatakan bahwa acara manakiban ini sekaligus untuk memeringati hari Sumpah Pemuda dll juga mendoakan pak Wiranto serta seluruh rakyat Indonesia. Lalu seorang ustad muda memimpin manakiban selama sekitar dua jam diakhiri dengan doa termasuk buat saya dan bu Yena.

Manakiban, adalah pembacaan manakib (biografi) dari Syekh Abdul Qadir Jaelani, seorang wali yang sangat dihormati khususnya di Pulau Jawa dan Madura. Manakib disertai nadoman (nyanyian) dalam bahasa Arab dan Sunda. Suasananya merupakan harmoni antara ritual tasauf dan budaya karuhun sehingga terasa unik dan menyentuh hati. 

Usai manakiban, musik rebana dan tarawangsa dimainkan kembali. Abah Alam memotong tumpeng lalu diberikan kepada Pak Saurif Kadi, pak Ngatiana, bu Yena dan saya. Kamipun makan bersama bersama jamaah yang lain. Pak Saurif Kadi meminta Abah Alam mendoakan saya. Menjelang tengah malam kami pulang. Pak Saurif menuju Seskoad dan saya pulang ke rumah melalui jalan tol Pasteur memasuki jalan tol Padaleunyi menuju Cileunyi.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar