Selasa, 03 Maret 2020

Rumah Gunung

Saat saya menyelesaikan masa bakti di DPRD Jawa Barat pada tahun 2009, saya memutuskan pindah rumah dari Rancaekek ke Cileunyi. Di rumah kami yang baru udara masih sejuk dan pemandangan ke arah kota Bandung di Barat nampak indah terutama jika usai hujan ketika kabut polusi yang menutupi kota terusir oleh guyuran air dari langit. Menara masjid agung Bandung pun terlihat dari beranda. Di sebelah utara Gunung Manglayang terlihat berdiri kokoh dan anggun seolah menjadi benteng yang melindungi kampung-kampung di bawahnya.

Saat kami memutuskan menempati rumah di Cileunyi, kondisi rumah belum 100% selesai. Sehingga saat kami mulai menempati masih ada satu dua orang tukang yang bekerja. Saat akhirnya kontrak kerja kami akhiri, masih ada dua bagian rumah yang belum selesai yaitu dapur dan pantry. Meskipun demikian secara umum rumah sudah bisa dihuni.

 Lahan untuk rumah kami dapat dengan harga yang terjangkau. Lahan tersebut kami beli sekitar tahun 2003. Saat itu kami punya uang Rp 50 juta tapi karena ada kesempatan untuk beribadah haji maka kami gunakan untuk membayar ONH (ongkos naik haji), yaitu untuk saya dan istri. Tatkala kami pulang dari tanah suci, bu Haji Tuti sang pemilik lahan datang dan tetap menginginkan saya membeli lahan miliknya. Akhirnya saya sepakat membeli dengan cara mencicil. Proses jual beli dicatat dengan akta jual beli dari notaris. Notaris tersebut juga mengurus hingga akta jual beli menjadi SHM (Sertifikat Hak Milik).

Rumah baru kami dibangun dengan memakan waktu sekitar lima tahun dengan konsep rumah gunung dan pembangunannya berkonsep rumah tumbuh. Sebelum membangun kami berkonsultasi dengan dua orang arsitek, kang Diding dan kang Rezha melalui kang Permadi. Setelah itu kami memulai tahap disain. Dan setahun kemudian baru kami membuat kontrak kerja dengan arsitek yang merangkap pemborong untuk membuat fondasi. Lalu berlanjut dengan membuat guest house terdiri dari satu ruang tamu, satu ruang tidur, satu ruang kerja dan satu kamar mandi. Tahap ini kami akhiri dengan kenduri kecil. Berikutnya kami membuat pintu gerbang dari kayu dengan kerangka besi. Beberapa lama kemudian kami membuat garasi. Dan sesekali rumah kami isi saat kami ingin beristirahat. Putri saya dan kawan kawan mahasiswanya sempat menjadikan rumah kami sebagai tempat untuk kegiatan di kampusnya.

Setelah guest house selesai, tahap berikutnya kami membangun bagian utama rumah kami meski baru untuk fondasi dan dak untuk lantai atas, yang disambungkan dengan guest house di bagian depan. Dari sini perlahan lahan kami membangun ruang ruang di lantai bawah untuk mushola, dapur, ruang keluarga, kamar utama berkamar mandi, tangga ke lantai atas, kamar untuk asisten rumah tangga, gudang dan  kamar mandi. Setiap tahap selalu kami rundingkan dengan arsiteknya terkait dengan biaya dan prioritas. Biayanya pun kami upayakan secara bertahap sesuai tahap tahap pembangunan.

Setelah konstruksi bagian bawah selesai dan bisa kami gunakan  kami mulai membangun bagian atas rumah yang terkoneksi dengan bagian bawah dengan void. Di bagian atas kami membuat tiga kamar untuk ketiga anak kami degan satu kamar mandi. Ada ruang terbuka yang luas untuk ruang baca dan ruang keluarga. Setelah tahap itu selesai, kami mulai meggarap bagian atap.  Untuk  bagian atapnya, arsitek memadukan cor beton dan kayu sebagai tempat untuk memasang atap. Untuk atap arsitek memilih genteng berglazur buatan Jatiwangi yang tebal dan berat agar tidak terbang tertiup angin.

Akhirnya pada tahun 2009 rumah kami bisa  terselesaikan 90% dan bisa kami huni. Furnitur kami gunakan dari yang ada. Koleksi lukisan saya sejak 10 tahun terakhir bisa kami pajang. Demikian juga buku-buku koleksi terakhir saya.

Kegiatan saya di rumah baru sehari hari adalah menyelesaikan disertasi mengenai kebijakan anggaran pemerintah di bidang pendidikan khususnya pendidikan dasar dan menengah. Sesekali saya ke kampus untuk konsultasi dengan tiga profesor promotor saya, Prof. Aziz Wahab, Prof. Nanang Fatah dan Prof. Buchori Alma di Universitas Pendidikan Indonesia. Dua hari dalam seminggu saya mengajar. Kegiatan lain setiap subuh mengantar si bungsu yang bersekolah di kota. Saya hanya mengantarnya ke pintu tol Cileunyi. Dari sana dia menumpang  mobil minibus arah Stasiun KA Bandung. Sekolahnya terletak di Jl. Pasirkaliki. Tapi jika jadwalnya bersamaan dengan waktu konsultasi saya, kami berangkat bersama ke kota.

Anak saya yang sulung, perempuan, sedang menyelesaikan kuliahnya di Program Studi Biologi Fakultas MIPA Unpad, Jatinangor. Anak kedua, laki-laki,  kuliah di Fakultas Hukum Undip, Semarang. Istri saya masih tetap bekerja sebagai paramedis di Puskesmas Padamukti dan praktik bidan di rumah pada sore hari. Setiap pagi dan sore hari ia berkendara motor dari rumah ke Puskesmas.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar