Rabu, 17 Mei 2023

Ziarah ke Makam Bung Karno

 

 

Atas inisiatif dan sponsorship dari kang M. Luthfi Hafiyan, Ketua Fraksi PDI Perjuangan Kabupaten Bandung, pada awal bulan Februari yang lalu kami pergi ke kota Blitar, untuk berkunjung ke rumah dan museum Bung Karno serta makam Bung Karno. Kami berangkat pada tanggal 3 Februari dan kembali pada tanggal 6 Februari 2022.

Pada Kamis malam, 3 Februari 2022, saya diantar anak sampai simpang susun Cileunyi. Dari sana ikut bus wisata yang berangkat dari kediaman Kang Luthfi di Cicalengka. Bus memasuki pintu tol dan ke luar di Buah Batu. Dari sana menuju Baleendah melewati Bojongsoang.

Sekitar pukul 22.00 bus sudah penuh penumpang. Kami pun berangkat dari Sekretariat DPC PDI Perjuangan Kabupaten Bandung.

Bus kembali memasuki pintu tol Buah Batu memasuki jalan tol Padaleunyi menuju pintu tol Kalihurip Utama dan memasuki jalan tol Cipali. Setelah melewati Cikampek, Subang, Kertajati dan Indramayu, bus memasuki Palimanan dan kami pun beristirahat di sebuah rest area di sekitar Cirebon.

Batang.

Saat fajar menyingsing tanggal 4 Februari 2022, kami tiba di rest area Batang. Kawan kawan DPC Fraksi PAC Badan Sayap Satgas dan Sekretariat melaksanakan salat subuh berjamaah dan kemudian nongkrong di warkop.

Saat itu Mas Prasetyo Edi Marsudi, Ketua DPRD DKI datang. Kami ngobrol sebentar dan berfoto bersama. Mas Pras hendak melanjutkan perjalanan ke kota Tuban.

Kendal.

Di Kendal kami keluar dari jalan tol dan menyusuri area industri tak jauh dari pantai. Pada sebuah restoran kami berhenti untuk sarapan a la prasmanan. Sepiring nasi dan segelas teh panas cukup menambah tenaga.

Sebelum melanjutkan perjalanan kami berfoto bersama.

Dari Kendal kami memasuki kota Semarang dan masuk jalan tol menuju Salatiga, Surakarta, Sragen, Ngawi, Madiun dan keluar di Kertasana. Dari Kertasana kami menuju Kediri kemudian perjalanan berakhir di Blitar.

Blitar.

Setelah membersihkan diri dan salat kami naik becak ke Istana Gebang (rumah keluarga Bung Karno). Kami menyusuri ruang demi ruang di rumah itu dan memperhatikan satu persatu peninggalan keluarga Raden Sukemi (ayah Bung Karno dan Ibu Wardoyo). Tidak lupa kami berfoto di depan patung Bung Karno yang berada di depan Istana Gebang.

Dari Istana Gebang kami kembali naik becak beramai ramai melewati jalan protokol dan kediaman resmi Walikota Blitar menuju Museum Bung Karno. Kami mengagumi rancangan museum yang modern sebelum memasuki halaman makam Bung Karno untuk berziarah.Museum ini dibangun pada masa Walikota Blitar dijabat oleh Djaro Syaiful Hidayat.

Kang Ujang Iyet Kepala BP Pemilu memimpin tahlil untuk Bung Karno. Kang Ujang Dedi memimpin doa. Setelah itu kami menaburkan bunga dan mengheningkan cipta di sekitar pusara.

Malam harinya kami meninggalkan kota Blitar. Sebelum itu kami singgah di sebuah restoran di tengah sawah untuk makan malam.

Sekitar tengah malam bus berhenti di sebuah rest area di Ngawi. Kami turun untuk beristirahat. Aku ngopi ditemani Kang Jajang yang menemaniku mengobrol panjang lebar.

Bus kemudian bergerak ke arah Barat dan keluar di kota Surakarta lalu melewati jalan non tol memasuki kota Klaten. Saat waktu subuh kami tiba di Prambanan. Hujan turun deras mengguyur saat kami bergegas ke dalam masjid untuk salat subuh.

Yogyakarta.

Dalam hujan gerimis bus meninggalkan Prambanan memasuki wilayah DIY. Setelah melewati bandara Adisucipto, bus berbelok ke kiri ke arah Kota Gede dan berhenti di sebuah bangunan antik yang berfungsi sebagai restoran. Kami turun untuk mandi dan kemudian sarapan.

Siang itu kami menyempatkan diri bergerak ke wilayah Bantul di selatan Yogyakarta. Hujan turun sepanjang jalan. Padi di sawah mulai menguning. Sungai sungai nampak deras.

Setelah beberapa jam perjalanan kami tiba di Parangtritis. Gerimis masih merinai. Kawan kawan nekat menuju pantai. Saya dan beberapa kawan memilih nongkrong di warkop.

Saat gerimis menipis saya dan beberapa kawan mendekat ke pantai. Pengunjung cukup ramai. Ada yang berenang, berjemur, berjalan, naik ATV dan Kereta kuda. Saya menikmati pemandangan alam yang indah. Gelombang samudra Indonesia yang tinggi bergulung gulung dan pecah di pantai berpasir kelabu. Langit tertutup mendung hitam yang masih meneteskan hujan. Kabut menyebar di atas laut selatan.

Saat petang tiba, kami kembali ke kota Yogyakarta. Setelah berputar putar tibalah bus di Jl. Suprapto dan memasuki halaman sebuah hotel. Setelah check in, kami masuk ke kamar masing-masing.

Usai mandi salat dan minum secangkir kopi ditemani bakpia yang tadi kubeli di Kota Gede, aku tertidur pulas hingga malam tiba. Saat terbangun sesi makan malam bersama kawan kawan di Restoran Ambar Kerawang telah lewat. Saya lalu menelpon anak cucu untuk bertemu. Tapi mereka belum berani bertemu karena kekhawatiran terhadap penyebaran virus Covid-19 yang masih mewabah.

Keesokan paginya saya menyempatkan berenang kemudian sarapan dan bersiap-siap check out.

Pada hari Minggu yang cerah itu kami meninggalkan kota Yogya menuju Bandung melewati Kulon Progo, Kebumen, Cilacap, Banjar, Ciamis, Tasikmalaya dan Garut.

Setelah beristirahat di Kebumen dan Ciamis, lewat tengah malam- menjelang pagi, saya tiba di simpang Cileunyi dan rombongan melanjutkan perjalanan memasuki jalan tol Padaleunyi menuju Baleendah.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar